Complicated Part 15

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Tamat

Cerita Sex Dewasa Complicated Part 15 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya :  Complicated Part 14

@ Cafe

“Mas janjian dimana?” tanya Isti yang mendaratkan pantatnya di sofa.

“Disana, tinggal nunggu Steve” Aji menunjuk VIP ROOM yang hanya dibatasi kaca bening di seberang mereka duduk, tampak dari luar sudah ada 2 orang yang sedang berbincang.

“Hai..nice to meet you again” ucap Steve yang tiba-tiba menyapa, dan membungkukkan badannya serta mencium pipi Isti.

“Steve!” ucap Aji dengan nada yang tak nyaman.Steve hanya melihat dan menyunggingkan senyuman.

“Kamu pakai sweater turtleneck saat hawa panas ini? aku yakin kamu hanya terlentang di ranjang selama 3 hari, dan dia meninggalkan banyak jejak sehingga kamu malu. Begitu bukan?” ucap Steve dengan benar, Isti hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya mendengar ocehan lelaki bule.

Isti memakai long sleeve dengan krah turtleneck dan rok jeans mini. Pahanya yang kuning langsat terekspose dengan jelas saat kakinya menyilang atau saling menopang.

“Jangan pedulikan dia, Love!” sahut Aji yang mulai sebal.

“Tapi benar kan? bagaimana dalaman itu? apa aku boleh memilikinya? tak masalah jika belum di cuci, itu semakin baik” Steve semakin menggoda Aji.

” Astaga, Steve!” umpat Aji.

“harusnya kamu terima kasih ke aku, karena dalaman itu_”

“walaupun tanpa dalaman itu aku juga tetap mengerjainya selama 3 hari” potong Aji.

“Mas….” Isti mengusap lengan AJi yang ada disampingnya.

‘suamiku ternyata bodoh juga, dia ga ngerti apa kalo di godain? bocah!’ batin Isti.

“wajahmu lucu kalo sebal, harusnya aku nego saat kamu kesal gini. pasti error dan menguntungkan aku!” Steve makin menjadi menggoda Aji.

“kamu sangat kekanakan mencampur adukkan dalaman itu ke urusan bisnis” ucap Aji dengan nada ketus.

“Mas, aku ambilin kaca ya?” ucap Isti yang sudah mulai jengah mendengar sahutan para pria yang tak mau kalah ini, terlebih kata ‘dalaman’ terlontar luwes dalam pembicaraan mereka seakan bukan hal tabu lagi.

“ngapain?”

“kamu bilang Steve kekanakan, kamu juga sama! Ada apa sich kalian ini?! tampang keliatannya pintar, kalo ngumpul kayak anak kecil. Dasar Bocah Tua!” Isti mengoceh seperti memarahi anaknya.

Aji dan Steve langsung terdiam dan mencebik.

“Ayo! uda di tunggu” Aji mendengus dengan tatapan kesal ke arah Steve.

“Jangan emosi, jauhkan unsur dalaman, kita bicara urusan bisnis, jangan sampe nyesel lho” Steve masih menggoda Aji.

“Steve!” kali ini Isti yang memekik.Aji tersenyum melihat Isti sebal karena ulah Steve.

“Ok, Maafkan aku Mama!” ucap Steve dengan wajah konyol.

2 bocah tua itu pun menuju VIP room.Isti bisa melihat Aji dari balik kaca bening, begitu juga sebaliknya.Sambil menunggu Isti duduk memainkan ponselnya.

Tak lama, beberapa wanita datang, cipika cipiki dengan Isti, dan mereka duduk bersama dilingkaran sofa yang sama.Mereka berbincang layaknya wanita normal, membicarakan fashion, gosip artis, makanan, nostalgia dan sesi curhat.

Selang 1 jam terlihat relasi Aji meninggalkan VIP Room, sisa Aji dan Steve yang tertinggal di ruang itu.

Pukul 20.30 para wanita itu meninggalkan area.

Johan sejak tadi menjadi tamu di cafe ini. Sebelum Isti tiba, dia sudah datang. Dia menyaksikan dengan siapa Isti tiba, lalu bertemu dengan teman-temannya.Johan menghampiri Isti yang sedang duduk seorang diri, dan dengan berani dia duduk di sebelah Isti.

Isti pun tampak terkejut dengan kedatangan Johan, bukan dia orang yang ditunggu, dia menunggu suaminya. Isti hanya melirik sekilas, dan kembali mengotak-atik ponselnya.

