Complicated S2 Part 11

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Tamat

Cerita Sex Dewasa Complicated S2 Part 11 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Complicated S2 Part 10

“Aku nggak bisa deket-deket ama dia….” ucap Nesa sambil mengelap peralatan salon.

“Kenapa? Dia masih ngomong nyelekit lagi?” Tanya Nila yang sedang menyapu.

“Bukan! Aku ngerasa binal banget Nil….masak aku di giniin mau..di gituin mau…kayak nggak ada harga diri, mbak….” Nesa mengaku.

“Kalian uda ngapain aja?” Tanya Nila menghentikan kegiatannya dan melihat Nesa.

“Aku diem aja waktu dia gandeng aku…. waktu tangannya di pinggangku… padahal dia nggak ngomong apa-apa tentang hubungan ini…Binal nggak sih?” Ucap Nesa, tapi gadis itu tak bercerita tentang bibir yang saling melumat.

“Tapi kamu kan uda dikenalkan ke keluarganya…jadi hubungan kalian lebih dari teman..”

“Iya juga sich…tapi _”

“Sssstttt…Uda datang ….” Nila mengingatkan Nesa untuk menghentikan curhatannya karena pegawai salon berdatangan.

Malam hari Alvaro mengirimkan hanya beberapa pesan singkat, karena dia sibuk dengan warung nya.
Nesa memakluminya.

***

Senin seperti biasa, Nesa di antar kakak nya.

Tiba di kantor sudah ada kotak Snack dimeja Nesa, membuatnya mengulum senyum.

‘for my Q’

Nesa tahu darimana kotak Snack itu berasal, dia mengirimkan pesan terimakasih dan dibalas balik oleh Alvaro.

‘can’t wait to see you, Q’

Lagi-lagi pesan kecil yang dikirimkan Alvaro membuat Nesa tersenyum.

Mereka sama-sama saling merindu, tapi mereka sama-sama saling menahan.

Tiba pulang kerja.

Biasanya Nesa mengirimkan pesan saat dia sudah siap. Namun kali ini dia ingin menghampiri Alvaro.

‘Sesekali nyamperin dia…kali aja dia punya gebetan yang dia sembunyikan.’ batin Nesa sambil mengantri di lift.

Setelah melewati reception, Nesa mengetuk pintu ruangan Alvaro.

“Masuk!” Pinta suara yang dirindukannya.

Dengan menahan senyum Nesa membuka kenop pintu.

“Kok nggak bilang kalo uda kelar? kan aku bisa ke sana Q…” Ucap Alvaro ketika melihat Nesa masuk, gadis itu meletakkan tasnya di kursi.

“Emang kalo saya kesini nggak boleh, Pak? Takut ketahuan sama pacarnya ya….” Balas Nesa sambil melihat sekeliling ruangan Alvaro, dia berdiri disisi lemari merapikan map yang agak berantakan.

“Cemburu ya kalo aku punya pacar?” Pria itu menggoda.

“Emang ada?” Nesa menoleh sesaat, memancing Alvaro.

“Emang nggak ngerasa?” Alvaro balik bertanya.

Nesa terdiam, tidak bisa memancing lagi, dia ingin Alvaro mengatakan sesuatu tentang hubungannya, agar semuanya jelas, tidak ada keraguan.

“Terserah bapak aja!” Ucap Nesa sedikit jengkel. Dia kembali merapikan map.

“Kok gitu?!” Ucap Alvaro dan berdiri menghampiri Nesa.

“Kamu pengen gimana?” Tanya Alvaro yang kini memeluk Nesa dari belakang.

Dia mencium beberapa kali bagian belakang kepalanya lalu menyandarkan dagunya di pundak Nesa.

Nesa menggelengkan kepala, dia senang sekali ketika Alvaro memeluknya, rasa jengkelnya pun langsung hilang.

“Pak…kita masih di kantor…” Nesa berucap lirih sambil menyibukkan menata map sebagai pengalihan.

“Jadi kamu mau dimana? Di apartemen?” Tanya Alvaro yang tak bosan menggoda Nesa.

Nesa tak menjawab, dia mengalihkan perhatiannya dengan barang-barang yang ada di lemari.

“Q….map nya lebih penting ya dari pada aku?” Alvaro protes karena Nesa mengabaikannya.

Nesa menghela napas dan berbalik, lalu mengalungkan tangannya ke leher Alvaro, pria itu terkejut dan jantungnya berdetak kencang. Dia tak menyangka jika Nesa akan bertingkah seperti ini.

“Jadi bapak maunya gimana?” Tanya Nesa hangat yang kini menggoda Alvaro. Gadis itu memainkan jemarinya di tengkuk dan rambut belakang si pria.

‘Berani sekali kamu Nes….’ gadis itu membatin.

Mereka sama-sama bisa merasakan hembusan nafas yang satu dengan yang lain.

Alvaro berusaha tenang, dia tersenyum dan menatap tiap inci wajah Nesa.

“Kemarin aku lemes banget…nggak semangat…”

“Capek ya Pak? Uda ke dokter?” Nesa menatap dengan rasa kuatir.

“Kata dokter….obatnya cuma peluk kamu….” Alvaro mengeratkan pelukannya.

“Gombalnya receh….” Nesa tertawa lirih sambil menundukkan kepalanya, dan Alvaro ikut tertawa lirih. Pria itu tak mau kehilangan kesempatan mencium kening Nesa yang sangat dekat dengan bibirnya.

“Kok gombal? Liat aku Q!” pinta Alvaro.

“Pak…kita pulang yuk…” ucap Nesa yang saat ini menatap wajah Alvaro yang masih tersenyum.

“Tapi mampir makan dulu di plaza sebelah, lalu ke apartemen bentar ambil kaos. Aku tadi lupa nggak bawa buat ganti ke warung….Ok?!” Alvaro menahan sekuat mungkin agar tak mencium bibir Nesa yang begitu menggodanya.

“Ok!” jawab Nesa lirih.

Alvaro mencium kening Nesa lagi lalu menguraikan pelukannya.

Mereka keluar ruangan bersamaan. Saat didalam lift yang hanya berisi mereka berdua, Alvaro mendekati Nesa dan melingkarkan lagi lengannya di pinggang si gadis.

