Complicated S2 Part 12

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Tamat

Cerita Sex Dewasa Complicated S2 Part 12 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Complicated S2 Part 11

Nesa dan pria cepak bernyanyi Munajat Cinta. Alvaro hanya bisa memandang dengan hati yang perih, dia tak berdaya saat pria lain bisa menggenggam tangan Nesa.

Usai bernyanyi, Nesa dan pria itu duduk di sofa yang sama, Alvaro melihat Nesa dan pria itu terlibat pembicaraan yang bisa membuat Nesa tersenyum lalu mencubit lengan si pria. Seorang pria yang lain berdiri, dan lagi-lagi Alvaro tak mengenalnya.

“Uda lewat jam 12! Nggak pake basa-basi ya! Selamat ulang tahun Vanesa Laksono Queen ….wish you all the best, tetap cantik ya non….” ucap pria itu menghampiri dan merentangkan kedua lengannya ke hadapan Nesa yang sudah berdiri, dia memeluk Nesa, cipika-cipiki dan mencium kening Nesa. Di susul dengan lainnya, yang kebanyakan kaum Adam.

‘Dia ulang tahun?’ batin Alvaro. Hatinya menciut. Bagaimana dia bisa tidak tahu kapan ulang tahun Nesa.

Alvaro malu menampakkan diri. Terlebih lagi, hubungan mereka saat ini sangat kacau. Alvaro tidak mau merusak momen keluarga ini.

“Mas nggak jadi nginep?” tanya si penjaga saat melihat Alvaro berjalan ke mobilnya.

“Nggak Pak! Besok pagi aja saya ke sini…..” balas Alvaro.

Pria itu melajukan mobilnya dan mencari penginapan yang terdekat.

Sabtu pagi, sekitar pukul 08.00, Nesa terbangun. Dia berjalan malas menuju pusat suara keramaian. Sepupunya berkumpul duduk lesehan di ruang keluarga, di depan TV bermain PS.

“Mas…agak geser donk…..” rengek Nesa dengan memaksakan duduk di antara Valdi dan pria rambut cepak. Matanya kadang tertutup kadang terbuka, kesadarannya belum kembali.

Mau tak mau, Valdi yang mengalah, karena pria rambut cepak itu tak bergerak se inci pun, tentu saja dia menggoda Nesa. Gadis itu berhasil duduk, dan merebahkan kepalanya di lengan Valdi yang sedang bermain game di ponsel.

“Dimaaaasssss….” lagi-lagi Nesa merengek, karena pria cepak yang ternyata bernama Dimas itu malah sengaja menghimpit Nesa, hingga tubuhnya merasa terjepit antara Dimas dan Valdi.

“Bangun donk babe! Perawan mana ada bangun jam 8…..” ucap Dimas saat melihat Nesa dengan mata yang masih terpejam.

“Buka kado sampe jam 2 Mas….” jawab Nesa. Walaupun matanya tertutup, gadis itu bisa mendengar dan merespon.

“Kado ku gimana?” tanya Dimas lagi.

“Nich!” jawab Nesa sambil merogoh bagian dalam kaosnya lalu memperlihatkan kalung dengan hiasan liontin berbentuk hati.

“Disimpan ya…..”Dimas terus berbicara

“Hm….” jawab Nesa dengan mata yang masih terpejam.

“Maaf ya Q…aku nggak bawa kado….”

“Astaghfirullahaladzim!” Nesa langsung terbelalak saat suara yang dikenalnya, dan tentunya panggilan khas untuk dirinya.

Gadis itu tak menyadari bahwa Alvaro duduk di antara sepupunya yang semuanya laki-laki.

***

Nesa melihat Alvaro sekilas dengan sisa raut wajah yang terkejut.

‘Berusaha nggak mikirin dia…eh dia nya malah nyemperin kesini. Dasar cowok nggak tahu diri!’ batin Nesa.

“Nila mana kak?” tanya Nesa dan menyenggol Valdi. Dia tak merespon kalimat Alvaro.

“Nila uda buka salon! Dia lagi ngukir kuku mami…” jawab Dimas.

Nesa berdiri. “Kemana?” tanya Valdi.

