Complicated Part 16

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Tamat

Cerita Sex Dewasa Complicated Part 16 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya :  Complicated Part 15

Usia kehamilan Isti sudah melewati 4 bulan

“Mas ntar reuni jam berapa?” Tanya Isti yang menyimpulkan dasi di leher suaminya.

“Mungkin aku pulang kerja agak awal, soalnya reuni mulai jam 4 sore.” Jawab Aji yang tangannya melingkar di pinggang Isti.

“Ntar berangkat ke villa jam berapa?”

“Aku ke reuni cuma bentar, setor muka aja.”

“Jangan malam-malam, kuatir Mas capek.”

“Paling lambat jam 7 an uda dirumah. Aku berangkat ya!” pamit Aji.

Pria itu menundukkan badannya.”Adek jaga Ibu ya, ga boleh rewel!” Aji mencium perut Isti yang agak membuncit, Isti mengusap lembut kepala suaminya.

“Ati-ati ya Mas!” Isti mencium punggung tangan suaminya, Aji pun berlalu meninggalkan rumah.

***

Pukul 19.15

2 tas telah berdiri rapi di dekat pintu ruang tamu. Vazco masih bermain bersama cuteng untuk menghilangkan rasa jenuh.Karena sejak usai Maghrib bocah itu menanyakan keberadaan sang Ayah.

Isti mulai gelisah karena hingga jam 7 malam pria itu belum menunjukkan batang hidungnya.Wanita itu sangat ingin sekali menelepon suaminya, namun dia kuatir jika panggilannya akan mengganggu kosentrasi saat Aji mengemudi.

Untuk membunuh rasa bosannya, dia berseluncur di social media. Melihat update teman-temannya yang sering posting liburan keluar negeri.

‘Kamu sering update apa sich Mas? coba kita liat!’ Isti mengetikan nama suaminya.

Sebuah akun menandai akun suaminya. Sekejap matanya memanas, kepalanya mendadak berdenyut, dia memejamkan matanya, dan menekan pelipisnya. Air mata menetes tanpa ijinnya.

Ponselnya berdering, nama Bunda terlihat dalam layar. Tapi Isti tak merespon, airmata terus merembes keluar. Hingga Bunda menghentikan panggilannya. Dia kembali menatap layar ponselnya, disitu terlihat suaminya dan teman-temannya.

Dan pada foto itu tampak seorang wanita cantik menyentuh pundak dan lengannya, dengan caption, ‘Melanjutkan kesenangan.Belum bisa Move On’.

Walau wajah Aji menunduk memperhatikan ponsel, tapi adegan tersebut sangat tak nyaman dilihat Isti.Isti menarik nafas dan menghembuskan dengan berat, hatinya sangat sesak.

Dia menghubungi Bunda.

Bunda : Is…posisi kamu dimana nak?

Isti : masih dirumah Bun…

Bunda : O..Aji belum pulang ya

Isti : Mungkin sebentar lagi Bun..

Bunda : Papamu ini lho nanya terus…ya wis ati-ati ya…

Isti : Iya Bun…bye

Pembicaran terputus. Isti menekan kontak panggilan.

Angga : Iya Is..ada apa?

Isti : Kak Angga uda berangkat belum?

Angga : ini masih jemput Mita

Isti : Mita sapa?

Angga : buat anget-anget di villla Is, masak kamu tega liat aku sendiri anyep-anyep (terdengar Isti terkekeh)

Isti : Kak..Isti ikut kak Angga ya, sama Vazco aja kok, muat kan?

Angga : Aji kemana? Isti uda pamit Aji belum?

Isti : Kak Angga jemput aku? atau aku berangkat sendiri ke Batu? (Isti mengancam tidak memberi jawaban)

Angga : waduh! iya..iya…tunggu! ini uda jalan!

Tut Tut Tut…….

Angga hanya menggelengkan kepala karena sambungan terputus tanpa jawaban penutup.

Selang 10 menit mobil Angga datang.

Isti yang sedari tadi menunggu langsung keluar dan menggendong Vazco yang sudah tertidur. Angga melihat wajah Isti yang kusut dengan mata merah sembab, dia tak berani bertanya.

Mobil Angga ternyata masih muat untuk cuteng dan Bu Mimin, Isti pun mengajak mereka. Cuteng dan Bu Mimin hanya diam mengikuti perintah Isti yang hatinya sedang tak baik.