“Pak….ada kamera lho…..” Nesa memperingatkan.

“Cuma gini aja…..”

“Ntar ada karyawan yang liat lho”

“Ini jam berapa? Mereka uda di rumah Q…..” Ucap Alvaro sambil mencium sisi samping kepala Nesa.

“Nah kan! Tadi peluk aja…sekarang cium kepala..nanti apa?” Nesa melirik Alvaro yang tersenyum.

“Kamu pengen nanti diapain?” bisik Alvaro dengan menempelkan bibirnya ditelinga Nesa, dan bersamaan pintu lift terbuka.

“NESA?!” pekik 2 orang melihat Alvaro yang memeluk pinggang Nesa.

Gadis itu hanya bisa meringis melihat wajah terkejut 2 teman setianya. Mbak Vita dan Eja.

***

“Jadi Bapak sama Nesa uda berapa lama pacaran?” tanya Eja sambil mengaduk mie goreng.

“Emang kita pacaran ya Pak?” tanya Nesa menuntut kejelasan statusnya.

“Emangnya menurut kamu gimana?” Alvaro balik bertanya, lagi-lagi Nesa kecewa.

“Ya uda…kalian seperti ini, yang pastinya bukan TE-MAN biasa, uda berapa lama?” tanya Vita yang melihat Nesa pura-pura cuek, tapi dia ingin mendengar kepastian dari Alvaro sejak kapan pria itu menetapkan hubungan seperti ini.

“Kapan ya?” tanya Alvaro sambil menyibakkan rambut Nesa yang menutupi pipinya.

“Pak…ini ada kita lho…..” ucap Eja yang iri dengan perlakuan Alvaro.

“Ya..anggap aja sejak aku ketemu dia di Sales Office, waktu dia terlambat datang dengan wajah lusuhnya…..”

Jawaban Alvaro kembali membuat Nesa kecewa, tidak sesuai apa yang dia harapkan.

“Jadi sejak itu kalian uda menjalin hubungan ini?” tanya Eja memastikan.

‘Ya nggak lah….’ batin Nesa.

“Anggap aja begitu…” jawaban Alvaro bertentangan.

“Lho ..padahal beberapa hari setelahnya, Nesa cari dukun lho Pak…Katanya Bapak mau disantet. Saat itu uda dekat kan Pak?! Nesa kok tega ya….” ucap Eja yang tersenyum dalam hati.

‘Makanya jangan sembunyi-sembunyi.’ lanjut Eja dalam batinnya.

“Lalu dia ketemu dukunnya?” tanya Alvaro melirik Nesa yang menunduk, pura-pura tidak mendengar.

“Kita nggak tau, Pak…. Terus Nesa pernah minta Bu Melda supaya Bapak diganti ama Development lain…kalo nggak diganti dia mau resign…..” Kali ini Vita yang mengadu.

“O…tapi dia nggak jadi resign kan? dan saya masih jadi Development kalian kan?” tanya Alvaro yang terus menatap Nesa.

Nesa menunduk, tak berani menatap Alvaro, dia tahu pria itu memandang dirinya sedari tadi.

‘Kayaknya aku salah pilih teman.’ Nesa membatin saat kedua temannya membuka aibnya.

Nesa hanya bisa terdiam dan mengumpat kedua temannya yang terus mengoceh tentang kebenciannya dulu.

“Kalian juga pernah kan ngomongin dia?” Kini Nesa bersuara dan melirik sekilas ke Alvaro. Dia tak mau disalahkan sendirian.

“Maaf ya Pak…memang kita sering ngomongin Bapak….” ucap Eja dengan nada sesal.

“Tapi Nesa kalo jelekin Bapak, ngatain Bapak lebih kejam ..kita nggak pernah kepikiran sampe nyantet lho Pak….” Vita mencoba menyelamatkan dirinya sendiri.

‘Alah Penjilat! Muka dua!’ batin Nesa.

Alvaro hanya bisa menatap Nesa yang terus menundukkan kepalanya.

Nesa sama sekali tidak menikmati makan malamnya. Dan kini mereka berjalan menuju apartemen Alvaro.
Mereka bergandengan, namun tidak ada pembicaraan.

“Masuk Q….” Pinta Alvaro dengan hangat.

Nesa masuk lalu duduk di sofa, lalu mengambil ponselnya. Dia merasa tak enak karena ocehan temannya.

‘Pasti dia ngambek lah…sapa yang nggak marah kalo mau di santet?’ batin Nesa.

“Kamu kalo minum ambil aja di dapur atau kulkas. Aku mandi bentar.” Ucap Alvaro dan meninggalkan Nesa sendiri.

Gadis itu berjalan perlahan dan mengelilingi apartemen.

Nesa menuju dapur lalu membuka kulkas. Dia merapikan beberapa alat rumah tangga yang di letakkan secara asal.

Hal ini dia lakukan untuk menebus rasa bersalahnya.

Nesa juga merapikan isi kulkas, buah dan sayur yang rusak dibuang.

“Kamu ngapain Q?” Tanya Alvaro dengan kaos oblong, terlihat santai tapi tetap tampan.

“Cuma bereskan aja kok Pak….” Ucap Nesa mencoba mengembalikan suasana yang sempat tak nyaman.

“Yuk berangkat!”

“Iya Pak….” Ucap Nesa.

“Ponsel Nesa dimana ya?” Tanya Nesa sambil mengobok-obok tasnya.

“Ketinggalan di food court?”

“Nggak! Tadi di sini Nesa WA an sama ibu….coba di miscall Pak….”

Alvaro mengeluarkan ponselnya dari saku, dia memencet nomor tujuan.

Suara ponsel berdering tak jauh dari Alvaro berdiri.

Pria itu mengambil dan…

“BON CABE EXTRA PEDAS Q?!” Tanya Alvaro dengan suara tinggi.

“Duh!” Ucap Nesa lirih dan memejamkan matanya.

“Hari ini aku dengar hal yang tidak mengenakkan….kamu mau nyantet, minta ganti development, dan sekarang kamu simpan nomor ku dengan nama BON CA-BE?” Alvaro menatap Nesa dan berjalan ke arahnya.

