Complicated S2 Part 18

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Tamat

Cerita Sex Dewasa Complicated S2 Part 18 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Complicated S2 Part 17

Nesa terbangun dan mendapati suaminya yang tidur dengan nyenyak.

“Kamu itu nyebelin! Kemarin aku butuh kamu….tapi kamunya nggak ada…Janjinya telpon….tapi mana?” Nesa berbicara dengan lirih. Lalu dia bangkit dari tempat tidur.

Setelah menyiapkan segalanya dia meninggalkan rumah, menuju ke salon.

Sekitar pukul 13.00, Al terbangun, dia tak menemukan istrinya.

Dia meraih ponselnya.

“Ya halo” Nesa menerima panggilan suaminya dengan nada malas. Dia masih jengkel sama suaminya.

“Kamu sakit Q?” Tanya Al tanpa dosa.

“Nggak!” Jawab Nesa singkat, dia makin jengkel.

Dimas, Arjuna, Bima dan Candra datang, mengucapkan salam dengan lantang.

“Kamu dimana? Siapa itu?” Tanya Al saat mendengar suara sepupu istrinya.

“Di rumah Ibu, ada Dimas sama ABC….”

“Ngapain Dimas di situ?” Tanya Al hati-hati dan hangat.

“Ya main lah….”

“Ya Uda! Aku ke sana!” Al menutup pembicaraan tanpa menunggu balasan dari Nesa. Pria itu merasa tak nyaman jika ada Dimas di sekitar istrinya.

“Iiihhhh….nich orang!” Nesa geregetan.

Tak kurang dari 1 jam, Al sudah tiba di rumah mertua.
Saat memasuki ruangan, pria itu melihat Nesa, kakak serta sepupunya sedang bercanda.

‘kenapa sich dia dilahirkan di keluarga ini? Walaupun mereka kakak atau sepupunya, tetep aja mereka pria’ Al membatin dengan cemburu. Dia tak rela istrinya terlihat akrab dengan pria manapun.

“Nggak ke salon Q?” Tanya Al dan duduk di sofa sebelah Vasco. Karena istrinya sudah diapit Arjuna dan Valdi.

“Uda pulang!” Jawab Nesa singkat.

‘Dia ngambek?’ tanya Al dalam hati saat mendengar nada bicara istrinya.

“Q….boleh minta air putih?”

Nesa melirik ke arah suaminya lalu melengos. Dia berdiri dari sofa dan berjalan menuju ruang makan.

‘Dia ngambek beneran? Kenapa? Salah ku apa? Emang aku nggak boleh minum?’ Al membatin lagi saat melihat wajah sinis istrinya. Dia pun ikut berdiri dan membuntuti Nesa.

Sedangkan Nesa juga membatin.

‘Duh! Pengen marah karena semalam, pengen ngocehi dia…pengen ngeliat dia merasa bersalah…..tapi kalo aku cerita Dimas ke rumah, bisa tambah ruwet.’ Nesa menyadari sifat Al yang cemburuan.

“Kamu marah sama aku?” Al membuka pembicaraan.

“Marah kenapa?” Nesa balik bertanya.

“Ya.. kali aja…. soalnya kayak ngambek gitu….” Al menerka.

“Iya! Aku ngambek! Tadi pagi aku bangunin kamu…tapi kamu cuek aja…” Nesa berbohong, padahal tadi pagi dia tidak menyentuh suaminya sama sekali. Nesa memberikan segelas air putih.

“Kok aku nggak ngerasa ya?”

“Kamu kecapekan kali….aku cium beberapa kali tetep aja di cuekin, kan males …. emang kamu pulang jam berapa?” Ucap Nesa dengan cemberut.

Al tersenyum saat mendengar ungkapan hati istrinya.

“Jadi minta di cium?” Tanya Al dan menarik tangan istrinya untuk mendekatkan tubuhnya.

‘kalo kayak gini mana bisa marah?’ batin Nesa sambil menatap mata suaminya.

“Kamu mau cium aku nggak?” Tanya Nesa.

“Ya mau aja! Tapi jangan di sini! Ntar para jomblo ngiri….makanya kalo ngambek nggak usah lari ke rumah ayah…mau cium istri sendiri aja ribet….”

“Ya ke kamar Nesa donk….”

