Complicated S2 Part 20

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Tamat

Cerita Sex Dewasa Complicated S2 Part 20 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Complicated S2 Part 19

Alvaro.

Setelah dia tak melihat lagi taxi istrinya, dia membereskan ponsel yang sudah tak utuh lagi.

“Nggak usah dijemput. Kayak anak kecil aja, tiap ngambek mesti ke rumah ayahnya. Biar dia sadar!” Al bicara sendiri.

Lalu dia pergi ke kamar dan mengambil kotak ungu, lalu membukanya. Dia menarik nafas saat mengetahui apa yang ada di dalam kotak itu, lalu dia menutupnya dan membuang ke sampah.

Al seolah tampak biasa saja.

Karena sudah terlanjur bangun, dan tak ada hal yang dilakukan lagi, maka dia berangkat mengelilingi warungnya secara acak.

Pukul 02.00, Al kembali pulang. Dia tak mendapati istrinya.

‘Tunggu 2 hari……’ batin Al. Lalu pria itu memejamkan matanya.

***********

Senin pagi.

“Min… di sini WiFi nya apa? Mbak Nesa boleh ikut nyambung ya ..” Tanya Nesa sopan kepada Jasmine dan mendekap tablet lawasnya.

“Boleh donk mbak…”

Setelah jaringan WiFi tersambung, Nesa mengirimkan pesan ke Nila melalui akun medsos.

‘Nil, Jangan bilang keluargaku…..aku ada sedikit masalah dengan pernikahan ku. Sekarang aku baik-baik aja. Aku masih pengen sendiri. Aku titip salon ya….

Oh iya… ponselku jatuh, masih di betulkan, jadi nggak bisa telpon. Mungkin kasih kabarnya lewat medsos aja ya….thx Nil…

Ingat! Jangan bilang ke keluarga ku! Aku percaya kamu, awas kalo ngember 👊!’ itulah direct message yang dikirimkan Nesa ke Nila.

Nesa masih sempat mempromosikan salonnya melalui media sosial.

Rossi dan Jasmine berpamitan, Rossi berangkat kerja, dan Jasmine ke kampus. Begitu juga dengan Johan yang harus berangkat mengantar anak-anaknya.

“Mama dengar kamu buka salon baru ya Nes….makin sukses donk!”

“Alhamdulillah iya ma….belum sukses ma, ini Nesa masih sering promo.” Balas Nesa.

Deca kembali menanyakan tentang seputar salon, dan Nesa merespon dengan semangat.
Pembicaraan mengalir tentang keluarga ayah dan ibunya. Tak lupa, Deca juga menanyakan Vasco dan Valdi.

Dan Deca tidak menyinggung sama sekali tentang suami Nesa, dia yakin Nesa tak akan mau membicarakan. Wanita itu mengajak ke supermarket untuk membeli buah. Tapi Nesa menolak.

“Ma…Nesa ke kamar ya…pengen baringan” pamit Nesa.

“Mama ke supermarket ya. Sekalian mau jenguk teman. Kamu sendirian nggak papa kan?”

“Nggak papa ma…..”

Hari Rabu.

Karena kemarin hari Selasa, Al sudah cukup istirahat (Selasa Al libur), hari ini dia bangun pagi sekali.

Sejak Minggu pagi, Alvaro tak melihat istrinya.

Dia tak mendapatkan kabar apapun tentang istrinya, hatinya mulai resah.
Al mendatangi rumah daddy.

“Dad, Al tukar mobil ya… Minta tolong om Ronald bawa mobil Al ke bengkel…. mommy kemana?”

“Mommy mandi. Pilih aja mau yang mana Al….kamu sendirian?”

“I-iya dad” jawab Al gugup, dia takut daddy akan marah jika tau Nesa pergi dari rumah.

“Tumben kamu bangun pagi….”

“Iya Dad, kan Selasa uda puas tidurnya… Al berangkat dulu ya ….salam buat mommy”

Dani menjawab dengan gumaman.

Al meluncur dengan kecepatan tinggi. Dia berhenti tak jauh dari rumah mertuanya. Ia masih teringat jika Nesa pamit istirahat di rumah ayahnya.
Kenapa Al ganti mobil? Supaya Vasco dan Valdi tidak mengetahui jika Al mengamati rumahnya.

Dia melihat Vasco keluar dari rumah dengan mobilnya.
Dan tak lama di susul Valdi yang mengendarai motor.

Hingga pukul 9, Al masih duduk diam dibalik kemudi. Belum ada tanda-tanda sosok istrinya.
Dia tak sabar, perlahan memajukan mobilnya dan parkir di luar rumah.

Takut dan gelisah, campur menjadi satu.

“Assalamualaikum pak Im….”

“Wa’alaikum salam…eh…mas Al. Kok parkir di luar mas?”

“Buru-buru pak. Cuma mampir bentar mau ngasih titipannya Nesa. Nesa nya didalam ya?” Al membawa sekotak kue.

“Mbak Nesa?! Mbak Nesa uda lama nggak kesini…. terakhir Minggu kemarin waktu ayah sama ibu mau berangkat ke Belanda…”

Jantung Al langsung berdetak kencang. Hampir seluruh pori-porinya mengeluarkan keringat dingin. Mendadak tengkuknya terasa tegang dan kaku.

“O-oh gitu ya? Soalnya tadi dia pamit ke sini….ayah sama ibu kapan balik?” Al mulai tidak tenang.

“Masih lama, kayak nya 2 Minggu lagi. Kata Ibu nambah liburan sendiri.”

“Ya udah pak Im…saya ke salon aja. Terimakasih.” Pamit Al.

Setelah tiba di salon, dia menanyakan tentang istrinya. Dia pun memakai alasan yang sama, mengantar kue.

“Bu Nesa beberapa hari nggak ke salon. Cuma Bu Nila yang datang kalo sore atau malam ….” Ucap pegawai salon.

“O… mungkin salon yang satunya. Ya udah mbak…saya ke salon satunya saja.” Ujar Al yang semakin panik.

Pria itu pun mendapat jawaban yang sama.

Masih di depan salon, Al menelepon Nila.

“Nil…ini aku Al. Nesa ada dimana?” Tanya Al langsung tanpa basa-basi.

“Lha! Kan situ suaminya, kok tanya ke aku?”

“Nil… please….” Ucap Al dengan nada memohon.

