Complicated S2 Part 16

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Tamat

Cerita Sex Dewasa Complicated S2 Part 16 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Complicated S2 Part 15

“Mbak! Tolong bantuin rambut Illo….” rengek adek Al saat melihat Al dan Nesa memasuki rumah.

“Illo..mbak mu belum salaman…. belum duduk…. uda di suruh-suruh.” Rena melirik anak gadisnya yang manja.

“Nggak papa mom….” ucap Nesa sambil mencium punggung tangan Rena lalu cipika-cipiki.

“Rambutnya mau di apain?” tanya Nesa saat Illo mencium pipinya.

“Queen, aku di luar ya…” pamit Al menyela ketika mendengar ponselnya berbunyi. Dan Nesa hanya bisa tersenyum dan mengangguk.

“Terserah mbak Nesa aja…..” balas Illo yang mengembalikan topik ke rambutnya.

“Emang mau kemana?”

“Ulang tahun di club, temannya Robi….Eh iya mbak! Kalo mau cat rambut yang kayak mbak Nesa pake cat rambut apa?” tanya Illo saat membelai rambut Nesa yang coklat gelap dan tebal.

“Cari warna yang pas buat kulit kita itu susah Illo…kadang bagus di mereka, tapi nggak pantas di kita. Ini aja mbak 3 kali ganti cat rambut….baru ini yang cocok”

“Cat ijo aja Lo…..” ujar Al yang tiba-tiba muncul.

“Mesti kalo ada mas ngomongnya ngaco…..” ucap Illo dengan cemberut.

Al hanya terkekeh melihat adiknya.

“Telpon dari sapa?” tanya Nesa saat menerima ponsel suaminya dan memasukkan didalam tas kecilnya.

“Biasa…dari warung. Ada yang minta ijin.” jawab Al.

“Terus?”

“Aku suruh tutup aja…..” balas Al.

“Uda punya istri lho Al…….” Rena mengingatkan.

“Iya mom…di rumah juga uda dipasang kok fotonya. Al nggak bakal lupa yang mana istri Al…..”

“emang yang istrimu yang gimana?” tanya Nesa melirik dan memiringkan kepala, melihat suaminya.

“Hmmmmm…yang gimana ya?” Al melihat sekilas istrinya lalu menatap langit-langit ruangan.

“Cantik sich……tapi kalo cemberut_”

“Cemberut???” potong Nesa melihat ke Al dengan wajah penuh tanya.

“Kemarin! Waktu di kantin…..”

Nesa menghela napas ketika mengingat peristiwa itu.

“Sapa yang nggak cemberut mom?! kalo dia di godain wanita masih tetep mesam-mesam. Itu ada Nesa lho mom…..kalo nggak ada Nesa gimana?” Nesa mengoceh dan melihat Rena seolah mengadu. (Mesam-mesem = senyam-senyum).

“My Queen….Walaupun ada miss universe senyum ke aku…aku nggak bakal tergoda kok…percaya dech!”

“Ya iya lah…coz it’s impossible!”

“nah itu tau!” Al semakin menggoda istrinya.

“Jadi kalo kenal, ada kemungkinan bisa tergoda?!” Nesa menatap suaminya dengan serius dan mulai emosi.

“Ya tergantung….” Al terus menggoda.

“Tuh kan! Awas aja ya kalo ketahuan! Aku buat reputasimu buruk!” Nesa melihat tajam suaminya.

“Becanda my Q…..aku nggak bakal tergoda, aku nggak mau liat istriku yang cemburuan ini kesal…” Al menenangkan Nesa, meraih tangannya dan menciumnya berkali-kali. Perlahan emosi Nesa mereda.

Rena serta Illo merapatkan bibir dan menahan senyum melihat pertengakaran kecil newbie ini.

Mereka saling menatap hangat, Al memainkan ibu jarinya di jari-jari Nesa.

“Aku benci sama kamu….” ucap Nesa lirih, menatap mata suaminya.

“Kenapa?” tanya Al tak kalah lirih.

“Bulu mata kamu itu bikin ngiri….”

Al langsung tersenyum mendengar pujian dari istrinya. Al terlahir dengan bulu mata yang panjang dan lentik.

“Nes….makan sekarang yuk!” ajak Rena yang sekarang berdiri dan diikuti oleh Al serta Nesa.

