Complicated Part 13

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Tamat

Cerita Sex Dewasa Complicated Part 13 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya :  Complicated Part 12

Fajar menyingsing.

Isti bangun lebih dulu untuk menyiapkan kebutuhan sarapan mereka berdua.

“Mas…sudah jam 6, bangun donk” Isti mengusap kening suaminya.

“Arrghhh” Aji menggeliat memunggungi Isti.

‘hm..kalo gini terus ga bangun-bangun’ batin Isti.

Muncul ide jahil Isti. Tak lama, Isti kembali dengan gayung yang berisi air. Dia memercikkan air ke wajah suaminya.

“Love!” Aji merengek dan terpaksa bangun karena merasakan air dingin diwajahnya.

“Sori sayang..ini uda hampir jam 7, katanya mau janjian sama notaris” ujar Isti meninggalkan suaminya yang masih mengerjapkan matanya.

“Astaga…kenapa aku bisa jatuh cinta dengan wanita bar-bar ini?” ucap Aji sambil menenggak air putih tepat disebelah Isti.

“jadi kamu nyesel dengan wanita bar-bar ini?” tanya Isti dengan galak.

“nyesel..kenapa ga dari dulu kita menikah” sambil memeluk Isti dari belakang dan mencium lembut tengkuknya. Isti pun berbalik, mencium pipi suaminya.

“Kamu ati-ati ya! kontrol emosi… sebenarnya aku pengen ketemu dengan orang yang bernama Johan” ucap Aji.

“Ck! untuk apa? Untuk mengorek tentang aku lebih dalam?” Tanya Isti cemberut.

“Aku harus terima kasih …dia sudah melepaskan kamu” Aji mengecup kening istrinya.

Isti tersenyum bahagia,”I love you”

“Love you more, sweetheart” balas Aji.

Setelah membersihkan diri, Aji berangkat lebih dulu. Sedangkan Isti masih membereskan apartemen, setelah selesai dia meninggalkan hunian itu.

Turun dari Taksi, Isti berjalan dan menapak beberapa anak tangga menuju pintu utama yang terbuka otomatis.

Penampilannya sangat menarik perhatian, terutama kaum Adam.Kulitnya yang kuning langsat mulus terlihat kontras dengan balutan minidress hitam berlengan pendek, ikat pinggang kecil warna abu yang melilit di pinggangnya semakin memperlihatkan lekuk tubuhnya berisi proposional.

Rambut hanya dikuncir kuda, beberapa helai terlepas dari ikatan, menghiasi leher jenjangnya yang mulus.

Walaupun tanpa senyum, bibir yang terpoles lipstick maroon membuatnya makin terlihat sensual dan tegas.Kacamata coklat yang bertengger dihidungnya terlihat elegan.Tangannya menjinjing tas brand lokal kenamaan Rorokenes. Kakinya yang beralas Stiletto karya anak bangsa Niluh Djelantik melangkah dengan penuh percaya diri memasuki lobby, menghampiri meja resepsionis.2

“Siang mbak Gladys, bisa ketemu dengan Ibu Gayatri atau Atri?” tanya Isti sambil melepas kacamata coklatnya.

“Maaf, dengan Ibu siapa ya? kok rasanya ga asing….” tanya Gladys berusaha mengingat.

Isti senyum simpul,” minta tolong mbak Atri ya sayang, yang janjian uda di bawah”.

Tak sabar Gladys menghubungi lewat internal call.

“Mbak Atri, ini ada yang janjian, uda datang. eh mbak..kok kayaknya aku kenal ya..tapi sapa?” tanya Gladys kepo.

Sayangnya Atri tak menjawab, dia langsung menutup telepon Gladys dan turun melalui lift. Isti menunggu di lobby, duduk di sofa sambil memainkan ponselnya.

“Istiiiii!” teriak Atri, suaranya memecahkan keheningan lobby.

Beberapa orang yang disekitar reflek meilihat ke arah Atri berjalan mendekati Isti yang berdiri sambil membentangkan tangannya.

Mereka saling memeluk, cipika-cipiki melepas rindu. “Ayok ke atas aja!” pinta Atri.

“Eh…nanti aku ganggu, aku tunggu disini aja, lagian ini salah aku juga datangnya kepagian” jawab Isti.