“Aku nggak tau Al…..”

“Dia nggak ngomong apa-apa sama kamu?”

“Dia cuma kirim pesan lewat sosmed, kalo kalian masih ada masalah, dan dia titip salon. Itu aja! Uda ya…Aku tutup telponnya! Sibuk!” Nila menutup sambungan telepon tanpa menunggu balasan.

Entah kenapa, walaupun Nesa belum menceritakan masalahnya, tapi selaku sahabat, Nila selalu mendukung dan membela sahabatnya.

“Kamu dimana Q….” Al bicara sendiri dengan kuatir.

“Tuhan, tolong jaga dia….aku mohon tolong jaga dia, dimana pun dia berada…..” Al memejamkan mata dan terlintas wajah Nesa saat terakhir kali menatapnya tanpa ekspresi.

Dada Al makin sesak.

“Gimana kalo keluarganya telpon? Terus aku ngomong apa? Pergi hari Minggu dan sampe Rabu aku nggak tau keberadaannya? Bisa mati aku! Apalagi kalo daddy tau…. Astaga ….” Al membayangkan dia akan menerima amukan masal dari keluarga Nesa dan keluarganya.

Ponsel nya berbunyi.

“Iya?”

“……”

“Iya…iya…aku ke Femina sekarang…”

Al tiba di cafe Femina. Setelah menyelesaikan tagihan operasional cafe, dia duduk sendirian.
Dia melamun, hingga tak menyadari ada seorang wanita yang duduk di sampingnya.

Dia baru tersadar saat wanita itu menyentuh punggung tangannya dan meremas jemarinya.

“Kamu kayaknya ada masalah Al….kamu boleh cerita ke aku…” Ucap Maura.

‘aku nggak suka kalo kamu berhubungan dengan mantan-mantanmu….’ Al teringat pesan istrinya yang selalu sensi tentang mantan.

Al tersenyum sinis dan menggelengkan kepalanya.
Perlahan Al memutar badannya dan menatap Maura.

“Ra, kamu liat kan ada cincin yang melingkar di jariku?” Tanya Al dengan menunjukkan jari manisnya.

“Ini bukan sekedar cincin, disini ada ikatan suci. Dan aku tidak mau mengotori ikatan suci ini. Kalo pun aku punya masalah, aku tidak akan bercerita ke kamu, karena kamu pun tidak bisa menyelesaikan masalah rumah tangga sendiri. Aku lebih baik cerita ke keluargaku sendiri.” Ucap Al lagi lalu meninggalkan cafe Femina.

Kini pria itu di cafe Macho, cafe yang sering dikunjungi kaum Adam. Tempat ini masih terlihat sepi.

Lagi-lagi dia duduk sendirian sambil memijat pangkal hidungnya.

Dia mengeluarkan ponselnya, dan membaca pesan-pesan yang dikirimkan oleh Nesa. Hanya membaca beberapa pesan istrinya, membuat dadanya sesak lagi.

‘Al, kamu pulang jam berapa? Miss you 😘’

‘Jangan lupa makan ya….jaga kesehatan. I need you Al. And i want to live forever with you. Stay health hubby 💋💓’

‘Kamu sekarang dimana? Jangan dekat-dekat sama mantan. Really make me jealous 😣, coz i love you 😘😊’

‘Disini ujan. Kalo pulang ati-ati ..aku bobok dulu ya…💏’

Itulah sedikitnya pesan Nesa, dan Al tak pernah meresponnya sama sekali.

‘where are you my Queen? tell me, please …..i’ll pick you up ‘ Al tau jika Nesa tidak bisa menerima pesan, tapi pria itu tetap mengirimkan pesannya.

Cukup lama Al memandangi foto istrinya yang ada di ponsel. Dan dia hanya memiliki 1 foto wajah istrinya.

Kini dia membuka sosial media, meluncur ke akun istrinya.

Tidak ada aktivitas terbaru disitu.

Foto terakhir yang di upload oleh istrinya adalah saat pernikahannya.

Dengan caption, udah taken ya 💑….jangan di godain lagi.

Tak lupa Nesa menandai akun Alvaro.

Al melihat beberapa foto yang lain, tak banyak foto yang diunggah Nesa. Dan lebih banyak kenangan masa kecilnya.

Malam hari, cafe mulai rame.

Al yang biasa menyambut hangat para pengunjung, kini dia duduk sendirian di ruang manajemen.

Vanesa

Usai makan malam,Johan duduk sendirian sambil melihat TV.

“Papa belum tidur?” Tanya Nesa.

“Belum ngantuk… filmnya juga bagus…”

“Boleh Nesa tanya sesuatu?” Nesa berucap dan duduk di sebelah Johan.

“Okay……” Johan mengangguk pelan.

“Apakah saat ini papa menyesal menceraikan ibu?”

Pertanyaan yang cukup dalam bagi Johan.

“Papa bingung jawabnya.

Papa tidak menyesal, karena papa melihat ibu dan Vasco sudah di tangan yang tepat.
Dan mereka bahagia.

Papa pun sekarang juga bahagia dengan mama mu dan adik-adik mu.

Tapi, hingga saat ini….ketika melihat Vasco, kadang papa masih merasa bersalah. Karena dia darah daging papa, tapi papa sempat meragukannya.

Papa berusaha mengalihkan rasa bersalah dengan berpikir, kalo bukan sama Aji, Vasco tidak akan sesukses ini. Jadi papa sangat berterima kasih ke Aji sudah menjaga dan menyayangi Vasco seperti anak kandungnya.”

“Kenapa papa kasih pilihan cerai untuk ibu?”

Johan menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskan perlahan.

“Ya….saat itu emosi papa tidak stabil, dan papa belum jadi orang baik.
Beberapa orang berpikir, perceraian menjadi salah satu solusi yang terbaik, tapi tetap saja hal ini dibenci oleh agama.”

“Misalnya papa punya kesempatan, kembali ke masa lalu…apa yang papa lakukan? Masih menceraikan ibu?”

Johan terkekeh.

“Nesa sayang….kita nggak perlu berpikir kembali ke masa lalu. Kalo papa balik sama ibumu, nggak ada kamu dan Valdi donk.”

“Oh…iya…” Nesa tersenyum lebar.

“Mau tanya apa lagi?” Tanya Johan.

“Boleh Nesa peluk papa?”

