Complicated Part 5

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Tamat

Cerita Sex Dewasa Complicated Part 5 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya :  Complicated Part 4

“ready for today?” Johan menjemput Isti, hari ini adalah hari pertama mereka ke kantor menjadi sepasang kekasih.

“Jangan perlakukan aku berlebihan, aku malu” pinta Isti.

“Kenapa honey?…i want to show that you are mine” bela Johan.

“Terserah lah” Isti menyerah.

Mereka berangkat menuju tempat mereka bekerja.

Tiba di parkir mobil.

“Kiss me first” pinta Johan saat melihat Isti akan membuka pintu.

“Kita dihalaman parkir Johan” ucap Isti keberatan atas permintaan Johan.

“Kamu lakukan disini, atau aku akan menciumu di lobby?” Paksa Johan.

Isti menggelengkan kepalanya, dan tersenyum.

“Dasar tukang pemaksaan” Isti berkata lirih namun terdengar Johan, pria itu pun tersenyum.Isti mengarahkan badannya ke arah Johan, dan mencium sekilas bibir kekasihnya.

Johan menahan lengan Isti.

“Akan aku tunjukkan cara mencium yang benar” Johan mengarahkan wajahnya ke arah Isti, dia mencium lembut bibir Isti.

Ciuman menjadi makin panas, mereka saling membalas dan lidah mereka saling bertemu.Isti menarik wajahnya.

“Sudah…ntar telat, dan stock lipstik ku mulai menipis, aku tidak mau berwajah pucat” gadis itu mengambil tissue yang tersedia di mobil dan menghapus jejak lipstik yang tertinggal di bibir prianya.

“Aku akan membeli beberapa buah untuk mu honey” ucap Johan merasakan tangan gadisnya membersihkan bibirnya.

Lalu mereka turun dari mobil, berjalan bergandengan menuju lobby, antri untuk check lock.Johan membisikkan kata cinta ke telinga Isti, mereka terlihat mesra.

Mereka berpisah saat di lift, karena divisi mereka berbeda lantai.Saat pulang, mereka bertemu didepan mesin checker, saling menatap mesra.Johan melingkarkan tangannya dipinggang Isti saat berjalan menuju mobilnya.

Tiba di mess Isti, mereka turun.

Isti memasuki rumahnya, “mampir?”

“Ga usah…ntar kemalaman” ucap Johan.

“Okay ati ati” sahut Isti sambil melepaskan sepatu.

“Ciuman perpisahan honey” pinta Johan.

Isti tertunduk malu mendengar permintaan kekasihnya.Gadis itu berjalan ke arah Johan.Dia menatap pria tajam seakan menantang.

Johan pun tanpa sungkan melancarkan aksinya.Pria itu memanggut lembut bibir Isti.Usai permintaan dikabulkan, dia berpamitan.

Saat malam hari, Johan menelepon Isti, seperti kebanyakan pasangan yang lain, seolah ingin selalu komunikasi.Isti pun perlahan membuka hatinya untuk pria itu.

3 bulan kemudian.

Mereka berjalan di sisi sungai, melihat transaksi pasar apung, banyak perahu memadati sungai itu.Isti berdiri di antara 2 lengan kokoh kekasihnya yang berdiri dibelakangnya.

“Honey…aku ingin kamu menjadi istriku, ibu dari anak-anakku, maukah kamu menerima cintaku? Menemani aku dalam suka dan duka?” Johan berkata tepat di telinga Isti.

Isti tersenyum mendengar ucapan Johan.Dia membalikkan tubuhnya, kini 2 wajah itu sangat dekat, hidung mereka bisa merasakan nafas lawannya.

“Apa kamu yakin dengan yang kamu ucapkan?”tanya Isti balik.

“Iya honey”

“Iya Johan…aku bersedia menjadi istrimu” ucap Isti sambil menatap tajam mata Johan, tidak ada keraguan di mata mereka.

“Thanks honey” Johan pun melumat bibir kekasihnya, Isti membalas kecupannya.

