Complicated S2 Part 13

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Tamat

Cerita Sex Dewasa Complicated S2 Part 13 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Complicated S2 Part 12

“Yah! Ada orang tuanya Alvaro….” Nesa berkata.

“Orang tua Al ngapain ke sini?” Tanya Isti. Nesa belum menjawab, ayahnya sudah bertanya lagi.

“Kalian selama di vila ngapain aja?” Tanya Aji yang selalu kuatir.

“Nggak ada Yah!” Jawab Nesa.

“ngomong aja terpaksa” lanjutnya lirih.

“Kenapa?” Tanya Aji saat tak mendengar ucapan anaknya.

“Nggak papa…buruan temui Yah….”

Aji mengajak Isti menemui mereka.

“Lho! Pak Dani?!” Aji terkejut saat melihat Dani dan keluarganya duduk di ruang tamu. Mereka saling berjabat tangan.

“Maaf mas Aji…kalo kami tiba-tiba datang kemari tanpa memberi kabar” jawab Dani.

“Nggak papa, saya yang minta maaf. Karena menunggu lama. Silahkan duduk Pak.”

Mereka kembali duduk, begitu juga Nesa dan Al yang duduk berseberangan.

“Kami nggak tahu kalo Al anaknya Pak Dani….” Sahut Isti dengan kekehan.

‘Astaga, padahal anaknya beberapa saat lalu sering aku sindir, untung kemarin waktu di kos nggak aku tampar.’ batin Aji.

“Terimakasih mbak Isti….mas Aji …sudah menerima kami malam-malam gini.” Rena berbicara.

“Nggak papa Bu …kita lagi liat TV kok, lagi santai…” sahut Aji.

“Aku di ajak ke sini juga agak kaget, aku juga nggak tahu kalo Nesa anakmu…. Al ngajak nya juga tiba-tiba, baru sejam yang lalu….” Dani bersuara.

“Al kok nggak ngomong kalo orang tuanya mau kesini? Tau gitu Tante bisa buatin pisang goreng…” Ucap Isti melihat Al dan tersenyum.

“Nggak usah repot-repot ….Tante dan Om pasti capek.” Balas Al ramah.

“Kita kesini cuma bentar aja kok…cuma nganter Al….” Rena berkata sambil tersenyum.

5 orang saling menyahuti pembicaraan, sedangkan Nesa hanya sebagai pendengar.

“Emang Al kenapa?” Tanya Aji.

Al berdehem lalu melihat sekilas ke arah Nesa yang secara kebetulan gadis itu juga melihatnya. Lalu pria itu mengalihkan tatapannya ke orang tua Nesa.

“Om…Tante… kedatangan saya kesini bertujuan meminta restu hubungan saya dan Queen ke arah yang lebih serius.”

“Pasti becanda!” Ujar Nesa sambil tersenyum sinis, dan ucapan nya bisa didengar oleh semua. Hatinya masih membeku.

“Nesaaaaaa….” Suara kompak kedua orangtuanya sambil menatap tajam, seolah keberatan karena tidak sopan memotong pembicaraan orang lain.

“Dan secara resmi, saya melamar putri Om yang bernama Vanesa Laksono Queen…… menjadi pendamping hidup saya.” Alvaro merasa lega, akhirnya dia bisa menyampaikan maksudnya.

Nesa hanya bisa bungkam dan menggelengkan kepalanya.

Aji menghela napas gusar, dia sangat terkejut dan merasa belum siap jika ada yang melamar putrinya. Selain itu, momen ini sangat tiba-tiba.

“Al…. jujur om kaget. Kaget kalo kamu ternyata anak Pak Dani. Kaget dengan pernyataan yang kamu sampaikan…… Untuk masalah ini, om kembalikan keputusannya ke Nesa….karena dia yang menjalani. Kami selaku orang tua, selalu merestui. Gimana Nes?” Aji berusaha bijak.

Nesa melihat ayah dan ibunya. Lalu dia menatap kedua orang tua Al.

“Om …Tante…maaf…Nesa belum bisa jawab…ini terlalu_”

“Aku tahu kok Q….kamu nggak harus jawab sekarang. Yang penting kamu uda tau tujuan hubungan kita.” Al memotong.

“Iya…nggak papa kok Nes. Pasti kamu shock kan? Kita juga baru tahu waktu di mobil…Tante kesini juga malu, soalnya nggak bawa apa-apa…” Rena menenangkan Nesa dari keterkejutannya.

“Bu Rena…nggak usah seperti itu….” Isti bersuara.

“Setidaknya, Nesa sudah mendengar niat baiknya Al..” Kali ini Dani yang berbicara.

