Complicated Part 8

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Tamat

Cerita Sex Dewasa Complicated Part 8- BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya :  Complicated Part 7

“Kak Isti ntar malam aku tidur sini ya?” ucap Amira yang duduk di sisi ranjang.

“Iya, biar aku ada temannya, mana Adila?katanya gabung juga.” Ucap Isti sambil menyisir rambutnya.

“Ntar dia tidur sini juga kok, kan dia bawa pacarnya juga”

“Amira, boleh tanya?”

“Hm?”

“Menurut kamu, Aji orangnya gimana sich?” Tanya Isti.

“Jahat! Preman!”

“Hah?!” Isti terkejut mendengar penilaian sepupunya.

“Reno, partner Amira, pernah masuk RS gara-gara kak Aji. Soalnya Reno hamilin Mira, waktu itu Reno jalan sama cewek.Ya emang sich kita dulu ga ada hubungan yang jelas, just friends with benefit” Amira bercerita dengan entengnya

“Lalu?” Isti penasaran.

“Dari sekian sodara cowok Mira, bogemannya yang paling dahsyat ya kak Aji. Makanya Reno takut banget ama dia.

Terus suami Aline yang dulu juga hampir mati ditangan kak Aji, baru berhenti setelah Bunda telpon. Suami Aline dulu sering main tangan.

Kak Aji sangat melindungi wanita. Mira yakin kalian pasti bahagia.Jangan sakiti kak Aji lagi ya …” Pesan Amira seolah mengerti derita Aji yang selama ini menunggu Isti.

“Insya Allah” jawab Isti.

Setelah melewati makan malam, mereka kumpul bersama.Beberapa orang pria dewasa memulai permainan truth or dare.

Amar dan beberapa lelaki lainnya tidak diperbolehkan bermain, hanya bertugas memutar lagu. Mereka memegang botol secara bergiliran, tiba-tiba lagu berhenti.

Gilirannya Arta, dia memilih dare.

“Samperin Linda! Gombalin Linda sampe baper!” ucap Angga.

Mereka meminta melakukan hal itu karena mereka merasa Arta masih terjebak cintanya ke Ika, sedangkan ada wanita lain yang butuh perhatiannya.

“Aku ga bisa …mau ngomong apa?”

“Terserah! punya nyali ga?” Tantang Aji.

“Ok!” Arta berjalan diikuti Aji dan Angga.Aji berdiri dibelakang sofa tempat dimana Bunda dan Isti duduk bersama.

Sambil pura-pura menyapa.Angga duduk dilengan sofa tempat pacarnya duduk, sambil mengusap lembut rambutnya.Arta berlutut didepan Linda, mengambil tangan Linda, dan respon Linda mengernyitkan dahinya keheranan.

Karena selama ini Arta bukan type orang yang romantis, terutama kepada Linda.Mata Arta yang teduh menatap tajam Linda yang masih bingung.

“Lin, aku minta maaf, selama kita bersama mungkin ada sikapku yang menyakiti hatimu. Aku juga minta maaf belum membuat kamu bahagia. Rasa itu telah tumbuh, dan aku menyadari aku tidak mampu tanpa kamu disisiku.Terimakasih sudah menemani aku dalam kesepian. Terimakasih sudah memberikan anak yang lucu. Aku mencintaimu, aku mohon tetaplah disampingku!”

Tanpa sadar airmata keluar dari sudut mata Arta.Para wanita yang ada disekitarnya melongo dan terharu mendengar ucapan Arta.Linda pun ikut berlutut, sejajar dengan Arta, lalu memeluknya.

“Terimakasih kak, aku tahu ini hanya permainan. Tapi aku tidak bisa bohong kalo aku sangat bahagia mendengar kata-kata yang kamu ucapkan” ucap Linda menangis dalam pelukan Arta.

“Tapi aku beneran Lin….aku mencintaimu, jangan tinggalkan aku!” Arta meyakinkan Linda.

Pelukan Linda makin erat,” aku juga mencintaimu kak, aku akan tetap disisimu”

Mereka mengungkapkan rasa dalam pelukan dan tangis, tak lama mereka melepaskan pelukannya.Arta mengecup kening Linda didepan keluarga dan membuat istrinya tersipu.

“Bun… kayaknya ntar ada yang bikin adek” celetuk Angga.Sontak mereka tertawa.

Permainan dilanjutkan, giliran Arya. Dare!

“Berani pukul kakakmu Angga?” Tanya Aji dengan nada mengejek.

