Complicated S2 Part 22

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Tamat

Cerita Sex Dewasa Complicated S2 Part 22 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Complicated S2 Part 21

Beberapa hari setelahnya.

Seperti biasa, saat menjelang sarapan, Nesa membantu ibu menata hidangan di meja.

“Bu! Ini buahnya cuma dikup_” Nesa mengentikan kalimatnya saat melihat Al memasuki ruang makan.

Lalu dia membalikkan tubuhnya, kembali ke dapur sambil membawa buah yang sudah di kupas.

“Kenapa Nes?!” Tanya Isti yang sedang mengambil sendok dan garpu.

“Ngapain dia kesini?!” Tanya Nesa dengan mulut manyunnya.

Isti melongok ke arah ruang makan, dia melihat Al sudah duduk bersama Valdi dan Vasco.

“Mau sampai kapan kalian seperti ini?

Ibu tidak membela Al.

Al salah, karena sudah menyakiti anak Ibu.

Ibu juga tidak membela Nesa.

Karena Nesa masih milik Al.”

Isti meninggalkan Nesa yang sendirian di dapur.

Disinilah Al berada, setelah beberapa yang lalu dia merayu dan meyakinkan mertuanya lagi.

‘Ayah kasih kesempatan…

Kamu boleh ke rumah jika ada ayah, untuk sementara tidak setiap hari.

Dan kamu tidak boleh memulai berbicara dengan Nesa atau menyentuh Nesa.

Setelah sarapan, langsung berangkat!

Setelah makan malam, langsung pulang!’ pesan Aji.

Al menyanggupi, dia sudah bersyukur dan berterima kasih sudah diberi kesempatan untuk melihat istrinya. Aji sudah membicarakan hal ini dengan istri dan dua anak lelakinya.

Semua sudah berkumpul di ruang makan, tapi Nesa masih berdiam diri di dapur.

“Aku bisa! Ini rumahku…ada ayah…ada ibu…dia nggak akan bisa menyakiti aku lagi” Nesa bicara sendiri untuk menguatkan hatinya.

“Nes?! Ayah mau sarapan…. buahnya mana?” Ibu berteriak.

Tanpa menjawab Nesa keluar dari dapur membawa buah dengan menundukkan kepalanya.

Entah kenapa rasanya kepala ini berat, padahal dari tadi dia memberi sugesti pada dirinya sendiri, agar bersikap normal dan kuat.

Sosok Al masih membuatnya tidak nyaman.

Bukan rasa takut, melainkan dia ingin meluapkan rasa sakitnya, supaya pria itu tahu apa yang dia alami, dia ingin Al merasa bersalah, tapi ternyata tidak bisa. Nesa hanya diam.

Membutuhkan kekuatan yang besar untuk duduk disebelah suaminya, dia juga ingin memperlihatkan bahwa dia bukan wanita lemah yang harus di kasihani dan terpuruk.

Al hanya mampu melihat istrinya dari samping.

‘kenapa aku deg-degan gini?!’ batin Al ketika aroma Nesa menggoda hidungnya.

“Al mau yang mana?” Tanya Isti memecah lamunannya.

“Saya ambil sendiri aja Bu….” Jawab Al.

Al mengambil makanan yang hanya terhidang di depan matanya.

Sesekali dia melirik istrinya yang masih mengacuhkan dan mendiamkannya.

“Mobilnya jadi aku bawa hari ini?” Tanya Vasco sambil mengunyah makanannya.

“I-iya kak, Al ngerasa mesin nya kedengaran kasar gitu…..” Jawab Al berusaha tenang.

“Ya udah! Abis sarapan, kamu berangkat sama aku. Nanti mobilnya biar di ambil montir.”

“Iya kak….” Jawab Al patuh.

Selama sarapan, Nesa hanya diam dan tertunduk.

Ketika semua sudah selesai, Nesa masih menikmati makanannya, dia sengaja memperlambat.

“Ayah berangkat ya…kamu lanjutkan makan dulu” Aji mendahului pamit ke anaknya dan mengusap kepalanya.

Tingkah Nesa menunjukkan bahwa dia masih menolak kehadiran suaminya, dan semua memaklumi.

‘Tumben dia bisa bangun pagi?! Biasanya molor sampe jam 11…oh iya! Sekarang Rabu, Selasa dia kan libur…’ batin Nesa sambil menikmati sisa makanan.

