Complicated Part 7

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Tamat

Cerita Sex Dewasa Complicated Part 7- BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya :  Complicated Part 6

Hari ini Aji akan mengajak Isti dan Vazco kerumah orang tuanya.Bunda Aji merasakan sikap anaknya yang berubah, sudah kembali seperti dulu, yang bisa tersenyum dan komunikasi lebih banyak lagi.

Karena mengingat beberapa saat setelah kepergian Isti, sikap Aji berubah, lebih pendiam, tak peduli.Sempat Bundanya akan mengenalkan pada seorang gadis, eh si Aji malah ga pulang seminggu, dia tidur di kantor.

Sejak saat itu, Aji membeli rumah sendiri, dia tidak mau orang tuanya terlalu ikut campur kehidupan pribadinya. Walaupun Aji berkunjung ke rumah orangtuanya, namun tak lama setelah basa-basinya dia langsung ke kamar yang tak pernah boleh dimasuki oleh siapapun.Dan keluar jika akan makan atau pulang.

Bunda Aji bercerita tentang sikap Aji yang dingin kepada mama Isti, berusaha mengorek informasi, tapi mama Isti tidak bisa menceritakan tentang kehidupan anaknya, Isti meminta merahasiakan.

Namun setelah perceraian Isti, mama Isti pun tidak tahan menceritakan seluruhnya kepada Bunda Aji sambil menangis dan meminta maaf karena tidak jujur. Mama Isti butuh teman curhat, dan dia merasa hanya Bunda Aji orang yang tepat.

Bunda Aji memaklumi, karena memang beberapa saat yang lalu dia pernah mendengar dari mulut Isti tentang sosok Ana yang ada di kehidupan Aji.

Dan saat ini Isti yang sudah beranak menginjakkan kakinya ke rumah Aji.

“Isti sayang….sudah lama kita ga ketemu, kamu makin cantik” Bunda Aji mencium pipi Isti yang sejak dulu ingin dijadikan menantu.

“Maafkan saya Tan…” Ucap Isti dengan kikuk.

“Anakmu sudah besar ya?mirip sekali sama wajahmu, nama kamu sapa nak? Ini Eyang Bunda” tutur Bunda sambil menggendong Vazco.

Mereka terlibat obrolan yang santai, bercanda tertawa.Mengenang saat keluarga mereka sering berkumpul.

“harusnya kamu dulu itu nginep sini aja, kalo mama papa mu keluar kota”

“rumah Tante kejauhan dari rumah kita, yang paling dekat rumah Rio, kan sekomplek. Naik sepeda uda nyampek.”

“oh iya ya..kasian kalian juga ya kalo ke sini”

Bunda Aji dan Isti melanjutkan pekerjaan di dapur, menggoreng kacang.Hingga mereka duduk berhadapan di meja makan.
Aji pun datang dan mencomot beberapa biji kacang, Isti memukul tangan Aji.

“Apa kamu sudah cuci tangan?” Tanya Isti sambil melihat Aji yang duduk di sampingnya, Aji menggeleng.

“Ih…jaga kebersihan napa?” ucap Isti yang tersenyum melihat Bunda Aji.

Bunda Aji terkekeh mendengar ocehan Isti.

“Rasanya aku ingin ketemu ibunya, bagaimana dia bisa melahirkan manusia seperti ini, jorok!” ujar Bunda Aji.

“Hanya kamu yang bisa mendampingi dia Is..” imbuh Bunda Aji yang bisa didengar oleh anaknya.

“Dia harus mendapatkan wanita yang lembut Tan..” ucap Isti.

“Wanita lembut?Isti sayang, dia membutuhkan tukang pahat, hanya kamu yang bisa memahat manusia kaku macam dia” Bunda Aji melirik anaknya.

“Tapi aku takut Tan…aku takut dia mengungkit status jandaku” Isti mengungkapkan uneg-unegnya di hadapan Aji dan Bundanya.Bunda tersenyum mendengar celoteh Isti yang tanpa beban membicarakan statusnya.

