Complicated Part 9

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Tamat

Cerita Sex Dewasa Complicated Part 9- BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya :  Complicated Part 8

“Love?” Aji bersuara memecah keheningan.

Isti terkejut mendengar suara Aji yang tampak dekat.

“I-iya, m-mas ngapain?” Tanya Isti mengusir kegugupannya, dia tak berani melihat wajah kekasih yang berdiri tepat didepannya.

“Kamu sendiri ngapain?” Balik Aji bertanya tanpa menjawab pertanyaan Isti.

“Aku……” Isti menatap dada Aji.

‘pengen peluk kamu, dari tadi di kode ga ngerti-ngerti sich ‘ hati Isti bersuara.

“Hm?”

“Ma-mau liat bahan makanannya Vazco. Masih ada atau uda abis.”

‘Maaaaas…peluk Isti donk!’ batin Isti berteriak.

“Lalu?” Aji tersenyum melihat kegugupan Isti.

“Mau tidur, balik ke kamar” ucap Isti lirih dan berlalu dari hadapan Aji.

Namun Aji menarik lengan Isti, dan menariknya kembali ke hadapannya.

“Cukup!” Ucap Aji dan langsung meraup bibir Isti yang baru saja ada didepannya.Aji meraih pinggang kecil Isti supaya lebih dekat dengan tubuhnya.

Wanita itu sedikit shock, namun tak lama ia membalas lumatan kekasihnya dan tangan mengusap lembut dada membuat Aji makin bergairah.Pria itu terus melumat bibir Isti, sambil berjalan ke arah sofa.

“Kamar!” Isti melepaskan bibirnya dan memerintah dengan nafas yang terengah-engah.

“Yakin? Aku takut ga bisa kontrol!” Aji meyakinkan.Isti mengangguk dengan senyum menggoda.

Aji mengangkat tubuh Isti, dan melumat kembali bibir Isti.Isti menerbitkan senyum dalam lumatannya, kakinya melingkar di pinggang Aji dengan tangan yang mengalung di leher.

Sang pria merebahkan tubuh Isti ke ranjang dengan perlahan tanpa melepaskan lumatannya.Jari-jari Isti menyisir rambut Aji, meremas lembut membuat Aji mengeram dan tubuhnya makin memanas.Aji semakin erat merengkuh tubuh Isti.Tangan mereka saling mengusap punggung.

Tiba-tiba pria itu menghentikan kecupannya.

“Love…kamu ga pakai bra?!” Ucap Aji dengan nafas memburu dan tatapan gairah.

“Kalo tidur ga pernah pakai bra.” Jawab Isti enteng dan senyuman polosnya.Jawaban Isti membuat Aji semakin pening.

“Love, kamu bisa menjauh dan menghentikan ini?”Isti menggelengkan kepalanya dan menggigit bibirnya yang bengkak karena lumatan.

“Kamu pegang kendali! Dan Jangan bilang Bunda!” Ucap Aji bersamaan melepas kaosnya dengan gerakan yang sensual.Isti speechless melihat dada kekasihnya.

Dia pernah melihatnya beberapa kali, namun keadaan ini berbeda.Aji kembali mendaratkan bibirnya di bibir Isti yang bengkak.

Lumatan yang sangat lembut penuh rasa cinta.Tangan Isti meraba dada Aji, suhu tubuh Aji semakin panas, dia mengerang.

“Aaaahhhh” Isti mendesah tepat ditelinga Aji saat pria menjilat dan mengecup lehernya. Desahannya membuat Aji semakin liar.Kepala wanita itu menggeliat memberi ruang Aji berpetualang dilehernya.

Tangan pria itu menyusup masuk ke dalam atasan piyama Isti.Mengusap lembut perutnya, pinggang serta punggungnya.Tangan Aji yang menyentuh kulitnya secara langsung membuat Isti merasakan lelehan yang keluar dari pusat tubuhnya.Aji menggoyangkan pinggulnya.Dia berusaha dengan keras untuk tidak menyentuh bagian payudara Isti yang sangat menggodanya.

Isti merasakan sesuatu yang menindihnya sudah mengeras.