Setelah mengantar Aji, menantu serta anaknya di ambang pintu, Isti masuk dan melihat reaksi Nesa.

Dia berharap Nesa akan bertanya mengapa Al kesini atau apapun tentang Al. Tapi ternyata tidak, dia masih diam dengan jalan pikirannya sendiri.

Saat di dalam mobil, Al mendapatkan wejangan dan ancaman dari Vasco.

Hingga malam pun Nesa tetap tidak mengungkit kehadiran Al sama sekali.

“Apa Al sudah tidak ada lagi dihatinya? Kok dia cuek gitu….” Tanya Isti saat menjelang tidur.

“Al jelas masih ada di hatinya, tapi aku nggak tau, dia menyimpan sisi baik atau buruknya…..baru pertama kali Love…kita liat perkembangannya ya….” Jawab Aji.

Hari Minggu, Al datang lagi saat sarapan.

Nesa lebih tenang dari yang sebelumnya.

“Mobilku gimana kak? Uda selesai?” Tanya Al.

“Uda! Kamu bisa bawa nanti….” Jawab Vasco.

“Ok! Makasih….”

“Ntar aku WA total sama no rekening ku ….”

Al menunjukkan jempolnya.

“Yah….Bu … Minggu depan mommy sama daddy ke Melbourne, Al boleh sarapan dan makan malam di sini kan?”

‘lah?! kan di rumah mommy ada tukang masaknya. Lagian se Surabaya nggak ada warung yang buka?’ batin Nesa saat mendengar alasan suaminya.

“Boleh donk, ini juga rumahmu….kamu tiap hari ke sini? Nanti ibu bilang ke Bu Mimin, supaya masaknya agak banyak….” Jawab Isti dengan senyuman.

“Boleh tiap hari ke sini yah?” Tanya Al.

“Boleh, asalkan jam sarapan dan jam makan malam kamu sudah ada di sini. Kalo telat, lebih baik nggak usah datang….” Jawab Aji tegas.

Usai sarapan, Al tak langsung pulang. Dia masih bercengkrama dengan Vasco tentang mobilnya di teras.

Tak lama, Dimas datang.

Pria itu langsung masuk ke dalam rumah.

“Dari mana aja Mas? Kok lama nggak ke sini?” Tanya Nesa. Dimas langsung duduk di sebelahnya.

“Mami minta dibuatkan kolam ikan kecil, terus kamarnya di cat ulang, lalu ada plafon yang harus diganti. Ya jadinya aku yang ngawasin tukang….kangen ya?!” Dimas menyenggol pundak Nesa dengan pundaknya.

Nesa mencebikkan bibirnya.

Al masuk bertepatan ponsel Dimas berdering. Dia duduk di seberang istrinya.

“Nih! Fans kamu! Hampir tiap hari telpon mulu….” Ucap Dimas.

Al mengerutkan dahinya.

‘Fans?!’ batin Al.

“Elang?” Tanya Nesa dengan senyum tipis.

“Ya sapa lagi kalo bukan dia!” Sahut Dimas.

“Sini! Aku mau ngomong!”

Al hanya bisa diam, dia ingin melarang tapi tak berdaya. Dia mengeratkan rahangnya untuk menahan rasa panas dihatinya.

“Jangan lama-lama!” Pinta Dimas sambil menggeser monitor ponselnya untuk menerima VC.

Dimas : Ada apa Lang?

Elang : Alhamdulillah, akhirnya di angkat juga. Ini dimana? Ada Vanesa?

Dimas memberikan ponselnya. Vanesa bisa melihat Elang yang masih di ranjang.

Nesa : baru bangun?

Elang : pengennya tidur terus, soalnya lagi mimpi in kita di pelaminan….(Elang tersenyum, terlihat lesung menambah daya tariknya.

Nesa mengikik mendengar rayuan gombal Elang. Al cukup melihat sambil menarik napas panjang.

Nesa : ngapain kamu telpon terus? Gangguin Dimas aja…

Elang : sebenarnya pengen kerumah langsung, ketemu ayahmu minta restu hubungan kita…..tapi status kamu masih milik orang, ya aku cuma bisa nelpon aja….

Nesa mencebikkan bibir.

Nesa : kamu gila beneran ya…..by the way, itu lesung beneran atau operasi?

