Complicated S2 Part 1

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Tamat

Cerita Sex Dewasa Complicated S2 Part 1 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sex Dewasa Complicated S2 Part 1

“Mas….sudah mau setengah 6. Anak-anak uda mau berangkat.” Ucap seorang wanita sambil mengusap lembut kepala suaminya.

“Ehmmmmm” respon si lelaki lebih mendekatkan ke tubuh istrinya dengan mata yang masih terpejam.

“AYAH! IBU!” Teriak suara anak perempuan.

“Iya Nesssss!” Sahut pria itu dengan mata terbelalak dan terpaksa bangun. Pria itu mengerjapkan matanya beberapa kali.

“Dia benar-benar mengendalikan diriku, Love.” Ujar Aji mulai bangkit dari ranjang.

“Little Queen, kan?” Sahut Isti yang ikut bangun.

“And you are the real queen….” tatap Aji hangat lalu berjalan ke kamar mandi.

“Love!” panggil Aji dari kamar mandi.

Isti mengambil handuk yang tertinggal, kebiasaaan buruk suaminya.

Aji membuka pintu kamar mandi dan menarik paksa tangan istrinya. Wanita itu tau maksud dari pria nya.

“Uda siang Mas…” ujar Isti seolah keberatan niat suaminya yang akan menggaulinya. Dengan lihai Aji meloloskan daster Isti dari tubuhnya.

“Nggak nyampek 10 menit….” Rayu Aji yang sudah meremas-remas payudara Isti dari belakang.

“Tapi_”

“Aku tetap melakukannya sayang.” potong Aji sambil menciumi leher istrinya.

“Aaahhh….Ough….” Isti berteriak, melenguh saat Aji memaksa menyatukan miliknya ke milik Isti.

Wanita itu tidak keberatan, kadang dia menyukai suaminya yang berbuat kasar, tak butuh waktu lama bagi Isti menyesuaikan permainan bercinta dengan suaminya.

Tanpa sepengetahuan mereka, gadis kecil mereka memasuki kamar yang tak terkunci.

Desahan dan teriakan kecil dari toilet kamar orang tuanya membuat Nesa kembali keluar kamar dan berlari ke meja makan.

“Kak, sini dech! Ikut Nesa!” Nesa menarik paksa tangan kakaknya Vasco.

“Ada apa?” Tanya remaja itu.

“Sssttttt…..! Dengerin!” Pinta Nesa saat mereka masuk mengendap dan perlahan ke kamar orang tuanya.

“Kayaknya Ayah marah ke Ibu.” Bisik Nesa dengan tatapan memelas ke kakaknya.

Remaja itu pun akhirnya paham apa yang didengarkan adiknya.

“Ayo balik! Kakak takut kita di omeli juga …..” Vasco juga ikut berbisik.

Dia pun menyeret paksa adiknya kembali ke meja makan.

“Nesa dengar Ibu teriak di kamar mandi.” Gadis kecil itu bercerita ke Valdi yang baru saja bergabung di meja makan.

Valdi memandang kakaknya Vasco dengan wajah tanda tanya. Vasco hanya sedikit menggelengkan kepalanya.

“Mungkin Ibu terpeleset di kamar mandi, lalu di obati sama ayah.” ucap Vasco.

“Tapi kenapa Ayah juga teriak?” Tanya Nesa lagi.

“Astaga!” Sahut Valdi dan menatap Vasco mulai mengerti maksud adiknya.

“Nesa mau bareng kakak atau sama Ayah? Buruan makan yuk! Ntar ditinggal….” Valdi mencoba mengalihkan perhatian adiknya.

“Jangan ditinggal! Nesa mau sama kakak ….” Jawabnya manja.

Mereka mulai sarapan yang sudah disediakan Ibunya.

Beberapa menit saat mereka sarapan, Aji dan Isti datang bersamaan.

“Ibu nggak papa?” Tanya Nesa.

Isti menatap putrinya dan mengangkat kedua alisnya pertanda tak paham.

“Nes! Minggir!” pinta Valdi mendengus kesal.

“Jawab Nesa dulu! Kakak main apa?!” Nesa tak kalah tegas.

“Resident Evil!”

Nesa pun beralih dan duduk di sebelah Valdi lagi.

“Kak, Nesa mau main…..” ucap Nesa lagi.