“Y-ya waktu itu bapak kalo ngomong pedes…saya bercanda mau ke dukun, kalo minta ganti memang bener…” Nesa mengaku dengan wajah ketakutan.

“Tapi aku kan uda minta maaf….” Alvaro tetap berjalan ke arah Nesa, dan Nesa pun berjalan mundur.

“Kan nggak jadi nyantet…nggak jadi ganti.” Nesa membela dirinya.

“Tapi kenapa nama BON CA-BE nggak di ganti? Nggak usah berlebihan… cukup namaku sendiri aja aku uda seneng kok…bon cabe?” Alvaro semakin mendekati Nesa.

“Ponsel kan barang pribadi saya Pak…jadi terserah saya mau kasih nama apa….” Nesa masih tetap dengan pendiriannya. Dan Nesa terduduk di sofa.

“Nggak ada nama lain selain bon cabe? Kamu jangan buat aku marah donk!” Alvaro sekarang mengungkung Nesa.

Kedua lengan Alvaro memegang sandaran sofa. Nesa merasakan hembusan kasar nafas Alvaro. Mereka menatap bola mata yang satu dengan yang lain.

“Lho bapak marah kenapa? Itu HP saya, hak saya memberi label nama apa aja di ponsel saya….” Nesa tak mau kalah.

Alvaro makin gemas dengan pembelaan Nesa yang memang benar.

“Kamu nggak mau minta maaf atas santet dan bon cabe ini?” Alvaro makin mendekatkan wajahnya.

“Nggak jadi nyan_”

Nesa tak melanjutkan kalimatnya karena Alvaro membungkam bibir Nesa dengan bibirnya.

Alvaro mengungkapkan rasa kesal dan gemas dengan melumat bibir Nesa.

Sedangkan Nesa merasa senang, Alvaro tak lagi marah, dia pun membalas dengan mengulum lidah Alvaro.
Perlahan Alvaro merubah posisinya, kini Nesa sudah ada di pangkuannya.

Rok Nesa terangkat hingga paha mulusnya menggoda Alvaro untuk mengusapnya.

Tangan Nesa menangkup rahang Alvaro seolah dia ingin terus menikmati bibir si pria.

“Aku nggak mau berhenti Q….” Alvaro melepaskan bibir Nesa, dan kini beralih ke lehernya.

“Ough….” Nesa mendesah dan tubuhnya menggeliat.

Gadis itu meremas lembut rambut Alvaro dan menikmati cecapan dilehernya.
Setelah beberapa kali mengecup dan menjilati leher Nesa, Alvaro berhenti.

“Aku mau ke kamar mandi Q….” Ucap Alvaro dengan nafas yang terengah-engah menatap bibir Nesa yang bengkak.

Nesa berdiri dari pangkuan Alvaro, dan pria itu berjalan cepat ke kamar mandi. Nesa merapikan busana sambil tersenyum mengingat apa yang baru saja mereka lakukan.

“Uda Q?” Tanya Alvaro yang muncul tiba-tiba.

“Urusan bapak uda selesai? Uda di keluarkan semua?” Nesa menggoda.

“Jangan bahas itu lagi…atau kamu nggak pulang malam ini….” Alvaro berucap dengan tatapan menggoda.

Mereka keluar apartemen dengan bergandengan tangan.

Pria itu mengantarkan Nesa pulang.

“Bapak balik aja…saya mau beli bakso dulu….” Pamit Nesa.

Biasanya Alvaro mengantar hingga pintu kos Nesa.
Tapi kali ini Nesa mengantri membeli bakso yang ada di depan rumah kos.

Alvaro kembali ke mobilnya.

“Kan lupa…pasti mikir sesuatu…” Ucap Alvaro saat melihat kotak makan Nesa yang tertinggal di mobilnya.

Mau tak mau, pria itu turun dari mobilnya dan kembali ke kos.

Alvaro melihat Nesa yang sedang interaksi dengan penjual bakso. Dia ingin menggoda Nesa, dia berniat berdiri dibelakangnya tanpa sepengetahuan Nesa.

Dan kini dia sudah berdiri tepat dibelakang Nesa.

“BAPAK!” pekik Nesa terkejut saat membalikkan badan sudah ada Alvaro, karena dia pikir pria itu sudah melaju dengan mobilnya.

“Ouw!” Pekik Alvaro, karena bakso yang dibawa Nesa tumpah dan mengenai kaosnya.

“Bapak sich…ngapain balik? Deket-deket lagi…Kan kaget….”

“Kembalikan kotak Snack….” Jawab Alvaro.

“Mampir ke kos bentar! Nesa bersihkan dulu nodanya….”

Alvaro menuruti, dia membuntuti lalu ikut memasuki kamar Nesa.

“Bapak buka kaosnya…saya bersihkan dulu yang ada nodanya….”

Alvaro melepaskan kaosnya, kini dia hanya memakai kaos dalam.

“Q….baksonya aku makan ya…. lapar…” Alvaro sedikit berteriak.

“Iya pak…makan aja…ntar saya bisa beli lagi ..” jawab Nesa dari kamar mandi.

Beberapa menit kemudian terdengar suara ketukan pintu.

“Pak tolong buka pintunya!” Nesa berteriak.

Dengan membawa mangkok, Alvaro berjalan ke arah pintu lalu membukanya.

“Kamu?!”

“Eh…Om….” Alvaro meringis melihat ayah Nesa dibalik pintu.

“Ayah ….” Sapa Nesa baru keluar kamar mandi.

Aji menatap Nesa yang hanya memakai daster lalu beralih menatap Alvaro yang hanya memakai kaos dalam.

“Yah….ini bukan yang seperti Ay_”

“Pulang sekarang Vanesa!” Ucap Aji tegas dan memerintah.

“Kamu juga ikut ke rumah!” Ucap Aji dengan melirik Alvaro.

Nesa kini duduk terdiam disebelah ayahnya yang mengemudi. Tanpa bicara, hening…..
Alvaro membuntuti dengan mobilnya.

***

“Jadi ini sebabnya kamu minta kos? Seberapa sering laki-laki ini masuk ke kamarmu?” Tanya Aji menatap anaknya.