“Lha…kok gini? kamu balas dendam karena panggillan saat sarapan tadi?” Tanya Angga sebagai korban pemukuluan heran, kenapa dia jadi sasaran, emang dia samsak tinju.

“Kalo uda minta maaf, ga ada kata dendam di kamus Aji. Buruan pukul kakaknya! 2 kali aja, lengan kanan-kiri.” sahut Aji

“Aku ga mau jadi adik durhaka!” Ucap Arya.

“Abim, tunjukkan ke Arya!” Perintah Arta. Abimana menunjukkan ponselnya ke Arya.

Hanya hitungan detik dia sudah meninju lengan Angga.Angga berteriak kesakitan dan mohon ampun, Arya dulu yang ‘belok’ merupakan sensei bela diri, Angga merasa lengannya remuk karena hantaman Arya.

“STOP! Kan aku bilang 2 kali aja!” Ucap Aji sambil menahan tubuh Arya dibantu Akmal dan Aksa.Arta berjalan dengan Liza menghampiri Arya.

“Kenapa?” Tanya Liza.Abim menunjukkan gambar ponselnya.Terlihat disitu tangan Angga memeluk bahu Liza.

“Gila ya kalian!” Pekik Liza melihat Arya yang terus meronta ingin menyerang Angga.Sedangkan Angga masih memegang dan mengusap lengannya yang sakit.

“Kan kamu pawangnya” ucap Arta enteng dengan terkekeh.Liza menangkup kedua pipi Arya yang tubuhnya masih ditahan oleh Aji, Akmal dan Aksa.

“Sayang, liat aku! Memang tadi Angga godain. Tapi aku bukan wanita bodoh, aku ga mau sakit hati lagi. Aku hanya milikmu, kita tetap bersama ok?” Ucapan lembut Liza bagaikan hipnotis, tubuh Arya sudah tidak meronta lagi, mereka sudah melepaskan.

“Jangan tinggalkan aku Liza!” Arya memeluk erat Liza

“Aku mencintaimu Arya” bisik Liza.Liza melepaskan pelukannya dan mencium pipi Arya.

Setelah Arya agak tenang, Liza kembali bergabung dengan para wanita.Angga mengelus sendiri bekas hantaman adiknya, sempat iri melihat kemesraan Arya dan mantan kekasihnya.Mereka melanjutkan lagi permainannya.

Dan gilirannya Aji. Dare.

“Cium Isti depan Bunda!” Ucap Arya pelan namun terdengar dengan yang lain.

“APA?! Ga ada tantangan yang lain?!” Sahut Aji sambil menggelengkan kepalanya.

Baru kemarin Bunda memintanya untuk menjaga Isti, menjaga harga diri Isti didepan keluarga, sekarang dia dapat tantangan mencium Isti, didepan Bunda pula.

“Kita tau dari tadi kamu pengen cium dia, kamu ngiri ngeliat kita-kita bercumbu kan? ” Angga mengejek.

“Ntar aku dihapus dari KK Bunda lho” kata Aji dengan wajah melas mencoba negosiasi.

“Ya ga papa, ntar lagi nikah, pisah KK kan? Ga usah lama-lama, 15 detik aja” Sahut Abimana mengedipkan sebelah mata.

“Punya nyali ga?” Arta membalas ucapan Aji tadi dengan kekehannya.

“Sialan!” Umpat Aji sambil meninggalkan kumpulan pria.Aji berjalan ke arah Isti, Aji berhenti tak jauh dari sofa yang diduduki Isti.

“Love, sini dech!” Panggil Aji.Isti mengangkat kedua alisnya, seolah berkata ‘ada apa’

“Sini bentar!”Mau tak mau Isti bangkit dari sofa, dan berdiri didepan Aji.

“Aku minta maaf” Aji melihat manik mata Isti.

“Kenapa Mas?” Tubuh Aji makin merinding mendengar ucapan sayangnya dari mulut Isti.Tak butuh waktu lama, Aji meraup bibir Isti memegang tengkuk lehernya dan menarik tubuhnya lebih dekat.

Isti terkejut, matanya melotot, tangannya meremas lengan Aji.Mulutnya yang ternganga membuat Aji semakin liar.Bunda yang melihat adegan tadi, sesaat shock, setelah sadar Bunda langsung mengambil koran, dan menggulungnya.

“Dasar anak kurang ajar!” Aji mendapat pukulan dipunggung bertubi-tubi, sontak dia melepaskan ciumannya.

Dan berteriak mengaduh kesakitan.

“Ampun Bun…ini cuma games!” Aji berlari ke arah papanya.

