Complicated S2 Part 10

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Tamat

Cerita Sex Dewasa Complicated S2 Part 10 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Complicated S2 Part 9

Mobil Alvaro memasuki halaman rumah Nesa.

Terlihat Aji duduk di teras sambil mengotak-atik ponsel.

Nesa dan Alvaro mengucapkan salam, dan ayah si gadis menjawab. Aji mempersilahkan Alvaro duduk di teras.

“Jalan-jalan kemana?” Tanya Aji datar.

“Ke mall Yah….” Jawab Nesa.

“Beli apa?”

“Kado adek saya Om, tadi sekalian nganter ke rumah…”

“Dari mall…. ke rumahmu…. kesini… balik ke rumah lagi? Rasanya kok nggak efektif ya….harusnya kamu nganter Nesa dulu….baru pulang….”

‘kan mau ngenalin ke orang tua saya Pak…. nganter kado cuma alasan aja. Bapak ini dulu pacarannya gimana ya? Emang nggak pernah modus?’ Alvaro membatin saat mendengar sindiran Aji.

“Setelah ini saya ke warung Om…kalo Sabtu biasanya rame….”

“O….rumah orangtuanya daerah mana?” Aji masih menginterogasi.

“Tengah kota Om….”

Mereka terdiam, begitu juga Nesa yang hanya bisa melihat Alvaro saat di interview ayahnya.

“Om lagi nunggu seseorang?” Alvaro bertanya dengan sopan, memecah keheningan.

“Iya, nunggu Nesa….”

“Ngapain di tunggu Yah? Kan Nesa uda janji sampe rumah jam 10….ini aja belum jam setengah 10….” Ujar Nesa seolah keberatan dengan ucapan ayahnya.

“Ya nggak papa Q …. namanya juga orang tua….” Ujar Alvaro memberi pengertian dan mencari simpati ayah Nesa.

“saya mengerti kekuatiran Om… mungkin saya juga akan begitu. Maaf kalo membuat Om menunggu…sudah lama ya Om nunggunya?” Lanjut Alvaro.

“Sejak kalian keluar dari halaman, aku sudah ada di teras. Masuk cuma waktu ke kamar mandi aja….” Aji menjawab dengan tenang dan datar.

‘bujubune….sampe segitunya ya? ‘ batin Alvaro dengan wajah tak enak.

“Kalo gitu saya pamit dulu ya … supaya Om bisa istirahat….”

“Hm” jawab Aji.

Dan Alvaro pun berpamitan.

***

“Selasa pagi aku berangkat keluar kota …..kamu ati-ati ya Q….” ucap Alvaro ketika menjemput Nesa saat akan berangkat kerja.

“Bapak berapa lama disana?”

“Kenapa? takut kangen ya? kalo kangen…ngomong aja! nggak usah dipendam….”

“Maksud Nesa…supaya Nesa tau kapan bapak nggak bisa antar jemput, jadi Nesa telpon ojek yang biasa nganter dulu….”

“O…padahal aku berharap kamu kangen lho…ternyata nggak…aku salah menilai….”

“Atau mungkin bapak yang bakalan kangen saya?” Nesa mulai berani menggoda.

“Nggak perlu keluar kota…. waktu pulang kerja, tiap kamu menutup pintu kos, aku sudah kangen” Alvaro bersuara dengan hangat.

Pernyataan pria itu membuat hati Nesa mencelos, jantungnya berdetak lebih cepat tapi dia berusaha tenang.

‘Dasar, tukang main perasaan orang!’ Nesa mengumpat dalam hati.

“yang dari Surabaya, siapa aja yang berangkat Pak?” Nesa mengalihkan perhatian.

Alvaro sadar akan hal itu, dan dia menjawab pertanyaan Nesa apa adanya.

***

‘Aku baru masuk hotel. Kamu jaga kesehatan ya….’ isi pesan Alvaro tadi pagi.

Hari ini Nesa berangkat di antar Ojek langganan dia dulu. Nesa melalui hari tanpa gangguan Alvaro yang biasanya sering menelponnya minta laporan ini atau itu, kadang mengirim makanan tanpa konfirmasi.

Tapi gadis itu merasa aneh dan ganjil. Tidak ada yang membuatnya kesal dan menggerutu.

Bayangan Alvaro melintas beberapa kali saat ia tak fokus pada tugasnya.

‘Jangan Nes! Jangan baper! Selama tidak ada pernyataan yang jelas…kalian tidak ada hubungan apa-apa’ Nesa memberi sugesti pada dirinya sendiri agar tidak terhanyut dengan perasaannya.