“Kak Angga ga bilang ke Aji kan kalo aku ikut?” Isti memecah suasana yang sedari tadi hening dan kaku.

“Ga bilang, tapi aku takut juga kalo dia ngomel. Ngomel sich ga masalah, nah kalo sentuhan sayang gimana coba? wajahku sekarang lagi ganteng-ganteng nya pula” balas Angga.

Mita, gadis yang dibawa Angga tertawa.

“Itu mah masalah mu kak, bukan aku” sahut Isti dengan terkekeh.

“Astaga…masalahnya aku ngangkut keluarga preman. Kok aku jadi deg deg an.” tukas Angga.

“HP nya tolong di silent, please ya Kak!” Angga mendengus dengan kasar.

“Mati aku! Mati!” ucap Angga sambil memberikan poselnya ke Mita.

“Silent Mit!” pinta Angga ke wanita yang duduk di sebelah Angga.

***

20.25

Aji memasuki rumah dengan santai. Saat membuka pintu utama tidak bisa terbuka, akhirnya dia mengeluarkan kunci dari sakunya dan membuka pintu.

“Assalamualaikum!” ucap Aji dengan suara agak keras, namun tak ada jawaban.

Lampu menyala seperti biasa.Dia tetap berjalan menyusuri rumah, namun tidak ada tanda-tanda kehidupan.

Hingga dia kembali ke ruang tamu.Terlihat kresek hitam dengan notes tertempel diluarnya.

KITA BERANGKAT DULUAN! DO NOT CALL ME!!!!!!!!

Sekejap jantung dan hati Aji berhenti berdetak, dia memejamkan matanya.Lalu dia membuka tas kresek hitam.

‘ini kan yang aku packing tadi pagi untuk ke villa.’ Aji membatin.

Sambil berjalan keluar, Aji mencoba menelepon istrinya, ada nada sambung tapi tidak ada respon.Dia menghubungi pos satpam yang tak jauh dari rumahnya.Setelah mendapat informasi dengan siapa Isti pergi dari CCTV, dia langsung melajukan mobilnya.

***

22.20

Mobil Angga memasuki pekarangan yang luas.Angga mematikan mesin mobilnya.

“Tunggu sini bentar ya, aku bukain pintu dulu.” ucap Angga sambil turun dari mobilnya.

Angga berjalan menuju teras rumah hendak membuka pintu utama, ternyata ada Bunda yang lebih dulu membukanya.

“Eh..kamu Ngga.”

“Bunda, aku sama Isti. Jangan tanya apa-apa. Situasi Siaga 3.” Angga menyerocos tanpa membalas sapaan Bunda, sedangkan Bunda masih melongo tak paham.Angga meninggalkan Bunda yang masih terdiam pertanda tak paham.

Dia meminta seluruh penumpang mobilnya untuk turun.

“Tujuan telah tiba. Terima kasih telah mempercayakan Angga Travel dalam perjalanan anda kali ini. Mohon maaf atas ketidaknyamanan.” Angga mencoba membuat lelucon. Isti yang biasa membalas candaan Angga hanya tersenyum kaku.

Bunda menyambut, lalu melihat mata Isti yang masih sembab.

“Isti langsung tidur dulu ya Bun.” ucap Isti setelah mencium punggung tangan Bunda.

“Iya nak, jangan capek-capek, jangan stress.”

‘anak Bunda tuh yang bikin stress’ batin Isti dan berlalu dari hadapan Bunda.Isti dan Vazco memasuki kamar yang sudah disiapkan, tak lupa dia menguncinya.

***

40 menit berikutnya Aji tiba di villa.

Dengan perlahan dia menuju kamarnya, membuka kenop pintu, tapi hasilnya pintu tak bisa terbuka.Dengan langkah gontai, dia menuju teras samping villa. Disana sudah ada sepupu yang lain bersama pasangannya.

“Beneran, aku ga tau! Dia minta jemput, kalo ga dijemput dia mau naik angkot ke sini. Uda gitu aja.” Angga memberikan laporan sebelum Aji menanyakan saat dia menatap Angga.

Isti yang masih belum bisa tidur mengetahui saat seseorang membuka kenop pintu kamarnya, tapi dia mengabaikan. Dari jendela, terlihat mobil suaminya sudah terparkir di halaman villa. Dia menduga seluruh anggota keluarga yang belum tidur akan berkumpul, entah di depan TV atau di teras samping rumah.