“Bentar!” jawab Valdi. Gadis kecil itupun terdiam, menunggu gilirannya bermain.

Lewat 10 menit Nesa merengek lagi.

“Kak, kapan Nesa boleh main?” tanya Nesa.

Valdi menghela napas, dia harus rela mengakhiri permainannya.

“Nih!” ucap Valdi dengan memberikan stick PS.

Nesa tersenyum ceria saat menerima stick, dia merubah games favoritnya, Mario Bross.

Valdi pun duduk di sebelah Isti, sehingga saat ini Isti berada di tengah di antara kedua putranya.

Mereka asyik dengan dunianya masing-masing.

Kadang celoteh Nesa mengomentari tentang games yang dia mainkan meramaikan ruangan.

Terdengar suara berat seorang pria mengucapkan salam.

“Ayah!” pekik Nesa dan menoleh sesaat, namun dia tak berkutik dari duduknya.

“Nesa…..” Aji berjongkok dan mencium puncak kepala putrinya.

“Minggir!” lanjut Aji memukul pelan kedua paha putranya.

“Apaan sih yah?” tanya Valdi.

“Jangan dekat-dekat istri Ayah!”

Aji selalu saja terlihat cemburu jika Isti didekati kedua putranya.

“Tapi ini kan Ibu kita ya Val?” bela Vasco mengompori adiknya.

Aji memaksa duduk di antara Vasco dan Isti, akhirnya Vasco mengalah dan duduk dibawah bersama Nesa.

“Yang kenal ayah dulu……baru muncul kalian. Kalian cari istri kalian sendiri. Val, kamu duduk bawah juga!” pinta Aji.

Valdi tak bersuara, dia hanya melihat ayahnya lalu mencebikkan bibirnya, lalu Valdi ikut duduk di sebelah Nesa.

Tanpa sungkan, Aji mencium samping kepala istrinya beberapa kali.

“Moga ayah ditugaskan keluar kota. Jadi Ibu hanya milik kita.” ucap Vasco dan melirik Aji.

“Apa?!” tanya Aji yang merosotkan badannya menjajari Vasco lalu menggulingkan Vasco.

Aji menindih tubuh Vasco, menggelitik tubuh anaknya, hingga menimbulkan tawa Vasco.

“Val! Bantu kakak!” teriak Vasco diiringi tawanya.

Valdi pun menuruti kata kakaknya, dia menindih tubuh ayahnya.

“Hajar kak!” seru Valdi.

Tubuh Vasco hampir menyamai tubuh Aji, mendorong paksa tubuh ayahnya hingga kini tubuh Aji dibawah dan ditindih oleh kedua putranya. Tawa dan jeritan dari 3 pria itu meramaikan rumah.

Isti dan Nesa seolah tak peduli apa yang mereka lakukan. Canda dan tawa mereka semakin keras, sehingga mengganggu konsentrasi Isti.

“Awas kena Nesa!” Isti mulai bersuara.

Tawa 3 pria perlahan mereda dan menghentikan pergulatannya.

“Sssssttttt! Ntar kita kena kartu merah.” bisik Aji menyapu pandang kedua anaknya.

2 perjaka itu tertawa kecil sambil menutup mulutnya.

“Mas, buruan mandi! Baunya itu lho…..” perintah Isti dengan wajah datar.

“Mandiin ya Love?” Aji menggoda.

“Ayah!” pekik kedua putranya dengan mata melotot ke arah Aji.

Sambil terkekeh Aji berdiri dan meninggalkan anak-anaknya, dan Isti membuntuti suaminya.

Vasco, Valdi dan Nesa juga ikut meninggalkan ruang keluarga, mereka menuju tempat belajar yang tak jauh dari ruang keluarga.

Pukul 19.30 mereka berkumpul kembali di ruang makan.

“Besok Ibu jadi nganter ke toko buku kan?” tanya Vasco disela-sela makannya.

“Iya, besok Ibu nggak kemana-mana.” jawab Isti.

***

Esok Hari

Sore hari sekitar pukul 15.00 Isti sudah menunggu Vasco didepan pintu gerbang sekolah. Hari ini dia sudah berjanji mengantar dan menjemput Vasco di toko buku.
Vasco saat ini dikelas 11, Valdi kelas 8 dan Nesa kelas 6.

