Complicated S2 Part 14

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Tamat

Cerita Sex Dewasa Complicated S2 Part 14 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Complicated S2 Part 13

Nesa terbuai dengan lidah Al yang memasuki rongga mulutnya, matanya terpejam merasakan si pria melumat bibirnya secara bergantian. Tangan Nesa tak tinggal diam, dia mengelus rahang Al dan meremas rambut si pria dengan lembut. Mereka saling mencurahkan rasa rindunya melalui lumatan, saling memanggut.

Sesekali Nesa menarik wajahnya, untuk bernafas, tapi tak lama Al menciumnya lagi. Rasanya pria itu tak puas menikmati bibir Nesa.

“Kita harus segera nikah Q…..” ucap Al dengan nafas terengah-engah.

Wajah mereka sangat dekat, bisa merasakan hembusan nafas yang satu dengan yang lain. Mata Al masih menyimpan hasrat yang tidak bisa dia lepaskan.

“Bapak yakin kalo saya wanita yang tepat untuk bapak?” bisik Nesa.

“Sangat yakin setelah kita bertemu kembali!” Al kembali mencium ringan bibir Nesa.

“Kapan sich Pak kita ketemu pertama kali? sampe sekarang saya nggak ingat…..” Nesa memainkan telunjuknya di pipi Al yang sedikit berbulu.

“Setelah makan aku cerita…laper Q…..” Al mengeluh.

“Ok..” ucap Nesa dan mengecup pipi Al.

“jangan godain Q…ini nahannya luar biasa lho…..” Al melepaskan pelukannya dan Nesa terkekeh mendengar ucapannya.

“Aku cium pipi doank…kan bapak yang cium bibir Nesa….” balas Nesa yang kini duduk di sofa.

Mereka makan dengan bercengkerama ringan.

Usai makan, Al membereskan piring dan mencucinya.

“Pak, saya pikir landasan helikopter itu cuma hiasan aja lho….” ucap Nesa ketika melihat sebuah kendaraan udara mendarat di seberang apartemen Al.

“Maksudnya?” tanya Al sambil menghampiri kekasihnya.

“Tuch! Ternyata beneran ada yang landing di situ ya….” Nesa menunjuk.

“Oh..Opa dan daddy uda datang….” balas Al santai dan kembali mencuci piring.

Nesa melongo mendengar ucapan Al, apakah telinganya tidak salah dengar.

“Opa?? daddy?? Itu yang naik heli daddy nya bapak?opanya bapak?” tanya Nesa sambil menghampiri Al, dia bersandar tak jauh dari tempat cuci piring.

“Iya, mau meeting…RUPS kayaknya….”

“Jadi itu heli punya_”

“Bukan! Itu bukan punya kita! Opa sewa aja…rugi beli gituan, nggak sebanding cost and benefitnya….”

“Terus RUPS maksudny apa?” tanya Nesa yang tak paham sama sekali.

‘Helikopter…..RUPS…..RUPS kan Rapat Umum Pemegang Saham…..’ Nesa masih membatin.

“Tau Art’s Group?” tanya Al sambil mencuci piring.

“Tau! Art Tower office building, Art Plaza, Art Hotel, sekarang aku di Art condominium residence, aku kerja di Art Life…masih banyak bidang usaha Art’s group lainnya…..”

“Pinter…..” Al menimpali dengan santai dan tersenyum.

“Terus daddy sama opa?”

“Opa Artomoro…Daddy juga Artomoro….aku juga Artomoro…”

“Maksudnya apa sich pak…?”

Al menarik napas, dan menghembuskan perlahan. Dia harus menjelaskan suatu hal yang malas dia bicarakan.

“Art’s group di ambil dari kata Artomoro. Nama besar keluarga. Karena kami pemilik saham lebih dari 50%.”

“God for shake!” Nesa tertegun mendengarnya.

‘Anaknya pemilik gedung sempet aku cuekin, kak Val sempet ngomong pedes, ayah pernah nyindir-nyindir. Pantes aja waktu mereka mau datang kerumah, ibu dan ayah heboh banget.’ batin Nesa dengan hati menciut.

“Bapak nggak bohong?!” tanya Nesa dengan wajah memelas dan tak percaya.

“Untuk apa aku bohong! Nama calon suami mu ini Alvaro Rendi Artomoro. Anak dari Daniel Artomoro. Tapi kita BUKAN pemilik gedung, mall dan sebagainya ya…itu salah besar! Kami hanya pengelola lahan kota ini dengan kontrak jangka waktu yang cukup panjang. Kalo pemkot ngusir sewaktu-waktu, kita nggak bisa ngapa-ngapain….” Al menjelaskan dan mencoba mengurangi rasa minder kekasihnya.

‘mana mungkin Pemkot mau gusur….kan dapat income dari situ juga…’ batin Nesa yang masih belum percaya status Al.