“Mommy…mereka lagi seru-serunya…..” protes Illo yang baper melihat Nesa dan kakaknya.

“Kamu pikir kita lagi shooting telenovela?!” ucap Al lalu melempar bantal ke adiknya.

“Drama kalian lebih seru kayaknya…..” Illo mengikik dan mengikuti langkah mereka ke meja makan.

“Illo…panggil Daddy! Bilang kita uda di meja makan. ” pinta Rena.

“Bilang kek dari tadi….” ucap Illo berbalik arah dan menuju ruangan kerja Dani.

Mereka sudah duduk di meja makan, menunggu Dani menyelesaikan pekerjaannya.

Dan tak lama mereka makan malam bersama di selingi pembicaraan hangat.

Usai makan malam, Nesa mendandani rambut Illo seperti janjinya. Dan setelahnya, wanita itu ikut bergabung dengan suami serta kedua mertuanya.

“Rambut Illo jadinya di apain?” tanya Al melihat istrinya berjalan menuju ke arahnya.

“Cuma di buat gelombang bagian ujung…” jawab Nesa sambil duduk di sebelah suaminya.

“ASTAGFIRULLAH!” Nesa memekik dan meremas paha suaminya. Ruangan mendadak gelap gulita.

“Aku disini Q…” bisik Al dan merengkuh tubuh Nesa yang duduk di sebelahnya.

“Kayaknya di belakang ada yang kongslet mas…..soalnya uda 3 kali mendadak mati gini.” Rena mengadu ke Dani. Pria paruh baya itu menelepon security dengan ponsel yang tak pernah jauh darinya.

Dan tak sampai 2 menit lampu sudah menyala lagi.

Al melihat istrinya yang berlindung didadanya, dia masih memejamkan matanya dengan rapat.

“Takut gelap?” tanya Al pelan.

“Cuma kaget …..” cicit Nesa.

“Uda nyala Q…buka donk matanya….” Al membujuk istrinya mencium puncak kepalanya berkali-kali.

“Maaf ya Nes…ini pasti nggak nyaman banget…” Dani berkata.

“Nggak papa kok Dad…Nesa cuma kaget aja….” ucap Nesa berusaha menenangkan dirinya lalu tersenyum.

“Besok uda masuk ya?” tanya Rena.

“Aku aja mom…dia lusa…” jawab Al yang masih memeluk istrinya.

“Bukannya mommy ngusir, lebih baik kalian pulang sekarang aja. Besok pagi supaya nggak telat…..” kata Rena.

“Biar pun pulang, mereka juga nggak bakal langsung tidur Ren…” Dani menggoda anaknya.

“Kita emang nggak tidur , soalnya mau ke supermarket dulu…ngisi kulkas dad. Mampir ke rumah bentar.” ucap Al yang sudah berdiri sambil mengulurkan tangan, dan Nesa menyambutnya.

Mereka berpamitan, Nesa melihat suaminya terkekeh saat Dani berbisik di telinga Al.

***

“Mau yang mana?” Tanya Nesa melingkarkan lengan di pinggang suaminya. Dia melanjutkan mencium lengan atas Alvaro.

“Kamu suka yang mana?” Al bertanya balik sambil kedua tangannya masih memegang 2 kotak ice cream.

“Pokoknya yang ada strawberry nya….”

“Sepemikiran!” Ucap Al dan tersenyum hangat ke istrinya.

Mereka kembali melanjutkan mencari kebutuhan. Dan setelah dari supermarket, Al menunjukkan rumah yang akan mereka huni.

“Emang Daddy tadi ngomong apa? Kok kamu senyam-senyum gitu?” Tanya Nesa saat berada di dalam mobil, menuju hotel.

“Biasa….minta cucu. Baru aja nikah, uda pengen punya cucu.”

“Lalu?”

“Aku bilang, ntar kita buatkan. Sepasang cewek cowok mirip aku, sepasang cewek cowok mirip kamu, dan sepasang lagi the best gen dari kita berdua.”

” Jadi semuanya…..6?! 6 Al?!” Tanya Nesa tak percaya dengan rencana suaminya. Wanita itu menarik nafas dan menggelengkan kepalanya.

“Iya! Kita akan punya 6 anak. Dan aku minta seperti tadi. Kalo bukan yang seperti tadi. Kita buat terus sampe sesuai pesanan tadi.”

“AUW Q! Sakit!” Pekik Al saat menerima cubitan di lengannya. Menoleh sekilas ke istrinya sambil meringis.