“Q….malah ketauan kalo kita ngapa-ngapain….”

“Emang kenapa kalo mereka tau? Kan uda sah….” Nada Nesa terdengar tak enak lagi.

“Ok! Ok! Kita ke kamar!” Ucap Al dan menggandeng tangan istrinya, menuju ke kamar.

Sepupu dan kakak Nesa melihat mereka saat memasuki kamar.

“Perang?” Tanya Arjuna sambil melihat Vasco.

“Bisa jadi. Atau baru akur?” Jawab Vasco.

“Kalo baru akur, berarti sekarang ‘perang’ di kasur…..” lanjut Vasco.

Sontak mereka pun tertawa.

***

“Yakin mau ninggalin Art Life?” tanya Nesa saat mereka berangkat ke kantor.

Al melihat istrinya dengan hangat, lalu tersenyum. Sebelah tangannya mengelus lembut rambut istrinya.

“Sebenarnya nggak rela….karena di sini kita memulai semua nya….” Alvaro berucap hangat.

Nesa membalas senyuman suaminya, meraih tangan yang mengusap kepalanya, kemudian menggenggamnya.

“Q….Walaupun aku uda nggak di sini lagi, semuanya sudah tersimpan rapi di hati…” lanjut Al sambil tetap mengemudi.

“Tadi pagi mommy telpon, Sabtu malam di suruh main ke rumah. Bisa kan?” tanya Nesa.

“Liat ntar ya…kalo nggak bisa, aku minta tolong om Ronald jemput kamu.”

“Nggak usah! Mending aku berangkat sendiri aja, langsung dari salon. Kita ketemuan aja di rumah mommy…..”

“Okay..tapi nggak janji ya….”

Nesa hanya terdiam, kemungkinan besar suaminya tidak akan datang di acara itu.

***

Sabtu, di rumah Rena.

“Sendiri Nes? Al mana?” tanya Rena saat melihat menantunya datang seorang diri.

“Hai Nes…..” Dani ikut menyapa.

“Iya Dad…” Nesa mencium punggung tangan Dani.

“Kayaknya nggak bisa datang mom…ada nobar di cafe barunya.” ucap Nesa sambil mencium punggung tangan ibu mertu nya.

“Cafe?! Buka baru lagi?” tanya Rena.

“Al join sama 2 orang temannya, Nesa lupa namanya…katanya hari ini rame, ada nobar sepak bola gitu…”

“Pasti pegawainya kewalahan kalo nobar gini….pantes aja Al nggak bisa datang…” Dani bersuara seolah membela anaknya.

“Harusnya dia ngomong, mommy bisa mundurin Minggu depan. Kasian Nesa datang kesini sendiri.”

“Ya nggak papa Ren…ini kan rumah Nesa juga… jangan sungkan ya Nes….”

“Maksudnya, Nesa nyetir sendiri…..kalo pulang malam kan bahaya mas….”

“Nginep sini aja Nes…kamu bilang suami mu….”

“Kalo uda di warung, dia pasti sibuk Dad! Nggak bakal mau angkat telpon….” Nesa mengadu ke ayah mertuanya.

“Hmmmm…masih belum berubah anak itu…” Rena juga mengeluh tentang anaknya.

“Maklum……Kalo kerja, emang nggak boleh di ganggu, harus fokus….. Apalagi yang berhubungan langsung dengan customer……” Lagi-lagi Dani membela anaknya.

“Kita siapin makan malam yuk Nes! Kalo ama pria jangan ngomong kerjaan, pasti ada aja alasannya.” Ucap Rena sambil mencebikkan bibir dan sengaja memperlihatkan ke suaminya. Dani hanya bisa menghela napas saat melihat ulah istrinya.

Dan malam itu Nesa memutuskan untuk menginap di rumah mertua. Dia mengirimkan pesan ke suaminya.

“Yang penting uda kasih kabar..terserah mau dibaca kapan…” Nesa berbicara sendiri saat akan memejamkan matanya.

Esok harinya, Nesa bangun lebih pagi dari biasanya.

Setelah mandi, dia keluar kamar. Wanita itu tersenyum saat melihat suaminya tertidur di ruang keluarga.

Dia menghampiri Al, bersamaan juga dengan Rena.