Elang : Astaga! Ini asli sayang…..sini dech! Pegang pipi aku!

Al berdehem, seolah mengingatkan Nesa bahwa dia masih suaminya.

Dimas pun sadar dan mengambil paksa ponselnya. Dan tanpa konfirmasi, Dimas mematikan ponselnya.

“Udah ya! Aku nunggu telpon mami. Minta dibelikan wallpaper…” Ucap Dimas, lalu pria itu berdiri dari sofa.

“Mau kemana?” Tanya Nesa.

“Mau ke kamar Valdi. Pinjem komik!” Jawab Dimas sambil berjalan.

Nesa pun ikut berdiri, tapi dia masuk ke kamarnya.

Nesa sengaja meninggalkan Al sendiri, dia tak mau berduaan dengan suaminya di satu ruangan.

Al hanya diam, dan berusaha sabar.

***

Hari telah berlalu, Al setiap hari datang ke rumah mertuanya untuk sarapan saja ATAU makan malam saja.

Walaupun Nesa sudah terbiasa dengan kehadiran suaminya, tapi kelakuannya tetap sama, dia tak mau melihat Al sama sekali.
Dia selalu menunduk, memalingkan wajahnya dan jika duduk sejajar dia memunggungi Al.

Pagi ini, Al sarapan seperti biasa bersama keluarga Nesa.

Sekitar pukul 18.00, mobil Nesa memasuki pekarangan. Dia melihat pak Im sudah rapi.

“Pak Im mau kemana?” Tanya Nesa saat turun dari mobilnya.

“Mau nganterin Ibu ke nasabahnya yang sakit.”

“Jadi dari tadi nungguin Nesa pulang ya?! Kok nggak telpon salon?! Kan Nesa bisa pulang lebih cepat…..” Nesa merasa bersalah

“Kata Ibu memang berangkat jam segini, lagian saya cuma nganter ke rumah sakit, nanti Ibu di jemput ayah. Katanya sekalian makan malam sama temannya.”

Nesa hanya mengangguk dan tersenyum.

Kali ini, Nesa makan malam sendiri.

Valdi kebetulan technical meeting untuk turnamen.

Vasco masih membeli onderdil untuk bengkelnya.

Usai makan dia duduk di ruang keluarga, Nesa fokus dengan laptopnya, promosi di dunia online.

“Lho?! Makan malamnya sudah selesai ya?!” Tanya Al yang berdiri antara ruang makan dan ruang keluarga.

Tubuh Nesa mendadak kaku dan tegang, jantungnya berdegup kencang, karena dia tak menyangka kehadiran Al malam ini. Dia terlalu fokus memasarkan salonnya.
‘ngapain dia kesini? Kan tadi pagi uda datang….’ batin Nesa.

Pria itu melihat respon Nesa yang hanya diam membeku, dan dia pun sadar, kehadirannya membuat istrinya tak nyaman.

“Sorry….” Ucap Al yang berjalan meninggalkan ruang makan, bersamaan dengan Nesa yang berdiri dan menuju kamarnya.

Al sekilas melihat wajah istrinya yang masih menunduk saat berpapasan.

Saat di ambang pintu kamar, Nesa mendengar suara pintu utama tertutup.

‘Dia uda pergi…’

Nesa kembali ke sofa dimana laptopnya berada.

“ASTAGHFIRULLAH!” pekik Nesa ketika dia tidak melihat apapun. Listrik padam.

“Budeeeee….” Panggil Nesa memanggil bude Tina dan terdiam ditempatnya.

Dalam hitungan detik berikutnya, dia mendengar suara pintu terbuka, dan mencium aroma yang sangat dikenalnya.

“A-Al?” Walaupun Nesa bersuara lirih, Al bisa mendengarnya. Pria itu menitikkan air mata saat dia mendengar istrinya memanggil namanya.

“Iya Q….” Jawab Al dengan suara parau karena menahan tangisnya.

Nesa melihat cahaya kecil dan bayangan suaminya mendekat. Al menyempatkan mengusap pipi yang basah air mata.

Nesa tak tahu harus bagaimana. Senang karena di saat gelap ada yang menemaninya.

Tapi di sisi lain, dia masih belum bisa menerima kehadiran Al.

“Emergency lamp atau lilinnya dimana?” Tanya Al dengan suara baritonnya, terdengar sabar. Al sudah berdiri di depan Nesa yang menunduk.

