Complicated Part 6

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Tamat

Cerita Sex Dewasa Complicated Part 6- BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya :  Complicated Part 5

Hari ini Isti resmi terdaftar sebagai marketing asuransi, di saat yang sama Selvia mengajaknya ke pameran, disana sudah ada beberapa marketing yang mencoba mengenalkan produknya.

Tak disangka kehadiran Isti membawa keberuntungan, beberapa orang bersedia menjadi nasabah Isti.Tentu Selvia juga ikut turun tangan untuk menjelaskan kepada calon nasabahnya.

“rasanya jodoh pekerjaanmu ada disini dear” ucap Selvia.

“apapun saya lakukan demi anak saya Bu…semoga kami beruntung di industri ini” jawab Isti bijak.

Isti rajin mengikuti training, dia tak malu bertanya ke rekan-rekannya.Para penghuni kantor pun tampak sayang dan perhatian ke Isti.

Seluruh kemauan Isti terpenuhi, karena menurut beberapa orang diantara mereka, jika kita memenuhi keinginan Ibu hamil, rejekinya akan diganti berlipat-lipat.
Orang tua Isti baru mengetahui kabar perceraian setelah surat keputusan cerai diterima oleh mamanya.

Antara kasihan dan bahagia mama Isti merasakan nasib anaknya.Saat telpon nada Isti selalu bahagia, terlebih lagi jika mendapat nasabah baru.Mamanya merasa Isti lebih bahagia dengan kondisi seperti ini.

Pundi pundi tabungannya makin bertambah, Isti pun pindah ke rumah kontrakan yang lebih layak.Dia ditemani seorang ART.

Seperti hari biasanya, Isti berangkat ke tempat nasabah menggunakan taksi.Tak lama dia pun menuju ke kantor untuk memberikan berkas persetujuan yang telah di tanda tangani nasabah.

Saat berdiri dan akan melangkahkan kakinya, dia merasa ada air yang mengalir yang keluar dari tubuhnya.

“Lho..mbak Istiiiiiii!!!” teriak seorang rekannya.

“aku kenapa?” Isti tak menyadari bahwa air ketuban telah membasahi kakinya.

“Isti…kamu ke rumah sakit ya?!” Selvia yang baru datang mengantar Isti ke RS terdekat.

“apa kamu ga merasakan sakit di sekitar perutmu nak?” tanya Selvia dalam kepanikan.

“sakit bentar terus ilang Bu..ya saya buat kerja aja” ucap Isti santai.

“itu namanya kontraksi nak…bayimu mau keluar”

“HAH?!” Pekik Isti

“jangan panik nak..abis ini kita nyampek RS..be strong ya..ada aku”

Isti meminta Selvia menghubungi adiknya yang bekerja diluarkota yang tak jauh dari Surabaya.Sambil menunggu pembukaan yang sempurna, Isti menyempatkan menelpon mamanya.

Dia minta maaf jika selama ini selalu merepotkan mamanya, dia minta pertolongan doa dari mamanya, karena dia merasa hanya doa mama yang bisa membantu melancarkan persalinan ini.

Selvia menemani dengan setia di sisi Isti.Ucapan terima kasih selalu terlontar dari mulut Isti, Selvia membelai lembut kepala Isti yang sudah dianggap anaknya sendiri.

Saat yang dinantikan telah tiba, Isti sudah mencapai pembukaan sempurna.Dia berjuang sekuat tenaga demi sang buah hatinya.Selvia menggenggam erat tangan Isti saat dia harus mengejan kuat.

Keringat membasahi wajah Isti, dengan usapan sayang Selvia mengusap keringat itu.
Tak lama terdengar suara tangis bayi.

“Selamat Bu…Bayinya laki-laki..sehat..” ucap dokter yang menangani.

Isti tersenyum lebar melihat bayinya, rasa sakit dan lelah seketika hilang saat melihat wajah tanpa dosa itu.Wanita itu mencium tangan Selvia, mengucapkan banyak terima kasih.

Isti merasa hutang budi terhadap wanita paruh baya itu Selvia menjadi pengganti ibunya yang jauhSelvia yang menunjukkan pintu rejeki.Selvia yang selalu siaga saat Isti membutuhkan teman bicara.Selvia merupakan dewa penolong untuk Isti.

“aku tak sanggup membalas semua yang telah Ibu berikan..” Isti mengecup punggung tangan Selvia dengan kuat.

“kamu sudah seperti anakku sendiri..aku kagum melihat ketangguhanmu” Selvia menitikkan air mata.

Selvia akhirnya bercerita, bahwa sebenarnya dia mempunyai anak perempuan, jika masih hidup mungkin usianya seperti Isti.Namun sayang, karena pergaulan yang salah anaknya meninggal akibat obat terlarang di usia belia.

Selvia juga mempunya anak lelaki yang masih kuliah di luar negeri, suaminya telah meninggal setahun yang lalu.Sehingga Selvia sering merasa kesepian, dia pun mencari kesibukan dengan bekerja.

***

3 tahun kemudian.

Isti yang saat ini bergelimang harta menjadi wanita yang lebih matang, mandiri dengan perilaku yang menawan.

Hampir seluruh keinginannya tercapai.Membeli rumah , mobil, liburan, dan yang penting adalah waktu untuk anaknya yang bernama Vazco Dermawan.

Dia sangat mencintai pekerjaan dengan waktu yang tidak mengikat ini, sehingga dia bisa memberikan perhatian untuk anaknya.
Isti mendatangi kantor tempat dia bekerja, di sana sudah ada Selvia.