“jika dia melakukan itu, tak bunuh, dan kita bisa berfoya-foya dengan polis asuransinya” Bunda sambil tertawa.

“Astaga Tante…sama anaknya aja kejam, gimana kalo sama mantu?” Tanya Isti sambil menggelengkan kepalanya dan tersenyum.

“Tentu akan berlaku untukmu sayang…jika beberapa tahun setelah menikah, kamu belum hamil,aku akan mengunci pintu kamar kalian, hingga kamu hamil…makanya buruan nikah…sebelum spermanya membeku” ucap Bunda Aji.

“BUNDA!” Aji menggelengkan kepalanya mendengar obrolan 2 wanita yang disayanginya, sebelum dia di bully lagi, dia meninggalkan meja makan itu.

2 wanita itu tertawa terbahak-bahak melihat Aji yang wajahnya memerah.

***

Sejak itu Aji, Isti dan Vazco sering terlihat menghabiskan waktu bersama.Vazco lebih menyukai kegiatan di taman kota, bermain bola, berlarian tanpa arah, dan Aji selalu ada disisi Vazco.

Isti yang duduk di bangku taman selalu mengumbar senyumnya, dia bahagia mendengar tawa anaknya yang lepas saat Aji menggendongnya tinggi-tinggi.Isti juga memperhatikan Aji, kadang mata mereka saling bertabrakan dan membuat Isti salah tingkah lalu menundukkan wajahnya atau pura-pura membetulkan bekal yang mereka bawa.

“Ayah capek! Vaz main sendiri ya, tapi jangan jauh-jauh” ucap Aji sambil menurunkan tubuh bocah itu.Vazco langsung berlari dan bermain ayunan yang berjarak beberapa meter di depan bangku Isti.

“Haus ya?..ini!” Isti mengeluarkan sebotol air mineral, dan Aji menerima lalu meminumnya.”Beli makanan yuk..laper..” ajak Aji.

“Aku bawa sandwich, nasi, sosis, nugget, telor mata sapi…mau yang mana?” Isti menawarkan ke Aji.

“aku mau semuanya…boleh?”

“laper banget kayaknya….abis disiksa ama Vazco ya?”

“bukan Vaz yang menyiksa , tapi ibunya” sambil melihat Isti yang sedang menyiapkan keinginan Aji.Isti menahan senyum, jantungnya berdetak kencang.Dia membuka kotak makan dan menyodorkan ke Aji.

“Tanganku kotor Love…aku malas jalan ke toilet..suapin!” Aji merayu.

“Ih..Manja!” Isti mendengus dan wajahnya dibuat agak cemberut, tapi hatinya senang.Lalu Isti menyuapkan sesendok perlahan sesendok nasi ke Aji.

“jangan cemberut! bibirnya makin seksi,kamu mau aku cium disini?”

“Dasar Mesum!”

“Galaknya!”

“biarin..tapi suka kan?”

“suka! banget! nikah yuk” pinta Aji.

“please Ji…kita baru ketemu 2 bulan”

“tapi aku sudah mencintaimu sejak lama”

” Aku masih fokus target penjualanku..”

“Selalu itu alasanmu Love…tapi ga papa, aku akan tetap menunggumu, asal kamu jangan pergi lagi”

Isti hanya terdiam, dia memberikan suapan ke Aji yang selalu menatapnya, dan itu membuatnya salah tingkah.

“kenapa sich liat terus?” tanya Isti ga tahan.

“suka, kangen”

“Ih..gombal!” Isti mencubit paha Aji, Aji pun meringis kesakitan.

“Bulan depan ada acara rutin kumpul keluarga, kamu ikut ya, sekalian ama Vazco”

“dimana?”

“di Batu. Lagian Senin kan juga tanggal merah, mau ya?”

“Kan itu keluarga, sedangkan aku bukan keluarga”

“kamu calon anggota keluarga”

“ih..pede banget !”