“Maaassh, stop!” Bisik Isti pada Aji yang terus mengecup lehernya.

“Dikit lagi!” Jawab Aji sambil terus mengecup dan menggoyangkan pinggulnya makin kencang.Gesekan pusat intim mereka membuat Isti makin basah.

Walaupun masih tertutup dengan sempurna, tapi mereka bisa merasakan reaksinya.Aji semakin cepat menggoyangkan pinggulnya, mengeram, menggigit leher Isti hingga dia mencapai pelepasan yang membuat celananya basah dan menembus ke piyama Isti.

“Rasanya kamu juga harus ganti baju.” Ucap Aji yang masih di atas tubuh Isti sambil nyengir dan mengembalikan ritme nafasnya.Dia berguling dan berbaring terlentang disebelah Isti.

“Kan tadi uda aku ingetin.” Isti mengomel beranjak bangkit dari ranjang dan mengambil piyama baru

.”Nanggung! Itu lagi enak-enaknya! Kecuali kalo kamu pegang langsung ga papa!” Balas Aji membuka tas mengambil celana.

“Ternoda tangan adek, Bang!” Balas Isti sambil berlalu ke kamar mandi.

“Ternoda apa an? Dadaku juga ternoda kamu pegang tadi” sahut Aji berdiri didepan pintu kamar mandi.

“Mas duluan yang mulai, jangan salahkan aku!” Jawab Isti berjalan keluar dari kamar mandi.

“Tapi kamu godain terus kan? Keluar masuk kamar.” Aji menyahut dari kamar mandi.Isti tersenyum mendengar sahutan Aji.

‘yaaaah….ketauan! jatuh harga diri janda!’ Isti membatin.

“Alah…mas juga mau aja kok! Uda ach, aku mau tidur!” Isti beranjak naik ke ranjang.

Aji pun mengikuti naik ke ranjang yang sama.Isti ternganga melihat Aji menepuk bantal yang akan ditiduri.

“Mas ka_”

“Aku tidur sini! Kalo mau peluk ga usah keluar masuk kayak ingus!” Potong Aji.Isti berbalik menyembunyikan wajah malunya dan memunggungi Aji.

“Kok ngadep situ?” Tanya Aji.

“Kalo ngadep kamu ga tidur-tidur” sahut Isti.

Aji memeluk Isti dari belakang.

“Ini ta_” Isti merasakan tangan Aji menangkup sebelah payudaranya.

“Ssssstttt tidur Love! Aku capek!” Potong Aji dengan berbisik tersenyum dan mencium rambut Isti.

“Kalo tangannya masih disitu, aku pindah ke kamar Vazco!” Isti mengancam.

“Ck! Pelit!” Tangan Aji sudah turun melingkar diperut Isti.Akhirnya mereka berhasil memejamkan mata, walaupun harus berdiam dalam beberapa menit karena suasana yang aneh, maklum… pertama kalinya mereka tidur seranjang.

***

Esok harinya.Isti membuka perlahan matanya, dia tidak menyadari dalam keadaan terbangun kepalanya sudah berada di perut Aji.

‘Astaga, semalam tidurku modelnya gimana ya? Pasti ga elegan!’ Isti merutuki dirinya sendiri.

Lalu dia beranjak dari ranjang dan menuju kamar mandi.Usai membersihkan diri, dia mendekati ke tubuh prianya.Dia mengusap lembut kepala Aji, dan melihat wajahnya.

“Ibu! Eyang Bunda telepon!” Teriak Vazco menerobos masuk kamar Isti.

“Ayah! Ayah tidur dirumah?!” Teriak Vazco melihat Aji yang terbaring di ranjang Isti dan mengabaikan video call yang masih tersambung.

Vazco dengan tiba-tiba naik ke ranjang sambil memegang ponsel milik susternya.Bunda sering menghubungi suster karena ingin tahu perkembangan calon cucunya.

Bunda Aji yang melakukan VC dengan Vazco melihat pemandangan yang bergoyang tak jelas karena tingkah si bocah.