Sekitar pukul 20.00, saat Nesa baru usai makan malam, ada nomor tak dikenal menghubunginya.

Nesa : Ya…hallo (Nesa berucap dengan hati-hati dan lirih)

Illo : MBAK! Aku di depan rumah! Bukain pagar!

Nesa : Illo?

Illo : Iya! Buruan mbak..kebelet pipis…

Nesa : Iya-Iya

‘Astaga…kakak adek sama aja ya…suka ngasal!’ Nesa membatin dan terburu-buru keluar kamar kosnya dan membuka pintu gerbang.

“Mana kamarnya mbak Nesa?!” ucap Illo sebelum Nesa menyapanya.

Tanpa bicara Nesa berjalan dengan terburu dibuntuti Illo. 2 gadis itu pun masuk ke kamar Nesa.

“Mbak harus ikut aku!” kata Illo saat keluar dari kamar mandi.

“Ngapain?!”

“Ambil materi training mas. Dia sebagai pembicara besok siang, tapi dia lupa bawa materinya. Pinter kan kakakku?!” kata gadis itu menilai kakaknya.

Nesa tersenyum mendengar kalimat sarkas.

“Bentar ya! Aku ganti baju dulu…”

“Nggak usah! Kita ambil di apartemen kok…. kata dia, cuma mbak Nesa yang tau, tentang produk perawatan rumah sakit yang terbaru….”

“O…Ok..” jawab Nesa pasrah. Dia hanya menggunakan babydoll saat pergi bersama Illo.

“Ternyata wajahnya mbak Nesa sama aja ya…..” ucap Illo ketika melihat sekilas wajah Nesa.

“Maksudnya?” Nesa tak paham ucapan adik Alvaro.

“Bare face nya …”

“Oh…” jawab Nesa.

“Terus sapa yang nganter dokumennya?” Nesa lanjut bertanya.

“Ntar di anter ama om Ronald. Pacar mu itu emang nggak bisa liat orang santai mbak, baru aja masuk rumah, dapat perintah…..” Illo menggerutu tentang perlakuan kakaknya.

‘Pacar ya?’ batin Nesa.

“Mungkin kebanyakan yang dibawa kali…jadinya bingung….” Nesa menanggapi.

Illo tak membalas, dia fokus mengemudi. Dan tak lama mereka membicarakan seputar rambut dan perawatan lainnya.

“Katanya ke apartemen….” Nesa bersuara saat memasuki area parkir.

“Iya, kita ke apartemen…”jawab Illo santai.

Nesa hanya terdiam, membuntuti langkah Illo. Dan ternyata, apartemen yang ditempati Alvaro satu lokasi dengan kantornya, satu lokasi dengan plaza yang mereka kunjungi Sabtu kemarin.

‘Kalo apartemennya disini, ngapain dia jauh-jauh jemput aku dulu?’ batin Nesa.

Illo menggesekkan kartu akses di pintu, dan mereka memasuki apartemen. Nesa menyapu pandangannya melihat bagaimana apartemen yang ditinggali oleh Alvaro.

“Yang mana mbak ?” tanya Illo saat di depan meja ruang tamu terdapat beberapa map.

Nesa membuka satu per satu isi map dan dengan mudah dia menemukan yang dimaksud.

“Ini….” Nesa memberikan map kepada Illona.

Mereka meninggalkan apartemen, dan Nesa kembali ke kos. Sebelum kembali, Illo tak lupa mengingatkan untuk datang ke acara ulang tahunnya.

Sambil terbaring di ranjang, Nesa bolak-balik memeriksa ponselnya. Dia berharap ada pesan masuk dari Alvaro. Namun hingga dia terlelap tak ada pesan sama sekali.

Beberapa hari Nesa melalui hari tanpa kehadiran Alvaro, tanpa pesan, dia merasa sepi.
Ingin rasanya dia mengirimkan pesan, tapi gengsinya lebih tinggi.

Dan seperti biasanya, hari Jum’at Nesa pulang ke rumah.

“Kok murung gitu? ada masalah sama Alvaro?” tanya Isti saat Nesa duduk disebelah ibunya.

“Nggak! Lagi badmood aja, abis di omeli nasabah…” Nesa menjawab bohong.

“O..kirain…soalnya kamu pulang sendiri, biasanya kan di anterin…”

“Dia lagi keluar kota, mau handle KPM di sana….” jawab Nesa seadanya.

“Tapi dia baik-baik aja kan?” tanya Isti lagi.

“Nggak tau!” balas Nesa singkat dan mengangkat bahunya.

“Nesa tidur ya Bu….capek….” lanjut gadis itu berpamitan sebelum ibunya bertanya lagi tentang Alvaro.