“bukan pede, tapi optimis”.

***

Hari Jumat.

After work hour, Aji menjemput Isti dikantornya.Mereka langsung meluncur ke kota Batu.Vazco sudah berangkat lebih dulu bersama Bunda.

“Tante…” sapa Isti pada Bunda Aji yang sedang duduk santai di sofa.Lalu Isti duduk disampingnya,dan mencium tangannya.

“Tante seneng banget kamu bisa datang” Bunda Aji mencium pipi kanan-kiri Isti.

“Vazco dimana Tan?”

“Baru nyampek dia langsung minta main ke kolam renang, soalnya di kolam ada anak-anak kecil juga. Sekarang dia ngumpul di lantai 2, disitu ada banyak mainan.”

“maaf kalo ngerepotin Tan”

“ya ga repot, wong ada cuteng nya ngintili terus di belakang Vazco” ucap Bunda.

“kok anaknya ga disapa sich?”Aji masuk sambil membawa tas koper Isti dan ranselnya.

“eh..ini anak sapa ya kok ga nikah-nikah? jadi malu Bunda buat ngakuin anak” ucap Bunda sambil mencium kening Aji.

“ya Bunda tanya aja ke calon menantunya…sampek kapan di gantungin? jemuran aja kalo kering uda di angkut” sambil melihat Isti yang ada di samping Bundanya.

“dih…tukang ngadu!” ucap Isti lirih tapi terdengar Bunda dan Aji.

“ya kamunya aja kurang gigih ngelamarnya”

“kok Bunda jadi bela dia? coba Bunda tanya, hampir tiap hari lho aku tanyain ‘mau nikah ga sama aku?’ malah ga pake nanya ‘nikah yuk’ masa iya sampek sekarang ngeles mulu…adaaaaa aja alasannya”

“kamu ngajak nikah kayak orang ngajak kepasar, lha kamu ngelamarnya pakai cincin ga? ga bawa apa-apa kan? Bunda juga ga bakal mau lah”

” ya uda..Bunda tanya aja sendiri, maunya calon menantu kesayangan gimana? kalo aku yang tanya, jawabannya selalu ga jelas, ga lama jadinya dia ngambek” ujar Aji dan tak lama dia meninggalkan Isti dan Bundanya.

“Tante senang kamu datang Is, Tante tanya, apa masih ada kesempatan untuk Aji singgah dihati Isti?” tanya Bunda Aji sambil mengelus punggung Isti.

Isti mengangguk malu.

“itu sudah cukup untuk Tante. Semoga Aji bisa mengikis masa lalu Isti dan menggantikan dengan kenangan yang indah”

“Insya Allah Tante”

“sudah malam, kamu istirahat ya..tanya kamarnya ke Aji, besok bakal lebih banyak lagi yang datang. Bunda sayang Isti” Bunda mengecup samping kepala Isti.

Tak lama, Isti pun memeluk Bunda Aji, dia menangis di pelukannya tanpa mengatakan satu katapun.Wanita paruh baya itu hanya mengusap punggung calon menantunya sambil merasakan isakannya.

Isti adalah wanita mandiri dan tegas, namun didalamnya terdapat rapuh dan ingin dimanja.Sekarang Bunda Aji mengetahu sosok Isti, dan dia juga mengetahui bagaimana cara memperlakukan Isti.

Setelah puas dalam pelukan Bunda, Isti berpamitan melihat anaknya.
Isti memasuki kamarnya, sebenarnya Vazco ikut tidur bersamanya.Namun bocah itu ingin tidur dengan ponakan Aji yang lain.

Usai membersihkan diri, wanita itu menghampiri anaknya dan bercengkrama bersama bocah-bocah kecil lainnya.
Tak lama Aji menemuinya, duduk dilantai bersama ponakan.