“Adanya lilin. Di bawahnya TV ada laci, cari aja di situ….” Jawab Nesa.

Perlahan Nesa duduk di sofa, dia bisa melihat Al dalam keremangan mencari lilin.

“Koreknya abis….aku ambil di mobil dulu….” Ucap Al.

“Ikut….” Rengek Nesa.

Al tersenyum dalam hati, lagi-lagi dia tak menyangka perlakuan Nesa kepadanya.

Al menghampiri Nesa, lalu mengulurkan tangannya. Tapi sayangnya Nesa tak menggenggam tangan Al, Nesa memegang pergelangannya.

Tak masalah bagi Al, yang penting Nesa sudah berani berinteraksi dengannya.

Nesa menunggu di belakang suaminya saat Al mengambil korek.

Di saat yang sama, pak Im datang.

“Sudah ada pak Im….” Ucap Nesa, seolah mengingatkan Al untuk kembali pulang. Dan Al pun paham.

“Mbak Nesa sama mas Al mau kemana?” Tanya Pak Im.

“Mau ambil korek aja Pak, di laci lilin abis…” jawab Al.

“O….kirain mau keluar bareng….”

“Nggak pak! Karena Pak Im sudah datang, saya mau pulang…. sekalian cari makan…. lapar…” Ujar Al.

” Lho…saya mau berangkat lagi…. terus mbak Nesa sama siapa?”

” Emang Pak Im mau kemana?!” Tanya Nesa.

“Mas Vasco minta di ambilkan baju, sekalian minta dijemput. Mobilnya dibawa customer.”

“Bude Tina kemana?” Tanya Nesa yang mulai bingung karena tidak ada yang menemaninya. Suaranya terdengar kuatir.

“Bude Tina tadi sore ke rumah sepupunya, ada khitan, besok pagi baru pulang…..atau mbak Nesa ikut saya? Jemput mas Vasco….”

Nesa terlihat bimbang, karena kakaknya mungkin bisa semalaman di bengkel mengingat sekarang hari Jumat.

“Pak Im jemput Vasco aja…. Biar saya temani….” Sahut Al seolah mengerti kebimbangan istrinya.

“Mas Al sama mbak Nesa sekalian aja keluar cari makan…. katanya mas Al lapar, kan di restoran nggak lampu mati…” Pak Im memberi ide untuk mendekatkan mereka lagi.

“Gimana?! Kamu mau?” Tanya Al melihat Nesa yang kini menatapnya.

‘kamu selalu cantik….’ batin Al ketika melihat wajah istrinya hanya dengan penerangan cahaya bulan.

‘Lebih baik aku didepot, ada orang banyak… daripada sama dia berduaan’ kata hati Nesa.

“Tapi bajuku gini….” Ucap Nesa memelas, dia memakai babydoll.

“Di mobil ada sweater….kalo mau, pake aja….”

Akhirnya Nesa dan Al menuju rumah makan cepat saji.

Tak lupa, Al memberikan kabar ke mertuanya, membuat Aji tersenyum.

“Kenapa mas?” Tanya Isti melihat suaminya tersenyum sendiri.

“Di rumah lampu mati, kebetulan ada Al. Sekarang Nesa sama Al di resto cepat saji, soalnya Al kelaparan…..Al uda aku ingetin, jangan paksa dia, jangan memulai dulu….” Jawab Aji.

Tiba di resto cepat saji, Nesa baru menyadari Al memakai kemeja, layaknya pegawai kantoran, aura ketampanannya makin terpancar.

‘ngapain dia pake kemeja?! Dia abis dari mana?!’ Nesa bertanya dalam hati.

Nesa melihat beberapa kaum hawa memperhatikan suaminya.

Selama makan, mereka saling diam.

“Ngapain pake kostum office look?” Tanya Nesa yang tak sabar ingin tahu. Nadanya terdengar sinis dan agak ketus.

“Hm? Kenapa?” Tanya Al balik melihat Nesa yang menunduk. Karena dia tak menyangka Nesa akan bertanya, dia pikir akan diam-diaman aja.

Akhirnya Nesa mengangkat wajahnya, dia melihat mata suaminya.

Dia rindu menatap bulu mata suaminya yang lentik.

“Kamu kenapa kok pake baju office look gini?” Nesa memperjelas pertanyaan.

