Complicated S2 Part 19

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Tamat

Cerita Sex Dewasa Complicated S2 Part 19 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Complicated S2 Part 18

Sabtu, Gran Opening salon.

“Al kemana Nes?” Tanya Isti.

“Katanya nanti datang kok Bu….” Ucap Nesa dengan hati yang was-was. Dia meragukan ucapan Al.

Rena dan Dani pun juga menanyakan keberadaan Al, Nesa menjawab dengan kalimat yang sama.

‘nanti datang….nanti datang…mau datang jam berapa? Ini acara uda setengah jalan…’ batin Nesa yang tetap tersenyum ke tamu-tamunya.

Kesedihan Nesa tertutupi dengan kehadiran para tantenya yang membawa teman sosialitanya. Nesa dengan antusias memperkenalkan dan mempromosikan salonnya.

“Gimana Baby?” Tanya Aline.

” 1 bulan full mami…. terimakasih….” Nesa mencium pipi Aline.

“Biasa…. walaupun kelihatannya sosialita, tapi kalo coba-coba produk baru, mereka masih agak perhitungan, takut kecewa….tapi kalo uda cocok….semua harga di tebas Beb…”

“Iya mami….makanya kita buat promo untuk 2 bulan. Harga perkenalan.”

“Anak mami hebat banget sich….jago banget marketing nya….” Aline mengusap pipi Nesa dengan sayang.

“Dimas kemana mam?”

“Di depan! Liat TV, katanya ada final sepak bola…..”

Nesa langsung sadar, Al tidak akan datang. Pria itu pasti sibuk dengan cafe yang selalu mengadakan nobar.
Hingga acara kelar, Al juga tak menelepon.

***

Selesai acara Grand Opening salonnya, Nesa ikut pulang ke rumah orangtuanya.

Disinilah Nesa berada, tempat yang menurutnya paling menenangkan hati, di pelukan ayahnya. Sambil kepalanya bersandar di dada Aji dan mendengarkan detak jantungnya.

“Kamu pulang jam berapa? Biar di anterin kakakmu…..” Aji berucap dan mencium puncak kepala anaknya.

“Boleh nggak Nesa bobok sini? Nesa capek, pengen di pijitin Bude Tina….”

Bude Tina adalah orang yang menjaga Nesa sejak kecil.

“Boleh…tapi kamu bilang ke Al….” Sahut ibunya.

Entah kenapa saat orang tuanya menyebut nama pria itu, rasanya Nesa ingin mengungkapkan semua keluhannya.
Kenapa dia selalu tidak ada di saat aku membutuhkannya.

“Love, ada kabar baik….” Aji kembali bersuara.

“Kabar baik apa? Aku di transfer lagi?”

Aji tertawa kecil.

“Kalo goal …pasti aku transfer lah….”

“Proyek apalagi mas?” Tanya Isti antusias.

“Tadi waktu di salon Nesa, pak Dani nawarin kerjasama bangun hotel kecil gitu….kan kita ada tanah di Batu. Ntar kita mau bicarakan lagi.”

“Akhirnya cita-cita mu kesampaian mas…punya hotel, walaupun kelas ecek-ecek…” Ucap Isti sambil tersenyum.

Nesa sedikit mendongak, dia bisa melihat raut bahagia ayahnya saat bercerita tentang pembicaraan dengan mertuanya.

‘Bagaimana aku bisa mengadu tentang kondisi rumah tanggaku jika ayah dan daddy menjalin ikatan bisnis. Walaupun sering mendengar jangan campur adukkan antara bisnis dan keluarga, tapi tetap saja akan berpengaruh.’ batin Nesa.

“Yah ….Nesa ke kamar ya…Bude Tina keburu ngantuk….” Pamit Nesa dengan menguraikan pelukannya.

Aji dan Isti mengangguk.

‘mungkin dengan tidur, hati agak adem….’ batin Nesa lagi.