“Love…makan malam yuk, para bocah biarin istirahat. Besok lebih rame dan lebih seru”

“Sejak tadi aku belum liat orang dewasa disini”

“Iya… seperti biasa, Bunda datang lebih dulu, lalu anak-anak kecil yang lucu-lucu itu dan pendamping. Nanti malam atau besok pagi mereka datang”
Mereka keluar kamar berjalan menuju ruang makan.

“Apa mereka baik?” Tanya Isti dengan ragu.

“Besok kalo uda lengkap aku kenalin semuanya, baik menurut siapa? Karena menurut aku mereka tidak ada yang baik” Aji menggoda Isti.

“Jangan malah nakutin donk…” Isti merengek.

Tak lama adik Aji, Amar dan ayahnya datang.

“Hai mbak Isti” ujar Amar

“Hai Mar…kok baru datang?”

“Iya, tadi ada tugas kuliah, sekalian temani papa. papa juga baru kelar meeting. Amar ke kamar dulu ya” pamitnya.

Isti pun mengangguk.

“Hai Is…Uda maem?” Tanya papa Aji yang baru memasuki ruang keluarga.

“Sudah Om” jawab Isti sambil mencium punggung tangan pria paruh baya itu.

“Papa ga tanya aku?” Tanya Aji.

“Uda bosen liat kamu!”

Aji memajukan bibirnya, sedangkan Isti terkekeh.

“Om mau makan? Saya siapkan ya” ucap Isti.

“Ga usah, mau nemuin Bunda mu dulu” pria itu pun beranjak dari ruang keluarga.

“Rasanya aku masih ada di daftar KK mereka lho…tapi kok mereka ga peduli ke aku ya”

“KK kapan? Kali aja mereka uda buat baru tapi ga ada namamu”

“Eh…kamu sekutunya ya” Aji menggelitik pinggang Isti, wanita itu tertawa sambil memegang pinggangnya yang kecil.Tak tahan Isti pun melarikan diri dari tangan jahil Aji, dia menuju dapur.

Aji pun mengikuti dari belakang.

“Mau buat apa?” Tanya Aji

“Kamu mau apa? Kopi? Teh? Coklat?”

“Coklat”

“Okay… tunggu bentar!”

Aji berdiri dibelakang Isti dan memeluknya, mengusap lembut perut rata Isti.

“Hei…jangan jahil ya!” Isti merasa geli.

***

Tubuh Isti meremang merasakan pelukan Aji.

“Mas Aji ….” Panggilan khusus untuk prianya pertama kali terucap dari mulut Isti sambil sibuk dengan minuman yang dibuatnya.

“Mas Aji?? Kok aku merinding ya” Aji mencium pundak Isti dan semakin mempererat pelukannya.Lelaki itu senang sekali atas panggilan sayang untuknya.Isti menahan sunggingan bibirnya, ternyata Aji tak menolak panggilannya yang baru.

“Mas…tolong jangan turunin harga diri janda donk!”

“Emang cabe? Harga bisa naik-turun” Aji mengusap lembut perut Isti yang tertutupi atasan piyama berbahan satin sutra. Meletakkan dagunya di bahu Isti.

“Perutku sudah ga rata lagi, banyak guratannya”

“Ga papa, tetep cinta kok, dan anakku akan tumbuh disini” Aji terus mengusap perutnya.

“Ada Amar.”

“Amar uda asyik dikamarnya!” Sahut Aji cepat.

“Ada Bunda lho”

“Bunda uda tidur!”

“Tidur gundulmu!” Tiba-tiba suara Bunda mengejutkan mereka.Aji pun langsung melepaskan pelukannya dan tersenyum malu-malu.

“Maaf Tan_”

“Aku sudah tau kok Is, aku berdiri disini dari dia mulai peluk kamu, anak Bunda yang kegatelan!”

“Cuma peluk aja kok Bun” Aji membela diri.

“Cuma peluk, cuma kecup, cuma pegang toket,_”

“Astaga Bunda! Kok vulgar ya…jadi pengen_” Aji mencium pipi Isti sekilas didepan Bundanya, dan membuat mata Isti melotot, mulutnya ternganga, warna wajahnya merona.

