Complicated S2 Part 17

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Tamat

Cerita Sex Dewasa Complicated S2 Part 17 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Complicated S2 Part 16

Sabtu malam, acara reuni SMA.

Nesa datang di temani suaminya. Mereka memasuki gedung pertemuan dengan ukuran sedang.

Seorang pria memandang dengan wajah bahagia saat melihat Nesa. Dengan raut yang ceria pria itu menghampiri Nesa yang berjalan berdampingan dengan Alvaro.

“Nesa?! Cok….koen tambah ayu ae….” Pria itu meninju pelan bahu Nesa.

Alvaro mengerutkan keningnya saat mendengar sapaan yang tak layak di ucapkan kepada seorang wanita. Boleh lah sapaan itu ke pria….tapi ke Nesa?

Lain halnya Nesa, dia tertawa renyah saat mendapat sambutan hangat dari temannya. Mereka tampak akrab, dan rasanya Nesa tak keberatan dengan sapaannya tadi.

“Alhamdulillah apik Den…ini suamiku, Alvaro, dan ini Deni. Dia teman aku seangkatan, tapi beda kelas. Dan dia juga teman renang kak Valdi, sering nganter kak Valdi ke rumah kalo pulang renang.” Nesa menjelaskan supaya tidak ada salah paham.

Mereka saling berjabat tangan, Al mengumbar senyum ramah.

‘ok, nothing to worry. siapapun dia, yang penting dia udah jadi istrimu’ batin Al menenangkan dirinya sendiri.

Dan setelah berbincang sesaat, Nesa berkeliling menyapa teman-temannya. Banyak yang berbisik tentang suami Nesa.

Mereka yang berkecimpung di dunia properti, pasti tahu siapa Alvaro. Tapi yang beda circle, berusaha mencari informasi. Kepo dan kadang nyinyir.

“Nes!” Teriak seseorang yang suaranya sangat di kenalnya. Dia menoleh dan melihat sahabatnya, Nila.

“Lho! katanya ke kondangan…” Ucap Nesa.

“Uda tadi…Hai Al…” Balas Nila dan menyempatkan menyapa Alvaro.

“Jadi…. dari kondangan langsung ke sini?”

“Iya….aku ketemu Rama di sana. Jadinya kita bareng.”

“Rama?”

“Iya…Rama yang pernah ke ulang tahun Erlinda sama kamu …”

“Janjian?”

“Nggak! Kebetulan ketemu disana. Mana ya dia?” Nila celingukan mencari sosok Rama.

“Itu di belakangmu…..” Nesa melihat Rama berjalan menuju arahnya.

Nila menoleh lalu tersenyum.

“Ram….masih inget Nesa kan?”

“Masih donk…kan kita pernah pergi berdua ya Nes….ke ulang tahun sapa ya?” Pria itu mengulurkan tangannya, dan Nesa menyambutnya.

“Erlinda….” Balas Nila cepat.

‘katanya nggak punya mantan? Lha itu sapa kok pergi ke ulang tahun berdua aja?’ Al membatin dan tangannya melingkar di pinggang Nesa posesif.

“Itu suaminya Nesa….” Lanjut Nila melihat gelagat suami sobatnya seolah butuh pengakuan.

Al dan Rama pun saling berjabat tangan, suami Nesa berusaha tersenyum walaupun terpaksa.

Pukul 21 lewat beberapa menit, Nesa berpamitan.

“Sebenarnya Rama itu siapa?” Tanya Al saat berada di dalam mobil. Dia tak sabar ingin tahu siapa sosok Rama di kehidupan Nesa.

“Maksudnya?”

“Dia mantan? atau TTM? atau siapa?”

“Emang kenapa? Yang lalu kan uda kelar…..” Nesa menirukan kalimat suaminya.

“Nggak ada salahnya kalo kamu jawab kan?” Sedikitnya Al mendesak Nesa.

“Cuma teman aja….” Nesa menjawab rasa ingin tahu suaminya.

“Teman kok bisa pergi berdua?” Al masih penasaran.

Nesa menghela napas, mau tak mau dia harus menceritakan pengalaman buruknya. Termasuk keterlibatan kakaknya Valdi.

“O…. ternyata cinta bertepuk sebelah tangan?” Al kembali menggoda istrinya.

“Cuma kagum aja…waktu itu dia ganteng pada jamannya. Tapi setelah tahu belangnya ya pudar….”

“Kalo misalnya nggak tahu, pasti masih ngarep kan?”

“Kalo misalnya nggak tahu ….ya mungkin kita pacaran…..lalu nikah setelah aku lulus kuliah…dan kayaknya di usia sekarang aku uda punya anak 2 atau 3…” Ucap Nesa membalas suaminya.