“Baru kali ini yah… soalnya kaosnya kena sambal baksonya Nesa….” Jawab Nesa yang bersandar di lengan Isti.

“Apapun yang terjadi saya bersedia tanggung jawab Om….” Celetuk Alvaro.

“Tanggung jawab apa sich Pak….kan kita nggak ngapa-ngapain…” Nesa kesal dengan kalimat asal yang dilontarkan Alvaro.

“Tapi ini semua salahku Q…aku yang tanggung jawab atas kesalah pahaman ini….”

“Bapak ngomong tanggung jawab seolah-olah kita ini ngapa-ngapain…. padahal kita nggak ada hubungan apa-apa….” Nesa berucap mencoba meyakinkan ayahnya, bahwa mereka benar-benar tidak melakukan hal yang tak senonoh.

“Maksud kamu nggak ada hubungan gimana? Jadi kamu nggak pernah menganggap atas semua yang aku lakukan….”

“Tapi kita di kos tadi emang nggak ngapa-ngapain, aku cuci baju bapak…” Ucap Nesa menekan kejadian di kos, dia kuatir Alvaro akan bercerita tentang percumbuan mereka.

“Stop! Stop! Stop! Kalian ini kok ribut sendiri….” Ucap Aji yang sedari tadi melihat perdebatan yang tak jelas.

“Nesa nggak ngapa-ngapain Yah… beneran….”

“Sebaiknya kamu pulang….sudah malam. Dan Nesa malam ini tidur disini. Ayah mau bicarakan dulu sama Ibu, kamu boleh kos lagi atau enggak….” Ucap Aji berusaha tenang.

Alvaro berpamitan dan Nesa masuk ke kamarnya.

***

“Kenapa aku nggak bisa marahi dia sich, Love…..” Tanya Aji yang sekarang terbaring dikamar, menatap langit-langit.

“Mas terlalu sayang sama dia….” Ucap Isti yang merebahkan kepala didada suaminya.

“Kira-kira mereka uda ngapain aja ya?” Aji menerawang. Sebenarnya Aji ingin mengungkapkan kekuatirannya agar Nesa tetap menjaga kehormatannya sebagai wanita. Tapi pria itu takut kata-katanya akan melukai hati istrinya atau menyinggung perasaannya. Karena Isti telah gagal untuk masalah ini.

“Mas….aku uda cerita ke anak-anak tentang masa laluku yang tidak bisa ditiru. Apalagi ke Nesa, aku sering ingat kan….harus menjaga kehormatannya, keperawanannya…aku juga nggak mau dia mengalami hal yang sama….” Ucap Isti seolah tahu kekuatiran suaminya.

“Jadi menurut mu mereka nggak ngapa-ngapain ?”

“Aku lihat leher Nesa nggak ada tanda bekas cumbuan ….”

“Aku takut Nesa tergoda…..”

“Mas harus percaya sama Nesa… walaupun Al ganteng, tampan….aku yakin anak kita bisa jaga diri….”

Dari percakapan orang tua Nesa yang bimbang tentang anak gadisnya, akhirnya mereka masih mengijinkan Nesa kos lagi. Tapi dengan syarat, jika mereka mendengar atau melihat ada pria yang masuk di kamar kos lagi, Nesa kembali pulang.

******

“Ingat pesan ibu?!” tanya Isti sambil menyisir rambut Nesa yang lebat.

“Ingat Bu! Jaga keperawanan! Jangan kebablasan!” jawab Nesa dengan menyuapkan sesendok nasi di mulutnya.

“Ibu dan Ayah sayang Nesa. Nesa juga sayang Ibu kan?”

Gadis itu mengangguk.

“Ibu tahu…Al pria pertama yang dekati Nesa. Mungkin saat ini Nesa merasa nyaman kalo dekat Al…..seneng kalo liat Al….seneng dapat pesan dari Al……tapi Ibu juga kuatir kalo Al menyakiti Nesa….jadi Nesa tau kan harus bagaimana? Jaga diri Nesa…jaga hati Nesa…..” Isti mengingatkan anaknya dengan lembut dan bicara dari hati ke hati.

Nesa hanya bisa mengangguk lagi. Dia menyadari, dan menyesali perbuatannya dengan membebaskan Alvaro mencium bibirnya, mencecap lehernya beberapa kali tanpa hubungan yang tak jelas.

“Tapi Nesa masih boleh kan Bu di antar jemput Alvaro?” tanya Nesa dengan hati-hati.

“Boleh…Alvaro boleh datang kerumah kapan aja ….”

“Nes….kamu berangkat sama kak Vas ya?!” celetuk Vasco yang menuruni tangga.

“Nesa di jemput Alvaro kak…..”

“Jam berapa jemputnya?” tanya Vasco selaku pria yang paling tampan di keluarga Aji.6

“Ntar lagi datang….kakak uda sarapan?” tanya Nesa.

“Uda tadi….Kakak berangkat duluan ya….” ucap pemuda itu sambil mencium punggung tangan Ibunya lalu mencium puncak kepala Nesa.

“Uda pamit ayah kak?” tanya Isti.

“Uda Bu….” jawabnya dengan melangkahkan kaki keluar rumah.

Saat di teras, dia berpapasan dengan Alvaro.

“Mau berangkat kak?” tanya Alvaro dengan tersenyum ramah.

“Kamu ngapain kemarin masuk ke kamar kos Nesa?” tanya Vasco tak menjawab pertanyaan Alvaro.

Alvaro pun menceritakan apa yang terjadi.

“Kamu jangan mempermainkan Nesa dengan wajah gantengmu. Kalo kamu ada niatan sedikit saja menyakiti dia…lebih baik kamu mundur sekarang! Jangan sampe menyesal! Ngerti?!” Vasco memperingatkan dan menatap Alvaro dengan tegas.

Alvaro mengangguk kaku dan membatin, ‘Astaga….kakaknya yang ini ternyata sama aja. Malah kayaknya lebih kejam.’

Vasco pun berlalu, Alvaro melanjutkan memasuki rumah Nesa.

***

“Nah gitu donk mbak…punya pacar nggak usah disembunyikan!” Ucap Eja saat melihat Alvaro bergandengan.