2 Minggu berikutnya.Mereka berkunjung dimana tempat orang tua Isti bertugas, ke Jakarta.

Untuk pertama kalinya Johan bertemu dengan orang tua Isti, dan di saat yang sama, Johan minta ijin mempersunting Isti menjadi pasangan hidupnya.

Orang tua Isti sangat senang atas keputusan Isti, walaupun dalam hati mama Isti tersimpan kekecewaan, keinginannya berdampingan dengan Aji tak tersampaikan.

Usai menemui orang tuanya, Isti mengantar Johan ke hotel yang tak jauh dari rumah dinas orang tuanya.

“Honey….aku tak sabar memberikan kabar ini ke orang tuaku” ucap Johan sambil memeluk Isti dari belakang.

“Besok kita kembali, bagaimana jika kita langsung ke rumah orang tuamu?” Isti memberi saran

.”Baiklah sayang” bisik Johan ditelinga Isti, lalu dia mengecup leher kekasihnya.

“Johan….” Isti menggeliat karena merasa geli.

Sambil terus mengecup leher Isti, tangan Johan mulai merambat ke atas, berusaha menyentuh 2 gundukan.

“Jangan Johan!” Isti menahan tangan Johan, entah mengapa rasanya Isti belum rela tubuhnya dinikmati pria ini.

Isti pun berbalik, dan menatap Johan.

“Aku hanya ingin memastikan, payudaramu yang selalu menggodaku bukan implant, aku hanya menyentuh dari luar honey” Johan mulai merayu kekasihnya.

Isti tersenyum mendengar alasan konyol prianya.

“Modus!Jika aku mengijinkan, apakah kamu akan meminta untuk melihat keaslian vaginaku?” Tanya Isti mengeluarkan kata vulgar yang semakin memicu gairah Johan.

“Kamu sengaja menggodaku dengan kata vulgar mu hah?” Tanpa persetujuan Isti, Johan meremas payudara Isti.

“Aaaahhhh” Isti menjerit kecil, Johan pun langsung membungkam mulut Isti dengan bibirnya.Johan terus melumat bibir Isti sambil tangannya meremas lembut payudaranya.

Isti pun meremas pantat Johan seraya memberi perintah agar tubuh mereka lebih dekat lagi.

Beberapa saat pergulatan mereka, Isti menarik wajahnya dan memundurkan tubuhnya, ia mengehentikan kegiatannya.

“Sudah terbukti kan?” Tanya Isti sambil merapikan busana serta bra nya yang sudah terkoyak akibat ulah kekasihnya.Johan hanya tersenyum melihat Isti yang menyempurnakan busananya.

“Iya.. aku percaya honey…apa kamu perlu bantuan membetulkan letak payudaramu?” Goda Johan.

“Sudah lah…aku pulang..dan tidak ada sweet Kiss bye…tadi sudah lebih dari cukup, besok kita flight pagi” ucap Isti sambil merapikan rambutnya dan mengambil tasnya.

Johan terkekeh mendengar ocehan kekasihnya.Isti pun meninggalkan hotel itu dan pulang ke rumah orang tuanya.

Esok paginya mereka sudah melakukan penerbangan kembali ke Banjarmasin.

Tiba di kota itu, mereka segera meluncur ke rumah Johan.

Johan sudah mengutarakan isi hatinya ke orang tuanya, mereka pun sangat senang dengan kabar baik ini.Dan keluarga Johan akan melamar Isti secara resmi.

2 Minggu berikutnya.Orang tua Isti berkunjung ke Banjarmasin untuk melihat kondisi anaknya, ini adalah kunjungan pertama mereka.Supaya menyingkat waktu, keluarga Johan merencanakan untuk melamar Isti.

2 keluarga saling menyiapkan seluruh kebutuhan untuk acara lamaran sekaligus tunangan.Hingga tiba pada hari yang di tunggu oleh 2 insan ini.2 keluarga bertemu, keluarga Johan mengungkapkan tujuan kunjungan untuk melamar Isti.