Al menggandeng Nesa yang tubuhnya melemas. Nesa merasa bersalah mengabaikan keturunan konglomerat yang satu ini.

“Bapak tolong ceritakan semua tentang keluarga bapak…tentang pertama kali kita ketemu. Semuanya Pak!” pinta Nesa sudah duduk di sofa.

Mereka duduk berhadapan, dan Al meraih tangan Nesa lalu menggenggamnya. Tangan Nesa cukup dingin, mungkin dia shock, terkejut dan minder.

“Ok, aku bakal cerita…tapi kita tetep baik-baik aja ya Q. Apa yang aku ceritakan nggak akan berpengaruh ke hubungan kita ya…..” ucap Al dan Nesa hanya bisa mengangguk.

“Kita ketemu pertama kali waktu masih kecil banget. Saat itu Illo nangis, soalnya nggak kebagian boneka limited edition. Kamu datangi Illo yang nangis, dan tangis adekku malah makin jadi ketika liat kamu bawa boneka yang dia pengen. Kamu tanya ke Ibumu, kenapa Illo nangis. Ibu mu jelasin.

Lalu tanpa beban, kamu langsung kasih boneka itu ke Illo, adekku langsung berhenti, dan tentu saja hal ini suatu kejadian yang mengagumkan buat keluarga kami, anak sekecil itu sudah mau berbagi, tidak egois. Lalu orang tua kita saling kenalan. Ternyata daddy dan ayahmu sama-sama di dunia property, walaupun dari pangsa pasar yang beda.

Beberapa bulan berikutnya, kita ketemu lagi di studio foto. Kami sudah selesai pemotretan. Keluarga kalian masih dalam proses persiapan properti. Karena menunggu lama, gaun putih yang kamu pakai kena noda. Jadinya kamu harus ganti.

Sayangnya mereka tidak menyediakan gaun untuk anak kecil, yang ada hanya tuxedo anak, jadi mau nggak mau kamu juga memakai tuxedo. Tentunya kamu di omeli Ibu mu saat itu, dan kamu sempat nangis. Tapi setelah kamu memakai tuxedo yang sama dengan kakakmu, wajahmu kembali riang.

Mungkin saat itu kamu belum tahu perbedaan gender, jadi kamu fine-fine aja waktu pake baju cowok seperti kakak mu. (Nesa mengikik saat ingat kejadian itu.).

Dan selanjutnya, aku ketemu kamu lagi waktu kalian main bola di salah satu taman kota, tanpa ditemani ibu mu. Lalu kamu jatuh. Ayah dan kedua kakakmu terlihat kuatir. Mereka saling menyalahkan dirinya sendiri.

Vasco merasa bersalah karena menendang terlalu jauh. Sedangkan Valdi merasa bersalah karena seharusnya dia yang berlari mengambil bola. Tapi wajahmu tetap riang, tidak menunjukkan rasa sakit sama sekali.

Beberapa kali ketemu dengan kejadian yang unik, kamu terlihat beda di mataku.

Dan…..ini yang harus kamu tahu.

Beberapa bulan lalu, sebelum kita ketemu lagi, daddy nggak sengaja ketemu ayahmu. Daddy cerita ke kita, dan mommy berencana silahturahmi. Nggak lama daddy main kerumahmu, karena ada keperluan di sekitar situ juga, dan lagi-lagi mommy hunting calon mantu.

Biasanya ada kabar orang tua ku datang, pasti mereka mempersiapkan semua, termasuk anak gadisnya. (‘sebenarnya sama seperti orang tua saya Pak’ batin Nesa)

Dan sayangnya…waktu mommy kesana, nggak ketemu kamu, foto mu pun juga tidak terpampang, yang ada foto waktu kecil saat kamu pake tuxedo. (Nesa mengikik lagi). Yang mommy tahu nama dan tempat dimana kamu kerja.

Aku penasaran donk….baru kali ini mommy nggak bisa ketemu anak gadis temannya. Biasanya mah di sodor-sodorkan…kayak brosur jalanan…..(Nesa memukul pundak Al dan tertawa lirih).

Malam itu juga, aku minta tolong mommy hubungi tante Stella, ambil jalan pintas. Gimana caranya agar aku bisa liat kamu. Dan akhirnya…..aku menyalah gunakan wewenang Daddy, penyalah gunaan nama besar ARTOMORO, hari selasa aku masuk Art Life dan liat wajah kamu yang kucel dan kusam. (Nesa mencubit lengan Al). Jadi…disinilah kita …..”

“Kok bapak nggak bilang sich?!” Nesa menatap Al.

“Bilang apa?! ‘Hai..aku keturunan Artomoro’ gitu?” Ucapan Al membuat Nesa tersenyum.

“Ya nggak gitu juga…..”