Johan merentangkan kedua tangannya, seolah mempersilahkan.
Dan seperti biasa, Nesa menyandarkan kepalanya di dada Johan, seperti yang dia lakukan ke ayahnya. Mendengar detak jantung Johan membuatnya tenang.

“Papa tau, Nesa dan Al ada masalah….dan itu wajar….
Kamu harus ingat tujuan kalian menikah. Dan seberapa penting arti Al di kehidupan Nesa. Begitu juga sebaliknya.

“Prioritas?”

“Ya…. prioritas…..”

‘Bagi dia, aku yang ke sekian pa….’ batin Nesa.

“Jangan gegabah kalo ambil keputusan. Bicara baik-baik. Ungkapan semua nya ke Al.
Papa bicara gini karena papa juga belajar dari kesalahan.”

Johan masih memberi petuah, dan seperti mendengar dongeng, Nesa mulai mengantuk.
Akhirnya Nesa pamit masuk ke kamar.

Nesa memutuskan kembali ke Surabaya pada Jumat malam.

Kenapa dia memutuskan pulang Jumat malam?

Karena Vasco jam 8 malam persiapan tidur di bengkel.
Sedangkan Valdi tidur lebih awal, karena Sabtu pagi dia akan mengajar renang.

Sejak Jumat pagi, Nesa beberapa kali keluar masuk kamar mandi, perutnya terasa mual.

“Nes, kalo kamu nggak sehat. Di cancel aja.” Ucap Deca.

“Nesa baik ma….ini cuma asam lambung Nesa kambuh. Nesa kuat kok ma.”

“Beneran asam lambung? Kamu bawa obat?”

Deca ingin sekali bertanya, jangan-jangan kamu hamil? Tapi mulutnya tak bisa, dia kuatir menyinggung perasaan Nesa.

“Terakhir tadi siang. Sekarang uda abis. It’s ok ma….Nesa dirumah ada obat kok…..”

“Tapi nggak ada makanan yang masuk sama sekali lho Nes…kamu muntah terus….”

Setelah Nesa meyakinkan Deca, mau tak mau wanita itu mengijinkan Nesa kembali ke kota asalnya.

Saat di bandara, menunggu jadwal flight, rasa mual Nesa makin jadi. Jangankan makanan, air seteguk pun tubuh Nesa tak mau menerimanya.

Nesa bernafas lega, ia kembali menginjakkan kaki di kota asalnya.
Dengan wajah pucat dan lemas, dia menguatkan diri berusaha menaiki taksi.

“Minta tolong ke rumah sakit Mitra ya Pak…..”

Taksi tiba di rumah sakit, tanpa bicara Nesa memberikan selembar uang ratusan ke driver.
Dengan sigap, sopir taksi turun dan minta pertolongan di area UGD.

2 orang perawat memapah Nesa untuk duduk di kursi roda.

Nesa masih sadar, tapi tubuhnya lemas hingga dia tak mampu berucap. Dia sempat memberikan kartu asuransi nya, dan setelah itu dia terlelap.

Entah berapa lama dia tertidur, ia membuka matanya secara perlahan.

Dia melihat seorang pria tampan dengan kulit bersih, duduk di tepi ranjang, di sebelah kakinya.
Pria itu memakai setelan biru muda dan tergantung stetoskop di lehernya.

‘Dia dokter’ batin Nesa.

Nesa juga menyapu pandangan ke sekelilingnya.

Dia melihat ranjang di sebelahnya kosong, jadi dia sendiri yang menempati kamar ini.

“Vanesa….kamu sudah bisa mendengar saya?” Tanya pria itu sopan.

“Anda dokter?” Nesa tidak menjawab malah bertanya balik.

Dia ingin memastikan siapa pria yang menemaninya.
Pria itu tersenyum, terlihat lesung di salah satu pipinya, sangat manis menurut Nesa.

“Iya, saya Elang Hardinata. Dokter yang menerima Vanesa saat di UGD.”

“Sekarang jam berapa? Sudah berapa lama saya tidur?”

“Sekarang Sabtu, jam 8 pagi. Tidur kamu cukup nyenyak.” Pria itu menatap Nesa dengan mata yang berbinar.

“Diagnosa saya apa Dok? Saya nggak hamil kan?” Nesa melihat Elang dengan wajah penuh tanda tanya.

“Memang kenapa kalo kamu hamil?”

“Saya belum siap …” ucap Nesa lirih.

“Tenang ….. Ada saya yang siap bertanggung jawab.” Elang berkata santai dan tetap tersenyum manis.

“Astaghfirullah….” Nesa melongo mendengar ucapan pria yang baru tahu namanya beberapa detik.

***

“Kenapa?” Elang menahan senyum saat mendengar Nesa istighfar dengan mimik wajah yang lucu menurut pria itu.

“Siap bertanggung jawab bagaimana dok?” Nesa berusaha memahami kalimat Elang.

“Aku siap bertanggung jawab atas kehamilanmu. Aku nggak peduli siapa ayah kandungnya….”

“Dokter kan belum kenal saya….” Nesa berucap pelan.

“Seberapa jauh arti ‘mengenal’ menurut kamu? Aku sudah bersedia terima kamu apa adanya….aku nggak perlu tau latar belakangmu.”

‘ini beneran dokter? Dimana wibawanya?’ batin Nesa. Wanita ini biasa bertemu dengan dokter yang hanya membicarakan diagnosa, penyakit dan obat.

“Saya baru tau nama dokter, terus dokter ngomong kayak gini kan aneh….” Nesa memandang sekilas wajah Elang lalu memalingkan wajahnya.

Nesa tak mau berlama-lama melihat pria itu, karena tatapan Elang membuatnya salah tingkah.
Bukan tatapan tajam, tapi tatapan yang meneduhkan bagi Nesa.

“Selain namaku, kamu pengen tau apalagi tentang aku? Waktu ku sangat banyak untuk menjelaskan sambil menemani kamu. Maksudnya nanti malam….” Elang menantang Nesa.

‘Ya Allah….kenapa cobaan ini sangat berat. Ntar kalo aku bilang menikah, dia kabur, kan sayang…..Bisa di jadikan cadangan… ‘

‘Astaghfirullah! Jablay Nesss?!’ Perang batin Nesa.

“Dok, anda lihat ini?” Nesa menunjukkan jari manisnya, ada cincin yang melingkar.