“Masih anget Ja….ntar kalo udah kawin di towel aja udah girang…” Celetuk Vita.

“Itu hasil santet Nes?” Tanya Fajar.

“Belum di santet dia uda klepek-klepek….” Balas Nesa dengan sombong. Padahal dia sendiri masih ragu dengan statusnya saat ini.

“Awas lho…. jangan-jangan kamu yang disantet dia….” Umar mengingatkan.

“Emang iya Pak?! Gejalanya gimana tuh?” Tanya Nesa yang mulai kuatir, jangan-jangan dia disantet.

“Kalo orang di santet…di apa-apain mau aja…biarpun dia punya istri, punya pacar….dia rela.”

‘Ya Ampun…. masak iya aku di santet? ‘ Nesa membatin dengan wajah yang masam.

‘Tapi aku uda dikenalkan keluarganya kok… keluarganya nggak bicara apa-apa. Eh tunggu! Mereka keluarga beneran? Jangan-jangan mereka sewaan….’ Nesa berspekulasi.

Waktu berlalu, saat bertemu mereka hanya bergandengan tangan. Alvaro cukup puas dengan mencium kening dan pipi Nesa, karena dia teringat ancaman Vasco.

Dan Nesa juga sering menghindar jika Alvaro ingin mencium bibirnya dengan menunduk atau menoleh ke arah yang lain.

Hingga kini pun, Nesa belum mendengar kepastian tentang hubungan mereka.

Senin malam seperti biasa, Alvaro mengantar Nesa pulang.

“Pak….Jumat kan hari libur. Hari Senin dan Selasa saya cuti. Ada acara keluarga.” Ucap Nesa saat perjalanan pulang.

“Harus keluarga ya yang ikut?” Tanya Alvaro sambil mengemudi. Dia berharap Nesa mengajaknya.

“Semua yang ikut sudah dalam ikatan keluarga. Kecuali Nila….dia temani Nesa tidur”

“Kalo aku? Kapan bisa temani kamu tidur?”

“Emang mau?” tanya Nesa dengan mengulum senyum.

“Kok nanya balik…jawab donk Q! Kapan bisa temani kamu tidur?” Alvaro menggoda Nesa.

“Saya nunggu Bapak aja yang ngajak saya…….” kini Nesa yang menggoda Alvaro.

Pria itu tertawa kecil, lalu meraih tangan Nesa yang menganggur di pahanya.

“Namaku masih tetap cabe-cabe an ya?” tanya Alvaro menggenggam tangan Nesa, sesekali melepasnya karena harus berganti persneling.

“Emang bapak mau di ganti nama apa?” tanya Nesa, dia berharap pria itu menyebutkan panggilan tertentu dan akan dia tetapkan kalo hari ini adalah tanggal yang bersejarah sebagai awal kedekatan mereka.

“Kasih aja nama Alvaro….” jawaban pria itu meluruhkan harapan Nesa.

“Ok…” jawab Nesa lirih dengan hati yang kecewa.

“Oh iya….Selasa besok aku ada meeting. Pulangnya malam. Kamu pulang sendiri nggak papa ya Q….”

“Nggak papa Pak… kebetulan besok saya mau jalan sama Nila.”

“Kemana?” Alvaro ingin tahu.

“Plaza dekat kampus Nila…dia pulangnya agak malam, biar Nesa aja yang samperin….”

***

Selasa, menjelang berakhirnya jam kerja.

Nila : Nes, ntar aku ke tempatmu aja…ini uda kelar kok…lagian di plaza situ lebih lengkap

Nesa : OK! Ntar kalo uda di lobby, kabari ya..ini masih beres-beres….

Nila : Siap, ini OTW.

Jam kerja telah usai, sesuai janji, mereka bertemu di lobby. Dan mereka langsung berjalan ke Plaza yang tepat di sebelah gedung kantor Nesa. Saat berjalan santai, mereka selalu berhasil mencuri perhatian para kaum adam. Tentu saja karena kecantikan dan harum wangi 2 gadis ini.

“Mau cari apa sich?” tanya Nesa.

“Kaos kaki, kaos lengan panjang….di Vila kan dingin…..” jawab Nila.

“Emang yang kemarin-kemarin di kemanain? Harus beli baru?”

“Uda buluk mbak……”

Nesa yang awalnya hanya menemani, akhirnya dia juga tergiur untuk membeli beberapa kaos. Setelah beberapa jam menyusuri berbagai macam counter, mereka menyudahi perburuannya.

“Nes, makan yuk!” ajak Nila.

“Okay! kita makan di food court aja ya…banyak menu, tinggal pilih….”

Nila menyetujui, dan kini mereka menuju food court.

Setelah menyantap makan malamnya, mereka masih terlibat obrolan seputar wanita. Sesekali mereka bercanda.

“Hmm….Nes…kita pulang yuk!” ucap Nila tiba-tiba.

“Lho! Ini Es telernya belum datang…..” jawab Nesa sambil melihat ponselnya, dia berharap Alvaro mengirimkan pesan.

Nila bingung mencari alasan, karena dia tidak biasa berbohong.

“Nes…..apapun itu, ada kita yang selalu sayang sama kamu….”

“Maksudnya apa Nil?!” tanya Nesa yang mengernyitkan dahinya, ia tidak paham kalimat sahabatnya.

“Kita disini aja, kita nggak mau cari keributan.OK?!”

“Nilaaaaaa apaan sich?!” tanya Nesa yang mulai tak sabar.

Nila menarik napas, dengan hati-hati dia berusaha menyampaikan sesuatu hal yang menyakitkan untuk sahabatnya.

“Kayaknya aku liat Al…..” ucap Nila lirih.

“Dimana?! katanya sekarang dia ada meeting….”

“Di belakang pilar. Dia sama cewek….” Nila masih berucap dengan lirih.

Secara spontan, Nesa menoleh ke arah pilar. Sayangnya pria itu duduk membelakangi, sehingga dia tidak tahu betul wajahnya. Tapi dari sosoknya, Nesa meyakini bahwa pria itu adalah Alvaro.