Keluarga Isti menerima niat baik ini, dan bersedia melanjutkan ke hubungan yang lebih serius.Dari pertemuan itu mencapai kesepakatan bahwa pernikahan akan dihelat 6 bulan lagi.

Tampak binar kebahagiaan terpancar dari sepasang kekasih yang menjadi inti pembicaraan.Usai pembicaraan dan bercengkrama, keluarga Johan berpamitan.Dan esok harinya orang tua Isti harus meninggalkan kota itu, dan kembali ke kota asal.

1 bulan setelah acara pertunangan.

“Honey…hari ini ulang tahun Fandi, dia mengundang kita, kamu mau datang kan?” Tanya Johan sambil mengemudi.

“Dimana? ” Tanya Isti

“Cafe tengah kota, besok kan kita libur ..ayolah honey” Johan merengek.

“Baiklah…” Balas Isti.

Jam 8 malam Johan menjemput Isti.Mereka menuju ke cafe yang dimaksud, Johan memperkenalkan Isti sebagai tunangan ke hadapan teman-temannya.Ada beberapa lelaki dan perempuan dalam pertemuan itu.

“Ini minuman mu honey” Johan menyodorkan segelas air ke Isti.

Isti pun meneguk air yang diberikan Johan.

Beberapa menit kemudian.

“Jo… antar aku pulang ya… kepalaku rasanya aneh” bisik Isti ke Johan yang ada di sampingnya.

“Sebentar lagi ya honey” ucap Johan dengan senyum tipis.

“Jo..kamu yakin ngelakuin sekarang? Kenapa ga nunggu nikah yang beberapa bulan lagi?” Bisik seorang temannya.

“Aku ga sabar menikmati tubuhnya, rasanya munafik kalo dia masih perawan. Apalagi dia dari kota besar, pasti dia pernah ngelakuin” jawab Johan.

Hingga akhirnya Isti sudah tak sanggup mengangkat kepalanya lagi.Tubuhnya serasa lemas, untuk membuka matanya pun tak sanggup.

Isti menyandarkan kepalanya ke lengan Johan yang ada di sampingnya.Johan tersenyum ke arah teman-temannya.

“It’s time for sex…bantu aku!” Johan melemparkan gantungan kunci ke salah seorang temannya dengan senyum kemenangan.

“kenapa ga kasih obat perangsang aja?” tanya temannya yang mengikuti dari belakang Johan.

“aku takut dia berontak, lari. Kalo ini kan benar-benar uda ga sadar, dan aku yang pegang kendali” sahut Johan sambil memapah tubuh Isti yang kesadarannya sudah tidak sempurna.

Tak sabar pria itu menggendong Isti ke mobil yang sudah terbuka, tidak ada penolakan dari wanita lemah ini, hanya suara racauan yang tak jelas.

“Gila kamu Jo….kamu menikmati dia saat dia ga sadar, ga ada feel nya bro” ucap temannya.

“Itu urusanku” ujar Johan yang meletakkan Isti di tempat duduk samping pengemudi.

***

Johan membawa Isti ke rumahnya.

Pria itu merebahkan gadis yang tak sadarkan diri.

Dia melucuti seluruh busana yang menempel di tubuh Isti dan tubuhnya.

“Kamu sangat indah Isti” ujar Johan lirih.

Dengan kasar Johan meremas payudara gadis itu, mengecup puting payudaranya.Isti yang kesadarannya tidak penuh, hanya meracau tanpa jelas.Hingga Johan tak bisa menahan nafsu liarnya.

Johan mengoleskan minyak pelumas di intim nya, dia pun menggauli Isti dengan liar.Isti hanya tergolek lemah, dia merasa tubuhnya ada yang menindih.Namun dia tak sanggup membuka matanya.