Isti melihat Vasco berjalan dengan 3 orang temannya.

“Tante…” sapa 3 temannya kompak ke Isti.

“Hai…” balas Isti.

“Yuk Bu!” ajak Vasco ke ibunya.

Mereka pun menaiki mobil menuju toko buku. Dan sekitar 30 menit kemudian, mereka tiba di depan toko buku.

“Nanti Ibu jemput jam berapa?” tanya Isti.

“Pak Im kemana?” Vasco berbalik tanya saat hendak turun dari mobil

“Pak Im nunggu Valdi di klub renang, soalnya nanggung kalo di tinggal.”

“3 jam lagi ya Bu?”

“Ok, Ibu mau jemput Nesa di tempat les nari dulu ya….” pamit Isti.

Isti membuka kaca jendela mobil, dia membalas lambaian tangan anaknya.

Setelah Isti melihat 4 pemuda itu memasuki pintu utama toko buku, dia meluncurkan mobil menjemput putri tunggalnya.

Seorang pria, tampak terkejut melihat wanita yang baru saja melajukan mobilnya. Dia membuntuti 4 remaja pria yang masih berseragam sekolah.

Pria itu berjalan beberapa meter dibelakang.

Memasuki toko buku, 4 remaja berpencar mengahampiri buku yang dicari atau buku favoritnya masing-masing.

Vasco berdiri sambil memperhatikan rak buku, dia meneliti sambil sesekali memilah buku.

“Suka otomotif?” sapa pria itu ke Vasco.

Vasco menoleh dan dia sedikit terkejut dengan pria yang ada di sebelahnya.

Dia seperti bercermin, seperti melihat dirinya sendiri, namun di masa yang berbeda.

“Kamu anaknya Isti ya?” tanya si pria memecah keterkejutan Vasco.

“Bagaimana anda tahu nama Ibu saya?” tanya Vasco sopan sedikit menoleh lalu kembali menatap majalah yang dipegangnya.

“Apakah Ibu mu tidak pernah cerita tentang bapakmu?” pria itu tak menjawab, dan malah berbalik tanya lagi.

Vasco mengernyit sambil menoleh ke arah pria itu lagi, ‘Ayahku? maksudnya apa?’

“Ayah saya baik-baik saja….” jawab Vasco hati-hati.

Pria itu tertawa kecil, membuat Vasco sedikit kesal dengan sikapnya.

Dia menepuk pundak Vasco lalu berkata, ” Tanyakan ke Isti, siapa ayahmu sesungguhnya?”

“Maksud anda apa?” tanya Vasco makin kesal dengan teka-teki yang di ucapkan pria yang tak dikenalnya. Vasco menunjukkan wajah yang tak bersahabat.

“Bilang Isti, kalo kamu abis ketemu dengan om Johan, dan sampaikan salam dari Johan untuk Ibumu.” ucap pria itu meninggalkan vasco dengan perasaan penuh tanda tanya.

Percapakapan pendek itu membuat mood Vasco berubah, dia ingin segera ketemu Ibu nya, dia tak fokus lagi dengan majalah yang digemarinya.

Dia mengeluarkan ponselnya, hendak menghubungi ibunya, namun di urungkan. Vasco meletakkan majalah yang hendak dibacanya tadi. Pikirannya menerawang, dia masih terngiang ucapan pria yang mengatas-namakan Johan itu.

Pertanyaan dalam otaknya selalu terulang, ‘Siapa ayahmu sesungguhnya?’.

Vasco mengulang memory kebersamaan dengan ayahnya Aji, tidak ada yang salah menurutnya. Bahkan Ibunya sering mengomeli Ayahnya, karena Aji selalu menuruti segala keinginan Vasco atau Valdi.

Aji bersedia membelikan mobil bekas demi rasa ingin tahu Vasco tentang mesin mobil.

Ayahnya marah saat Vasco tidak tepat waktu dan mengabaikan ucapan ibunya. Karena menurut Aji, jika orang tidak tepat waktu, dia bukan orang yang bertanggung jawab dalam segala hal dan meremehkan.

Teman Vasco sudah tenggelam dengan bukunya masing-masing, dan Vasco hanya duduk menunggu waktu penjemputan.