“Kenapa dia tidur disini Nes?” tanya Rena.

“Mungkin pintu kamarnya Nesa kunci…kirain Al pulang kerumah.”

“Ya uda…biarin aja. Mungkin dia capek. Kita ke teras yuk…uda di siapin teh, singkong kukus sama sambal.”

Nesa mengangguk tanda persetujuan.

Dan tak lama, Dani dan Illona ikut bergabung dengan mereka.

“Kalo kerja gimana mbak? Nggak susah bangunin dia?” tanya Illona.

“Ya mbak ocehin, mbak goyang-goyang badannya. Kalo kesel, mbak basuh wajahnya pake tisu basah. Megap-megap mas mu…..”

Illo mengikik mendengar cerita Nesa sambil membayangkan wajah cemberut kakaknya.

“Bangunin sekarang mbak! Illo pengen tau…..” Kata Illo.

“Jangan Illo! Mas mu capek….” ujar Rena.

“Mom…ini uda jam 9 lewat. Kata security, dia masuk rumah jam setengah 3. Tidur nya lebih dari 5 jam. Uda cukup ……” Illo tak mau kalah.

“Kamu aja yang bangunin mas mu….” celetuk Dani.

“Sapa yang bisa bangunin tukang molor?! Cuma mbak Nesa yang bisa…..Ayo mbak!” Illo memaksa kakak iparnya. Dia pengen tau seberapa lama Nesa bisa membangunkan kakaknya.

Nesa tersenyum dan berjalan menuju ruang keluarga, Illo mengekori di belakangnya.

“Al…bangun yuk….” ucap Nesa membungkuk dan berucap lirih sambil mengusap lembut lengan suaminya.

Tidak ada respon dari Alvaro, Illo menunggu dan duduk di seberang sofa.

Lalu Nesa mendekati telinga suaminya dan berbisik, Illo memicingkan mata dan berusaha mendengar apa yang di ucapakan Nesa, tapi gagal.

Dan bisikan itu, membuat Al membuka mata.

“Ayo! Sekarang ya?!” pria itu mengerjapkan mata, bangun dan terduduk.

Nesa tersenyum dan melihat Illo seolah berkata, ‘nih! aku berhasil bangunin kakakmu’

“Wih! Mbak Nesa hebat! cuma berapa menit bisa bangunin mas Al….”Illo menyela.

“Aaaahhhhh…ya pasti nggak sekarang!” ujar Al dengan nada kecewa, dan akan meringkuk lagi. Al baru sadar dimana dirinya berada.

“Kamu tidur lagi, libur 2 bulan Al!” Nesa berucap tegas.

“Iya-iya ini bangun!” AL menarik tubuh istrinya hingga Nesa terduduk disampingnya. Dengan manja dia merebahkan kepala di bahu istrinya.

“Coba liat tingkah anakmu! Nggak malu sama umur?!” Bisik Dani ke Rena ketika melihat Al bermanja.

“Yang kemarin sakit minta di peluk, itu bapaknya sapa?” Rena melirik suaminya.

“Itu skin to skin….beda kasus Ren….Al kalo sakit juga aku peluk kan….”

“Ok! Beda kasus! Capek liat HP, liat laptop….terus apa?”

Dani tersenyum dan memainkan alisnya. Dia baru menyadari, dia kadang bersikap manja ke istrinya dengan alasan mata lelah.

***

Beberapa hari kemudian.

Al telah resign dari Art Life. Dengan tanggung jawabnya, dia masih menyempatkan untuk mengantar jemput istrinya.

Nesa tahu jika suaminya lelah dan kurang tidur, karena Al memasuki rumah sekitar pukul 2 atau 3 pagi.
Wanita itu berulang kali meminta untuk berangkat dan pulang sendiri, tapi Al tak mengijinkan.

Jika terlalu lelah, saat berangkat Nesa yang mengemudikan, dan Al tidur di sampingnya. Ketika tiba di kantor, Al yang mengambil alih kemudi untuk kembali pulang.

Dan begitu seterusnya.

“Al….. kamu harus libur. Sehari dalam seminggu nggak ada salahnya kan? Pegawai mu aja ada jatah libur. Kamu butuh istirahat Al…..” Nesa memberi saran ketika Al mengantarnya ke kantor.