“Kamu foto aja dari jauh…minta penje_”

Kalimat Nila terpotong, karena Nesa sudah berdiri dan meninggalkan Nila sendiri di kursi. Nesa berjalan dengan langkah tegas.

“Tuh kan….” ucap Nila pasrah, mau tak mau dia berjalan mengikuti Nesa.

Langkah Nesa semakin dekat, dan dia mendengar tawa bahagia seorang wanita yang duduk disamping Alvaro.

“Makasih ya uda mau di cium….” ucap wanita itu sambil menyenggol bahu Alvaro.

Tanpa basa-basi di berdiri di depan Alvaro.

“Tadinya saya nggak yakin kalo yang saya lihat wajah Bapak..ternyata bener! Saya pikir bapak meeting….” Nesa dengan nada menyindir dan melihat sekilas ke arah wanita yang ada di sebelah Alvaro dengan sisa senyumnya.

“Q?” Alvaro terkejut dengan kehadiran Nesa dan kalimat yang dilontarkan. Pria itu tahu, kondisi yang dilihat Nesa saat ini pasti memunculkan dugaan yang tak diinginkannya.

“Atau ini yang dimaksud meeting ya Pak?”

“Tadi memang meeting…tapi cuma bentar….” Alvaro kini berdiri mendekati Nesa dan berusaha menjelaskan dengan nada yang sabar dan hangat.

“Padahal kemarin bilang kalo pulangnya malam. Harusnya bapak kasih_…ah iya…..” Nesa yang awalnya berkata dengan lugas, tiba-tiba berkata lirih dengan sedikit senyum sinis, dia menertawakan dirinya sendiri.

Gadis itu ingat dan menyadari, bahwa Alvaro tidak pernah mengucapkan apapun tentang hubungannya. Dan Nesa mengerti, dia tidak seharusnya menuntut segala hal tentang pria itu.

“Pulang Nil!” pinta Nesa, setelah menatap wajah Alvaro dengan sorot mata yang terluka dan kecewa, lalu dia berbalik.

Nila yang membawa seluruh barang bawaan hanya bisa menyengir dan tersenyum kaku ke Alvaro. Sambil berjalan, Nesa maraih kasar barangnya dari tangan Nila. Sahabatnya hanya bisa diam, dia tahu bagaimana Nesa saat kecewa dan marah.

Pria itu mencoba mengejar Nesa yang berwajah kaku, tanpa senyum.

“Q! Tunggu bentar!” ujar Alvaro dengan langkah cepat mencoba menyamai langkah Nesa yang lebih cepat.

Nesa tak menjawab, tatapannya lurus ke depan. Tak menghiraukan Alvaro yang memanggilnya beberapa kali. Dia memalingkan wajahnya saat Alvaro berjalan di sebelahnya.

Sedangkan Nila berjalan kadang sedikit berlari agar bisa sejajar dengan langkah Nesa.

“TAXI!” teriak Nesa lantang dan melambaikan tangannya ke arah deretan taxi yang berada di valey parking.

“Q…aku bisa jelasin…..” ucap Alvaro dengan wajah kuatir.

Nesa hanya diam, dia menatap tajam ke arah taxi yang mendekat. Nila hanya bisa melihat, bagaimana Nesa mengabaikan kehadiran Alvaro. Pria itu mengucapkan beberapa kalimat, tapi Nesa hanya diam dan tak peduli.

Nesa dan Nila memasuki taxi yang menghampirinya. Sepanjang perjalanan gadis yang hatinya terluka melihat keluar jendela, lagi-lagi Nila hanya bisa diam.

Di saat hatinya mulai terbuka, berusaha meyakinkan tentang perasaannya, berusaha bertingkah baik demi simpati kedua orang tuanya…..tapi kenyataannya Nesa kembali kecewa.

Ini salah aku…..

Aku terlalu berharap tentang hubungan ini….

Impianku terlaku besar…

Khayalku terlalu tinggi….

Tidurku terlalu nyenyak hingga aku terus memimpikannya …..

Tadi pagi aku masih merasakan dia menggenggam tanganku…

Ternyata tidak seindah yang aku inginkan…..

Nesa terdiam dan introspeksi diri.

“Aku bego ya Nil?” Nesa membuka percakapan setelah sekian lama dia terdiam.

Kini Nesa menginap di rumah Nila. Mereka sama-sama tiduran di ranjang Nila.
Nesa menatap langit-langit, sedang kan Nila memiringkan tubuhnya menatap Nila.

“Bego kenapa?”

“Melakukan kebodohan yang sama.. terlalu cepat menyimpulkan …. menyalahkan artikan hubungan yang belum jelas…”

“Adanya pengalaman ini, membuat kamu lebih kuat Nes….nggak kayak aku….aku selalu ingin jatuh cinta, tapi aku takut dilukai….aku salut sama kamu….kamu berani melangkah mencoba…. sedangkan aku?” Kali ini Nila mencurahkan isi hatinya.

“Rasanya lebih baik nggak usah jatuh cinta…. daripada kayak gini….” Nesa menimpali.

“Eh! Besok ke vila ikut semua kan?” Nila mengalihkan pembicaraan.

“Rasanya sich iya….uda lama nggak ngumpul….”

Nesa merespon pembicaraan Nila tentang keberangkatan ke vila. Beberapa saat mereka membicarakan rencana selama di vila.

“Bobok yuk! besok masih kerja mbak….” ajak Nila.

Nesa tersenyum lalu membalikkan tubuhnya, memunggungi Nila. Mata Nesa belum bisa terpejam, dia masih mengasihani dirinya sendiri, menyalahkan dirinya sendiri, dan tak terasa airmatanya meleleh.

Di sisi lain, Alvaro mencari Nesa ke kos, tapi dia tak menemukan gadis itu.

Beberapa kali menelepon, Nesa mengabaikan.

Beberapa kali mengirim pesan, sudah centang biru 2, namun Nesa tak berniat membaca tulisan yang panjang.

Alvaro juga menghubungi Nila, namun dia mendapat respon yang sama.

Rabu pagi, Nila mengantar Nesa ke kantornya lebih dulu. Baju kerja dan perlengkapan lainnya diantar oleh Pak Im saat mereka tiba dari Plaza semalam.