“Lihat! Tapi itu bukan suatu tanda ikatan. Ada temanku pake cincin supaya nggak di ganggu, supaya keliatan sok laku gitu….. padahal dia masih sendiri.” Elang menjelaskan dengan santai.

“Dokter sadar apa yang dokter ucapkan?” Nesa terpaksa berucap sedikit kasar.

Lagi-lagi Elang memberikan senyuman terbaiknya. Membuat Nesa terpana.

“Aku tau, mungkin ini terlalu cepat. Aku bersedia menunggu kapan pun kamu siap…. Pokoknya kasih aku kesempatan, ok?!”

“Ma-maaf dok, tapi saya beneran sudah nikah….” Ucap Nesa berhati-hati.

Akhirnya dia membuka statusnya. Dan ini seperti alasan Elang tadi, supaya tidak ada yang mengganggunya. Karena hatinya saat ini sedang kalut.

Senyum Elang pudar, dia mengernyitkan dahinya dengan mata memicing, berusaha memahami pengakuan Nesa.

“Lalu kemana suami mu? Pria macam apa yang membiarkan istrinya sendiri keluar di malam hari?
Terus tentang kehamilan, kenapa kamu nggak siap?” Elang mencecar pertanyaan dengan nada tetap datar dan santai.

Nesa menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskan perlahan.
Tidak mungkin dia menjelaskan masalah pernikahannya ke orang yang baru saja dikenalnya.

Perlahan dia bangun dari rebahannya, dan hendak menuruni ranjang.

“Kamu mau kemana?” Tanya Elang.

“Permisi dok. Saya mau ke ruang administrasi, pinjam telpon. Saya mau menghubungi kerabat.”

“Pake ponselku aja …” Pinta Elang dan mengeluarkan ponsel dari sakunya.

“Nggak usah dok…saya nggak enak. Ntar pulsa nya berkurang.”

Elang kembali terkekeh, dan terlihat makin tampan.

“Jangan kan pulsa…. Hidup dan hatiku sudah siap aku berikan untuk kamu Vanesa….”

‘Oh my God! kenapa dia nggak datang dari dulu sich… .’

‘Astagfirullah Nesaaaaaa…’

Lagi-lagi batin Nesa berperang.

Nesa tak sanggup menahan senyum saat Elang melontarkan rayuan gombalnya.

“Kamu makin manis kalo tersenyum gini….”

Nesa menggigit bibir bawahnya, menahan senyum yang berlebihan.

“Saya telpon dulu ya dok….” Nesa minta ijin.

“Silahkan! Saya keluar sebentar….” Elang memberikan privasi Nesa.

Nesa menghubungi Deca, menyampaikan bahwa dia sudah tiba di Surabaya.

Lalu dia menghubungi Nila, mereka pun berbalas salam.

“Nil, kamu nggak kasih tau keluarga ku kan?!”

“Nggak mbak! Aman! Tapi Al tanya, dia cari kamu…ya aku bilang seperti yang di inbox itu. Kamu sekarang dimana?”

“Good girl…aku sekarang lagi di rumah sakit Mitra dekat bandara. Kamu ke sini donk…temani aku ya?”

“I-iya, iya…ntar aku ke sana…..”

“Ok! Aku tunggu kamu! Bye Nila…”

“Bye….”

Selang beberapa menit ada perawat yang mengantar makanan untuk Nesa.
Disusul oleh Elang.

“Terima kasih dok….” Nesa mengulurkan ponsel ke pemiliknya.

“Sudah?!” Tanya Elang memastikan dan menerimanya.

Nesa mengangguk.

Elang tersenyum ketika melihat last phone call number. Karena tidak ada nomor asing.

‘pintar!’ batin Elang.

Nesa menghapus nomor Deca dan Nila di daftar list panggilan.

“Kapan kerabatnya datang?” Tanya Elang.

“Secepatnya dok….”

“Waduh! Sebenarnya aku mau ketemu, kenalan dan minta restu….”

“Saya makan dulu ya Dok….lapar….” Nesa mengalihkan pembicaraan.

“Sebenarnya aku mau temani kamu. Tapi sayangnya aku ada seminar. Kamu nggak papa kan aku tinggal sendirian?”

‘Astaga, Al aja nggak pernah perhatian seperti ini….’ Nesa mulai membandingkan Al dan Elang.

“Nggak papa Dok….ntar lagi ada kerabat saya.”

“Ok! Kamu bisa telpon aku kalo kamu pengen makanan atau apapun, nanti malam aku ke sini lagi….aku sudah bilang ke perawat.”

“Terima kasih dok…..” Nesa mengangguk.

Elang meninggalkan Nesa sendiri yang tersenyum karena perhatian pria itu.

ALVARO

Sabtu pagi, Al terbangun, dia merasakan beberapa bagian tubuhnya sakit karena posisi tidur tidak tepat.
Ini karena dia sengaja tidur di kursi ruang manajemen.

Pria itu tak pulang ke rumah. Karena tiap dia memasuki rumah, dia merasa bersalah.
Saat melintas pintu masuk, dia selalu mengingat dimana istrinya berdiri lalu menatapnya untuk terakhir kalinya.

Setiap hari dia membuka media cetak dengan hati tak tenang. Dia kuatir ada berita buruk yang mencatut nama istrinya.

Beberapa kali Al ingin melaporkan ke pihak yang berwajib, tapi dia mengurungkan.
Karena hal ini akan menyangkut nama besar keluarganya.

Kini dia duduk terdiam sendiri di tepi ranjangnya.
Kamar berantakan karena tak tersentuh tangan istrinya sama sekali.

Tak mau lama larut dengan kesedihan, dia keluar kamar dan menuju dapur.
Dia merindukan pesan kecil yang tertempel di kulkas.

‘Kalo sudah maem siang, tolong lauknya dimasukkan kulkas’

‘Waktunya buang sampah. SE-KA-RANG! Aku nggak mau rumah ada belatungnya lagi.’

Mau tak mau, Al hanya bisa menyantap mie instan. Dan ia pun kembali lagi ke cafe Macho.

Berdiam di rumah membuat kepalanya makin pening, karena bayangan Nesa selalu melintas.
Di cafe pun dia hanya terdiam di ruang manajemen. Duduk sambil memandangi wajah istrinya yang ada di ponsel.

***

Rumah sakit siang hari.