Hanya merasakan beberapa menit pijatan Bude Tina, Nesa pun langsung terlelap. Mungkin karena lelah setelah beberapa bulan mengurusi salon barunya. Dia hanya punya waktu sehari untuk istirahat. Karena hari Senin dia harus beraktivitas di salon barunya.

Pagi hari saat Nesa membuka mata, dia melihat wajah suaminya. Al merebahkan kepalanya di dada si istri, dan meletakkan tangannya di perut Nesa.
Wanita itu sebenarnya sudah menyusun rencana untuk mengoceh atau aksi ngambek ke suaminya.

Tapi hatinya luluh ketika melihat wajah Al yang sedang tertidur, tampak nyaman.

Nesa bisa merasakan hembusan nafas Al yang tenang. Hanya momen ini yang Nesa suka, menatap wajah suaminya dengan puas. Mengagumi bulu mata Alvaro yang selalu membuatnya iri. Dan Nesa tak ingin merusak suasana indah ini.

Kadang dia kesal dengan dirinya sendiri yang selalu lemah.

‘Yang penting kamu pulang ke pelukan ku….’ selalu itu yang tertanam di hati Nesa.

Bucin?! Entahlah! Nesa tak peduli, yang penting baginya saat ini adalah mereka baik-baik saja.
Perlahan Nesa mencoba menyingkirkan lengan kokoh suaminya.

“Kamu libur kan? Disini aja….” Al mengeluarkan suara serak baritonnya yang terdengar sexi dan mengeratkan lengan diperut istrinya.

“Kita dirumah ibu Al…..” Nesa mengingatkan dengan memasrahkan tubuhnya dipeluk lagi.

“Tumben uda melek? Biasanya jam 1 baru bangun!” Tanya Nesa.

“Soalnya bukan di rumah sendiri…beda suasana…” Jawab Al sambil mencium sebelah benda kenyal istrinya.

Nesa memaksa menyingkirkan lengan suaminya. Wanita itu tidak mau orang tuanya menganggap mereka sedang bermesraan dikamar, padahal memang iya…..

“Al! Kamu apakan dadaku?” Nesa menekan suaranya saat melihat dadanya berwarna merah dan ada yang ungu.

Dia menarik hidung suaminya yang pura-pura tertidur, kemudian pria itu tersenyum dengan mata yang masih tertutup.

“Kamu kemanain dasterku?!” Nesa bersuara lagi ketika dia menyadari tubuhnya hanya tertutupi selimut.

Dia melihat bagian bawah, miliknya masih terbungkus celana dalam. Al tak menjawab, hanya mengikik.

Nesa menyibak selimut yang menutupi tubuhnya, dia hendak turun dari ranjang. Tapi Al menahannya, hingga istrinya kembali terduduk di tepi ranjang.

Al menggeser tubuhnya dan duduk di belakang Nesa sambil memeluk tubuh si istri, mencium samping kepala dan pipinya beberapa kali. Kulit punggung Nesa bisa merasakan langsung kulit dada suaminya.

Wanita itu tak sanggup berontak, dia merindukan momen bermesraan di saat mereka sama-sama sadar, menikmati setiap sentuhan dan cumbuannya, seperti sekarang ini.

Al menarik tubuh istrinya supaya lebih merapat ke dadanya. Tanpa suara, sambil merengkuh badan Nesa, Al memberikan kecupan lembut dan hangat di tempat favoritnya, ceruk leher si istri.

Kepala Nesa menggeliat, membuat Alvaro semakin menghimpit tubuh Nesa dan menyembunyikan wajahnya di leher istrinya. Nesa mengusap leher suaminya, meremas lembut rambut Alvaro.

Tangan Alvaro yang awalnya mengusap perut istrinya, kini mulai meremas payudara Nesa. Membuat empunya menahan nafas dan sedikit melenguh.

“Nes! Sarapannya uda siap! Kita makan 15 menit lagi!” Ibunya berteriak dari balik pintu.

Nesa menarik nafas dalam-dalam, kembali dia merasa kesal karena ibunya menganggu quality time dengan suaminya.

