Complicated S2 Part 15

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Tamat

Cerita Sex Dewasa Complicated S2 Part 15 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Complicated S2 Part 14

Setelah melewati malam yang cukup panjang, akhirnya Nesa bisa tidur lelap. Tak butuh lama baginya untuk memejamkan matanya, karena dia benar-benar lelah.

Lelah dengan prosesi pernikahan sekaligus resepsi, lelah dengan kedatangan sepupu serta kakaknya, dan yang paling membuatnya lelah karena si suami yang belum puas bermain dengan tubuhnya.

Hingga Al terbangun, Nesa masih tertidur sambil meringkuk memunggungi suaminya.Perlahan Al menyibak selimut yang menutupi punggung si istri. Pria itu tersenyum ketika melihat beberapa bekas kecupannya di punggung mulus yang berwarna kuning langsat.

Al mencium tulang punggung istrinya, ciuman yang lembut perlahan naik hinggak ke tengkuk. Nesa menggumam saat merasakan geli di lehernya. Mau tak mau dia membuka matanya, lalu perlahan merubah posisinya menjadi terlentang.

Sambil mengerjapkan matanya beberapa kali, Nesa menoleh dan melihat wajah suaminya yang sedang tersenyum, memandangnya dengan hangat.

“Uda dari tadi ya bangunnya?” tanya Nesa dan mengusap rahang Al.

“Nggak juga! Bangun buat pesen sarapan.”

“Uda di anter?”

“Belum! Aku bilang jam 10, jadi masih ada waktu untuk 1 ronde lagi!” ucap Al sambil menurunkan selimut istrinya yang menutupi dadanya. Dan Al mengecup payudara Nesa yang kenyal beberapa kali.

“1 ronde nya sapa nich? ” Nesa mengernyitkan dahinya.

Jika Al menjawab 1 rondenya Nesa, maka permainan ini tak akan lama. Tapi jika 1 ronde untuk untuk pria itu sendiri, maka permainan ini akan memakan waktu cukup lama. Karena Al akan menyiksa Nesa dengan kenikmatan.

“Kita berdua Q…” bisik Al mencium lembut pipi Nesa, lalu melumat bibir istrinya.

Sambil memberikan kecupan di bibir istrinya, perlahan Al menyibak selimut yang menutupi tubuh Nesa.

Mulut Al berpindah mengulum puting Nesa, dan tangannya mengusap kemaluan istrinya, seketika wanita itu menggelinjang. Nesa mendesah nikmat di telinga suaminya, sesekali dia menggigit lembut telinga Al. Pinggul Nesa mulai bergerak ketika jari-jari suaminya mengobrak-abrik kemaluannya, sambil menikmati kuluman di putingnya.

Cairan cinta terus keluar dari milik Nesa, sehingga menimbulkan suara kecipak saat jari Al memainkan lubang surgawinya.

“Sudah basah dan licin. Kita main cepat ya Q..” bisik Al saat melepaskan kulumannya.

Pria itu beralih di antara 2 paha istrinya, memisahkannya lebih lebar lagi.

“Oughhh…” suara Nesa ketika Al menenggelamkan kepalanya di antara 2 paha istrinya.

Al menggoda dengan menjilati kemaluan istrinya yang terus mengeluarkan cairan. Kadang dia menggigit lembut dan mengecup kuat hingga Nesa memekik kecil dan mengangkat pinggulnya. Al kembali memasukkan jarinya di kemaluan istrinya, dan dia mengungkung istrinya. Perlahan Al menyatukan miliknya, menggantikan jarinya.

“Hmmm..Q….” bisik Al saat kaki Nesa melilit pinggangnya, dia merasa miliknya diremas.

Al mulai menghentakan tubuhnya dengan menyembunyikan wajahnya di leher istrinya, mencium dan menjilati. Setelah beberapa saat saling menggoyangkan pinggulnya, mereka mencapai titik kenikmatan.

AL berguling di sebelah Nesa, keduanya beberapa kali menghela nafas panjang.