Tapi tiba-tiba matanya menangkap sesuatu, membuat jantungnya hampir copot.

“Isti! Siapa pria itu?!” Tanya Bunda dalam panggilan videonya.Isti yang merasa terpanggil meraih ponsel yang ada digenggaman anaknya.

Sejenak Isti terkejut dan menyadari suasana kamarnya yang tak layak dilihat.

“I-iya Tante, dia….” Isti tersenyum licik dan mengarahkan layar ponsel ke wajah kekasihnya.Aji masih mengerjapkan matanya karena kaget kedatangan Vazco.

“Mas….Dicari nich.” Isti menyenggol tubuh Aji yang nyawanya belum lengkap dan layar monitor tetap menyoroti wajah Aji.Terdengar ocehan Vazco bersemangat membangunkan Aji.

“AJI!!! Mulai kapan kamu tidur disitu?! PULANG! Bawa mereka pulang sekalian! Sebelum makan siang!” Bunda menutup panggilan VC.

“Itu Bunda?!” Tanya Aji yang belum sadar sepenuhnya menatap Isti.

“Iya” jawab Isti enteng. Aji menarik nafas dalam-dalam, dan menghembuskan.

“Mati aku! Kiamat Love….” Ucap Aji memijit pelipisnya.

Isti merasa geli melihat wajah kekasihnya yang susah diartikan.

“Kenapa senyum?!”

“Lucu liat wajahnya”

“Kenapa perasaan aku gini banget ya? Sebenarnya yang anak Bunda sapa sich?” Aji merasa seperti terpergok membawa lari anak orang.

“Kamu sich mas… ngapain pulang kesini?””Uda lah! pokoknya ntar bilang Bunda, kita ga ngapa-ngapain”

“Iya, cuma cium ama grepe-grepe aja kan?”

” Ya ga gitu juga kali Love…Uda ach! Bingung!” Aji menuju kamar mandi.Usai sarapan Isti, Aji dan Vazco ke rumah Aji terlebih dahulu dengan menaiki taxi.

Tiba di rumahnya, Aji langsung menemui Bu Mimin.

“Bu Mimin uda bilang Bunda kan kalo kemarin HP ku ketinggalan?” Tanya Aji kepada wanita yang sudah berumur.

“Sudah Nak Aji, saya bilang ke Nyonya Bunda, tolong sampaikan juga ke Mamanya mbak Isti atau ke mbak Isti langsung. Kenapa Nak?” tanya Bu Mimin selaku ART Aji.

“ga papa, kita ke rumah Bunda dulu” pamit Aji.Selang perjalan 20 menit, mereka tiba dirumah orang tua Aji.

“Love, kita balik ke rumah aja yuk!” ucap Aji yang masih berdiam duduk didepan kemudinya.

Pria itu takut mendengar siraman rohani dari Bundanya.

“Mas ngapain? uda sampe ini!” Isti membalas dan membuka seat beltnya.

“Atau kita nikah dulu, ke KUA bentar, terus ke sini lagi”

“kamu ngomomng apa sich Mas?!” Isti mulai sebal.

“Kok kamu bisa tenang gini sich?”

“Uda turun buruan!” celoteh Isti.

“Kamu ga tau sich kalo Baginda Ratu marah. Baginda Raja pun ga berkutik” wajah Aji terlihat lesu dan melas.

“Lebay! ya uda aku masuk duluan”

“Iya-Iya, barengan!” dengan cepat Aji melepas seat belt.Aji menarik nafas dalam-dalam lalu ikut turun bersama kekasihnya.

Isti menggenggam tangan Aji seolah memberi kekuatan, Aji merespon dengan mempererat genggaman.Vazco lari lebih dulu memasuki rumah calon Eyangnya.

Terdengar suara kecil teriakan bocah memanggil Bunda, dan terdengar sahutan hangat dari dalam rumah.Mereka memasuki teras rumah, ada Papa Aji yang sedang membaca koran.

“Pagi Om” sapa Isti dan mencium tangan pria paruh baya, diikuti juga oleh Aji.