Pria itu langsung fokus pada dada yang terbalut kaos ketat, tangannya terasa gatal untuk meremasnya. Lalu pandangannya lalu turun ke bawah.Terpampang kaki Isti menyilang dan menopang, tampak pahanya terlihat mulus dan terawat.

Rasanya tangan tak sabar untuk menyusup memanjakan benda yang ada dibalik rok itu.Seketika Johan mengingat bagaimana bentuk tubuh Isti yang polos, dia masih mengingat bagaimana dia menikmati tiap inci tubuhnya.

Johan masih ingat respon Isti saat tangannya bergerilya meremas payudaranya, senyuman dan pipi merona serta desahannya ketika masih berpacaran. Ketika tangan Isti mengusap rahangnya saat bibir Johan mengecup dan membelit lidah Isti.

Darah tubuhnya memanas, pusat tubuhnya menegang membuatnya tak nyaman.Dia sangat ingin menikmati tubuh Isti lagi dengan sisi liar Isti, karena Johan melihat bagaimana respon Isti saat bercumbu.

“Aku ingin mengembalikan hubungan kita yang sempat tak karuan” Johan berusaha akrab.

“Hm?”

“aku ingin kita menjadi seperti dulu lagi”Isti mendecih dengan senyuman sinis.

“mengembalikan hubungan? ga salah?!” balas Isti tanpa melihat Johan.

“aku serius.”

“serius mau menjalin hubungan dengan JA-LANG?” Isti menekan kata jalang.

“aku ga peduli”

“kenapa?.”

“aku menginginkan kamu, berapapun yang kamu mau?”

‘dasar otak selangkangan!’ batin Isti.Isti tidak menjawab, matanya tetap tertuju pada ponselnya.

“aku tanya! berapa hargamu jalang?!” Johan mulai gusar karena tidak mendapat jawaban.Lagi-lagi Isti tidak menjawab, dia hanya merubah posisi kaki berganti menopang.

Johan menatap paha Isti, dia semakin menggila.

“Kita dulu pernah bersama. Kamu ingat?”

“pernah dan hanya masa lalu.” jawab Isti ringan.

“berapa banyak pria itu membayarmu?”

‘kamu benar-benar menganggap aku jalang.’ batin Isti.

“walaupun kamu mampu membayar, tapi aku tak sudi melayani kamu.” Isti berbisik di telinga Johan, dan hembusan nafas Isti membuat tubuhnya makin menegang.Isti berdiri hendak melangkah, namun Johan mencekal pergelangan tangannya.

“Lepas!” ucap Isti tegas dengan tatapan yang bengis.Johan berdiri, dia memandang wanita.

“Asal kamu tau, bercinta denganmu tanpa perlawanan itu sangat nikmat. Dan akulah yang pertama bukan?”

“menurut kamu itu bercinta, tapi bukan untuk aku. apakah milikmu sangat kecil jadi kamu ga PD untuk melakukan saat aku sadar?” ucap Isti dengan nada mengejek dan tatapan merendahkan.

“apa kamu ingin bukti kalo aku bisa memuaskan kamu? AYO!” Johan sedikit menarik tangan Isti yang kecil.

“LEPAS!” jerit Isti mengundang beberapa orang menoleh.

Aji yang berada di ruang kaca tak mendengar teriakan Isti, namun pria itu seakan memahami ada sesuatu yang tak beres karena beberapa tamu menatap Isti dan Johan.Sekejap Aji keluar, meninggalkan Steve seorang diri.

Aji mendatangi Isti dan Johan yang masih mencekal tangan wanita itu.

“Love?”

“LEPAS!” Isti menghempaskan tangan Johan, akhirnya tangannya terbebas dari cekalan.

“Hei Bung, ini urusan kami. Tolong ga usah ikut campur!” ucap Johan menatap Aji.

“Tidak bisakah kamu lebih sopan terhadap wanita?” balas Aji.

“Dia tidak layak diperlakukan sebagai wanita baik-baik, dia jalang. Berapa duit yang kamu keluarkan selama bersenang-senang dengan dia?”

“JAGA UCAPANMU!”Aji menatap Johan penuh kebencian. Dia sangat membenci orang yang merendahkan sesama.