“Iya Pak…Nesa butuh waktu..saya harap Bapak dan Ibu bisa memaklumi…” Aji bersuara.

“Nggak papa…santai aja. Oh iya….mas Aji kan punya relasi di Banjarmasin kan? Kira-kira ada lahan nganggur nggak ya?” Tanya Dani yang sekarang membahas masalah pekerjaan. Rena dan Isti membahas tentang kuliner.

Sedangkan Nesa hanya bisa diam dan semakin kesal dengan ulah Al. Dia menatap vas bunga yang terletak di tengah meja. Dan Al hanya bisa melihat Nesa yang masih bersikap kaku.

“Nes….kamu ajak Al ke ruang keluarga.” Ucap Isti seolah tahu kekakuan anaknya.

“Nggak usah Tan….”

“Nggak papa…ayo sana! Ajak Al ke ruang keluarga…kalian pasti bosen dengerin kita ….” Ujar Isti.

“Mari Pak!” Nesa berucap dan terpaksa berdiri. Dia berjalan dan Al membuntuti ke ruang keluarga.

Nesa duduk di single sofa, dan Al duduk di doubel sofa. Nesa masih membuat jarak.

Beberapa menit mereka masih diam, mata Nesa menatap layar TV, tapi pikirannya berkelana. Al sesekali melirik Nesa.

“Ngomong donk Q…..” Al tak sabar untuk bicara.

Tapi gadis itu tetap bungkam.

Sekian menit berlalu.

“Jadi tetep nggak mau ngomong?!” Al bersuara lagi. Lalu pria itu berdiri dan menatap Nesa yang tak mempedulikan kehadirannya.

‘Bagus! Nggak kuat kan aku anyepin?!pergi dech pak….masih kesel sama kamu yang ngelamar seenak jidatnya’ batin Nesa.

“Bapak ngapain?!” Ucap Nesa saat Al berlutut dihadapannya. Gadis itu menoleh sepintas ke ruang tamu. Terlihat orang tuanya masih asyik dengan dunianya sendiri.

“Soalnya kamu nggak mau bicara. Aku yang akan memaksa kamu bicara Q….” Kedua lutut Al menopang tubuhnya, tangannya menyusup ke sofa, paha luar Nesa bisa merasakan lengan Alvaro.

“Apa yang mau dibicarakan?” tanya Nesa, melihat dada Al, masih belum bersedia menatap wajahnya.

“Terserah kamu! Kamu boleh tanya wanita itu, kamu boleh omeli aku… terserah kamu Q….”

“Bapak aja yang cerita. Kalo saya nggak ngerti, saya tanya….” Ucap Nesa dengan cemberut dengan nada masih kesal.

“Ok! Namanya Maura, dia teman waktu aku ikut program homestay di kursus bahasa Inggris, jaman SMA dulu….. Kemarin itu, waktu mau pulang, kebetulan aku liat dia, dia juga liat aku, aku samperin. Waktu dekat aku dengar dia ngomong, ‘Cowok di dunia nggak cuma kamu. Ini cowok baruku.’ Ternyata dia lagi marah sama cowoknya. Lalu tiba-tiba dia cium pipiku, aku aja kaget. Terus cowoknya ninggalin dia. Aku diajak makan. Ketemu kamu dech…dan besoknya dapat kabar kalo mereka uda baikan. Dia uda ngerusak hubungan kita…eh sebentar aja uda akur… Nyebelin kan?!” Al menjelaskan dan Nesa mendengarkan dengan wajah yang masih cemberut.

“Bapak lebih nyebelin!” Nesa melihat mata Al lalu menunduk lagi.

“Nyebelin kenapa?”

“Bapak ngapain sich datang ke sini pake bawa orang tua segala?!”

“Kan kamu sendiri yang minta KEPASTIAN ….masih salah lagi? Jadi maunya gimana?” Tanya Alvaro dengan hangat.

Nesa terdiam, dia sendiri tidak tahu apa yang diinginkan untuk hubungan ini.

“kamu masih marah ya?” tanya Alvaro hangat.

“Saya bingung dengan perasaan saya Pak. Seminggu ini perasaan saya seperti apa ya……” Nesa susah mengungkapkan perasaannya yang campur aduk.

“Seperti apa?”

Nesa menghembuskan napas secara kasar, seperti melepaskan beban.