“Kamu pikir gampang ngurus anak? Biaya kesehatan? Biaya pendidikan?” Nesa mengoceh dan melotot ke suaminya. Lagi-lagi Al berhasil menggoda mood istrinya. Pria itu menahan senyum.

“Ngeliat kamu dan anak-anak membuat semangat kerja ku makin tinggi.”

“Lagian nggak cuma dari segi finansial aja Al…. mereka juga butuh perhatian.”

“Iya sayang…iya….Kita buat satu dulu ya. Test produk.

“Emangnya pabrik? Pake test produk segala?” Nesa menggerutu. Al tersenyum lagi.

“Aku nggak sabar liat kamu kalo hamil. Pasti rumit dan complicated…..” Sambil tersenyum, Al membayangkan bagaimana emosi istrinya saat hamil

“Rumit dan complicated gimana maksudnya?” Tanya Nesa.

“Nggak! Nggak papa kok…” Al tak berencana menggoda istrinya lebih lanjut. Bisa anyep kegiatan malam harinya.2

***

Usai bercinta, Al merebahkan kepalanya di dada Nesa.

“Beautiful eyelashes….” Bisik Nesa saat melihat bulu mata suaminya.

“Beautiful package….” Balas Al dan sedikit menoleh, mencium aroma Nesa di ceruk lehernya.

“Al…..”

“Hm…..”

“Beberapa hari setelah nikah, kita selalu bersama. Besok kamu uda mulai kerja. Aku nggak bisa ngawasin kamu lagi….”

“Ngapain di awasi? I’m not a lil boy….”

Nesa menarik nafas.

“Aku takut kamu tergoda. (Nesa mencium kening suaminya). Jangan ada orang lain di antara kita ya Al….Aku takut….”

“Kita selalu bersama Q…..kamu percaya aku kan? You are always in my mind and my heart, Vanesa Laksono Queen….” Al mencium punggung tangan istrinya.

“Bagaimana kalo ada?”

“Nggak boleh negatif thinking. Dan hal itu tidak pernah akan ada. Cuma ada Vanesa Laksono Queen dan Alvaro Rendi Artomoro…”

******

“Al….ini uda jam 8. Ngapain kamu masih di sini?” Tanya Nesa saat keluar dari kamar mandi. Dia masih melihat Alvaro berdiri tak jauh dari ranjang dengan baju yang sudah rapi.

“Kamu ikut ke kantor yuk……..” Bujuk Al dengan manja.

Nesa menghampiri suaminya dan tersenyum. Al menarik pinggang Nesa, tubuh mereka berdekatan.

“Kantornya 2 tower sebelah hotel ini. Cuma jalan kaki. Kalo senggang….kamu bisa ke sini….” Nesa tak bosan melihat mata Al dengan bulu mata yang indah.

“Justru itu….kan deket….kamu ikut aja….”

“Kenapa?”

“Masih pengen sama kamu…..”

Nesa mencebikkan bibir.

“Kamu kalo uda liat kerjaan, pasti lupa …lagian apa kata orang kalo tau kamu kerja di tungguin istri…”

“Nggak peduli. Pokoknya aku mau sama kamu…..cuma duduk aja…” Al tetap merayu Nesa.

Nesa menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskan.

“Gini dech! Ntar aku ke sana jam makan siang. Aku beli makanan, kita makan di ruangan. Hmmmm… mungkin setelahnya kita bisa sedikit bercumbu.” Nesa menggoda suaminya.

“Kan…. omongannya malah bikin males berangkat.” Al mencium ringan bibir istrinya.

“Bapak Alvaro….jangan rusak nama Artomoro. Apa kata Daddy kalo tau anaknya gini? Pasti aku yang kena….”

Alvaro mendengus kesal, dia membenarkan istrinya. Lalu pria itu mencium lagi bibir istrinya beberapa kali secara singkat.

“Jam 11 kamu harus sudah ada di ruangan ku! Kalo kamu nggak datang jam 11, besok aku buat nggak bisa kerja.” Al mengedipkan sebelah matanya dengan genit dan melepaskan lilitan tangannya.

“Ok! Jam 11 di ruangan pak Alvaro….”

Akhirnya dengan langkah yang berat, Alvaro meninggalkan Nesa di kamar hotel.