Nesa membuka matanya. Ada seorang pria yang duduk di kursi, tepat disampingnya, sambil mengusap kepala Nesa.

“Kok kamu yang kesini?!” Tanya Nesa.

“Nila masih silahturahmi ke keluarga Rama. Jadi dia telpon aku.” Balas Dimas.

“Tapi kamu nggak bil_”

“Nggak bilang Vasco Valdi….aman baby…..”

“Syukur dech…..”

“Kenapa pilih rumah sakit nya jauh sekali?” Dimas mulai memancing Nesa. Karena Dimas tau, Nesa tidak suka jika langsung ditanya permasalahannya, dia makin bungkam.

“Dari bandara….” Ucap Nesa lirih.

“Abis jalan-jalan?”

“Dari Banjarmasin, rumah papa….”

“Kok nggak ngajak? Aku juga pengen traveling…..”

“Mendadak…..”

“Kan aku jobless….bisa berangkat kapan aja….”

“Jobless?! Tapi duit ngalir terus ya….mau donk jobless kayak kamu Mas….”

Dimas tertawa kecil, seperti diketahui dia adalah pemasok bahan pangan di hotel, resto dan cafe. Hanya sesekali saja dia sidak ke gudang tempat sortir bahan yang akan dikirim.

“Sekarang gimana? Uda enakan?”

“Lumayanlah…..Mas, pulang sekarang yuk!”

“Lho?! Ya tunggu perintah dokter nya babe…..nggak boleh asal keluar, ntar kalo ada apa-apa, sapa yang tanggungjawab?”

Nesa terus merengek minta pulang, karena dia tidak mau bertemu dengan Elang lagi. Dimas berusaha membujuk dan merayunya, karena dia kuatir kondisi Nesa akan lebih buruk jika dibawa pulang paksa.

“Tadi aja maemnya nggak dihabiskan…. ” Ucap Dimas sambil mengigit roti yang dibawanya.

“Lagi nggak nafsu……”

“Menu nya nggak enak?”

“Males aja…..”

“Apapun masalahmu… bagaimana pun kondisinya…kamu harus makan babe….
Wajah kamu sedikit pucat lho…..”

“Seandainya kamu tau masalahnya, kamu nggak bakalan ngomong gini….”

“Emang seserius itu ?”

Akhirnya Nesa menceritakan permasalahannya, tapi dia berusaha tidak menangis.
Dia memperlihatkan bahwa dia wanita yang kuat,sama seperti ibunya.

Nila datang dengan tergopoh-gopoh. Lalu duduk di tepi ranjang.

“Nesaaaaaa….kamu nggak papa kan? Sori baru datang, abis dari rumah omnya Rama….”

“Cieee…yang mau nikah…” Nesa sempat terhibur dengan adanya Nila.

Dimas pamit keluar, dia memberi ruang bagi Nila dan Nesa.

“Sori ya Nil…aku nggak bisa datang di acara mu kemarin…..sahabat macam apa aku ini?!” Ucap Nesa.

“Nggak papa Nes. Aku maklum kok…”

“Tapi aku yang nggak bisa memaklumi…..”

“Kenapa?” Tanya Nila lirih, kuatir ucapannya salah.

Lagi-lagi Nesa bercerita tentang permasalahannya.

“Aku nggak minta apa-apa. Aku cuma minta sedikit perhatian. Sedikiiiiiiit aja….(Nesa menunjukkan kelingkingnya)

Aku pengen rumah tangga seperti ibu dan ayah, seperti om dan tanteku, seperti ayah dan Bunda mu.

Aku iri kalo mereka saling menatap dengan pancaran cinta.

Mereka terlihat saling mencintai. Mereka selalu mendampingi yang satu dengan yang lain.

Lalu aku?! (Nada Nesa terdengar putus asa)

Berapa kali Al menemani aku saat acara keluarga?

Aku selalu mikirin dia….
Tiap malam aku selalu merindukannya….
Aku kangen tidur di pelukannya….
Aku kangen dia memainkan rambutku…
Aku kangen saat dia melihatku dan aku melihat bulu matanya…..

Tapi dia tidak merindukanku….(Nesa tersenyum kecut)

Aku juga tidak bisa menuntut dia merindukan aku kan?

Aku capek merawat dan memperjuangkan pernikahan ini sendiri.

Sesekali aku ingin menjadi orang yang egois.

Aku mau dia ada saat aku butuhkan.
Aku mau dia ada saat acara keluarga.
Aku mau dia ada saat aku ketakutan di kala gelap.

Tapi rasanya nggak mungkin…..

Al sibuk dengan bisnisnya.

Di sisi lain, aku menginginkan dia selalu ada di samping ku.

Terus gimana? Dalam hal ini, sapa yang salah?

Nggak ada! Nggak ada yang salah!

Saat kita bicara tentang cinta, tidak ada yang salah atau benar.

Baik Al atau aku nggak ada yang salah.

Aku mencintainya…..tapi aku juga mencintai diriku sendiri….

Cinta nggak harus memiliki kan?

Mungkin pernikahan adalah langkah yang salah bagi kita.

Hubungan keluarga ini yang salah.

Aku yang terburu karena usia dan tuntutan orang tua.

Seharusnya aku menunggu waktu yang tepat…., menunggu pria yang tepat…. yang benar-benar mengenal aku.

Jika pernikahan ini menjadi penghalang kebahagiaannya, lebih baik tidak diteruskan.

Toh hampir setahun ini aku uda biasa hidup sendiri.

Dan yang paling aku ingat sampe sekarang, kata-kata Al,
KAMU BERANI KELUAR DARI RUMAH INI, AKU NGGAK AKAN JEMPUT KAMU DIRUMAH ORANG TUAMU…..

Dia nggak bakal jemput Nil….nggak akan…..”
Nesa terisak, air matanya terus menetes di pipinya.

“Nes….kamu dan Al lagi kalut. Omongan kalian ngelantur. Kalian bicarakan baik-baik, mungkin ada solusi dan bisa diperbaiki?”

Nesa hanya menggelengkan kepalanya.

“Oh iya! Salon kita kemarin di tawari KUR untuk mengembangkan usaha. Tapi aku belum kasih jawaban, aku harus tanya kamu dulu.

Kita mengembangkannya itu yang gimana? Menambah perawatan apa? Tubuh kah? Atau gimana?” Nila mengalihkan pembicaraan.