Nesa terbaring santai di ranjangnya.

‘Besok Sabtu, ulang tahunnya Illo…… Dia jadi datang kan? Kalo dia nggak datang, aku sama sapa?’ Nesa membatin dan menatap layar monitor ponselnya, masih berharap pria yang dirindukannya mengirimkan pesan.

‘Bodo amat lah..dia datang atau nggak..aku tetap datang! Atau jangan-jangan dia datang sama wanita lain’ Nesa membatin lagi, beberapa saat dia menatap layar ponsel dan tak lama dia terlelap.

Bangun dari tidurnya, Nesa langsung meraih ponselnya.
Gadis itu tersenyum ceria setelah membaca pesan, ‘Baru masuk apartemen, ntar jam 6 sore aku jemput. Dresscode Navy’ (02.15).

‘Ya ampun, cuma WA gini aja uda seneng…hati ini bener-bener gila….’

‘Nes..ingat! Jangan terlalu berharap! Ingat kejadian Rama!’

Batin Nesa berperang, di satu sisi merasa senang, di satu sisi mencoba mengingkari.

Lagi-lagi Nesa mendapatkan ledekan dari Nila saat ijin pulang lebih dulu.

Sejak pukul 4 sore gadis itu sibuk memilih baju yang akan dia kenakan.

“Yang itu aja Nes ….bagus….” Isti memberi saran saat Nesa memegang gaun formal, dress panjang.

“Bu….Nesa nggak mau tampilan Nesa lebih heboh daripada yang punya gawe……yang biasa aja lah…” Gadis itu menyahut, menolak anjuran ibunya.

Akhirnya gadis itu menjatuhkan pilihan.

Belum pukul 6, Alvaro sudah datang. Setelah melewati beberapa kalimat sindiran dari ayahnya, gadis itu menemui Alvaro.

Pria itu termangu saat melihat penampilan Nesa, namun perhatiannya teralih saat Aji berdehem. Penampilan Alvaro yang hanya menggunakan kemeja navy, dengan gulungan di lengan, juga menarik perhatian Nesa.

“Maaf Pak…nunggu lama ya?” tanya Nesa dengan tersenyum manis, dia duduk di sebelah ayah

“Nggak kok….” jawab Alvaro dengan membalas senyuman.

“Nanti pulang jam berapa?” Tanya Aji seolah minta perhatian.

“Boleh nggak Om nanti pulangnya jam 12 malam?” Alvaro minta ijin.

“Kamu mau ngajak anak saya ngeronda?”

“Soalnya nanti ada keluarga besar saya Om… mungkin ada acara keluarga sebentar setelah party…”

“Ini acaranya dimana? Kalo sampe jam 12 belum dirumah, aku samperin…” Aji berucap tegas, Alvaro memaklumi seberapa keras usaha Aji melindungi anak gadisnya.

“Di Art’s Hotel Om….”

Mereka berpamitan setelah Aji mengijinkan.

“Akhirnya aku bisa keluar dengan selamat….” Ucap Alvaro saat memasuki mobilnya.

“Maaf ya Pak… karena ini pertama kalinya saya keluar rumah dengan laki-laki, sampe malam pula….” Nesa merasa nggak enak karena sikap ayahnya.

“Soalnya kamu so good looking Q… apalagi sekarang…” Ucap Alvaro menatap wajah cantik Nesa, rasanya Alvaro ingin memeluk tubuh gadis yang ada di sampingnya.

“Pak… berangkat sekarang aja ya…Ayah uda di teras…”

Alvaro melihat spion dan memang benar, Aji telah duduk di teras. Tak menunggu lama, mobilnya meninggalkan rumah Nesa.

“Makasih ya…. kemarin uda nganter Illo ke apartemen….” Ujar Alvaro sambil mengemudi.

“Iya…. ternyata apartemen bapak disebelah gedung kantor. Bapak ngapain nganter-jemput saya?”

“Jadi kamu maunya nganter-jemput aku?! Aku sich seneng aja….kalo bisa sekalian masakin di apartemen….kita bisa berangkat bareng….”

“Bukan gitu Pak…..” Lagi-lagi Nesa sedikit sebal dengan ucapan Alvaro, dia menginginkan pria itu berkata sejujurnya, tapi ternyata tidak mudah.

“Jadi maunya gimana Q?”

“Art’s Hotel deket juga ya dari apartemen Bapak?” Nesa mengalihkan topik pembicaraan.

“Deket….pulang party mau nginep di apartemen? tapi ntar ngomong ke ayahmu gimana ya?”