“aku butuh bantuanmu sayang..rapikan invoice!” sahut Atri.

“Tenaga ku mahal lho” canda Isti.

“Bayarannya makan siang aja ya” Atri membalas candaan.

“tunggu! Gladys…ini KTPku, minta nametag Visitor donk” Isti menghentikan langkahnya didepan Gladys.

“ga usah mbak Isti, kan uda kenal ini..maaf tadi saya lupa..soalnya makin cantik” ucap Gladys.

“It’s ok Glad” sahut Isti sambil mengembangkan senyumnya. Isti dan Atri pun berjalan menuju ke area kerjanya yang dulu pernah Isti jalani.

Saat jam makan siang mereka menuju ke cafetaria yang tak jauh dari area parkir.
Johan yang sedang perjalanan dinas mampir kekantor untuk memberikan laporan selama kunjungannya di daerah.

“mereka masih istirahat ..aku makan dulu aja” ucap Johan berbicara pada dirinya sendiri.
Johan melangkah ke cafetaria, sebelum masuk dia mengambil ponselnya.

“Tasya..aku sudah dikantor, kamu dimana?”

“-…..-”

“Ok..aku kesana” Johan mematikan ponselnya.

Johan memasuki cafetaria, dan tampak seperti biasanya, ruangan itu penuh dan banyak manusia yang sedang curhat, ngobrol santai, atau hanya sekedar menatap ponsel.

Hingga langkahnya terhenti di meja yang sudah ada Tasya, sekretarisnya.

“Kak Johan..aku kangen” Tasya bergelendot manja di lengan Johan.

“Iya honey..aku juga kangen” Johan mencium pipi Tasya tanpa malu didepan banyak karyawan.

Tak jauh dari meja Johan, terdapat segerombolan wanita-wanita cantik yang sedang mengobrol.

“Pasangan alay!” ujar seseorang di antara mereka.

“sapa?” tanya Isti.

“noh! Johan ama sekretarisnya” jawabnya.

“Is..bukannya kamu dulu pacaran ama Johan ya? dulu katanya kamu mau nikah..ga ada kabar apa-apa kamu mendadak resign, lalu ilang..gimana sich?” tanya Atri.

“Aku memang nikah sama dia, tapi cuma 3 bulan, anggap aja ga jodoh Tri…udah lah! aku ga mau bahas!” jawab Isti berusaha jujur.

Seluruh pegawai dikantor ini tidak pernah ada yang tahu pernikahan singkat Isti.

Sekarang wanita itu sudah siap memberi tahu kepada temannya mengenai pernikahan singkat dari mulut dia sendiri, dan berusaha berdamai dengan masa lalunya.
Berbagai macam respon dari mereka, ada yang menyayangkan dan ada yang bersyukur Isti bercerai dengan Johan.

“Tasya betah amat ama si Johan, cuma digituin aja, ga di nikahin” ujar seseorang yang lain.

Pintu cafetaria terbuka, tampak seorang wanita celingukan mencari seseorang. Akhirnya matanya menangkap seseorang yang sedang dicari.

“ISTIIIII!!!!!” Teriak wanita yang bernama Mega.Dulu saat di kota ini, hanya Gayatri dan Mega orang yang paling dekat dengan Isti, tapi tidak dengan kehidupan pribadi, hanya sekadar dekat.

Isti pun berdiri tersenyum dan melambaikan tangannya.Spontan Johan melihat arah kemana wanita itu berjalan.
Matanya menatap ke wanita yang pernah mengisi hari-harinya.Wanita itu terlihat sangat menarik, terawat, lebih segar dan bahagia.Senyumnya terlihat lepas.Para wanita berkumpul kembali, ngobrol ringan dan tertawa bersama.

Johan tidak melepaskan pandangannya dari mereka, hingga wanita yang ada disampingnya tidak dihiraukan lagi.

“KAK!” pekik Tasya

“A-apa?” tanya Johan tergagap.

“Liat sapa sich?!” ucap Tasya kesal.

“ga pa pa..ayok makan” ucap Johan ringan.

Jam Istirahat telah usai, Johan hendak kembali ke ruangan, namun dia menunggu Isti. Isti serasa tak peduli tentang Johan lagi, dia pun cuek walaupun mata mereka sempat bertabrakan.

