Complicated Part 14

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Tamat

Cerita Sex Dewasa Complicated Part 14 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya :  Complicated Part 13

Pintu lift terbuka saat ada di lantai 10.

“Kita turun disini, kuda besi kita di lantai ini.” Ucap Ardiansyah.

“Jangan lupa minum jamu kuat!” Steve masih mengejek Aji.Gelak tawa terdengar lagi.

Hingga hanya tersisa 2 pasangan, Johan dan Tasya, Isti dan Aji.Aji dan Isti berdiri didekat tombol lift sedangkan Johan dan Tasya beberapa langkah di belakang mereka.

“Come here my Bitch!” Aji menarik tubuh Isti untuk lebih dekat.Isti menurut, dia memeluk tubuh Aji, menyandarkan kepalanya di dada suaminya.

Jemari Isti menyusup kedalam jas Aji, memainkan jarinya di kemeja.Walaupun hanya usapan jari dikemeja, namun bisa membuat Aji berdesir.

Aji mengusap punggung Isti yang tampak polos.Johan bisa melihat dengan jelas bagaimana buku-buku jari Aji mengusap lembut bagain punggung Isti.

“Dingin?” Tanya Aji mengecup pundak Isti.

“Hm” jawab Isti, lalu Aji melepaskan jas nya dan membungkus tubuh Isti.Tangan Aji masih berada di punggung Isti yang tertutupi oleh jas.

“Nanti aku hangatkan” bisik Aji dan menggigit kecil telinga Isti.

“I need Ucil” ucap Isti lirih.

“Nakal!” Ucap Aji dan mencubit punggung Isti.

“MAS!” Pekik Isti dan mendongak Aji.

Aji mencium sekilas bibir Isti.

“Noisy!” Aji menjepit hidung Isti.

“Do it again!” Ucap Isti dengan bibir merekah seolah menantang untuk dikecup.

“With Pleasure!” Aji menyeringai, tak lama dia melumat lembut bibir istrinya.Hanya suara cecapan yang terdengar di kotak kecil itu.

Isti menghentikan kecupan setelah mendapat 2 lumatan dengan menarik wajahnya.”hanya itu? kamu sengaja menggodaku?” tanya Aji.

Isti tidak menjawab hanya mengeluarkan tawa kecil dan menyembunyikan wajahnya di dada Aji.

Skinship mereka membuat pasangan yang lain panas-dingin.Terlebih Johan, melihat Isti malu-malu namun ternyata ada sisi liarnya.Tasya mengeratkan pelukan dilengan Johan mencoba menarik perhatiannya.

Namun perhatian pria itu tetap ke pasangan didepannya.

Pintu Lift terbuka, Johan dan Tasya keluar lebih dulu, mereka berjalan dengan cepat.Johan ingin meluapkan hasratnya dengan siapa lagi jika bukan dengan wanita yang selalu membuntuti dia.

Sedangkan Aji dan Isti berjalan dan tertawa puas melihat pasangan itu.”seumur hidup aku ga pernah merasa sekampungan ini?”

“maksud Mas?”

“harusnya kita ga boleh berisik di lift, kecuali cuma kita berdua aja.”

“kata orang, laki-perempuan ga boleh berduaan, ada pihak ketiga, setan. aku anggap mereka setan.”

“kamu menyiksan mereka Love”

“aku sangat senang jika memang begitu”

“dan malam ini aku akan menyiksamu”

“aku tak sabar menerima siksaanmu Suamiku” Isti menantang, Aji hanya menggelengkan kepalanya.

***

Mereka memasuki apartemen.Usai membersihkan diri, Isti keluar dengan hanya memakai bathrobe.

“Love!”Aji memanggil.Isti menaiki ranjang, mendekati suaminya yang duduk bersandar di kepala ranjang.

“Sini!” perintah Aji dengan lembut dan hangat dan menepuk pahanya.Isti duduk di pangkuan Aji, tangan pria itu melingkar di pinggang istrinya.

Dia menatap hangat istrinya,”Aku takut.”

