Complicated S2 Part 21

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Tamat

Cerita Sex Dewasa Complicated S2 Part 21 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Complicated S2 Part 20

Kamis

“KAMU BERANI KELUAR DARI RUMAH INI, AKU NGGAK AKAN JEMPUT KAMU DIRUMAH ORANG TUAMU!”

“VANESA!”

Teriakan Al masih terngiang di telinga Nesa dan menyayat hatinya.

Dia juga masih ingat wajah Al yang penuh amarah.

Walaupun hari telah berlalu, Nesa masih meneteskan air matanya jika mengingat moment itu.

Seseorang mengetuk pintu kamarnya. Ternyata Dimas, minta ditemani sarapan. Dengan terburu Nesa mengusap air matanya, dan membubuhkan bedak.

Nesa menghampiri Dimas, lalu duduk di seberangnya.

Dimas melihat wajah Nesa, tetap seperti kemarin, pura-pura ceria, seolah tidak terjadi apa-apa, tapi matanya seolah bicara lain.

“Baby….kalo mau ke salon nggak papa. Aku temani….” Ucap Dimas sambil menyuapkan makanan.

“Aku males keluar…..”

“Atau mau jalan-jalan? Kemana gitu…..” Dimas mencoba mengajak Nesa untuk beraktivitas.

Karena beberapa kali, dia melihat Nesa termenung sendiri.

“Kita muter-muter kota aja ya….nggak usah turun….” Ucap Nesa.

“Siap tuan Puteri!”

Akhirnya mereka berdua keluar dari rumah.

Pak Im memberi tahu Al tentang kepergian Nesa dan Dimas.

Begitu mendengar kabar, dia langsung mengendarai mobilnya menuju salon Nesa, dia mengira istrinya akan ke salon.

Hingga petang, Al mondar-mandir dari Salon Nesa yang satu ke yang lainnya. Tapi hasilnya nihil, dia tak bisa melihat wajah Nesa.

Sejak Nesa keluar hingga kembali ke rumah, Nesa bersikap sama. Beberapa kali Dimas mengajaknya bercanda, hanya di tanggapi dingin oleh Nesa.

Biasanya wanita itu menyahut, lalu membuat keramaian.

Jum’at

Dimas kembali mengajak Nesa keluar rumah.

“Ayah sama Ibu kapan datang?”tanya Dimas sambil mengemudi.

“Harusnya Sabtu malam. Kalo delay nggak tau lagi….”

Ponsel Dimas berdering, dia mengabaikan. Tak berselang lama, ponselnya berdering lagi.

“Siapa?” Tanya Nesa.

“Elang….biarin aja!” Balas Dimas seolah keberatan.

“Coba sini aku yang ngomong! Kalo nggak dikasih tau, dia pasti telpon terus….”

Dimas memberikan ponselnya, dan Nesa menggeser monitor untuk menerima panggilan VC.

“Dimas lagi nyetir…jangan di ganggu!”

“Alhamdulillah… akhirnya aku bisa liat kamu lagi…kamu uda makan?”

Nesa mengangguk tanpa bersuara.

“Sekarang mau kemana?”

“Di ajak Dimas jalan-jalan.”

“Mau nggak jalan-jalan ke hati aku? Mumpung sepi ……” Elang melancarkan aksinya.

Dimas menggelengkan kepalanya saat temannya merayu Nesa.
Sedangkan Nesa tersenyum mendengar rayuan receh Elang.

“Uda dulu ya! Ada pasien, ini nyolong waktu! Besok aku nyolong hati kamu! bye Vanesa….”

Nesa hanya membalas dengan lambaian tangan dengan senyuman. Dimas melihat ketika Nesa tersenyum, dia pun ikut tersenyum agak lega. Walaupun Dimas tak suka dengan pria yang baru saja meneleponnya.

Beberapa jam kemudian, Nesa minta turun ke mini market, ke toilet.
Kesempatan ini digunakan Dimas untuk menelepon Elang.

“El….kamu tau kan Nesa lagi ada masalah? Jangan ditanggapi terlalu serius….” Dimas mengingatkan Elang. Dia kuatir, Elang salah paham.