“kenapa? kamu tanya ke dia? siapa yang pertama kali menikmati tubuhnya tanpa ikatan nikah dan tanpa perlawan. DIA BEKASKU. DIA MANTAN ISTRIKU.” ucap Johan dengan lantang, membuat penghuni cafe mendengar semuanya.

Isti menitikan air mata, dirinya direndahkan di hadapan umum.

“Terima kasih, akhirnya aku bisa bertemu denganmu.” Aji menatap dengan senyum yang misterius. Johan menatap balik dengan cuek.

“Wanita yang ada didepanmu adalah memang benar jalang.” Aji memegang dagu Isti dan mencium bibirnya dengan ringan, terlihat pipi Isti yang basah membuat hatinya teriris.

“apa kamu merindukan vaginanya yang sangat legit?” Aji menyusuri lengan Isti dengan telunjuknya, membuat celana Johan makin sempit mendengar kata godaan ‘vagina yang sangat legit’.

“Apa kamu ingat aroma tubuhnya?” Aji mencium pundak Isti yang terbalut busana. Kepala Johan makin penat melihat Aji dengan bebas mendaratkan kecupannya tanpa beban didepan umum.

“Sayangnya, pahanya akan terbuka hanya untuk penisku. Dia jalangku! Hanya aku yang berhak menyebutnya jalang! Dia is-tri-ku!” ucap Aji dengan santai dengan tekanan, dia menarik Isti ke tubuhnya dan merengkuhnya.Isti merebahkan kepalanya di dada Aji dan menyambut pelukannya.

Sekilas Isti melihat wajah Johan yang memendam marah, dia memberikan senyuman mengejek. Aji menggiring tubuh mungil istrinya untuk masuk ke VIP Room meninggalkan Johan yang masih berdiri terdiam.Tak berselang lama, Isti, Aji dan Steve keluar dari VIP Room dan meninggalkan cafe itu.

***

“Terima kasih” ucap Isti yang memeluk tubuh Aji.

“untuk apa?” Aji mencium kening Isti.

“yang tadi”

“sudahlah, aku ga suka ada orang lain mebuat wanitaku menangis, direndahkan. kita bobok ya..besok pagi balik ke Surabaya, uda kelar honey moon nya”

“masih ada beberapa jam” Isti tersenyum menggoda.

“Lalu?”

“kira-kira kamu bisa berapa ronde Mas?”

“Kamu ya…aku akan membuatmu minta ampun dan memohon menghentikan!” Aji mulai menindih tubuh Isti.Dan mereka melakukan sesi percintaan yang liar.

Tubuh Isti berkeringat mengkilap, rambutnya berkelompok dan lengket, namun hal ini membuat Aji makin liar.

“Liar kamu Love!” Ucap Aji yang terus menyiksa dengan kenikmatan.

Jika Isti merasa lelah dipangkal pahanya yang terlalu lama membuka, tidak segan Aji menjilat dan membuat Isti mencapai orgasme lagi.Wanita itu telah mencapai orgasme beberapa kali, membuatnya lemas.

“Mas abis ini uda ya.” ucap Isti yang saat ini menungging di ranjang dengan posisi seperti merangkak.

“Masih berapa ronde? aku belum capek” ucap Aji sambil menghentakkan miliknya.

“Please Mas…capek..” rintihan tak berdaya Isti membuat Aji makin liar, dia merasa menang dan berkuasa atas tubuh kecil istrinya.Tak lama, Aji mencapai puncak kenikmatan.

“Hidangan penutup sayang” Aji membalikkan tubuh Isti lagi, pria itu menjilati intim istrinya.

“Eeehmmmm” Isti melenguh, dia sangat bingung merasakan tubuhnya.

Jilatan lidah Aji sangat nikmat, namun tubuhnya seakan sudah tak berdaya lagi untuk merespon lebih lanjut.Isti pasrah, hanya lenguhan dan desahan yang bisa dia lakukan, tangannya hanya meremas sprei.

“Orgasme lagi?” tanya Aji, karena tubuh Isti secara spontan pinggul Isti bergerak mencari kenikmatan.

“sudah ya Mas..please..!” Isti memohon saat usai pelepasannya.

“iya sayang…iya” Aji merangkak ke sisi Isti dan mencium pundaknya yang polos.

Beberapa bulan kemudian.

“Love…ayo jalan-jalan pagi” Aji mencium lembut bibir Isti yang matanya masih terpejam.