“nanti jam 12 ada housekeeper, aku minta ganti spreinya” ucap Al dan menarik tubuh Nesa ke dadanya.

“Malu Al…ada darahnya gitu….”

“Terus kamu mau cuci sendiri? Mana ada Q…….” ucap Al dengan terkekeh.

“Terus bilangnya apa kalo di tanya ada noda di sprei?”

“Housekeeper uda tahu kalo kita habis bercinta. Mereka uda biasa kayak ginian….kita bukan pasangan pertama. Tugas mereka bersihkan kamar, bukan nyinyir.”

Terdengar suara ketukan pintu. Nesa bangkit dari rebahan dada suaminya.

“Aku mandi duluan ya! Kamu nggak pengen temani aku mandi?” Nesa berjalan ke toilet sambil menggoda suaminya dengan tubuhnya yang polos

“AUW!” pekik Nesa saat Al memukul pantatnya ketika berjalan melewatinya.

“Mulutnya itu lho…..” ucap Al memakai celana sambil menggelengkan kepalanya.

Usai sarapan yang kesiangan, mereka masih menunggu housekeeper untuk membersihkan kamar. Sesekali mereka bercanda dan menggoda, tentu saja diselingi cumbuan dan kecupan.

“Bosen di hotel mulu. Kita kemana gitu Al…..lagian kenapa sich kita tidur di hotel ini? Seberang gedung uda apartemen kamu…” ucap Nesa yang mengusap lembut kepala Al yang rebahan di paha istrinya.

“Suasana baru Q…Lagipula barang-barangku uda nggak disitu lagi. Aku pindahin ke rumah kita.”

“Jadi kapan kita pulang ke rumah?”

“Paling 2-3 harian… biar bau lembabnya ilang dulu, sekalian dibersihkan. Ntar jam 6 kita ke warung kopi yang dekat sini. Besok Senin, kan masih libur libur, aku ajak ke kantin kampus. Mau?”

“Ok….”

Dan disini lah Al dan Nesa berada, warung kopi jalanan. Al menyapa pegawai yang sedang menjaga, dia memperkenalkan istrinya.
Al tampak luwes membantu pegawainya dibalik gerobak. Pria itu meminta istrinya untuk duduk tak jauh dari pandangannya.

Tentunya kehadiran Nesa menarik perhatian pengunjung. Saat mereka menikmati minuman dan makanan, mereka menoleh dan melihat paras cantik istri si pemilik warung. Bahkan ada yang beberapa kali menatap Nesa. Bagi mereka jarang sekali wanita macam Nesa yang terawat nongkrong di warung kopi pinggir jalan.

Sedangkan Nesa tampak cuek, dia sibuk membalas chat dari keluarganya dan Nila. Al beberapa kali berdehem, mencari perhatian istrinya, tapi sayangnya wanita itu tak merasa. Nesa masih fokus dengan ponselnya di temani semilir angin jalanan dan suara kendaraan yang lewat.

Makin lama, pengunjung makin rame. Al menghampiri Nesa, dia berdiri di belakang istrinya yang sedang duduk, lalu mencium kepalanya. Seolah memperlihatkan ke semua lelaki, dia lah sang pemilik wanita cantik ini.

“Jalan lagi yuk!” Bisik Al.

Nesa mendongak, melihat wajah tampan suaminya dan tersenyum.

“Ok….”

Dan kini mereka kembali di hunian sementaranya. Usai bercinta untuk yang kesekian kalinya, Nesa merebahkan kepala di setengan dada suaminya.

“Al…..” Suara Nesa lirih.

“Iya Q….” sambut Al.

“Kesan pertama liat aku gimana?” tanya Nesa.

“Yang pertama kapan?”

“Yang di Art Life….pasti jatuh cinta saat pandangan pertama kan?!” tanya Nesa dengan percaya diri. Al tertawa kecil dan mencium puncak kepala istrinya beberapa kali.