“radionya saya nyalakan ya Pak…” ucap Nesa. Radio adalah pelarian Nesa saat mereka berada di situasi yang canggung.

Alvaro hanya bisa tersenyum saat gadis yang ada di sebelahnya lebih memilih radio daripada dirinya.

Keluar dari mobil, mereka bergandengan tangan, saling menggenggam.

Mereka memasuki ballroom bersama.

“Pak, katanya navy….kok mereka pake pink and white….” ucap Nesa berucap lirih saat melihat orang yang berlalu lalang memakai warna yang cerah. Dia merasa saltum, karena beberapa mata sempat melihat mereka, tentunya menjadi perhatian.

“Nggak semua! Mommy pake maroon, Illo pake silver…..aku pake juga navy. Lagian ya Q..supaya keliatan jelas bedanya. Kalo ikutan pake pink, aku bingung cari kamu….”

“Terserah Bapak dech!” ucap Nesa singkat.

Alvaro mengajak gadis itu ke meja dimana orang tuanya duduk, Nesa mencium punggung tangan kedua orang tua Alvaro.

“Terima kasih ya Nes..uda mau datang. Al nggak mau datang kalo nggak ada kamu..” Rena lanjut memberikan cipika dan cipiki.

“Ini teman Om, kenalin!” pinta Dani.

Nesa bersalaman dengan seorang wanita yang bernama Fenty dan seorang pria yang bernama Vino.

“Ini calonnya Al?” tanya wanita yang bernama Fenty. Alvaro hanya tersenyum dan memandang hangat wajah Nesa yang merona.

“Pokoknya dia uda di ajak ke rumah Fen…” ucap Rena dan tersenyum manis ke arah Nesa.

“kalo di ajak ke rumah berarti uda serius ya Al….” Vino menggoda Alvaro.

“Doain aja yang terbaik Om…” Alvaro melingkarkan lengannya di pinggang Nesa, gadis itu hanya bisa berdiri kaku dan memaksakan senyum.

“Akhirnya…dari sekian banyak wanita yang dijodohkan, ada yang cocok juga…” Fenty meledek.

“Dia usaha sendiri Fen….” Rena meluruskan.

“O…kirain …”

Alvaro dan Nesa berpamitan, mereka menghampiri Illo yang sedang berkerumun dengan teman-temannya.

“Mbak! Terima kasih mau datang…..” pekik Illo yang suaranya tak mau kalah dengan suara musik.

Setelah berbasa-basi dengan Illo, Alvaro mengajak Nesa duduk.

“Mau duduk dimana?” tanya Alvaro, kini mereka berhadapan, dan mereka sama-sama melihat sekeliling ballroom, mencari tempat yang nyaman untuk mereka berdua.

“Astaghfirullahaladzim!” Nesa memekik saat seluruh lampu padam.

Secara reflek tubuhnya mendekat ke Alvaro, dia menunduk hingga kepalanya menyentuh dada Alvaro. Kedua tangannya mencengkeram lengan atas pria itu. Matanya terpejam dengan kuat, dia mengabaikan suara riuh yang meramaikan ballroom.

“Aku disini Q…..” bisik Alvaro dan menarik pinggang Nesa, hingga tubuh mereka lebih dekat.

Nesa merebahkan kepalanya di dada Alvaro. Pria itu sangat ingin sekali merengkuh, memeluk erat tubuh gadis yang ada didepannya. Tapi sekuat tenaga dia menahannya, dia hanya bisa merasakan sebelah pipi Nesa yang menempel di dadanya.

Dan tak lama terdengar suara seseorang menyanyikan lagu ulang tahun yang ditujukan pada Illo. Satu per satu lampu ruangan itu menyala, dan kembali seperti semula.

“Cuma surprised party Q….Pacar Illo datang, ini uda nyala …” Ucap Alvaro saat melihat Nesa masih menunduk dan bersandar di dadanya.

Perlahan Nesa membuka matanya, lalu dia menyadari seberapa dekat tubuh mereka saat ini. Dia menegakkan tubuhnya dan mundur selangkah.

“Kira-kira nanti ada surprised lagi?” Tanya Nesa, di wajahnya terlihat tidak nyaman dengan tatapan memelas.

“Kenapa? Pengen dipeluk lagi?!” Ucapan Alvaro membuat Nesa mencebikkan bibirnya.

“Bapak ambil kesempatan ya?”

“Nggak! Kan kamu duluan yang remas-remas lengan aku….”

Wajah Nesa merona dan menahan senyum, karena memang benar dia yang melakukannya.

“Saya mau ke toilet dulu ya Pak….”

“Aku anter….”