“Nila….” jawabnya langsung meninggalkan para sepupunya dan Alvaro

‘Kok Nila nggak bilang sich kalo ada dia. Ini pasti ulah Nila yang kasih tau alamat sini.’ batin Nesa dengan berjalan cepat ke teras depan, dimana kegiatan salon dadakan berlangsung.

“Baby, baru bangun? ” Aline menyapa hangat saat melihat Nesa menuju ke arahnya.

“iya Mami….” membalas sapaan Aline, dan mencium sebelah pipinya.

“Nil, kamu nggak tahu kalo dia datang?” tanya Nesa tanpa sungkan adanya Aline.

“Tahu! Pas tadi sarapan, dia ikut makan bareng….”

“Kok kamu nggak bangunin aku?!”

“Bangunin kamu?! terus kamu mau apa? dandan secantik mungkin? atau lari menghindar?” tanya Nila balik sambil matanya tetap fokus menghiasi kuku Aline.

“Itu pacar kamu Babe?” tanya Aline kepo.

“Bukan Mi……” jawab Nesa cepat.

“Mereka dalam status nggak jelas Mi…..” ucap Nila ikut campur.

“Kamu kasih tau dia tentang alamat sini?” tanya Nesa.

“Ibu yang kasih tau…..”

“Ngapain Ibu kasih tau sich?”

“Mana ku tahu! Kamu tanya aja sendiri…” jawab Nila santai.

Nesa meninggalkan Nila dan Aline. Dia ke kamar lalu membersihkan diri.

‘saya adalah tuan rumah. jadi suka-suka saya harus bersikap bagaimana’ Nesa membatin saat dia berdiri didepan cermin.

Nesa menuju meja makan, karena hanya dia sendiri yang belum sarapan.

Di meja makan ada beberapa tantenya dan ibunya sedang membuat kue kering. Dan dia duduk di sebelah Isti yang kebetulan kosong.

“Ibu yang kasih tau Alvaro alamat sini ya?” Tanya Nesa tanpa basa-basi sambil mengunyah.

“Iya, katanya dia juga ada perlu di kota ini, mau mampir.” jawab Isti jujur.

“Jadi cuma bentar kan dia di sini?” tanya Nesa.

“Nggak tahu juga. Kalo mau nginep ya nggak papa, asal mau tidur uyel-uyelan….kenapa?”

“Nggak papa, tanya aja!”

Isti mencondongkan tubuhnya ke Nesa, lalu berbisik.

“Uda 26 tahun, selesaikan masalah secara dewasa ya…..” tutur Isti seolah tahu tentang hubungan anaknya dan Alvaro.

“Iya Bu….” jawab Nesa.

‘Apa yang diselesaikan? semuanya uda jelas kok! Anakmu yang ke GR an Bu!’ batin Nesa.

Usai sarapan, Nesa mencuci semua piring yang telah terpakai, karena tugas Nesa selama di Vila adalah cuci piring.

Setelah itu, Nesa mengambil sebuah buku novel lalu duduk di ayunan disekitar taman kecil yang cukup rindang, spot favoritnya.

Dia membaca novel sambil bersandar di kursi ayunan dan menggerakkan secara santai.

Tiba-tiba dia merasakan seseorang duduk mengimbangi di seberangnya, mengimbangi ayunan.

“Baca apa?” tanya Alvaro. Nesa tahu pemilik suara walaupun tak melihat wajahnya.

“Lupus…” jawab Nesa berusaha tenang, padahal hatinya masih bergejolak, masih ada rasa sebal.

“Sering ya ngadain acara gini?” tanya Alvaro lagi. Pria itu cukup senang saat Nesa menjawab pertanyaannya.

“Minimal setahun sekali…..”

‘Gimana mau konsen baca kalo dia di sini’ batin Nesa.

“Babe! Katanya butuh pelampiasan….aku sudah siap!” celetuk Dimas yang berdiri di samping kursi ayunan Nesa, dan memegang tiang penyangga ayunan.

‘Pelampiasan apaan nich?!’ tanya Alvaro dalam hati.

“Masih baca Mas….” Jawab Nesa dan mengangkat ponselnya.

“Ya uda….kalo siap aku tunggu di kamar ya Babe….” ucap Dimas dan mengacak halus rambut Nesa lalu meninggalkannya.