“Pino, kamu minum jamu dulu ya….Nanti malam dilanjutkan lagi ..” Ucap Nesa seakan memberikan kode keras jika dia akan melayani suaminya tanpa batas. Nesa memaksa keluar dari lilitan lengan suaminya dengan kecewa.

“Pengennya sekarang Q….” Al menawar.

“Nanti malam Al…” Ucap Nesa sambil menutup pintu kamar mandi.

Mereka keluar kamar bersamaan, keluarga Nesa sudah lengkap duduk rapi menunggu mereka.

Sarapan dan bercengkrama ringan, itulah yang mereka lakukan sekarang.

“Kamu pulang jam berapa Al?” Tanya Isti.

“Nggak tau Bu…nggak liat jam, masuk kamar langsung tidur.” Jawab suami Nesa.

“Jangan malam-malam …” Kini Aji bersuara.

“Dia nggak pulang malam Yah .. pulang pagi!” Celetuk Nesa seolah memberi isyarat

‘anakmu kalo malam sendirian yah!’.

“Ya jangan gitu Al…. kasian badannya. Kamu harus jaga kesehatan….” Pesan Aji.

Nesa membatin sebal saat ayahnya memberi petuah yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan dirinya, malah menantunya.

“Kalian ini hebat lho! Suami istri punya bisnis yang beda…. dan sama-sama sukses. Bisa jadi panutan….” Kak Vasco ikut menyumbangkan suaranya.

Wanita itu pura-pura tak peduli. Nesa menundukkan kepala dan menikmati sarapannya. Dia makin jengkel saat keluarganya memuji Alvaro.

“Biasa aja Kak Vas…dibilang sukses kalo kita cuma duduk, duit datang sendiri….” Al menyahuti.

“Untung lho Nes kamu punya suami Al….Dia nggak menuntut kamu mengurusi rumah tangga…” Valdi ikut bersuara.

‘Aku di rumah juga percuma…Kakak nggak tau sich gimana komunikasi kita, kadang seharian kita nggak ngomong.’

“Hebat ya kamu Al….ada warung, kantin, cafe…apa nggak susah ngaturnya?” Kali ini Isti memuji menantunya.

“Ya di gilir Bu….”

‘di gilir …di gilir….terus giliran ku kapan?!’ Nesa kembali membatin.

Mungkin keluarga Aji seperti keluarga pada umumnya, mempunyai menantu yang sukses secara finansial adalah hal yang membanggakan.
Dan dia juga melihat anaknya yang berhasil mengelolah salonnya hingga membuka cabang baru.

Mereka yang rencananya akan pulang setelah sarapan, akhirnya tertunda. Karena ada Nara dan Angga beserta 3 anaknya.

“Kalo Tante bisa ngajak customer, di kasih apa Nes?” Tanya Nara sambil melihat brosur salon milik ponakannya.

“Mau ngajak sapa By? Penjaga anak di daycare mu?” Tanya Angga dengan menyelipkan rambut Nara ke telinganya.

Nesa yang melihatnya seolah iri melihat kemesraan Angga dan Byanara.

Mereka sudah berapa lama nikah? Apakah mereka tidak ada konflik atau pertikaian?

Lalu Nesa menyapu pandangan, mencari sosok suaminya. Terlihat Al sedang menelepon diluar dengan wajah yang tampak serius.

“Yeeee… mas meragukan seorang Byanara?! Itu anak-anak yang di daycare punya emak….salon Nesa mau aku promosikan ke emak-emak itu….”

“Tenang Tan….pasti ada reward buat member get member….” Nesa menjawab pertanyaan Nara.

Akhirnya mereka bisa kembali pulang setelah makan siang. Tiba dirumah, Al langsung ganti baju dan hendak keluar lagi.

“Mau kemana Al? Biasanya kamu berangkat jam 2 an” Tanya Nesa yang baru saja ganti daster, waktu menunjukkan pukul 13.15.

Dia berharap 30 menit waktu yang cukup untuk mereka berduaan.

“Mau ke cafe Femina….”