Johan terkejut saat intimnya memasuki intim Isti ada darah yang mengalir.’dia benar masih perawan’ batin Johan, ‘kepalang tanggung’ ucap batin Johan lalu Johan tetap melakukan aksi bejatnya.

Usai melampiaskan nafsu liarnya, Johan tertidur disamping Isti.

Esok harinya Isti terbangun.Dia merasakan kepalanya masih berat.Matanya masih terpejam.”Aahhhh” dia merasa ngilu di bagian selangkangannya, kulit intimnya juga terasa nyeri karena gesekan yang dipaksakan.

Dia berusaha membuka matanya.Isti terkejut saat melihat Johan disampingnya, dan dia berada di ruangan yang belum pernah dia kunjungi.
Lalu menyibak selimut, mulutnya ternganga saat melihat tubuhnya tidak berbusana sama sekali dan ada darah yang mengering di sprei.

Perlahan dia membuka selimut yang menutupi tubuh Johan, dia mendapati tubuh yang sama, polos tanpa sehelai benang.

“JOHAN! BANGUN!” Isti berteriak, dia shock melihat kondisinya.

“Honey…kamu sudah bangun” ucap Johan bersuara parau sambil mengerjapkan matanya.

“Jelaskan ke aku…ada apa ini?” Tanya Isti sambil duduk di sandaran ranjang dan memegang selimut sebatas dadanya.

“Kita sudah melakukannya honey… tenanglah!aku akan menikahimu”

“Kenapa sekarang?”

“Aku ga sanggup menahan lebih lama lagi” jawab Johan enteng.

“Aku ga percaya kamu tega melakukan ini….” Tak terasa air mata Isti menetes.

“Jangan menangis honey”

“Bagaimana kalo aku hamil?” Tanya Isti.

“Aku akan bertanggung jawab honey” Johan berusaha meredam kekecewaan kekasihnya.

Isti berusaha berdiri, dia merasakan sakit dan nyeri di beberapa bagian tubuhnya.Namun dia berusaha menahannya.

“Kamu mau kemana?” Tanya Johan yang ikut turun dari ranjang.

“Pulang…”

“Aku anterin”

“Ga perlu! aku pengen sendiri” ucap Isti yang berjalan pelan dan tertatih.

Johan merangkul pinggang Isti dan menuntunnya paksa.

“Aku ga bisa melihatmu seperti ini, kamu begini akibat ulahku” tutur Johan
Isti hanya diam.

Saat dimobil pun tidak ada pembicaraan.

“Besok aku jemput seperti biasanya” Johan mengantar hingga pinta utama.
Isti tidak menjawab.

Sejak kejadian itu Isti lebih banyak diam.Walaupun Johan mengecup bibirnya, dia membalas namun tak seperti dulu penuh gairah.

Beberapa Minggu telah berlalu.

‘kenapa aku belum datang bulan?’ batin Isti.Malam itu dia membeli alat uji kehamilan, dia membeli beberapa dengan merk yang beda.

Esok paginya dia menguji alat itu.Dia terkejut saat seluruhnya mengeluarkan hasil yang sama.
Saat pulang kerja, Isti duduk disamping Johan yang mengemudi.

“Jo…aku mau kita ke dokter SE-KA-RANG!” ucap Isti.

“Apa kamu kurang sehat?”

“Iya…kita mampir sebentar” pinta Isti tegas.

Mereka pun langsung menuju dokter kandungan terdekat mess Isti.

“Kenapa ke dokter kandungan?” Tanya Johan.

“Aku hanya ingin memastikan… berdoalah” Jawab Isti pendek.

Tiba giliran Isti, dia mengungkapkan uneg-unegnya.Dokter menganjurkan Isti berbaring untuk pemeriksaan USG.

“Selamat Bu Pak… janinnya sudah usia 5 Minggu… sehat” ucap dokter.Johan terkejut mendengar kabar ini.

Tak terasa air mata Isti menetes.

“Lho…kok nangis? ibu hamil harus bahagia…” ujar dokter.