“Aku tau Mas. Lewat matanya….aku tau hatinya sedang terluka. Aku sadar, tidak mudah menggantikan seseorang. Tapi setidaknya aku boleh menyembuhkan luka nya kan?”

“Terserah! Pokoknya aku uda ingetin kamu. Uda dulu ya!”

“Tapi aku mau ngo_”

Tut.

Lagi-lagi Dimas memutuskan pembicaraan sepihak.

“Mas…nanti kalo pulang, ke salon baru dulu ya. Mau liat stock. Kok kayaknya uda menipis. Sabtu Minggu kan rame…..”

“Siap Baby…..” Jawab Dimas dengan sabar.

Tiba di salon, beberapa pegawai hendak pulang.
Nesa berusaha tersenyum ramah ketika mereka menanyakan kabarnya.

Seseorang menawarkan untuk menemani Nesa, tapi dia menolaknya, karena sudah ada Dimas.
Singkat kata, semua pegawainya meninggalkan salon, sudah jam pulang.

“Aku ke dalam sebentar ya….” Pamit Nesa.

“Aku boleh ke minimarket? Mau beli kopi sama cemilan….”

“Jangan lama-lama ….”

Dimas menunjukkan ibu jarinya.

Nesa menuju ke tempat penyimpanan, dan Dimas keluar salon. Minimarket hanya berjarak 2 ruko dari salon.

Al yang sejak kemarin mondar-mandir, akhirnya menemukan kesempatan untuk bicara dengan istrinya.
Tanpa sepengetahuan Dimas, Al memasuki salon.

Nesa berada di ruangan yang penuh dengan rak yang isinya barang pendukung salon. Barang itu teratur rapi, memudahkan dia menghitung sisa stock. Nesa memeriksa dengan teliti lalu menulisnya.

Tapi tiba-tiba dia menghentikan aktivitasnya saat mencium aroma yang dia kenal. Perlahan dia menoleh ke arah pintu.

“Dimas?!” Panggil Nesa, tidak ada suara yang merespon.

“Mas!” Suara Nesa lebih keras memanggil Dimas. Hatinya berdebar-debar, nafasnya tak beraturan. Hidungnya memerah, sudut matanya mulai berair.

Nesa mulai kuatir, dia berharap tidak bertemu Alvaro disini.

“Q…..” Suara Alvaro memupuskan harapannya.

Perlahan Nesa melangkah mundur.

Air matanya sudah mengambang saat Al berdiri beberapa langkah di depannya dan menatapnya.

“Jangan!” Ucap Nesa lirih sambil menggelengkan kepalanya dan menggoyangkan tangannya.

Tanpa sadar air mata menetes, membasahi pipinya, dan membuat Al merasa bersalah.

Pria itu melihat wajah Nesa yang lusuh, pancaran mata sedih sekaligus ketakutan.

Nesa menutup kedua lubang telinganya, memejamkan matanya erat-erat dan menggelengkan kepalanya.

Dia takut berhadapan dengan Al di ruangan ini sendirian.

Dia takut kejadian saat di rumah terulang kembali.

Dia takut Al akan membentak dan berteriak lagi.

Dia takut Al kembali menggunakan kuasanya sebagai suami untuk membuatnya terluka lagi.

Jangan!

Jangan teriak!

Hanya kata itu yang terus dilontarkan Nesa sambil mundur perlahan.

Hingga dia pun tersudut.

Kepalanya terus menggeleng, jarinya menutupi lubang telinga, matanya terpejam dan terus berucap Jangan atau Jangan teriak.
Air mata Nesa terus menetes.

Hati Al semakin teriris ketika Nesa memperlakukannya seperti musuh, karena istrinya tak mau menatapnya sama sekali, bahkan tak mau didekati.

Dia berdiri dan tertegun.

‘apa yang sudah aku lakukan?’

“Baby!” Tiba-tiba Dimas hadir dan duduk disebelah Nesa, meraih tubuh Nesa yang kepalanya terus menggeleng, dan terisak ke dalam pelukannya.

“Ngapain kamu disini?! Keluar!” Dimas meminta dengan bisikan yang tegas.

Al hanya terdiam sambil melihat Nesa yang meringkuk di pelukan Dimas.

“Aku bilang jangan dekati dia dulu! Keluar Al!” Dimas kembali berbisik dengan tekanan.