“Isti hari Sabtu besok kita semua di undang Imelda ke luar kota, syukuran, dia baru aja beli villa” ucap Selvia

“wow…income bu Melda pasti besar ya Bu, sampek bisa beli villa” sahut Isti.

“kamu pasti bisa!” potong Imelda, yang sedang dibicarakan tiba-tiba muncul dan duduk di dekat Selvia dan Isti.

“Eh..Bu Melda..jadi malu saya” ucap Isti tersipu malu saat membicarakan orang yang kini tengah berada di antara mereka.

“kamu baru bergabung 3 tahun sudah bisa beli rumah dan mobil…apalagi nanti setelahnya..aku disini sudah hampir 7 tahun…dan baru tercapai cita-citaku..semangat Isti!” Imelda memberi motivasi ke Isti.

“terima kasih Bu …”

“jangan lupa ..Sabtu datang ya!” ujar Imelda sambil bangkit dari kursinya lalu meninggalkan mereka.

Selvia dan Isti melanjutkan pembicaraan tentang pekerjaan mereka.

***************

Sabtu usai acara syukuran di rumah Imelda.

“Isti..kamu ati-ati ya! kenapa ga bilang kalo driver mu cuti…harusnya kita bareng aja!” ucap Selvia berjalan di sisi Isti sambi menggendong Vazco.

“abis ini kita mau mampir-mampir Bu” ucap Isti yang tangannya melingkar di lengan Selvia manja.Walaupun sudah beranak, Isti tetap ingin di manja, hanya Selvia yang bisa memanjakan.

“kamu mau jalan-jalan kemana Vaz? kok Oma ga di ajak? Kamu minta papa ke mama, supaya mama ga capek” Selvia berkata ke anak lelaki yang berada di gendongannya, dan mencium pipi tembemnya. Anak kecil itu tidak menjawab, dia hanya membalas mencium pipi Selvia, dan membuat Selvia tertawa dan mencium lagi penuh gemas.

“Nanti lah Bu,belum siap!kita mau mampir ke rumah sebentar Bu..kebetulan adik saya juga lagi libur kerja” ucap Isti dan mengambil Vazco dari gendongan Selvia.

Setelah Isti dan Vazco masuk dalam mobil, Isti berpamitan lagi ke Selvia.

“jangan ngantuk lho Is..ati-ati ya” Selvia melambaikan tangan.

Akhirnya mobil yang hanya ditumpangi Isti dan Vazco meninggalkan lokasi.
Ocehan Vazco meramaikan suasana mobil yang hening.

“Ibu…kenapa Ayah belum pulang? Vaz mau ketemu Ayah..Vaz mau main mobil,bola,robot sama Ayah..seperti teman Vaz yang lain” ucap Vazco yang membuat hati Isti teriris.Isti sadar, cepat atau lambat anaknya akan bertanya mengenai keberadaan ayahnya.

“Vazco berdoa ya…moga Ayah cepet selesai kerjanya, dan bisa pulang” ucap Isti sambil menahan tangisnya.

Tak lama Vazco tertidur sambil menggenggam mainan super hero nya.

Pikiran Isti melayang jauh, jawaban apalagi yang akan dilontarkan saat Vazco sudah besar bertanya tentang ayahnya.

‘ciiitttttt….brukkk….brakkkk’

Seorang pria menepikan mobilnya saat terlihat beberapa meter dibelakangnya terdengar dentuman keras.

Dia berlari mendekati mobil yang tampak beberapa bagian tak utuh lagi.Sang pengemudi menundukkan kepalanya di bagian setir, rambutnya yang panjang menutupi wajahnya.Pria itu hendak membuka dari sisi pengemudi, namun pintu itu tak bisa terbuka.

Beberapa orang menghampiri dan ikut menolong.Mereka mencoba membuka dari sisi lainnya, akhirnya bisa dibuka.

Anak kecil yang setengah sadar meraung-raung, “Ibu….Ibu..”

Bagian kening si anak terlihat memar karena benturan.

“Tolong bantu saya, masukkan anak ini di mobil saya yang didepan itu…saya coba keluarkan ibunya” ujar si pria sambil menunjukkan sebuah mobil dan memberikan si anak ke penolong yang lain.

Pria itu masuk lagi ke mobil, membuka seat belt yang menjadi penghalang.Usai badan yang terjepit itu lepas, dia menggeser perlahan agar bisa keluar dari mobil yang sudah ringsek.Hingga saat dia akan mengangkat tubuh wanita itu, si pria menyibakkan rambutnya.

“Love…!!” Hatinya berdetak kencang seakan tak percaya wanita yang ada di gendongannya adalah wanita yang dia cari selama ini.

Pria yang menolong Isti adalah Aji, pria yang menutup hatinya untuk wanita lain.

‘akhirnya aku menemukanmu Love’ batin si pria.

Aji melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.Hingga mereka tiba di RS.

Isti dan Vazco langsung ditangani oleh pihak UGD.Hatinya diliputi rasa kuatir, dia berharap masih bisa melihat wajah wanita pujaannya.

Aji menghubungi Iwan, adik Isti, untuk memintanya segera datang.

Vazco keluar lebih dulu, lalu Aji menggendongnya.Bocah itu hanya terdiam dalam pelukan hangat.

“Anaknya ga papa Pak, cuma trauma aja..ada memar di kening dan bahunya.” ujar seorang perawat. Aji membalas dengan ucapan terima kasih.

Vazco yang saat ini duduk dipangkuan Aji, sesekali melihat wajah pria itu sambil memakan roti yang diberi oleh perawat.Tak lama, sosok Iwan datang dan menghampiri Aji.

“Kak Aji…dimana kak Isti?”