“Pagi juga, kalian uda ditunggu Bunda tuch!” balas Papa Aji dan berdiri mengikuti mereka.Isti tersenyum, berbeda dengan Aji yang mendadak kaku.

“Tante..” sapa Isti, cium tangan calon mertua dan cipika-cipiki.

“Bunda..” sapa Aji mencium tangan dan kening Bunda.Aji dan Isti duduk berdampingan.

“Mulai kapan kamu tidur di rumah Isti?” Bunda bertanya tanpa basa-basi.

“Cuma semalem aja Bun, aku dari bandara langsung ke rumah dia, kangen Vaszco” jawab Aji.

“kangen Vazco atau emaknya?” pertanyaan Bunda membuat Isti menunduk malu.

“Bunda kayak ga pernah muda aja” Aji berucap dengan nada sewot.Bunda tersenyum melihat wajah anaknya yang salah tingkah.

“Bunda mau tanya, dan ini dijawab serius!”

“tanya apa?” Aji bertanya.

“Hubungan kalian sudah sejauh mana? Kamu sudah berani seranjang sama Isti.”

“Tante, kita ga ngapa-ngapain. Beneran! Mas Aji masih perjaka kok Tan. Kalo saya bilang saya masih perawan, ga mungkin kan Tan, sudah ada Vazco.” ucapan Isti membuat Bunda terkekeh.

“ga ngapa-ngapain tapi lehermu merah kenapa?” balas Bunda.

“tuh kan! uda aku bilang, rambutnya digerai aja, ga usah di iket” sahut Aji melihat leher Isti yang ada beberapa tanda cintanya.

“kok kamu ga bilang tadi? mas juga sich, makanya jangan kenceng-kenceng” bela Isti dan melepaskan ikatan rambutnya.

“Sudah-sudah, kalian ini kok malah ribut sendiri” Bunda menahan tawanya melihat sepasang kekasih yang duduk didepannya.

“Jadi hubungan kalian ini gimana? apa ga ada rencana ke jenjang berikutnya?” tanya Papa Aji yang sedari tadi diam.

“Aji uda lamar Isti Pa, nich uda dipake cincinnya” dengan bangga Aji menunjukkan jari Isti yang dililit cincin darinya.

“jadi kamu sudah menerima?” tanya Bunda.

Isti mengangguk dan tersipu malu.

“Auw!Bunda!” tiba-tiba Aji menerima gebukan bantal dari Bundanya.

“kamu itu jadi anak mbok ya sering komunikasi, kalo Isti sudah terima lamaranmu secara non formal, sekarang keluarga kita yang melamar secara formal ke keluarga Isti.”

“Aji sudah pernah datang langsung ke Jakarta Bunda” balas Aji.

“Kapan?” Tanya Isti dan Bunda bersamaan.

“Waktu pertama kali aku menolong dia di RS. Waktu Isti di jaga Bu Mimin. Pagi aku berangkat, ketemu orang tua Isti, lalu balik ke Surabaya”

“Beneran?” Tanya Bunda ga yakin.

“Beneran Ibu Suri” Aji menggoda Bundanya dengan panggilan yang tidak biasanya.

“Lalu?”

“Aku minta ijin papa Isti untuk mendekati dia dan Vazco, dan mereka ga keberatan, tentunya dengan wejangan segala macam”

“Mumpung orang tua Isti lagi di sini, apa ga sebaiknya kita ke sana aja?”

“Bunda, kita uda bicarakan baik-baik. Acara formal hanya ada di pernikahan dan resepsi. Cukup sekali aja repotnya. Yang penting Aji uda dapat restu dari orang tua Isti, sekarang kita disini minta restu Bunda sama Papa.”

“Tapi Bunda pengen ketemu mama Isti” Bunda masih berusaha membujuk.

“Boleh aja ketemu Mama, tapi tolong ga ada acara lamaran ya Tan” ucap Isti lembut.

“Isti, panggil aku Bunda!” Pinta Bunda.

“Ba-baik Bunda….” Isti membalas.

“Jadi kapan nikahnya?” Tanya Papa Aji.

“Tahun depan Pa” ucap Isti.