“Ok! Nggak usah di bahas lagi ya….” Al merasa tak nyaman. Dia mendengus kesal.

“Kan situ yang tanya…” Ucap Nesa membalas suaminya lagi.

“Bulan depan jadi hang out?”tanya Al mengalihkan pembicaraan.

“Insya Allah jadi… kebetulan bisa semua….”

***

Hari telah berlalu, mereka menjalani aktivitas seperti biasa.

Nesa sudah mengingatkan Al agar tidak mengumbar kemesraan saat ada di kantor.

Tapi sayangnya pria itu tak menggubris pesan istrinya. Tanpa beban dan tanpa sungkan, dia melingkarkan lengannya di pinggang istrinya. Menggandeng tangan.

Apalagi jika ada tamu pria atau luar penghuni kantor ini yang memandang Nesa secara intens, Al pasti akan memperlakukan Nesa lebih intim lagi.

Nesa selalu mengoceh lirih saat Al berlaku demikian.

“Kenapa nggak boleh? Seluruh kantor uda tau kalo kamu istriku. Dan ini masih normal sayang…” begitulah kalimat mujarab yang diucapkan Al.

“Selalu begitu…..” Nesa membalas dan membuat Al tersenyum.

“Ntar jangan lupa! Keluar jam 5 pas. Aku tunggu di mobil….” Kata Alvaro ketika pintu lift terbuka.

“Siap Pak!” Balas Nesa.

Jam telah berlalu. Pukul 16.30, datang sepasang suami istri sebagai nasabah, yang kebetulan marketingnya terdaftar di kantor Nesa.

Mereka mengutarakan tentang permasalahannya. Dengan bahasa yang sopan dan luwes, Nesa mampu menjawab dan menyarankan solusinya.

Tapi tampaknya tak hanya menyampaikan permasalahan, mereka juga butuh informasi yang lebih detail tentang manfaat polisnya.
Nesa kembali menjelaskan panjang lebar hingga waktu sudah melewati pukul 17.00.13

Beberapa kali Nesa merasakan ponselnya bergetar di laci. Dan dia juga sering melirik ke arah jam dinding.

‘Duh! Orang ini kok ngomong terus ….itu pasti Al yang telpon’ Nesa menggerutu dalam hati.

Wanita itu sudah tak fokus lagi dengan pekerjaannya. Nesa berusaha tenang dan bersikap hangat, walaupun di dalam dirinya resah.

Akhirnya pukul 17.25 dia meninggalkan unit kantornya.

Al melihat Nesa berjalan dengan terburu.

Baru saja membuka pintu mobil, “kok lama sich?! Kan aku uda bilang jam 5 pas. Molor sampe jam segini!”. Al menyambut Nesa dengan ocehan pedasnya.

“Tadi ada nasabah.” Jawab Nesa yang berusaha meredam emosinya sendiri.

Beberapa menit yang lalu, dia emosi karena nasabah. Dan sekarang, karena suaminya.
Al menjalankan mobilnya.

“Aku telpon berkali-kali, kenapa nggak di angkat?” Tanya Al sinis.

“Mana sopan angkat telpon kalo ada nasabah?” Nesa berusaha sabar.

“Tapi kamu nggak lupa kan kalo aku minta pulang jam 5 pas?!”

“Inget Al…..” Suara Nesa merendah.

“Harusnya kamu kirim pesan kalo ada nasabah. Jadi aku bisa ke warung bentar yang deket sini….kalo kayak gini berubah semua jadwalku….mana besok Jumat lagi…pasti rame…” Al masih berkata sinis dan memojokkan.

“Jawab telpon aja nggak bisa, apalagi kirim pesan! Jadi kamu nyalahin aku? Emang aku tahu customer itu datang dan ngomong panjang lebar sampe lewat batas jam kerja?” Wanita itu menyerocos, kesabarannya sudah mulai habis.

“Kalo bukan karena kamu? Karena siapa kita pulang telat?”

“Bilang ke nasabahnya…jangan ke aku! Kalo kayak gini…. mending aku berangkat pulang sendiri aja….nggak ada beban!”

“Terserah kamu!”

“Ok! Besok aku berangkat pulang sendiri!” Ucap Nesa bernada tinggi karena kesal.

“Terserah!”

Saat tiba dirumah, Nesa menutup pintu mobil dengan keras. Al tak terima, dia turun dan berdiri di dekat mobil.

“Ngapain kamu banting pintu mobilnya?! Dia punya salah apa?”

“Owner nya yang salah!” Teriak Nesa tak menoleh, dia terus berjalan.