Nesa sengaja memasuki unit kantornya terlambat dari biasanya.

“Kemana aja Nes? Kirain nggak masuk?” tanya Eja.

“Nasib orang nebeng mas….” jawab Nesa tersenyum tipis sambil meletakkan tas di bawah mejanya.

“Tadi dicari Pak ganteng lho…dia nunggu disini sampe jam 8.30 ….”

“Iya, tadi uda WA an kok….” jawab Nesa bohong.

Alvaro mengirimkan puluhan pesan, gadis itu hanya membuka dan membacanya sepintas, tidak ada berniat untuk membalas.

Alvaro hanya bisa diam dibalik meja, dia tak sabar ingin menemui Nesa di kantornya, tapi dia juga tak ingin menjadi biang keributan dan menjadi bahan perbincangan.

Beberapa kali Heru selaku Office Boy yang kali ini diminta menerima telpon menyampaikan, “Mbak Nesa…Pak Alvaro…..”.

Dan Nesa selalu menjawab dengan kata yang sama, ” Bilangin Sibuk ….”

Sebelum makan siang, Nesa makan siang lebih dulu. Dia malas keluar kantor, dia malas ketemu dengan Alvaro.

“Nes…nggak makan siang?” tanya Fajar yang hendak keluar bersama dengan yang lain.

“tadi jam 11 an aku uda makan duluan …laper banget….” Ujar Nesa yang terus berbohong.

Setelah beberapa saat sepeninggal teman-teman sejawatnya, Alvaro menghampiri mejanya. Pria itu menarik kursi Vita, dan dia duduk didekat meja Nesa.

“Q…kamu nggak makan? Ntar asam lambungnya kambuh…” Alvaro berkata lembut dan hangat, dia tahu Nesa belum menerima dirinya.

“Uda” jawab Nesa singkat tanpa melihat Alvaro, matanya menatap layar monitor.

“Kamu mengabaikan pesanku….”

“Bapak sudah terima email laporan?”

“Sudah…”

“Jadi saya tidak mengabaikan pesan Bapak….”

“Tapi kamu tidak membalas pesan seperti admin yang lain..”

“Yang penting laporan uda bapak terima!” Nesa menimpali kalimat Alvaro dengan ketus, dia tak memalingkan wajahnya dari monitor. Sebenarnya maksud Alvaro adalah pesan-pesan pribadinya, bukan masalah pekerjaan.

Alvaro hanya bisa diam, dia tahu dia salah, dia ingin memulai pembicaraan dan menjelaskan, tapi rasanya Nesa masih belum ingin berdamai.

Pria itu hanya bisa melihat gerak-gerik Nesa, hingga jam istirahat berakhir mereka tetap saling diam. Sebelum teman Nesa datang, Alvaro berpamitan dan dibalas gumamman oleh Nesa.

Pada saat jam pulang, Alvaro tidak menemukan Nesa di kantornya. Menurut Heru, Nesa pulang 30 menit lebih awal sebelum jam kerja berakhir, karena ada marketing yang meminta formulir dan mengajaknya bertemu di Plaza.

Nesa pulang kerumah saat makan malam, sudah ada ayah dan kakaknya.

“Eh…Tumben anak ayah pulang sebelum weekend!” Aji berkata setelah menjawab salam anak gadisnya.

“Kan mau ke vila..baju Nesa belum di packing….” sahut Nesa sambil mencium pungung tangan satu per satu.

“Sendiri Nes?” tanya Isti saat tak melihat siapapun dibelakang Nesa.

“Sendiri Bu! Tadi Nesa nganter formulir dulu…..” jawab Nesa setelah mencuci tangannya di dapur. Gadis itu berusaha bersikap biasa saja, lalu dia bertanya tentang keberangkatan mereka ke vila.

“Ya uda…besok Nesa dan Nila berangkat ama kalian aja. Ntar Nesa WA Dimas! Kan dia yang bagian belanja pangan…besok Nesa bantuin belanja.” Nesa mencari kegiatan untuk mengalihkan bayangan Alvaro yang masih ada dibenaknya.

Nesa berpamitan ke kamar lebih dulu, dengan alasan mandi dan menyiapkan barangnya. Dan memang benar, setelah mandi, gadis itu menyiapkan segala kebutuhannya selama di vila. Tak lupa dia juga mengabari Nila untuk berangkat lebih awal ke vila.

Namun, saat menjelang tidur, lagi-lagi sosok Alvaro membayangi dirinya, dan membuat hatinya kembali sakit.

Kamis pagi, Nesa diantar Vasco, dan dia sengaja datang terlambat lagi untuk menghindari Alvaro.

“Non….si bapak tadi nungguin lho….” ucap Eja yang bersandar di tepi meja Nesa.

“Kayaknya dia nggak baca pesanku, aku uda bilang kalo di anter kakak. Jadinya dia ngambek….Eh tapi kamu seneng kan ada dia…bisa temani dia…bisa liatin dia sampe puas…” Nesa mengalihkan perhatian dengan senyumnya menggoda Eja.

“Bukan lagi jeng…tangan ini rasanya pengen ngelus-ngelus rahangnya….” Eja menggerakan tangannya seperti mengusap-usap.

“Cuma pengen itu aja?” Nesa terus menggoda Eja.

“Kalo bisa …..bulunya nempel disini mbak…duh..pasti geli-geli nikmat kali ya…” Eja mengelus lehernya sendiri sambil mendongakkan kepalanya.

“tempel lah mas…kali aja situ berhasil….” Nesa makin menggoda.

“Beuhhhhh…..ya jelas dia nggak mau lah!” kata Eja sambil kembali ke mejanya.

Jam istirahat Alvaro menghampiri Nesa, dan lagi-lagi pria itu mendapati sikap dingin dari Nesa. Malah hari ini tidak ada kata yang keluar dari keduanya.

Dan Alvaro kembali sebelum teman Nesa datang.

Pukul 17.00 tepat, Alvaro sudah menunggu Nesa di ambang pintu utama kantor Nesa.

“Dimana?” Nesa bercakap dengan seseorang melalui ponselnya.

“……”

“Iya, aku turun! Bye!”