Segerombol wanita itu juga membubarkan diri, ada yang langsung ke counter ada yang langsung ke ruangan.Isti, Gayatri dan Mega melangkahkan kaki antri untuk menaiki lift.

“Ting” pintu lift terbuka, dan mereka memasukinya.

Tak jauh ada seorang lelaki dan seorang wanita ikut memasuki lift, Johan dan Tasya.

3 wanita itu mundur beberapa langkah agar mereka muat dalam 1 lift. Isti mengetahui keberadaan Johan, namun tatapannya seolah tidak mengenal pria itu.Johan mencuri pandang melalui pantulan dinding lift yang hampir menyerupai cermin.

Terlihat jelas wajah Isti yang seolah tak mengenalnya.

“Kamu berapa hari disini?” tanya Atri.

“Mungkin 10 harian, bisa lebih” jawab Isti.

“ada urusan apa kesini?” tanya Mega.

“cari mangsa!” jawab Isti singkat.

“mangsa?”

“iya..kali aja dapet pemilik batubara, pemilik sawit, pemilik tambang..” jawaban Isti mengundang pikiran buruk. Atri dan Mega terkekeh mendengar candaan Isti.

‘dasar jalang, ga salah kalo aku ceraikan’ batin Johan. 1

“Jadi kamu bisa kan datang ke resepsi pernikahanku?” Tanya Mega.

“Iya… Sabtu ini kan? kamu nikah bulan kemarin, tapi ngadain resepsi sekarang?” Tanya Isti.

“Iya…ntar resepsi besok baru bisa kumpul semua. . datang ya?”

“Siap”

“Rabu depan kita ngumpul di cafe xxx ya, awas aja kalo ga datang! Ntar aku kabari lagi tepatnya.” ancam Atri.

“Beres!” sahut Isti, dia merasa diperhatikan oleh pria yang ada didepannya.

“Besok siang kamu mau kemana lagi? Kalo free ke sini lagi aja” Tanya Atri.

“Body treatment maybe…yang ada diplaza, sekalian meet someone” ucap Isti nyantai.

“Pacar?” Tanya Mega.

“Mantan pacar” sahut Isti.

“Ting” pintu lift terbuka dilantai 15 (lantai divisi perawatan kulit)

“Permisi” ucap Atri.

Johan dan Tasya menggeser tubuhnya untuk memberikan jalan kepada 3 wanita itu.Isti berjalan paling belakang, dengan penuh percaya diri melangkah meninggalkan lift, dia juga meninggalkan aroma harum Clarins yang menjadi ciri khas Isti.

‘aroma tubuhmu tidak berubah’ Johan dengan pandangan tak lepas dari Isti.

Jam 15.00

Isti memasuki apartemen. Usai VC dengan anaknya, dia berbaring santai di ranjang yang berukuran queen size. Tak lama diapun terlelap.

Satu jam kemudian, Aji pulang.

Didapatinya istrinya memakai baju yang masih lengkap. Aji menghampiri istrinya, dan mengecup keningnya.Dia melepaskan seluruh pakaiannya, hingga tersisa CD nya saja.

Aji menurunkan perlahan restliting bagian belakang busana istrinya.Kulit punggungnya yang mulus terlihat jelas, dia pun membuka kaitan bra yang menghalangi pandangannya.

Aji mendaratkan bibirnya di punggungnya, Isti tidak merespon.Pria itu menyusupkan tangannya ke dada melalui sisi samping.Dia hanya menemukan satu benda kenyal.

“Hmmmm…” Isti melenguh saat Aji meremas lembut payudaranya.

Tak sabar Aji mendekap erat tubuh istrinya, dan menekan miliknya yang sudah menegang dibagian pantat Isti.Isti mengerjapkan matanya, tangan prianya sudah melingkar di perutnya.Wanita itu memutar tubuhnya dan melihat ke arah suaminya.

“Mas…baru datang kok langsung horny? Abis liat sapa?”

“Liat cewek terbaring sendiri diranjang, sayang kalo di anggurin” ucap Aji memeluk Isti seperti guling sambil menggesek-gesekkan miliknya ke tubuh Isti.

“Mas mesum ih!” tutur Isti mendorong tubuh suaminya dan meninggalkan Aji diranjang.