Pukul 17 lebih beberapa menit mobil Isti memasuki area toko buku, Vasco sudah berdiri menunggu ibunya.

Jejaka itu melihat mobil ibunya lalu memasukinya, rasanya dia tak sabar ingin menanyakan tentang dirinya dan ‘ayahnya’. Tapi sayangnya ada Nesa dan temannya Vanila Putri Kurniawan, sehingga Vasco mengurungkannya.

“Kak Vasco…….” Nila teman Nesa menyapa ramah dan manja saat Vasco duduk disebelahnya.

“Hai” jawab Vasco singkat dan mengusap kepala teman adiknya.

“Teman yang lain dimana kak?” tanya ibunya.

“Ada yang uda pulang, tapi ada yang masih baca.” jawab Vasco.

“Kak Vas sudah makan?” tanya Nesa yang berada disebelah ibunya.

“Uda, tapi laper lagi.”

“Ini kak, di maem aja, Nila kenyang.” Nila membuka tempat makannya, disitu ada sepotong sandwich.

“Beneran buat kakak?” tanya Vasco dengan binar senang.

Nila mengangguk dengan tegas, Vasco mengambil roti dan menyantapnya dengan rakus.

Isti mengantar Nila lebih dulu ke rumahnya.

Vasco sejak tadi melihat ibunya yang sedang konsentrasi mengemudi, dia ingin sekali bertanya tentang hal percakapannya dengan seorang pria.

Namun mulut Vasco tetap bungkam hingga tiba dirumah.

Usai mandi, dia terbaring sambil melamun, dia bingung bagaimana caranya memulai pembicaraan dengan ibunya.

Sore hari yang biasanya Vasco mengganggu adik-adiknya, tapi hari ini dia hanya berdiam dikamar saja.

Terdengar seseorang mengetuk kamar Vasco.

“Iya, masuk!” teriak Vasco dari dalam kamar.

Seorang gadis kecil muncul, dan duduk di sebelah kakaknya.

“Kak, bantuin Nesa buat ketrampilan ya? bahan-bahannya uda ada, tapi Nesa nggak rapi. Uda coba tapi jelek ” adik gadisnya merengek manja.

“Cium kakak dulu!” pinta Vasco dengan senyum jahilnya.

Tanpa keberatan, Nesa mendaratkan bibirnya di pipi kakaknya.

“Kamu jangan cium pria sembarangan ya Nes….cuma ayah,kakak, saudara, sama om.” ucap Vasco sambil duduk di sebelah adiknya.

Nesa hanya mengangguk, si gadis kecil sering mendengar pesan itu dari pria yang berada dikeluarganya. Mereka sangat melindungi Ratu kecil yang mulai beranjak dewasa.

Mereka keluar dari kamar Vasco, lalu mengerjakan tugas ketrampilan Nesa.

***

Sudah seminggu Vasco menyimpan sendiri teka-teki tentang dirinya.

Dia ingin bertanya, namun dia juga bingung harus bertanya kepada siapa?

Apakah dia harus bertanya ke Ayahnya yang selalu memanjakannya dan sering menghabiskan waktu bersamanya?

Apakah dia harus bertanya ke ibunya?

Vasco belum siap melihat reaksi Ibu dan Ayahnya.

Tapi di sisi lain, pertanyaan dari pria yang bernama Johan itu terus mengiang di ingatannya. Dan dia ingin tahu kebenaran tentang siapa dirinya.

Rasa ingin tahu Vasco tentang dirinya sudah memuncak, sehingga dia mencari jalan lain.

Sore ini, Ibunya ke tempat nasabah untuk mengambil dokumen klaim.

Kesempatan ini membuat Vasco memberanikan diri membuka lemari kerja ayahnya yang tak jauh dari meja belajar mereka.

Setelah membuka beberapa berkas, dia menemukan akte lahirnya dan buku akte nikah ayahnya Aji dan Isti. Dan dia juga menemukan surat penetapan pengadilan. Hal ini semakin membingungkan bagi Vasco.

Perlahan dia mencoba mengurutkan tanggal pembuatan:

1. Tanggal lahir dirinya sendiri.

2. Tanggal akte nikah ibu dan ayahnya

3. Surat penetapan pengadilan

4. Tanggal pembuatan pada Akte lahirnya.

Vasco merasa janggal dari semua dokumen yang dibacanya, lalu dia menyimpulkan, ‘aku sudah ada sebelum pernikahan ibu dan ayah’.