Para pemain dan pendukung games tertawa terbahak-bahak.

“Games juanc*k! Sialan! Alasan kamu ya!” Ucap Bunda terus berusaha memukul anaknya.

“Pa! Tolong!” Aji minta pertolongan papanya yang sedang asyik duduk sesama orang tua paruh baya yang lain.Aji menutupi wajahnya dengan bantal, lengannya terus mendapat pukulan dari Bunda.

“Bunda! Ada apa?”tanya Papa tenang dan santai.

“Anakmu main nyosor sembarangan! alasan games lah! kasian anak orang, kaget! untung Isti ga mati berdiri!” Bunda mengomel dan menghentikan pukulannya karena lelah.

“Isti nya ga papa gitu lho…coba liat!” Ucap Danu.

“Dia malu Danuuuu, liat wajahnya! Ini gara-gara tinggal sama kamu, otaknya jadi ngeres!” Bunda berjalan ke arah lain.

“Ayo buyar! Main kok rusuh, bikin orang jantungan!” Perintah Bunda.

“Yang jantungan sapa Bun? Isti sama Aji lho nyantai” ucap Papa.

“Udah wis….ga usah main gini lagi!”

‘yaaaaa Bunda’

‘kan ini ada yang belum’

‘Bunda ngambek menantunya dibuat mainan’

‘Buyar..ntar Bunda ngeluarin kata ajaib lho’

‘Bangga punya Bunda bisa misuh’

Banyak ocehan lainnya dari pemain truth or dare yang belum tuntas.

Bunda pun panas mendengar ocehan mereka.

“Baiklah! Bunda kasih kebebasan. Bunda sama papa mau tidur. Kak Arta yang pegang kendali! Kamu jaga adik-adikmu!”

“Siap Bunda!” Ucap Arta.

Bunda memang pemegang kendali di keluarga ini.Dan seluruh anggota keluarga juga memanggil Bunda dan mereka sangat segan terhadap Bunda dan Papa.

“Amar, Aksa, Akmal, uda malem. Masuk kamar ya!” Perintah Bunda.

3 pria yang masih jomblo pun masuk kamar dan melanjutkan main games.

“Jadi acara kita ngapain?” Tanya Amira.

“Yeay….tahun ini Aji bisa gabung sama kita, tahun-tahun kemarin dia sama kaum jomblo” ejek Angga.

“Kampret!” Sahut Aji sambil tersenyum dan mencium punggung tangan Isti, setelah meminta maaf insiden tadi.

“Nonton bokep ya?” Tanya Aline.

Isti melongo mendengar ucapan Aline.Tak disangka Aline yang anggun, kalem, feminim, manajer HRD, ternyata otaknya koplak.

Sebagian besar menyoraki tanda setuju.Kekasih Adila yang baru pertama kali ikut momen ini pun tampak terkejut melihat aksi mereka.Arya mengeluarkan beberapa selimut.Masing-masing pasangan sudah menempati posisi yang menurut mereka nyaman.

“Bokep yang menyatukan kita!” Ucap Abimana sambil mematikan lampu.

“Mas…kita juga harus liat ini? Aku belum pernah liat, malu” Tanya Isti kepada Aji yang duduk disampingnya.

“Ga harus, kalo ga mau kita keluar habiskan waktu hanya berdua.” Aji mengecup sisi kepala Isti.Isti tak mau dianggap sok alim.Dia pun berbagi selimut dan bantal dengan kekasihnya, seperti pasangan yang lain.

Saat film dimulai, Isti tak melihat layar kaca yang sudah mulai mengeluarkan suara yang membangkitkan gairah.Dia menatap wajah Aji, mata mereka bertabrakan, lalu Isti menenggelamkan kepalanya di dada Aji.

Bersikap yang sama, Aji hanya melihat wajah Isti, dan mengecup keningnya.Suara desahan, erangan dan kecupan meramaikan suasana yang remang.Isti merapatkan tubuhnya ke pelukan Aji, dia bisa merasakan detak jantung prianya, begitu pula dengan Aji.

“Adila! Kamu masih kuliah lho!” Aji mengingatkan Adila yang ada disebelahnya sudah bertarung dibawah selimut dengan kekasihnya.Menggoda Adila merupakan usaha Aji mengalihkan gairah nafsu yang sudah menjalar.

Tiba-tiba kepala Adila muncul.

“Kak Aji yang ga normal! Ga usah ganggu! Aku tau batas!”Adila pun kembali bergulat di dalam selimut.

