Complicated Part 4

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Tamat

Cerita Sex Dewasa Complicated Part 4 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya :  Complicated Part 3

Pagi sekali Isti ke rumah Rio.

“Pasti ini salah Rio kan? Kamu pasti bikin ulah, makanya dia ga kerasan.” Ucap Umi dengan menatap kesal ke putra tunggalnya.

“Bukan Umi, ini Isti sendiri.Isti kerja disana. Rio juga baru tahu kemarin.” Isti menenangkan Umi.

“Kenapa kok jauh sekali sich? Apa karena Umi yang akhir-akhir ini keluar kota? Jadi kamu ga ada teman?”

“Bukan Umi.” ucap Isti

“Atau dia pacaran terus? Sampek kamu ga dipedulikan lagi?”

Umi mengingatkan bagaimana saat itu Rio baru pertama kali memiliki kekasih, sehingga waktunya dihabiskan berdua.

Saat itu, Rio dan Nisa baru aja menjalani hubungan sebagai kekasih.Rio sudah tak peduli lagi dengan Iwan dan Isti yang selalu menemani selama ini.Isti sempat marah dan cemburu, dan beberapa Minggu tak berkunjung ke rumah seperti biasanya.Alhasil Uminya tahu dengan sendirinya, dan menghukum anaknya.

“Kalo kamu ga bisa melindungi mereka, ga usah pacaran!” Ucap Umi saat itu.Isti hanya takut kehilangan sosok Rio sebagai kakaknya, yang sering mengantar dan menjemput kemana Isti mau.

Akhirnya Isti dan Rio memilih hari khusus untuk mereka, seminggu sekali, menghabiskan waktu bersama.

Namun tak berselang lama, Isti sadar bahwa dia hanya mengalami brother-sister complex.Dia membebaskan Rio, tak membuat hari khusus lagi.

Setelah mendapat wejangan dan omelan panjang lebar, Isti pamit dan minta restu ke Umi dan Abah.Sambil sesenggukan Umi masih memeluk Isti.

“Rio… kamu harus cepat nikah”

“Umi!” Pekik Rio

“Umi ga mau belanja ke mall sendiri, selama belum nikah, kamu yang temani Umi ke mall.”

“Umi apaan ya? Itu penyiksaan!” Rio mengomel.

“Terserah! Cariin mantu atau kamu ke mall sama Umi!” Perintah Umi sambil terus mengelus rambut Isti yang masih dipeluknya.

Isti terus terkekeh dalam pelukan Umi yang kalo ngomong seenaknya.

Memang selama ini, Isti yang menemani Umi ke mall.

Tentu gadis itu sangat senang jika di ajak ke Mall, karena dia pulang tanpa tangan kosong, selalu ada saja yang dibeli oleh Umi untuknya.

***

‘Selamat tinggal Surabaya…aku akan merindukanmu’ batin Isti yang pesawatnya sudah lepas landas.

1 jam kemudian.

Sambil menunggu jemputan, Isti menyalakan ponselnya.

To Aji :Aku sudah di Banjarmasin, aku selalu berdoa semoga kita selalu bahagia.Jangan menghubungi aku, aku yang akan menghubungi kamu.

Tak lama Isti mematikan ponselnya dan mengotak atik.
Dia menghubungi seseorang.

ma Isti : Hallo…

Isti : ma…ini nomor baru Isti, jangan telpon ke nomor yang lama ya…

ma Isti : kenapa ganti?

Isti : supaya Isti konsen kerja ma…jangan kasih tau nomor ini ke teman-teman, cukup mama Iwan papa dan keluarga yang tahu nomor ini…tolong ya ma…

ma Isti : iya… pokoknya kamu ati ati ya nak…

Isti : iya ma…
Hubungan telepon terputus.

Tak lama ada seseorang membawa papan bertuliskan namanya, Isti menghampiri dan ternyata memang benar dari perusahaan tempat dia bekerja.