“Q….aku bergerak di dunia yang beda. Aku cuma pemilik warung. Selama ini aku menolak kalo diminta daddy atau opa membantu mengawasi salah satu usaha ini. Aku nggak bisa, aku bukan tipe pria yang duduk rapi di balik meja. Cuma demi kamu aku rela pake baju kemeja dan jas ini Q…..Aku lebih seneng kamu nggak tahu tentang keluarga aku.”

“emang bapak kira saya cewek matre?! Saya juga punya usaha lho Pak….walaupun masih kecil…”

“Nah! Aku lebih suka gitu. Kamu menilai aku secara personality…aku pun sama, sejak awal, tingkahmu mengagumkan, unik, beda……I Love You Just The Way You Are Q…”

“Gimana Pak?” tanya Nesa sumringah ketika mendengar ucapan cinta dari pria ini. Dia ingin mendengarnya lagi.

“Gimana apanya?” tanya Al pura-pura tak paham, melepaskan genggaman lalu menggeser tubuhnya menjauhi Nesa.

“Ya udah kalo nggak mau ngomong!” Nesa berucap sedikit sebal.

Lalu dia membuka kemeja denim yang dia gunakan sebagai outer, dan tubuh moleknya terlihat jelas dengan balutan tank top.

“Q…. ngapain kamu buka kemejanya?” Al menelan ludahnya paksa ketika melihat tubuh indah kekasihnya.

“Mau buat es coklat!” Ucap Nesa meninggalkan Al yang duduk di sofa.

‘Tuhan….bantu aku melewati ujian ini’ batin Al dengan jantung yang berdebar.

Pria itu menghampiri Nesa yang berdiri di meja makan. Al berdiri di sebelahnya.

“Q….itu dada walaupun nggak besar tapi tetep aja bisa menggangu pikiran lho….” Kata Al saat melihat belahan dada Nesa.

Gadis itu makin menggoda Al.

“Menurut bapak payudara saya kurang besar?” Tanya Nesa sambil memegang payudaranya sendiri. Lalu dia kembali mengaduk coklat.

“Astaga….” otak Al semakin tak karuan.

Nesa kembali menggoda Al dengan menyepol rambutnya asal. Walaupun terlihat tidak rapi, tapi leher Nesa berhasil menggoda akal sehat Al.

“Apa mau mu Q?” Al memeluk Nesa dari belakang.

Nafasnya tidak terkontrol karena jantungnya berdetak kencang. Dia mencium pundak Nesa yang agak terbuka berkali-kali.

Tangan Al mengusap lembut perut Nesa, bibir pria itu mulai menjelajahi lehernya, dan berhasil membuat tubuh si gadis merinding.

Nesa berbalik dan mengalungkan tangannya di leher Al. Dia tersenyum manis.

“Saya pengen denger bapak ngucapin kata-kata yang tadi….bapak jangan pura-pura tidak tahu, bapak tahu yang saya maksud…”

“Kalo aku ngucapin kata-kata tadi? Apa yang aku dapatkan?” Suara Al semakin menggairahkan.

“Bapak dapat apa yang bapak mau….saya percaya bapak. Saya tidak akan menolak.” Nesa menantang dan menanti ucapan cinta.

“Kayaknya penting banget ya?”

“Nggak ada salahnya sesekali mengungkapkan. Tapi kalo nggak mau ya sudah”

Al merasakan lengan Nesa hendak mengurai tapi dengan cepat pria itu melumat bibir Nesa.

Si pria menarik tubuh Nesa hingga dia benar-benar merasakan 2 benda kenyal menempel di dadanya.

“I love you” Al melepas ciumannya sesaat hanya untuk mengungkapkan rasa cintanya, lalu di kembali menyerang lagi bibir Nesa.

Beberapa saat menikmati bibir si gadis, kini dia beralih ke lehernya. Al semakin erat memeluk tubuh Nesa yang semakin lemas.
Beberapa kali Nesa melenguh menikmati cumbuan.

Beberapa jam Al menikmati bibir dan leher Nesa tapi dia tak meninggalkan bekas, dia masih mampu menahan hasratnya.
Puas bercumbu, mereka keluar apartemen dan makan malam. Tujuan utama mencari novel telah gagal.

Kini mereka duduk di depan Aji dan Isti, mereka bercengkrama santai.

“Om….saya ingin menyampaikan sesuatu….” Ucap Al dan menoleh sesaat ke Nesa.

“Bukannya kemarin sudah di sampaikan ya?” Aji mengingatkan.

“Beda Om…..”

“Lalu?”

“Saya ingin menikahi Vanesa secepatnya. Bulan depan boleh ya Om?

“Bapak!” Pekik Nesa yang tak percaya.

“Kalian abis ngelakuin apa?” Tanya Aji dengan tatapan menuntut.

“Nggak ada yah!” Jawab Nesa tegas.

“Pak… lamaran kemarin aja saya belum jawab….ini malah bapak ngajak nikah…mana minta bulan depan lagi?!”