Nesa mengusap kasar pipinya, menarik nafas dan menghembuskan perlahan seolah mencoba menghilangkan beban hidupnya.

“Boleh, Nil. Kita kembangkan di facial, lulur tradisional dan spa V aja gimana? Untuk harga kita custom, ada level sesuai formula yang dipakai pelanggan, lalu kita juga buat paket hemat. Menurut kamu gimana?

Dan kita terapkan sistem H-1 atau H-2 for booked. Supaya ruangan dan tenaga kerja bisa dimaksimalkan.” Nesa kembali bersemangat saat membicarakan bisnis kecilnya.

Mereka pun larut dengan pembicaraan salon.

Alvaro duduk dilantai sambil menyembunyikan wajahnya diantara kedua lututnya. Beberapa kali dia meneteskan air mata saat mendengar keluhan istrinya yang terpendam.

“Sabar Al….ya itulah Nesa. Kadang dia kalo ngomong di luar kontrol.” Dimas yang duduk di atasnya, mengusap pundak Alvaro.

Al mengangkat wajahnya, mendongak, melihat wajah Dimas.

“Kamu kayak nya tau banget tentang dia……”

Dimas tersenyum, mungkin ini saatnya dia menjelaskan ke Alvaro tentang perasaannya ke Nesa.

“Sebelumnya aku minta maaf…. Aku pernah ke rumahmu tanpa sepengetahuanmu, 2 kali. Pasti Baby nggak cerita kan?”

“Kapan kamu kerumah?” Tanya Al penasaran.

“Waktu lampu mati….. Aku temani dia sampe lampu nyala lagi. Jangan pernah salah menilai hubunganku sama baby…. Seandainya ada kata lebih dari cinta, mungkin itu yang aku rasakan ke baby.

Waktu aku tau status ku bukan anak mami dan papi, sempat mikir perasaanku tentang baby, apakah perasaan ini seperti pria dan wanita? Beberapa saat memikirkan perasaan, aku liat papi dan mami bertengkar, dan berujung mami nangis.

Sebenarnya uda biasa liat mereka beda pendapat, dan bertengkar kecil, tapi peristiwa itu menyadarkan aku. Mungkin ikatan pernikahan, bisa membuat sakit hati pasangan.

Aku nggak mau seperti itu!
Aku nggak mau menyakiti baby….
Walaupun demi kebaikan, aku nggak mau baby nangis karena aku….

Sejak bayi, waktu mami sering ngajak dia ke rumah, aku selalu pengen gendong dia.
Mami taruh baby di pangkuanku sebentar, mami bilang, ‘now you are a big bro. And she always be our baby…you have to take care of her.’

Ya itu lah rasaku ke baby…. walaupun dia sudah menjadi seorang wanita yang pintar, dihadapan kami, dia selalu menjadi bayi kecil yang rapuh…. yang harus dilindungi….

Jujur aja….

Waktu dia cerita masalahnya tadi, aku pengen habisin kamu di parkiran…

Tapi kayaknya Tuhan sudah menghukum kamu lebih dulu.” Dimas menatap kasihan Al yang berwajah lusuh.

“Bagaimana jika dia benar-benar minta cerai?”

“Liat ntar aja ya…. untuk sekarang, jangan dekati dia dulu…kalo kamu ngeyel, dia kabur lagi….”

“Tapi aku pengen liat dia…”

“Ntar hari Rabu ada acara anniversary Eyang Bunda. Semuanya pasti datang. Kamu datang kan?”

“Iya! Aku pasti datang….”

“Ntar liat aja responnya di situ.
Kalo uda agak lunak, misal kasih senyuman, ada kemungkinan kalian bisa ngobrol.
Tapi kalo dia nggak mau liat wajah kamu, berarti jangan didekati dulu, malah ngamuk dia nya…..”

“Ok….aku nurut kamu aja lah….”

“Sekarang kamu pulang dulu…uda malam. Percuma kamu disini, dia pasti nggak ijinkan kamu masuk….”

“Tapi aku pengen liat wajahnya. Sekali lagi Dimas…. please….” Alvaro melihat Dimas dengan tatapan memohon. Tadi siang, atas ijin Dimas, Al melihat wajah Nesa yang tertidur

“Ya udah! Ntar kalo dia tidur, kamu boleh masuk bentar. Abis gitu pulang!”

Mata Alvaro berbinar. Dia mengucapkan terimakasih ke Dimas.

Vanesa

“Dimas di luar sama sapa?” Tanya Nesa mendengar suara orang berbincang cukup lama.

Nila menghela napas.

“Sama Al…..” Jawabnya lirih.

“APA?! AL?!”

“Aku tadi nggak bisa langsung kesini, maka aku telpon Dimas.
E….Dimas nya malah telpon Al.
Kata Dimas, ‘o…aku pikir yang nggak boleh dikasih tau keluarganya aja…’
Terus Dimas telpon Al lagi, nggak boleh masuk ke kamar ini.”

“Dia ganteng….tapi pekok nya nggak abis-abis….Uda tau musuhan, malah ditemuin….”

Nila terkekeh ketika mendengar Nesa memberi label kepada sepupunya.

Nesa dan Nila kembali bicara ringan.
Nila juga membantu menyeka tubuh Nesa, dan menemani saat makan malam.

Setelah Nesa tertidur, Nila keluar kamar, bergantian dengan Dimas yang akan menjaganya.

Tak lama, Dimas mengijinkan Al masuk dan melihat wajah istrinya. Pria itu ingin sekali menyentuh istrinya, mencium keningnya, tapi Dimas melarang nya.

Dimas melihat Alvaro menarik nafas beberapa kali. Beberapa menit setelahnya, Dimas terpaksa mengusir Alvaro.

Dimas pun ikut terlelap di sofa.

Tengah malam, Dimas merasa ada yang membuka pintu kamar.

“Oh….sudah ada yang jaga..Lho?! Dimas kan?” Ucap Elang yang baru saja melihat wajah Dimas.

Sedangkan Dimas belum sadar sepenuhnya.

“Elang?!” Balas Dimas ketika mulai sadar.

“Iya, aku yang terima Vanesa kemarin di UGD. Kebetulan pas jaga malam Kalian….?” Elang menggantung kalimat.

“Aku sepupunya….”