“Istri saya menangis bahagia dok…sudah lama kami menginginkan kabar baik ini” Johan menyembunyikan.

Usai pemeriksaan mereka menuju ke mess.

“Lalu?” Tanya Isti.

“Kan kita akan menikah honey” jawab Johan.

“Dan di saat tanggal itu perutku sudah membesar! sampai sekarang aku masih heran… bagaimana kamu bisa melakukan ‘itu saat aku ga sadar?” Tanya Isti sambil menatap ke depan.

“Baiklah…kapan kamu mau menikah?”

“Secepat mungkin!” tutur Isti tegas.

“Ok…kita urus dokumen segera”

Isti pun menghubungi mamanya, tangisan dan permintaan maaf selalu terdengar.Mamanya berusaha tegar, walaupun airmata terus menetes.

2 Minggu setelah itu, mereka melakukan ijab qobul di KUA.Tidak ada pernikahan yang direncanakan,tidak ada kebaya indah yang dibayangkan Isti.

Setelah ijab qobul mereka kembali ke kota masing-masing melanjutkan aktivitasnya.
Seolah bukan hari bersejarah.Tidak ada ucapan selamat dari kerabat.Tidak ada sesi foto.Tidak ada resepsi yang diimpikan Isti.

Semua pupus …. lenyap….

“Johan.. lebih baik aku resign dari pada hatiku sakit mendengar kata-kata yang tak baik” pinta Isti.

“Iya.. lebih baik kamu dirumah …jaga bayi kita” ucap Johan yang duduk di samping Isti sambil menatap ponselnya.

Esok harinya Isti mengajukan permohonan resign, perusahaan memberikan masa transisi 2 Minggu untuk mengajar ke pegawai yang baru.

Disisa waktunya Isti dan Johan masih berangkat dan pulang kerja bersama, tapi tidak ada kemesraan seperti dulu.
Tidak ada tatapan mesra.Tidak ada tatapan saling memuja.

Isti benar-benar kecewa terhadap Johan.

Saat dia mulai percaya terhadapa seorang pria, saat dia mulai membuka pintu hati, saat dia mulai belajar mencinta, namun Isti mendapat perlakuan yang tak seharusnya.

Sedangkan Johan merasa ‘sedikit’ bersalah. ‘Toh lama atau cepat kamu juga jadi istriku, ngapain kamu marah? siapa yang bisa menolak ketampanan seorang Johan’ batin Johan yang tak ingin memulai berdamai.

***

Hari ini hari pertama Isti berdiam dirumah.

Seluruh kegiatan rumah tangga sudah dia selesaikan.

‘sungguh membosankan’ batin Isti.Dia menyalakan laptop dan membuka sosmed, melepaskan rindu saat melihat foto yang di upload teman-temannya.

Beberapa dari mereka menunjukkan sudah berkeluarga, terlihat saat acara resepsi yang mereka helat.

‘hei…. 2 hari lagi Rio mau ke kota ini, aku akan menemuinya.’ Isti bermonolog.

Waktu menunjukkan pukul 8 malam.Johan baru saja memasuki rumahnya.Tampak Isti duduk di sofa sambil menatap layar Televisi.

“Jo…kamu sudah makan?” Tanya Isti.

“Sudah! aku mau tidur..capek” ujar Johan.

“Kenapa kamu ga bilang kalo lembur? Jadi aku ga perlu menyiapkan masakan” sahut Isti memperlihatkan kekecewaan.

“Rapatnya mendadak” jawab Johan pendek.

“Lusa ada temanku datang ke kota ini…aku mau menemuinya”

“Pergilah!” Sejak resmi menikah, Johan tidak pernah menyentuh Isti, kamar mereka pun terpisah.

Isti pun tak peduli, dia masih menyimpan kekecewaan yang dalam akibat perbuatan Johan.Isti mengotak atik ponselnya.

Setelah dinyalakan, banyak sekali pemberitahuan panggilan tak terjawab dab pesan masuk.Dia menghubungi Rio.