“Daddy sama opa ke Melbourne, aku di suruh ke kantor……” Jawab Al sambil menikmati makanan.

“Sejak kapan ke kantor? Setiap hari ke kantor?” Nesa bertanya lagi.

“Seminggu setelah daddy ke Melbourne. Jadi …ke kantor baru 2 Minggu an…..”

‘jadi uda 2 Minggu pake office look? Kok aku nggak tau?’ Tanya Nesa dalam hati.

“Setiap hari ke kantor?” Nesa mengulang pertanyaan.

“Iya…. soalnya sambil belajar juga…”

“Belajar apa?”

“Bahasa hukum, kata-katanya agak susah dipahami……”

“Belajar sama sapa?” Tanya Nesa dengan nada yang masih ketus.

“Sama team legal…”

Sebenarnya Nesa ingin bertanya lebih detail, team legal siapa?

Apakah suami Tante Stella yang sudah dikenalnya sebagai lawyer keluarga?

Dan mengapa suaminya ‘mau’ datang ke kantor? Padahal dulu dia menolak bekerja di belakang meja.

Apakah warungnya bangkrut?

Kalo nggak bangkrut? Siapa yang mengurusnya?

Banyak pertanyaan di kepala Nesa, tapi dia tidak mau mengungkapkan.

“Kamu ngapain tadi makan malam di rumah? Biasanya kalo uda sarapan, nggak datang makan malam….” Tanya Nesa saat di mobil menuju pulang.

Al tersenyum lagi dalam hati, ternyata istrinya perhatian juga.

Padahal jadwal kedatangan Al hanya diketahui oleh Al dan orang tuanya saja.

“Emang aku boleh datang sarapan dan makan malam juga?” Al bertanya balik.

“Ya terserah kamu! Lagian kenapa sich kalo uda datang sarapan … terus nggak datang makan malam?!” Tanya Nesa masih tetap nada ketusnya, dan tak mau melihat wajah Al.

Pria itu berpikir sejenak untuk mencari alasan yang tepat. Dia tak mungkin berucap jujur karena perjanjian dengan mertuanya.

“Kalo datang sarapan…berarti bangunnya nggak kesiangan, jadi bisa ke rumah ayah.
Terus, kalo bisa makan malam… berarti nggak banyak kerjaan.
Kalo lembur, ya nggak bisa datang…”

“Lembur dimana?!”

“Di kantor….”

‘tumben dia betah lama-lama di kantor? Emang ada siapa?’ Nesa mulai curiga.

Tiba dirumah, Nesa memasuki rumah lebih dulu, Al membuntuti dari belakang.

“Kalian dari mana?” Tanya ayah yang sudah tiba dirumah.

Nesa duduk di sebelah Isti, dan merebahkan kepalanya di lengan ibunya.

Al melihat kembali sisi istrinya yang manja, rasanya dia ingin memanjakan Nesa.

“Makan yah….” Jawab Nesa.

“Yah…Bu…Al pulang dulu, sudah malam.” Pamit Al dan mencium punggung tangan Aji dan Isti.

Nesa menyadari jika ia masih memakai sweater suaminya.

Dengan terburu-buru dia melepaskan.

“Nih sweater nya! Mulai besok kamu harus sarapan dan makan malam disini!” Nesa memerintah dengan tegas.

“Tiap hari sarapan dan makan malam disini?” Al menegaskan dan melihat ke arah Aji.

Mertuanya hanya bisa menganggukkan kepalanya, seolah berkata ‘turuti aja kemauannya’.

“Iya!”

“Okay….” Jawab Al dengan senyuman girang, dia tidak dapat menyembunyikan rasa bahagianya.

Sejak saat itu Al datang untuk sarapan dan makan malam. Frekuensi bertemu istrinya lebih sering dari yang sebelumnya.

Walaupun Nesa belum mau berbicara dengannya, atau melayaninya saat makan, Al tak keberatan.

Setidaknya saat Al hadir, Nesa sudah tidak menundukkan kepalanya lagi, atau memunggunginya.

Demi merebut hati istrinya lagi, Al harus mengatur waktu.

Usai makan malam, Al kembali lagi ke kantor.

Beberapa waktu yang lalu, Al mendapatkan telpon dari daddy.

Dia diharuskan hadir di kantor, bahkan membuat keputusan.