“Ssstttt!” Ujar yang lain tanpa tahu pemilik suaranya.

Isti menyembunyikan wajahnya diceruk leher Aji, dan mengusap lembut dada prianya. Nafas Aji makin berat, sebisa mungkin menahan hasrat untuk tak berbuat lebih.

“Mas…aku buatkan coklat hangat ya? Kita keluar aja.” Bisik Isti.

“Hm…aku tunggu di teras ya” Aji melepaskan rengkuhannya, Isti pun beranjak ke dapur.Mereka melakukan hal yang sama seperti malam sebelumnya, berbagi cerita.

“Uda malam…kamu tidur, rasanya filmnya ga ada yang ngeliat, mereka asyik main sendiri” Isti terkekeh mendengar ucapan Aji.

Mereka bergandengan hendak menuju kamar.Tiba didepan kamar Isti menginap.Isti memutar kenop pintu perlahan.

“Hmmmmm..Mas, kayaknya dikunci.” Isti nyengir.

“Ya Uda, kita tidur depan TV aja. Film nya uda kelar kok, aku ganti channel berita aja, supaya kayak cerita dongeng” Aji menggandeng Isti menuju ruangan semula.

***

Suara ayam membangunkan para orang tua yang usianya paruh baya.

Bunda berjalan hendak menuju dapur.Dia mengernyitkan dahinya melihat Isti yang sedang tertidur pulas di sofa.Dan Aji tidur di bawah sofa beralas karpet.Ada beberapa anggota keluarga lainnya yang tertidur didepan TV.

Tak berselang lama, Isti terbangun, dia membangunkan Aji.”Kenapa kalian tidur disini?” Tanya Bunda.

“Asyik ngobrol ketiduran Tan” jawab Isti.

“Bukan Bun, kamar dia kayaknya dipake Amira. Kamar Aji entah dipakai Abim atau kak Arta.”

“Jadi Bunda nambah berapa kamar lagi? Rasanya yang punya pasangan ga mau pisah ya?” tanya Bunda

“Bunda pasti tau donk alasannya, ga perlu Aji jelasin kan kalo mereka butuh kehangatan? Supaya hubungan makin intim dan_”

“Itu uda kamu jelasin. Dasar dodol!” Potong Bunda sewot.

Aji dan Isti pun terkekeh.

Setelah menghabiskan waktu bersama sepupu Aji yang seluruh namanya berawalan huruf A akhirnya mereka harus mengakhiri acara kumpul keluarga kali ini.
Aji mengantar Isti pulang lebih dulu.Mereka tiba dirumah saat malam hari.

Vazco yang sudah tertidur langsung digendong suster menuju kamarnya.Aji berada di ruang tamu tampak gelisah.
Isti keluar dari dapur menuju ruang tamu sambil membawa kudapan dan minuman.Dia mempersilakan Aji untuk menikmati hidangan.

Aji meneguk segelas air.

“Tumben ga di maem kripiknya? Itu kan cemilan favoritmu Mas.” Tanya Isti.

Aji menarik nafas panjang.Aji mengambil tangan Isti, pria itu menatap ke wajah Isti.

“Sebenarnya sejak di Batu aku mau bilang masalah ini.Ada keluargaku mungkin kamu akan memberi keputusan yang membahagiakan aku.Tapi aku takut, gimana kalo sebaliknya? Aku pasti malu, apalagi banyak sepupu yang hobi ngebully.Jadi aku rasa sekarang adalah saat yang tepat.” Ucap Aji.

Mendadak pria ini menjadi gugup dengan kalimat yang berantakan.Keringat dingin membasahi tangan dan kakinya.

“Duh! Kayaknya aku jantungan!” Ucap Aji berusaha mengatasi kegugupannya.

Isti tidak paham apa yang diucapkan Aji.

“Mas kenapa ya?”

Aji menarik nafas panjang, dan menghembuskan nafasnya.

“Love, kamu sudah tau perasaanku saat ini. Aku ga bisa basa-basi kalo masalah ginian.” Ucap Aji sambil satu tangannya mengeluarkan sesuatu dari sakunya.

“Apa kamu bersedia menemani aku di sisa umurku?” Tanya Aji dengan membuka kotak beludru berwarna biru Dongker, ada sebuah cincin dengan mata kecil ditengahnya.

“Isti Lovenza, dengan ini aku melamarmu, maukah kamu menikah dengan Aji Laksono?” Aji mengucap dengan perlahan dengan nada lembut.