Mobil pun melaju ke tempat Isti bekerja.
Aji baru menyadari ada pesan masuk dari gadis pujaannya.Dia mencoba menghubungi, namun gagal, mesin penjawab bersuara bahwa nomor tidak aktif.

‘apa maumu sayang? Kamu selalu milikku’ batin Aji.

Disisi lain Isti memasuki tempat kerjanya.Dia bekerja di salah satu distributor consumer good, divisi perawatan kulit dan rambut, bagian Marketing And Sales Support.

Setelah dari ruang lobby, Isti diantar seorang security ke ruangan yang cukup besar, banyak sekat kubikel dan terdapat 2 orang lelaki dan perempuan saling komunikasi.

Hingga security mengantar tepat ke depan mereka.

“Pagi pak, ini Bu Isti .. silahkan” security meninggalkan mereka bertiga.

“Selamat datang Isti, semoga kita dapat bekerjasama dengan baik, bagaimana perjalanannya?” Pak William selaku pemimpin yang menaungi divisinya memberi salam selamat datang dan menyalami.

“Pagi Pak William… perjalanan lancar, semoga tenaga saya berguna bagi divisi ini” Isti menyambut uluran tangannya.

“Silahkan training dengan Bu Lina, dia sudah ga sabar hengkang dari sini… mungkin sudah bosan mendengar omelanku” canda William yang didengar oleh Lina.

“Saya resign menemani suami saya keluar pulau pak…takut ditemani yang lain” sahut Lina.

“Hai…aku Lina…aku ga sabar menularkan ilmuku” Lina menyambut Isti.

“Hai… semoga mbak Lina ga marah kalo sering saya repoti… maklum baru pertama kerja, pasti keliatan dungu” ujar Isti merendah.

William dan Lina tertawa mendengar ucapan Isti.

“Kamu itu lucu… rasanya team kita akan lebih rame” ucap William.

“Baiklah…saya pamit, silahkan lanjut dengan Lina ya” William berpamitan meninggalkan mereka berdua.

Lina dan Isti terlihat serius, Isti memperhatikan dan mempelajari seluruh yang dilakukan Lina.

Waktunya tak banyak, karena dalam 1 bulan kedepan Lina akan meninggalkan perusahaan.
Lepas jam kerja, Isti membawa segala hal yang bisa dipelajari saat di mess pegawai.Tiap malam dia menghubungi mamanya atau sebaliknya.

Sudah 3 bulan Isti bekerja di perusahaan itu.

Sebagai divisi yang berhubungan dengan perawatan, dia pun dituntut untuk menjadi ‘cantik’.
Mau ga mau Isti sudah akrab yang namanya salon perawatan rambut dan kulit.Dan secara penampilan Isti sudah ada perubahan.

Jika bosan di mess, Isti sering mendatangi counter produknya yang ada di mall, dan menemani BA (beauty advisor), kadang bertemu dengan MD (merchandise display).

Walau mereka jarang bertemu dikantor, mereka pun terlihat akrab.

“Mbak Isti kayaknya ga seperti orang kantoran…kalo ngomong suka asal..orang kantoran kalo ngomong kan di jaga” ujar seorang BA.

“Kan sekarang diluar kantor…kalo dikantor ngomong seenaknya, detik kemudian aku dipecat” canda Isti yang di ikuti gelak tawa para BA yang sedang giliran jaga.

“Mbak jadi BA aja”

“Astaga… BA produk todler? Menghina secara ga langsung nich…kan aku bogel… langsung ditolak chyyyynnn” ucap Isti dengan nada manjanya.

Mereka pun kembali tertawa.

Isti kembali ke mess, dan lagi-lagi pintu tetangganya tidak ada yang terbuka. Dia pun duduk sendiri diruang tamu, berharap ada teman yang menghampiri.

Tapi tampaknya mereka cukup lelah untuk bersosialisasi, atau mungkin ada yang kerja lembur.
Jadi sesama penghuni walaupun satu perusahaan serasa tak kenal satu dengan yang lain.Hanya itu yang membuat Isti ga betah.