“O….mau ketemu Maura lagi?” Tanya Nesa dengan bersedekap tangan bersandar di ambang pintu.

“Maksud kamu apa?”

“Bukannya beberapa hari kemarin Maura ke Femina?”

Al menoleh. “Iya….bener…” Jawab Al santai tak menampik.

“Sekarang mau meet up lagi? kan aku uda bil_”

“Nggak ada apa-apa Q….aku sama dia nggak ada apa-apa….” Al menghampiri lalu memegang kedua pundak istrinya, menatapnya dan berusaha meyakinkan.

“Tapi kenapa di foto itu kalian bersebelahan?” Nesa bertanya lagi.

Dia melihat Al serta beberapa wanita termasuk Maura di group WA sekolah suaminya.

“Nggak sengaja … itu kebetulan….”

“Kamu tau kan Al, aku nggak suka kamu berhubungan dengan mantan-mantanmu …..”

Al menarik nafas dalam-dalam.

“Jadi kamu maunya gimana? Kalo ada mereka, aku harus menghindari?”

Nesa mengangguk.

“Itu sangat kekanak-kanakan Q….” Lanjut Al.

“Tapi aku nggak suka….” Nesa berucap dengan cemberut.

“Nggak ada wanita lain….cuma kamu… Percaya suami mu kan?” Al mencium kening Nesa.

“Uda ya …aku janjian sama waiters baru di Femina…..” Al kini mencium singkat bibir Nesa lalu meninggalkan istrinya.

Dan Nesa kembali sendiri di selimuti sepi. Wanita itupun tak mengharapkan malam panjang yang mereka bicarakan saat dirumah ayahnya.
Dan memang benar, Al kembali pulang menjelang pagi.

***

“Al….hari Sabtu ini ulang tahun Nila, sekalian acara tunangan sama Rama. Bisa datang kan Al?” Tanya Nesa sebelum dia berangkat ke salon.
Al yang baru saja membuka matanya hanya mengangguk.

“Beneran lho Al!” Nesa kembali meyakinkan suaminya dan mencium keningnya.

“Iya Q! Janji! Sabtu ke acara Nila, ulang tahun dan tunangan….” Al mengulang ucapan istrinya.

“Good…aku berangkat ya….” Nesa berpamitan.

Biasanya Nesa berangkat pukul 8 atau 9. Tapi karena ada yang harus disampaikan ke suami secara langsung, tentang acara Nila tadi, maka ia harus menunggu Al bangun lalu berangkat ke salon.

Nesa mempersiapkan baju yang akan dia gunakan di acara Nila, tak hanya dirinya, wanita itu juga mempersiapkan kemeja Alvaro yang warnanya hampir mirip dengan bajunya. Kata Nesa supaya terlihat matching.

Sehari sebelum acara, hari Jumat, Nesa datang telat ke salon. Demi mengingatkan Al lagi secara langsung.

Dan hari ini, Sabtu, Nesa memutuskan untuk tidak datang ke salon. Padahal hari Sabtu salon Nesa selalu rame.

“Al….jangan lupa! Acara nya jam 7!” Tak bosan Nesa mengingatkan Al yang hendak ke warung.

“Iya sayangku….aku ingat kok! Jam 6 aku sudah sampe rumah.” Ucap Al.

Pukul 18.00 lewat beberapa menit. Nesa sudah siap dengan dandanannya, dia duduk di sofa menunggu suaminya.

“Okay…. sabar… mungkin dia lagi di jalan….” Nesa berbicara dengan dirinya sendiri.

Beberapa kali dia melihat ponsel, waktu terus berjalan. Rasanya dia ingin sekali dia menelepon Alvaro.

“Kalo aku telpon, pas dia nyetir….kan bahaya….” Nesa tetap bicara sendiri.

Membuang jenuh, dia menyalakan televisi, menikmati film yang ditayangkan oleh salah satu stasiun TV kabel.
Hingga film yang berdurasi hampir 2 jam kelar, Al tak kunjung datang.