“Iya….aku ngantuk banget. Mungkin Selasa aja aku libur.” Balas Al.

Dan memang benar, hari Selasa Al libur. Usai menjemput si istri, dia menghabiskan waktu di kamar untuk istirahat.
Nesa hanya mengelus dada, dia kasian melihat suaminya, tapi di sisi lain dia sendiri butuh Al sebagai sosok suami.

Nesa tetap duduk sendiri di depan TV, karena usai makan malam Al berpamitan untuk tidur. Nesa tak tega melarangnya.

Dia rindu bercanda dan saling adu mulut.
Dia rindu momen dimana mereka saling bermanja.
Dia rindu bicara dengan waktu yang lama yang kadang diselingi pertengkaran kecil.
Dia rindu saat Al membujuk dan merayunya.

Nesa menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskan.
Kini komunikasi mereka hanya saat di dalam mobil saja, itu pun jika Al tidak tidur.

***

“Al….kok rasanya aku pengen kemanaaaa gitu?” Nesa memancing suaminya, dia ingin menghabiskan waktu berdua.

“Mau kemana? Keluar kota?”

“Kamu mau?” Tanya Nesa dengan antusias, dia tak menyangka respon suaminya.

“Mau donk…. kemana pun kamu pergi, aku siap mengantar Q….”

“Minggu depan kita ke Bromo yuk!” Nesa tersenyum gembira, keinginannya terpenuhi, berduaan dengan suaminya.

“Ok…. aku sekalian cari lahan untuk warung …kali aja ada kesempatan di situ”

Sekejap senyuman Nesa menghilang. Harapannya pupus ketika Al berbicara tentang pekerjaan. Dia akan menjadi nomor kesekian.

Dan liburan ke Bromo beralih ke Mojokerto. Karena Al ingin melihat lahan di kota itu, supaya tak jauh dari pengawasannya.
Perkiraan Nesa tepat, semaksimal mungkin Al menggali informasi untuk membuka warung di Mojokerto.

Walaupun Nesa sudah memperlihatkan wajah cemberut, membalas ucapan dengan singkat, rasanya tak mampu menyadarkan Al jika istrinya butuh perhatiannya.
Nesa pun menyesal telah mengajak Al liburan, yang ternyata sia-sia.

Sebenarnya mereka sempat mengunjungi ke salah satu tempat wisata, tapi tetap saja Al mengorek informasi untuk kepentingan bisnisnya. Nesa terpaksa mencoba menghibur dirinya sendiri.

‘Uda syukur di temani sampai kesini….’ Nesa mencoba mendinginkan suasana hatinya.

Setelah kembali ke asal, mereka kembali sibuk dengan pekerjaannya.

“Al….”

“Iya Q…”

“Kalo aku pulang kerja, lanjut ke salon, menurut kamu gimana? boleh nggak?”

“Alasannya apa kamu ke salon? terus pulang jam berapa? nggak capek? dari kantor ke salon sama siapa?” Al mencecar pertanyaan. Nesa cukup senang, berarti pria itu masih perhatian.

“Dijemput Nila, kalo capek sich nggak, daripada aku di rumah sendiri…pulangnya ya nunggu salon tutup…” Nesa mencoba memancing Al lagi. Supaya Al tau jika istrinya kesepian di rumah.

“Ya uda terserah kamu aja….pokoknya ingat jaga kesehatan ya….”

Dan sejak saat itu tiap pulang kerja Nesa di jemput Nila ke salon, lalu Nila mengantarnya pulang.

“Aku seperti nggak punya suami ya Nil….” Ucap Nesa mengasihani dirinya sendiri.

“Di luar rumah doank…kalo di dalam rumah kamu tetep milik Alvaro Artomoro. Apalagi di ranjang….” Nila tertawa kecil mengejek sahabatnya.

Nesa berusaha tersenyum, tapi hatinya menciut.

‘Seandainya kamu tau, Nil. Di ranjang pun hubungan kita nggak seperti di awal pernikahan.’ Nesa hanya bisa membatin.

Beberapa bulan ini, Nesa tak mendapatkan apa yang dia inginkan. Berbeda dengan Al, yang tiap kali ingin bersetubuh.Dia membangunkan Nesa yang tidur nyenyak, membangkitkan gairah istrinya, tapi pria itu memuaskan dirinya sendiri. Dia tak peduli istrinya mencapai kenikmatan atau tidak, yang penting dia sudah menyalurkan kebutuhannya.