“Takut apa?” tany Isti heran.

“Dia sempurna, sebagai lelaki aku sangat mengakui dia sempurna”

“Hm???” Isti bergumam tak paham.

“Pria masa lalumu”

“ngapain ngomongin dia?”

“aku takut kamu tergoda lagi”

“Mas, walau sesempurna papa David Beckham, tapi kalo kelakuan seperti dia….please…” Isti menggelengkan kepala seolah mengatakan ‘aku ga tertarik sama sekali’.

“aku benar-benar takut Love. Kamu akan meninggalkan aku saat sayang-sayangnya, seperti dulu” ucap Aji.

“Mas …..justru aku yang takut. Aku takut Mas tergoda gadis atau wanita lain. Memang kamu ga seganteng dia, tapi kamu tampan, handsome. Disini kita membangun kepercayaan, sekali kepercayaan itu hilang, itu tandanya berakhir. Aku bukan tipe wanita yang memberi kesempatan kedua.” Ucap Isti panjang lebar, tangannya menangkup rahang Aji.

“You can trust me, dear.” Aji mempertemukan keningnya, hingga hidung mereka saling menempel.

“I trust you Mas” Isti mencium lembut bibir suaminya.Aji membalas lumatan istrinya, pria itu melepas jepitan rambut yang digunakan Isti, dan kini rambutnya terurai.

Setelah puas dengan saling memanggut, Aji melepaskan lumatannya, dia menuju leher Isti dan bersembunyi dibalik rambut dan ceruk lehernya.Menjilat, mengecup kuat hingga menciptakan bekas merah keunguan yang membuat Isti mendesah.

“Eegghhhh” Isti mendongak, kepalanya menggeliat seakan memerintah Aji untuk meratakan cumbuannya.

Tangan Aji membuka simpul tali bathrobe, tanpa sadar Isti mengikuti pergerakan suaminya melepaskan kain yang melindungi tubuhnya, kecupan dan cumbuannya suaminya bagaikan hipnotis.Dua benda kenyal itu terlepas bebas, namun Aji tidak menyentuhnya sama sekali.

Aji membalikkan posisinya, kini wanita itu di bawah kungkungannya.Si pria melepas kain berbentuk segitiga yang menutupi milik istrinya.Dia pun melepaskan pelindungnya yang terakhir.

Aji kembali ke leher Isti memberikan jejak petualang.Lalu bibirnya turun perlahan ke tubuh Isti, memberi kecupan yang membekas, benda kenyal itu tak luput dari cecapannya, tapi pria itu melewati puncak payudaranya.

Tangan Aji hanya bermain di lekuk tubuhnya.Mengusap, sesekali meremas.Padahal biasanya tangan pria itu sudah mengobrak-abrik benda kenyal atau lubang nikmatnya.

“Mas…” Isti mulai frustasi, dia menginginkan pria itu melakukan sesuatu di putingnya.Aji mengabaikan panggilan istrinya, dia mencium lembut tepat dibawah payudara Isti.

“Please…!” Rengek Isti.

“Iya sayang?” Aji terus mencumbu dan terus menyiksa gairah Isti.

“Mas, kok gini sich?” Isti mulai tidak tahan.

“Kenapa sayang?” Aji menghentikan cumbuannya, melihat wajah Isti yang mulai sebal dan cemberut.

“Jangan menyiksaku! Kamu akan menyesal jika kamu melakukannya!” Ancam Isti dengan tatapan tegas.

Aji tersenyum. Aji yang berencana menyiksa Isti dengan memainkan gairahnya, akhirnya pudar.’daripada ga dapat jatah, aku bisa apa? Bisa gila!’ batin Aji.

“Easy Love….slow but sure” ucap Aji mengelak prasangka Isti.

Setelah beberapa cumbuannya di leher, dengan bersamaan Aji mengecup kuat Isti dan memasukkan 2 jarinya ke liang senggama.

“Aaaahhhh” tak sadar Isti berteriak dalam kenikmatan.