Nesa memandangi nama suaminya yang tertera di layar ponselnya.

‘telpon….nggak….telpon….nggak…nggak usah aja dech! beberapa hari ini uda aku ingetin. Tadi sebelum berangkat, juga uda aku ingetin lagi’ batin Nesa yang optimis bahwa suaminya akan datang. Dia pun menyaksikan film selanjutnya.

Malam makin larut, dan Nesa tertidur di sofa.

Al memasuki rumah sekitar pukul 02.00 menjelang pagi.

“Astaga! Aku lupa acara Nila!” Ucapnya lirih ketika melihat istrinya yang masih berpakaian lengkap dan make up nya terlelap di sofa.

Perlahan Al mengangkat Nesa ke ranjang. Tak lama pria itu juga menyusul ke alam mimpi.

Nesa membuka matanya, dan dia melihat baju yang dikenakan masih baju yang sama. Baju yang dia pakai saat akan menghadiri ulang tahun Nila.

Dia menoleh dan mendapati suaminya tertidur pulas.

Dia bangkit dari baringnya, dan ke kamar mandi.

Keluar kamar mandi, dia menuju lemari. Nesa berjinjit mengambil travel bag yang ada di atas lemari.

Beberapa baju dia masukkan ke dalam kotak itu. Tak lupa dia juga mengemasi barang perawatan wajah dan rambutnya.

“Kamu mau kemana Q?” Suara parau suaminya.

Dia terbangun karena suara berisik Nesa yang sengaja memasukkan barangnya dengan sedikit membanting kasar.
Pria itu terkejut, baru bangun tidur, dia mendapatkan istrinya berkemas.

Nesa hanya diam, dan terus berkemas.

Al mengerjapkan matanya berkali-kali, lalu duduk melihat istrinya yang berkemas.

“Q…..kamu mau kemana?” ulang Al.

Mulut Nesa tetap terkunci, seolah tak mendengar suara suaminya.

Al menghela napas, mau tak mau dia bangkit dari ranjang.

“Ada apa ini Q?” pria itu melihat punggung istrinya. Nesa tetap terdiam.

“Tolong jangan diam Q! Aku nggak mau teriak! ” nada Al mulai meninggi

Nesa menghela napas sejenak.

“Aku mau istirahat….” Ucap Nesa tanpa melihat suaminya, dia terus menata bajunya.

“Istirahat gimana?! Kamu ngapain bawa baju-baju itu?” Alvaro kini duduk ditepi ranjang,

“Sudah ya Al….aku lagi males bahasnya….” Nesa masih sakit hati.

“Apa karena kita nggak jadi datang ke acara Nila? Itu kan acara ulang tahun biasa….tahun depan pasti juga dirayakan…”

Nesa sedikit geram dengan ucapan Alvaro, betapa mudahnya dia menyepelekan janji yang dia ucapkan sendiri.

“Aku tidak mempermasalahkan acara ulang tahunnya….tapi kamu sudah janji Al!

Kalo kamu nggak bisa nganter…..ngomong! Aku berangkat sendiri! Toh kemana-mana aku sering jalan sendiri….”

“Jadi kamu mau gimana?”

“Aku mau ke rumah ayah….aku mau istirahat di sana….”

“Cuma gara-gara itu….kamu ngambek dan pergi dari sini? Jangan kekanakan Q….”

“Al ….aku males bahas! Aku lagi nggak mood!” Ucap Nesa dengan nada kesal.

“Kalo kita ada masalah, selesaikan sekarang ! Jangan berlarut-larut!”Al bersuara dengan tegas.

Nesa menarik nafas dalam-dalam, mencoba menghilangkan sesak di dada dan meredam emosinya. Dia berbalik, dan kini mereka saling berhadapan.

“Al….sadar nggak sich kalo kita jarang komunikasi? Kamu bangun langsung makan siang, lalu berangkat lagi….pulang saat aku tidur…. Aku nggak tahu, aku harus gimana supaya kita bisa bicara?”