Elang sedikit lega setelah mendengar status Dimas

“Ssstttt…kita bicara di luar aja!” Ajak Elang kuatir mengganggu Nesa.

“Kamu dokter yang handle Nesa?” Tanya Dimas ketika mereka sudah berada diluar.

“Nesa sudah di tangani dokter spesialis. Aku kesini cuma pengen liat aja.”

“Terus sekarang mau balik jaga?”

“Ya… sebenarnya mau nunggu Vanesa.”

“Ngapain nungguin Nesa?” Dimas mulai waspada. Emang semua dokter nungguin pasiennya tidur?

“Soalnya dia mau tanya-tanya tentang aku….” Elang menjawab dengan percaya diri.

“Emang iya?” Dimas tak percaya ucapan Elang. Dia tau benar sosok Nesa, walaupun cantik dan pintar, untuk urusan lawan jenis, Nesa kurang percaya diri.

“Tanya aja Vanesa sendiri….eh iya! Nomor ponsel kamu masih tetap kan? Yang ada di group itu?”

“Iya masih tetap. Sekarang uda ada aku yang jagain Nesa. Kamu balik aja ke ruang IGD.” Sedikit nya Dimas mengusir Elang. Dia merasa ada sesuatu yang nggak beres.

Akhirnya mau tak mau Elang meninggalkan Dimas yang masih berdiri di depan kamar.

Esok paginya, Dimas tak bisa menahan lagi rasa penasarannya.

“Uda lama kenal Elang?” Tanya Dimas usai meneguk air putih.

“Nggak! Ya baru di sini. Katanya, dia yang terima Nesa…..”

“Kenapa kamu pengen kenal dia? Baby….kamu masih ada Al….”

“Eh?! Sapa juga yang pengen kenal dia? Makanya Nesa pengen cepet pulang…Nesa takut….” Nesa sedikit jengkel karena Elang memutar balikkan fakta.

“Ya udah! Kamu mau pulang sekarang? Atau setelah sarapan?”

“Kalo bisa sekarang aja….”

“Aku telpon Vasco dulu. Biar orang rumah siapin menu kamu.”

“Jangan Mas…..”

“Baby….cepat atau lambat, kakakmu bakal tau. Tenang aja….nggak ada apa-apa….”

Nesa mengangguk.

Setelah menyelesaikan administrasi yang cukup rumit karena pulang paksa, akhirnya Nesa bisa keluar dari rumah sakit. Tanpa sepengetahuan Elang.

Vasco telah menerima kabar tentang adiknya, selama ini dia tak mendengar kabar dari Nesa, karena dia beranggapan pernikahan adiknya baik-baik saja.
Kemudian dia menghubungi pak Im.

“Pak Im, saya minta tolong….. jangan perbolehkan Alvaro masuk ke rumah ini. Jangan terima barang atau makanan atau bunga dari dia. Apapun dari dia, jangan diterima!” Pesan Vasco kepada Pak Imron yang sering berjaga di teras.

Tanpa tau masalahnya, pak Im merasa Al telah menyakiti Nesa, hingga kakaknya turun tangan.

“Iya mas…..” Jawab pak Im patuh.

Vasco pun minta tolong ART untuk menyiapkan kamar Nesa dan menu Nesa yang pencernaannya sedang bermasalah.

Setelah Nesa dan Dimas tiba, Vasco menyambut adiknya dengan hangat.

Walaupun kecewa karena Nesa tak mau berbagi masalahnya, tapi tetap saja Vasco tidak bisa mengungkapkan.

Setelah sarapan, Nesa masuk ke kamarnya.

Dimas menceritakan masalah Nesa ke kakaknya.

Tidak kaget jika Nesa cenderung lebih dekat dengan Dimas, karena hanya Dimas yang seolah mengerti perasaan Nesa.
Tak lupa, Dimas juga bercerita tentang Elang.

“Elang ini orangnya gimana? Kok sampe kak Dimas buru-buru ngeluarin Nesa.” Tanya Vasco.

“Dulu sekampus. Dia kedokteran, aku ekonomi. Aku nggak begitu dekat, cuma sering denger kalo dia di bicarakan cewek-cewek.”

“Kalo gitu, Nesa jangan boleh keluar dulu. Kalo mau keluar, biar sama aku, atau Valdi atau kak Dimas.” Vasco memberikan pendapat.

“Ntar kalo kalian kerja, aku aja yang jagain baby….”

Mereka pun sepakat menjaga Nesa dari Alvaro atau Elang.

Alvaro mengira istrinya masih di rumah sakit. Ketika dia mendatangi rumah sakit, dengan harapan melihat wajah istrinya, tapi ternyata wanitanya sudah tidak ada.

Dia menghubungi Dimas, tapi tak ada respon. Al langsung meluncur ke rutan Nesa.
Pak Imron yang melihat mobil Alvaro, langsung mendatangi.

“Maaf mas, mas Vasco pesan, mas Al nggak boleh masuk ke rumah ini.” Ucap pak Im ketika Al baru saja keluar dari mobil.

“Tapi Nesa di dalam kan Pak?”

“Iya, mbak Nesa tadi pagi baru pulang. Diantar mas Dimas.”

“Nesa masih istri saya, Pak. Baik Valdi atau Vasco tidak berhak melarang saya ketemu Nesa.”

“Saya tau mas….tapi kalo mas Al ngeyel masuk ke rumah, nanti saya yang kena ……”

Al mendengus kesal. Hanya beberapa langkah, seharusnya dia bisa bicara dengan Nesa atau keluarganya. Tapi karena Vasco sudah melarangnya, mau tak mau dia meninggalkan rumah Nesa.

Nesa merasa kakaknya melindungi dirinya dari Al. Dia pun menurut saat Valdi melarangnya ke salon.

Rabu, acara Anniversary Eyang Bunda dan Eyang Papa.

Dimas menjemput Nesa di rumah, kakaknya usai dari kerja, langsung ke tempat acara.
Acara di gelar di rumah makan lesehan. 1 gubuk untuk generasi lanjut, dan 1 gubuk untuk generasi muda.

“Cucu eyang yang paling cantik….apapun masalahmu, kamu harus kuat seperti Ibu mu ya?” Eyang bunda memberikan semangat untuk cucu putri satu-satunya.

Begitu juga dengan Om dan Tante nya. Akhirnya mereka pun tau permasalahan Nesa. Dan Nesa memakluminya, cepat atau lambat, semuanya juga bakal tau.