“Dia masih didalam, bagian kakinya ada yang harus dijahit, dan dia ada trauma di kepalanya,tapi ga parah. Sekarang ceritakan semuanya tentang Isti!” dengan nada tegas dan dingin.

Akhirnya Iwan menceritakan seluruhnya ke Aji.Pria itu hanya menggelengkan kepalanya.

“Aku minta tolong kakak jangan marah saat kak Isti sadar” Iwan memohon.

“Entah lah Wan….aku ga tau harus bagaimana” ucap Aji masih memangku Vazco yang sekarang tidur.

Isti keluar dari kamar pemulihan operasi, dia di dorong oleh perawat menuju kamarnya.

“Kamu balik kerja aja Wan…biar aku jaga Vazco dan Isti” ucap Aji.

“Ga papa aku aja kak”

“Kamu balik aja! aku tau kamu baru diterima kerja di perusahaan itu..ga baik kalo belum apa-apa uda bolos” sahut Aji sambil membaringkan Vazco di sofa.Iwan menurut apa yang di ucapkan Aji.

Lalu Aji menghubungi seseorang.

Selang 1 jam wanita paruh baya datang.Membawa segala macam yang diperintah Aji.

“Bu Mimin boleh balik ke rumah…besok datang pagi ya…”

“Iya Nak Aji…saya balik dulu”

Sepeninggal Bu Mimin, Aji duduk disamping ranjang Isti, menggenggam lembut tangan Isti.

‘Love….kali ini aku ga akan mengijinkan kamu pergi lagi, aku rindu, aku marah, aku kecewa… kenapa kamu ga menghubungi aku?’ Aji menarik nafas panjang.

Tanpa sadar, Vazco menghampiri Aji.Anak itu sudah berdiri di samping Aji.

“Hei….Aku lapar” ujar Vazco lirih.

Aji tersenyum dan mencium pipi Vazco yang tembem.Dia menggendong lalu menuju meja yang sudah tersedia beberapa jenis makanan.

“jangan panggil ‘hei’ lagi,,..ini ayah nak”Dia mendudukkan Vazco didepannya.

“Ayah?! Apakah pekerjaanmu sudah selesai?” Vazco mengerjap seakan tak percaya ayahnya sudah datang. Aji mengambil makanan di piring dan menyuapkan ke mulut mungil bocah itu.

“Apa yang dikatakan Ibu?” Tanya Aji.

“Ibu bilang kalo ayah banyak kerjaan, jadi Ayah ga bisa pulang…Ayah mau bermain denganku? Seperti temanku yang lain bermain bersama ayahnya” celoteh Vazco.

“Iya nak….kita akan bermain bersama kapan pun kamu mau.” Ucap Aji sambil membelai kepala bocah lucu itu.

Setelah makan, selang beberapa menit bocah itu tertidur di pangkuan Aji, mendekap tubuh Aji seakan tak mau lepas. Perlahan Aji, membaringkan Vazco di sofa.

Pria itu menghampiri ranjang yang ditiduri Isti.

‘Love…bangun…kamu ga kangen Vazco? Dia anak yang lucu … maafkan aku yang sudah lancang mengaku sebagai ayahnya’ batin Aji.

Selvia datang mengunjungi Isti, wanita itu menceritakan sosok Isti yang tangguh di balik deritanya.

2 hari berikutnya.

Aji di samping ranjang Isti memangku Vazco.Mereka bercanda hingga Vazco mengeluarkan khas tawanya yang renyah.Isti mencoba membuka matanya, mengerjapkan matanya berkali-kali.

Setelah kesadarannya utuh, dia terkejut mendapati Aji yang memangku Vazco.

“Hei Love…..” Sapa Aji penuh hangat.Tak terasa Isti menitikkan air mata.

“Jangan menangis ….ada Vazco…ga baik dia melihat kesedihan” Aji membungkukkan badannya berbisik ke telinga Isti, dan mengusap air matanya.Hati Isti berdesir saat tangan Aji menyentuh kulit wajahnya.

“Ibu….aku kangen ..” Vazco mencium pipi Isti.

“Ibu juga kangen Vazco” suara Isti parau.

“Vazco turun dulu ya…Ibu mau minum” Aji mengambil gelas yang sudah ada sedotan.

Dan menyodorkan di samping Isti yang sedang berbaring.”Makasih” ujar Isti tanpa melihat Aji.

“Iya” jawab Aji singkat dengan jantung yang berdetak kencang.

“Ayah…aku mau duduk di pangkuanmu lagi” Vazco membentangkan tangannya.Isti mengernyitkan dahinya, dia terkejut saat anaknya mengucapkan ‘ayah’ pada Aji.

“Ok jagoan…apa yang kamu inginkan sekarang? Makan? Susu?” Tanya Aji.

“Ga mau…aku cuma ingin bermain sama Ayah…kalo Ibu kembali sehat, apa ayah akan meninggalkan kita lagi?”

“Ga nak….kita bisa terus bermain bersama” ucap Aji sambil melihat Isti membuat wanita itu salah tingkah.

“Terimakasih ayah….” Vazco mencium pipi Aji berulang.Aji terkekeh merasakan geli.Isti hanya tersenyum melihat Vazco yang bergelayut manja di tubuh Aji.

“Istirahatlah Love….2 hari lagi kamu boleh pulang” ucap Aji.Isti hanya mengangguk lemah.

Namun jantungnya loncat tak karuan.

‘Tuhan, apakah ini mimpi? Apalagi rencana Mu? Aku takut …aku takut jatuh cinta lagi. Tolong jangan beri ujian lagi, aku ga sanggup’ batin Isti yang hatinya berkecamuk.