“Sapa yang mau jatuh cinta sama cewek kusam…. wajah berminyak…. masih ada keringat di jidat pula?! Untung masih wangi, kalo bau asap….pasti aku usir!”

“Bohong dikit napa?! Senengin hati istri……” Nesa merengut mendengar kejujuran suaminya.

“kan aku bilang wangi Q…..tapi di hari itu, kamu memang beda.” Al terkekeh dan mencium kepala istrinya lagi.

“bedanya apa?” tanya Nesa penasaran.

“Admin lain, waktu aku kasih nomor ponsel, langsung japri. Tanya status, ngajak nge date, ada yang basa-basi minta perhatian. Tapi dari sekian orang, nggak ada nomor kamu.”

“Soalnya Bapak ganteng sich….” Nesa memuji suaminya.

“Emang kenapa kalo aku ganteng?”

“Ya aku sadar diri lah…saingannya cantik-cantik semua, perawatan mahal, branded…..lebih baik ngalah aja….”

“Itu namanya pesimis, kalah sebelum berperang….”

“Lagian kalo aku ikut bersaing…mungkin kita nggak kayak gini, kamu pasti menyamakan aku seperti wanita lain….emang semua wanita harus ngejar-ngejar situ? Sok ganteng banget! ” Nesa berkata sambil mencebikkan bibirnya.

“Kamu juga sok cantik! Ngapain sich nggak save nomor aku?!”

Nesa mengikik lalu mencium dada suaminya.

“Habisnya si bapak waktu itu kalo ngomong astaga banget, …pedes,……….”

“Sekalinya di save, namanya cabe-cabean pula?!”

“Tapi bapak ambil kesempatan waktu tau namannya cabe-cabean….sok sok an marah…eh ujungnya main lumat-lumat aja….”

Al tertawa kecil saat Nesa mengingatkan peristiwa itu.

“Soalnya waktu itu cuma bibir kamu yang bisa meredahkan emosi Q…”

“Jadi kalo kamu lagi emosi, ngademinnya pake bibir aja gitu ya? Eh! Tapi kalo sekarang, pake bibir mana nich? bibir atas atau bawah?” Nesa menggoda suaminya dengan kata-kata yang sedikit vulgar.

Al menyibak selimut yang menutupi tubuhnya.

“Tuch! Dia lagi emosi! Coba tenangin!” ucap Al sambil mengangkat dagunya seolah menunjuk, dan bersamaan mereka melihat kemaluan Al yang sudah berdiri. Entah kenapa, gairah Nesa kembali bangkit.

“Pake bibir mana? atas atau bawah?” tanya Nesa dengan senyum menggoda, dan tangannya sudah menggenggam, meremas kemaluan Al, membuat si pemilik mengeram.

“Kamu pinter Q. Looks so expert….” Al menatap wajah Nesa dengan bergairah.

“Setidaknya ilmu bokepnya berguna.” balas Nesa dan mengecup ringan bibir suaminya.

“kita praktekkan semua yang ada di slack, my sweet ….”

“as you wish my man….”

Mereka kembali bercinta sebelum tidur.

Hari Senin, seperti yang dikatakan Al, hari ini mereka ke salah satu Universitas Swasta di Surabaya.

Mereka tiba sekitar jam 11 siang. Nesa memilih duduk di sudut, di pojok ruangan kantin. Dia melihat beberapa mahasiswi berbisik saat suaminya ikut bergabung dengan pegawainya yang sama-sama lelaki di dapur kecil, di balik etalase.

Nesa cemberut saat tahu para gadis menggoda Al dengan senyuman genit. Lalu dia beralih melihat Al, menunggu dan mengamati bagaimana responnya. Dia cukup bersyukur, suaminya fokus dengan segala hal yang ada di dapur. Tapi …..

‘ngapain dia yang bawa?! apa gunanya pegawai?!’ batin Nesa kesal saat dia melihat suaminya mengantar minuman di meja segerombolan gadis yang menggodanya tadi. Al dengan santai dan ramah tersenyum saat menghidangkan minuman. Nesa juga melihat, beberapa kali Al menjawab pertanyaan mereka.