Isti terkejut, senang dengan permintaan kekasihnya.Rasa ini membuatnya bungkam, tidak mengeluarkan kata, dia masih menikmati rasa senangnya sendiri.

“Love?” Tanya Aji membuyarkan pikirannya.Isti tersenyum, dia menganggukkan kepalanya.”Iya Mas” Ucap Isti tak kalah lembut.

“Iya apa?” Aji mulai jahil menggoda wanitanya.

“Aku mau”

“mau apa? yang jelas Love”

“Aku mau menikah sama mas Aji Laksono” jawab Isti dengan senyum malu.

Wajah Aji yang tampak cemas, berubah memancarkan kebahagiaan.Dia memasangkan cincin yang terukir namanya ke jari manis Isti.

“Terimakasih Love.” Kata Aji dan mengecup cincin yang sudah bertengger di jari Isti.

Aji mencium kening kekasihnya, lalu turun ke ujung hidungnya, dan melumat bibirnya.

Ciuman Aji yang penuh kelembutan dengan rasa ungkapan cinta.Isti membalas lumatan Aji.
Dan secara tak sadar, Isti sudah terbaring di sofa dengan Aji yang ada di atas tubuh Isti.Suara ponsel Aji menghentikan kegiatan mereka.

Ternyata dari Bunda, menanyakan keberadaan mereka, dan mengingatkan Aji untuk segera kembali ke rumah.

Pria itu berpamitan, Isti hendak mengantar ke pintu pagar membuntutinya.Namun saat akan membuka pintu utama pria itu berbalik, dia memeluk dan melumat lagi bibir Isti.

Setelah beberapa detik, Isti memisahkan bibirnya, Isti masih dalam pelukannya.”Mas, Uda malem!”

“Tapi masih pengen sama kamu”

“Kan uda mulai Jumat kita bareng terus, besok pagi kamu juga kesini. Biasanya juga langsung pulang”

“Sejak diterima tadi, rasanya beda Love, ga mau pisah.” Aji merengek manja.Isti tersenyum merasakan kemanjaannya, dia juga merasa bahagia, pria itu menginginkannya.

“One more time!” ucap Isti, Aji mengangguk senang.

Isti mengalungkan tangannya ke leher Aji, dia mulai mengecup bibir prianya.Aji membalas dengan alunan kecupan yang lembut, namun seraya tak ingin lepas.

Pria itu sangat lihai hingga mereka terus melumat tanpa kehabisan nafas.Tangannya mengangkat pantat Isti sehingga kaki Isti melingkar di pinggangnya.

Aji berjalan kembali ke sofa ruang tamu, dengan terus melumat bibir Isti.Merebahkan tubuh wanitanya secara perlahan.Isti mengusap lembut dada prianya.Aji mengeram, sentuhan Isti membuat nafsunya makin bertambah.

Lumatan Aji semakin liar, tangannya mulai bergerilya, mengusap lekuk tubuh Isti.

“Love!” Jerit Aji lirih.Isti menggigit bibir bawah Aji, pria itu terkejut dan terpaksa melepaskan bibirnya.

Mereka duduk bersebelahan.

“Maaf mas, rasanya uda kelebihan.” Isti melirik.

“Ya ga kelebihan, kan kamu bilang cium sekali lagi.”

“Iya sekali, tapi itu lama” Isti berucap sambil bersungut manyun.

Aji tampak gemas dengan bibir manyunnya.Sekali lagi dia mencuri ciuman dibibir kekasihnya.
Isti memukul lengannya,”Uda! Ntar ditelpon Bunda lagi lho!”

“Iya, ini pulang” ucap Aji sambil mengacak rambut Isti.

***

Jalinan asmara mereka membuat jalinan keluarga juga semakin dekat.Aji pun setiap hari bertanya ke Isti, kapan dia bisa menikahinya?

Hingga suatu hari, Aji mengucapkan pertanyaan yang sama.

“Love, kapan kita bisa nikah?”

“Mas, tolong donk! Aku lagi pusing! Urus klaim nasabah! Target penjualanku masih jauh!”

“Alasan kamu selalu itu-itu aja! Target Penjualan. Lalu sampe kapan?!”

” Ngertiin aku donk! Aku capek!”

“Aku sudah coba ngertiin kamu, apa kamu sendiri ngertiin aku?” tanya Aji yang sudah mulai lelah dengan hubungan mereka.

“Sebaiknya kita ga ketemu dulu dech!” Isti berucap dengan emosi.

“Ok!” Aji menyahut tanpa bantahan.

Aji pun beranjak dari sofa, dia berpamitan pulang.