“Ga bisa dipercepat Love?” Aji bertanya.

“Mas, kita uda pernah bahas kan?!”

“Rasanya besok aku ajukan mutasi aja”

“Kenapa?”

“Aku takut ga bisa menahan diri, lebih baik kita ga usah ketemu”

“Kalo Vazco kangen gimana?”

“Jangan Vazco yang buat alasan, aku lebih suka kamu yang berucap kangen” Isti menunduk malu karena ucapan Aji memang benar.

“Sekarang kan bulan Agustus, ya Insya Allah Januari kita nikah” jawab Isti.

“Alhamdulillah, kalo lebih cepat ga papa kok Is, kasihan anak Bunda.” Aji melengos mendengar ucapan Bunda yang menyudutkan.

Mereka pun menghabiskan waktu bersama di rumah orang Aji.

***

Bulan telah berganti.

Isti memasuki kantornya, dia berjalan menuju ruangan Selvia.Selvia tampak muram, dia duduk termenung.

“Ada apa Bu? Tidak seperti biasanya….” tanya Isti melihat wajah Selvia, dia duduk di depan meja kerja.

“Target tahunan masih kurang banyak…kalo ga nyampek target, kantor ini ditutup,dimana harga diriku?!” Ucap Selvia tanpa melihat Isti.

“Kita buka pameran Bu? Biasanya kan banyak yang respon”

“aku ga punya waktu untuk mengajukan ijin sewa… Prosedur ribet, setelah kita buka booth waktu terlalu mepet dengan dead line, bagaimana ini Isti? Aku lelah…” Selvia memijit keningnya.

Isti terdiam, memikirkan bagaimana caranya dia bisa membantu Selvia yang selama ini selalu membantunya.

Dengan tiba-tiba dan tanpa pamit Isti meninggalkan kantor, dia menekan tombol ponselnya.1 jam kemudian.Isti duduk di suatu restoran, tak lama Aji datang, dan seperti biasa dia mencium puncak kepala Isti.

“Ada apa Love?” Tanya Aji lembut.

“Mas, Aku mau kita menikah secepatnya” ucap Isti sambil menatap Aji.

“Hei, ada apa ini?!”

“Seperti yang kamu bilang…kamu akan beli polis asal kita nikah kan?” Tanya Isti memastikan.

“Tentu Love, aku ingin kita menikah, aku juga ingin menggelar pesta pernikahan yang layak untuk kita.”

“Baiklah…kita mulai sekarang aja,kita cari apa dulu? Kita nikah secepatnya!”

“Love, kamu yakin?”

“Yakin Mas!” Ucap Isti tegas.

“Apapun yang kau inginkan dear” Aji tersenyum penuh kemenangan.

Mereka pun mencari wedding organizer dari ponsel mereka.

Sambil mencari, mereka bercanda dan tertawa penuh mesra layaknya sepasang kekasih.Aji melihat aura kebahagiaan di wajah Isti saat melihat contoh kebaya, pelaminan dan lainnya.’aku akan mewujudkan impianmu Love…akan aku jadikan wanita tercantik… menjadi Ratu walaupun hanya semalam’ Aji bermonolog.

Mereka menghubungi orang tua masing-masing mengenai rencana pernikahan mereka yang akan dilaksanakan pada bulan November.

Pertanyaan mereka sama, mereka menduga Aji dan Isti melakukan hubungan yang tak seharusnya dilakukan.Namun mereka menyangkalnya.Hari ini seperti biasanya Isti dan Aji mengunjungi orang tua Aji.

“Isti, Bunda minta 2 Minggu sebelum nikah, Isti dan Vazco tinggal di rumah Bunda.”

“Kenapa Bun?” Tanya Isti heran.

“Pingitan sayang, kalo kamu dirumah, anak Bunda yang agresif itu bakal nemuin kamu terus. Ntar kalo mama mu sudah pulang, Isti boleh balik ke rumah sendiri. Bunda uda bicarakan ini sama mama.”

Isti tersenyum mendengar penuturan Bunda, Aji yang mendengarnya mendadak cemberut.

“Kalo kangen gimana?” Tanya Aji.