Ketika berada di toilet, Nesa mendengar suara MC yang telah memulai acara. Nesa membuka pintu hendak keluar, dia mendengar suara tawa wanita yang cukup heboh.

” Maden kesana dulu! Ntar aku di omeli mommy mu…” ucap wanita itu dan mengecup pipi Alvaro.

Nesa melihat Alvaro dengan sisa senyum yang masih menghiasi wajahnya.

“Siapa Pak?” tanya Nesa.

“Mama Denty, aku panggilnya Maden…dia kakaknya daddy, tinggal di Melbourne. Uda selesai?”

“Uda…” jawab Nesa dengan mengulum senyum.

“Kamu senyam-senyum ama sapa sich?” tanya Alvaro menoleh ke belakang, tidak ada seorang pun dia area ini, hanya mereka berdua.

“Pipinya Bapak….” ucap Nesa sambil telunjuknya mengarak ke pipi sebelah kiri Alvaro, gadis itu masih tersenyum.

“Kenapa pipiku?” tanya Alvaro mengusap pipinya.

“Ada lipstick…” Nesa melebarkan senyuman.

“Bersihin donk Q!” Alvaro memajukan sisi pipinya ke arah Nesa.

Gadis itu mengambil selembar tisu dari mini clutch yang menggantung dibahunya. Dia mendekat, lalu berjinjit dan membersihkan bekas lipstick di pipi Alvaro, sebelah tangannya memegang pundak sang pria.

“Diem dulu Pak..jangan banyak gerak….” ucap Nesa yang fokus pada pipi Alvaro.

Si pria menurut dan tersenyum menikmati kedekatan mereka saat ini, sambil merasakan pijitan dan usapan lembut di pipinya. Alvaro melihat wajah Nesa yang serius dengan pipinya.

“Q….” Alvaro berucap lirih dan menatap wajah gadis yang tak jauh dari wajahnya.

“Hm…” jawab Nesa lirih dan hangat, dan berhasil membuat Alvaro merinding.

‘Dia menggumam aja aku uda deg-degan…’ batin Alvaro.

“Uda selesai?” bisik Alvaro dengan nafas yang tak beraturan, tubuhnya tidak terkontrol.

“Dikit lagi ….”

Alvaro tidak mampu lagi menahan gejolak hasrat yang ada ditubuhnya. Dia memberanikan diri mencium lembut pipi Nesa yang tak jauh dari bibirnya.

“Pak…..” ucap Nesa lirih, dia terkejut dan tertegun merasakan kecupan dipipinya, sehingga menghentikan usapan di pipi Alvaro.

***

Nesa menatap sendu mata Alvaro dengan mulut sedikit terbuka. Wajah polos Nesa membuat Alvaro semakin tidak kuasa untuk melakukan lebih jauh lagi.

“Ehhmmmm” Nesa mengeram saat Alvaro mencium kasar bibir Nesa, dan memegang tengkuknya.

Pria itu meluapkan rasa rindunya dan melampiaskan hasrat yang dia tahan selama ini. Lumatan yang awalnya liar, kini perlahan menjadi lebih lembut, penuh dengan perasaan.

Nesa bukan gadis polos, dia tahu apa yang mereka lakukan, dia pun juga merindukan pria yang ada didepannya setelah beberapa hari tidak bertemu. Sang gadis terbuai, ini adalah ciuman pertamanya, dan dia melakukannya dengan pria yang Nesa inginkan.

Nesa membalas lumatan Alvaro dengan mengulum lidah si pria, tangannya mengusap dada dan rahang Alvaro.
Respon Nesa membuat Alvaro makin menjadi.

“Can’t stop Q…” Bisik Alvaro melepaskan kecupannya sesaat, lalu mengecup lagi.

‘So don’t stop’ batin Nesa dengan mengusap lembut tengkuk Alvaro.

Perlahan tubuh Alvaro makin mendekat, dan dia berhasil memeluk tubuh Nesa. Mereka masih saling melumat dan memanggut, suara lenguhan terdengar saat lidah mereka saling menggoda.

Mata Nesa terpejam, dia memasrahkan tubuhnya yang dipeluk erat oleh Alvaro. Dan si pria belum ada niatan untuk berhenti.

“Pak….” Nesa berucap lirih menghentikan paksa acara lumat melumat, karena dia merasakan sesuatu yang mengeras menempel di pusat tubuhnya. Nesa menatap Alvaro dengan rasa malu, bingung, senang dan entah apalagi. Jantung mereka saling berlomba berdetak kencang.