“Aku pulang malam!” Al ikut berteriak.

“Who cares!” Balas Nesa tak peduli. Pria itu melajukan mobilnya lagi.

“Mau pulang malam…pulang pagi… terserah kamu!” Nesa menggerutu sendiri.

Usai makan malam sendiri, dia merebahkan tubuhnya. Hari ini sungguh melelahkan untuk Nesa.

***

Esok pagi.

Nesa bangun seperti biasa, dia melihat suaminya yang masih tertidur lelap. Setelah mandi dan berdandan, perlahan dia meninggalkan suaminya.

‘Emangnya aku nggak bisa berangkat sendiri? Nesa wanita kuat! Nesa wanita mandiri!’ kata batin wanita itu menyemangati dirinya sendiri.
Satu unit taxi online sudah menunggu Nesa di luar rumah.

Nesa mengucapkan salam ketika masuk ke rumah orangtuanya, dan mereka membalas salam.

“Pagi amat! Sendiri Nes?” Tanya Vasco sambil mengunyah makanan.

“Iya kak, soalnya Al mau ke kantor cabang…..Yah, boleh pinjam mobil?” Nesa berbohong dan berusaha ceria.

“Buat apa?”

“Besok Sabtu Nesa mau ambil barang buat salon.. nanti malam juga mau ke salon, uda janjian sama Nila.”

“Biasanya kan kak Vasco atau pak Im yang ambil.” Ucap Isti.

“Katanya ada produk baru Bu…Nesa mau liat langsung….boleh bawa yang mana yah?”

“Nesa mau yang mana? pokoknya jangan panther. Itu dalamnya uda nggak karuan, di bongkar kakakmu….” Kata Aji.

“Ok! Nesa bawa mobil sejuta umat ya….Bu, aku sarapan disini boleh kan? Sekalian bawa bekal…”

“Boleh donk….”

Nesa sarapan bersama keluarganya, dia rindu dengan momen ini. Karena hanya saat sarapan saja mereka bisa bertatap muka, bercanda dan saling mengejek.

Wanita itu tiba di kantor dengan mobil Avanza ayahnya. Nesa parkir di bagian agak belakang, karena bagian depan khusus jajaran direktur dan pejabat lainnya.
Tanpa sengaja, Dani melihat menantunya berjalan santai sendiri memasuki gedung perkantoran.

Tak lama Dani keluar dari mobil, dia melihat barisan parkir yang biasanya ada mobil anaknya. Tapi ternyata tidak ada. Lalu Dani masuk ke gedung yang lain.

Setelah memasuki ruangannya, Dani menelepon Stella.

“Stel…tolong sambungkan ke Art Life!” Pinta Dani.

Tak lama Dani berbicara dengan pihak Art Life.

“O…jadi hari ini jadwal Alvaro nggak ada kunjungan keluar kota ya? Soalnya saya takut ganggu pekerjaannya…saya ada perlu sama dia…”

Dani memutuskan pembicaraan, dan dia menelepon Alvaro.

Setelah beberapa saat, Al menerima panggilannya.

“Halo” ucap Al dengan suara parau, matanya masih terpejam.

“Kamu dimana?” Tanya Dani tanpa salam.

“Masih di rumah Dad….” Jawab Al santai.

“Sekarang jam berapa?! Dan kamu biarkan istrimu berangkat sendiri? Otak mu itu dimana, Al?! Kalo ada kecelakaan sapa yang di salahkan? Seandainya kamu nggak bisa nganter, biar Ronald aja yang anter jemput Nesa… Orang tuanya mempercayakan Nesa ke kita! Cepet berangkat! Langsung ke ruangan Daddy!” Pinta Dani.

“Maaf Dad….” Ucap Al lirih.

Dani mematikan ponselnya tanpa salam.

Al mendengus kesal. Kesal karena mendapat ocehan dari daddy, kesal karena istrinya tidak membangunkannya dan tentunya dia pasti datang terlambat.

1 jam berikutnya Al tiba di ruangan Dani.

“Daddy nggak peduli kalian ada masalah …tapi kamu harus anter jemput Nesa. Atau kamu lebih mempercayakan istrimu ke driver taxi yang nggak kamu kenal?” Dani memberikan sambutan selamat datang untuk anaknya.

Al hanya diam ketika daddy nya kembali mengingatkan tentang tanggung jawab suami. Tak lupa, Dani juga bercerita betapa emosi nya dia saat Rena berangkat dan pulang dengan motor.

Hampir 30 menit Al duduk di kursi panas, dan akhirnya dia bisa keluar ruangan daddy nya.