“Bapak seperti mempermainkan perasaan saya. Ketika saya menjalin hubungan dengan bapak beberapa saat yang lalu, saya berharap dan menunggu bapak mengungkapkan sesuatu tentang kita…tapi ternyata nggak pernah. Sampai saya liat bapak tertawa gembira dengan wanita lain, apalagi dengar dia cium Bapak…..saya jelas sakit hati dan kecewa….tapi saya nggak bisa marah, karena sadar status saya nggak jelas….Lalu Bapak tiba-tiba datang ke vila, menggiring opini keluarga saya, seolah-olah kita ada hubungan khusus. Dan sekarang, bapak melamar saya….saya bingung Pak…saya takut harapan saya tidak sesuai……” Akhirnya Nesa bisa mengungkapkan isi hatinya dengan wajah masih menunduk.

“Aku minta maaf….aku tidak berniat sama sekali mempermainkan kamu Q. Tapi sekarang uda jelas dan pasti ….”

“Tapi Nesa belum yakin….” jawab Nesa.

Al merogoh sakunya, dia membuka buntelan kecil.

“Sory..aku belum sempat beli kotaknya.” Al mengambil sebuah barang dari buntelan kecil.

“Kamu simpan cincin ini….Kalo kamu uda yakin, kamu langsung pake aja cincinnya ….”

“Nesa sendiri yang masukkan ke jari Nesa? Nggak romantis banget sich Pak….”

“Ya uda….aku pakein sekarang ya…” Al menarik jari Nesa, tapi gadis itu menahannya.

“Jangan! Belum yakin…”

“Kamu sendiri yang buat bingung Q…..minta kepastian, sekarang uda dilamar, katanya belum yakin….”

“Saya masih takut ….” Nesa berucap lirih.

“Ya uda…..terserah kamu aja. Tapi jangan lama-lama. Kalo bisa lusa masuk kerja uda dipake cincinnya….”

“Yeeee..sama aja pemaksaan!” balas Nesa makin cemberut.

“Itu bibir ngapain sich manyun-manyun gitu? Minta di gigit?” Tanya Al gemas saat melihat bibir Nesa mengerucut.

“Gila ya bapak ini!” Ucap Nesa sambil memukul bahunya.

“Gemes tau nggak?!”

“Nggak bakal berani!” Ucap Nesa dan menoleh ke ruang tamu seolah mengingatkan keberadaan orang tuanya.

“Sapa bilang?! Aku capek, kamu diemin terus. Ada kesempatan sedekat ini, aku setubuhi aja sekalian!” Al menggodanya.

“Astaga! Mulut dijaga Pak…” Kali ini Nesa melotot dan mencubit kecil lengan Al.

“Sakit Q….” Al menatap wajah Nesa dengan gemas. Pria itu cukup puas dengan respon Nesa.

“Tapi lebih sakit di cuekin kamu….” Lanjut Al lirih.

“Bukannya seneng saya cuekin? Kan bisa deketin cewek lain…di cium-cium cewek lain….”

“Eh! Kamu pikir aku cowok apaan? Aku bukan cowok murahan ya….” Al berucap dengan wajah pura-pura sewot.

Nesa tertawa mendengar ucapan Al, pria itu sangat senang sekali mendengar kembali tawanya.

“Biasanya yang ngomong gitu cewek Pak…..” ucap gadis itu yang masih terkekeh.

Alvaro menikmati wajah Nesa yang masih tersenyum, hingga membuat si gadis salah tingkah.

“Ngapain sich bapak ngeliatin saya?” Nesa sudah berani menatap Alvaro.

“Seneng…kangen….”

Ucapan Al membuat jantung Nesa berdegup kencang, padahal saat Al mengungkapkan lamaran tadi, jantungnya biasa aja.

***

“Ngapain sich Nes aku suruh kesini?! Masih belum puas liat aku sejak Kamis malam sampe Senin di vila?” Ujar Nila sambil menghempaskan tubuhnya di ranjang Nesa.

“Kan kita masih cuti…. daripada kamu sendirian di rumah…. paling liat bokep kan?”

“Ya iya lah! Kemarin di vila nggak bisa liat gara-gara ada Al…kan malu…”

Nesa terkekeh mendengar gerutuan sahabat nya.

“Kamu naik apa kesini?” Tanya Nesa.

“Odong-odong!”

“Serius mbak!” Nesa menarik rambut Nila hingga gadis itu mengeluh kesakitan.

“Ngapain aku di suruh ke sini? Kan bisa telpon….” Tanya Nila lagi.

“Aku bingung Nil….”

“Bingung kenapa?”

Akhirnya Nesa menceritakan kedatangan Al dan orang tuanya.

“Terus bingung nya kenapa? Kan uda bagus di lamar…Uda jelas ….”