Nesa sudah duduk di apit Dimas dan Vasco.

Wanita itu mencium aroma yang biasa dipakai suaminya. Nesa menoleh asal aromanya, dia melihat Al sedang celingukan.
Nesa memalingkan wajahnya.

Alvaro berjalan ke arah gubuk Eyang Bunda dulu. Dia mencium punggung tangannya.

“Tumben datang?!” Ucap Bunda sinis.

“Iya Eyang….” Hanya itu jawaban Al. Pria itu menyalami semua Om dan Tante Nesa yang bersikap dingin.

Al memaklumi, dia memang salah.
Dan dia juga telah siap jika akan mendapatkan perlakuan seperti ini.

Kini dia beralih ke gubuk yang lain,dimana ada istrinya. Dia melihat Nesa yang menunduk atau melihat ke arah yang lain.

Al menyalami sepupu Nesa.

“Calon mantan suami kak Nesa ya?” Celetuk salah satu sepupu Nesa.

Alvaro tidak memberikan jawaban, hanya tersenyum tipis. Dia menghela nafas.

Setelah menyalami Vasco yang ada di sebelah Nesa,” Duduk Al!” Pinta Dimas.

Al pun menurut dan duduk di seberang Vasco. Vasco melihat Al sekilas lalu memalingkan wajahnya.

Suasana tampak seperti biasanya, mereka bercanda dan tertawa.

Tapi mereka semua mengabaikan kehadiran Al.

Tidak ada yang mengajak Al berbincang atau pun basa-basi.

Sedangkan Nesa hanya tertunduk memainkan jemarinya.

“Kamu mau main games? Pake HP ku….” Tanya Dimas seolah tau kekosongan Nesa.

Dimas memberikan ponselnya.

Tanpa kata Nesa memainkan ponsel Dimas.

Nila datang bersama Rama.

“Kok duduk situ?! Nila sama Rama mau duduk dekat Nesa?” Tanya Valdi.

“Nggak ah! Ntar kalo Nesa jadi jendes, Rama bisa belok arah…..”

Hati Al menciut ketika Nila berucap Nesa jadi jendes.

“Ya kita tolak lah!” Balas Vasco.

Dan tak berselang lama, makanan telah dihilangkan di meja. Secara bergantian mereka mengambil makanan sambil bercanda.

“Dari berangkat uda dibilang, rambutnya di ikat aja…coba sekarang liat! Ganggu makan to? Mana ikat rambutnya?!” Ucap Dimas saat melihat rambut Nesa yang menggangu aktivitas makannya, terlihat risih.

“Di tas….ambil aja! Tangan ku kotor….” Nesa bersuara pertama kalinya.

Dimas mengambil ikat rambut, dan menguncir rambut Nesa secara asal. Al hanya mampu melihat dari seberang.
Walaupun terlihat berantakan, beberapa helai tidak ikut terikat, bagi Al, istrinya selalu cantik.

Ponsel Dimas berdering, tapi pria itu mengabaikan.

Lagi-lagi ponselnya berdering.

“Angkat donk kak! Kali aja urgent!” Celetuk Juna yang duduk di samping Dimas.

Dengan berat Dimas menerima VC, dari Elang.

“Assalamualaikum…. Alhamdulillah akhirnya di terima juga….” Elang membuka percakapan.

“Ngapain telpon?”

“Kamu dimana ini?”

“Kenapa sich tanya-tanya?!”

“Bro….aku mau liat wajah calon istriku Vanesa….”

(Hati Al mencelos saat mendengar nama istrinya sebagai calon istri dari pria lain).

“Nggak usah macam-macam!”

Elang mendengar suara Vanesa yang meminta kerupuk ke Arjuna.

“Eh! Itu suara dia kan?! Tolong lah Dimas….pengen liat wajahnya aja…. please….”

Nesa meraih ponsel Dimas dengan tangan kirinya

“Heh Dok! Anda melanggar kode etik!”

“Melanggar apa sayang?” Elang merespon santai dengan nada yang ceria.

“Anda bilang saya hamil, ternyata saya cuma asam lambung…..Anda menyampaikan diagnosa yang salah kepada pasien”

Elang tertawa renyah, Nesa bisa melihat ketampanannya.

“Akhirnya kamu tau juga. Jangan ada benih yang lain ya ….cukup benihku aja yang tumbuh di rahim mu”

(Al mengangkat alisnya mendengar ucapan Elang yang menggoda istrinya)

“Dokter gila!”

“Kalo di luar rumah sakit, jangan panggil dokter… panggil Elang aja, atau mas Elang….. lebih seneng lagi kalo di panggil papa. Kan aku bakal jadi papa dari anak kita.” Ucap Elang disusul tawa kecilnya.

“Nich Mas….temanmu gila….” Nesa mengembalikan ponsel.

“Sudah ya El….jangan ganggu dia dulu….” Dimas bersuara.

“Bro…aku tau, dia ada masalah dengan suaminya. Bilang ke Vanesa, dia pengen proses perceraiannya berapa lama? Kebetulan aku punya kenalan calo. Makin cepat makin baik, abis masa Iddah, aku datang ke rumahnya….”

‘woy! Suaminya disini!’ batin Al.

“Kamu ngomong aneh-aneh, aku nggak mau terima telepon dari kamu lagi…..”

“Iya-iya! ya udah aku belajar mendayung dulu…..”

“Mendayung?” Tanya Dimas heran, karena sepengetahuannya Elang jauh dari olahraga.

“Maksudnya belajar mendayung bahtera rumah tangga dengan Vanes_”

Tut.

Dimas memutuskan panggilan tanpa menunggu Elang menyelesaikan kalimatnya.

Sungguh pendekatan yang bertolak belakang.

Al mendekati Nesa dengan mempermainkan kekuasaannya dan membuatnya terlihat lemah.

Sedangkan Elang mendekati dengan perhatian dan ocehan gombalnya.

Walaupun Nesa tau itu hanya rayuan kosong dan terkesan alay, tapi hal itu sempat membuat Nesa terhibur dan tersenyum saat mengingatnya.

‘ngapain dia senyum-senyum gitu?! Di kasih rayuan gombal aja seneng….mana bisa hidup?!’ batin Al yang jengkel setelah beberapa saat lalu mendengar seorang pria merayu istrinya.

Bersambung

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Tamat