Aji menghentikan kegiatannya setelah mendengar teriakannya, dia menatap wajah Isti.

“Sakit?” Tanya Aji.

“Enggak” Isti mengecup ringan bibir suaminya.

“Apa itu yang kamu mau?” Tangan Aji mengusap lembut intim Isti yang sudah mulai basah.

Isti tidak menjawab, dia malu untuk mengakui.Dia hanya membasahi bibirnya dengan melipat nya kedalam sekejap.

“Love…i need your answer.”

Akhirnya Isti mengangguk dengan kaku dengan wajah yang malu merona.”Akan aku berikan yang kamu mau, dear!”

Dalam sekejap pria itu meraup sebelah payudara Isti seolah ingin melahap seluruhnya.Dan sebelahnya mendapat remasan dan cubitan lembut pada putingnya.Tangan Aji yang lain memporak porandakan intim Isti yang membuat pantat wanita itu mengikuti irama jari suaminya.

Tangan Isti bergerak liar menyisir dan meremas rambut prianya dengan desahan dan erangannya.

Aji membalikkan posisinya.Kini Isti berada di atas tubuhnya.

“Lakukan apa yang kamu mau sayang, aku milikmu.” Bisik Aji di bibir Isti.

Isti yang sudah di puncak gairah, tak sabar untuk menyatukan miliknya.Sambil meliukkan tubuhnya, Isti menjelajahi leher Aji dengan jilatan dan kecupan.

Kali ini erangan Aji yang meramaikan ruangan.

Tak sengaja Aji melihat pada cermin yang ada di lemari.Di situ dia bisa melihat bagaimana gerakan Isti saat meliukkan tubuhnya.

“Aku menyukai keliaranmu.” Bisik Aji.

Bagaikan disiram bensin, api gairah Isti makin membara.Kecupan Isti makin menjadi di leher Aji, sesekali menggigitnya.

Isti makin mempercepat tempo goyangannya, Aji menghisap puting tanpa melepaskan.Wanita itu merasakan kenikmatan di payudaranya dan di bawah dia sedang mengejar kenikmatan yang lebih besar.

Hingga dia merasakan puncak kepuasan di intimnya, dan membuat suhu tubuh panasnya meningkat dan menjalar ke seluruh badan.

Tubuhnya melemah, nafasnya tersengal.Namun Aji dengan sekejap membalikkan tubuhnya.Wanita itu sudah berada dibawahnya.

“Now my turn Love” Aji yang sedari tadi sudah menegang, menyatukan kembali miliknya di lubang nikmatnya.

“Aaaahhhh” Isti berteriak saat Aji mulai menarik putingnya dengan gigitan bibirnya, namun tak lama dia tersenyum menatap suaminya.

Pria itu mengulum dengan liar puting Isti, membangkitkan lagi gairah Isti.

Sedangkan dibawah dia terus menggoyang pinggulnya.Mata pria itu menjadi sayu, sesekali memejamkan matanya seolah menikmati apa yang mereka lakukan.

Dia mempercepat goyangannya, dan menghisap lebih kuat disertai remasan.

“Massshh” Isti pun merasa akan mencapai puncak kenikmatan lagi ketika milik Aji yang memenuhi lubangnya dan menggesek lebih cepat.

Akhirnya mereka berdua berhasil mencapai puncak kenikmatan bersama.Setelah Aji merasa seluruh spermanya telah terkuras habis, dia berpindah ke tempatnya.Bersandar di kepala ranjang.

“Sini!” Perintah Aji ke Isti yang masih mengatur nafas.

Dia menarik tubuh Isti mendekat ke tubuhnya.Isti kini duduk di atas tubuh Aji dengan arah yang sama.

“Kamu menduduki Ucil!” Bisik Aji sambil mencium tengkuk Isti.

Isti terkekeh, “kan Mas yang suruh!”

“Iya sayang” Aji menarik selimut untuk menutupi tubuh Isti yang ada didekapannya.

Tangan Aji melilit pinggang dan perut Isti, bibirnya mendarat sempurna ditengkuk Isti.