“Ayolah Love…..!Uda pengen banget” rengek Aji.Pria itu makin bergairah saat melihat Isti melepaskan seluruh busananya dan hanya tertinggal CD.

“Aku mau pipis dulu” Isti makin menggoda suaminya.Tak sabar Aji menunggu Isti dipintu kamar mandi.Isti terkejut saat melihat suaminya yang menunggu di pintu.

Seketika Aji mendorong Isti masuk lagi ke kamar mandi. Mereka bercinta dikamar mandi dibawah kucuran shower, lalu melanjutkan lagi di bathtub.Dan mereka terlelap karena lelah bercinta.Keduanya tertidur hanya tubuh yang tertutup selimut saja.

Jam 19.00

Aji merasakan perutnya minta asupan.

Dia terbangun lebih dulu, dia bahagia saat bangun melihat istrinya ada disampingnya.

“Love…makan malam ya” Aji mencium pipi istrinya, tapi tidak ada respon.

Aji menyibak selimut yang menutupi tubuh wanitanya.Dia tersenyum saat melihat tanda cinta dibeberapa bagian dada Isti. Aji mengulum puting payudara Isti, tangannya menjelajahi intim pasangannya.

“Eeehmmmm” Isti merasakan seseorang mengganggu tidurnya.

Aji terus menyusu seperti anak kecil yang kehausan, tangannya sudah merasakan cairan cinta yang keluar dari liang surganya, jarinya tanpa permisi masuk ke lubang kenikmatan.

“Masshhhh…” Isti mendesah, nafasnya yang memburu akibat sentuhan suaminya.

“Kalo bangunin seperti ini kan enak..jangan disiram air seperti tadi” ucap Aji yang tangannya belum lepas dari intim Isti.Isti menggerakkan pinggulnya mencari kenikmatan.

“Mas….tadi sore kita baru bercinta, sekarang lagi?” Ujar Isti yang nafasnya makin berat.

“Seandainya bisa, penisku tetap terus menancap di vaginamu Love” ucap Aji sambil mengecup lembut bibir Isti.

Aji tak sabar menyetubuhi wanitanya, dia memposisikan dirinya mengungkung Isti.

“Cepat selesaikan Love ..aku laper” ujar Aji menusukkan miliknya ke intim Isti yang sudah basah.

Isti hanya menggelengkan kepalanya atas kelakuan suaminya.Aji memeluk erat tubuh istrinya, bibirnya menjelajahi leher Isti sambil pinggulnya bekerja mengguncang tubuh Isti.

Isti mendesah nikmat akibat sentuhan dilehernya dan tindakan kasar diintimnya.Wanita itu meremas rambut prianya, tubuh yang menempel erat membuatnya makin bergairah.

Tanpa kata, Isti mengangkat pantatnya dan meremas pantat suaminya, Aji mempercepat tempo hingga mereka mencapai puncak kenikmatan bersama.

***

“Love… besok aku mau silahturahmi ke rekan bisnis, dia di Batu Licin. Mau ikut?” Tanya Aji sambil menikmati hidangan sarapan.

“Sabtu besok kan resepsi pernikahan Mega …aku pengen datang. Mas nginep?” Tanya Isti yang duduk di sebelah suaminya.

“Ga nginep…cuma aku datang telat. Rasanya aku bareng sama Ardiansyah dan Syamsuddin, ternyata mereka juga kenal keluarga Mega.”

“Siapa mereka? Mas ga pernah cerita.”

“Mereka duren…duda keren. Rekan bisnis.”

“Tapi mas ga berencana menduda seperti mereka kan?”

“Love…aku masih pengen menikmati liang hangatmu” Ucap Aji sambil mengangkat alisnya.

“Ish…pagi pagi pikirannya uda kesana” ucap Isti menunduk malu.

“Hari ini mas kemana?” Mengalihkan pembicaraan.

“Aku ke ruko, liat hasil yang baru di renovasi, karena Minggu depan harus sudah siap digunakan. Kamu kemana?”

“Traditional Body treatment ditengah kota, mungkin berangkat siang.”

“Kalo sudah selesai kita makan bareng. Hubungi aku!” Ucap Aji mencium puncak kepala istrinya.

Aji pun meninggalkan apartemen, Isti kembali berkutat dengan pekerjaannya sebagai ibu rumah tangga.