Mau tak mau Al keluar ruangan.

Air mata Alvaro menetes mengingat reaksi Nesa.

Dia duduk di balik kemudi dengan pandangan kosong.

Al tak menyadari saat mobil Dimas meninggalkan salon.

Tiba dirumah, Nesa tertidur di mobil, Valdi menggendong adiknya ke kamar.

Dimas menceritakan kehadiran Al yang diluar dugaannya.

Dia juga menceritakan reaksi Nesa yang histeris.

Dimas pun berpamitan.

Dengan sabar Vasco dan Valdi menjaga Nesa di kamar.

“Jangan! Jangan teriak!” Nesa mengigau dengan rintihannya, sedikit air matanya ikut keluar.

“Sssssssssttttttt….ada kak Vasco dan kak Valdi. Nesa aman. Bobok lagi ya….” bisik Vasco dan mengusap kepala adiknya, Nesa kembali terdiam dan terlelap.

Setengah jam kemudian, Nesa mengigau lagi.
Vasco merekam suara rintihan Nesa, lalu mengirimkan ke Dimas.

“Kak …..belum 2 jam, Nesa sudah seperti itu beberapa kali. Sebenarnya ada apa?” Vasco tak sabar mengubungi Dimas yang akan merebahkan tubuhnya.

“Aku datang, Al berdiri diam sambil liat baby…aku nggak tau ada kejadian apa sebelumnya. Memang baby nangis seperti itu waktu aku datang, aku peluk dia supaya tenang. Kemarin dia nggak ngigau?”

“Pulang dari rumah sakit nggak ngigau, cuma tidur nya nggak nyenyak, seperti gelisah ….tapi dia bisa tidur…”

“Aku kirim ke Al…biar dia tau kalo baby begini …”

“Aku serahkan ke kak Dimas aja! Aku nggak mau hubungan sama dia!”

Mereka memutuskan pembicaraan.

Dimas mengirimkan suara rekaman suara Nesa yang merintih.

Al langsung menelpon Dimas.

“Kenapa dia Mas?” Nada Al terlihat kuatir.

“Justru aku yang mau tanya ke kamu?! Kamu apakan dia? Kamu teriak apa sama dia?! Dia tidur dan ngigau merintih seperti itu…..” Dimas mencecar Alvaro.

Ucapan Dimas membuat Al merasa bersalah lagi. Rekaman suara Nesa terdengar lemah, tersakiti dan putus asa.

“Tadi aku nggak teriak Mas, aku cuma panggil namanya….Sumpah! Aku boleh ke rumahnya?”

“Jangan! Tunggu ayah datang! Vasco dan Valdi nggak bisa di ajak kompromi kalo ada yang menyakiti adiknya. Bisa hancur kamu!”

“Aku mau tau kondisinya…..” Alvaro bernada memelas.

“Nggak usah Al! Besok aku kabari kamu kondisi baby…..”

Dimas memutuskan pembicaraan.

“Mommy?” Al menelepon Rena.

“Iya Al? Ada apa nak?” Tanya Rena yang sedikit terkejut, karena Al menelepon hampir tengah malam.

“Al mau bicara sama mommy dan daddy. Beberapa menit lagi Al sampe rumah…..” Al memutuskan telepon.

“Sapa Ren?” Tanya Dani yang sudah terbangun karena nada panggilan tadi.

“Al mau bicara. Kira-kira ada apa mas?” Tanya Rena dengam wajah kuatir.

“Tunggu Al aja….. Kita sekarang ke dapur, buat kopi dan coklat ya…biar nggak ngantuk.” Ajak Dani menenangkan istrinya.

Tepat setelah membuat kopi dan coklat, Al masuk dengan wajah yang kusut.

“Al?! Ada apa? Kamu ke sini, sudah kabari Nesa?” Rena tanpa sabar memberi pertanyaan ke Alvaro.

Al bingung dari mana dia memulai.

“Nesa mom….aku benar-benar menyakitinya…..” Ucap Al lirih dan meneteskan air mata saat berhadapan dengan Rena. Wajah Al penuh dengan penyesalan.

“Nesa?! Dia dimana?” Tanya Rena.

“Ceritakan mulai awal!” Dani bersuara.