Saat memasuki kantor, beberapa kali Al mendapatkan ledekan dari teman sejawat. Walaupun Alvaro keturunan konglomerat, tapi pria itu sangat rendah hati. Dia berharap, orang lain tidak menilai dirinya sebagai Artomoro, tapi sebagai Alvaro secara individual yang butuh teman untuk bercanda dan tertawa.

Sebelum jam 11, Nesa memasuki unit kantor pusat Surabaya, dimana suaminya bekerja.

“Cie….mbak Nesa….. langsung masuk aja mbak! Pasti uda ditunggu pak Alvaro….” Ucap si receptionist saat melihat Nesa.

Pipi Nesa merona dan tersenyum mendengar sambutan itu. Setelah mengucapkan terimakasih, wanita itu memasuki ruangan suaminya.

Dia mengetuk pintu.

“Siapa?!” Tanya Al yang matanya masih menatap monitor lappy.

Nesa tak menjawab, dia mengetuk pintu lagi.

“Siapa ya?!” Nada Al lebih tinggi dari sebelumnya.

Nesa tetap tak menjawab lagi, dia kembali mengetuk pintu.

“Duh! Sapa sich?! Jangan main-main ya! Awas kalo nggak penting!” Kini Al berteriak, mau tak mau dia bangkit dari kursi dan berjalan membuka pintu.

“Q?!” Ucap Al dengan wajah berseri dan tersenyum melihat wajah istrinya.

“Kayaknya aku datang di saat yang salah. Belum jam istirahat. Dan aku merasa tidak penting, soalnya nggak ada hubungannya dengan kerjaan….” Nesa berkata dengan cemberut.

“Sapa bilang nggak penting? Demi kelancaran pekerjaan, ada kebutuhan penis yang harus disejahterakan.”

“Al! Mulutnya!” Bisik Nesa dengan tekanan dan menoleh kanan-kiri.

Al menyeret tangan istrinya, dan menutup pintu.

“Kenapa? Kamu boleh ngomong vulgar….”

“Ya harus tahu tempat donk Al…..”

Al kembali melanjutkan pekerjaan yang beberapa hari dia tinggalkan. Lalu mereka makan siang bersama di ruangan Al.

“Al….Uda jam setengah dua.” Ucap Nesa yang berdiri melihat pemandangan diluar gedung, terlihat bangunan hotel dimana mereka menginap, apartemen dan kolam renang.

Al memeluk Nesa dari belakang, meletakkan dagunya di pundak istrinya dengan mata terpejam, menikmati aromanya.

“Kenapa? Kamu nggak ganggu …aku lebih nyaman kalo kamu disini….” Bisik Al.

“Rasanya nggak profesional banget Al…..”

Pria itu tak peduli dengan ucapan istrinya.

“My favor (Al mengecup leher Nesa)…. disini aku bisa merasakan aroma wangi (dia melakukannya lagi)….disini aku bisa merasakan aroma khas tubuhmu (lagi)…disini aku bisa merasakan detak jantungmu (lagi)….disini aku bisa merasakan hangat (lagi)…disini aku bisa merasakan gairah mu (dan lagi)….” Al berbisik sambil terus menciumi leher istrinya dan tangannya melingkar di perut. Nesa hanya bisa menggeliat dan merasakan cumbuan.
Sesekali Nesa menahan nafas, saat suaminya mencumbu tepat di titik rangsangnya. Dia berusaha sekuat mungkin untuk menahan lenguhan dan desahan.
“Sudah ya Al….aku yang nggak enak….ntar kita lanjutkan lagi di hotel ya….” Nesa berkata lirih.

Alvaro mendengus kesal, lalu dia menguraikan pelukannya. Dan ia kembali di balik mejanya, membereskan semua dokumen.

“Kita balik ke hotel sekarang aja! Aku uda selesai kok….”

“Kamu jangan marah…. rasanya nggak enak aja, ini kan tempat kerja.”

Al menghampiri istrinya, dan menangkup kedua pipinya. Dan dia tersenyum.

“Aku nggak marah sayang…. pengantin baru nggak boleh marahan….rugi amat!” Nesa terkekeh mendengarnya, dia tahu maksud suaminya.

Akhirnya mereka berdua keluar dari ruangan Al.

“Alvaro!” suara wanita memanggil namanya yang tak jauh dari meja resepsionis.

“Maura?! Kamu ngapain disini?” Al menyambut wanita itu yang ditemani oleh suaminya.