Aji melangkah keluar dapur tanpa ada rasa beban.

“AJI! Dasar ga punya sopan santun! Malu Bunda punya anak kamu! Dulu aku ngidam apa ya!” Bunda terus berteriak, terdengar Aji tertawa terbahak bahak.

Isti menyelesaikan minuman coklatnya dengan kikuk, sedangkan Bunda terus mengomel tentang anaknya sambil melanjutkan melayani papa Aji untuk makan malam.Tak lama Isti menghampiri Aji yang duduk di teras.

Hawa dingin lereng pegunungan membuat coklat panas itu cepat dingin.Isti duduk meringkuk merasakan dinginnya udara.Aji menutupi tubuh Isti dengan selimut yang ia gunakan.

“Mas, ga enak kalo diliat Bunda, masih ga kapok?”

“Kan kita ga ngapa-ngapain, cuma duduk, berbagi selimut”

“Dijaga tangannya Aji!” Suara wanita yang ada di dapur tadi terdengar.Berdiri tepat di pojok tempat mereka duduk.

“Bunda kok ngagetin terus ya!” ujar Aji menoleh sekilas ke Bunda.

“Otak Isti masih sehat, jangan sampe otak anak Bunda yang ga sehat menular ke Isti. Is…kamu ga kasian liat Aji yang seperti kucing minta kawin”Isti tersenyum malu.

“Bunda kok samain Aji dengan kucing?” Tanya Aji dengan sewot

.”Iya…kamu mepet terus ke Isti. Besok sodara datang semua lho ya, Bunda tau Aji sayang Isti, harus dijaga! Aji tau yang Bunda maksud?”

“Paham Ibu Suri!” Jawab Aji menggoda Bundanya.

“Bunda tidur dulu ya Is, Bunda percaya sama kalian, kalian tahu harus bagaimana”

“Iya Tan” jawab Isti.Bunda meninggalkan mereka berdua di teras.

“Kenapa kok panggil aku ‘mas’?” tanya Aji dengan lembut.

“Kan kita emang beda setahun, lebih tua situ kan?”

“Jangan ngomong lebih tua, kok rasanya bangkotan banget. Lebih dewasa kan lebih enak dengernya…”

“Terserah! selain itu rasanya aneh aja manggil pacarnya cuma nama aja”Aji berdehem jumawa.

“Uda di akuin pacar nich?”Sontak wajah Isti merona merah.

“Kok badanku rasanya semriwing ya denger kamu panggil tadi, ulangi donk!” pinta Aji.

“Ya ntar aja kalo emang waktunya manggil, kalo sekarang kayak orang gila aja.”

“Ck! Pelit! padahal minta gitu aja, ga ngeluarin duit. Ayo!” Bahu Aji menyenggol bahu Isti yang ada disebelahnya.

“Ga mau!”

“Cuma panggil aja!” Aji merubah arah duduknya ke Isti.

“Emoh!”

“Jangan paksa aku ngelakuin hal-hal aneh lho ya!” Aji mencium pundak Isti.

“Maksudnya?!” Isti menoleh sekilas ke arah Aji yang sudah menatapnya.

Tangan Aji mengusap lembut tangan Isti yang bersedekap dibalik selimut.Jantung Isti bertalu lebih kencang, nafasnya makin berat.

Tangan kiri Isti memegang selimut dengan erat, tangan kanannya mencoba menangkis tangan Aji yang bergulat didalam selimut.

“Love….” Aji berbisik ditelinga Isti, bibirnya menyentuh anting Isti.

“Hm…” Isti mencoba mengatur nafas yang sudah mulai tak karuan ritmenya.Menatap lurus ke depan, lehernya tampak kaku, Isti ga mau menoleh karena wajah Aji yang sangat dekat.Aji mendaratkan kecupannya di pipi Isti.