Jam 12.15

Isti tiba di plaza pusat kota.

Dia langsung menuju lift untuk mengantar tujuan utamanya.Isti yang hanya menggunakan skinny jeans dongker, atasan bodyfit putih dan sepatu sneaker tampak begitu santai.

Tak lupa tas ransel dan kacamata hitam selalu menemani.Sambil menunggu dia melihat seluruh penjuru yang ada dilantai ini.’tak banyak berubah’ Isti membatin.

‘Ting’

Isti melangkahkan kakinya memasuki ruangan kotak kecil.Dia menekan tombol lantai paling atas tempat tujuannya.

Tanpa sepengetahuannya ada Johan dan Tasya di lift itu, dan seorang lagi.”Kamu Isti yang kemarin datang ke kantor kan?” Tanya Tasya.

Isti terkejut ada seorang yang mengenalnya, yang ternyata orang dari masa lalunya.”Hm” Isti menjawab dengan mengangguk kepalanya dengan sedikit tersenyum.

“Kak…dia mantan kamu kan?” Tanya Tasya ke Johan.

“Mantan istri tepatnya, cuma 3 bulan nikah” Ucap Johan.

Otak dan hati Isti sudah mulai terganggu akibat ucapan Johan.Rasanya dia ingin menampar mulut pria yang pernah menjadi bagian hidupnya.

Tapi dia ingat kata suaminya untuk mengontrol emosi dan berdamai dengan masa lalunya.’berdamai ?? Ga akan!’ Isti mengumpat dalam hati.

“O…jadi Janda?”

Isti hanya diam. ‘cuekin’

“Pria mana yang mau ama janda? Perawan masih seliweran.” Sahut Tasya.2

Astaga… mulutnya pengen aku sumpel ama kaos kaki.

“Atau mau jadi istri simpanan? Kan banyak pemilik tambang disini…” Tasya makin menyerocos.

Gila…si cowok kok diem bae? Serasa memberi ruang mengolok, mengejek, merendahkan…awas kamu! duh…kok lama banget sich lift ini…

“Ga salah…paling tujuan kesini mau jadi wanita penggoda, dulu kenapa kak Johan mau ama dia? Kalo cuma bertahan 3 bulan aja.” Tasya makin jadi.

Isti makin sesak, matanya sudah berkaca-kaca, dia kesal namun tak bisa mengungkapkan kekesalannya, untung ada kacamata yang melindungi.’tolong..jangan nangis didepan mereka’ batin Isti.

“Cewek gampangan… sekali nyatakan cinta langsung terima” jawab Johan.Isti mengumpat dalam hati, tubuhnya menegang.’segitu murahnya aku?’

“Like a Bitch?” tanya wanita itu.

“Hm” jawab sang Pria.

Hati Isti semakin bergemuruh panas.’Ting’ lift terbuka dengan lantai tujuan Isti, tanpa sapa dia meninggalkan ruangan kecil itu.

Airmatanya menetes di pipinya, dia mampir ke kamar kecil untuk menenangkan dirinya.Lalu dia melanjutkan ke tujuan awalnya, body treatment.

Pukul 16.00.

Aji : Love…kamu dimana? Aku Uda dilantai 6

Isti : Mas dimana? Mas tunggu di toko olahraga xxx seberang toko buku ggg, bentar lagi aku keluar.

Aji : ok..

Aji sudah tiba di tempat yang dimaksud Isti, dia menoleh ke kanan kiri menanti wanitanya.Isti berjalan cepat menuju Aji, rasanya dia ingin menumpahkan seluruh kekesalan hatinya.Aji tersenyum melihat orang yang ditunggunya.

Tak sabar Isti pun memeluk suaminya erat seperti pasangan yang lama tidak bertemu.

“Aku kangen” ucap Isti menyembunyikan wajahnya di dada bidang suaminya.

‘kangen? Lama ga ketemu? Lakinya orang mana? Kayak bukan orang sini’ batin Johan yang duduk di gerai minuman yang tak jauh dari mereka.

“Ok …” Aji menyambut pelukan istrinya, namun dia merasa ganjil, tidak biasanya Isti memeluk di tempat umum, apalagi mereka hanya pisah beberapa jam saja.