Rio : Isti?

Isti: jangan bilang sapa sapa kalo aku menelepon. Lusa kamu ke Banjarmasin kan?

Rio : iya…apa kita bisa bertemu?

Isti : tentu…oleh sebab itu aku menelepon mu, Dasar Dodol! kamu di hotel mana?

Rio : (menyebutkan alamat hotel)

Isti : ok…aku akan menemui kalian sesuai jam dan tempat yang kamu berikan…jangan menelpon aku…aku yang meneleponmu.

Tut Tut Tut (Rio tak sempat membalas).

Hari saat Isti akan menemui teman lamanya.

Isti menuju hotel dimana Rio menginap, pria itu sudah menunggu di lobby.Wanita itu turun dari Taksi, memasuki lobby Hotel, mencari sosok yang dia rindukan.

Hingga dia menemukan pria itu duduk di sofa sambil melihat layar ponsel.Berjalan perlahan ke arah tempat duduk Rio.

“auuwwww” jerit Rio reflek saat sejumlah rambutnya ditarik kasar oleh wanita yang sudah berdiri dihadapannya.Wanita itu tersenyum bahagia mendengar jeritan yang diluncurkan Rio.

“Isti?” tanya Rio tak percaya melihat sosok yang dulunya sederhana dengan penampilannya, namun sekarang dia sedikit pandai memoles wajahnya, rambut tergerai indah dan tubuhnya mengandung aroma keharuman yang segar.

“apa kamu sudah amnesia?” tanya Isti dengan ketus.

“kamu cantik..tapi mulutmu masih bar bar..nilainya jadi minus lagi” goda Rio.

Isti pun memukul keras pundak Rio. Pria itu menjerit lagi.

“kamu ga merindukan aku?” Rio berdiri membentangkan kedua tangannya.

Isti pun tak sungkan memeluk tubuh pria itu, dia menangis tergugu, dia tak sanggup menahan seluruh beban hidupnya, dia membutuhkan tempat bersandar, dan sekarang ada Rio.Rio yang tak paham kenapa Isti menangis hanya membelai punggungnya.

Setelah beberapa saat Isti mengeluarkan beban hidupnya lewat tangisan, dia memisahkan tubuhnya dari pria itu.

“Sorry…saking senangnya ketemu kamu” Isti menyembunyikan sebab utama dia menangis.

“aku tahu..walaupun aku jelek dan bodoh..kamu selalu merindukan aku” ujar Rio asal, dan Isti hanya tersenyum mengiyakan.

Rio pun mengajak Isti ke kamar, di sana ada Nisa yang sudah menunggu kedatangan Isti.Mereka saling melepasa rindu.Bernostalgia dan membagi seluruh kondisi up date seluruh temannya.Isti pun tak banyak cerita tentang pernikahannya, dia hanya menyampaikan bahwa dia bahagia dan sekarang sedang hamil.

Isti mengajukan permohonan kepada Rio dan Nisa, agar pertemuan ini dirahasiakan.Tak terasa waktu menunjukkan pukul 16.00, Isti berpamitan untuk segera pulang.

Tiba dirumah, wanita itu membuka pintu utama, dia terkejut saat suaminya sudah duduk di sofa.

“Tumben kamu jam segini sudah pulang?sudah makan?” Tanya Isti.

“Apa kamu bahagia hari ini? Aku melihat senyummu terus mengembang” tanya Johan datar.

“Ya…kita melepaskan rindu dan bernostalgia” sahut Isti dengan nada gembira.

“Apakah pantas wanita bersuami menemui seorang pria di Hotel? kira-kira apa yang dilakukan di kamar hotel?” tanya Johan dengan tatapan sinis

Isti mengernyitkan dahinya, tak percaya ucapan yang dilontarkan suaminya.

“kamu membuntuti aku?” tanya Isti dengan heran.

“kenapa? apa takut ketahuan kalo selingkuh?”