“Errrgghhhhh…males Mas, ngantuk!” Isti menarik selimut dan meringkuk.Isti kelelahan setelah Aji melakukan serangan fajar.

“ya uda, aku jalan-jalan sama Vazco aja”

“Beli bubur ya Mas” Isti bersuara dengan serak.

“OK”

2 jam kemudian.

“Ibu uda bangun?” tanya Vazco mendekat ke Isti yang sedang duduk di ruang makan.

“sudah donk, uda mandi juga. Ayahmu mana?”

“masih omong-omong sama om tetangga.”

“Vazco uda maem?”

“uda, makan bubur sama ayah.”

“ya uda, kamu mandi sama cuteng ya!” Vazco mengangguk dan meninggalkan Isti.

Beberapa menit kemudian.

“ini buburnya!” ujar Aji lalu duduk di ruang makan, menyeruput teh yang dibuat Isti.

“Mas kelamaan ngobrol, jadi dingin kan buburnya!” rengek Isti dan menutup kembali bungkusan bubur.

“ya uda, kasih cuteng aja.”

“tapi aku pengen bubur Mas, aku tungguin dari tadi. aku uda bayangin gimana enaknya makan bubur anget di pagi gini.” Isti menekuk wajahnya.

“ya uda aku balik lagi, beli bubur.”

“ga usa! uda ga pengen lagi.” Isti meninggalkan Aji sendiri di ruang makan.Dia menuju ke kamar, menangis sesenggukan.

Tak lama Aji memasuki kamar. Melihat Isti yang memunggungi dengan ditutupi selimut.Terdengar suara isak tangis yang lirih.Aji mendekat, dia berbaring dan memeluk dari belakang.

“Love….”Isti tidak menjawab, hanya terdengar suara sesenggukan.

“Kenapa nangis?”

“Aku sebel sama Mas!”

“Sebel kenapa? bubur tadi? ayo..beli lagi, sekalian jalan-jalan naik motor ya” Aji merayu.

“uda ga pengen lagi.”

“Ya uda berenti donk nangisnya.”

“tapi masih sebel.”

“Maaf””iya, tapi aku masih sebel liat Mas.”

“terus?”Isti berbalik mengahadap ke Aji.

“beliin rujak”

“Love..ini masih pagi. belum ada yang buka.”Isti berbalik memunggungi Aji dan menangis lagi.

“Love, ntar siangan dikit kita cari ya?”

“kenapa sich ga usaha dulu? kali aja ada yang buka.” oceh Isti.

“ya uda, aku cari rujak dulu ya, aku ajak bu Mimin.”

“ga usah, uda ga pengen!”

“Jadinya gimana? minta Bubur, di belikan bubur ga mau. Minta rujak, mau dibelikan rujak ga mau.” Aji mulai kesal. Isti bangkit dari ranjang, mengusap kasar wajahnya yang basah.

“Mau kemana?”

“Cari makanan yang aku mau.” ucap Isti dengan kesal

“sama aku ya?” tanya Aji

“ga usah.” jawab Isti tegas

“ya uda, ati-ati.” suara Aji melemah.

“kamu sebenarnya sayang ga sich sama aku?” Isti sesaat menoleh ke arah Aji. ‘kok dia tega aku berangkat sendiri?’ batin Isti.

“ya sayang lah”

“aku benci sama kamu.” Isti berkata ketus dan berbalik meninggalkan Aji dikamar sendiri.

“eh?” Aji hanya terbengong. ‘Aku salah ucap apa ya?’ batin Aji.

Isti menuju kamar Vazco lalu mengajaknya menaiki mobil.

“Kita mau kemana Bu?” tanya si bocah.

“Ke Eyang Bunda”

“Kok ayah ga ikut? biasanya kan sama ayah!”

“Ayah sibuk.” jawab Isti. Isti dan Vazco sudah tiba di rumah Bunda Aji.

“Lho, kalian kok sendiri? Ayahmu mana?” tanya Papa menyambut, lalu menggendong Vazco.

“Ayah sibuk.” jawab Vazco.

“Tumben Aji ga ikut?” tanya Bunda lagi.

“Sibuk.” ucap Vazco lagi.

“Bunda masak apa?” tanya Isti setelah mencium tangan Bunda.

“Kamu belum makan?” tanya Bunda.Isti menggelengkan kepala.