Pada saat itu, opa nya sedang mengalami kecelakaan ringan, terpeleset di kamar mandi, tapi pergelangan kakinya harus di pen.

Daddy yang kebetulan jadwalnya kembali ke Indonesia, menunda kepulangannya, tidak mau meninggalkan opa.

Daddy ingin menemani opa hingga sehat 100%.

Peristiwa itu membuat beberapa investor meragukan berita yang sudah dikonfirmasi oleh Dani sendiri.

Tapi layaknya dunia bisnis, ada segelintir orang yang memanfaatkan keadaan ini, menggoreng berita yang tak benar.

Mereka yang curang dan tidak senang dengan keluarga Dani, sempat menghembuskan isu miring, bahwa perusahaan akan bangkrut, oleh karenanya Daddy dan Opa melarikan diri keluar negeri karena jeratan hutang.

Untuk menenangkan investor yang lain, maka Dani membutuhkan kehadiran Al, membuktikan perusahaan baik-baik saja.

Al sangat awam dengan dunia administrasi bisnis.

Mau tak mau, dia harus belajar dan harus paham.

Al sering menginap di kantor untuk membahas surat-surat perjanjian.

Beberapa kali Al menelepon daddy-nya untuk konsultasi atau melaporkan tentang isi rapat. Kadang mommy menyela menanyakan tentang rumah tangga nya, Al menjawab baik-baik saja.

Daddy selalu bilang, “Walaupun kamu Artomoro yang secara hukum kamu berhak memimpin perusahaan, tapi tetap saja mereka (investor) ragu dengan pemimpin baru.
Jadi kamu harus pintar-pintar untuk meyakinkan mereka, jangan sampai mereka menarik dananya.”

Al selalu ingat pesan daddy, dan dia harus memberikan kesan yang baik di perusahaan.

Dia juga sering mendapatkan sindiran tentang kredibilitasnya, oleh sebab itu dia ingin membuktikan bahwa dia bisa dan mampu memimpin seperti daddy.

Karena kesibukannya, beberapa kali Al datang terlambat saat makan malam, membuat anggota keluarga yang lain menunggu.

Dia juga merasa tak enak dengan ayah, karena ayah sudah memberikan kesempatan dan dia takut di anggap telah mempermainkan kesempatan ini.

Kadang dia tak fokus, tubuhnya di rumah mertua, tapi otaknya masih memikirkan sisa-sisa hasil pembicaraan di kantor.

Usai makan malam, seperti biasa dia kembali ke kantor.

Dia berpikir tentang kondisi perusahaan dan kondisi rumah tangganya yang tidak ada perkembangan.

“Ayah, tadi Al nggak bawa mobil, Al boleh ikut ayah?” Tanya Al saat sarapan.

Aji paham, ada sesuatu yang akan di ungkapkan menantunya.

Beberapa kali saat makan malam, Aji melihat wajah Al tampak menyimpan sesuatu.

“Ayah….Al minta maaf.

Bulan kemarin Al meyakinkan ayah untuk memperjuangkan Queen lagi.

Saat itu Al berjanji, Queen menjadi hal yang utama di kehidupan Al.

Dan Al bersedia melakukan apapun, asal kami bisa bersama lagi.

Tapi sekarang rasanya tidak mungkin….

Opa belum sembuh, dan Daddy belum kembali.

Saat ini pekerjaan menjadi hal yang utama untuk Al.

Karena Al harus menghabiskan waktu di kantor untuk belajar dan meyakinkan investor bahwa perusahaan tidak ada masalah.

Dan Al bertanggung jawab atas nasib ribuan pegawai yang sudah mendukung perusahaan ini.

Al nggak ada waktu untuk merebut hati anak ayah lagi.

Al serahkan semua keputusan ke ayah dan Queen…. apapun keputusannya, Al berusaha ikhlas….

Kita akan tetap menjadi keluarga kan yah?” Al putus asa.

Rasanya dia ingin menangis, sebenarnya dia tak rela melepaskan istrinya.

“Nanti malam, Al dan Illo berangkat keluar kota. Menghadiri RUPS anak perusahan Art Groups. Mungkin selama 2 hari Al nggak bisa datang sarapan dan makan malam.”tambah Al.

Aji terdiam, dia tak bisa memberikan saran.

Bersambung

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Tamat