Kantin makin rame ketika waktu menunjukkan pukul 12 lebih beberapa menit. Tak hanya gadis, kini dosen dan beberapa staff terlihat jelas mengoda suaminya, tidak ada rasa malu lagi.

‘kenapa para betina ini liar sekali?! jaga harga diri napa!’ batin Nesa. Dia muak saat mendengar:

‘mas Al lama nggak kesini …makin ganteng aja….’

‘calon mantu apa kabar?’

‘minum es sambil liat mas Al itu rasanya hidupku sempurna sekali…’

‘Eh ada mas Al…sama sapa ke sini?’

Nesa menggerutu dan membalas dalam hati, ‘sama malaikat pencabut nyawa! ini lagi duduk disini…..’.

Malah ada beberapa wanita yang tak mau duduk, dia sengaja berdiri hanya untuk melihat ketampanan Al lebih dekat. Membuat Nesa makin cemberut, dan melirik sinis ke arah suaminya yang kebetulan sedang melihatnya.

Al menyadari perubahan wajah dan sikap istrinya. Lalu dia meninggalkan dapur kecil dan menghampirinya. Dia harus tetap menjaga emosi Nesa, karena dia tidak mau melewatkan malam yang dingin sendiri.

Nesa sudah pernah mendiamkan dan bersikap dingin saat salah paham beberapa saat yang lalu, dia tidak mau mengulanginya lagi.

“Queen, pengen makan apa?” tanya Al dan mendaratkan pantatnya di seberang kursi Nesa. Istrinya menggeleng tanpa suara.

Beberapa pengunjung melihat ke arah mereka, lalu berbisik.

“Mau balik?” tanya Al lagi.

Nesa mengangguk.

“Okay…..” tambah Al dengan menghela napas. Sikap diam Nesa membuat Al cukup kuatir.

Al menggenggam tangan Nesa saat berpamitan dengan pegawainya dan pengunjung yang memadati kantin, perlakuan Al membuat hati Nesa cukup tenang.

Wanita itu makin girang saat mereka begitu keluar kantin, karena Al melingkarkan lengannya di pinggangnya. Moment itu membuat pengunjung yang masih mengamati dari kejauhan, dan bertanya pada pegawainya.

“Namanya mbak Nesa, istrinya mas Alva. Baru Sabtu kemarin nikah.” jawaban pegawai itu membuat patah hati para gadis.

“Tapi kenapa panggilnya Queen?” tanya seseorang.

“Di undangannya ada nama Queen nya…. Mungkin itu panggilan sayang nya mas Alva.”

Beberapa gadis yang menyimak karena kepo, melongo saat tahu Al memberikan panggilan sayang untuk istrinya. So romantic menurut mereka.

“Emang biasanya kamu sendiri yang nganter minuman ke costumer?” Nesa membuka pertanyaan setelah sekian menit terdiam di dalam mobil.

“Nggak ada salahnya sebagai pemilik terjun langsung menanggapi pelanggannya. Mungkin ada saran dan kritik.”

“Iya! mereka senang aja kamu datengin, di ajak ngobrol lama….sambil senyum-senyum genit…”

“Kebetulan pemilik warungnya ganteng…. jadinya menambah poin daya tarik….”

“Jadi sengaja?! sebenarnya yang kamu jual itu minuman atau apa? ”

“AUWWWWW! SAKIT!” Pekik Al saat Nesa mencubit lengannya. Sambil meringis dia mengusap sendiri bekas cubitan istrinya.

“Biarin! Lagian kalo minta kritik dan saran cukup kasih kotak di dekat meja.” balas Nesa sinis.

“Iya Q…. Besok aku belikan kotak kecil yang transparan…..” jawab Al sabar dengan nada merendah.

“Nanti malam jadi ke resepsi?” tanya Nesa.

“Jadi donk Q…sekalian reuni kecil-kecilan.”

“Ok! Kalo gitu sekarang ambil baju dulu di tempat persewaan baju..”