Al pun bercerita tentang semuanya.

Dani yang awalnya duduk di sebelah Rena, kini dia pindah di seberang istrinya, sedikit menjauh.

Rena menyayangkan sikap Al yang tega melepaskan Nesa pergi.

Dani makin kesal ketika Al baru mencari istrinya setelah beberapa hari.

“Sekarang kabarnya Nesa gimana?” Tanya Rena.

Al mengeluarkan ponselnya, Rena menangis saat mendengar rintihan menantunya, Dani bangkit dan hendak keluar.

“Mas! Mau kemana?!” Tanya Rena dengan suara yang terisak.

“Anak itu bisa mati kalo aku disini!” Ucap Dani sambil telunjuknya mengarah ke Alvaro, wajah Dani menyimpan amarah saat memandang anaknya.

Dani keluar dan menutup pintu dengan keras.

“Mommy nggak ngerti harus bantu apa…. Mommy malu Al…. Dia dirawat baik-baik sama keluarganya.
Kawin sama kamu kok kayak gini….. Kalo mertua mu datang gimana?” Suara Rena tampak pasrah.

“Al nggak mau pisah mom….” Al memegang pergelangan Rena seolah mengadu dan butuh pertolongan.

“Terus gimana?!” Tanya Rena pasrah.

Mereka sama-sama terdiam.

Sejam kemudian Dani masuk.

Dani menarik nafas dan menghembuskan perlahan.

“Kamu tau apa yang kamu lakukan itu termasuk KDRT?! Itu kekerasan verbal, dan akibatnya lebih parah dari luka fisik.” Ucap Dani.

Al mencerna kalimat daddy-nya lalu mengaitkan dengan reaksi istrinya serta rekaman suara rintihan Nesa.

“Gimana caranya aku bisa memperbaikinya, dad?”

“Nesa kayaknya mengalami trauma, tekanan batin. Daddy nggak tau gimana cara mendekati Nesa lagi. Besok pagi minta Tante Stella cari psikolog atau psikiater…. entahlah apa namanya! Kamu tanya, gimana menghilangkan trauma…. Ngapain juga sich kamu teriak ke dia?!”

Al menundukkan kepalanya, dia menyesali dan berandai andai … seandainya begini… seandainya begitu…. masalah ini tidak akan terjadi.

Lalu Dani mengajak Rena ke kamar, meninggalkan anaknya yang masih duduk sendirian dan mendengarkan rintihan istrinya.

Dia ingin memeluk Nesa, tapi dia tak bisa berbuat apa-apa.

Ketika dia ingin istirahat, memejamkan matanya, tapi tidak bisa. Al masih ingat sorot mata Nesa saat melihatnya di salon tadi membuat hatinya perih.

Esok pagi, Vasco menghubungi Nila.

Dia ingin bertemu dan bertanya langsung. Karena hanya pada Nila, adiknya menceritakan masalah ini.

“Berkali-kali Nesa cuma bilang kalo Al nggak bakal jemput dia di rumah ayah. Itu aja kak. Dia nggak ngomong tentang teriakan atau apa ….” Ucap Nila.

“Terus kenapa dia ngigau gitu ya?” Tanya Vasco masih penasaran.

Nesa memang tidak bercerita kepada siapapun tentang teriakan dan urusan ranjangnya. Karena dia tak mau membuka aib suaminya.

Hari Sabtu, Valdi yang biasa ke kolam renang dan Vasco yang selalu ke bengkel, kali ini mereka menemani adiknya di rumah. Tak lama Dimas datang bergabung dengan mereka.

Beberapa saat mereka berbincang ringan dan bercanda, ponsel Dimas berdering.

“Anak ini lagi!” Dimas mendengus melihat nama Elang dimonitor.

“Siapa?” Tanya Valdi.

“Elang ya?!” Nesa menambahi dengan nada agak bersemangat.

“Iya, mau terima? Aku males ngomong sama dia….” Ucap Dimas mengungkapkan suasana hatinya pada pria ini.

“Ya Uda! Sini! Aku aja yang ngomong…..” Nesa menadahkan tangan.

Mau tak mau Dimas memberikan ponsel yang masih berdering.