“Q…. kita akan nikah kan?”

“Y-ya tapi jangan bulan depan Pak….”

“Apa bedanya nikah bulan depan atau tahun depan…kalo bisa lebih cepat bukannya lebih baik?!” Pernyataan Al sedikit memaksa Nesa.

“Al….gini aja….lusa kami ke rumah Al ya….kita bicarakan baik-baik secara kekeluargaan. Kemarin Al lamar Nesa waktu malam…. sekarang Al ajak nikah Nesa waktu malam juga… mungkin otak Nesa uda capek, kalo malem dia nggak bisa mikir berat….” Isti bercanda dengan menjatuhkan anaknya.

“Apaan sich Bu…..” Ucap Nesa dengan cemberut.

Dan tak lama Al pamit, dia segera mengabari mommy tentang rencana orang tua Nesa yang akan bersilaturahmi ke rumahnya.

***

Usai mengantar Al di teras, Nesa kembali duduk di ruang tamu.

“Gimana Nes?” tanya Aji.

Nesa menghela napas, dan membuangnya secara kasar.

“Ayah tau dia siapa? Dia itu keturunan Artomoro….”

“Ayah juga taunya baru kemarin, waktu pak Dani ke sini lagi. Untung dia nggak ngadu ke bapaknya kalo pernah di sindir-sindir…..” jawab Aji.

“Ya nggak papa Mas! Supaya Al tau, kalo mas itu sayang banget sama anaknya…” Isti menimpali

“Menurut ayah gimana?”

“Apapun yang kamu putuskan…ayah dan ibu selalu dukung Nesa ….” kata Aji.

“Bisa nggak di kasih waktu lebih lama lagi?”

“Kamu tanya aja ke Al…mau nggak nunggu?” Isti menggoda anaknya.

“Ibu pasti tau jawabannya!” ucap Nesa lalu berpamitan ke kamarnya.

Pagi harinya, Nesa dijemput Al untuk berangkat kerja.

Beberapa kali Al melihat Nesa yang ada di sampingnya mengulum senyum.

“Kenapa sich senyum-senyum sendiri?” tanya Al heran.

“Bapak nggak tahu kalo ada yang beda?” tanya Nesa balik.

“Yang beda apa?” Al bertanya balik lagi.

Nesa menghela napas dan menggumam.

“Ya uda dech kalo nggak tahu. Ternyata semua pria sama. Nggak peka!” jawab Nesa pasrah, seketika senyumnya hilang.

“Lipstick baru?” tanya Al sambil melihat bibir Nesa yang selalu menggoda.

Nesa menggelengkan kepala.

“Bedak baru?” tanya Al lagi.

“Bukan!”

“Apa ya Q? Lebih cepet kalo kamu ngomong langsung …jangan tebak-tebakan seperti gini, sampe besok kayaknya aku nggak tau jawabannya ….”

Nesa mengangkat sebelah tangannya, dan membuat Alvaro tesenyum. Al melihat cincin pemberiannya telah melingkar di jari manis Nesa.

“Aku tahu kamu pasti terima lamaran ku…..nggak akan ada yang bisa menolak Alvaro!”

“Eh?! Kok sombong gini ya?!” Nesa mencubit Al. Pria itu mengaduh dengan lirih.

“Cuma sama kamu lho Q aku bilang I Love You…sama yang lain nggak pernah….”

“Terus, dulu bapak menyatakan cinta gimana?”

“Nggak pernah! Mereka yang ngajak aku jalan….aku sich iya-iya aja….daripada malam minggu sendirian kan?”

“Bapak ternyata sombong banget lho…..”

Al terkekeh mendengar hujatan langsung dari kekasihnya.

“Besok pulang kerja langsung ke rumah kan?” Tanya Al meyakinkan.

“Iya pak…ayah uda ijin pulang siang kok….”

Esok harinya.

Nesa dan orang tuanya bertamu di kediaman Al.

Orang tua Al menyambut hangat kedatangan mereka.

Setelah bercengkrama dan sedikit basa-basi, Dani memulai pembicaraan yang serius tentang masa depan anaknya.

“Mas Aji….Al sudah cerita tentang pembicaraan setelah lamarannya. Kami sungguh minta maaf atas kelancangan Al.”

“Al lancang kenapa Pak?” Aji menyela.

“Lamarannya belum terjawab, dia malah ngajak nikah …kami minta maaf. Mungkin Nesa malah takut atau terbebani.”

“Dia uda jawab lamaran Al, Dad….” Al menyahut.

“Oh iya? Jawabannya apa?” Kali ini Rena bersuara dengan antusias.

“Cincin yang Al kasih uda dia pake…”

“Lho…kapan kasihnya? Kok mommy nggak tahu?”

“Waktu Al lamar…..Dia uda pake sejak kemarin, jadi Al tau jawabannya….”