Hingga suatu pagi, Nesa mendengar suara pesan masuk. Dan tak sengaja dia melihat isi pesan pada pop-up.

Maura : Thx utk yg semalam ya Al. Kamu selalu ada di saat aku butuh.

“Maura? Bukannya dia mantan Al?” Nesa berbicara dengan dirinya sendiri.

“Kamu pulang jam berapa?” Tanya Nesa saat di dalam mobil.

“Aku nggak ingat Q … soalnya capek banget langsung tidur….”

“Capek? Terus sama Maura kamu ngapain?” Tanya Nesa dengan nada sinis. Dia sudah tak sabar, karena hanya di mobil mereka bisa berkomunikasi.

Al tersenyum dan menghela nafasnya.

‘Memang wanita dilahirkan untuk menjadi detektif. Tauuuuu aja.’ batin Al.

“Semalam anaknya kejang. Jadi aku anter dia ke rumah sakit.”

“Ngapain kamu yang nganter? Emang suaminya kemana?” Tanya Nesa dengan nada yang masih sinis. Wajahnya tanpa senyum.

“Suaminya nggak tau kemana….”

“Kapan dia telpon kamu?”

“Waktu aku mau pulang, pas mau naik mobil.”

“Kenapa telpon dari dia di terima?! Sedangkan kalo aku telpon ada aja alasannya! Yang ambil air panas, yang rame, yang ngitung totalan….”

“Kamu telpon di saat yang salah Q …karena emang bener gitu kondisinya.”

“terus kenapa kamu nggak cerita kalo abis nganter Maura?”

“Kapan aku bisa cerita? aku datang kamu tidur.”

“Okay… dimaklumi. Tapi aku nggak mau kamu nganter dia lagi atau mantanmu yang lain. Walaupun kamu anggap uda kelar, aku tetep nggak suka.”

“Gini dech, ntar aku ajak kamu ke rumah sakit. Supaya kamu tau kondisi anaknya….”

Nesa hanya terdiam tak membalas.

Dan saat pulang kerja, Al mengajaknya ke rumah sakit dimana anak Maura dirawat.
Saat melihat tubuh kecil anak Maura yang dipasang infus, hati Nesa merasa iba.

“Makasih ya Nes… untung ada Al. Aku pesan angkutan online atau taxi nggak ada yang bisa datang.” Ucap Maura.

“Nggak papa mbak.” Nesa tak bisa berkata apa-apa, dia membayangkan dirinya sendiri jika di posisi Maura.

“Kamu apa kabar? Belum hamil?” Tanya Maura.

Ini salah satu pertanyaan yang paling dia benci. Nesa yang tadinya iba dan kasihan, kini berubah agak sewot. Dia merasa Maura mengejeknya karena belum memberi Al keturunan.

“Kita masih pengen pacaran ya Q….”jawab Al dengan melingkarkan lengannya dipinggang Nesa dan mencium samping kepala istrinya.

Kemudian mereka saling menatap dengan hangat. Nesa merindukan momen ini, saling menatap dan saling memuja.

“Jangan ditunda-tunda Al….keburu berumur. Atau mungkin Nesa kecapekan kali…..” Maura mencoba menyudutkan Nesa.

Nesa melihat suaminya lagi dan tersenyum.

“Belum di kasih kepercayaan mbak…usia pernikahan kita juga belum lewat 5 tahun. ”

Kemesraan mereka membuat Maura iri.

Bagaimana tidak iri, karena suaminya meninggalkannya ketika anak mereka berusia sekitar 2 bulanan.

“Al…. rasanya Maura bener….” Ucap Nesa saat mereka perjalanan pulang dari rumah sakit.

“Bener apa?”

“Mungkin aku kecapekan. Kalo aku resign gimana?”

“Aku terserah kamu aja Q…. alasan kamu kerja apa? Alasan kamu berhenti kerja apa? Jangan sampai kamu nyesel setelah kamu memutuskan resign.”

“Aku kerja untuk pengembangan diri sendiri aja. Ada kepuasan batin kalo kita bisa menangani nasabah dan mereka puas dengan pelayanan kita.”