“Jadi ini semua karena kamu marah nggak bisa hadir di ulang tahun Nila? Tapi kamu mengkambing hitamkan masalah komunikasi kita?”

Rasa kesal Nesa makin menumpuk.

“Kamu beberapa kali nggak datang di acara keluarga …aku nggak marah!

Kamu nggak datang pembukaan salon baru, aku nggak marah!

Aku cuma minta 1 malam ini aja, aku minta kamu temani aku ke ulang tahun Nila yang kebetulan acara pertunangan….aku cuma minta 1 malam….1 malam…dan kamu sudah berjanji.

Tapi kamu mengabaikan janjimu ..”

“Aku lupa Q ! Harus nya kamu kirim WA atau telpon. Ngapain kamu nggak nelpon?!” Alvaro tak mau kalah.

Dia sendiri juga lelah dengan warungnya dan saat bangun mendapatkan suasana yang tak nyaman.

Nesa mengambil ponselnya yang ada di meja rias.

“Kamu bilang apa?! WA?! Apa kamu pernah baca pesan aku?! Apa kamu pernah balas pesan aku?! Kamu membacanya saat kamu uda di rumah Al!” Nesa menatap Al dengan emosi.

“Ya telpon donk!”

“Telpon?! Aku pernah menelpon kamu, dan saat itu kamu hendak tuang air panas….kamu bilang akan telpon aku, tapi sampe kamu pulang nggak ada telpon….dan banyak alasan lainnya! Tapi saat wanita itu telpon, kamu dengan sigap menerimanya. PERSETAN SAMA TELPON!” teriak Nesa mengungkapkan kekesalannya.

‘PRANK!’

Nesa melemparkan ponselnya ke dinding, ponsel dengan brand buah apel yang tak utuh itu pecah menjadi beberapa bagian.

“Q! APA YANG KAMU LAKUKAN?! ITU HP MAHAL!” Alvaro ikut berteriak.

Nesa sedikit tersenyum sinis.

“Percuma hp bagus tapi kamu nggak pernah balas pesanku….kamu nggak menghubungi aku…. lebih baik kamu belikan aku ponsel yang harga 3 jutaan, yang penting kita masih bisa komunikasi….” Ucap Nesa dengan lirih, dia merasa lelah. Nesa berbalik dan menutup travel bagnya.

Al terdiam mendengar curahan hati istrinya.

“Aku capek Al….. beberapa bulan terakhir ini kita memang berbeda….lebih baik kita dinginkan dulu …. lebih baik kita saling introspeksi…” Ucap Nesa.
Dia berjalan keluar kamar.

Langkah wanita itu berhenti, lalu menoleh.

“Oh iya….kalo kamu menemukan kotak ungu di laci bawah nakas….itu sex Toys ku….karena beberapa bulan terakhir aku tidak mendapatkan yang aku mau….kamu hanya memuaskan diri kamu sendiri….” Nesa melanjutkan langkahnya.

Alvaro terkejut dan tak menyangka dengan pengakuan istrinya.

“KAMU BERANI KELUAR DARI RUMAH INI, AKU NGGAK AKAN JEMPUT KAMU DIRUMAH ORANG TUAMU!” Al menyerukan suaranya sebagai pemimpin keluarga.

Di ambang pintu, ia berhenti lagi, menoleh ke arah suaminya.

Jantungnya berdetak kencang karena amarah dan kecewa yang tidak bisa dia luapkan.

Tanpa kata, dia hanya menatap suaminya.

Al pun tak tahu arti tatapan itu.

Nesa kembali membalikkan tubuhnya dan melanjutkan langkahnya, keluar dari rumah.

“VANESA!” Al kembali berteriak, Nesa masih bisa mendengar, tapi dia mengabaikan.

Wanita itu menaiki taxi yang telah dipesannya dan meninggalkan Alvaro sendiri.

“Aku nggak bakal jemput kamu….” Ucap Al lirih yang masih berdiri melihat taxi Nesa menjauh.

***

Teriakan Al masih terngiang di telinga Nesa.