‘Pelampiasan apa kok sampe di kamar?’ Alvaro menggerutu dalam hati

“Kok manggilnya Babe?” tanya Alvaro yang tak sabar ingin tahu.

“Soalnya orang tua Dimas, panggil Nesa, Baby….jadi dia ikutan juga…”

“Kenapa kamu di panggil Baby?”

“Mami Aline pengen punya anak perempuan, tapi nggak mau hamil, takut yang keluar laki terus. Jadi waktu Ibu lahirin Nesa, mami yang excited, lagian ponakan perempuan cuma Nesa aja…”

“Terus dia ngomong pelampiasan-pelampiasan itu ngapain?” Alvaro mulai menginterogasi.

“Dia minta creambath…soalnya kalo Nesa lagi kesel butuh tempat pelampiasan, remes-remes kepala orang…”

“Kalo gitu, masukkan aku dalam antrian…..”

“Nggak bisa! Uda full sampe pulang! Malah banyak yang nggak dapat kuota!” jawab Nesa tegas.

Lalu dia berdiri dan berjalan meninggalkan Alvaro sendiri. Pria itu merenung, bagaimana dia bisa memulai untuk menjelaskan kejadian yang membuat hubungannya berantakan, karena Nesa selalu lari.

Tak lama datang seorang pemuda.

“Hai…kenalin, Juna! Pria tampan nomor 2 di klan ini!” Arjuna sambil mendaratkan pantatnya di kursi ayunan.

‘Kampret banget nich anak! Dia bilang paling tampan! Aku juga tampan, tapi nggak pernah ngaku-ngaku gitu….Eh! Tapi dia bilang nomor 2, terus yang nomor 1 sapa?’

“Alvaro Rendi….” Alvaro mengulurkan tangan, dan di sambut oleh Arjuna.

“Kakak nginep sini kan?” tanya Juna.

“Mungkin… By the way…kamu bilang pria tampan nomor 2, yang nomor 1 sapa?” tanya Alvaro penasaran.

Arjuna terkekeh mendengar pertanyaan Alvaro.

“Yang paling ganteng, ya jelas Baba aku….”

“Baba?”

“Bapak aku, Angga Laksono. Tuch! Yang lagi nyuci mobil sama Ayah Aji….” ucap Arjuna sambil menunjuka 2 orang yang sedang mencuci mobil.

Alvaro melihat ke arah yang di tunjuk. Dia melihat pria paruh baya yang memang masih terlihat tampan di usianya. Nggak ada salahnya seorang anak mengagumi sosok ayahnya.

“yang nomor 3 sapa?”

“Dimas! Walaupun dia nggak ada darah Laksono, tapi dia uda termasuk dalam keluarga ini”

“Maksudnya?!” tanya Alvaro tak mengerti ucapan Arjuna.

“Dulu, mami Aline nikah sama papanya Dimas, lalu mereka cerai. Nah ..si Dimas nggak mau ikut ayahnya, kata Baba, ayahnya Dimas suka main tangan. Jadi demi keamanan Dimas, mami Aline ngajuin hak wali di pengadilan. Terus mami Aline nikah sama papi Nares.”

‘Wah! Gawat ini! Dimas bisa aja dekati dia, bisa juga nikahi dia…….’ batin Alvaro.

“Kayaknya Dimas sayang banget ama Nesa….”

“Banget! Dulu kalo dijahili ama sodara kita, Dimas yang marah…. Waktu kak Nesa kecil, mami Aline rela pulang sore demi nyulik Nesa. Dibawa ke rumahnya. Ntar balik ke rumah, uda pake baju baru. Keluarga Dimas sayang banget, Dimasnya juga anak tunggal, nggak ada temen. Ada Kak Nesa…klop lah sudah…” Ucap Arjuna. Pemuda itu masih melanjutkan bercerita bagaimana sayang nya keluarga ini ke anak gadis Aji satu-satunya.

Alvaro merasa rendah diri, minder, saat mendengar bagaimana mereka memperlakukan Nesa.

“Oh iya…Dimas kerja dimana? kok di lehernya ada tato nya……Bukan preman kan?!” Alvaro masih mencemburui Dimas.