“Ngapain sewa baju? kok ngak beli aja?! Itu kan bekas orang…..”

“Uda di cuci Al….Kalo beli mahal, lagian nggak bisa gonta-ganti….”

“Paling ngak kamu harus punya Q….Atau kita mampir ke butik langganan mommy?”

“Nggak usah! Aku ada beberapa, tapi uda sering dipake. Sekarang ini aku mau sewa aja, tinggal ambil aja kok! Uda deal kemarin…”

“Ok…” jawab Al menuruti istrinya.

Dan pukul 6 petang mereka bersiap ke resepsi pernikahan teman Alvaro. Mereka sama-sama memakai baju berwarna hitam, seperti tamu kebanyakan. Lengan Al melilit pinggang istrinya secara posesif.

“Al, ini yang nikah siapa?” tanya Nesa saat memasuki Ballroom.

“Teman S1, teman S2, sekalian mantan pacar.”

Entah kenapa hati Nesa mencelos saat Al mengatakan ‘mantan pacar’.

“Emang harus disebut mantan pacar ?” Nesa melihat sekilas ke arah suaminya.

“Nggak usah cemburu. Sekarang aku kan uda jadi milikmu….Daripada kamu dengar dari yang lain, lebih baik dengar dari aku langsung kan?”

“Terus nanti ada mantan pacar yang lain juga?”

“Mungkin! Kan kamu juga mantan pacarku, tapi sekarang jadi pendamping hidupku…..” ucap Al sambil mencium pelipis istrinya.

Beberapa pria menyapa Alvaro, mereka saling berjabat tangan. Al tak lupa mengenalkan istrinya yang selalu mengembangkan senyum manisnya.

Mereka menuju pelaminan secara bersamaan untuk salaman dengan pengantin. Al juga memperkenalkan si mempelai wanita dan istrinya.

“Al…itu_”

“Yup. By Accident. Sebenernya bukan accident ya…soalnya suka sama suka.”

Nesa melihat bagian perut mempelai wanita tampak sedikit besar.

Lalu mereka bergabung dengan kerumunan teman Al.

“Ini mantan….ini juga mantan….” Al mengenalkan 2 wanita yang ada di kerumunan. Nesa dan 2 wanita tadi saling berjabat tangan. Lagi-lagi hati Nesa terasa tak enak saat Al menyebutkan ‘mantan’

“Dan ini mantan terindah….yang sekarang jadi istriku.” Tangan Al melingkar di pinggang Nesa.

“Kalo mantan terburuk sapa?” Tanya teman pria yang lain sambil terkekeh.

“Siapa lagi kalo bukan yang jadi pengantin sekarang?!” Jawab salah satu mantan Al.

“Kenapa yang terburuk?” Tanya Nesa ingin tahu. Dan menatap Al dengan penuh tanda tanya.

“Cerita dech Al… daripada kita yang ngomong….” Mantan Al yang lain bicara.

“Toxic relationship. Aku jalan sama dia, nilai akademis ku menurun. Dan aku nggak nyaman sama dia. Tapi waktu di putusin dia nggak mau….malah bikin malu. ”

“Bikin malu?” Tanya Nesa.

“Dia terobsesi ama Al. Dimana ada Al, di situ ada dia. Sampe tahun kemarin, masih tetep kepo . Tapi sekarang uda aman Al….” ucap mantan Al.

Setelah itu mereka saling menanyakan kabar masing-masing. Pembicaraan bergulir menjadi pekerjaan.
Makin lama, pembicaraan ini cukup membosankan bagi Nesa.

Wanita itu hanya diam, sesekali menoleh ke kanan-kiri.

Ternyata tak hanya Nesa, dia melihat 2 orang pria dan seorang wanita teman Al hanya terdiam.
Sangat jelas sekali mereka tidak tertarik pembicaraan ini.

Perlahan 3 orang itu keluar dari kerumunan. Dan perlahan Nesa juga mengikuti.