Isti hanya berbaring dengan tatapan lurus melihat biji kancing baju khas rumah sakit.Sedangkan Aji belum bosan memandang wajah wanita yang telah lama hilang.Isti melihat sekilas wajah Aji, mata mereka saling bertemu, namun dengan cepat mereka sama-sama saling memutuskan kontak mata, melihat atau menoleh ke sisi yang lain.

Dan secara bersamaan, mereka sama-sama menarik nafas panjang.

“A-aku mau tidur dulu, kepalaku masih aneh” ujar Isti memecahkan suasana yang aneh.

“Ok” Aji hanya memberikan jawaban singkat.Isti bergerak perlahan memunggungi Aji, pria itu membetulkan selimutnya yang membuat Isti tersentak dan memejamkan mata.

‘Tuhan, kuatkan jantungku!’ jerit Isti dalam hati.Saat ini dia tak ingin membicarakan apapun,dia hanya terkejut, terkejut kehadiran Aji, terkejut Vazco memanggil Aji dengan sebutan ‘ayah’ dan banyak lagi kejutan lainnya.

2 hari kemudian.

“Jagoan… Apa kamu cukup kuat membawa tas ini?” Aji memberikan sebuah tas tenteng ke Vazco.

“Aku bisa membawanya Yah” ucap Vazco.Aji mendorong kursi roda di sisi ranjang.

“kamu siap Love?” Isti mengangguk dan tersenyum.Aji mengangkat tubuh Isti.Hidungnya tampak dekat di leher Isti mulus.

‘aroma tubuhmu masih seperti yang dulu’ batin Aji menelan ludah dengan paksa.Aji mendorong Isti ke lobby, Vazco berjalan cepat mengikuti derap langkah ‘ayahnya’.

Tiba di rumah Isti.

“Vazco….setelah ayah keluarkan Ibu dari mobil, ayah minta tolong kamu menutupnya, bisa?” Tanya Aji

“Hanya itu? Tentu aku bisa ….” ucap Vazco tegas.

“Pegangan sayang” Aji berbisik hingga bibirnya menyentuh cuping telinga Isti.

Seketika Isti merasa geli, tubuhnya meremang, beberapa bulu kuduk berdiri. Isti melingkarkan tangannya di leher Aji.Pria itu mengangkat tubuh wanita pujaannya, Isti melihat rahang Aji, pria itu merasa jika dia diperhatikan, dia menatap balik tatapannya, Isti melipat kedalam kedua bibirnya untuk dibasahi.

Isti pun menunduk saat mata mereka bertabrakan.

‘rasa ini kembali lagi’ batin Isti sambil merasakan detak jantungnya yang berdetak kencang.

“Jangan pernah memainkan bibirmu didepanku” bisik Aji sambil merebahkan Isti di ranjangnya, Aji pun mencium puncak kepala Isti.

“Sori…aku ga bisa menahannya” Aji menatap Isti yang wajahnya memerah.

“Aji…. terimakasih banyak, aku ingin kita bicara” Ucap Isti mencoba menjelaskan semuanya.

“Istirahatlah dulu…simpan penjelasanmu dan siapkan jawabannya …aku bisa menunggu” tutur Aji sambil membelai lembut kepala Isti.

“Ayah…apa kau akan meninggalkan kami lagi?” Yang tiba tiba muncul dan membentangkan tangannya untuk minta di gendong Aji. Aji pun menggendong bocah kecil itu.

“Tentu tidak Vaz…ayah akan kembali sore,setelah kamu mandi.kamu seorang pria, apa kamu bisa menggantikan ayah menjaga ibu saat ayah bekerja?”

“Seperti sebelum Ayah datang? Tentu aku bisa…apa benar Ayah akan datang di sore hari?” Tanya Vazco ragu.

“Kamu bisa menelpon ayah … ingatkan ayah” ucap Aji sambil mencium Vazco.

“Ibu…sudah tau nomor ayah?” Tanya Vazco memandang Isti.

“Sudah nak”

“Tapi kenapa kemarin-kemarin Ibu ga menelepon ayah?” Tanya Vazco lagi membuat Isti kehabisan jawaban.Mereka terdiam, hanya saling memandang.

“Sudah ya…yang penting nanti ayah datang sore, setelah kamu mandi” potong Aji melihat wajah Isti yang sudah kehabisan kata-kata untuk pertanyaan anaknya.Vazco mengangguk, Aji menurunkan Vazco, dia pun berlari keluar kamar.

“Aku ke kantor …nanti sore aku balik lagi” sambil mencium puncak kepala Isti lagi.

“Ati-ati …” Ucap Isti yang terbaring di ranjang.

‘pertanyaan apa yang akan kamu tanyakan ke aku? Aku takut Ji…’ Batin Isti.

***

“Ibu,aku sudah mandi sore, kenapa ayah belum datang?” Tanya Vazco yang membangunkan Isti.

Sambil menggeliat dan meringis merasakan sakit di punggung kakinya.

“Ini masih jam 3 sore, kamu terlalu cepat mandinya” ucap Isti, dia mengusap punggung Vazco yang duduk di sampingnya.

“Tapi aku mau main sama ayah Bu, tolong telpon ayah! supaya dia segera pulang” Vazco merengek.

“Sayang…nanti jam 5 kalo ayah belum ke sini, kita telpon ya…” Isti berusaha merayu anaknya.

“Bolehkah aku telpon ayah sebentar?aku ingin memastikan” Vazco memaksa.