Kini dia menuju ke unit office istrinya. Nesa tak sengaja melihatnya saat Al memasuki kantor nya. Mata mereka saling bertabrakan, namun Nesa langsung memalingkan wajahnya.

“Psssstttt! Suaminya datang!” Ucap Eja dari mejanya.

“Tahu kok…..” Jawab Nesa singkat. Teman Nesa yang lain paham tentang kondisi ini.

“Perang kecil dimulai….” Vita bersuara lirih tapi bisa di dengar yang lainnya.

“Q…makan siang bareng ya?” Tanya Al hangat sambil melihat istrinya yang fokus dengan berkasnya.

“Nggak usah! Bawa bekal!” Balas Nesa singkat dan sinis.

Al menghembuskan nafasnya secara kasar. Dia kehilangan ide untuk mengajak istrinya berbicara berdua saja. Tapi setidaknya istrinya masih menjawab.

“Laporannya uda di email?” Tanya Al lagi mencoba mencairkan suasana.

“Belum dead line! Masih ada yang lebih penting!” Nesa menjawab tanpa melihat wajah suaminya.

“Ok! Aku ke ruanganku ya….”

“Hm” balas Nesa yang masih belum mau melihat suaminya.

Jam telah berlalu. Pukul 16.30 Al sudah ada di lobby, menunggu istrinya.

Pukul 17.15, Al melihat Nesa baru keluar dari lift. Dia menghela napas lalu berdiri.

Nesa berjalan santai, tak sengaja dia melihat suaminya berdiri tak jauh dari pintu keluar. Al tersenyum saat Nesa melihatnya, tapi Nesa hanya memperlihatkan wajah datarnya seolah tak kenal.

Al berjalan membuntuti istrinya, hingga dia memasuki mobil Avanza pinjaman.
Nesa keluar dari lokasi, dia bisa melihat mobil suaminya tepat di belakangnya.

“Dia mau kemana?” Al berbicara sendiri saat tahu Nesa berada di jalur bukan ke arah rumah mereka atau ke rumah orangtuanya.

Nesa berhenti di toko bahan kue, dia masih bisa melihat mobil suaminya. Dia turun dari mobilnya, begitu juga Alvaro.

“Beli apa Q?” Tanya Al, Nesa tetap tak menjawab.

“Mbak…ambil pesanannya Bu Isti.” Ucap Nesa langsung ke pelayan toko.

Pelayan toko pun mengambil satu kantong tas plastik yang cukup besar.

“Biar saya aja mbak yang bawa!” Al menyela dan tanpa ijin dia mengambil tas plastik.

Dia sudah tau tujuan Nesa berikutnya, ke rumah orangtuanya.

Mereka tiba di rumah Aji dengan mobil yang beriringan.

“Dimas! Ngapain kamu ke sini?” Tanya Nesa saat melihat sepupunya yang tampan. Wajah Nesa berubah lebih ceria dan tak ‘diam’ lagi.

“Kangen kamu Babe.” Ucap Dimas saat mencium kening Nesa. Tentu saja Al tahu dan masih tetap cemburu.

“Kok tau aku ke sini?”

“Tadi aku ke bengkel….eh! Ada Nila….” Kata Dimas saat melihat Nila memasuki rumah.

“Hai Mas….Al …..” Sapa Nila.

“Nil….” Balas Al yang sedari tadi diam.

“Aku mandi bentar Nil….jadi ke salon atau kita bahas di sini aja?”

“Di sini aja lah …..temani aku ….” Dimas bersuara.

“Okay…tapi belikan makanan ya….”

Dimas menunjukkan jempolnya.

“Q… kita bobok sini?” Tanya Al dengan hati-hati. Nesa menahan senyum.

“Kalo kamu mau pulang, nggak papa.” Nesa memandang sekilas wajah suaminya.

“Kalo kamu bobok sini, ya aku juga donk….tapi aku ke warung bentar ya…uda janjian…”

‘Astaga….masih aja mikir warung. Kamu tau kan istrimu ini lagi ngambek? Gombalin dikit napa!’ Nesa kembali menggerutu dan kecewa lagi.

“Hm” hanya itu balasan Nesa.

***

Sekitar pukul 21.00 Al pulang ke rumah Aji.

“Sudah selesai urusan warungnya?” Tanya Aji yang sedang melihat TV.

“Sudah Yah….” Jawab Al.

“Nesa baru masuk kamar waktu dengar suara mobilmu”

“Iya yah….saya masuk kamar dulu” sahut Al dengan hati yang sedikit lega.

‘ternyata kamu nungguin aku…’batin Al.

Pria itu perlahan menaiki ranjang. Nesa memunggunginya. Al mendekati istrinya, mengusap lembut rambutnya.