“Pipi kamu dingin banget, sini aku angetin” Aji merangkul bahu Isti, dan sedikit menarik ketubuhnya.

“Mas…” Akhirnya Aji mendengar panggilan sayangnya dari Isti.Satu tangan Aji berhasil menyusup ke dalam piyama Isti, dan mengusap perut Isti secara langsung.

“Mas Aji!”

“Anget Love, kok jadi pengen ndusel-ndusel ya”

“Aku masuk aja dech kalo mas Aji kayak gini”

“Jangan!! Iya-iya beneran nyampek perut aja. Lagian kenapa sich kok ga boleh? Uda pernah aku apa-apain juga, apa aku ingetin? Aku masih ingat semuanya lho”

“Ga usah dibahas lagi, malu kalo inget dulu, berasa murahan banget”

“Kok aku ga ya? Kira-kira bentuknya masih sama ga?”

“Apa?”

“Itu!” Dagu Aji seolah menunjuk ke dada Isti.Isti pun menarik selimutnya lebih tinggi lagi.

“Mas Aji! Aku masuk nich” Ancam Isti yang tubuhnya hendak bangkit dari tempat duduknya.

“Jangan!” Aji menahannya.

“Awas kalo ngomongin yang gituan lagi!”Tubuh Isti kembali dalam pelukan Aji.

“Ga tau kenapa, kalo sama kamu jiwa kebangsatanku keluar”

“Emang sama yang dulu-dulu gimana?”

“Ga pernah, sejak dulu kalo sama kamu pengen nguyel-nguyel, pengen aku cubit pipimu, pengen aku peluk seperti ini. Tapi waktu itu aku masih mengingkari rasa ini, selain itu aku masih berkutat dengan kesombonganku menaklukkan wanita cantik.” Ucap Aji sambil menatap wajah Isti dari sisi samping.

” Puncaknya aku sadar tentang rasa ini, waktu kamu mau blind date. Rasanya ada yang hilang, rasanya sakit Love. Rasa sakit itu makin dalam saat kamu menghilang.” Imbuhnya.Aji menarik nafas panjang dan mempererat pelukannya.Keningnya disandarkan dibahu Isti.

“Kalo kamu? Mulai kapan rasa itu tumbuh?” Tanya Aji.Isti berdehem.

“Waktu kamu pdkt sama Ana, ga tau kenapa sempat cemburu.Padahal kamu pacaran ama cewek lain aku biasa aja.Aku sempat tidak mengakui rasa itu, aku pikir sama halnya ke Rio, brother complex.Kalo ama Rio aku ga pernah lepas kontrol, dan tidak menginginkan lebih.Tapi kalo sama kamu, tahu sendiri kan ya…beda! Emang aku dulu jelek banget ya? Ga menarik sama sekali ya?” Ucap Isti sambil melihat Aji disampingnya.

“Bukan, waktu itu kan kita sering kegiatan outdoor. Yang aku nilai waktu itu sama kamu, aku salut, cewek tapi ga takut berkulit hitam. Dan kata-kata pedas dan galakmu yang selalu meramaikan. Tapi sekarang kayaknya uda ga galak lagi kan? Sejak kapan?”Isti mengangkat kedua bahunya.

“Mungkin sejak ada Vazco diperutku, harus kontrol ngomongnya”Tanpa disadari ada Bunda yang menguping pembicaraan mereka, wanita paruh baya itu tersenyum melihat interaksi mereka melalui kaca ruang tamu. Lalu dia meninggalkan sepasang kekasih yang saling mengungkapkan isi hatinya.

“Boleh tanya bapaknya Vazco?”

“Dia bukan bapaknya, dia ga ngakuin.” Ucap Isti dengan cepat.

“Okelah… terserah kamu, pokoknya kamu tau kan yang aku maksud? Kenapa kamu terima pria itu?”