“Video call lah..”

“Ck! Ya beda Bun!” Aji cemberut.

***

2 Minggu sebelum pernikahan.

“Ga ada yang ketinggalan?” Tanya Aji sambil membantu Isti memasukkan bajunya di koper.

“Kalo ada yang ketinggalan ya tinggal ambil, kan aku masih beraktifitas normal Mas.”

” Kalo aku kangen gimana? Kita ketemu di rumah ini ya?”

“Jangan Mas! takut ama Bunda, tau sendiri kan sekutu Bunda banyak.”

“Aku ga bisa kalo ga liat kamu” Aji memeluk Isti yang berdiri didepan lemari, menggigit kecil pundaknya.

“Aku pasti juga kangen, tapi kan cuma 2 Minggu”Aji menciumi leher Isti, seketika wanita itu menegang.

“Kalo aku kangen giniin kamu gimana?” Aji menggoda Isti.Isti berbalik menatap wajah Aji yang masih memeluknya posesif.

“Cuma 2 Minggu, sebelumnya Mas bisa nahan kok.”

“Sejak hubungan kita makin intim, rasanya aku ingin melakukannya lebih Love. Ga ketemu, kangen. Ketemu, pengen ngapa-ngapain kamu.”

“Jadi bener kata Bunda donk! Dipingit.” Ujar Isti.

Sekejap Aji melepaskan pelukannya, duduk di bibir ranjang.

“Kamu sama seperti Bunda! Ga ngerti perasaan laki-laki!” Ucap Aji dengan sewot.Isti tersenyum melihat kekasihnya yang sekarang menjadi kekanakan dan manja.

***

“Isti sudah makan?” Tanya Bunda yang bermain dengan Vazco.

“Sudah Bunda”

“Gimana anak Bunda? Apa dia nemuin kamu?”

“Ga Bun, Mas Aji kerja sampe malam. Tiap saat Video call, ga keitung berapa banyak sehari.”Bunda terkekeh mendengar aduan calon menantunya.

“Kira-kira hari Minggu gini anak itu ngapain ya? Sebenarnya kasian juga, biasanya dia kan kesini.”

Tak berselang lama Aji menghubungi Isti, dia menjawab panggilannya.

“Yang di omongin telpon nih Bun”

“Kamu sama Bunda dirumah ngomongin aku?” Tanya pria di seberang.

“Iya”

“Bunda, ntar aku ke rumah. Kangen Vazco!” Teriak Aji.

“Vazco atau ibunya?” Bunda tak kalah ikut berteriak. Hingga Isti meringis mendengar mereka saling berteriak.

“Bundaaaaaa…!”

“Ga boleh nak!”

“Bunda, aku anak Bunda lho, jangan gitu donk!”

“Justru kamu anak Bunda, Bunda tau banget!”

“Aji kerja sampe malam supaya ga mikir dia Bun. Ntar kalo Aji kecapekan gimana? Kangen berat Bunda”

“Pinter banget cari alasan! Ok Bunda ijinin, tapi ga boleh lama-lama. Jam 9 harus balik ke rumah.”

“Terimakasih Bunda, Aji sayang Bunda!”

“Alah… gombal!”

“Love, aku meluncur sekarang. Jangan tidur dulu, atau aku yang tiduri kamu”

“Kamu tiduri dia, Bunda undur nikahnya tahun depan” sahut Bunda.

“Iya-iya Bun, cuma bercanda.” Balas Aji sedikit berteriak.Mereka memutuskan pembicaraan.

45 menit berikutnya.

“Bunda…” Sapa Aji dan mencium kening Bundanya.

“Cepet amat!”

“Kangen Bunda, dia dimana Bun?” Aji menanyakan keberadaan Isti yang tak dilihatnya.

“Dikamar tamu, tidurin Vazco.”

“Isti tidur dimana?”

“Dikamar kamu lah. Jangan macem-macem lho ya!”

“Astaga Bunda!”

“Kamu anak Bunda, jadi Bunda tau banget karakter kamu. Kamu itu ga bisa control. Bunda mau ke kondangan dulu. Jaga mereka!”