Apakah dia anak yang di adopsi oleh ayah dan ibunya?

Isi kepalanya semakin banyak pertanyaan yang ingin dia lontarkan, dan hal ini membuatnya pening. Vasco kembali ke kamar dan dia menatap ponsel, dia melihat foto keluarga nya.

‘Aku siapa?’ batin Vasco.

‘Aku harus segera menuntaskan masalah ini, apapun reaksi ibu dan ayah.’ lanjutnya dalam hati.

Tidak seperti yang kemarin-kemarin, kali ini Vasco lebih diam.

“Nak, kamu baik-baik aja?” tanya Aji saat hendak duduk di meja makan. Dia menyempatkan menyentuh kening anak pertamanya.

“Baik Yah” jawab Vasco singkat dan menatap ayahnya.

“Ada masalah?” lanjut Aji.

Vasco hanya menggeleng dan memaksa senyum.

“Cinta ditolak? Broken heart?” tanya Aji lagi.

Vasco tersenyum dan menggeleng lagi.

Celoteh Nesa selalu meramaikan suasana, Vasco yang biasa ikut menjahili adiknya, kali ini dia lebih banyak diam, hanya menjawab singkat jika ada pertanyaan yang ditujukan padanya.

Sekitar pukul 20.30 Nesa dan Valdi memasuki kamar masing-masing.

Aji dan Isti hendak melangkah ke kamarnya, namun Vasco yang masih berdiri di ruang keluarga memanggil.

“Ayah!”

Aji pun menoleh ke Vasco begitu juga dengan Isti.

“Iya nak?!” balas Aji dengan suara beratnya dan mendekati Vasco. Isti juga menghentikan langkahnya, bersandar di sisi sofa.

“Emmmmm……Vasco mau kalo sekolah naik motor aja.” Vasco berusaha mencari topik pembuka.

“Kenapa?” tanya Aji.

“Vasco pengen aja, pengen naik motor, biar nggak macet.”

“Vas, kita uda bahas masalah ini kan? Kalian berangkat bareng, ntar pulangnya Pak Im sekalian jemput Valdi renang atau jemput Nesa menari. Lebih hemat dan lebih efisien.” ujar Isti.

“Bu…sekali-sekali Vasco pengen naik motor seperti teman yang lain. Lagian supaya Vas nggak muter jemput mereka. Vas bisa langsung pulang.” bela Vasco.

“Vas, naik motor lebih beresiko. Kalo oleng, nggak bisa mengimbangi, kamu bisa jatuh.” sahut Aji.

“Pokoknya Vas mau naik motor!” Vasco mengotot dan menekan.

“Kita sudah nggak punya dana buat beli motor. Kalo kamu mau, kamu jual sendiri mobil bekasmu. Kalo laku uangnya buat beli motor.” Isti berbicara tegas.

“Halah! Ayah nggak mungkin nggak punya duit. Nggak nyampek 20 juta. Ibu aja yang pelit!” dengan berucap nada yang lebih tinggi.

“Vasco nggak boleh ngomong kasar ke Ibu. Anak ayah nggak ada yang seperti itu.” Aji mengingatkan.

“Tapi Vas kan bukan anak ayah!” seru Vasco dengan nada yang tak ramah.

“Apa maksudnya Vas?” suara Aji ikut meninggi. Vasco melihat ibunya sedikit terkejut dan menatap suaminya. Raut wajah Isti dan Aji berubah.

“Ibu, Ayah…… Vas sudah tahu semuanya.” ucap Vasco lirih.

“Kamu tahu apa?” Aji membalas dengan nada yang mereda, Aji masih menutupi kenyataan, jantungnya berdegup kencang, dia tahu hal ini cepat atau lambat akan terkuak. Isti hanya menunduk diam, hatinya gelisah.

“Vasco anak siapa?” lanjut pemuda itu.

“Kamu jelas anak ayah sama ibu, nak” tekan Aji dengan sabar.

“Ayah, please…..Vas pengen ayah sama ibu jujur. Vas sudah baca dokumen tentang Vas, akte nikah ayah, surat penetapan pengadilan, dan Vas ketemu orang yang bernama Johan.”