Alvaro tersenyum sambil melipat dan membasahi bibirnya sendiri. Nesa mengerti yang terjadi pada tubuh pria yang masih melingkarkan 2 lengan di pinggangnya. Gadis itu menunduk malu, tersenyum dan menggelengkan kepala.

“Aku normal Q…..” ucap Alvaro dan mengecup puncak kepala Nesa yang menunduk.

“Kita balik ke party ya Pak…ntar di cari…” Nesa lagi-lagi mengalihkan perhatian.

“Ok….” Alvaro menuruti, dia terus melingkarkan lengan dipinggang Nesa saat mereka berjalan menuju meja bundar dimana orang tua Alvaro duduk beserta sahabatnya tadi.

“Darimana?” Tanya Rena saat mengetahui Nesa duduk di sebelahnya.

“Toilet Mom….” Alvaro yang duduk di sebelah Nesa menjawab. Nesa duduk di apit Rena dan Alvaro.

“Nesa kerja dimana?” Tanya Dani yang duduk di sebelah Alvaro.

“Sama seperti pak Alvaro Om….” jawab Nesa sopan.

“Kok kuping ku jadi aneh ya Q…kamu panggil daddy Om… sedangkan kamu panggil aku Bapak?” Alvaro protes.

“Kebiasaan ….” Bela Nesa dengan suara lirih tanpa menatap Alvaro. Gadis itu belum berani melihat wajah Alvaro setelah apa yang mereka lakukan tadi.

Serangkaian acara dan menu makanan mereka lewati. Sesekali Nesa terlibat obrolan bersama Rena dan Fenty, begitu juga Alvaro yang sering mengobrol dengan daddy nya dan Vino.

Walaupun mereka di topik pembicaraan yang berbeda, tangan Alvaro menggenggam tangan Nesa yang sembunyi dibawah meja.

Kadang dia berhasil mengacaukan pikiran Nesa, gadis itu hanya diam dan merasakan tangannya diremas dan dimainkan oleh Alvaro. Tapi tetap saja Nesa belum mau memandangnya.

Menu makan penutup telah disajikan.

“Kita ke balkon yuk Q…” ajak Alvaro sudah berdiri dan menarik tangan Nesa yang ada digenggamannya.

“Ini belum selesai…” protes Nesa memandang wajah Alvaro sekilas lalu menatap sajian penutup.

“Di sana juga banyak dessert Q…malah lebih banyak macem nya…” Alvaro tak mau kalah.

“Nggak papa di tinggal aja Nes….” Rena ikut berucap.

Nesa berdiri dan menuruti kemana Alvaro mengajaknya.

“Sini tas nya!” pinta Alvaro.

“Untuk apa? Tisu? ” tanya Nesa yang memberikan tasnya dan pertama kalinya memandang Alvaro setelah kejadian tadi.

“Aku nggak mau bahumu terlihat merah karena tali tas ini…” ucap Alvaro yang kini menyilangkan clutch di badannya. Nesa tersenyum melihat Alvaro saat memakai tas kecil yang feminin.

“Masak ganteng-ganteng pake clutch?!”

“jadi diakui ganteng nich?” Alvaro menggoda.

Nesa mencebikkan bibirnya, melengos lalu meninggalkan Alvaro, dia berjalan lebih dulu. Alvaro hanya tersenyum melihat Nesa yang salah tingkah. Alvaro pun menyusul Nesa, tanpa ijin pria itu melingkarkan lengannya di pinggang Nesa, dan membuat tubuh si gadis meremang.

Beberapa teman Illo menyapa Alvaro, dan dia hanya membalas dengan senyuman atau anggukan.

Nesa mengambil beberapa macam mini snack di piringnya, dan kini mereka berdiri tak jauh dari tepi balkon.

“Bapak mau yang mana?” tanya Nesa.

“Terserah! Apa aja yang kamu suapin ke aku..aku mau kok….”

“Ngapain di suap?” tanya Nesa mengernyitkan dahinya dan melihat sekilas wajah Alvaro.

“Kan tanganku peluk kamu, ntar kalo lampunya mati biar nggak kaget….”

Nesa enggan membalas dan berdebat, lalu dia menyuapkan pie buah ke mulut Alvaro.

“Makasih Q….” bisik Alvaro lalu mencium pundak Nesa yang agak terbuka.

Beberapa bagian tubuh Nesa meremang lagi dan merinding.

“Pak..Nggak enak, diliat orang…” bisik Nesa.

“Jadi kalo nggak ada orang boleh ya Q?”

Lagi-lagi Nesa tak bisa menjawab.

“Terserah Bapak aja lah…” balas Nesa pasrah.

Mereka menikmati mini snack bersama, Alvaro melepaskan pelukannya sesaat ketika mengambil air mineral.