Arjuna terkekeh mendengar ucapan Alvaro.

“Dimas pemasok bahan pangan di beberapa hotel dan Resto di Malang dan Surabaya. Dari Surabaya, armadanya bawa hasil laut di kirim ke Malang dan Batu. Lalu saat turun ke Surabaya, armadanya bawa sayur dan buah. Dia juga sedang menyicil kondotel, ketularan ayah Aji.” Arjuna bercerita tentang sepupunya.

“Kamu sendiri?”

“Masih kuliah…S2. Kami juga team marketing untuk wirausaha keluarga ini.”

“Kami sapa?”

“Ya semuanya…..ntar kita dapat komisi, walaupun dikit kan lumayan….”

Vasco mendatangi Juna dan Alvaro.

“Al, kamu nyapu daun kering di taman? Atau ngepel dapur dan ruang makan?” Vasco bertanya.

“Maksudnya?” Alvaro kembali bertanya karena tak paham.

“Semua yang di sini, punya tugas masing-masing. Kamu mau yang mana? Atau kamu mau balik?” Vasco menjelaskan.

“Aku nyapu taman aja!” Jawab Alvaro.

‘Aku nggak akan balik sebelum urusan sama dia belum beres.’ batin Alvaro.

“A!B!C!” Teriak seorang wanita.

“Sapa a b c?” Tanya Alvaro.

“Arjuna, Bima, Chandra…kita bagian belanja sayur dan lauk di pasar.” Jawab Arjuna sambil beranjak dari ayunan meninggalkan Alvaro dan Vasco.

“Nyapu nya terserah kamu mau kapan, pokoknya sehari sekali. Sapunya ada di belakang pohon. Daun keringnya taruh dikarung, ntar di olah ama penjaga jadi pupuk. Tau kan yang aku maksud?” Tanya Vasco.

“Tau donk kak…..” Jawab Alvaro.

Mereka kembali masuk ke dalam, dan Alvaro mencoba berbaur dengan keluarga Nesa. Sesekali dia melihat Nesa, sedang memijat kepala Dimas.

Sekitar pukul 6 sore, para sepupu Nesa keluar ke alun-alun Batu. Nesa semobil dengan Alvaro, tapi dia tak sendiri, ada Valdi dan sepupu lainnya.

Saat di alun-alun Batu, Nesa selalu menggandeng Nila. Dan sebelah tangan lainnya, menggandeng sepupu yang ada di dekatnya. Alvaro hanya bisa melihat punggung gadis itu.

Alvaro bisa melihat wajah Nesa saat mereka makan bersama di warung pinggir jalan. Sesekali mata mereka bertabrakan, tapi sorot mata Nesa masih tetap sama, dingin, seolah mereka tidak terjadi apa-apa.

“Nil! Kamu uda up date di slack?” Tanya Dimas ketika baru tiba di vila setelah dari alun-alun.

“Tanya yang lain donk! Kamu nya jarang buka …..”

“Up date di slack apa an?” Tanya Alvaro ingin tahu.

“Jangan kasih tau Mas….malu tau!” Ucap Nila dengan nada tinggi. Sepupu Nesa yang lain tertawa mendengar protes Nila.

“Ama dia malu….lha ama kita nggak punya malu….” Sahut Vasco sambil tertawa dan melempar buntelan tisu bekas ke Nila.

“Beda kakak ….kita ngumpul mulai kecil…kalo ama dia, baru kenal….jatoh martabat aku sebagai wanita cantik….”

“Apa sich?” Tanya Alvaro makin penasaran.

“Kak Nila ini penggemar bokep….kalo ada video baru, dia kasih link di slack. Ntar kita bisa akses…” Bima menjelaskan.

“Invite aku donk di akun slack nya…” Sahut Alvaro antusias.

“Ntar aku di omeli Nesa…” Ujar Nila.

Bicara tentang Nesa, Alvaro baru menyadari gadis itu tak ada di ruangan ini.

Pria itu melihat sekitarnya, dan dia melihat bayangan Nesa diluar. Dia pun keluar dan menghampiri si gadis.

“Kok nggak di dalem?” Tanya Alvaro yang duduk di sebelah kursi Nesa.