Mereka saling bersalaman.

“Kemarin baru resepsi, sekarang uda jalan-jalan….” Ucap Al.

Maura adalah mantan Alvaro yang baru saja nikah kemarin, yang dihadiri oleh mereka.

“Dia mau ganti ahli waris di polisnya. Kan kita uda nikah, dan ntar lagi mau punya anak…..” Ujar Maura sambil mengusap perutnya yang buncit.

“Oh iya…harus itu! Karena uda punya tanggungan.” Balas Al.

“Kamu juga uda pindahkan ahli waris?”

“Belum! Nanti aja….”

Maura tersenyum kecil dan melihat ke arah Nesa.

“Nes….kamu harus tahu aset suamimu, jagain aset nya..jangan sampe pindah ke orang lain.”

Nesa tersenyum, rasanya tak sopan membicarakan suatu hal yang sensitif, uang dan kekayaan.

“Ntar dech mbak…. saya belum mikir sampe ke sana. Nggak ada waktu….. Ini aja uda menelantarkan salon kecil saya, belum ke notaris untuk pindah nama ruko yang dihibahkan ayah, ngurus surat perjanjian sewa tanah dengan petani di Malang…. bingung …mana yang harus di urus duluan.” Nesa mengoceh seolah dia menikahi Al bukan melihat hartanya. Dan dia juga menunjukkan bahwa secara finansial dia sudah berkecukupan.

Al tampak mengerti dengan penjelasan Nesa yang panjang lebar.

“Kamu ke bagian Customer Care aja ya….ntar kamu sampaikan keperluannya. Kita lagi buru-buru. Duluan ya!” Pamit Al tanpa mendengar balas, lalu menggenggam tangan istrinya berjalan meninggalkan kantornya. Mereka kembali ke hotel.

“Al……” Panggil Nesa lirih saat mereka terbaring di ranjang usai bercinta.

“Iya Q……”

“Kamu nggak ada pikiran kalo aku mau sama kamu karena harta kan?” Tanya Nesa. Dia merasa tak nyaman dengan ucapan Maura.

Alvaro memiringkan tubuhnya dan memandang wajah Nesa yang menoleh ke arahnya.

“Baru kamu yang melihat aku sebagai Alvaro sesungguhnya….aku pernah mau disantet, di nyinyirin kakak ipar, di anyepin, ngambek waktu di lamar….aku nggak pernah nemuin wanita kayak kamu Q….dan penolakanmu membuat aku selalu mikirin kamu….so i have to fight to have you….”

Nesa mengembangkan senyumnya mendengar penuturan Al.

“I love you Al….and thanks for loving me….”

Pria itu membalas tersenyum dan menganggukkan kepalanya.

“Kok nggak dibalas sich?!” Ucap Nesa dengan cemberut.

“Dibalas apa?” Tanya Al menahan senyum, dia tahu apa yang di inginkan istrinya.

“Ck! Dasar! Pria aneh!” Nesa menaikkan selimutnya hingga hanya kepalanya saja yang terlihat, lalu membalikkan badannya dan memunggungi suaminya.

“Masih jam 9, Q…..jangan tidur! lanjut donk….” Al menggoda Nesa.

“Lanjut aja sendiri!” Nesa berucap singkat dan sinis.

Al mendekati telinga Nesa dan berbisik.

“Always love you my Queen..You are my life…you are my world…you are my everything……can’t live without you.”

Ucapan Al membuat hati Nesa tenang dan membuatnya tersenyum lagi.

Pria itu memaksa tubuh istrinya berbalik, dan menindihnya.

“Lagi yuk!” Al memainkan alisnya naik turun.

“Lagi apa?” Nesa menggoda suaminya, pura-pura tidak paham.

“Aaaaaallll!” Nesa menjerit dan tertawa saat suaminya menyerang tubuhnya dengan kenikmatan.

**********

Hari ini mereka masuk kerja untuk pertama kalinya menjadi sepasang suami istri.

Atas permintaan Nesa, mereka sepakat untuk tidak terlalu mengumbar kemesraan di sekitar lingkungan kerja.

“Inilah salah satu kebencian ku. Aku nggak bisa menyentuh istriku sendiri, karena menjaga nama besar keluarga. Harus profesional! Huffftttt….” Al mengungkapkan uneg-unegnya saat di dalam lift yang hanya berisi mereka berdua.