Esok pagi, Aji datang ke rumah Isti seperti biasanya, untuk menemani sarapan Vazco, dan melihat Vazco dijemput bis sekolahnya.

“Kan aku bilang ga usah ketemu dulu!” Ucap Isti.

“Jangan ge er! Aku hanya datang untuk Vazco!” Ucap Aji sambil meninggalkan Isti.Tidak ada kata lanjutan diantara mereka.

Mereka melanjutkan dengan kesibukannya sehari-hari.

Keesokan harinya, Aji tidak datang.Vazco menanyakan keberadaan Aji.Isti yang juga tidak tahu keberadaannya, hanya memberikan jawaban jika ayahnya masih sibuk.

Hatinya mulai resah, dia diliputi rasa bersalah.Isti tidak fokus, dibalik keramaian kantornya, dia merasakan sepi.
Dipandanginya ponsel yang ada didepannya, berkali-kali dia menghubungi nomor telepon Aji, namun tidak ada jawaban.

Dia juga mengirimkan pesan, tidak terbaca, tidak ada balasan.

Isti menanyakan kepada mamanya melalui telepon.

Isti : Ma, apa Bunda Aji ada mengatakan sesuatu yang aneh?

Mama: maksudnya?

Isti: maksudnya tentang hubungan Isti dan Aji, apa Bunda bilang sesuatu?

Mama: Bunda Aji kemarin telepon, tapi ga bilang apa-apa. Kan tau sendiri Aji ga suka urusan pribadinya dicampuri orang lain, termasuk Bundanya. Kenapa?

Isti: ga ada, ya uda Isti lanjut kerja ya Ma, bye Ma.

Kekuatiran Isti makin menguat.Hingga malam bayangan Aji masih memenuhi otaknya.
Jika tidak ada kabar hingga esok pagi, sore harinya Isti akan mengunjungi rumah Bunda bersama Vazco.

Untuk menghilangkan kekalutannya, dia menyibukkan diri membuat laporan penjualan pribadinya seperti yang biasa dia lakukan.
Waktu menunjukkan sekitar 10 malam.Bel pintu berbunyi.Isti bertanya dalam hati, siapa yang akan bertamu dimalam hari?

Berbekal penggaris besi yang ada ditangannya, dia membuka pintu utama.Rasanya dia mengetahui sosok tubuh dibalik pagar.
Dengan senyum sumringah dia membuka pintu pagar.Begitu pintu terbuka, Aji langsung masuk melewati Isti yang masih berdiri didepan pintu pagar.

Wanita itu melongo, padahal dia mengharapkan pelukan hangat sebagai pengobat rindu.
Isti tersadar, ikut masuk ke dalam.

“Vazco uda tidur ya?” Tanya Aji yang masih berdiri di ruang tamu.

Plak!

“Auww!” Isti memukul lengan Aji dengan penggaris besi.Isti hendak memukul lagi, Aji berlari kecil menghindari dengan memutari meja atau kursi di ruang tamu.

Tangan Isti di udara dengan penggarisnya.

Plak!

“Love sakit!” Aji menjerit lirih karena terkena pukulan lagi.

Aji menghindari lagi, namun Isti tetap mengejarnya dengan pukulan penggaris.Pria itu mendapat beberapa pukulan dilengannya.

Tak tahan lagi, Aji berhenti menghindari, berhadapan dengan Isti yang sudah mulai menghampirinya dan hendak memukulnya lagi.Pria itu menahan tangan Isti yang memegang penggaris.

“Capek! Sakit!” Ucap Aji dengan wajah meringis kesakitan.

Isti melepaskan penggaris itu, dan terjatuh, kedua tangannya masih dalam cengkeraman Aji.Aji melihat mata Isti berkaca-kaca, dia meraih tubuhnya dan memeluknya.Wanita itu menangis tergugu.

Isti menumpahkan seluruhnya dalam tangis, sesekali Aji mencium puncak kepala Isti.

“Uda Love….” Bujuk Aji.

“Mas jahat!” Rengek Isti dalam isaknya.

“Jahat??” Tanya Aji heran.

“Kemana aja, ga ngabarin sich?”

“Aku capek, aku ga mau kita berantem, aku ceritakan nanti dikamar” ucap Aji sambil masih memeluk Isti.

“Hah?! Kamar?!” Isti kaget mendongak melihat wajah Aji.

“Aku mau kita tidur satu ranjang. Aku kangen. Aku janji, aku ga bakal kebablasan. Beneran!” Aji meyakinkan Isti dengan menatapnya.