“Nggak ada bedanya ama salon kan?”

“Iya sich…”

Keesokan harinya Nesa mengajukan resign.
Dua bulan berikutnya, statusnya bukan pegawai lagi. Nesa fokus dengan rumah tangga dan salonnya.

Dia berharap, mereka mempunyai banyak waktu untuk komunikasi, bercanda atau bercerita.

“Al….ini uda jam 11.” Nesa mengusap dan mencium kepala suaminya.

“Iya Q….” Jawab Al dengan suara bermalas-malasan. Perlahan pria itu membuka matanya, lalu tersenyum.

“Astaga! Aku lupa ambil barang untuk cafe!” Al sedikit memekik, dan dia mempersiapkan dirinya sendiri dengan terburu-buru.

Nesa hanya duduk terdiam di tepi ranjang. Dia merasa tak ada bedanya saat dia masih bekerja, komunikasi tetap minim.
Bedanya, Nesa cukup banyak waktu untuk mengurus rumahnya.

Setiap hari Al bangun tidur di siang hari, lalu terburu-buru pergi keliling warung atau cafe.
Nesa akui, warung Al makin bertambah. Dan banyak temannya ingin berinvestasi atau bekerja sama di bisnis yang sama, tapi Al menolak.

“Kalo warung kalian buka sendiri aja. Itu bisnis sederhana kok. Tapi kalo cafe, boleh lah kita partner.” Begitulah kata Al.

Tidak hanya warung, cafe nya pun juga bertambah. Mereka mengusung tema yang beda dari cafe yang sebelumnya.

Cafe yang satu identik dengan kaum lelaki, simple dan sering mengadakan nobar. Dan cafe satunya identik dengan wanita, beberapa sudut bisa dijadikan untuk spot foto, atau Instagramable.

Bosan dengan kesendirian dan kesepiannya, Nesa ke salon. Di saat senggang tak ada customer, Nesa gencar mempromosikan melalui media sosial yang saat ini menjadi perhatian semua usia.

Dan semakin lama, salon nya makin rame.

“Nil….kamu hari Jumat, setelah pulang kerja, bisa ke salon bentar? Aku mau ngomong tentang salon kita….” Ucap Nesa ketika menelepon Nila.

“Sori ya Nes….Jumat malam aku janjian sama Rama. Kan biasanya ketemu Sabtu pagi….”

“Cie cie …..yang lagi kencan….ok Nil, kita ketemu Sabtu ya….”

Setelah reuni tahun kemarin, Nila dan Rama memang menjalin hubungan lebih dari teman.
Sabtu pagi mereka berbicara panjang lebar tentang perkembangan salon mereka.

“Kayaknya kita nggak bisa di ruko ini terus. Customer kita makin banyak. Mungkin kita bisa buka lagi dengan pangsa pasar yang levelnya lebih tinggi. Tentunya formula dan biaya juga lebih tinggi.” Kata Nesa.

“Iya sich….yang sini biar aja tetep buka sesuai standard mahasiswa dan level menengah. Tapi aku nggak bisa kontrol lho Nes….” Nila menimpali.

“Tenang mbak….kan aku pengangguran. Kamu tetep aja kerja, tetep aja kencan…aku nggak masalah kok…”

“Jangan gitu dong…kan aku nggak enak. Ntar kita hitung biaya pengawasan dan jasa promosi mu ya….”

“Syukur nyadar…. lumayan bisa buat beli parfum….”

Akhirnya mereka setuju untuk membuka salon baru lagi.

Nesa semakin sibuk dengan program salon barunya, Al pun juga sibuk memperbanyak warungnya. Rumah tangga mereka tampak baik, tapi mereka tak menyadari bahwa mereka semakin jauh.

Al datang saat Nesa tidur.

Nesa pergi ke salon ketika Al masih terlelap.

Urusan ranjang mereka tetap sama, hanya untuk kepuasan Al.

“Al….Sabtu ini aku buka salon baru. Kamu datang ya….” Nesa berucap saat Al sarapan sekaligus makan siang di hari liburnya.

“Tentu sayang…..”

Nesa senang mendengar respon suaminya.
Usai makan siang, Al kembali tidur. Dan si istri lanjut ke salon barunya.

Bersambung

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Tamat