“Kata Bapak, ada keluarga besarnya…mana?” tanya Nesa usai meneguk air mineral dan meletakkan gelas di tepi balkon.

“Ntar Oma sama Opa datang agak malam…mereka nggak suka rame-rame gini…” balas Alvaro yang kini memeluk Nesa dari belakang.

Nesa menarik napas dalam-dalam, dan mengeluarkan perlahan.

“Pak….” Nesa berucap lirih.

“Nggak peduli Q!” ucap Alvaro yang kini mencium tengkuk Nesa. Gadis itu hanya memejamkan matanya saat Alvaro memberi beberapa kecupan ditengkuknya.

“Hmmmm…Pak…” Nesa berucap dengan jantung yang berdebar, gadis itu mengusap lengan yang melingkar di perutnya.

“Aku uda bilang..rambutnya di gerai aja….” Alvaro mulai menjelajahi leher Nesa dengan kecupannya. Nesa yang menguncir rambutnya seperti ekor kuda, membuat Alvaro semakin bebas menikmati ceruk lehernya.

Tubuh Nesa melemah, rasanya dia tak kuat lagi menopang tubuhnya, dia bersandar pasrah di dada Alvaro.

Si pria makin bersemangat saat merasakan beban makin berat dari tubuh gadis yang ada didekapannya. Nesa memejamkan mata sambil menikmati kecupan Alvaro di tiap inci lehernya, sesekali lehernya menggeliat dan mendongak ketika merasakan bulu halus yang tumbuh di rahang Alvaro. Keduanya benar-benar dimabuk cinta, tak peduli dengan kehadiran orang lain.

“Ren! Coba liat anakmu!” ucap Dani dan jari telunjuknya mengarah ke anaknya yang sedang mencumbu Nesa.

“Kenapa?” tanya Rena santai usai melihat pasangan yang memadu kasih.

“Kok kenapa?! Anakmu mesum!” ucap Dani sedikiti melotot ke arah Rena, sedangkan Fenty dan Vino saling menatap dan terkekeh seolah berkata melalui kontak mata, ‘nggak ngaca?’.

“Lha dia turunannya sapa?” Rena masih berucap santai.

“Tapi aku nggak segitunya Ren….Yang cewek juga mau-mau aja! Apa orang tuanya nggak ngajari cara menghargai diri sendiri? Emang mereka pacaran berapa lama sich?! ” Dani mendengus kesal.

“Harusnya dulu aku nggak mau kalo mas cium-cium aku! Padahal kita juga belum nikah..jadi menurut mas, aku nggak punya harga diri?”Rena mengomel dengan menatap tajam ke arah suaminya.

“Bukan gitu Ren…..” suara Dani mulai merendah, dia tahu kalimatnya melukai hati istrinya.

“Aku dulu percaya kalo kamu bisa kontrol…kamu bisa nahan…aku takut Al nggak bisa kontrol, Nesa nya juga iya-iya aja…..” lanjut Dani dengan melihat wajah Rena yang agak sewot.

“Ya uda! Percaya aja sama mereka! Nesa kayaknya juga pinter, pasti tau batas…nggak seperti aku dulu, di bodohi ya nurut-nurut aja…” ucapan Rena membuat Vino tertawa terbahak-bahak, sedangkan Fenty menutup mulutnya agar suara tawanya tak terlalu keras.

“Dibodohi gimana?!” tanya Dani tak terima ucapan istrinya.

“Waktu sakit! Minta peluk, katanya Skin to Skin! Terus apa?! Lanjut ke yang lainnya…” Rena menjelaskan dan mengingatkan perilaku suaminya, membuat Dani tersenyum.

“Tapi kamunya juga mau kan aku cium-cium gitu?!” Dani terus membahas.

“Lha iya mas….jadi Al itu mesumnya ikut sapa?” Rena berucap sabar mengembalikan topik semula.

Dani terdiam, dia tak sanggup menjawab pertanyaan istrinya.

‘Emang mesum bisa dari keturunan?’ batin Dani yang masih mengingkari bahwa pola tingkahnya menurun ke anaknya.

Berbeda hal dengan orang tuanya yang ribut masalah turunan mesum, Alvaro sibuk dengan mencumbu gadis yang ada di dekapannya.

“Pak…udah…” Nesa menyadarkan Alvaro.

“Nggak bisa berhenti Q….” Alvaro masih mencium lehernya.

Nesa menoleh dan melihat wajah Alvaro, membuat si pria menghentikan cumbuannya.

“Bapak boleh peluk saya…tapi jangan cium lagi….A-TAU…_”

Alvaro mengecup ringan bibir Nesa, memotong ucapannya.