3 orang itu berdiri tak jauh dari meja dessert. Nesa berjalan sendiri sambil melihat menu yang di sajikan. Setelah mengambil menu yang dia inginkan, dia bergabung dengan 3 orang tadi.

“Mas…mbak uda makan?” Tanya Nesa ramah.

“Uda, tadi kita uda datang duluan. Masih pengen disini…..temu kangen.” Ucap salah satu Pria.

“Cobain kikil nya Dek….enak lho….” Kata si wanita.

“Iya mbak….kadang pengen kikil yang enak. Tapi Nesa nggak tahu kikil yang enak dimana ya? Kok kayaknya hampir sama aja….” Balas Nesa.

Akhirnya si wanita itu dengan antusias memberikan informasi tentang kikil yang terkenal di Surabaya. Dan tak hanya kikil, mereka kini membahas kuliner yang lainnya. Kadang mereka juga bercanda meledek Nesa yang baru saja menikah.

Disisi lain, Al tampak nyaman dengan topik bisnisnya. Hingga seseorang menyadarkan dia bahwa istrinya tak lagi di sebelahnya.

“Aku dengar kamu uda nikah Al…. istrinya nggak dibawa?! Takut ngelirik pria yang lebih tampan? Atau kamu yang masih pengen lirik sana-sini?” Ucap seorang pria yang baru saja bergabung.

Al pun menoleh ke kanan dan kiri. Mencari sosok istrinya, dia melihat Nesa berbincang akrab sambil tertawa bersama 3 temannya. Di waktu yang sama istrinya juga melihat Al.

Nesa melihat wajah Al dengan tanpa senyum, berjalan menghampirinya.
Dia berpamitan ke teman Al untuk ke toilet.

“Apakah sopan meninggalkan suami tanpa pamit?” Tanya Al sambil melihat wajah istrinya dari pantulan cermin ketika Nesa mencuci tangan.

“Apakah sopan membicarakan sesuatu hal tapi nggak semua orang tertarik dan memahami?” Balas Nesa.

“Apa sich maksudnya?!”

“Kalian ngomong terus masalah bisnis dan join bisnis. Membanggakan kesuksesan dan keberhasilan. Aku nggak paham tentang itu, Al. Rasanya bukan aku aja. Ada teman kalian yang mungkin tak seberuntung kalian, mereka minder, jadi mereka hanya bisa diam. Kamu nggak merasa kan saat aku dan 3 orang dari kalian keluar dari kerumunan?”

“Kita mumpung ketemu…. nggak ada salahnya kan kita bicara visi dan misi masa depan?”

“Nggak salah! Setidaknya tahu sikon lah….Pasti kamu tahu berapa orang yang merespon pembicaraanmu, dan bagaimana dengan yang lain yang hanya bisa diam? Mereka merasa tak di anggap?! Jaga donk perasaan mereka?! ”

“Ngapain harus jaga perasaan mereka?! Mungkin mereka aja yang kurang fight, lemah, mudah menyerah. Harusnya mereka dengar pembicaraan itu, supaya lebih termotivasi.” Al berkata layaknya wirausaha yang pantang menyerah.

” Nggak semua orang punya pemikiran yang sama. Dan nggak seharusnya kalian ngomong disini. Janjian kek, ngobrol yang enak. Kamu bilang ini seperti reuni kecil. Reuni itu mengenang masa saat kalian bersama, cerita hal konyol, yang indah…. Bukan ajang kesombongan dan kesuksesan, cari jaringan bisnis!”
Usai menyelesaikan kalimatnya, Nesa meninggalkan suaminya sendiri. Dan dia bergabung kembali bersama teman Al yang tadi.

Pria itu ikut berjalan membuntuti istrinya. Tapi sayangnya tidak sesuai perkiraan Nesa.

“Nanti kalo sudah selesai aku tunggu di sana!” Ucap Al setengah berbisik. Lalu dia tersenyum ke teman yang berbincang dengan istrinya.

Nesa makin dongkol saat Al kembali lagi bersama orang-orang yang otaknya hanya berbau bisnis.