“Kamu berkeringat, sayang” satu tangan Aji bergerak menyusuri ditengah payudaranya.Pria itu bisa merasakan aliran keringat istrinya.

Lalu tangan pria itu turun ke kaki Isti, melebarkan kakinya, dan menuju ke lipatan selangkangan untuk merasakan keringatnya.

“Aku akan membuatmu lebih berkeringat.” Ucap Aji sambil memasukkan 2 jarinya ke lubang senggama Isti.

“Emmmhh” erang Isti.

Tubuhnya yang belum kembali normal makin lemas mendapat serangan tiba-tiba.Dia menyandarkan tubuhnya dengan pasrah di dada Aji yang tangannya sudah bermain di intim Isti.

Kepala Isti bersandar di bahu Aji, membuat suaminya menjelajahi lehernya dengan nyaman.Malam itu menjadi malam yang paling panas setelah pernikahannya, karena Aji terus menyiksa Isti dengan kenikmatan.

Mereka hanya beristirahat sejenak hanya sekedar minum dan mengatur nafas usai pencapaian, lalu bercinta lagi dan lagi.

***

Menjelang fajar mereka baru saja memejamkan matanya.

Karena sepanjang malam Aji selalu mengusik Isti mengakibatkan wanita itu mendesah dan mengerang.

Pukul 10 lebih sekian (siang hari).

Isti menggeliat, mengulet tubuhnya yang rasanya tak bertulang.Perlahan dia membuka matanya.Perutnya terasa lapar, minta di isi.

Mau tak mau dia bangkit dari ranjang, memakai kemeja suaminya bekas semalam.Berjalan menuju dapur, membuka kulkas dan mengambil beberapa bahan makan seadanya yang siap di olah.

Beberapa menit setelahnya.

Sudah tersaji di meja makan, sup yang hanya berisi sosis dan wortel, telor mata sapi dan nasi.Karena lapar, dia menyantap makanan itu lebih dulu, tanpa menunggu suaminya.Setelahnya Isti membersihkan diri dengan kucuran air hangat untuk menghilangkan lelah akibat gairah malam.

Dia tersenyum saat melihat bagian atas tubuhnya dipenuhi jejak petualang yang dibuat suaminya.Bekas kecupan, bekas gigitan, bekas cengkeraman dan ujung putingnya tampak bengkak karena suaminya tak melepaskan sedikitpun dari tangan atau mulutnya.

Wanita itu keluar dari kamar mandi, matanya tertuju pada kotak yang diberikan Steve kemarin.Isti membukanya, dan memapar kedua kain kecil yang berenda.

Sedikit melirik ke suaminya, ‘dia masih tidur, ga ada salahnya aku coba.’Dia pun menggunakan lingerie itu dikamar mandi.

Lingerie telah menempel di tubuhnya.Namun belum sempat bercermin, tiba-tiba ponselnya berbunyi dengan nada dering yang sangat familiar.

Bunda menghubunginya.Sontak dia keluar kamar mandi, melompat ke ranjang dan menutupi tubuhnya dengan selimut.Lalu dia mengambil ponselnya, menarik nafas sejenak dan melepaskan.

Isti : iya Bun..

Bunda: kalian baru bangun? Kok angkatnya lama? (Terlihat Isti masih dalam balutan selimut)

Isti : iya Bun, jam 3 baru tidur, abis nongkrong sama teman mas Aji.

Bunda : Aji masih tidur?

Isti : iya Bun, ini orangnya (Isti mengarahkan layar ponsel ke suaminya).Vazco dimana Bun?

Bunda : dia jalan-jalan sama papa dan Amar ke taman kota.

Isti : maaf kalo Vazco merepotkan.

Bunda : eh…ga boleh ngomong gitu, Vazco anak baik, pinter, ga merepotkan. Dia cucu Bunda. Ya Uda…kamu istirahat dulu. Bunda mau creambath.

Isti : iya Bunda… terimakasih sudah sayang sama Vazco.

Bunda : bunda juga sayang sama Isti, bye nak.