‘Vaz….tolong pahami perasaan Ibu nak, Ibu malu menghubungi pria yang kamu sebut ‘ayah’ ‘ batin Isti dan menggelengkan kepalanya ke arah Vazco.

“Bu…. ayolah Bu… sebentar aja” Vazco merayu lebih memaksa.

“Iya …iya..”dengan berat Isti mengambil ponselnya dari sebelah bantalnya dan memencet tombol.

Aji : Iya Love?

Isti : ada yang mau bicara..(Isti memberikan ponselnya ke Vazco, dan menekan tombol speaker)

Aji : halo?

Vazco : ayah…aku sudah mandi sore, kapan ayah pulang?

Aji : apa Ibu sudah mandi?

Vazco : belum…

Aji : ayah datang kalo Ibu sudah mandi, jadi sekarang tugas Vaz minta Ibu mandi, supaya nanti kalo ayah cium kalian sudah harum semua…ok?

Vazco : ok Ayah! aku ga sabar bermain lagi denganmu…bye

Aji : bye Vaz…berikan telponnya ke Ibu.

(Isti pun meraih telpon dari genggaman anaknya, speaker di non aktifkan.Vazco lari keluar kamar.)

Isti : halo…

Aji : apa kamu pengen sesuatu? Makanan? Atau kue?

Isti : aku ga pengen apa-apa Aji(‘Aku ingin kamu segera pulang’ batin Isti)

Aji : sebenarnya yang pengen telpon siapa? Vazco? Atau Ibunya Vazco?

Isti : ya uda…besok kalo Vazco minta telpon ga usah aku sambungkan

Aji : jangan ngambek Love… tunggu 1 jam lagi ya…aku harap kamu sudah mandi.

Isti : kamu meminta kami mandi…tapi bagaimana dengan kamu sendiri?

Aji : aku mandi kalo kamu mau mencium aku, bagaimana?

Tut Tut Tut….

Isti mematikan teleponnya.

‘aaarrgggghhh…dia membuatku mati kutu’ Isti bermonolog dan tersenyum,pipinya merona.

Pria yang diseberang sana terkekeh.

1 jam kemudian

Hati Isti berdetak kencang menunggu kedatangan Aji.Ada rasa senang, takut, rindu, semuanya menjadi satu.Terdengar suara mobil memasuki halaman rumah yang cukup luas.Suara derit pintu yang terbuka.

“Ayaaaaah….!”Vazco berlari menyambut Aji, Aji pun menangkap Vazco dan menggendong bocah itu.

‘aaaargghhh, dia uda datang.’ batin Isti saat mendengar teriakkan anaknya.

“kiss me first!” pinta Aji. Tanpa keberatan Vazco mencium Aji di pipinya.

“yang banyak donk..yang kuat” Aji memberikan pipinya.Vazco meberikan kecupan-kecupan kecil di wajah Aji dan kecupan terakhir bocah itu menempelkan bibirnya lebih lama.

Aji menggendong Vazco berjalan ke kamar Isti. Wanita itu bangkit dari baringnya, dan terduduk.

“Ayah sudah disini, apa yang kamu inginkan dari Ayah?” tanya Aji sambil duduk di sofa yang tersedia di kamar Isti dan memangku Vazco.

“aku cuma pengen peluk ayah” Vazco pun memeluk erat tubuh Aji, Aji mengecup puncak kepalanya dan membelai punggungnya.Isti hanya melihat dan tersenyum.

‘Vaz…apa yang dilakukan pria itu sehingga bisa membuatmu sedekat ini’ batin Isti.

Tak berselang lama, Vazco turun dari pangkuan Aji, dan berlari keluar kamar.Aji melangkah ke arah pintu, dan menutupnya.

“Vazco sudah menciumku…apa Ibunya Vazco tidak ingin menciumku juga?” Aji menggoda Isti, dia duduk di bibir ranjang.

“alah! bilang aja mau cium aku, ga usah pakai Vazco jadi alasan” ucap Isti dengan ketus.

“Galaknya uda balik!” tanpa permisi Aji mencium puncak kepala Isti.Wanita itu menarik nafas panjang, rasanya jantungnya berhenti berdetak.

“Ji….aku mau kita bicara” Isti berucap untuk menutupi kegugupannya.

“Tentang apa?” Aji menatap dengan hangat membuat Isti salah tingkah dan menunduk.Aji mengambil sebelah tangan Isti dan menggenggamnya.

“aku minta maaf, karena aku _”

“Love, sudahlah! yang lalu biarlah berlalu…aku uda ga mau mikir masa lalu..buat apa? aku bersyukur kamu kembali, sekarang aku mau kita memikirkan masa depan, belum ada wanita yang menggantikan dirimu, kita sudah sama-sama dewasa, bukan saatnya untuk berpacaran, aku mau kita menikah ” Aji mencium punggung tangan Isti.

“Menikah?!” Isti seakan tak percaya ucapan pria didepannya.

“Love, aku tau rasa itu masih ada, dan aku ga mau kehilangan kamu lagi.”

“kamu sudah tahu aku kan?” Aji hanya diam karena dia tak mengerti maksud pertanyaan Isti.

“aku seorang Janda! apa kata keluargamu? Kamu tau kan penilaian Janda di masyarakat kita ini? Rendah! Kamu bisa dapat wanita yang lebih baik dari aku Ji” cerocos Isti.

“seperti yang aku bilang…you are always be my girl! aku ga peduli omongan mereka! apa kamu ga kasian sama Vazco?!”

“Aku Janda Ajiiiiii, beda ama Duda.”

‘aku tau! kalo cewek Janda, kalo cowok Duda.” balas Aji dengan canda.