“Kan uda lama quality time di hotel semalaman…..ntar pulang juga ketemu lagi….” Nesa menenangkan suaminya.

“Kamu kok bisa tenang gini sich? Atau sengaja nggak pengen aku dekati? Supaya bisa lirik sana-sini?”

“Mau ngelirik sapa? Mencurigai aku?”

Al terkekeh, membalikkan tubuh istrinya, berdiri berhadapan lalu menangkup sebelah pipinya. Pria itu melihat bola mata Nesa yang indah. Mereka saling memandang dengan tatapan memuja. Al menghela napas melihat paras istrinya.

“Soalnya kamu cantik, mempesona, wangi….perfect lah pokoknya….” Al memegang dagu istrinya.

“Perfect?! Bohong! ” ucap Nesa lirih mencebikkan bibir.

“Kamu bilang payudara ku nggak cukup besar…..” Lanjut Nesa dan melihat bagian payudaranya, Al pun juga ikut kemana arah mata Nesa.

“Ck! mulutnya kumat…” Al mencium singkat bibir istrinya.

Nesa tertawa kecil seiring pintu lift terbuka dimana unit kantor Nesa berada. Wanita itu mencium punggung tangan suaminya, lalu keluar lift.

Mereka berdua tenggelam dengan pekerjaan.

‘Al…. kerjaan aku masih belum selesai. Kalo kamu keburu ke warung, kamu duluan aja. Ntar jemput aku di rumah ayah, ada barang yang harus aku ambil.’ isi pesan Nesa ke suaminya saat menjelang jam pulang.

‘aku tunggu di mobil ya….’ Al membalas pesan.

***

“Kalian makan malam disini aja …” Kata Isti saat ada di kamar anaknya.

“Uda makan tadi di warungnya Al. Nesa cuma ambil sepatu sama novel, terus pulang…. belum siapin baju buat besok….”

“Eh iya! Kemarin Nila kesini, kasih undangan…ada di meja kerjanya ayah….”

“Ok…..”

Mereka keluar kamar, dan Nesa menuju meja kerja ayahnya. Lalu dia duduk di sebelah suaminya.

“Apa itu?” Tanya Al saat Nesa membaca undangan.

“Undangan Reuni SMA. Sabtu ini.” Nesa memberikan undangan ke Alvaro.

“Kamu mau datang?” Tanya Al setelah membaca sekilas kapan dan dimana acaranya.

“Kamu mau nganterin?” Nesa balik bertanya.

“Nggak sama Nila?”

“Nila nggak bisa, dia harus ke kondangan. Mewakili Bunda yang lagi keluar kota sama ayah.”

“Ya uda….aku anterin….”

“Bukannya kamu ke warung? Nggak usah datang nggak papa kok. Aku emang jarang datang ke acara kumpul-kumpul gini….”

“Nggak papa aku anterin….atau nggak mau datang soalnya takut ketemu mantan?”

“Ngaco kan?! Kalo kamu mau nganter, ya uda….aku mau datang…nggak usah melebar ke yang lain…..” Nesa tersinggung saat Al membicarakan mantan.

Dia tak suka jika membahas hal ini (mantan), karena beberapa kali dia melihat di media sosial, terdapat beberapa pasangan yang retak karena godaan sang mantan. Dan tentunya ada perasaan yang harus di jaga saat ini.

Selama menjalani pendidikan, Nesa tidak menjalin hubungan percintaan. Bukan seperti suaminya yang punya beberapa mantan, dan dengan entengnya mengenalkan ke dirinya.

Nesa hanya pernah sekali mengagumi seseorang, tapi ternyata tidak sesuai dengan sosok yang di idamkan, Rama …

“Ok….kita datang ….” Jawab Al setelah puas membuat istrinya cemberut.

Isti dan Aji menggelengkan kepalanya mendengar percekcokan anaknya.

“Yang laki seneng becanda …. kadang nggak tau perasaan istrinya….” Ucap Isti ketika mereka sudah berpamitan pulang, seolah tahu perasaan anaknya.

“Yang cewek semua nya di anggap serius….. apalagi yang ngomong suaminya….”balas Aji membela menantunya dan sesama pria.

“Ok….stop! biar jadi urusan mereka. Ntar juga gelud di ranjang….” Isti menyudahi topik pembicaraan.