“Astaga, ini jam 9…dasar arek pekok! Istrinya ga sarapan kok dibiarin…Ayo sini kamu sarapan!” perintah Bunda.

Usai sarapan yang kesiangan, Isti duduk bersama dengan Bunda dan Papa.Amar dan Vazco berbaring santai sambil melihat TV di karpet tepat dibawah mereka.

“Bun, disini yang jual rujak dimana ya?” tanya Isti.

“Ada di blok sebelah. Amar, tolong mbakmu belikan rujak, sama Bunda pengen kolak juga.” perintah Bunda.

“Aku mau juga kolaknya. Ini Mar duitnya.” Isti menyerahkan lembaran merah.

“Banyak banget mbak!”

“Tanya papa mau ga? Sisanya buat kamu. Vazco ajak juga ya Mar, biar ga bosen”

“Makasih mbak. Ayo Vaz ikut Om Amar jalan-jalan.” Amar menggendong Vazco.

Setelah menyantap Rujak dan Kolak, Isti dan Vazco istrihat di kamar Aji.

“Ngapain pa?” Tanya Bunda.

“Telpon anakmu! masak istrinya berangkat sendiri sama Vazco? Lha gunanya dia apa? Kalo ada apa-apa gimana? Sebenarnya dia bisa jaga Isti atau ga?” Celoteh Papa panjang lebar.

“Lha…itukan anakmu juga. Bagian jelek jadi anakku, kalo bagus anak papa. Ga adil!” Bunda meninggalkan papa yang mengotak-atik ponsel hendak telpon Aji.

Komunikasi tersambung.

Aji : iya Pa…

Papa: kamu suami model apa? Kok bisa Isti datang ke rumah sendiri? Kamu bertanggung jawab penuh atas Isti dan Vazco. Jangan cuma ngawini aja. JEMPUT!.

Tut Tut Tut (sambungan terputus.)

Jantung Aji hampir copot mendengar ocehan Papa. Pasalnya Papa orang yang irit bicara, kalo sudah ngomong panjang lebar berarti situasinya gawat.

***

Menjelang sore .Aji memasuki rumah orang tuanya. Terdapat Bunda yang rambutnya masih acak-acakan karena bangun tidur, begitu juga dengan papa, wajahnya masih berbau bantal sedang duduk di sofa.

“Bun, mereka dimana?” tanya Aji yang duduk memaksa duduk di tengah Bunda dan Papa.

“Astaga! ini anak ga nyadar segede apa badannya!” tukas Papa sambil menggeser duduknya. Akhirnya Aji bisa duduk di antara kedua orangtuanya.

“mereka di kamarmu, tumben kamu ga bareng sama mereka?” tanya Bunda. Aji menarik nafas dan menghembuskan.

“Menantu Bunda ngambek mulai pagi” Aji mulai mengadu.’aku bilangin Bunda, rasain!’ batin Aji.

“maksudnya? Kamu main tangan?” tanya Bunda.Bunda mengenal anaknya yang sangat ringan tangan dalam hal fisik.Saat remaja Bunda kerap kali datang ke sekolah karena ulah Aji.

“Ga tau kenapa, dia cengeng banget, aku ga main tangan lho Bun…beneran!”

“Terus kenapa kok sampe nangis?”Aji pun menceritakan kejadian Isti yang memusuhinya, hingga melarikan diri kerumah Bunda.

“Ya gitu dech Bun, sebentar baik, sebentar ngomel, sebentar nangis, masak iya Isti deperesi?”

“DASAR GEBLEK!” Bunda memukul wajah anaknya dengan bantal yang sedari tadi ada di pangkuannya.

“Eh?” Aji terkejut sambil mengusap kasar wajahnya yang kena pukulan bantal. Ga sakit tapi lumayan mengagetkan.

“Ayo kita ke Rumah Sakit! Aku bangunkan Isti!” perintah Bunda.

“Bun…Isti sakit apa?” tanya Aji.

‘kayaknya depresi banget sampe harus ke RS. Ga papa..ini demi ketenangan jiwamu sayang, aku ga tega liat kamu nangis terus.’ batin Aji.

“Bunda tu ga paham, kamu setua ini masih belum peka. Apa yang ada di otakmu ini?” Bunda menekan telunjukanya di kening Aji, Aji hanya menyengir tak paham.

“Bunda heran gimana perusahaan mau nerima pegawai macam kamu, dan sekarang kamu di promosikan ke wakil kepala cabang. Tapi soal ginian aja kamu ga paham?” tambah Bunda sambil menggelengkan kepala.