‘masih jam 8 malam…aku ngapain ya’ batin Isti.

Isti pun mengambil laptopnya, membuka sosial media yang sudah lama tak dikunjungi.Dia melihat foto teman-temannya, tampak mereka masih sering berkumpul.

Hanya Isti dan Wati yang tak nampak difoto itu.’Ana masih setia mendampingimu, wajahmu tak berubah, selalu datar’ Isti memandang beberapa foto.

Isti melihat banyak DM dari mereka.Yang intinya menanyakan kabar, alamat, kenapa nomor ga aktif.

Begitu juga DM dari Aji, banyak pesan darinya,terutama saat pertama kali hilang kontak.Dan tak kenal lelah, tiap hari pria itu mengirim pesan walau pesannya tak terbalas, Isti pun tak berniat membalas mereka.

Dia merindukan sosok pria itu, merindukan sentuhannya, pelukan hangatnya.Akhirnya Isti memejamkan matanya, dan membawa rindunya dalam mimpi.

Esok pagi

Isti sudah bisa menghandle pekerjaannya, saat awal tidak ada hari libur untuknya.

‘hmmm…Sabtu yang kelam…tetap aja seperti ini… Jomblo akut moga ga sampai berlumut’ batin Isti.

Dia merasakan perutnya yang bersuara, pertanda minta di isi.

Dia pun berjalan beberapa blok, akhirnya dia menemukan supermarket.Belanja untuk keperluan seminggu.Usai belanja, dia mampir ke depot untuk mengisi perutnya yang sudah meronta.

Duduk sejenak didepot sambil menyaksikan orang yang berlalu lalang di trotoar.
Isti melanjutkan perjalanan menuju mess nya lagi. Tepat didepan pintu utama, dia melihat seorang pria yang tak dikenal, bersandar ditembok membelakangi Isti.

Perawakan yang atletis dan berambut cepak wetlook memberi kesan segar.Wajah tampan, bersih dan aroma maskulin menambah poin plus membuat Isti melongo.

“Hai” ucap pria itu yang membuat Isti kembali ke alam sadarnya.

“Maaf….ada yang bisa saya bantu?” Tanya Isti perlahan.

“Isti?” Tanya pria itu.

“I-iya..saya…ada apa ya?” Tanya Isti bingung karena dia tak mengenal pria itu, namun pria tahu namanya

“Ini …tadi jatuh waktu di kasir” ucap pria itu memberikan sebuah ponsel.

“Oh….maaf … terimakasih banyak … bagaimana anda tahu alamat ini?” Tanya Isti lagi.

“Johan… panggil aku Johan” pria itu mengulurkan tangannya.

“Isti…kamu sudah tahu namaku” gadis itu menyambut tangan Johan.

***

“darimana kamu tahu aku tinggal disini?” Tanya Isti.

“Aku pakai telpon mu untuk menghubungi kontak terakhirmu, ternyata mamamu…lalu aku dikasih alamat ini”

“Oh…” Isti hanya ber oh ria.

“Kamu darimana kok tinggal di mess ini?”

“Dari Surabaya”

“Aku juga di perusahaan ini, divisi pangan, kamu dimana? Kok aku ga pernah liat ya?”

“Aku divisi perawatan kulit dan rambut, baru 3 bulan”

“Aaaahhhh… Sudah kuduga…kamu cantik….Uda pergi kemana sejak dikota ini?” Tanya Johan.

“Kadang jalan sekitarnya aja, cuma kenal beberapa orang dikantor,… biasanya ya ke supermarket aja atau mall yang ada produkku…temani BA”

“Ntar kapan kapan aku ajak jalan mau? Aku tahu tempat yang bagus”

“Mau…. terimakasih” ucap Isti dengan wajah berseri, dan mereka saling menatap hingga membuat Isti salah tingkah.

“Eh…sori…kok ke enakan ngobrol sampe belum aku kasih apa apa” Isti terlihat kikuk.