Beberapa kali Nesa mendapat bentakan dan teriakan oleh nasabah, dia tak pernah sakit hati.

Tapi entah mengapa sekali teriakan dari suaminya membuatnya menciut, sakit hati, kepala berdenyut menahan amarah.

Dari kaca spion, si Driver taxi melihat Nesa menyeka air matanya yang turun deras dipipinya.

Beberapa kilometer sebelum memasuki gapura perumahan orang tuanya, Nesa baru teringat bahwa ayah dan ibunya sedang keluar negeri, reward dari perusahaan Aji.

Dia belum siap jika ditanya oleh kakaknya. Bisa-bisa 2 pemuda itu menghabisi Al tanpa ampun.

Apalagi sekarang hari Minggu, duo jomblo nggak bisa dipastikan keberadaannya.

Kalo Vasco antara bengkel, rumah dan toko onderdil.

Sedangkan Valdi, bisa dirumah, tempat bimbel untuk bersih-bersih, kolam renang atau gym.

“Pak, minta tolong putar balik aja ya…. Kita ke bandara. Mampir ke tour and travel dulu.” Pinta Nesa.

Beberapa jam berikutnya, disinilah Nesa berada, Banjarmasin.

“Nesa boleh nginep di sini kan ma?” Tanya Nesa kepada istri Johan yang bernama Deca.

“Boleh donk Nes…ini kan rumah kalian juga…” Balas wanita itu.

“Papa pulang jam berapa?” Nesa ikut memanggil Papa kepada Johan.

“Papa lagi mancing sama temannya, mungkin sore. Kamu uda makan siang?”

“Sudah ma…tadi di bandara..” Nesa berkata bohong, padahal melihat makanan pun rasanya dia malas.

“Rossi sama Jasmine kemana ma?” Lanjut Nesa.

“Rossi Jasmine jalan-jalan…kamu istirahat dulu aja Nes, uda disiapkan kok….”

“Maaf ya ma…Nesa ngerepotin….”

“Nggak boleh ngomong kayak gitu! Kamu anak mama papa juga! Rossi Jasmine kalo abis dari Surabaya mesti seneng banget…pasti dimanja sama kalian….”

Nesa berusaha tersenyum lalu pamit ke kamar.

Deca menghubungi Johan dan anaknya tentang kedatangan Nesa. Tak lupa dia juga menceritakan kondisi Nesa yang bermata sembab.

“Nggak usah kepo! Nesa butuh tempat untuk sendiri.” Pesannya.

Keluarga Johan dan Aji memang sangat akrab. Johan dan istrinya tidak perlu kuatir jika Rossi dan Jasmine ke Surabaya. Karena ada Aji yang menjaminnya.

Menjelang Maghrib, Nesa baru keluar kamar. Dia melihat keluarga papa sudah lengkap.

“Sini mbak! Aku tadi beli martabak manis.” Ucap Rossi sambil mengunyah.

Nesa menghampiri dan bergabung menikmati martabak bersama. Mereka bercengkrama ringan tentang perjalanan Nesa. Dia menjawab seadanya dan memaksa tersenyum.

“Nesa minta tolong jangan kasih tau orang Surabaya kalo Nesa di sini ya….Nesa masih pengen sendiri…” Ucap Nesa dan menyapu pandangan ke keluarga Johan.

“Tenang aja Nes….kita nggak akan bilang. Papa lebih aman kalo kamu kesini, daripada kamu pergi ke tempat tujuan yang nggak jelas….” Ucap Johan layaknya orang yang bisa dipercaya.

Saat makan malam,Nesa masih malas menyentuh makanannya.

“Sayang….makan dikit aja ya…” Ucap Johan ketika melihat Nesa hanya mengaduk-aduk porsi makanannya yang sangat sedikit.

Nesa mengangguk dan tersenyum tipis.

Ketika dikamar, dia tidak menangis lagi, dia hanya merenung.

Beberapa jam sendiri, akhirnya Nesa tertidur.

Bersambung

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Tamat