“Apa?!” seru Isti yang sangat terkejut mendengar penuturan anaknya.

“Love…….” Aji menegur istrinya supaya tidak terlalu emosi.

“Kapan kamu ketemu dia? Apa yang dia bicarakan?” cecar Isti yang kini duduk di sofa dan menatap Vasco melotot tajam. Pemuda itu cukup terkejut melihat reaksi dan mendengar cercaan pertanyaan ibunya.

“Waktu di toko buku, dia cuma bilang, Vas harus tahu siapa ayah Vas….”

Aji dan Isti terdiam, mereka belum siap membicarakan hal ini yang begitu tiba-tiba.

“Siapa sebenarnya orang tua kandung Vas? Vasco sudah ada sebelum pernikahan ibu dan ayah. Vas anak adopsi kan Bu?” Vasco lanjut bertanya.

“Vasco…….” Isti memanggil nama anaknya lirih, wanita itu menitikkan airmata kala Vasco meragukan dirinya sebagai ibu kandung, Vasco tidak pernah tahu penderitaan dan perjuangan ibunya.2

“Vasco pengen tahu,Bu. Seminggu ini Vasco nggak bisa fokus, Vasco terima apapun kenyataannya. Vasco ucapkan terima kasih buat ayah dan ibu yang sudah merawat Vasco.” dengan mata berkaca-kaca, Vasco berusaha menerima kenyataan jika dia bukan anak dari pasangan ini.

“Vasco, ini tidak seperti yang kamu bayangkan.” Aji berbicara.

“Vasco mohon, jelaskan sekarang! Sudah seminggu, Bu! Yah!” Vasco memandang ayah ibunya bergantian dengan tatapan memohon.

“Love?” Aji memanggil nama istrinya. Sebenarnya Aji ingin menceritakan semuanya, namun dia sadar, dia bukan ayah kandung Vasco, yang berhak menjelaskan hal ini adalah istrinya.

Isti menghela nafas, berusaha meredam emosi.

“Vasco anak ibu, nak.” ucap Isti dengan lelehan airmata. Dia belum siap bercerita ke anaknya jika Vasco pernah diragukan oleh Johan. Isti juga kuatir jika Vasco tidak mempercayai ceritanya.

Isti beranjak dari sofa, dia membuka laci meja kerja Aji yang terkunci. Wanita itu mengambil sebuah amplop.

Isti mengambil selembar kertas dan memberikan kepada Vasco.

“Kamu jangan pernah meragukan kalo kamu anak ibu. Kamu anak Ibu.” ucap Isti tersenyum dan menitikkan airmata. Isti mengusap sayang kepala anaknya.

Vasco melihat dalam akte lahir yang asli hanya tertulis namanya dan Ibunya, tidak ada nama ayah.

“Kamu lahir setelah Ibu bercerai, nak.” lanjut Isti terisak saat teringat luka di hatinya saat itu.

“Ini copy akte nikah Ibu dan Johan.” lanjut Isti memberikan 2 lembar kertas.

“Dan ini surat perceraian.” Isti memberikan lagi selembar kertas.

Vasco mencoba membaca dan memahami dokumen yang diberikan ibunya.

“Kenapa bercerai Bu?” tanya Vasco.

“Karena ini……. dia meminta ini, nak.” Isti mengeluarkan surat persetujuan menjalani tes DNA dan memberikan ke Vasco.

“Kenapa periksa DNA?” tanya Vasco setelah membaca.

Isti tidak menjawab dia hanya menaikkan kedua bahunya. Dia tidak mau bercerita lebih lanjut.

“Ibu melakukan tes DNA?” tanya Vasco lagi.

Isti menggeleng, “untuk apa dilakukan? Karena hanya dia, pria yang merenggut keperawanan ibu sebelum waktunya.”

“Apa?!” Vasco terkejut saat mengetahui kenyataan lainnya.

“Kamu sudah ada sebelum ibu dan dia menikah, nak. Ini semua salah ibu.” ucap Isti lirih.

“Love…..” Aji bersuara, dia keberatan saat istrinya menyalahkan dirinya sendiri.

“Mas, saat itu aku terlalu percaya padanya. Itu kesalahan….” sahut Isti.

“Dan kamu adalah anugerah terbesar ibu, begitu juga adik-adikmu.” lanjut Isti sambil menatap wajah Vasco dan tersenyum.