“Di dalam berisik, nggak konsen bacanya.” Jawab Nila yang seperti menyiratkan pesan agar tidak menggangu dirinya.

Alvaro paham, dia hanya diam. Lalu dia mengeluarkan ponselnya.

Sementara itu, di ruang tamu, orang tua Nesa beserta om dan tantenya sedang duduk bersantai.

“Itu pacarnya Nesa, Ji?” Tanya Angga.

“Nesa belum ngomong apa-apa, tapi dia sudah beberapa kali di rumah.” Jawab Aji.

“Nesa uda besar ya….nggak terasa…. Jadi inget jemput Nesa, tiap hari pulang kerja Aline ngajak Nesa ke rumah” Nares suami Aline menimpali.

“Kamu uda siap di tinggal Nesa Ji?” tanya Arta.

“Siap nggak siap ya harus siap! Mana mas Aji pernah mergoki mereka di kamar kos berduaan aja…” Isti bersuara.

“HAH?!”

“BENERAN?!”

“ASTAGA!”

Dan masih banyak respon lainnya.

“Iya… beneran! Saat itu aku merasa gagal menjadi orang tua. Sorry Love…” Ucap Aji dan mencium pundak istrinya, karena kuatir Isti tersinggung.

“Kamu nggak tanya mereka ngapain aja?” Aline bersuara.

“Nesa nya bilang nggak ngapa-ngapain, yang Alvaro bilang mau tanggung jawab. Jadinya aku bingung…..”

“Pasti mereka di kamar kos ngapa-ngapain lah….” Celetuk Angga.

“Emang nya kamu mas!” Nara membalas dan mencubit paha suaminya.

“Soalnya kamu godain terus Byan….” Sahut Angga meraih tangan Nara yang mencubitnya lalu menciumnya beberapa kali.

“Bukan dia yang godain, kamunya yang menduda kelewat lama….liat Nara aja mesti nggak fokus…” Kata Arya, adik Angga. Di susul tawa yang lainnya.

“Lha gimana…Uda pernah kawin, terus libur…liat Byan yang statusnya calon istri jadinya pengen nunggangi mulu…”

“Ya Allah… mulut nya mas!” Nara memelototi Angga.

“Kok jadi ngomongin tunggang-menunggang….Ayok Pi! Tunggangi aku!” Ujar Aline yang sudah berdiri sambil mengajak Nares.

“Lin…Lin…Uda tua masih tetep aja….” Ucap Arta.

“Makin tua…kita makin menggoda lho kak….” Jawab Aline dan berjalan meninggalkan mereka.

Sikap Aline di ikuti oleh yang lainnya.

“Lho kalian mau kemana? Yang jaga Nesa sapa?” Tanya Aji.

“Ada kakaknya, ada sepupunya….mereka lebih dari cukup buat ngawasin Nesa.” Jawab Angga yang sudah berdiri dan memeluk istrinya dari belakang.

“Kalian istirahat…. mereka nggak bakal ngapa-ngapain….” Arta menenangkan Aji yang kuatir.

Akhirnya mereka ke kamarnya masing-masing, untuk menghangatkan pasangannya.

Disisi lain, Nesa mencoba konsentrasi membaca novel yang sejak tadi siang belum tuntas. Tapi tetap saja tak bisa, tentunya karena kehadiran Alvaro.

“Bapak nggak istirahat?” Tanya Nesa yang tak sabar ingin sendiri sambil melirik Alvaro.

“Kamu mau tidur?”

“Nggak! Saya masih mau baca novel….”

“Ya udah….kamu baca aja…aku nggak bakal berani ganggu kamu. Di belakang kita ada ayah ibu, om dan Tante….”

‘Tapi kamu ganggu pikiran saya Pak!’ batin Nesa.

“Saya masuk ya Pak…saya lanjutkan dikamar aja. Disini banyak nyamuk.” Pamit Nesa tanpa memandang Alvaro.

“Sweet dream ya Q….”

“Hm” respon Nesa.

Selama di vila, Nesa hanya bicara seperlunya saja dengan Alvaro. Tatapannya masih sama. Nesa berusaha berdamai, tapi hatinya tidak bisa berbohong, dia masih kesal, dia mengasihani dirinya sendiri, dan berusaha menciptakan tembok tinggi antara dia dan Alvaro.