‘Aku nggak bakal kesana!’ Nesa membatin kesal.

Nesa dan 3 teman Al kembali tenggelam dengan pembicaraan mereka yang saat ini membahas perkembangan kota.

Al sesekali melirik istrinya, tapi Nesa malah melengos dan memunggunginya. Pria itu menghela napas panjang.
Mau tak mau dia berpamitan, tapi sebelumnya mereka bertukar nomor ponsel.

“Kita balik yuk Q……” Bisik Al yang sudah berdiri di belakang istrinya.

“Uda selesai?” Tanya Nesa dan menoleh ke suaminya.

“Sudah…..”

Akhirnya mereka berpamitan dan kembali ke hotel.

“Tadi ngomong apa aja? Kok kayaknya seru banget…..” Tanya Al saat di dalam mobil.

“Lebih seru daripada dengerin seminar motivasi.” jawab Nesa singkat.

Al mengembuskan napas dengan kasar.

“Masih kesel aku sharing sama temen tadi?”

“Aku nggak kesel kamu sharing. Tapi kalian harus cari waktu dan tempat sendiri, di situ kamu bisa ngoceh tentang bisnis. Kalo tadi kan acara resepsi, datang untuk resepsi. Dan tolong hargai kehadiran orang lain. Aku nggak mau kamu dinilai sombong Al….”

“Iya….aku nggak bakal seperti itu lagi. Jangan marah Q…..” Al meraih tangan Nesa lalu menciumnya.

“Aku nggak marah …cuma ngingetin kamu aja….”

“Good….ntar malam kita praktekkan slack lagi ya…”

“Hmmmm…. maunya…. dasar otak selangkangan! Belum puas sama vagina?” Nesa mulai berucap vulgar.

“Mulutnya minta di bungkam!” Sahut Al dengan tersenyum.

Terdengar aneh baginya mendengar ucapan vulgar dari mulut wanita. Tapi entah kenapa, Al sangat bergairah dengan kata vulgar yang diucapkan istrinya.

“Bungkam pake apa nich? Mulut atau penis?” Nesa semakin menggoda suaminya.

“Q…. jangan godain terus. Ini celana uda nggak enak lho….” Al sedikit menunduk dan Nesa melihat kemana arah pandangan suaminya.

“Aku bebasin dia supaya nyaman”

“Q ngapain?! Aku lagi nyetir! Astaga…..” Nafas Al terasa berat saat Nesa dengan santai membuka gesper suaminya dan membuka kaitan celana. Jantung Al berdetak kencang.

Tangan kecil istrinya menurunkan resleting dan meloloskan miliknya yang sudah kaku dari celana dalam.

“Kok penisnya uda tegang?!” Nesa kembali berkata vulgar sambil meremas dan mengocok pelan milik suaminya.

“Q….kita di jalan….” Al beberapa kali menarik nafas panjang.

“Oooohhh….” Al mendesah saat Nesa mengulum miliknya.

Dengan terpaksa Al menepikan mobilnya, menikmati hisapan dan kuluman istrinya.
Sesekali tangan Al meremas payudara Nesa, membuatnya semakin bergairah.

“Q! Uda! Lepasin! Mau keluar!” Ucap Al dengan terengah-engah.

Pria itu meraih tisu dan menumpahkan spermanya.

Nesa sambil tersenyum membantu membersihkan sisa-sisa sperma.

“Tunggu pembalasanku Q….kamu nggak tidur malam ini!” Ucap Al dan menjalankan lagi mobilnya.

“Jangan lama-lama….kan besok kita ke mommy….” Nesa merayu dengan deg-degan.

“Mommy pasti memaklumi anaknya yang mesum….kita makan malam aja ke mommy…..”

“Aku pingsan sekarang aja….”

“Aku lebih suka kalo kamu pingsan. Mempermudah aku memainkan semua anggota tubuhmu….”

“Aaaaaallll….” Nesa merengek saat ucapannya tak mempan meredam gairah seks suaminya.

Bersambung

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Tamat