Namun Isti tak mendengar suara berisik didepan kamarnya, besar kemungkinan mereka berkumpul di teras.Dengan perlahan dia keluar kamar, berjalan ke dapur dan membuat susu hangat.Dapur yang tepat berada di belakang teras, hanya terpisah tembok, membuat Isti bisa mendengar pembicaraan gerombolan itu.Wanita itu duduk sendiri sambil menyimak.

“Aku ga tau kenapa dia ngambek, kamar dikunci pula, aku tanya Bunda, dia ama Vazco dikamar” ucap Aji.

“Tadi di mobil sich dia bilang tentang ‘setia-setia’ gitu, kan aku tersinggung…..” ujar Angga yang tidak bisa setia.

Lainnya terkekeh mendengar pengakuan Angga, tapi tidak dengan Aji, dia hanya diam.

“Beneran horor kalo Isti marah, takut salah ngomong malah kacau. Jangankan ngomong, untuk nafas aja ambilnya pendek-pendek, pelan-pelan, takut suara nafasku mengganggu.”tambah Angga.

“Ya elah..aku orangnya setia, sapa juga yang mau sama aku, wajah kayak gini” Aji menyahut.

‘Syukur nyadar’ batin Isti.

“Jadi nyadar kan kalo kadar ketampananmu gitu-gitu aja, coba disini sapa yang paling ganteng? Angga donk!” balas Angga dengan over proud.

“iya..aku akui Angga kadar ganteng grade nya 8, sedangkan Aji 6.” kata Arta yang sedang memangku istrinya.

“Tapi kalo dari Aset Angga 5, Aji 9.” tambah Arta.

Sontak mereka tertawa, namun Aji tetap diam.

“Kampret kalian! abis ditinggikan lalu dijatohin itu rasanya…” balas Angga dengan menggelengkan kepalanya.

Isti yang ada didapur menahan tawa dengan menutup mulutnya sebelah tangan.

“Orang ganteng mah lewat ama orang yang berduit.” ujar Abimana.

“Nah ini apaan kak?!” Pekik Amira sambil nunjukkin ponselnya.

“Apaan?!” Aji mengambil ponsel Amira.

Spontan yang lain pada kepo, secara bergiliran mereka memegang ponsel Amira.

‘kan…’

‘mati lah kao’

‘pantesan’

‘ga sanggup liat Bunda ngamuk’

Masih banyak ocehan lainnya yang menyudutkan Aji.

“aku uda lama ga main sosmed.” ucap Aji dengan wajah melas.

“Iya, bukan kamu yang main, akun temanmu yang upload terus dia tag akunmu.” Linda menjelaskan setelah melihat ponsel Amira.

“Ngapain sich tuh cewek pegang-pegang lenganmu? kali aja kak Isti cemburu liat foto itu.” ujar Amira.

“Isti ga cemburuan, Amira.” ucap Aji.

“tapi kondisinya beda Ji, Isti sekarang hamil. Jangankan dipegang, aku kalo ada yang liat kak Arta diliatin wanita, lalu dia liat balik, bisa perang dunia lho” lanjut Linda.

Arta mencium pundak Linda yang ada dipangkuannya meredam emosi sebagai sesama wanita.

“Beneran aku setia! Aku bersyukur banget Isti mau nikah sama aku. Aku ga main-main!” sahut Aji penuh keyakinan.

“Aku juga heran, kenapa Isti mau sama kamu? Isti bisa aja dapat pria yang lebih..lebih ganteng..lebih kaya…Isti manis, anggun ..” ucap Angga.

Wajah Isti merona mendapat pujian dari saudara suaminya.

“Dia emang manis, apalagi hamil gini, makin cantik..” ucap Aji dengan lembut sambil membayangkan wajah Isti.

‘akhirnya dia mengakui ..’ batin Isti dengan senyam-senyum sendiri.

“Aku uda cinta sejak dia kusam, kucel, dekil…” imbuh Aji

‘tuh kan..baru aja seneng, sekarang dikatain . Bapakmu itu dek, nyebelin!’ Isti mengusap perutnya.

“kondisi fisik dia yang dulu aja aku cinta, apalagi sekarang! bisa mati aku tanpa Isti!” lanjut Aji.