“Q….Beberapa bulan, tiap bangun tidur yang aku liat wajah cantik istriku. Hari ini terasa aneh, waktu bangun tidur, aku nggak liat kamu….Liat wajahmu, semangat kerjaku makin bertambah….aku minta maaf ya….aku janji, kemanapun kamu pergi, aku yang nganter….I Love You Q…” bisik Al lalu mencium kepala istrinya.

“Lagi donk!” Ucap Nesa tersenyum lalu membalikkan tubuhnya.

“Apa?!” Tanya Al pura-pura tak paham.

“Yang kalimat terakhir….”

“Aku janji, kemana aja kamu pergi, aku anterin….”

“Bukan yang itu Al….” Nesa bangun dari rebahan lalu duduk di kepala ranjang.

“Cium dulu donk…..”

“Ish! Ya uda kalo nggak mau!” Nesa mendengus kesal dan hendak membaringkan tubuhnya lagi, tapi Al menahannya.

“I love you Q….” Ucap Al lalu mencuri kecupan di pipi istrinya. Al melihat istrinya tersenyum sumringah.

“Aku tuh nggak marah kalo aku berangkat sendiri. Yang bikin aku sebel, kamu itu seperti cuma kamu yang punya kepentingan, nggak peduli orang lain. Kayak kemarin…. aku nggak tau kalo nasabahnya ngomong sampe lama gitu….aku juga mikirin kamu, aku tau kamu telpon berkali-kali. Tapi aku bisa apa?”

“Iya….maaf…mulai sekarang, mau pulang jam berapa aja, aku tungguin kok….”

“Jangan marah lagi ya….”

“Tergantung…..”

“Tergantung apa?” Tanya Nesa.

“Tergantung permainan kita malam ini…..” tangan Al sudah menyusup di balik kaos Nesa. Mengusap lembut perut istrinya.

***

Esok paginya, mereka keluar kamar bersama.
Setelah sarapan, Nesa masih sibuk di dapur.

“Bikin apa?” Al memeluk tubuh Nesa dari belakang.

“Al…ada yang lain lho…..” Ucap Nesa sambil menuangkan beberapa bahan kue di tempat adonan.

“Emang kenapa? Kalo ayah sama ibu pasti uda biasa seperti ini….kalo Vasco dan Valdi …. biar mereka ngiri, biar fokus cari jodoh….” Ucap Al menciumi leher istrinya.

“Tapi donatku nggak jadi-jadi….”

“Baiklah…. daripada aku nganggur disini, aku ke warung yang dekat sini ya….mau kontrol…”

“Okay…. setelah ngadon aku ke salon sama Nila. Aku di rumah jam 1 an…..”

“Okay …jam 1 aku uda di sini…”

Mereka kembali tenggelam dengan aktivitas masing-masing.

Dan sesuai jadwal, mereka hampir tiba di rumah secara bersamaan.

Pukul 20.00 satu per satu sepupu Nesa berdatangan. Malam ini mereka ke club untuk refreshing. Setelah lengkap, mereka berangkat bersama.
Ternyata Illo dan kekasihnya juga bergabung dengan mereka.

“Kamu tau dari mana kalo kita ke club?” Tanya Al ketika melihat adiknya tiba di rumah Nesa.

“Dimas sama Juna….”

Saat di club, Al atau Nesa selalu menunjukkan kemesraan. Seperti sekarang ini, Nesa duduk dipangkuan Al. Dan pria itu mencium pundak istrinya beberapa kali dengan tangan yang melilit di tubuh Nesa.

“Maklum ….barusan akur….” Ucap Vasco sambil menyapu pandang ke sepupunya.

“Ngiri kak? Cari sono….” Nesa mencebikkan bibir.

“Ngapain di cari …ntar juga ketemu sendiri….”

Tanpa sungkan, Nesa mencium bibir suaminya.

“Babe….pulang gih…. kayaknya Al uda nggak tahan….”

Nesa melihat wajah suaminya lalu bibirnya mendekati telinga Alvaro.

“Ditahan bentar ya Al….biar makin menggebu…by the way…nanti kita pulang ke rumah…..supaya aku bisa mendesah dengan bebas …”

Al tersenyum dan menggelengkan kepalanya saat mendengar kata-kata yang menggoda dari mulut istrinya.

***

Beberapa bulan berikutnya. Seperti biasanya, setelah bercinta mereka melakukan pillow talk.

“Q….i want to tell you something.” Ucap Al sambil memainkan rambut Nesa.

Satu tangan Al menopang kepalanya, sesekali dia mengambil segelintir rambut Nesa dan menciumnya. Al sangat menyukai aroma rambut istrinya.