“Bukan itu maksudku…”

“I know..and i don’t care. I Love you, I Love Vazco.”

“apa yang kamu lakukan sama Vazco hingga dia begitu dekat denganmu?”

“kamu tanya ke Vazco! ga ada yang aku berikan.”

“entahlah…aku masih takut”

“kamu takut apa?” tanya AjiIsti terdiam, mereka hanya saling menatap.

“kita jalani aja dulu…kita baru ketemu beberapa hari” imbuh Isti.

“aku masih ingat kata-kata itu ‘kita jalani aja dulu’ tapi apa? kamu malah menghilang Love”

“aku bukan menghilang, aku juga tau diri kondisi aku. aku tidak pernah lupa siapa saja mantan kekasihmu. mereka semua cantik-cantik, terlebih salah seorang diantaranya seorang mayoret drumband, ga sebanding sama aku Ji..ga pantas Ji” Isti merasa minder mengingat teman kencan Aji yang sempurna secara fisik.

“Love ..please, ga usah ungkit masa laluku. Lagian kamu juga tau sendiri kan, berapa lama aku in relationship dengan mereka? hanya beberapa bulan.”

“lalu kenapa kamu menyatakan cintamu ke mereka?”

“y-yaaaa..jujur aja, saat itu kita sebagai cowok yang masih butuh pengakuan, gila pamor, merasa bangga bergandengan dengan wanita cantik. itu doank Love” Aji menjawab dengan nada penyesalan.

“jadi tujuan kamu nikah sama aku karena apa? karena aku perawatan kan?”

“Salah besar ya! aku suka kamu mulai dulu, aku pernah ngajakin kamu nikah, kamu nya aja yang ga mau, kamu itu sok jual mahal!”

“Bukan jual mahal, tapi aku sadar diri. Kamu salah paham! Kamu ga ngerti perasaanku! Aku uda berkorban merantau dan meninggalkan keluarga! Jadi aku tegaskan ya! Bukan Jual Mahal, Tapi pengorbanan aku demi kamu dan dia!” Isti berucap dengan sebal.

“Ok, sori Love…” Aji bernada lembut dan mengusap punggung tangan Isti.Isti mendengus kesal dan menarik tangannya yang ada di genggaman Aji.

“Minta maaf Love ..jangan ngambek gitu donk” Aji merengek.Isti membuang mukanya ke arah lain.

“Love..maaf kalo aku ga pengertian, beneran aku nyesel” Aji meraih tangan Isti, namun Isti menarik lagi dengan kasar.

“Dimaafin donk”rengek Aji.Aji merasa bersalah membuat wanita itu ngambek.

“terserah aku!” Isti menjawab dengan cemberut.

“iya..emang terserah kamu, tapi gimana caranya supaya dikasih maaf?” sahut Aji. Isti tak menjawab.

Suasana menjadi hening beberapa menit, hanya terdengar deru nafas mereka.Aji menatap Isti yang ada didepannya, tapi Isti tak mau melihat wajah Aji, dia menunduk atau menoleh ke arah yang lain.

“okay..” ujar Aji enteng sambil melepas sepatu dan kaos kaki tanpa sepengetahuan Isti.Pria itu berdiri, berjalan di ujung ranjang, lalu dia mencium punggung kaki yang terbungkus perban.

Tubuh Isti meremang merasakan lembutnya bibir Aji.

‘ini baru kaki lho Is’ batinDia merangkak perlahan dari kaki Isti menuju ke tubuh atas Isti.

“Eh..Eh…kamu ngapain?” Tanya Isti panik. Aji tetap merangkak perlahan mendekati wajah Isti.

“kamu kasih maaf ga?” Tanya Aji.

“Lho..kok jadi kayak gini?” Isti menelan ludah dengan susah, reflek dia membaringkan tubuhnya, menjauhkan wajah Aji dengan wajahnya.

“kamu kasih maaf ga? dua kali Love”

“Eh..i-iya, i-iya ..aku kasih, dimaafin kok” Isti berucap dalam kegugupannya.

“TE-LAT!” tubuh Aji kini sudah berada di atas tubuh Isti, Isti menahan tubuh Aji dengan menekan dada pria itu.Sentuhan tangan Isti membuat sisi lain Aji menegang, dia menarik nafas panjang.

Jantung mereka berlomba seakan mau keluar.Beberapa saat mereka saling bertatap mata.

“boleh aku peluk?” tanya Aji memecah keheningan.Isti mengangguk dengan kaku, tangannya berpindah ke lengan Aji.Aji tersenyum, perlahan dia mendekatkan tubuhnya dengan Isti.Hingga akhirnya dia memeluk erat wanita yang telah lama hilang.

“aku rindu, aku kangen Love…apa kamu juga merasakan hal yang sama?” Aji menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Isti, dan menghirup aroma tubuh wanitanya.Tanpa suara Isti hanya menganggukkan kepalanya yang ada dipundak Aji, Aji pun merasakan.

Tangan Isti mengusap perlahan punggung prianya.Tak lama, Aji melepaskan pelukannya, dia duduk di ranjang, di samping Isti dan menggenggam tangannya.

“Love…aku tidak butuh wanita sempurna, aku butuh wanita yang bisa membuat aku bahagia. Dan itu kamu Love..” Aji mengecup punggung tangan Isti. Isti melihat wajah Aji, menatap manik matanya.

Isti masih menyimpan cinta itu, tapi dia takut menerima kesedihan, dan membuat air mata nya berlinang lagi.Isti sudah lelah dengan kesedihan.

“terima kasih, kamu tahu aku punya pengalaman buruk tentang cinta, aku takut memulai lagi.”