“Siap Bun!”

“Seneng banget ya ditinggal Bunda.”

Goda wanita paruh baya itu sambil membetulkan sandal jinjitnya.Aji hanya tersenyum penuh kegembiraan.Tak lama Aji mencium aroma tubuh kekasihnya, dia menoleh dan terlihat wanita itu berjalan ke arahnya.

Dia berdiri dan tanpa malu langsung memeluk Isti, menghirup aroma khas kekasihnya dari ceruk lehernya.Bunda yang hendak pergi tersenyum melihat aura kebahagiaan anaknya sambil menahan haru.Isti terkejut dan malu mendapatkan perlakuan ini.

“Mas, ada Bunda!” Bisik Isti.

“Ga peduli! aku kangen!” Balasnya yang bisa didengar Bunda.

“Bunda ke kondangan dulu ya! Aji jam 9 harus pulang!” Perintah Bunda yang berhasil menguraikan pelukan Aji.

Bunda dan Papa meninggalkan mereka dengan pesan-pesan moral pada umumnya.

“Love, ke kamar yuk. Tidur!” Aji memeluk Isti dari belakang sambil memberikan kecupan-kecupan lembut dilehernya.

“Mas inget pesen Bunda?”

“Ini beneran tidur Love. Aku susah tidur sejak kamu disini. Beneran!” Sahut Aji meyakinkan.Isti akhirnya memenuhi permintaan Aji.

Mereka berdua memasuki kamar Aji.

“Dikunci! Ntar Vazco ngeloyor kayak tempo hari. Bisa mundur nikahannya!” Ucap Aji.Isti terkekeh kecil mendengarnya, dia pun mengunci pintu.Mereka menaiki ranjang, Aji memeluk erat tubuh Isti yang memunggunginya.

Tak berselang lama, Isti mendengar dengkuran halus dengan nafas yang teratur.Wanita itu berbalik, menatap wajah Aji yang tertidur pulas.

‘rasanya dia benar-benar ga pernah tidur’ batin Isti dan mencium lembut kening calon suaminya.Isti meninggalkan Aji sendiri dikamarnya, dia menuju kamar Vazco.Dia tertidur bersama anaknya.

Selang 1 jam, Isti terbangun.Dia sudah melihat Vazco yang sudah mandi dan wangi sedang bermain dengan Amar.Isti ke kamar tempat Aji tidur, dia mandi sebelum pria itu mengganggunya.

Usai mandi dan berganti pakaian, dia berbaring disebelah Aji, memiringkan tubuhnya.

“Mas, sudah jam 4 sore” Isti berucap lembut mencoba membangunkan Aji.Tidak ada respon dari pria yang masih terlihat enak tidur.

Isti mengecup ringan bibir Aji yang dirindukannya.

“Lagi Love!” ucap Aji dengan suara serak dengan mata yang masih terpejam.Isti mendaratkan bibirnya lagi di bibir Aji.

Dengan cepat Aji menggulingkan tubuhnya, Isti berada dibawah kungkungannya.Intim mereka saling bertemu dan saling bisa merasakan walau ada lapisan yang melindungi.

“Mas, itu…..” Isti tak sanggup meneruskan.

“Dia mengeras saat aku mikirin kamu, aku berusaha keluarin tapi ga bisa, dan ini ga nyaman Love”Isti merasakan intim Aji yang sudah mengeras.

“Jangan tinggalkan jejak dileher!” Perintah Isti.Aji tersenyum dan mendaratkan ciuman di bibir Isti.Isti menyambut dengan memeluk tubuh Aji dan mengusap punggungnya.

Mereka bercumbu hingga Aji berhasil melakukan pelepasan yang membuat tubuhnya tidak nyaman.

“Kan….kena lagi!” Isti merengek dan cemberut membuat Aji makin gemas.

Celana yang baru dipakainya basah akibat perbuatan kekasihnya.Aji hanya tertawa melihat tingkah Isti.

“Kamu ganti dulu!” Perintah Aji.Isti memasuki kamar mandi dan mengganti pakaiannya.

Bersambung