“Bunda ngomong apaan?” Aji berucap lirih semakin tak paham.

Selang beberapa menit tampak Bunda menggendong Vazco dan Isti mengekori di belakang Bunda sambil menguap.

Isti menyadari kedatangan suaminya, dia duduk disamping suaminya, dan menyenggol bahunya.

“Mas kapan datang? uda dari tadi ya?naik apa?” tanya Isti seolah tak terjadi apa-apa.

“Lumayan, naik taksi, kan mobilku kamu pakai..” Aji tersenyum hangat ke istrinya yang menyandarkan kepala di bahunya.

Usai mandi sore.

“Ayo kita berangkat!” pinta Bunda.

“Kemana Bun?” tanya Isti

“Nganter kamu ke dokter Nak.”

“Isti ga sakit kok” tukas Isti.

“Tapi emosimu ga teratur, kita ke dokter jiwa ya Bun?” tanya Aji.

“Ngasal kamu!” Bunda menimpuk kepala Aji dengan dompetnya.

Aji mengusap bekas pukulan Bunda.

‘tadi pagi aku disiksa istri, Papa ngomel, sekarang Bunda. Ini hari apa sich? Aku ga ulang tahun kok. Ngeprank ya?’ batin Aji.

“Uda…Ikuti Bunda aja!” perintah Papa.

Isti dan Aji mengendarai mobil yang berbeda, karena setelah dari RS mereka akan langsung pulang. Vazco masih ikut dengan Eyang Bunda, karena mobil di eyang Bunda tersedia beberapa bungkus makanan favoritnya.

Mereka melangkahkan kaki memasuki RS.Bunda melakukan registrasi ke bagian administrasi.

“Lho kok ke kandungan Bun?” tanya Isti yang sedari tadi disamping Bunda.

‘Astaga! Bagaimana jika aku hamil? Aku sempat lupa ga minum pil. Mas Aji pasti ninggalin aku. Aku ga siap untuk menjadi janda yang kedua kalinya.’ secara tiba-tiba raut wajah Isti berubah muram dan mengusap perutnya.

“Ayo Masuk! Ini teman Bunda. Dia praktik Sabtu-Minggu-Hari libur” ajak Bunda menarik tangan Isti ke ruangan dokter.

Papa dan Aji yang menggendong Vazco ikut membuntuti Bunda.

Saat di USG, Isti menolak ditemani Aji, dia ingin ditemani Bunda. Isti juga tak berani menatap wajah suaminya.Dan ketika pulang pun Isti tak mau 1 mobil dengan Aji, sehingga Aji terpaksa masih menunggu di RS untuk mengambil Vitamin yang di anjurkan untuk istrinya.

Terdengar deru mobil memasuki garasi.

“Aji uda datang. Bunda pulang ya?” Bunda mengusap kepala Isti dengan sayang. Isti yang sedari tadi gundah gulana terpaksa mengangguk.

“Bunda seneng Isti hamil?” tanya Isti yang bergelayut manja di lengan Bunda.

“Seneng banget nak. Bukan cuma Bunda, Papa juga seneng. Iya kan Pa?” tanya Bunda ke arah Papa.Ayah hanya mengangguk.Isti tersenyum dengan terpaksa.

‘Ok, Bunda dan Papa seneng aku hamil. Kalo ayahmu ga menginginkan kehadiranmu, kita sama Eyang Bunda ya Dek.’ Isti mengusap perutnya.

Setelah kepulangan Bunda, Isti berusaha menghindari Aji. Aji di ruang tamu, dia di ruang makan. Jika Aji ke ruang makan, dia ke teras. Begitu terus hingga menjelang tidur.Isti lebih dulu memasuki kamar.

‘Baiklah, ini bukan yang pertama Isti, sebelumnya kamu juga pernah dibuang. Kuatkan hati!’ Isti duduk di bibir ranjang, tubuhnya lelah karena sejak tadi lelah kucing-kucingan dengan suaminya. Aji masuk kamar setelah mengecek seluruh rumah telah terkunci.

Dia duduk disamping Isti yang mengotak atik ponsel.

“Love, kamu benci banget ya sama aku?” mengusap punggung Isti, usapan lembut suaminya membuat Isti nyaman.