“Ya nggak bisa gitu donk Al….kamu yang pasang…” Rena berucap lagi.

“Al uda beli cincin lagi…kali ini Al yang pasang.” Ucap Al lalu menghampiri Nesa, dan duduk di sebelahnya.

“Pak…ini kan uda ada. Ngapain bapak beli lagi?”

“Kalo perlu sepuluh jarimu aku isi cincin yang terukir namaku Q….” bisik Al meraih tangan Nesa yang jari manisnya masih kosong, lalu dia menyematkan cincin dengan model yang lain di jari Nesa.

Dua pasang orang tua hanya bisa tersenyum saat melihat momen ini.

“Jadi selanjutnya gimana Mas Aji?” Dani melanjutkan.

“Al kemarin rencana nikah bulan depan. Apakah tidak terlalu cepat? Karena kami belum mempersiapkan sama sekali.”

“Mas Aji dan mbak Isti nggak usah repot. Yang penting Nesa nya mau, itu aja uda buat kami seneng kok…. Nanti biar kami yang handle semuanya. Saya harap keluarga mas Aji tidak tersinggung ya…karena ini memang Al yang bertekad mempercepat ikatan ini.” Rena berucap dengan riang.

“Gimana Nes?” Tanya Isti menatap wajah cantik anaknya.

“Mau ya Q…..” Al menatap Nesa dengan wajah memelas.

“Bulan depan tanggal berapa Pak?” Tanya Nesa.

“Bentar! Aku ambil kalender.” Ucap Al sambil bersemangat mengambil kalender.

“Kalo Sabtu tanggal 2 gimana?” Tanya Al dengan wajah riang.

“Saya pikir 30 hari dari tanggal sekarang….”

“Kan tanggal 2 uda masuk bulan depan Q…. ”

“Kamu kok nggak sabaran ya Al…” Rena menggoda anaknya.

“Mom…daripada_ Tunggu! Kita harus bicara!” Al tidak menyelesaikan kalimatnya.

Dengan paksa Al menyeret Nesa menjauh.

Orang tua mereka hanya terbengong ketika Al dan Nesa berbicara di teras.

“Kapan siklus menstruasi mu?” Tanya Al tanpa sungkan.

“Pak?! Bapak menanyakan siklus menstruasi saya?” Tanya Nesa heran mendapat pertanyaan tentang reproduksi wanita dari seorang pria.

“Kenapa?! Aku calon suamimu. Aku nggak mau waktu kita nikah, kamu pas datang bulan…kita majukan aja!” Al sedikit memaksa.

“Astaga….mau maju kapan lagi Pak?” Bisik Nesa dengan tekanan.

“Ok! Aku mau pokoknya kita nikah setelah kamu menstruasi….biar aku nggak nunggu-nunggu…”

“Iya! Iya!” Jawab Nesa seolah tahu maksud Alvaro. Dan mereka kembali ke hadapan orang tua, lalu menetapkan tanggal pernikahan.

Setelah sepakat dengan berbagai hal tentang pernikahan, orang tua mereka kembali ke dunia masing-masing, Al mengajak Nesa keluar ruangan.

Mereka duduk berdua di teras.

“Sini!” Pinta Al menarik Nesa.

Nesa duduk dan bersandar di setengah dada Al.

Nesa sedikit canggung karena mereka tidak pernah duduk sedekat ini. Al melingkarkan lengannya di pinggang Nesa, dan tangan yang lain memainkan cincin yang dipakai Nesa.

Al menghembuskan nafasnya secara kasar.

“Kenapa?” tanya Nesa.

“Kalo nggak ketemu kamu, aku kangen. Ketemu, pengen deket-deket. Sekarang uda deket, pengen……..” Al menggantung kalimatnya.

“Pengen apa?” tanya Nesa sambil tersenyum.

Al mencium samping kepala Nesa.

“Uda ya Q…jangan godain aku lagi…..”

“emang bapak aja yang tergoda? Saya juga tergoda lho Pak… bapak peluk-peluk gini jantung saya deg-deg an …..hembusan nafas bapak kalo kena leher saya, badan saya jadi semriwing ….bulu saya merind_”

“Jangan dilanjutin Q…..kata-kata vulgarmu malah buat nggak enak….”

“Nggak enak gimana Pak?” Nesa menoleh, melihat wajah Al.

“Yang bawah makin sempit Q…nggak enak…..” ucap Al dengan melihat pusat tubuhnya, dan Nesa mengikuti arah pandangnya.

“Maksudnya penis bapak?” tanya Nesa menggoda Al.

“Hmmmpphhh” erang Nesa saat Al mencium bibir si gadis kasar, dan melepaskannya setelah Al memberikan dua kali lumatan.

“Itu mulut enteng banget ngomong kalimat vulgar…..” ucap Al dan mencium lagi bibir Nesa secara singkat.

“Itu mulut gampang banget nyosor…..” Nesa membalas ucapan kekasihnya.