“kamu percaya aku kan?”

Isti mengangguk.

“kasih aku kesempatan, supaya kamu dan Vazco bisa merasakan cintaku” pinta Aji.

Isti mengangguk lagi.

“Terima kasih” ucap Aji, lalu Isti memberikan senyuman hangat.

“Sabtu depan teman-teman ngumpul, aku jemput ya?”

“Sabtu? hmmm rasanya aku ga bisa, ada meeting di kantor”

“baiklah…sudah malam, aku pulang ya, besok aku jemput untuk kontrol”

Aji berdiri dan mencium pipi Isti sambil berbisik,”love you so”.

Isti hanya tersenyum. ‘maaf Ji…aku belum siap bertemu teman-teman, aku takut’ batin Isti.

Esoknya Aji mengantar Isti untuk kontrol, dan mengantarnya ke kantor, dia pun juga menjemput Isti.Rasanya Aji tidak mau kehilangan Isti untuk kedua kalinya.

Hari telah berlalu.Setiap pagi Aji datang ke rumah Isti untuk menyapa Vazco.Dan usai jam kantor Aji menyempatkan diri mampir ke rumah wanita itu lagi.Isti sudah bisa aktivitas seperti biasanya, namun Aji masih melarang Isti membawa mobil sendiri, sehingga dia tetap mengantar dan menjemput Isti.

Jika Aji datang terlambat, maka Vazco merengek untuk segera disambungkan ke Aji.

“besok aku ngumpul bareng ama teman, kamu ke kantor sama sapa?” ucap Aji di ambang pintu.

“bu Selvia yang datang jemput..ga pa pa kan?” Isti menghentikan langkahnya, berdiri menghadap Aji.

“ga pa pa..kalo cowok aku pasti cemburu, dan mungkin aku akan membunuhnya” ucap Aji menggoda.

“kenapa jadi posesif?” ucap Isti balik, tapi Isti menyukainya saat Aji bersifat posesif, bukti bahwa pria itu mencintainya.

“aku ga mau kehilangan kamu lagi Love, kalo bisa aku simpan didompet.” Isti tertawa ringan.

“Serius ini.” tambah Aji.

“Iya in aja lah. Pulang…uda malam!” balas Isti. Aji berpamitan pulang, tak lupa dia mencium pipi Isti yang mulus.

Esok harinya.

Ponsel Aji berdering.

Aji : iya Bunda…

Bun Aji : apa kamu hari ini kerumah?

Aji : iya…tapi aku mau ke rumah Isti dulu.

Bun Aji : Isti??? Apakah anaknya sudah besar?

Aji : anak?! Bunda tahu kondisi Isti?

Bun Aji : tau… kenapa?

Tut Tut Tut..

“Sopan sekali anak sekarang” ujar Bunda Aji.Selang 1 jam.

“Bundaaaaa!” Ucap Aji sedikit berteriak, berjalan melewati ruang tamu dan berhenti di ruang keluarga.

” Ga usah teriak! Bunda disini!” ujar Bundanya santai membaca majalah di ruang tamu.Aji berjalan menuju sumber suara.

“Jadi Bunda tau Isti punya anak?” Tanya Aji tak percaya

“Tau donk, mamanya sering curhat… telpon bunda”

“Kenapa Bunda ga bilang ?”

” Kenapa kamu ga tanya? ” Balas Bunda

“Selama ini aku cari dia, tapi bunda tau dan diam aja? Bundaaaaaa…!”

“Kenapa kamu ga bilang kalo kamu cari Isti, makanya kamu itu jangan diem aja, kalo ada apa-apa ngomong sama bunda .. sekarang kamu sudah ketemu Isti? Bawa dia ke rumah! sama anaknya juga!” perintah Bunda Aji dengan tegas, sambil melengos dan menahan tawa.

“Ya ampun Bunda!” Aji menggelengkan kepalanya, seakan tak percaya ulah Bundanya.

Aji meninggalkan rumah dengan rasa yang amburadul.

‘rasain…makanya punya orang tua diajak diskusi’ Bunda Aji tersenyum.

Aji pun meluncur ke kantor Isti.

Namun disana dia tak menemukan siapapun, hanya petugas OB.

Selvia : halo…iya Aji

Aji : saya lagi di kantor, tapi kok ga ada meeting, katanya Isti ada meeting.

Selvia : meeting? Ga ada meeting kok

Aji : kira-kira dia dimana ya Bu?Selvia : coba cek ke mall tengah kota… mungkin dia ikut pameran disana

Aji : ok… makasih

Aji pun meluncurkan mobilnya menuju tempat yang dimaksud.Dari jarak beberapa meter Aji melihat Isti.Tak sabar dia menghampiri Isti, lalu dengan paksa dia menggandeng ke suatu cafe.

“Kita ketemu dengan teman-teman!” Ucap Aji tegas tanpa melihat ke Isti.

“Aku belum siap Ji…aku malu” sahut Isti.

“Kapan siapnya? Siap atau ga siap kamu harus bertemu mereka” mereka masuk ke cafe.Disana sudah ada beberapa teman mereka saat kuliah.Mereka menyambut Isti dengan bahagia.

Isti memeluk satu per satu.”kok ga pulang ke rumah?” tanya Rio saat memeluk Isti.

“ntar ya……” jawab Isti.

“Anak yang hilang telah kembali” ujar salah seorang.

Seiring mereka mengobrol, akhirnya Isti bercerita tentang kisahnya.

“Apa kamu ga pengen nikah lagi? Apa kamu tidak merindukan rasa bercinta?” Tanya Rio yang langsung pundaknya di pukul Sammy.