“Gimana kalo kita gelud juga? kasian Ucil, udah lama nggak di angetin….” Aji menggandeng tangan istrinya, menarik ke kamar.

Di sisi lain, pasangan baru ini, pulang ke rumah dengan kekakuan. Beberapa kali Al bertanya, Nesa hanya menjawab dengan singkat. Dan selama perjalanan, Nesa selalu memandang keluar, melalui kaca jendela.

Keluar dari kamar mandi, Nesa melewati suaminya yang berdiri menunggunya. Al menarik tangan istrinya, lalu melingkarkan dipinggang nya. Dia juga melakukan hal yang sama ditangan Nesa yang satunya.

Dan kini kedua tangan Nesa melingkar sempurna di pinggang suaminya. Nesa menundukkan wajahnya.

“Ada apa?” Tanya Al mengangkat dagu istrinya. Lalu menyibakkan rambut yang menutupi wajah cantik Nesa.

“Nggak! Nggak ada apa-apa!” Nesa menjawab singkat dan melihat ke arah lain.

“Nggak mungkin nggak ada apa-apa kalo wajah istriku cemberut gini…. Q….kita mau tidur, nggak boleh ada amarah …kalo aku salah, aku minta maaf. Tapi tunjukkan ke aku…. salahnya dimana?” Ucap Al sambil mencium kening Nesa.

“Habisnya kamu enteng banget ngomong tentang mantan….” Jawab Nesa dengan mulut yang masih cemberut. Al tersenyum mendengarnya.

“Namanya mantan itu kan uda kelar. Nggak ada apa-apa lagi kan?”

“Tapi ngapain mesti disebut lagi kalo uda kelar? Kayak kemarin waktu resepsi….kamu ngenalin mantan mu…buat apa?! Supaya keliatan wow kalo punya banyak mantan?” Nesa mulai mengoceh.

“Bukannya lebih baik tau dari mulut ku sendiri? Kalo dengar dari orang lain, ntar kamu bilang ‘kok nggak bilang kalo dia mantanmu’.”

Dia menangkup kedua pipi istrinya yang terdiam.

“Q…. walaupun aku punya 1 atau 50 mantan. Yang namanya mantan ya mantan…Sekarang ini, aku sama kamu…..kita suami istri. Punya masa depan.” Ucap Al sebagai lelaki yang berpikir secara rasional.

“Lagian kenapa sich kok kayaknya sensi banget? Takut CLBK?” Tambah Al lagi sambil melihat mata indah istrinya.

Dan tebakan Al benar, anggukan Nesa membuat suaminya tersenyum.

“My Queen istriku….udah aku bilang berkali-kali. Di otakku, di hatiku cuma ada istriku. Vanesa Laksono Queen. Nggak ada istilah CLBK! Tapi kalo kamu….ya aku nggak tahu lagi.”

“Yeeeee…aku kan gadis lugu dan polos. Nggak pernah terlibat hubungan asmara.” Ucap Nesa sambil menjauh dari suaminya. Lalu dia membaringkan tubuhnya di tempat tidur.

“Nggak masalah walaupun punya mantan….yang penting sekarang kamu jadi milikku….” Ucap Al mengikuti istrinya merebahkan tubuhnya.

“Si bapak di bilangin nggak percaya….Nesa nggak ada mantan Pak…mereka takut ama kakak dan sepupu Nesa.”

“Nah! Kalo itu alasannya, aku sangat percaya 100 persen.”

“Uda ah…kita bobok! Besok pagi mau maem apa? Biar sekalian masaknya buat bekalku….”

“Nasi goreng aja. Tapi jangan tidur dulu….urusan Pino gimana? Pengen ketemu Vina….”

Nesa mengernyitkan dahinya, baru kali ini mendengar nama Pino dan Vina.

“Pino Vina siapa? Mantan kamu lagi?” Tanya Nesa yang membuat Al tertawa kecil. Al bergeser dan mengungkung tubuh Nesa.

“Mantan kok terus…..Penis dan Vagina sayang…” Ucap Al lalu mencium singkat bibir istrinya. Nesa mengikik ketika Al memberi istilah untuk kemaluan mereka.

“Kamu nggak capek? Tiap pagi dan malam lho Al…..”

“Kalo perlu siang juga nggak papa…tapi kamu nya yang jual mahal” bisik Al, wajahnya sudah bersembunyi di ceruk leher Nesa.

Bersambung

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Tamat