“Ga papa…aku baru makan” ujar Johan yang menatap intens wajah Isti. ‘cantik…menggemaskan’ batin Johan.

“Sebagai ucapan terimakasih…aku traktir makan aja ya” Isti memberikan penawaran.

“Ga perlu, besok aku ajak kamu makan malam… sebagai ucapan selamat datang di kota ini”

“waduh kok jadi ga enak ya, harusnya kan aku yang traktir”

“ga pa pa Isti, supaya kita lebih akrab.”Seketikan jantung Isti berloncatan mendengar kata ‘lebih akrab’.

‘Jangan GR Isti, dia cowok cakep, mana mau sama kamu’ hati Isti bersuara.

“Baiklah…jam berapa?” Isti menahan senyum yang berlebihan.

“Aku jemput jam 6 petang” ucap Johan dengan suara baritonnya.

“Okay”

“Okay…aku pamit dulu…” Johan meninggalkan Isti.

Isti pun melambaikan tangannya saat Johan melajukan mobilnya.Esoknya sore hari

Isti membongkar lemari demi penampilan terbaiknya.

‘Ya ampun, aku kencan ama cowok ganteng’ teriak Isti dalam hatinya.

Terdengar suara deru mobil berhenti tepat didepan mess Isti.

Tak lama terdengar ketukan pintu.Isti membukanya dan ternyata Johan, dia membawa setangkai mawar.

“Untuk wanita cantik ” Johan memberikan bunga mawar ke Isti.

“Wow…so romantic… thanks” Isti mencium bunga mawar yang diterimanya.

“Siap?” Tanya Johan.”Hm…kita mau kemana?”

“Makan di depot favoritku…bukan rumah makan mewah hanya depot”

“It’s ok…” Mereka pun meninggalkan mess menuju depot yang dimaksud Johan.

Tiap saat Johan menatap Isti, membuat gadis itu salah tingkah.

Johan tersenyum saat Isti mulai kikuk.

Usai makan malam, Johan mengantar lagi ke mess Isti.

“Mau mampir?” Tanya Isti.

“Boleh?” Johan bertanya balik.

“Boleh donk…” Jawab Isti.

Mereka duduk di ruang tamu.Bercengkrama, bercerita status masing-masing.

Yang ternyata keduanya masih jomblo.Johan senang mendengarnya, karena dia sudah menaruh hati pada gadis itu.Sedangkan Isti mencoba membuka hatinya untuk pria lain, berusaha melupakan cinta yang tak tersampaikan bersama Aji.

Johan minta ijin untuk mengantar dan menjemput Isti, karena tempat kerja mereka yang sama.Ternyata Johan merupakan salah seorang manajer di perusahaan tersebut.Sejak itu mereka berangkat dan pulang bersama, gosip bertebaran melihat pasangan baru ini.

Isti merasa sangat diperhatikan oleh Johan.Johan yang selalu bertingkah manis membuat Isti makin mengagumi sosok pria itu.Hingga di suatu Sabtu malam, saat Johan berkunjung ke mess.

“Isti…sudah 2 bulan ini kita sering bersama, aku ingin jalinan kita lebih dari teman, ijinkan aku menjadi bagian hidup mu…ijinkan aku menjadi kekasihmu” ucap Johan.

“Johan….apa kamu yakin? Kamu cukup tampan ..kamu bisa dapatkan gadis yang lebih cantik” Isti berucap malu-malu.

‘wanita mana yang bisa menolak macam dia yang ganteng gini, jalan berdampingan aja uda cukup seneng, apalagi kalo pacaran’batin Isti berteriak gembira.

“Kamu terlalu cantik.. hatiku hanya untukmu…ijinkan aku…beri aku kesempatan menjadi kekasihmu, boleh?”Isti tak menyangka baru kali ini ada pria yang menyatakan cintanya,berharap bukan hanya mimpi.

“Ba-baiklah…kita coba saling mengenal lebih dekat.” Akhirnya Isti memberikan jawaban.