Wanita itu tak menjawab, hati Isti makin sedih mendapat perlakuan manis dari suaminya.

“Tolong jangan berlaku manis seperti ini.” Ucap Isti yang masih menunduk.

Dia tak mau melihat Aji, air matanya akan turun jika dia melihat pria yang dicintainya.

“Maksud kamu apa?” Aji berucap dengan lembut, dia menghentikan usapannya, dan hanya melihat Isti yang terus menunduk.

“Mas ga marah aku hamil?” tanya Isti lirih, wajahnya tetap menunduk.

Aji berdiri lalu berjongkok didepan Isti, kepalanya menyusup ke perut istrinya, dia mencium perut Isti berulang-ulang sambil tangannya melingkari tubuh Isti.

“Makhluk kecil ini, hasil spermaku, hasil kerja kerasku mengusili kamu.” Isti terkekeh mendengar penuturan Aji yang jauh dari kata romantis.

“Mas ga marah aku hamil?” Isti mengusap lembut kepala Aji dan mengulang pertanyaan seakan tak percaya reaksi suaminya yang menciumi perutnya.

“Ibumu tanya lagi. Ayah harus jawab apa Dek?” Isti tersenyum bahagia hingga dia menitikkan air mata saat Aji memberi sebutan untuk makhluk kecil yang ada di perutnya dan menyapanya.Aji merasakan tetesan air mata.

“Love….kenapa nangis?”

‘Astaga,benar kata Papa, wanita hamil punya stock air mata melimpah ruah.’ batin Aji.

“Baring ya! kayaknya kamu capek.” Pinta Aji.

Isti menuruti perintah suaminya.Mereka berbaring, Isti menyandarkan kepalanya di dada Aji.

“Kenapa nangis?” Tanya Aji.

“Sambutan kehamilan ku yang sekarang beda dengan Vazco.” Isti menitikkan kembali air mata saat mengingat kehamilan Vazco, dimana dia harus berjuang sendiri.

“Ssssstttt, ga usah dibahas. Sekarang kalo pengen apa-apa ngomong aja. Aku ga mau anakku ngeces. Jangan cengeng, kasian Adek kalo Ibunya sedih terus.”

“Aku pengen apa aja boleh?”

“Iya sayang ….” hati Isti selalu berdesir setiap kali Aji mengucapkan kata ‘sayang’ untukmu.

“Tapi tadi minta bubur ama rujak ga dibelikan.” Isti merengek.

“Iya maaf sayang ku” ucapan mujarab bagi Aji saat ini.

“Ntar kalo minta apa-apa ga dikasih, aku ke rumah Bunda aja.”

“O….tadi ngambek, terus ke Bunda. Gitu?”

“Abisnya Mas gitu.”

“Iya …aku yang salah.

“Isti menyembunyikan wajahnya yang bahagia di dada Aji dan mencium lembut dadanya.Isti hanyalah wanita biasa, disaat hamil hormon seksual juga meningkat, namun dia sangat gengsi untuk memulai.

“Mas….”

“Hm….”Isti mencium leher suaminya, seketika darah Aji mendidih.

Wanita itu sangat tahu bagaimana selanjutnya akibat kecupan dan perlakuan di leher suaminya.Lalu menyembunyikan wajahnya diceruk leher suaminya.Isti makin menyukai aroma suaminya.

“Love, aku mau liat Adek” seketika Aji bangkit dan melucuti kain yang menempel ditubuh Isti dan tubuhnya.

“Mas…ini masih trimester pertama.

” Ucap Isti basa-basi menatap Aji yang sekarang ada di atasnya.

“Aku uda konsultasi ama dokter, boleh tapi pelan-pelan. Aku akan bergerak pelan, supaya adek ga terganggu boboknya.” Canda Aji mencium lembut perut Isti.

“Eeehmmmm…” Isti melenguh saat Aji mengulum putingnya dan jarinya bermain di intim Isti.

“Kalo masalah gituan kamu ga pernah lupa ya Mas.” Imbuh Isti.

“Bagaimana mungkin aku pisah dengan lubang nikmat ini? Love…. bisakah kita konsentrasi dulu ke percintaan kita?” Dalam sekejap Isti menarik wajah Aji dan mencium bibirnya dengan brutal hingga Aji mengerang.

Berita kehamilan Isti sudah tersebar di dua keluarga itu. Dan Bunda merencanakan akan mengadakan family gathering lagi.

Bersambung