Kini Vasco sudah mengetahui masa lalu ibunya. Tapi dia masih ingin mengorek cerita tentang dirinya, ibunya dan ayah biologisnya.

“Nak, mungkin harapan Vasco berbeda sama ayah. Mungkin Vasco berharap ibu dan Johan selalu bersama. Tapi ayah sungguh berterima kasih karena ibu berpisah dengan Johan.” ucap Aji dengan hangat.

“Ibumu…… dia wanita terkuat yang pernah ayah kenal. Tidak ada yang menemaninya saat kehamilan dan kelahiranmu. Ayah baru ketemu ibu lagi saat kamu akan usia 4 tahun. Dan kamu yang sudah mendekatkan ibu, kamu yang membuat hati ibumu luluh agar mau menerima ayah. Kalo nggak ada kamu, ibumu pasti menolak ayah.”

Vasco pun sedikit terkekeh mendengar ucapan ayahnya.

“Ayah sayang Vasco, kalo Vasco mau ketemu sama Johan, kasih tau ayah. Kamu tetap anak ayah yang pertama.” ucap Aji. Pria itu tak mau anaknya menemui Johan tanpa sepengetahuannya.

“Mas!” Isti keberatan saat Aji memberikan saran.

“Love, dia sudah tahu….” ucap Aji sambil menatap Isti di seberangnya.

“Vasco, kapanpun Vasco mau ketemu Johan, ayah dan ibu siap mengantar. OK?!” lanjut Aji.

Vasco pun merentangkan dan memeluk ayahnya.

“Ayah nggak marah?” tanya Vasco dalam dekapan Aji, tak terasa Aji meneteskan airmata.

“Ayah belum siap kamu tinggalkan, tapi ini kenyataan. Kamu anak ayah, dan semoga ayah bisa memberikan semua yang kamu mau, asal kamu bahagia.” Bisik Aji saat memeluk Vasco.

Vasco merenggangkan pelukan ayahnya. Lalu dia beralih menatap ibunya.

“Ibu, seminggu lagi libur semester, boleh kita ke tempat bapak Vasco?” Vasco meminta ijin ibunya.

“Haruskah secepat ini?” Isti berbalik tanya, dia malas sekali berhubungan dengan manusia yang bernama Johan. Isti menatap Aji seolah butuh dukungan. Aji hanya menaikkan kedua bahunya.

“Bu, please…Vas pengen kenal bapak Vasco.” Vasco memberikan tatapan memohon ke ibunya.

“Ayah, please ya Yah…..Vasco lakukan apapun, asal Minggu depan Vas ketemu bapak.” kini Vasco menatap Aji.

Aji hanya bisa menganggukkkan kepala, tapi hatinya berkecamuk.

“Kapanpun kamu mau, kita antar. Sekarang uda malam, besok Vas harus sekolah.” ujar Aji mengusap sayang kepala vasco

Vasco mengangguk dan beranjak dari sofa, lalu meninggalkan orang tuanya.

“Kita ke kamar ya…” ajak Aji. Dan seolah Isti mengerti, suaminya akan berbicara panjang lebar.

Dikamar Aji mengutarakan lebih dulu tentang ketakutannya.

Aji takut setelah Vasco tahu bapak aslinya, Vasco akan meninggalkan mereka. Aji ingin Vasco tetap percaya padanya, dan Aji harus tahu segala hal yang dilakukan Vasco.

Memenuhi permintaan anaknya kali ini adalah hal yang terberat untuk Aji.

Isti memeluk Aji saat mengetahui ketakutan suaminya. Isti tak menyangka segitu besarnya rasa sayang Aji kepada Vasco, walaupun bukan darah dagingnya sendiri.

“Vasco tahu dimana dia akan pulang, Mas..” Isti mencoba meredam ketakutannya juga.

“Kamu ibunya, pasti dia akan pulang untukmu. Tapi aku? Aku sayang dia, Love….”

“Aku tahu ….Jadi gimana? Kita batal ke Banjarmasin?”

“Jangan! Aku nggak mau dia kecewa.” ucap Aji menguraikan pelukan istrinya.

Dan mereka pun sepakat mengantar Vasco ke Banjarmasin.

Bersambung

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Tamat