“Janji tangannya ga jahil?” Isti bertanya.

“Beneran, kamu boleh hukum kalo jahil.”

“Ya uda, mas mandi dulu! Uda maem?” Tanya Isti melepaskan pelukannya.

“Belum, buah aja kalo ada.” Kata Aji mengambil baju ganti dan peralatan mandi dari tas ranselnya.

Isti usai mengupas buah dan menunggu Aji yang masih dikamar mandi.Tak lama Aji keluar dengan rambutnya yang berantakan dan basah.

Beberapa helai rambut menutup dahinya dengan tetesan air di ujungnya.Aroma segar maskulin dan tampilan kaos putih beserta celana training terlihat lebih menggoda di mata Isti.

“I-ini buahnya mau dimaem dimana?” Tanya Isti dengan gugup.

“Disini aja.” Ucap Aji menggeser kursi di sebelah Isti.

“Mau?” Tanya Aji sambil mengambil sepotong buah di garpu.Isti menggelengkan kepalanya dan tersenyum hangat.

“Kamu selesaikan dulu kerjaan kamu tadi, kalo uda selesai kita ngobrol.”

“Ga terlalu penting kok Mas. Tapi aku beresin dulu ya.” Pamit Isti, Aji menjawab dengan anggukan kepalanya.

Secara bersamaan mereka telah menyelesaikan kegiatannya masing-masing.

“Yuk tidur!” Ajak Aji menggandeng tangan Isti.

“Aku dengernya kok aneh ya….Tidur?” Sahut Isti dengan berjalan di samping Aji.

“Kita ngobrol, dan tidur Love. Beneran aku capek! Apa kamu minta di apain gitu?” Goda Aji.

“Mas!” Pekik Isti sambil wajah cemberut.

Aji terkekeh, dan mencium punggung tangan Isti.

Mereka merebahkan tubuhnya di ranjang dengan ukuran king size.

“Sini donk! Aku kangen!” Aji menarik tubuh Isti mendekat dengan tubuhnya.Mereka terbaring miring berhadapan.

Aji bercerita kemana dia selama 2 hari tanpa kabar.

Ternyata setelah pulang kerja, saat malam hari ada telpon dari Banjarmasin.Dikabarkan ada kebakaran di komplek ruko milik Aji.Dan ada beberapa bagian ruangannya terkena dampaknya.

Karena hari telah malam, sudah tidak ada penerbangan ke daerah tsb.Malam itu juga Aji mencari jadwal flight yang paling awal untuk esok hari.

Maka esok paginya Aji bergegas menuju bandara.
Karena tergesa-gesa, ponsel pribadinya tertinggal.Yang dia bawa hanya ponsel untuk kepentingan bisnis dan pekerjaan saja.

Nomor kontak yang ada disitu hanya Bu Mimin selaku ART nya.Aji menghubungi Bu Mimin untuk menyampaikan ke Bunda, dan minta tolong Bunda menyampaikan ke Isti atau mamanya kalo ponselnya tertinggal di rumah.

“Ya gitu ceritanya. Hari pertama, Surabaya – Banjarmasin, langsung ke TKP dan notaris buat surat kuasa. Sekalian ngurus klaim ke asuransi.

Tadi pagi Banjarmasin ke Jakarta, kasihkan klaim supaya cepet dikerjakan, kasian yang sewa ga bisa beraktifitas seperti biasa. Urusan selesai langsung ke Surabaya.Capek Love…tapi liat kamu capekku ilang” rayu Aji dan mencium sisi kepala Isti.

“Gombal!” Isti memukul pelan tubuh Aji.

“Kayaknya kamu sebel banget ya sama aku? Baru ketemu dipukul penggaris, sekarang dipukul lagi. Tadi kenapa nangis?” Tanya Aji sambil memainkan jari Isti yang ada cincin pemberiannya.

“Ga pa-pa” ucap Isti menyembunyikan malunya.

“Perempuan suka gitu. Ga papa tapi nangis. Aku bukan dukun. Kalo aku salah, aku minta maaf. Jangan buat bingung, Love.”

“Aku jengkel! kesel! 2 hari ga ada kabar. Aku pikir mas marah sama aku.”

“Ngapain marah ke kamu?”

“Yang waktu itu, ga usah ketemu dulu” Isti mengingatkan.

“Lalu?” Goda Aji.

“Kok lalu sich?” Isti merengek.

“Setelah 2 hari ga ketemu, lalu?” Aji terus menggoda.