Al mengeratkan pelukannya.

“Pak! Geli!” Nesa sedikit memekik dan mengikik saat Al menciumi lehernya beberapa kali secara brutal.

“SSSTTTTT Q! Berisik!” bisik Al dengan menekan dan matanya melotot.

“Bapak sich…saya geseran aja!”

“Jangan!” Al menahan tubuh Nesa yang akan bergeser.

“Tapi bapak_”

“Iya! Nggak lagi….” potong Al.

Nesa kembali bersandar di dada Alvaro.

“Q…bisa nggak kalo manggil jangan bapak?” tanya Al dan mencium tangan Nesa.

“Bapak pengen di panggil apa? Mas?”

“Nggak! Ntar kayak Dimas….”

“Abang?”

“ada yang lain?”

“kakak?”

“lainnya?”

“apalagi ya pak? Soalnya dibawah alam sadar Nesa, uda biasa panggilnya itu….”

“panggil Al aja….”

“Ok…” ucap Nesa lirih.

Tak lama, Nesa dan orang tuanya berpamitan.

Periapan pernikahan yang sebulan lagi, membuat Al semakin sibuk.

Sibuk dengan tanggung jawabnya di kantor, dan dia juga sibuk dengan bisnis kecilnya. Tubuhnya tak mampu lagi mengimbangi keinginan dan tekad Al. Hingga dia jatuh sakit.

“Masuk Nes…..” ucap Rena lirih saat melihat Nesa melongok di pintu kamar Al. Perlahan Nesa masuk, dan dia melihat daddy memeluk Al, mereka sama-sama telanjang dada.

Nesa duduk di sebelah calon mertuanya, Rena.

“Al kalo demam susah minum obat, dia maunya di peluk gitu. Sama seperti daddy nya, katanya skin to skin.”

Dani melihat Nesa, lalu berbisik di kepala anaknya. Tak lama Al membuka matanya, tapi dia tak tersenyum, hanya mengangkat kedua alisnya, seolah menyapa.

Dani beranjak dari ranjang, lalu keluar kamar dan dibuntuti oleh Rena.

“Saya bawa sop, masih anget….bapak makan ya?”

“Tungguin ya?”

“Iya, tapi makan di luar ya?” Nesa membujuk Al.

“Okay …..” Al menjawab dengan suara parau.

Al berjalan di belakang Nesa, membuat sekeluarganya melongo.

“Padahal kalo sakit nggak mau keluar mbak…..ada mbak Nesa baru dia keluar…ke dokter aja nggak mau! ” Illo membuka aib kakaknya.

“Gitu Pak?” Tanya Nesa.

“Lebih enak rebahan Q…..”

“Setelah maem, ke dokter ya….uda 2 hari demam, atau acara kita dimundurkan?”

“Ya jangan donk Q! Aku yakin besok uda membaik….” Ucap Al dengan manja.

“Sabtu-Minggu harusnya libur, malah keluar kota ngurusin warung….”Nesa mengomeli Al yang sakit karena ulahnya sendiri.

“Kan mau cuti…..”

“Besok hari Rabu, hari terakhir masuk, setelah itu kita cuti ….kalo besok nggak masuk_”

“Besok pagi aku masuk kok… Beneran! Temani ke dokter ya! Di anterin om Ronald…..” Al memotong kalimat Nesa.

“Buruan maemnya ya…Ntar kemalaman ….”

Beberapa menit kemudian mereka ke RS. Usai ke RS, Al dan driver mengantar Nesa pulang ke rumahnya.

Dan esok harinya Al benar-benar masuk kerja.

2 hari tidak bertatap muka, dan sekarang mereka bertemu dengan status yang beda. Sudah menjadi suami-istri.

Pagi hari, usai akad nikah, mereka segera melangsungkan resepsi di ballroom Art’s Hotel.

Menurut keluarga Nesa, acara ini cukup meriah.

Tapi berbeda dengan keluarga Al, mereka menganggap resepsi ini terlalu sederhana, karena banyak kolega Dani yang tidak di undang.

Setelah menjalani serangkaian acara yang semi tradisional, akhirnya resepsi berakhir.

Tapi sayangnya penderitaan Al belum selesai.

Kini kakak, sepupu dan sahabat Nesa meramaikan kamar hotel tempat mereka menginap. Termasuk adiknya Illo.

Beberapa kali Al menghela napas kesal karena ketidak pekaan manusia-manusia yang seolah tak punya beban hidup. Ada aja bahan yang dibuat becanda. Hingga Illo yang sering sendiri merasa terhibur dengan kehadiran saudara Nesa.

Vasco dan Valdi masih setia menghimpit adiknya, dan membuat Al makin kesal.

Al membuntuti adiknya saat Illo ke kamar mandi.

“Il….kamu nggak pengen jalan-jalan?” Tanya Al ke adiknya ketika Illo baru keluar toilet.