“Hai El…..Dimas males ngomong sama kamu. Lebih baik nggak usah telpon lagi.” Nesa melihat Elang yang masih dalam balutan seragamnya.

“Aku nggak butuh Dimas, tapi aku butuh kamu untuk menerangi jiwaku yang kelam…..” Kata Elang dengan senyumnya yang mempesona.2

“Pinter banget gombalnya…” Ucap Nesa sambil terkekeh.

Valdi, Vasco dan Dimas saling melihat ketika mendengar kekehan Nesa.

“Vanesa lagi apa?”

“Lagi nyantai sama kakak, Dimas juga….kamu sendiri?”

“Pengennya sich ngemil? Ngemiliki kamu…….” Ucap Elang menahan senyumnya, lesung di pipinya makin terlihat jelas.

Lagi-lagi Nesa terkekeh.

“Sudah! Mana HP nya?! Aku mau telpon ….” Dimas merampas paksa dari tangan Nesa, wanita itu memajukan bibirnya.

Terlihat kekanakan, tapi membuat kakaknya sedikit adem, adiknya perlahan kembali.

Tanpa kata lagi, Dimas memutuskan pembicaraan. Dia tak mau Nesa atau Elang terhanyut di dalam hubungan yang salah.

“Elang itu siapa?” Valdi berpura-pura tanya.

“Elang teman Dimas.” Jawab Nesa.

“Kok Nesa bisa kenal?” Vasco menimpali.

“Dia dokter yang terima Nesa….”

“Ngapain dia ngerayu gitu? Nesa masih milik Al lho ya…..” Vasco mengingatkan.

“Ingat kok!” Nesa juga masih ingat apa yang dia lakukan…. lanjut Nesa dalam hati.

“Kita tahu, kalo Nesa sama Al ada problem, tapi jangan sampe Elang menggunakan kesempatan ini untuk menarik perhatian kamu…. Nesa ngerti kan?!” Vasco menyadarkan adiknya.

Nesa mengangguk.

“Kamu semalam boboknya ngigau…kenapa?” Tanya Valdi.

“Emang iya?! Ngigau ngomongin apa?” Tanya Nesa penasaran.

Vasco mengeluarkan ponselnya, dan Nesa mendengar rintihannya.

“Just a nightmare….” jawab Nesa menutupi traumanya.

“Emang Al kenapa sich? Kok kamu marahnya awet banget….” Valdi mulai menginterogasi.

Nesa sudah menyiapkan jawaban jika kakak atau orang tuanya bertanya tentang masalahnya.

“Soalnya dia lupa nggak nganter ke acara Nila. Terus merembet ke masalah komunikasi. Soalnya tiap Nesa kirim pesan nggak di balas. Sebenarnya itu aja sich masalahnya…..” Nesa bercerita dengan entengnya.

“Terus kenapa kamu nangis waktu liat Al?” Tanya Dimas.

“Sebel! Soalnya dia nggak mau jemput Nesa di rumah ayah. Nesa takut di seret pulang….nangis aja supaya aman….” Nesa berbohong.

“Kalo di seret beneran gimana?” Tanya Vasco.

“Ya Nesa teriak….Kan ada security kompleks ruko….. Kakak nanti jemput ayah jam berapa?” Nesa mulai mengalihkan pembicaraan.

“Malam! Ntar biar kak Vas sama pak Im aja yang jemput.” Kali ini Valdi yang berbicara.

“Padahal Nesa pengen ikut …”

“Nggak muat! Barang ayah sama ibu banyak.”

Mereka kembali berbincang ringan.

Di sisi lain, Al mendapatkan tataran dari daddy.

“Kamu sudah 2 kali ngebiarin Nesa dengan driver taxi dalam kondisi kalut. Lain kali, kalo sama-sama panas, kamu aja yang pergi, Nesa di dalam rumah. Setidaknya kamu tau dia aman di rumah.” Ucap Dani.

“Daddy kalo jengkel keluar rumah. Kayak kemarin. Ntar agak adem, baru masuk.” Rena menambahi.

“Menjaga wanita itu gampang-gampang susah.

Dimanja berlebihan, dia gampang rapuh. Tidak mandiri.

Dimarah berlebihan, jadi batu. Nggak punya hati.

Ditegur, ngambek.