“apa? Jangan minta poligami ya….”

Al tertawa kecil dan mencium kening istrinya.

“Aku ngajukan resign. Menurut kamu gimana?” Tanya Alvaro.

Nesa menatap mata suaminya, fokus dengan bulu matanya yang lentik.

“Kenapa?”

Al menghembuskan nafas dengan kasar.

“Beberapa kali aku dengar selentingan tentang aku, daddy dan opa. Mereka membandingkan….. rasanya nggak nyaman.Dan yang paling aku nggak suka, kata mereka, aku berambisi untuk posisi salah satu Direktur.Padahal aku di Art Life, main goal ku cuma kamu. Pengen tau kamu….. pengen kenal kamu…. lalu pengen nikahi kamu. Tujuan ku uda tercapai….buat apa aku disitu?!”

“Jadi kamu fokus ke warung?”

“Iya, lebih baik aku membuka warung lagi…. Passion ku lebih condong ke situ. Lagian bisa bantu lowongan kerja juga. Kamu nggak malu kan punya suami yang kerjanya bukan orang kantoran?”

Nesa memiringkan tubuhnya, lalu tangannya menangkup sebelah pipi Alvaro.

“Justru aku bangga Al….kamu bisa membangun usaha sendiri tanpa embel-embel nama keluarga.”

“Beneran?!” Al meyakinkan.

“Iya Al…buat apa kerja kalo tempat kerjanya nggak nyaman…nggak sehat….”

“So lucky to have you Q…..”

“Tapi jatah bulanannya jangan di kurangi ya….” Nesa memperlihatkan wajah yang menggemaskan.

“Malah lebih banyak non….aku rencana mau buka kantin di universitas lainnya…”

“Ngapain sich kok di kampus lagi? Mau cari ayam kampus?” Tanya Nesa raut wajahnya seketika berubah.

“Prospek nya lebih bagus di kampus. Walaupun kalo libur semesteran kantin harus tutup.”

“Terserah kamu aja… pokoknya jaga kesehatan, jaga iman….”

“Iman sich bisa dijaga…tapi …..kalo hasrat_ enggghhh” Al mengeram saat tangan istrinya sudah menyusup dan meremas miliknya.

“Si Pino belum jinak? Minta di apain supaya dia tau kalo cuma aku yang bisa pegang?” Perlahan Nesa mengocok milik suaminya.

“Wow! Rasanya beda ya Q kalo kamu lagi nggak mood gini” Gairah Al mulai tumbuh.

Nesa menyibak selimut yang menutupi tubuh mereka, terlihat bentuk tubuh mereka tanpa sehelai benang pun.

“Siapa bilang aku nggak mood?!” Nesa bangkit dari rebahan.

Dia mencium punggung kaki suaminya.

“Q…kamu ngapain?” Tanya Al dengan detak jantung yang makin cepat.

Nesa tak menjawab, perlahan kecupannya perlahan makin naik, sesekali wanita itu memainkan lidahnya saat akan mengecup.

Beberapa kali Al menelan ludahnya secara paksa ketika dia merasakan rambut Nesa yang menyapu kulitnya….. saat merasakan puting istrinya ketika tak sengaja menempel di lututnya.

“Ternyata wanita bisa explore juga….” Al mencoba mengalihkan hasratnya saat Nesa mencium dan mengusap lembut paha dalamnya secara bergantian.

Si wanita melihat milik suaminya sudah sangat tegang, berdiri dengan kaku. Tapi dia masih belum ingin menyentuhnya.

“Kalo bukan suamiku yang aku giniin …mau siapa lagi?!”

“Jangan pernah mikir _ennggghhhmmm…” Lagi-lagi Al mengeram saat istrinya mencium pusarnya dan tak sengaja puting Nesa menyentuh ujung kemaluannya.

Nafas Al semakin tersenggal, dia menggoyangkan kakinya untuk mengalihkan gairahnya yang rasanya sudah akan meledak.
Kecupan Nesa perlahan naik, dan saat ini dia duduk, mengangkangi perut suaminya.

Perut kulit Al bisa merasakan hangatnya milik Nesa. Beberapa kali Al menghela napas panjang lalu melepaskan.

Kepala Al makin pening ketika payudara istrinya menempel di tubuhnya, rasanya dia ingin meremas-remas. Tapi apa daya, kedua tangannya berada dalam genggaman Nesa yang mengecup lehernya.

“Q…kamu sengaja menyiksa aku?” Tanya Al dengan suara parau dan lirih, terdengar sexi menurut Nesa.

“Menyiksa apa?” Nesa mengakhiri mengecup leher suaminya lalu mengecup singkat bibir Al.