“Secara fisik dia ganteng, kata orang lady killer gitu, aku jomblo akut ya senanglah ada cowok yang menyatakan cinta. Bangga donk sebagai penakluk laddy killer, saat itu ga ada cinta sama sekali. Aku pikir cinta itu akan tumbuh karena terbiasa, tapi ternyata…here i am!” Isti tersenyum menatap Aji.

Aji mengecup pelipis Isti.

“Kamu sendiri kenapa kok ga menjalin hubungan?” imbuh Isti.

“Aku ingat pesan kamu, kita harus bahagia. Tiap berapa bulan sekali aku datang ke Banjarmasin. Berharap bisa ketemu kamu, aku pengen liat kamu bahagia. Tapi di sisi lain aku juga takut. Aku belum siap melihat kamu bahagia bersanding dengan pria lain.”

“Kalo memang itu terjadi? Kamu gimana?”Aji mengangkat kedua bahunya.

“Syukurnya kita disini” Aji mencium sisi kepala Isti.

“Uda tengah malam, mas Aji ga tidur? Ga capek? Tadi abis nyetir lho!”

“Kamu bobok dech…besok aku kenalin sodara lainnya”.Mereka berdua beranjak dari kursi dan memasuki kamarnya masing-masing.

***

Sebelum Fajar menyingsing, Isti sudah terbangun.Isti menghampiri kamar yang ditempati Vazco.Di kamar itu ada beberapa anak yang sepantaran, dan dijaga oleh pengasuhnya masing-masing.

Wanita itu menuju dapur, melewati ruang keluarga yang ada beberapa orang tidur menutupi wajahnya dengan selimut karena hawa yang dingin.Sudah ada Bunda Aji di dapur.

“Tante….”

“Udah bangun nak?” Bunda menyapa hangat. Isti mengangguk.

“Kita buat apa sekarang Tan?” Tanya Isti.

“Cuma buat roti, teh, kopi, coklat hangat. Sarapannya uda dibuatkan Bu Mimin, yang jaga Aji dirumah.”

“Sekarang Bu Mimin dimana?”

“Baru aja tidur, tadi masak jam 3. Dia ga mau dibantuin, katanya malah bikin repot. Semua keluarga uda datang.”

“Jam berapa Tan? Kok ga tau ya, kayaknya tidur Isti nyenyak banget.”

“Katanya pak Tatang yang jaga villa, mereka datang sekitar jam 1-2an, ntar kalo ga muat, berbagi kamar boleh ya?”

“Boleh Tan, biar Isti ada teman ngobrol dikamar”Tak lama Aji datang, langsung mencium sisi kepala Isti.”Kok cuma Isti aja? Biasanya kan Bunda dapat!”

“Tentu Ibu Suri.” Aji mencium Bunda berkali-kali dipipinya.Vazco menghampiri mereka.Usai membantu Bunda, Aji yang menggendong Vazco mengajak Isti untuk berkenalan dengan anggota keluarga lainnya.Tak lama mereka berkumpul dimeja makan yang cukup besar untuk sarapan.

“Love…boleh minta tolong ambilkan kecap asin?” Ujar Angga salah satu sepupu Aji.Isti memberikan kecap asin ke Angga yang ada diseberang Aji.

“Isti kak!” ujar Aji sambil menatap tajam ke arah Angga.

“Tadi aku dengar kamu panggil dia Love” Angga melirik Isti.Aji melepaskan garpu dan sendoknya secara kasar.Terdengar dentingan yang cukup keras.

Isti yang disampingnya terkejut, begitu juga dengan yang lain.Dalam sekejap suasana menjadi hening dan tegang.

“Aji….Angga ….” Papanya bersuara dengan lembut.

“Kakakku Angga, cukup panggil dia Isti, paham?!” Ucap Aji dengan tegas dan menatap tajam Angga, ada amarah di pancaran matanya.

“Ok, maaf…. Is-ti..” sahut Angga.Aji pun mengangguk

.”Maaf, silahkan dilanjutkan!” Ucap Aji dengan kaku.