Dibiarkan, terperosok.

Dikurung, suatu saat dia akan berontak.

Dilepas tanpa di kawal, dia akan terbang.

Hanya kamu yang tau sifat istrimu…

Hanya kamu yang tau bagaimana memperlakukan dia….

Kalo dia sudah terbang, apa kamu bisa cari seperti dia lagi?” Dani memberikan petuah.

“Nggak akan terbang Dad…. kemanapun dia berada, aku akan mengejarnya dan mendapatkannya lagi……”

“Pasti lebih susah dari yang sebelumnya….”

“Apapun Al lakukan! Apapun!” Al menatap Dani dengan yakin.

***

Aji dan Isti tiba di bandara.

Vasco sudah bertemu, dan sebelum menuju mobil, Vasco menyempatkan bicara mengenai Nesa.

Beberapa kali Aji menghela nafas dan memeluk Isti yang menangis di dadanya.

Aji tak sanggup bertemu putrinya yang sedang menderita.

Melihat Nesa tersakiti membuatnya rapuh.

“Love….kalo kamu nggak berhenti nangis, kita nggak bisa pulang….” Aji merayu istrinya agar tak menangis lagi.

“Lebih baik aku nangis di sini dulu, dari pada nangis di depan dia mas…..” Jawab Isti sambil terisak.

Aji mengeratkan pelukannya, dan Isti makin menangis tergugu.

Isti tidak mau nasib anaknya sama seperti dia, menjadi janda.

Setelah emosi Isti agak stabil, mereka pulang.

Ketika tiba dirumah, Nesa sudah tidur.

Usai mengganti baju, Isti masuk ke kamar Isti yang tak terkunci, karena kuncinya sengaja disembunyikan oleh Vasco.
Perlahan Isti menciumi kepala putrinya.1

“Ibu sudah datang?” Tanya Nesa dengan suara parau ketika merasakan kecupan di keningnya.

“Baru datang. Ibu bobok sini ya….ibu kangen….” Ucap Isti sambil memeluk kepala anaknya.

Isti merasakan anggukan di dadanya.

Sedangkan Aji masih berbincang dengan Valdi dan Vasco di kamarnya mengenai Nesa.

Tak lupa, mereka juga membicarakan Elang yang membuat Nesa tersenyum.

“Ya udah! Kalian istirahat! Kita ngalir aja….kita nggak tau masalah sebenarnya…kita juga nggak tau Al akan bertindak apa….”ucap Aji.

Bersamaan, 3 pria itu keluar dari kamar Aji. 2 anaknya masuk ke kamar masing-masing, Aji membuka pintu kamar Nesa.
Pria itu melihat istrinya belum tidur, masih membelai rambut indah anaknya. Aji duduk di tepi ranjang.

“Dia seperti Ratu kecil ku yang dulu…..” Isti berucap lirih.

“Selalu Love….dia selalu jadi Ratu kecil kita…..” Respon Aji.

Aji dan Isti kembali mengenang masa kecil Nesa dengan berbisik.
Walaupun matanya terpejam, Nesa mendengar samar perbincangan orang tuanya, membuat tidurnya semakin nyenyak, karena merasa aman dan terlindungi.

Hari Minggu, mereka menghabiskan waktu bersama.

Aji dan Isti bercerita tentang perjalanan mereka.

Kadang mereka bercanda, Nesa membalas dengan tersenyum tipis walaupun hatinya tidak tenang.

Dia tahu, orang tuanya mengerti tentang kondisi rumah tangganya, karena sepanjang hari ayah dan ibu tidak menanyakan Al sama sekali.

“Al kapan ke sini?” Tanya Isti saat Nesa mencuci piring usai makan malam.

‘akhirnya tanya juga….’ batin Nesa.

“Nggak tau!” Jawab Nesa pendek.

Isti menghembuskan nafas dengan kasar.

Dia ingin anaknya bisa menyelesaikan masalah tanpa berlarut-larut.

Dia berusaha menyadarkan anaknya, jika ada masalah jangan hanya diam dan berpura-pura tak terjadi apa-apa.

“Kita semua sayang Nesa. Kita dukung apapun keputusan Nesa. Nesa harus pikir matang-matang dulu sebelum ambil keputusan, ok?!” Isti mengusap punggung anaknya.