Nesa melihat sekilas sosok Alvaro, namun dia mengabaikannya. Gadis itu berpamitan ke temannya yang masih bersiap pulang.

Dia melewati Alvaro tanpa kata, tanpa melihatnya. Sikap Nesa yang dingin membuat Alvaro ingin menyudahi semua, dia ingin punya waktu berdua saja dengan Nesa. Dia ingin menuntaskan semuanya.

Nesa berjalan, dan dengan jelas Alvaro membuntutinya. Gadis itu tau, dan dia tetap dengan sikap abainya. Saat di lift, walaupun mereka hanya berdua, mereka sama-sama diam.

Alvaro hanya bisa memandang dari belakang, sedangkan Nesa sesekali melihat dari pantulan dinding lift yang menyerupai kaca, sesekali mata mereka bertabrakan, namun wajah Nesa dan tatapannya yang dingin membuat Alvaro tak berani berbuat lebih jauh.

Nesa melangkah dengan cepat ketika pintu lift terbuka. Alvaro masih setia membuntuti. Tiba di lobby, gadis itu menyapu pandang sekeliling, mencari seseorang.

“MAS!” pekik Nesa dan melambaikan tangannya.

Seorang pria dengan potongan cepak membalas lambaian tangan Nesa.

‘Mas?! Maksudnya Dimas yang pernah di ceritakan? Sepupunya? kok kayaknya beda! Tempo hari rambutnya nggak gini. Ini pria mana lagi sich……’ Batin Alvaro saat melihat pria itu menghampiri Nesa, begitu juga dengan Nesa yang berjalan mendekati pria yang berpotongan cepak itu.

Alvaro melihat bagaimana wajah ceria Nesa saat bertemu dan mendapat ciuman di keningnya.

Pria tampan dengan berpotongan cepak itu tampak luwes menggandeng tangan Nesa. Dan Nesa tak menolak. Alvaro mengikuti mereka hingga batas pintu masuk plaza, dia tak sanggup lagi melihat pria lain menggandeng tangan Nesa.

Dia membalikkan tubuhnya hendak menuju parkiran, setelah beberapa langkah dia membalikkan lagi tubuhnya. Alvaro berjalan lebih cepat, dia ingin tahu sejauh mana Nesa berinteraksi dengan pria itu.

Alvaro tetap membuntuti Nesa dan pria tak dikenalnya beberapa meter dibelakangnya, Nesa tak menyadari kehadirannya.

Beberapa kali Alvaro menarik nafas dalam-dalam dan menggelengkan kepalanya saat pria itu mengacak-acak rambut Nesa, saat menyibak rambut Nesa yang menutupi pipinya, saat mengikat rambut Nesa ketika tangan si gadis asyik menikmati makanan, saat merangkul pundaknya….dan masih banyak kejadian lainnya yang menyesakkan dada Alvaro.

Alvaro berpisah sejak mereka keluar dari super market.

Tiba dirumah, Nesa bergegas mandi dan mempersiapkan segala hal yang mau dibawa ke Vila.
Sekitar pukul 10 malam, Nesa, Nila, Vasco, Valdi dan Dimas berangkat lebih dulu ke Vila.

Saat diperjalanan, Nesa dan Nila tertidur di mobil. Mereka tiba di Vila sekitar pukul 12 dini hari.

Nesa dan Nila memasuki kamarnya, begitu juga dengan 3 pemuda yang tidur sekamar.

Esok hari, Jumat pagi, mereka membantu penjaga vila menyiapkan segala kebutuhan keluarga besar.

Satu per satu anggota keluarga besar datang, canda tawa dan saling meledek meramaikan setiap sudut ruangan ini.

Bayangan Alvaro sempat menghilang dari benak Nesa karena keisengan saudara sepupunya yang semuanya lelaki. Seperti biasa Nesa dan Nila membuka salon dadakan di vila ini, dan tentunya dengan semangat mereka mengantri, baik sepupu maupun om dan tantenya.

Berbeda hal dengan Alvaro, seharian dia hanya duduk terdiam di apartemen. Sikap diam dan dingin Nesa membuatnya merasa bersalah.

“Nggak bisa gini!” ucap Alvaro dengan mengambil kunci mobilnya.

Di tengah perjalanan Alvaro menghubungi Isti. Dia menyampaikan jika dia sedang ada di kota Malang untuk mengembangkan warung kopinya. Alvaro minta ijin untuk mampir, dan tentunya Isti menyambut baik.

Sebenarnya Isti tahu, Nesa dan Alvaro sedang dalam situasi yang kurang baik. Isti berharap Nesa dapat menyelesaikan masalah ini secara dewasa, tidak lari dari masalah.

Isti menyampaikan kepada penjaga Vila, mengenai kedatangan Alvaro.

Hampir pukul 12 malam Alvaro tiba di vila.

“Pak, Nesa nya ada? saya Alvaro, tadi saya uda telpon Bu Isti….” Alvaro berkata ramah.

“O..iya…parkir di sana aja Mas!” jawab si penjaga sambil menunjukkan deretan mobil yang berjajar.

Alvaro telah menempatkan mobilnya sesuai petunjuk penjaga, dan penjaga itu mengahampirinya.

“Mereka masih di ruang karaoke kayaknya…teras dan kamar masih sepi..” ucap penjaga itu.

“Ya uda Pak…saya tunggu aja….”

“Jangan Mas! Saya antar ke sana….tadi Bu Isti uda pesen…”

Alvaro hanya bisa mengangguk, dan dia membuntuti langkah si penjaga.

Tiba di suatu ruangan yang tertutup.

“Kalo mau masuk, buka aja pintunya…nggak dikunci kok!”

“Iya Pak, terima kasih…” balas Alvaro.

Si penjaga meninggalkan Alvaro seorang diri yang berdiri tepat didepan pintu.

Perlahan dia membuka kenop pintu, dan langsung terdengar suara alunan musik yang cukup keras.

Alvaro mengintip bagaimana situasi di dalam, dia melihat Nesa dan pria cepak itu sedang bernyanyi dengan saling menggenggam tangan.

Tuhan kirimkan lah aku

Kekasih yang baik hati

Yang mencintai aku

Apa adanya . . .

Bersambung

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Tamat