Isti : bye Bunda.Hubungan VC berakhir.

Isti meletakkan ponselnya di nakas. Saat akan beranjak dari ranjang, Aji memeluk pinggangnya.Lengan pria itu melingkar di perutnya.

“Bunda?” Tanya Aji dengan suara parau dan matanya masih terpejam.

“Iya” ucap Isti mengusap lengan yang melilit tubuhnya.

“Bunda ga pengen ngomong sama aku?”

“Ga bilang apa-apa, nanya doank.”

“Sebenarnya yang anak Bunda sapa sich? Beberapa hari kita disini telpon sama kamu terus.” Aji mencium tengkuk Isti.

“Cemburu?” Tangan Aji menangkup sebelah payudaranya.

“Kamu uda mandi? Kok uda pake bra?” Isti terkejut mendengar penuturan Aji, dia baru sadar jika saat ini memakai lingerie.

Padahal dia ingin mencoba tanpa sepengetahuan suaminya.

“I-iya”

“Kok ga nunggu aku?”

“Hm….a-anu..so-soalnya kebelet jadi sekalian” tubuh Isti makin kaku. Dia ga mau Aji melihatnya dalam kondisi seperti ini.

“Laper…..”

“Aku uda masak, mas bangun ya… ke kamar mandi sono!”

‘ntar kalo dia ke kamar mandi, aku lepas baju aneh ini.’lanjut Isti.

“Ntar aja, masih pengen peluk kamu dulu.” Aji menenggelamkan wajahnya ke tengkuk Isti.

‘eh..kok makin gini?’ Isti mulai kebingungan.

“Mmmmm…mas, aku ke kamar mandi dulu ya.”

“Hm.” Aji mengurai pelukannya, tanda dia mengijinkan.

“Selimutnya aku bawa ke kamar mandi.” Aji membuka matanya mendengar ucapan Isti dan mengernyitkan dahinya.

“Ngapain? Aneh aja! Kamu biasanya jalan di sekitar kamar telanjang, bugil.” Aji menatap aneh wajah Isti yang rautnya mulai tak karuan.

“Pe-pengen aja bawa selimut ke kamar mandi.”

“Ada yang sakit akibat semalam?” Tanya Aji dengan menopang kepalanya dengan satu tangannya menghadap Isti.Wanita itu menggelengkan kepalanya.

“Lalu?” Aji mulai berpikir, baru saja dia mencium tengkuk Isti dan memeluknya, rasanya tidak ada masalah.

“Itu……pengen pake selimut ke kamar mandi.” Isti berucap lirih.

“Love? Kamu pengen pake selimut ke kamar mandi karena……?” Aji menggantungkan kalimatnya.

“Malu” ucap Isti semakin lirih dan melirik suaminya.

“Malu?! Bukannya tadi aku bilang kamu biasanya seliweran telanjang bugil dikamar, mondar-mandir. Bagian mana yang sakit? Aku pasti menyakitimu kan?!” Aji mengusap lembut perut Isti dan mencium lembut kening istrinya.

“Kalo aku bilang, terus kalo mas liat, jangan ketawa ya!” Ucap Isti.Aji mengangkat kedua alisnya sekejap, dia makin tak paham apa yang diucapkan istrinya.

“Ok.” Perlahan Aji mengangguk.

Dengan perlahan Isti menurunkan selimut yang sedari tadi menutupi tubuhnya hingga leher. Dia menurunkan hingga perutnya. Aji hanya melihat payudara istrinya tertutupi bra yang berenda dengan warna hitam.

Baginya sudah biasa melihat kondisi seperti ini. Benda kenyal itu yang biasanya menggoda, namun saat ini terkalahkan akibat rasa penasarannya.Isti menatap wajah Aji, tak ada ekspresi apapun, hanya melihat bagian tubuhnya yang dia buka tadi.

“Mas?!” Panggil Isti.

“Malu banyak bekas jejak aku?” Tanya Aji dan menunjuk bagian yang ada jejaknya.

“Bukan.”

“Lalu?”