Dan disinilah Nesa, di dalam mobil Alvaro. Hanya berdua menuju perjalanan ke Surabaya. Ini semua ulah Dimas yang memborong beberapa karung sayur, sehingga Nesa harus tersingkir dari keluarganya.

Tidak perkara mudah bagi Alvaro membawa seorang Nesa dari hadapan keluarga Laksono. Setelah pamit, pria itu masih mendapat pesan, wejangan hingga ancaman selama beberapa menit dari semua anggota keluarga. Padahal mereka cuma pisah mobil aja, jalan kembali ke Surabaya juga beriringan.

Setelah berjalan beberapa menit, mereka masih terdiam.

“Q….aku minta maaf” ucap Alvaro memberanikan diri membuka percakapan.

“Untuk?” Tanya Nesa berusaha tegar, dia menatap lurus ke depan.

“Aku yang merusak hubungan ini.” Alvaro mengakui.

“Maksud Bapak hubungan apa?”

“Hubungan yang udah kita jalin beberapa bulan ini….”

“Kita nggak ada hubungan apa-apa Pak….saya yang minta maaf, seharusnya saya tidak bersikap seperti itu.”

“Maksud kamu nggak ada hubungan gimana?”

“Ya nggak ada hubungan apa-apa Pak. Saya yang salah menafsirkan.”

“Kamu dari tadi bilang nggak ada hubungan apa-apa terus….aku nggak pernah ngajak wanita ke rumah orang tua ku, aku nggak pernah ngajak wanita ke acara keluarga…cuma kamu Q! Cuma kamu! Apakah menurutmu sikap itu tidak jelas?!”

“But you didn’t say anything about it…. Bapak nggak pernah ngomong apa-apa tentang hubungan itu”

“Oh…jadi itu masalahnya?! Kamu maunya gimana? Do you want me to tell you that I love you? Do you want me to ask you, would you be my girl? Is that what you want?”

Nesa tak menjawab.

“Q…it’s too old for me. Lagian aku nggak tau sejak kapan aku punya rasa ini. Semua berjalan mengalir begitu saja. Apa kamu pengen punya tanggal jadian? Terus kita merayakan tanggal jadian? Lalu upload di medsos? Gitu?!” Tanya Alvaro di susul kekehan kecilnya.

“Kamu pilih mana yang lebih baik? Pria dengan mudahnya menyatakan cinta tapi di belakangmu dia fuck boy…. atau pria yang tidak banyak bicara tentang cinta tapi dia tulus sama kamu…” Tanya Alvaro lagi.

‘Tulus-tulus ndasmu! Cewek kemarin itu sapa kok sampe nyosor segala?!’ batin Nesa dalam hati, dia tak menjawab pertanyaan Alvaro.

“Kok nggak di jawab? Pasti kamu pilih yang kedua kan?”

‘Pilihannya jelek semua! Makanya aku nggak milih Piiiaaaakkkk!’ batin Nesa lagi.

“Untuk MEMASTIKAN suatu hubungan, nggak ada salahnya seorang pria sesekali mengungkapkan rasa cinta melalui ucapan.” Nesa menekan kata memastikan.

“Ok….aku sudah tau yang kamu maksud….” Alvaro menanggapi.

Usai percakapan tadi, mereka kembali terdiam, hingga Nesa tiba di rumahnya sekitar pukul 7 malam.

Pria itu langsung pamit pulang, dan di tengah jalan Alvaro menelepon daddy.

“Halo…Daddy?!”

“Ya Al…..”

“Daddy sama Mommy jangan tidur! Aku mau ke rumah! Aku buat kesalahan, dan aku harus tanggung jawab.”

“Tanggung jawab apa Al?!”

“Nanti sampe rumah aku ceritakan!”

Alvaro mematikan sambungan telepon.

Tiba di rumahnya, Alvaro dengan terburu masuk.

“Daddy! Mommy! Tolong ganti baju! Aku mandi bentar!” Ucap Alvaro bicara sambil berjalan melewati orang tuanya.

“Anakmu kenapa Ren? Dia mau tanggung jawab apa? Jangan-jangan dia hamili anak orang!”