“Sama mereka lebih seru mas!” Ucap Illo yang ketularan tak tau diri. Al sebal dengan jawaban adiknya. Dengan terpaksa Al mengeluarkan dompetnya.

“Ini kartu buat hepi-hepi! Ajak mereka sekalian! You know what i mean sistah?” Ucap Al sambil memberikan sebuah kartu debit.

“Mas uda nggak tahan ya….” Illo menggoda kakaknya dan tersenyum jahil.

“Itu salah satu alasanku nikahi dia, Illo….nggak tahan kalo deket-deket ama dia…”

“Baiklah mas ku yang kebelet….” Illo mencium pipi Al.

Dan akhirnya Illo berhasil membawa semua makhluk yang membuatnya tertawa bahagia.

“Al….aku mandi dulu ya…”

“Ok! Aku beres-beres dulu….” Balas Al sambil memungut botol bekas air mineral. Setelah beberapa menit, Al mencium aroma wangi istrinya. Dan ternyata benar, Nesa sudah selesai mandi dan dia hanya memakai daster.

“Al mandi gih! Nesa lanjutkan beres-beres nya….” Ucap Nesa saat keluar dari kamar mandi.

Tanpa membalas ucapan istrinya, Al ke kamar mandi.

Tak berselang lama, Al keluar kamar mandi dengan telanjang dada.

Dia melihat istrinya sudah berbaring di ranjang, matanya menatap layar TV.
Sambil tersenyum Al menaiki ranjang dan ikut terbaring di sebelah Nesa.

“Liat apaan sich Q?! Kok kayaknya seru banget!”

“Sinetron pintu berkah, yang di stasiun ikan terbang…….”

“Nggak ada acara lain?”

“Daripada liat sine yang bersambung terus tapi nggak jelas endingnya… mending liat ini aja…sekali tayang langsung buyar….”

“Ya uda…terus giliran aku kapan?” Tanya Al dan mencium pipi Nesa singkat.

Nesa memiringkan tubuhnya, menatap hangat suaminya. Menangkup sebelah pipi Al.

“Ini masih jam berapa Al? Kita belum makan malam….”

“Kamu gugup kan?” Tanya Al seolah mengetahui dan mencium kening Nesa. Al menggoreskan telunjuknya perlahan di garis alis istrinya.

Nesa tersenyum dan mengangguk pelan.

“Let me to touch you Q….kamu cukup diam dan merasakannya….” Suara Al bagaikan hipnotis hingga Nesa hanya bisa mengangguk.

Telunjuk Al dari alis turun ke hidung Nesa yang mancung dan lancip, lalu pria itu mencium pipi istrinya. Nesa merasakan telunjuk suaminya dengan jantung yang berdetak makin kencang, nafasnya mulai tersenggal, dia juga merasakan kecupan di pipinya. Nafas keduanya tak beraturan.

Nesa mengigit bibir bawahnya, menahan gejolak tubuh yang berlebihan.

Al beberapa kali mencium sebelah pipi Nesa dan berikutnya dia memberikan kecupan di bibir Nesa.

Sekali kecupan, dua kali kecupan ….dan sekarang Al melumat bibir Nesa dengan lembut dan perlahan. Memegang dan menekan tengkuk Nesa seolah pria itu lah yang mengontrol permainan panas ini. Mata mereka kadang beradu pandang. Suara cecapan, erangan dan lenguhan mulai meramaikan kamar hotel.

Lidah mereka saling menggoda dan saling mengulum bergantian.

Pria itu berusaha tidak memperlakukan istrinya secara cepat, kasar dan brutal. Dia kuatir akan menyakiti Nesa.

Tanpa disadari oleh keduanya, kini Al sudah berada di atas tubuh Nesa.

Sambil tetap mencecap bibir Nesa secara bergantian, tangan Al perlahan mengangkat daster Nesa. Pemilik daster hanya pasrah ketika si suami melucutinya. Dalam hitungan detik Al berhasil meloloskan tubuh Nesa dari daster yang menghalangi kegiatannya.

“Ehhmmmppphhh” Nesa melenguh saat Al mencicipi lehernya.

Leher Nesa menggeliat saat Al mencium, mengecup dan menjilati lehernya. Tangan Al menyusup paksa di balik punggung Nesa, lagi-lagi pria itu berhasil membuka penutup tubuh istrinya.

Jemari Nesa meremas rambut Al, kadang berpindah mengusap pundak si suami. Perlahan bibir lelaki itu menurun ke bagian tubuh Nesa.
Nesa merasa geli dan nikmat, gairah seksualnya makin menjadi saat merasakan lidah Al menuju benda kenyal miliknya.

Wanita itu kembali melenguh ketika Al mengulum sebelah putingnya, dan tangan yang lain meremas sebelahnya.