Nesa hanya menganggukkan kepalanya.

Senin pagi, Aji sempat terkejut melihat Al sudah ada di lobby kantornya.

“Ayah….” Al menghampiri Aji dan mengulurkan tangannya.

Mau tak mau, Aji menyambut uluran tangan menantunya. Al mencium punggung tangan Aji.

“Ada perlu apa?” Tanya Aji berusaha sabar, tapi tatapan Aji tak bisa berbohong.

Al melihat ada dendam di mata mertuanya. Dan memang benar, rasanya Aji ingin mencekik leher Al atau menyeretnya keluar kantor mengingat rekaman rintihan anaknya.

Al pun juga sudah siap jika ia akan disudutkan atau dihajar oleh mertuanya.

“Al mau bicara sama ayah tentang Nesa….” Al memberanikan diri.

“Hari ini, hari pertama ayah masuk kerja. Kerjaan pasti numpuk. Kalo mau bicara, nanti setelah jam kerja. Biar ayah yang telpon kamu.” Aji berucap tegas.

“Iya yah……” Jawab Al patuh.

Jam telah berlalu, di sinilah Aji berada, di cafe Al.

“Ayah sudah di sini, kamu mau ngomong apa?” Tanya Aji.

“Apapun yang dikatakan Nesa itu benar Yah….Al minta maaf…..”

Aji mengerutkan keningnya, karena sejak dulu Nesa tidak mau bercerita jika ada masalah. Dia ingin di anggap kuat, sama seperti 2 kakaknya.2

“Benar apa?!

Nesa sama sekali tidak membicarakan masalahnya.

Kita tau kalian ada sesuatu…

Ayah nggak tau kamu bersikap gimana ke Nesa, sampai dia mengigau…

Tapi sayangnya sampai sekarang anak itu bungkam…nggak cerita sama sekali.”

Al semakin merasa bersalah, dia mengira Nesa akan menceritakan masalahnya. Tapi ternyata dia menyimpannya sendiri.

“Al minta maaf, Al nggak bisa jaga anak ayah……” Ucap Al lirih.

Aji tak menjawab, dia butuh penjelasan tentang anaknya.

Akhirnya Al menceritakan semua, termasuk teriakannya, tapi tidak urusan ranjang.

Jantung Aji berdebar menahan amarahnya, beberapa kali dia mengeratkan rahangnya mendengar pengakuan Al.

“Kalo kamu sudah tidak mencintai dan tidak menghargai Nesa, nggak papa. Ayah anggap pulangnya Nesa adalah_”

“Al masih ingin bersama Vanesa!” Al memotong kalimat Aji.

“Kamu pikir ayah percaya?!” Tanya Aji dengan senyuman sinis dan tatapan meremehkan.

“Jika ada luka di tubuhnya, ayah tau seberapa parah, dan ayah bisa mencari obatnya. Tapi kalo sakit di hatinya?!

Ayah nggak tau seberapa dalam lukanya…

Dan kamu tidak hanya menyakiti Nesa, kamu juga menyakiti keluarga ayah….” Lanjut Aji.

“Al minta maaf yah….Al menyesal. Al mohon, kasih Al kesempatan…..” Wajah Al penuh penyesalan, dia mengakui kesalahannya.

Aji menggelengkan kepala, dia kuatir putrinya menderita lagi.

“Al lakukan apapun…asalkan kasih Al kesempatan….” Imbuh Al.

“Ayah merasa ayah melakukan kesalahan terbesar saat ayah menyerahkan Nesa ke kamu…..”

“Ini bukan salah ayah…ini salah Al…” Ucap Al lirih.

“Ayah kecewa….sangat kecewa…”

“Ayah mau kan kasih kesempatan Al?”

“Seandainya tidak?” Tanya Aji.

“Tolong yah…..” Al berucap dengan nada melas dengan tatapan memohon.

“Ayah pernah percayakan Nesa ke kamu. Tapi kamu merusaknya.

Bagaimana ayah bisa percaya lagi?!

Bagaimana jika kamu di posisi ayah?!” Aji menatap Al menuntut jawaban.

Al terdiam, dia tak bisa menjawab.

Bersambung

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Tamat