Nesa melepaskan genggamannya, lalu duduk sambil menatap wajah suaminya. Kedua tangan Al mengusap paha istrinya dan semakin naik ke bagian tubuh.

“Pino…..” Pria itu meremas payudara Nesa.

“Minta di apain Pino nya?” Nesa menggoda suaminya.

“Terserah sayangku…. pokoknya jangan di anggurin….”

Nesa membalikkan tubuhnya, menungging dan Al masih berencana untuk menggoda istrinya tapi_

“Oughhhh….” Al melenguh saat Nesa mengecup ujung miliknya tanpa aba.

Reflek Al meremas pantat Nesa yang ada di depannya. Milik Nesa yang merekah mengembalikan niat Al yang menggoda istrinya.

Al bisa merasakan hisapan miliknya dari mulut Nesa yang hangat. Dia pun tak mau kalah, dia juga mengecup dan memainkan lidahnya di milik Nesa.

Nesa melenguh dengan mulut yang penuh oleh milik Alvaro. Dia juga bisa merasakan miliknya yang di mainkan oleh si suami.

Mereka saling menikmati dengan hisapan masing-masing. Hingga di Al tak kuat lagi, dengan paksa dia menarik tubuh istrinya.

“Aku nggak mau mengeluarkan sperma di mulut manismu Q….kamu di atas!” Ucap dan membalikkan tubuh Nesa.

“Lebih enak di lubang ini?” Tanya Nesa saat milik Al sudah tenggelam sempurna dilubangnya dan mulai menggoyangkan tubuhnya.

Tangan Nesa bergerak bebas di pundak kadang di kepala suaminya. Kata-kata Nesa membuat Al makin gemas, dan dia mengulum puting yang satu dan meremas yang lain, membuat Nesa melenguh.

Sentuhan di dadanya membuat Nesa makin liar, dia mempercepat goyangannya. Begitu juga dengan Al, remasan dan kecupannya semakin brutal. Sambil terus bergoyang, Nesa memejamkan matanya, kepalanya mendongak, dia sangat menikmati gesekan yang ada di bawahnya, milik Al yang memenuhi lubangnya dan permainan suami yang ada di payudaranya.

“Uggghh…lebih cepat Q….” Pinta Al sesaat melepaskan kecupannya dan kini dia melanjutkan lagi.

Setelah beberapa saat Nesa mencapai nikmatnya dan tak lama di susul suaminya.

Al merebahkan kepalanya di dada Nesa yang berkeringat, melingkarkan tangannya di tubuh istrinya.
Begitu juga Nesa, dia memeluk suaminya. Sama-sama mereka mengembalikan nafas yang sempat tidak teratur.

“Tidur ya Al….” Ajak Nesa dan memisahkan tubuhnya.

“Tapi aku mau lagi…”

“Selangkangan ku capek Al…” Rengek Nesa yang merapikan bantal dengan tubuh yang masih telanjang.

“Nungging aja biar nggak capek….” Al masih menawar.

“Satu kali aja ya….” Ucap Nesa dan menahan senyum saat melihat wajah riang suaminya.

Akhirnya mereka kembali bercinta.

***

Alvaro telah mengajukan resign. Tapi tidak bisa langsung meninggalkan perusahaan sebelum menemukan pengganti dan menyerahkan tugas-tugasnya.

Sejak pengajuan resign, Al sering pulang malam. Dia membuka 1 warung kecil lagi, sayangnya dia kekurangan pegawai, sehingga mau tak mau kadang dia terjun langsung.

Setelah memulangkan istrinya, dia langsung berangkat lagi.
Nesa berusaha memahami kesibukan suaminya.

Beberapa kali Nesa mengirimkan pesan, namun tak pernah di balas oleh suaminya.
Inilah salah satu kebiasaan buruk suaminya, sejak sebelum nikah hingga saat ini, kebiasaan itu belum hilang.

Alvaro membaca pesan istrinya saat dia sudah di rumah, ketika dia bersiap merebahkan tubuhnya di ranjang. Sebelum memejamkan matanya, Al menyempatkan mencium kening istrinya lalu menciumi aroma rambut serta leher yang menjadi favoritnya.

Hingga suatu malam, saat Nesa sendiri di rumah.

“ASTAGHFIRULLAH!” Nesa memekik saat matanya tak melihat apapun.
Gelap.

“Ya Allah… kenapa pake lampu mati sich?” Nesa mengeluh dan kuatir.

Dia meraba sofa yang diduduki, dimana ponsel tak pernah jauh darinya.