“Kangen…” Ucap Isti lirih, hampir tak terdengar oleh Aji.

“Hm? Apa?” Aji tersenyum, dia semakin menggoda kekasihnya.

“Ck! Uda ach…mas tidur! katanya capek!” Ucap Isti sambil menggeser tubuhnya menjauh dari Aji dan berbalik memunggungi.

“Kok calon suami dipunggungi sich, ga sopan! Hadap sini donk, aku masih kangen! Kamu ga kangen sama aku?” Aji bangkit dari rebahannya berusaha membalikkan badan Isti.

Prianya berbaring miring sambil menopang kepalanya. Isti membalikkan badannya, dengan posisi yang sama dengan Aji.

“Kan tadi uda aku bilang, kangen.” Jawab Isti malu-malu dengan senyum simpul.

‘kamu jangan senyum gitu, dari tadi selangkangan uda tegang Love’ batin Aji.

“Lalu?” Tanya Aji menahan gelombang gairahnya.

“Lalu apa?” Isti tanya balik.

‘kamar ini kok kayaknya panas ya?’ batin Isti.

“Emmm Mas…tolong remote AC nya! Kayaknya abis di mainin Vazco dech” Isti berkata sambil bangkit dari baringnya dan terduduk.

“Kenapa?” Tanya Aji sambil mengambil remote yang ada di nakas.

“AC nya ga dingin.” Ucap Isti sambil otak-atik remote AC tanpa melihat Aji.

Aji tersenyum melihat tingkah Isti yang malu-malu dan gugup.’duh Love… kamu tak tinggal sebentar makin gemes sich! Ga kuat!’

“Aku tidur di sofa ruang tamu aja.” Aji bangkit dari ranjang.’aku harus jauh-jauh! kalo ga….bisa ngaduk adonan nanti’ Aji membatin.

“Tapi_” ucap Isti menggantung.

“Kenapa? Kamu mau aku disini?” Potong Aji.

‘sebenernya iya, tapi kan gengsi. Ingat ya Isti! Jaga harga diri Janda, jual mahal dikit.’ batin Isti.

“Anu…” Isti bingung menjawab apa.

“Anu apa?” Aji berdiri di ambang pintu.

“Itu….”

“Itu apa?”

“Itu …mas ga papa tidur luar?”

“Ga papa, Uda biasa kok. Kamu tidur ya..”pamit Aji meninggalkan kamar Isti.

Aji merebahkan tubuhnya di sofa.

Aji dan Isti gelisah ditempatnya masing-masing.Berbaring ke kiri-kanan, namun mata mereka belum bisa terpejam.

‘Dia uda tidur belum ya? Kangen’ batin Isti sambil memeluk guling.Sedangkan Aji mengotak-atik HP nya, tapi tak tahu apa yang dia liat.

Isti membuka pintu kamarnya, dia berjalan menuju ruang tamu.

“Mas belum tidur? Katanya capek!” Ucap Isti yang berdiri di dekat sofa.

“Belum bisa tidur, kamu mau temani aku?” Goda Aji.

‘Sapa tau mau, kan bisa di ajak main monopoli sampai pagi’ Aji tenggelam dalam pikirannya.

“cuma kasih selimut aja.” Jawab Isti meletakkan selimut di meja, dan dia berlalu meninggalkan Aji.

Selang beberapa menit, Isti keluar lagi dari kamar.Aji melihat sosok Isti menuju dapur.

“Love?” Tanya Aji agak berteriak dari ruang tamu.

“Iya, kok mas belum tidur?” Sahutnya dari dapur yang tak jauh dari ruang tamu.

“Kamu sendiri kok belum tidur?” Aji berbalik tanya.

“Itu…mmm”

“Apa?” Aji tertawa geli dalam hati.

“Haus, ini ambil minum buat dikamar” Isti kembali ke kamarnya, terlihat sosoknya melewati bagian batas ruangan.

‘Love…jangan godain terus donk, entar Bunda ngamuk lho kalo calon mantu di apa-apain’ jantung Aji makin tak karuan, kepalanya makin pening merasakan nafsu yang ditahan.

10 menit berlalu, Aji yang masih bermain ponselnya, mendengar suara ada seseorang yang membuka pintu.’jangan dia lagi tolong…ga kuat!’ Aji berusaha meredam getaran gairahnya.

Bayangan Isti pun terlihat menuju ke dapur lagi dan lagi.Aji bangkit dari sofa, dia berjalan hingga batas ruangan, dia berdiri bersandar dinding menunggu Isti.

Bersambung