“Aku takut dia masih mepet-mepet ke wanita lain….atau wanita yang mepet ke dia….seperti kejadian kemarin, kalo nggak ketahuan, kira-kira Al cerita atau nggak? Karena terpergok, mau nggak mau dia cerita kan?”

“Kalo kamu kuatir kayak gini terus… sampai kapanpun kamu nggak bakal dapat suami..bukan karena Al nya…karena kamunya….kamu percaya Al kan?”

“Menurut kamu, dia benar-benar serius sama aku?” Nesa masih meragukan Alvaro.

“Mbak…. orang tua nya uda datang lho….kamu jangan keseringan liat ig gosip, tentang pelakor atau yang lainnya….malah bikin kamu stress, dan negatif thinking….” Nila berucap seolah mengerti ketakutan dan keraguan Nesa.

“Kamu itu cantik, pinter…. kekurangan mu itu sering ragu kalo ambil keputusan… terlalu lama mikirnya….” Nila bagaikan seorang yang ahli membaca karakter sahabatnya.

Dan memang Nesa adalah gadis yang labil, ragu, tidak yakin dengan keputusannya….ini semua karena keluarganya yang terlalu over protective, sering mengambil alih keputusan yang menyangkut dirinya.

Kadang dia takut, apakah keputusan yang dia ambil benar? Atau apakah pilihan kakak atau orang tua nya lebih baik dari pada pilihannya?

“Iya sich Nil…..aku takut salah pilih, terus keluarga pasti nyalahin aku.. ” Nesa mengakui.

“Yakin sejuta persen! mereka selalu dukung kamu Nes. Walaupun keputusanmu tidak benar, mereka nggak akan tega ninggalin kamu sendiri….” Nila meyakinkan Nesa.

“Aku doakan kalian benar-benar berjodoh…aku tulus lho! Tapi aku juga di doakan…jangan lupa sama temen…”imbuh Nila.

Nesa mengikik dan melempar bantal ke badan Nila.

“Kalian mau keluar?” Tanya Nila.

“Nggak! Kan dia kerja….” Jawab Nesa.

“Lha…aku masuk sini ada Al, duduk bareng kakakmu….”

“Beneran?!” Tanya Nesa dengan mata yang berbinar.

“Ya uda kalo nggak percaya!” Balas Nila lalu memunggungi Nesa.

Sekejap Nesa beranjak dari ranjang, lalu dia bercermin.

“Mau kemana?” Tanya Nila saat melihat Nesa menyemprotkan wewangian di lehernya.

“Ke depan!” Jawab Nesa dengan mengoleskan lipglos di bibirnya.

“Dasar sahabat nggak tahu diri! Terus aku disini ngapain woy?!” Teriak Nila saat Nesa meninggalkannya. Tapi mau tak mau Nila ikut keluar kamar.

“Lho! Bapak kok disini?! nggak kerja?!” Tanya Nesa pura-pura tidak tahu.

“Uda check lock tadi. Kerjaannya dikontrol lewat online aja….ntar sore aja balik kantor”jawab Al dan melihat Nesa dengan tersenyum.

Terdengar suara salam, dan mereka kompak menjawab. Masuk 2 pemuda tampan, Dimas dan Arjuna.

“Nich! Dari Mami!” ucap Dimas sambil melempar tas plastik ke arah Nesa.

“Apa ini Mas?”

“Buka aja babe! Buat Nila juga katanya….”

“Yeay aku dapat!” teriak Nila.

Nesa membuka plastik, ternyata di dalamanya ada piyama dan aksesoris rambut.

“Lho..ini kan yang midnight sale tempo hari?” tanya Nesa sambil menjembreng piyamanya.

“Iya..yang kemarin kamu pengen kan? Aku bilangin ke mami….” jawab Dimas sambil membuka botol mineral.

“Jadi kamu balik lagi ke sana? buat beli ini?”

“Aku nggak sendiri lah! Sama mami…sama nganter monyet ini!” ucap Dimas menyenggol Arjuna.

“Aku monyet, situ orang utan ya kak….” balas Arjuna santai. Dimas terkekeh mendengar ucapan Arjuna.

“Jadi waktu mami beli, nggak diskon? sayang banget…..”

“Ternyata masih diskon baby…..”

Sementara Nesa asyik dengan piyama barunya, Al hanya bisa diam dan sedikit jengkel karena kehadiran Dimas. Apalagi saat dia mendengar panggilan Babe dari mulutnya.

“Q…aku balik kantor ya….” ucap Al sambil berdiri.

“Boleh ikut? aku mau ke plaza, mau cari novel….mumpung ada pameran…” ucap Nesa dengan wajah manjanya.