“Selingkuh? Kamu nuduh aku selingkuh? Mulai kapan kamu punya pikiran seperti itu? Dia temanku…di kamar itu ada istrinya”

Isti hanya tersenyum sinis mendengar tuduhan suaminya.

“Bagaimana aku tahu didalam ada istrinya….aku jadi ga yakin bayi yang ada di perutmu hasil dari benihku?”

“APA?!” Isti memekik.

“kamu anggap aku apa? Aku masih bisa menjaga ikatan suci, hanya kamu pria yang menyetubuhi aku, walaupun dengan cara yang aneh” Isti bersuara dengan nada tinggi

“apa pantes kamu berpelukan dengan pria lain?” Johan tak kalah ikut bersuara tinggi.

“Dia temanku sejak SMP, dan aku sudah pernah menceritakan saat kita belum menikah”

“aku mau janin itu tes DNA!” imbuh Johan

“Johan…apa maksudmu?” hati Isti seakan teriris mendengar ucapan pria yang pernah dia kenal dengan baik dan romantis

“tes DNA atau tanda tangani surat perceraian ini!” Johan melemparkan sebuah amplop ke meja tempat mereka beradu mulut.

“oh…jadi gini akhirnya” ucap Isti sambil tersenyum sinis

“aku kasih batas waktu 7 hari untuk memilih” ucap Johan.

“kamu tak perlu menyudutkan aku untuk menutupi kesalahanmu Jo….lebih baik kamu bilang kalo kamu bosan denganku….kamu pikir aku ga tau kelakuan bejatmu di luar sana?

kamu pikir aku ga tau kamu masuk kamar hotel dengan sekretaris mu yang berambut emas itu?berapa banyak wanita yang sudah kau tanam benihmu?”Johan terkejut Isti mengetahui ulahnya, namun dia tak bergeming.

Isti masuk ke kamar, tak lama dia keluar kamar dan melemparkan beberapa lembar foto.Tampak disitu ada gambar suaminya yang sedang memeluk mesra wanita.

Ada lagi foto tampak Johan mencium pipi wanita, berbeda dengan wanita sebelumnya.

“ini yang aku tahu 2 wanita…YANG AKU TAHU! mengakulah bersalah Jo..ga perlu menyudutkan aku untuk menutupi kesalahanmu” ucap Isti yang hatinya sudah terkoyak-koyak.

Isti mengambil amplop yang diberikan Johan, dan meninggalkan suaminya seorang diri.Gadis itu menutup wajahnya dengan bantal, dia menangis berteriak keras dalam bungkaman.

Seharusnya seorang suami menemani kala istrinya hamil muda, menuruti seluruh keinginan istrinya, memanjakan istrinya tapi berbeda dengan nasib Isti.Dia berjuang seorang diri, menahan amarah, menerima tuduhan yang tidak dia lakukan dan suaminya tak peduli sama sekali.

Dan yang paling menyakitkan, suaminya meragukan janinnya dan tuntutan perceraian di usia perkawinan yang masih berjalan hitungan bulan.Impian Isti tentang keluarga harmonis sudah pudar.

Yang ada hanya sakit hati, kecewa.

‘Tuhan apa salahku? Kenapa cobaan ini bertubi-tubi? Tuhan…aku mohon kuatkan kami, bantu kami melewati cobaan ini’ Isti memohon dalam batin dan derai air mata.Hingga Isti merasa lelah menangis dan tertidur.Tiba di tengah malam Isti terbangun, dia mengusap lembut perutnya.

“it’s ok baby…we will fight together..be strong ok!” ucap Isti lirih.Isti membuka amplop yang dilemparkan Johan saat mereka berseteru.

Di dalamnya sudah ada surat tuntutan cerai dan surat pernyataan untuk tes DNA.Isti menggelengkan kepalanya dan tak terasa air matanya menetes lagi.

Dia menarik nafas panjang mengurangi sesak di dadanya.Esok harinya.Biasanya menjelang fajar Isti sudah terbangun, menyiapkan seluruh kebutuhan suaminya.Tapi hari ini tidak, dia masih di dalam kamar.