‘wah.. kak Angga cari mati’

‘kak Angga kangen sentuhan kak Aji’

‘uda tau kak Aji senggol bacok’

‘yah…Uda selesai, ga seru, kan aku rindu pertengkaran’

Dan berbagai macam dengungan celometan lainnya.

Usai sarapan mereka bercengkrama di taman yang luas, sambil bersendau gurau.Isti menyuapi puding Vazco yang ada dipangkuan Aji.

“Di keluarga ini tidak layak untuk membicarakan religi dan marital status” ucap Aji memulai pembicaraan.

“Kenapa?”

“It’s too private. Aku ceritain keluarga yang punya kisah indah.

Liza dulu kekasihnya Angga, tapi sifat Angga yang kurang bersyukur, dan sok tampan, dia berselingkuh dengan wanita lain, lalu menikah, tapi ga lama cerai.Liza sudah terlanjur akrab dengan keluarga Angga, yang saat itu tenggelam dalam kesedihan, mencurahkan seluruhnya ke Arya, adik Angga.

Arya yang dulu agak ‘belok’ adalah sosok yang tepat untuk bersandar bagi Liza.

Arya sangat memahami posisi Liza, hampir setiap hari Arya memberi support Liza dengan mengantar jemput, menghabiskan waktu saat weekend, dan makin lama cinta tumbuh diantara mereka. Arya sembuh dari ‘beloknya’, lalu Liza dan Arya menikah.Sedangkan Angga sampai sekarang tetap gonta-ganti wanita.

Om Danu dan Tante Fina, mereka tidak menikah. Mereka bilang partner of life.Mereka dulu ketemu saat kuliah di luar negeri.Mereka percaya adanya Tuhan, tapi tidak memeluk agama, mereka anggap seluruh agama baik, sehingga mereka tidak memilih salah satunya.Tabur tuai, itu yang mereka ajarkan ke anak-anaknya.Aku sempat ikut mereka setahun, dan ga kuliah, jadinya Bunda marah besar.

Amira salah satu dari 3 anaknya ngikutin jejaknya, maksudnya ga menikah.Walaupun tidak ada ikatan pernikahan, om Danu dan suami Amira, Reno, sangat bertanggung jawab secara finansial dan kasih sayang ke anaknya sama seperti orang tua layaknya.Akte anak mereka seperti Vazco.

Aline, dia menikah dengan duda beranak 1, nama anaknya Dimas. Waktu itu usia anaknya masih 2 tahun.Karena suatu hal, mereka cerai.Aline memenangkan hak asuh Dimas, anak itupun juga ga mau ikut ayahnya.Dimas dan Aline terlihat seperti ibu dan anak kandung ya? Padahal bukan.Dan Aline nikah lagi sama perjaka, Nares.Brondong, lebih muda setahun, sampai sekarang aman aja.

Lalu Kak Arta, dia punya istri pertama, Ika. Karena Ika sakit, sehingga mereka tidak dikaruniai keturunan.Ika sangat mencintai kak Arta, oleh karena itu dia hanya percaya menitipkan kak Arta ke sahabatnya, Linda.Linda dengan berat menerima permintaan Ika untuk menjadi istri kedua.Linda dan kak Arta menikah, dan beberapa bulan setelah melahirkan anak pertamanya, Ika meninggal.Kak Arta sampai sekarang belajar mencintai Linda, walaupun masih sering terucap ‘belum ada yang menggantikan Ika. Lainnya itu, keluarga normal.”

Aji menutup cerita tentang keluarganya.

“Mereka punya cerita yang indah untuk dibagi.” Ucap Isti.

“Kamu tau kan maksud aku cerita gini? jangan minder dengan status Janda”Isti menganggukkan kepalanya.

“Mas… Vazco sampe ketiduran dengerin ceritanya.” Isti mengusap lengan Aji dan mencium lengannya.Mereka mengantar Vazco ke kamar dimana susternya sudah menunggu.*

Bersambung