“Kak! Aku tadi nanya, ngapain tuch cewek pegang-pegang?” tanya Amira lagi dengan nada yang lebih tinggi.

“Tadi datang ke reuni bentar, lalu aku di ajak ke cafe, ngomongin perkembangan bisnis yang kita jalani, aku mau transfer biaya notaris ke dia, dia ga bawa hp yang ada m-banking nya. aku ga ngerasa dia pegang-pegang, aku cuma konsen nominal yang mau di transfer, kan berabe kalo kelebihan nol sebiji. lalu aku tunjukkin ke dia bukti transfernya. ” Aji menjelaskan.

“emang bisnis apalagi?” tanya Nares suami Aline.

“ada teman yang nawarin tanah sekian hektar, aku ama beberapa teman yang lain sepakat beli tanah itu, ntar kita bangun rumah. lalu kita jual.”

“Eh!..kamu ada join bisnis gitu kok ga kasih info sich? kalo barengan aku juga mau lah…kan modal ga terlalu besar.” sahut Angga.

“itu juga awalnya ga niat, ga punya duit, lalu ada teman yang transfer sewa kondominium di Seminyak, ya aku puter lagi aja duitnya.” ucap Aji santai.

“lahan yang di Kalimantan gimana? jadi dijual buat gudang?” tanya Angga lagi.

“Ga lah! kasian petani sawit! Walaupun sewanya kecil, biar aja.” ucap Aji lagi.

“tuh kan dia kaya banget ….” balas Arta.

“ntar kita bantuin ngebujuk Isti dech, tapi kita dikasih apa gitu…saham dikit-dikit bolehlah” Abimana mengompori.

‘Eh..suami ku dipalak..enak aja!’ gumam Isti yang masih sembunyi.

“Astaga…aku belum sekaya Hari Tanoe. Lagi susah gini masih tega aja …” ucap Aji dengan lesu.

“ga usah saham dech, gimana kalo tiap bulan kita ke villa ini?” tanya Arya.

“itu sich kalian tanya ke Bunda, hasil sewa ini yang kelola Bunda. Kalo tiap bulan ke sini, aku ga bisa buatin kamar baru lagi lho! belum gaji penjaga dan kebersihan,kalian niat banget ya manfaatin aku!” Aji menggelengkan kepala.

“ya gimana lagi Ji, dari kita semua, kamu doank yang keliatan sukses, punya banyak aset.” ujar Arta.

“tapi kalian ga tau, gimana jantungku cenut-cenut liat harga saham.” Aji mengeluh.

“ajarin main saham donk!” pinta Arta.

“kalo belum banyak duit, mending main aman aja, beli yang di aset managemen” Aji menjelaskan singkat.6

‘Bapakmu Dek, kalo masalah bisnis lupa segalanya’ batin Isti yang balik cemberut.

“Jadinya kok malah bahas lainnya sich? ini masalah kak Isti gimana?” tanya Amira lagi.

“aku buatin kopi ya ..” Linda menawarkan.

“ga usah Lin, malam ini hidup dia uda pahit, ga perlu kopi lagi, dia bakal melek semalaman.” Arta senyum mengejek.

“buat anget-anget kak, hawanya dingin banget lho.” balas Amira.

“udara dingin gini sich biasa, kalo di anyepin pasangan itu dinginnya ruarrr biasa” sahut Reno.

Sontak semua pada tertawa, Isti yang didalam pun ikut terkekeh kecil.

“kalian kayaknya seneng banget ya liat aku gini…” ucap Aji terdengar nada putus asa.

“wajah mu kalo gini lucu …bukan Aji banget yang kita kenal.” sahut Abimana .

Aji menghembuskan nafas secara kasar, “kalian ga tidur? uda jam 1 malam, ga tau nasibku besok gimana? Bunda, Isti, papa, entahlah…seandainya waktu bisa aku putar, mending tadi ga usa berangkat kerja. Aku temani dia prepare.”

Aji menyesali.Isti yang mendengar penyesalan Aji matanya berkaca-kaca.

“tidur ama aku aja Kak, Aline baru besok sore minta dijemput di terminal.” Nares menawarkan.

“Di sofa aja!” jawab Aji.

Dengan cepat Isti kembali ke kamar sebelum terpergok menguping pembicaraan mereka.

Bersambung