Hingga dia mendengar aktivitas yang di lakukan suaminya.Isti keluar sambil membawa koper, dan menariknya ke arah pintu utama.

“kamu mau kemana?” tanya Johan melihat Isti membawa tas koper dan sebuah tas tenteng.

“aku sudah menandatangani surat perceraian…..sudah tidak ada hubungan lagi di antara kita” ujar Isti berkata sinis.

“bagaimana dengan bayi yang ada diperutmu? apa proses ini tidak menunggu dia lahir?” tanya Johan yang sedikit kuatir.

“kamu sudah meragukan dia, anggap aja dia bukan anakmu..ga usa pura pura kuatir!” ucap Isti ketus.Tak lama terdengar suara deru mobil berhenti di depan rumah Johan.

“Taksiku sudah datang…aku tunggu surat keputusan cerainya segera” pamit Isti tanpa menoleh ke arah Johan, dia tak ingin pria itu melihatnya meneteskan airmata.

‘i’m strong’ Isti berusaha menguatkan hatinya.

Wanita itu memasuki Taksi, “ke Bandara pak”.

Sepanjang perjalan dia berusaha tegar, namun tiap kali mengingat hal yang menyedihkan, tetes matanya lolos tanpa permisi menetes dipipinya yang mulaI tembem.Dia tak menyangka dia akan menyandang status Janda di usia yang sangat muda, dengan usia pernikahan ga lebih dari 4 bulan.

Akhirnya Isti menapakkan kakinya lagi ke kota kelahirannya.Namun dia tak kembali ke rumahnya, dia memilih kos di perbatasan kota.

Isti tak ingin kembali ke rumah orang tuanya, para tetangga sekitar pasti membicarakan dirinya, dia belum sanggup menerima seluruh hal negatif walaupun itu adalah kenyataan.Dia menemukan tempat kos yang menurut dia nyaman.

Membaringkan tubuhnya sejenak, kondisi kehamilannya membuatnya sering mengantuk.

“kamu hanya milikku nak! hanya milikku! bantu Ibu ya…ga boleh rewel! jangan ngidam yang aneh-aneh” Isti berkomunikasi dengan janin yang ada di perutnya sambil mengusap.

Dia berpikir pekerjaan apa yang bisa dikerjakan oleh Ibu hamil?Walaupun perutnya belum terlalu besar, namun dia juga tak ingin terlalu lelah, kasian anaknya.Akhirnya dia mendaftar ke salah satu penyalur tenaga kerja (agency), dan kebetulan ada job sementara di pameran sehubungan dengan produk susu ibu hamil dan menyusui di kota sebelah.

Dia pun bersedia menjadi salah satu sales promotion pada masa pameran tsb.Isti menjalani hari-harinya menjaga booth, melayani pertanyaan, menawarkan produknya.Dia merasa pekerjaan sekarang tak jauh beda dengan pekerjaan sebelumnya.

Dan suatu saat dia berkenalan dengan seorang wanita paruh baya yang bekerja di bidang jasa asuransi.Entah bagaimana awalnya mereka tampak akrab, Isti bercerita tentang kisahnya.

“pameran akan berakhir beberapa hari lagi, jika kamu ada waktu, kamu boleh datang ke kantorku…mungkin ada rejeki disitu untuk anakmu” ujar wanita yang bernama Selvia.

“iya Bu, hari Rabu kalo ada waktu saya ke tempat Ibu” jawab Isti sopan.

“cobalah nak…nothing to lose, it’s for your baby” ujar Selvia lagi.Isti mengangguk dan memberikan senyum termanisnya.

Sesuai janjinya, hari Rabu Isti datang ke kantor Selvia. Selvia menjelaskan seluk beluk mengenai dunia asuransi.Isti tertarik, karena tidak ada waktu yang mengikat, ya..dia sebagai marketing asuransi.

***

Bersambung