Mulut Al menikmati puting Nesa secara bergantian, wanita itu hanya bisa menahan desahannya. Matanya terpejam merasakan nikmat di payudaranya. Kadang tangan Nesa meremas sprei, meremas rambut Al atau lengannya.

Sambil terus menikmati puting istrinya, tangan Al menjelajahi tubuh Nesa yang lain. Pria itu berhenti sesaat untuk melepaskan celana dalam istrinya. Lalu dia kembali mengulum puting Nesa dan tangannya berkelana di pusat tubuh Nesa.

Erangan lirih Nesa kembali terdengar saat Al mengusap bibir kemaluannya. Perlahan jari Al melewati bibir kemaluan, mengusap bagian dalamnya hingga dia menemukan bagian yang paling sensitif.

Masih dengan perlakuannya yang lembut, Al menekan klitoris, memainkannya dan menggodanya.

Beberapa kali Al mendengar Nesa memanggil namanya dengan lirih, tapi rupanya pria itu tak peduli, dia terus fokus menikmati tubuh Nesa.
Pinggul Nesa bergoyang mencari kenikmatan dari jari-jari suaminya.

“Aku nggak kuat Q…..” Bisik Al lirih ketika melepaskan kuluman di puting Nesa.

Dengan cepat dia membuka boxernya. Al kembali mengungkung Nesa.

Al meraih sebelah tangan Nesa, menuntunnya menggenggam milik Al yang sudah mengeras.

“Antar dia ke rumahnya Q….” bisik Al dengan tatapan yang penuh gairah.

Nesa tau apa yang dimaksud suaminya, perlahan dia mengarahkan milik suaminya ke pintu kenikmatan.

Al makin menggila saat ujung miliknya merasakan basah dan licin dari pintu lubang Nesa.

Tangan Nesa sudah menyelesaikan tugasnya, kini Al sendiri yang akan meneruskan.

Kedua tangan Al meremas payudara Nesa, mereka saling menatap dengan penuh gairah. Setelah beberapa kali Al berusaha menembus pintu nikmatnya, akhirnya milik Al tenggelam sempurna.

“Kamu berhasil menelannya Q….” Al tersenyum menggoda.

“Maksudnya vagina ku?” Nesa tak kalah menggoda suaminya.

“Mulutnya….” Usai menuntaskan kata Al melumat bibir Nesa dan tentu saja menggempur Nesa di bagian inti tubuhnya.

Pinggul mereka saling bergoyang mengikuti ritme. Dan makin lama, Al mempercepat goyangannya.

“Ough….” Nesa mendesah kala Al mencium, menjilati lehernya sambil terus menggoyangkan pinggulnya.

Nesa meremas pantat suaminya dan menekannya seolah meminta lebih dalam lagi.

Gesekan milik Al membuat Nesa merasakan sesuatu yang belum pernah dia rasakan.

Wanita itu mempercepat goyangannya, tubuhnya makin menegang, mengejar dan mencari kenikmatan hingga dia berhasil mencapai titik kepuasan. Nesa berhenti menggoyangkan pinggulnya.

Tubuh Nesa kembali relax, darahnya seakan menghangat ke seluruh tubuh setelah usai mencapai orgasme.

Tapi tidak dengan Al, pria itu masih terus bergoyang, setelah menghentakkan beberapa kali yang lebih keras, wanita itu merasakan cairan hangat yang memenuhi miliknya.

Al terdiam dan beberapa kali menghela napas.

Lalu pria itu merebahkan tubuhnya di atas tubuh Nesa dan mengembalikan nafasnya yang tak beraturan.

Nesa mengusap lembut kepala Al yang ada di dadanya, lalu mencium keningnya.

“Kita belum makan malam …” Bisik Nesa.

“Makan dibawah atau disini aja?” Tanya pria itu yang masih belum mau memisahkan diri. Telunjuknya bermain menggoreskan di sekitar puting Nesa.

“Kamu mau dimana?” Tanya Nesa balik.

“Di sini aja ya….”

“Kapan pesennya? Laper Al…..”

Al terkekeh mendengar rengekan istrinya.

“Baiklah istriku! Kita pesan beberapa porsi, buat tenaga nanti malam….” Ucap Al sambil memisahkan diri.

“Mau berapa ronde lagi?” Tanya Nesa menarik selimut.

“Kamu kuat berapa ronde? Aku cukup istirahat 15 menit tiap rondenya….” jawab Al dengan senyuman jahil.

“Buruan pesennya!” Nesa mengalihkan pembicaraan.

“Iya! Iya! Supaya cepat makan, dan supaya kita bisa main lagi kan? Nggak sabaran amat istriku….”

“Terserah kamu aja dech!” Jawab Nesa sebal karena Al salah paham lagi tentang kalimatnya.

Usai makan, mereka pun menikmati malam yang panjang. Hingga Nesa meminta Al untuk berhenti.

Bersambung

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Tamat