“Astaga… amit-amit mas! Kita ikuti aja maunya dia….” Ucap Rena dan berdiri menuju kamarnya.

Beberapa menit kemudian.

“Ayo Dad! Mom! Kita berangkat sekarang aja! Ntar kemalaman….” Ucap Alvaro yang sudah rapi dan wangi.

“Eh kamu duduk dulu…. ngomong apa yang terjadi….” Dani berkata.

“Masalah ini uda kelewat lama Dad…Al jelasin sambil jalan ya…Yuk Mom!”

Mereka bertiga sudah berada didalam mobil.

“Kamu uda yakin Al?” Tanya Rena yang duduk di belakang.

“Yakin Mom! Kita lagi punya masalah, dan Al yakin ini jalan keluarnya.” Jawab anaknya dengan tegas.

“Ren…tolong cerita donk! Ini kita mau ngapain?” Tanya Dani.

“Kita mau ke orang tuanya Nesa.” Jawab istrinya.

“Terus?!”

“Ya ngelamar lah Dad….” Jawab Alvaro kesal mendengar respon daddy nya.

“Daddy pikir kamu hamili Nesa, terus orang tuanya marah…. Kok ngomong tanggung jawab segala….”

“Mau nya sich gitu Dad….liat wajahnya uda nggak nahan!”

“AUW!” Pekik Alvaro, secara bersamaan Dani menjewer telinganya, dan Rena mencubit kecil tengkuknya.

“Becanda Dad! Mom!”

“Awas kamu grusak-grusuk!” Ancam Dani.

“Nggak Dad!”

Saat melewati gerbang perumahan.

“Lho….ini kan jalan nya kayak rumahnya Aji ya Ren?” Tutur Dani baru menyadari.

“Ya emang kita kesana….” Jawab Rena santai.

“Jadi Nesa itu anaknya Aji? Kok daddy nggak tahu?” Dani masih bingung dengan hubungan anaknya.

“Cuma mommy dan Tante Stella yang tahu….” Jawab Alvaro tenang.

“Apa Nesa berkaitan dengan bergabungnya dia di Art Life Ren?” Tanya Dani menoleh ke istrinya.

“Benar sekali pak Daniel Artomoro…” Rena menjawab dengan tersenyum.

“Kenapa aku nggak dikasih tahu?”

“Nah ini uda dikasih tahu….” Jawab Rena menggoda suaminya.

“Bukan gitu Ren….” Dani merendahkan suaranya.

“Iya-iya mas…ntar pulang dari Aji aku cerita …” Ujar Rena sambil tersenyum.

Di rumah Aji Laksono.

“Akhirnya….kita bisa ngumpul lagi sekian lama….” Aji berkata usai makan malam.

“Alhamdulillah…kakak kemana Nes?” Tanya Isti.

“Naik semuanya, katanya ngantuk….semalam nggak tidur Bu… Becanda mulu, ngumpul semua di kamar kakak. Berisiknya sampe tempat Nesa.” Jawab putrinya.

‘Liat bokep barengan Bu’ lanjutnya dalam hati.

Mereka mendengar suara salam, dan mereka membalasnya.

“Buka pintunya Nes! Sapa malam-malam kesini?” Isti bertutur.

Nesa beranjak dari sofa lalu membuka pintu. Dia melihat Alvaro di balik pintu.

“Bapak ngapain ke sini? Ada yang ketinggalan?” Tanya Nesa heran saat Alvaro kembali ke rumahnya.

“Eh…Om…Tante…” Lanjut Nesa berusaha ramah ketika melihat orang tua Al berjalan menuju ke arahnya.

“Ayahnya ada?” Tanya Dani.

“Oh…ada Om…. Silahkan masuk…” Jawab Nesa bertambah bingung, mengapa orang tua Al mencari orang tuanya.

‘Jangan-jangan dia ngadu ke ayahnya kalo di cuekin selama divila? Atau jangan-jangan dia keracunan makanan, terus dia bilang abis makan dari vila, atau dia ngamuk di suruh nyapu halaman?’ batin Nesa yang masih mempertanyakan kehadiran orang tuanya.

Bersambung

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Tamat