Isti terkekeh,” untung aku tidak pernah merasakan orgasme dan mendesah secara sadar, dia kasih obat tidur…jadi aku ga tau rasanya..dan itu bukan BER_CIN_TA, jika bercinta, kami sama-sama melakukannya dengan keadaan sadar,suka sama suka. Itu just having sex, cuma nafsu” jawab Isti sambil meneguk minuman.

“Kamu sama Aji sama-sama single, kenapa kalian ga nikah aja? Sudah cukup pengorbanan kalian…sudah saatnya kalian bahagia” ucap Rio sambil melirik Aji, Aji melirik Rio sambil menggelengkan kepalanya.

“Pengorbanan?” Tanya Wati.

“Udah lah…yang penting aku sudah disini…jangan tanya lagi ya, makasih Rio…waktu aku di Banjarmasin, kita sempat ketemu” ujar Isti.

“Beneran?!” Aji langsung merespon, dan menatap Rio seolah berkata ‘kok kamu ga ngomong?’

“Iya, aku, Isti dan Nisa ketemuan di hotel, dia yang minta kalo meet up kemarin ga usah di omongin…kan amanah Isti, ya jangan marah donk Ji” Rio tampak tak nyaman dengan tatapan Aji yang penuh emosi.Ajipun melengos dan mengalihkan pandangannya ke arah lain.

“Syukur dech kalo kamu pisah ama dia” ucap Sammy.

“Lho kok bersyukur?” Tanya Wati.

“Pernikahan mereka ga sehat duhai Wati yang uda nikah tapi ga pinter-pinter” ucap Sammy sarkas

“Dih…sok bijak!” Wati membela diri.

“Udah lah..aku Jomblo lagi nich, bantuin cari laki napa” Isti menghibur dirinya sendiri.

“Aku suka kalo kamu gini… ngebully diri sendiri sebelum di bully” ucap Sammy.

“Iya lah…kalo kamu yang ngomong pedes banget, nyesek di ati” ucap Isti sambil tersenyum.Setelah beberapa jam mereka bercengkrama, sebentar sedih, sebentar senang, akhirnya mereka membubarkan diri.Hingga yang tersisa Rio, Aji dan Isti.

“Kamu pulang sama siapa?” Tanya Rio ke Isti.”Dia pulang sama aku” jawab Aji pendek.

“Tentu saja, aku sudah tau tentang kalian. Sejak saat camping, kalian itu aneh, dan sehari sebelum Isti pergi, ada tanda cinta dilehermu Bro…sapa lagi kalo bukan Isti..karena dia pulang sama kamu kan?” Rio menjelaskan dengan detail, membuat Isti dan Aji terdiam, saling memandang.

“Aku mau balik dulu…jangan buang waktu” ujar Rio lagi memeluk Isti sekali lagi.

“Kita juga balik” ucap Aji.

Akhirnya mereka meninggalkan cafe itu.Aji mengantar Isti pulang.Setelah bermain bersama Vazco dan ngobrol dengan Isti, Aji berpamitan.Aji menggenggam tangan Isti, berjalan menuju ruang tamu.

“Besok aku jemput pagi ya..Bunda ga sabar pengen ketemu kalian” ucap Aji menghentikan langkahnya.

“Aku takut…” Isti memandang wajah Aji dengan wajah memelas, Aji tersenyum.

“kemarin kamu takut ama teman-teman, setelah ketemu semuanya baik aja…aku selalu di sampingmu” tangan Aji mengusap pipi Isti.Isti tersenyum dan mengangguk kepalanya.

“Aku pulang dulu…” Aji mencium pipi Isti dan berbisik ‘aku mencintaimu’.Isti memberanikan diri membalas mencium pipi Aji, dia sudah tidak bisa menahan diri.

Aji merasa mendapat angin segar, pria itu memegang dagu Isti, dia mendaratkan bibirnya ke wanitanya.Sudah lama dia menahan untuk melepaskan rindu untuk merasakan nikmatnya bibir Isti.

Pria itu melumat bibir Isti bergantian.Isti secara refleks mengalungkan tangannya ke leher Aji, Aji semakin mendekatkan tubuhnya ke Isti, merengkuh pinggang kecilnya.Ciuman semakin memanas dan bergairah, lidah mereka saling bergulat, hanya suara cecapan akibat pertemuan 2 bibir itu yang terdengar di ruangan ini.

Hingga Aji melepaskan bibirnya, mempertemukan kening dan hidung mereka.Mereka mengatur nafas, Isti masih dalam pelukannya.

“Menikahlah denganku Love….” Ucap Aji lirih.

“Aku belum siap” Isti melepaskan pelukan Aji, dan duduk di sofa ruang tamu.Aji yang tadinya berpamitan pulang, ikut terduduk di samping Isti.

“Bukan itu jawaban yang aku mau… sampai kapan pun kamu ga akan siap” sahut Aji, dia menyibakkan rambut Isti yang menutupi pipinya ke telinga.

“Aku mau fokus ke pekerjaan dulu… hampir 1 bulan aku meninggalkan, dan tahun ini aku belum mencapai target penjualan”

“Berapa kurangnya? Siapkan dokumennya, aku beli polis asal kamu mau menikah denganku”

“Kamu pikir aku wanita apa? Walaupun aku janda ..aku punya harga diri” ucap Isti

“Bukan maksudku merendahkan kamu sayang….aku beli polis karena aku ingin kalian akan menjadi ahli warisku” tutur Aji.

Isti pun tetap menolak, Aji pun tak bisa membujuk wanita yang keras kepala itu, dia meninggalkan rumah wanitanya.

Bersambung