“Boleh” jawab Al singkat dengan wajah tanpa senyum.

Nesa pun berjalan cepat ke kamarnya, dan berganti baju.

“Katanya mau balik sore, jam sebelas kok uda balik kantor?” tanya Nesa saat berada di mobil

“Males liat Dimas!” ucap Al tak menoleh. Nesa tahu ada yang tak wajar

“Ngapain males liat Dimas?” tanya Nesa yang tak memahami sikap Al.

‘Baru aja kemarin baikan! Sekarang kayak gini…..’ batin Nesa.

“Nggak suka aja! Dia memperlakukanmu secara berlebihan!” balas Al dan masih tetap tak melihat wajah Nesa.

“Dia memang seperti itu…..”

“Tapi aku yang nggak suka liatnya.” Al mulai posesif.

“Jadi saya harus gimana? Saya nggak mungkin menjauhi keluarga saya kan?” tanya Nesa.

Al terdiam, dia tak bisa menjawab pertanyaan Nesa.

“Kapan kamu ke midnight sale sama dia?” tanya Al lagi.

“Weekend 2 minggu kemarin. Saya uda kirim pesan ke bapak kok….tapi nggak di balas.” ucap Nesa dengan lembut.

Al kembali diam, Nesa juga ikut diam. Saat turun dari mobil, tanpa sepengetahuan Nesa, Al menyempatkan mengecek kembali ponselnya , apakah benar Nesa pernah mengirimkan pesan untuknya. Ternyata memang benar, tapi dia tak membalas.

“Ikut ke kantor bentar!” ucap Al sambil menggenggam tangan Nesa.

“Tapi baju saya gini …..bukan office look banget…..”

“Nggak papa!”

“Nggak dech pak! Satpamnya tau kalo saya pegawai sini….ntar dipikirnya nggak tahu aturan…” Nesa masih terus mengoceh.

“OK! Kamu tunggu di lobby. Aku naik bentar, taruh laptop. ”

Pria itu meninggalkannya di lobby, dan memastikan keamanannya.

“Pak! Tolong jaga dia bentar ya!” Pinta nya ke security.

“Emang aku anak kecil yang sering keluyuran?! sampe di titipin ke satpam!”protes Nesa yang masih bisa didengar Al dan membuatnya tersenyum.

Tak lama, pria itu menghampirinya.

“Kita makan siang dulu ya?!” Ajak Al.

“Makan dimana? Ini uda jam makan siang….ntar kalo ketauan gimana?”

“Masih belum mau published ya?”

“Bukan nggak mau Pak…nggak enak sama rival…” ucap Nesa dan menahan senyumnya.

“Ih tumben sombong!” Balas Al dan melingkarkan lengannya di pinggang Nesa.

“Saya tahu Bapak banyak fans nya, geli sendiri kalo baca WA di group…minta direspon semua japrinya….apa jadinya kalo mereka liat kita jalan gini? apa nggak di nyinyirin?”

“Nggak bakal ada yang berani nyinyirin kamu Q…..” jawab Al dengan hangat.

Dan akhirnya mereka memutuskan makan di apartemen Al.

“Perlu bantuanku Queen?” Tanya Al sambil memeluk Nesa dari belakang yang mengaduk mie instant.

Karena bahan yang ada di apartemen hanya, daging olahan dan mie instan.

“Pak….jangan gini donk…..” Protes Nesa.

“Nggak mau di deketin aku? Maunya sama Dimas?” Al masih cemburu.

“Bapak jangan ngomong gitu … sekarang ini saya lagi memantapkan hati. Tapi kayaknya bapak ragu tentang saya….apakah lebih baik nggak usah diteruskan?” Ucap Nesa sebal, karena Al sejak tadi mencemburui Dimas.

Al mengeratkan pelukannya, dan berkata lirih, “sori Q….dia membuatku_”

“Then stop to talk about him! Saya juga merasa nggak enak kalo bapak bicarakan dia.” Nesa berucap tak kalah lirih dan menoleh ke arah Al.

Wajah Nesa yang begitu dekat membuat Al gemas dan tidak bisa menahan. Al memegang rahang Nesa dan…

“Ehhmmmm……” Nesa melenguh, Al mencium bibirnya. Tanpa melepaskan cecapannya, Al memutar tubuh Nesa, dan kini mereka berhadapan.

“Kangen…” bisik Al lirih saat melepaskan ciumannya, dan sepersekian detik berikutnya, dia kembali melumat bibir Nesa, menarik tubuh gadis itu hingga tubuh mereka lebih dekat.

Bersambung

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Tamat