“Jangan ketawa ya!” Aji mengangguk.

Isti menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskan.

‘ok, dia suamiku, dia uda tau sisi tubuhku’Dengan mata terpejam, dia menyibak selimut yang menutupi bagian bawah tubuhnya.

“Astaga!” Pekik Aji.

Sekejap Aji mengumpat saat melihat bagian bawah Isti yang tertutupi thong dengan model open croth (bagian sensitif berlubang).

Sekejap Aji mengumpat saat melihat bagian bawah Isti yang tertutupi thong dengan model open croth (bagian sensitif berlubang)
Seketika dia sangat ingin menggigit dan menerkam istrinya.

“Dari mana?” Aji bertanya dengan suara parau meredam gairahnya, sambil mengusap bibir vagina Isti, dan berhasil membuat basah.

“Steve.” jawab Isti lirih.

“Sialan kamu, Steve!” Aji mengumpat lagi.

Tak sabar Aji segera bangkit dan memisahkan kedua paha Isti. Dia menenggelamkan kepalanya di intim Isti.

“Aaaahhhh” tanpa sadar Isti berteriak dan mengapit kepala Aji, namun pria itu menahannya.

Aji mulai mengigit dan menjilati klitorisnya.Setelah puas menjilati intim bawah Isti, Aji menyatukan miliknya.

“Kamu menyiksaku Love, dan akan aku balas!” Ucap Aji sambil meremas payudara istri dan menghentakkan pinggulnya.

Mereka ‘bermain’ hingga hampir sore, dan itupun karena Isti mengeluh nyeri dikulitnya akibat gesekan yang terus menerus. Aji yang hanya memakai boxer dan Isti memakai lingerie duduk di sofa berdampingan.

“Sarapan jam 3 sore?” Ucap Aji memasukkan suapan pertama ke mulutnya.

“Mas sendiri yang salah.”

“gara-gara kamu pakai itu”

“gara-gara Steve yang kasih”

“tapi kalo kamu ga pake ya ga mungkin aku seperti itu. Genit!”

“Mas yang ga bisa kontrol”Aji terkekeh mendengar bantahan istrinya.

“Kira-kira kapan sembuh dari nyerinya?”

“Ga tau! Kenapa?”

“Pengen lagi.”

“Mas…kita mulai semalam lho ya…” Isti mengingatkan.

“2 hari aku off, dan kita bermain sampe puas.” Aji menyudahi sesi sarapannya, dan meneguk air putih.

“Astaga…mas ga capek ya!”

“Abis ini aku ke bawah, ke apotek bentar, cari vitamin untuk mengobati ini.”

“Aaaahhhh” Isti berteriak lirih saat Aji menyentuh miliknya secara mendadak.

Pria itu terkekeh lagi, Isti memukul dada suaminya.

“emang Mas tau obatnya?”

“Bentar, aku liat bagian mana yang nyeri” Pria itu berjongkok didepan Isti.Dia menenggelamkan kepalanya di antaranya.

“Emmmhhh..Mash..kok gini?” sejenak Isti lupa nyeri pada kulitnya, berganti dengan nikmat.Aji melepaskan lidahnya, dan menatap istrinya.

“ngilangin nyeri, uda ga sakit lagi kan?” Isti menggelengkan kepalanya dengan menahan senyuman yang membuat pipinya merona, membuat Aji makin gemas.

Pria itu melanjutkan kegiatannya yang sempat terhenti.

Dan selama 3 hari, mereka menghabiskan waktunya dengan bercinta.

Entah didapur, di kamar mandi, di sofa di meja makan, dimana pun Isti berada, disitu Aji akan menjahili dan menggodanya dan berakhir menikmatinya.

Usai bercinta, Aji selalu memeluk Isti dari arah belakang, mengusap perutnya dan mencumbu tengkuknya.

“Mas, besok aku ke cafe, after work hour. Boleh ya?”

“Sama sapa?”

“Yang pasti ada Gayatri dan Mega.”

“Ok, kalo gitu aku janjian di sana juga aja.”

Bersambung