“Terimakasih honey” Johan pun mengambil tangan Isti dan menciumnya, Isti tersipu malu.

“Okay…kita mau jalan kemana?” Tanya Johan.

“Ke mall ya…aku mau liat BA (Beauty Advisor) yang lagi buka booth pameran” ucap Isti.

“Kemanapun kamu mau honey..aku siap mengantar” ucap Johan.

Tiba di mall, mereka berjalan bergandengan layaknya sepasang kekasih.Johan juga memperlihatkan kemesraan didepan para BA, memeluk pinggang Isti.

“Wah…mbak Isti berhasil merebut hati pak Johan ..hebat mbak” ucap seorang BA.

“Doa kan yang terbaik aja ya …masih baru jalan kok” bela Isti dengan senyuman malu-malu.Johan yang mendengar hanya tersenyum simpul.

“Pertahankan mbak….””Kalo jodoh ga bakal kemana” ucap Isti lagi.

Isti dan Johan pamit, melanjutkan kencan mereka.Jam 9 malam mereka kembali ke mess Isti, setelah beberapa saat ngobrol Johan berpamitan.

Isti berjalan dibelakang Johan, di ambang pintu utama pria itu membalikkan tubuhnya secara mendadak, Isti pun tak sengaja menabrak dada Johan.

“Eh …maaf” Isti menunduk tersipu malu.

Johan tersenyum, memegang dagu Isti dan mengangkatnya.

“Ga papa honey…” Johan menatap tajam wajah Isti, jantung gadis itu berdetak kencang.Isti melipat kedua bibirnya kedalam mulut, membasahi dan menarik nafas panjang.

‘aku ga tahan melihat dia memainkan bibirnya’ batin Johan.Dengan keberaniannya Johan mendaratkan bibirnya ke bibir Isti, mengecup lembut, tidak ada penolakan dan balasan dari Isti.

Tangan Johan menyibak rambut Isti yang menutupi pipinya, dan menyelipkan ditelinga gadis itu, tangan Johan berhenti ditengkuk Isti sambil mencium lagi.

Kecupan itu makin memanas, Isti memegang kedua pinggul Johan, dia membuka mulutnya memberi akses Johan berkelana lebih jauh.

Lidah mereka bertemu dan membelit, saling merasakan hembusan nafas yang mulai terengah-engah.Isti pun menarik wajahnya, dan menghentikan aktivitasnya.

“Sudah malam Johan” Isti tersenyum sambil mengusap bibir Johan yang terdapat jejak lipstik.

“terlalu nikmat merasakan bibirmu honey” Johan kembali mencium pipi kekasihnya yang merona.

“Sudah…pulang…besok telat lho” sambil membelai dada Johan.

“Okay…kita lanjutkan besok…ga sabar pengen ketemu kamu lagi” ucap Johan sambil membuka mobilnya.

Sepeninggal Johan, Isti langsung ke kamar, hatinya sungguh gembira, ada pria yang benar-benar mencium bibirnya.

‘aku punya pacar’ batin Isti gembira, dia tersenyum sendiri mengingat moment indahnya bersama Johan.

Dia menyalakan laptop dan membuka sosmed.’kalian kumpul lagi’ batin Isti sambil tersenyum saat melihat salah seorang temannya up load foto tentang kondisi persahabatan mereka.’wajah itu tak pernah berubah, disampingnya masih ada Ana yang pantang mundur memperjuangkan cintanya’ batin Isti saat melihat Aji.

Tanpa Isti ketahui, sifat Aji semakin dingin.Walaupun mereka berkumpul, tapi Aji ga pernah mengeluarkan suara.Tubuhnya disamping temannya, namun hati dan pikirannya melayang.

Aji mencari informasi keberadaan Isti ke Iwan, adik Isti, tapi hasilnya nihil.Iwan memberikan alasan bahwa Isti masih menjalani training, jadi konsentrasinya ga boleh terganggu.

‘kenapa Love? Kamu dimana?’

***

Bersambung