Nesa menghubungi suaminya, hendak bertanya dimana tempat lilin atau emergency lampu. Al pernah memberi tahunya, tapi dia lupa.

Setelah beberapa kali bunyi dering.

“Ya…halo Q….” Nesa mendengar suara suaminya.

“Al ini lam_”

“Q, bisa telpon nanti?”

“Aku cuma mau tanya_”

“Aku lagi pegang cangkir yang isinya air panas Q! 5 menit aku telpon!” Nada Al terlihat tegas dan memerintah. Al mematikan ponselnya.

“Ok” Nesa menjawabnya, tentu saja Al sudah tak mendengarnya.

Nesa yang sedang kuatir dengan kondisi gelap, mencoba menenangkan dirinya sendiri.
Sambil terus menatap ponselnya untuk penerangan, dia juga melihat sudah berapa lama dia menunggu.

Sudah lewat 10 menit, tapi Al tak menghubungi nya. Hatinya makin resah.
Dia pun berinisiatif menelepon Al lagi, setelah beberapa kali dering, suaminya tak menerima panggilannya. Dia mengulang kembali. Dan hasilnya sama.

Tanpa pikir panjang, dia menelepon seseorang.

“Ya Babe?”

“Dimas…lampu mati….” Ucap Nesa lirih. Dimas bisa mendengar suara yang memancarkan rasa takut dan resah.

“Ok Baby….kamu diam, jangan di tutup telponnya! Kamu liat layar terus! Aku ke sana ya….kamu sekarang duduk dimana?” Tanya Dimas berusaha menenangkan Nesa.

“Aku di sofa ruang TV….”

Sepanjang perjalanan Dimas berusaha mengajak bicara Nesa untuk mengalihkan rasa takutnya.
Wanita yang tinggal sendirian di rumah menuruti kata Dimas, dia menatap cahaya monitor ponselnya.

Sesekali dia melihat sekeliling yang masih gelap gulita.

Sekitar 10 menit.

“Babe…aku uda di depan…kamu dengar suaraku?!” Dimas berbicara sambil memegang ponselnya.

“Iya…Pintunya belum sempat aku kunci….” Nesa masih bersuara lirih.

Dimas mematikan ponselnya, dan membuka kenop pintu utama. Dengan penerangan ponselnya, dia memasuki rumah.

Dimas mengucapkan salam dengan lantang, Nesa menjawabnya.

“Dimaaassss…..” rengek Nesa saat melihat bayangan tubuh manusia dengan cahaya yang minim.

“Iya ….kamu diam ditempat!” Dimas menjawab untuk menenangkan. Dia bisa melihat dimana Nesa berada.

Dengan langkah perlahan Dimas menghampiri Nesa.
Reflek Nesa memeluk Dimas dan tak terasa dia menitikkan air mata.

Menangis karena kecewa terhadap suaminya.
Menangis karena ada seseorang yang menemaninya.

“Masih takut gelap?” Tanya Dimas sambil mengusap punggung Nesa.

Dia bisa merasakan detak jantung Nesa yang berdegup kencang karena ketakutannya.
Nesa tak menjawab, ia mempererat pelukannya.

Setelah beberapa saat, Nesa menguraikan pelukannya.

“Uda makan?” Tanya Dimas.

“Uda…”

“Nggak ada cemilan? Aku laper….”

“Ada. Cari lilin dulu ya…. rasanya ada di dapur, tapi aku nggak tau yang disebelah mana…”

“Ok…aku cari dulu” Dimas berdiri dari sofa.

“Ikut!” Nesa memegang lengan Dimas.

Akhirnya mereka ke dapur, dan berhasil menemukan apa yang mereka perlukan.

“Jangan bilang ayah, ibu sama kakak ya….” Ucap Nesa yang duduk di sebelah Dimas.

“Maksudnya?”

“Jangan bilang kalo aku telpon kamu. Ntar mereka bisa ngamuk ke Al ….”

“Emang Al nggak tau kalo kamu takut gelap?”

“Dia nggak pernah nanya!” jawab Nesa enteng.

“Kalo dia tau…kan lebih enak…dia pasti taruh emergency lamp nggak jauh-jauh dari sofa dan tempat tidur.”

“Jadi kamu keberatan datang kesini?” Tanya Nesa tersinggung.

Dimas terkekeh dan merangkul pundak Nesa.

“Baby….kapan aja kamu panggil aku…..aku pasti datang.”

“Emang kamu tadi dimana? Wangi banget!”

“Mau kerumah teman….”

Setelah bicara panjang lebar, Nesa tertidur di sofa.
Saat listrik kembali menyala, Dimas terpaksa membangunkan Nesa dan berpamitan pulang.

Bersambung

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Tamat