“Itu yang terakhir Q….” bisik Alvaro yang kini pipinya menempel di pipi Nesa, tentu saja masih mendekap tubuhnya.

Nesa menghela napas sambil menggelengkan kepalanya. Mereka berbincang santai tentang keluarga mereka. Sesekali mereka bernyanyi dalam bisikan, mengikuti lagu yang dimainkan oleh band lokal.

Satu per satu tamu meninggalkan ballroom, Nesa merasakan keramaian sudah mulai memudar.

“Pak…..kapan Oma Opa nya datang? Kayaknya uda kelar partynya…..” Nesa mengingatkan.

Alvaro melepaskan lilitan lengannya, dan menggenggam tangan Nesa memasuki ballrom.

“Oma….Opa…..” Alvaro menyapa dan menggandeng Nesa menuju meja bundar lainnya yang berisikan keluarganya.

Alvaro memperkenal Nesa, dan ikut bergabung duduk bersama.

“Rumah Nesa dimana?” tanya Opa.

“Surabaya Opa….” jawab Alvaro.

“Terus kapan jadinya Al? Kan sama-sama Surabaya….nggak usah lama-lama ”

“Sabar Pa…Dani belum kenal keluarga Nesa, Al belum ada ngajak kita ke sana…saya sama Rena setuju aja….” celetuk Dani.

Setelah bercengkerama beberapa saat, Alvaro dan Nesa berpamitan. Sebelum menjalankan mobilnya, Alvaro membuka ponselnya, dan dia mencari lagu.

“Aku suka lagu ini…..” ucap Alvaro, lalu mencuri ciuman di pipi Nesa.

“Pak….” rengek Nesa manja. Alvaro hanya tersenyum bahagia.

Lagu yang diputar Alvaro, CAN’T TAKE MY EYES OF YOU meramaikan mobil, karena mereka sama-sama terdiam, hanyut dengan pikirannya masing-masing yang membuat mereka tersenyum sendiri.

Mereka tiba dirumah sebelum pukul 12.

Valdi menunggu diteras sambil melihat ponselnya.

‘Duh! Kok ketemu kakaknya yang ini lagi sich….’ Alvaro menggerutu dalam hati.

“Jangan pulang malam Nes…sekalian pulang pagi aja….” Valdi menyindir saat Nesa dan Alvaro memasuki teras.

“Tadi uda bilang ke ayah kok…..” jawab Nesa dengan cemberut.

“Ya uda! Cepetan masuk! Besok pagi ke salon!” perintah Valdi tegas.

“Pak..saya masuk dulu ya..terima kasih….” ucap Nesa dengan wajah hangat lalu tersenyum.

“Saya yang terima kasih…” Alvaro membalas senyuman.

Nesa meninggalkan Alvaro sendiri dengan kakaknya.

“Kalian ngapain aja sampe segini?” tanya Valdi.

“Oma dan Opa saya nggak suka rame-rame, mereka datangnya after party..jadi nunggu bentar..” Alvaro menjelaskan dengan sabar.

“Kamu nggak apa-apain adek saya kan?”

“Kak Valdi boleh tanya Nesa….”

‘Mati aku kalo dia jawab jujur’ Alvaro lanjut membatin.

“Terus kamu nunggu apa lagi disini? ” tanya Valdi.

‘Nunggu diusir!’ batin Alvaro.

“Nggak ada …ini mau ke warung…saya balik ya….” Pamit Alvaro.

“Hm” jawab Valdi dingin.

Usai membersihkan wajah dan tubuhnya, Nesa terbaring di kasur dan melihat ponsel.

Dia hendak membalas puluhan pesan Nila yang mencari perhatiannya.

‘makanya cari pacar neng….’ batin Nesa.

Tiba-tiba ada pesan masuk dari Alvaro, membuat Nesa tersenyum.

Alvaro : kok masih online?

Nesa : WA an sama Nila.

Alvaro: O…kirain mengingat moment kita 💏🙈 (pipi Nesa merona)

Nesa : 👊 (Alvaro tersenyum membaca pesan Nesa)

Alvaro : kalo uda selesai, tidur ya…kan besok bisa lanjut ngobrol di salon…

Nesa : Iya …Bapak juga jaga kesehatan ya…

Alvaro : Tentu. Bye Q.. Miss your already…

Nesa tersenyum dan tak membalas pesannya.

Gadis itu masih berpikir tentang hubungannya dengan Alvaro.
Karena hingga saat ini tidak ada pernyataan atau pengakuan resmi yang keluar dari mulut Alvaro.

Bersambung

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Tamat