“Kamu sangat harum” Aji mencium aroma dari ceruk leher istrinya.

“Mas…geli” Isti melepaskan pelukannya dan tertawa kecil.

“Berapa duit yang kamu habiskan bisa harum banget seperti ini?”

“Emang biasanya ga harum?” Tanya Isti manja.

“Harum…tapi sekarang harum banget”

“Ini tagihannya” ucap Isti sambil mengeluarkan kertas kecil dari sakunya.

“Wow…kamu harus kerja keras malam ini Love” ucap Aji melihat kertas kecil yang diperlihatkan ke dirinya.’dasar jalang! bayarannya cuma buat ke salon aja?kalo segitu aja aku juga bisa, oh…jadi dia ke salon untuk servicenya malam ini’ Johan berkutat dalam pikirannya.1

“Mas laper…” Isti kembali merengek.

“Ayok.. sepanjang jalan nahan lapar demi kamu” Aji mencubit gemas pipi Isti.

“Mas sakit!” Isti menggosok bekas cubitan sambil berjalan menggelayut manja di lengan suaminya.

Saat di ranjang Aji menceritakan aktivitasnya.”Selain body treatment kamu ngapain?” Tanya Aji mengecup puncak kepala istrinya yang berbaring di sebelah dadanya.

“Cuma ke salon aja, berangkatnya kan juga siang.”

“Lalu?”

“Lalu ketemu Mas, uda ..gitu aja” jawab Isti.

“Ok” sahut Aji yang masih penasaran, tapi dia ga mau memaksa Isti untuk bercerita.Jari Isti menari di dada Aji yang tanpa penutup membuat darah pria itu berdesir.

“Love….”

“Hm”

“Si Ucil pengen hangat-hangat”

“Ucil sapa?” tanya Isti heran mendengar sebutan baru dari suaminya.

“Ini!” Aji mengambil tangan Isti dan mengarahkan ke miliknya yang sudah mengeras. Isti tersenyum sambil meremas milik Aji, membuat sang pemilik mengeram.

“Oh,dia punya nama? kalo punya aku?”

“Microwife?”

Isti terkekeh mendengar nama pengganti yang dibuat suaminya.” Hot and wild ya mas?”

“Ga Love! Kamu tahu kan akibatnya?”

“Aku maunya gitu! kalo ga, ya uda ga usah aja” Isti mengancam sambil mengerucutkan bibirnya.

“Ok, tapi kamu bilang kalo kamu ngerasa ga nyaman ya” Aji mulai mencium rambut istrinya yang membangkitkan gairahnya.

***

Hari Sabtu.

“Kamu sudah siapkan pakaian untuk nanti malam?” tanya Aji yang duduk di sofa sambil menunggu jemputan.

“sudah Mas sayang” ucap Isti dengan nada manja yang ada di sebelahnya.

“aku jadi males pergi, biar Ucil _” mencium pundak Isti.

“Maaas!” potong Isti.

Aji mengusap acak rambut istrinya.”Kamu hari ini ngapain?”

“ga ada, paling ambil baju, prepare”

“Ntar berangkat ama sapa ?”

“Gayatri ama suaminya”

Tak berselang lama terdengar dering ponsel Aji.”sudah dijemput, aku berangkat ya. Kamu jaga diri baik-baik. Oh iya, kalo kamu uda pake gaun, fotoin. Biar ga susah cari. Kabari kalo uda dijemput Gayatri. Ntar kita janjian di lobby ya…Kalo aku kelamaan, kamu masuk dulu aja. Kita_”

“MAS! Buruan Pergi!” Isti memotong ucapan Aji yang sedari pagi diucapkan, dia mendorong suaminya ke arah pintu.

“Astaga, dosa ngusir suami!”

“uda di tunggu Masku sayang, lagian ucapan Mas seperti mesin penjawab, pesannya diulang mulu.” Isti mencium sekilas bibir suaminya.

“pasti aku kangen” Aji menoleh di ambang pintu.

“halah..kalo uda ama kerjaan paling lupa!” Isti berdiri hendak menutup pintu dan mencebik. Pria itu tertawa lepas, tak membantah ucapan Isti lalu berjalan meninggalkan istrinya.

Pukul 18.00

Isti sudah siap dengan gaun yang disewanya.Rambut tergulung rapi, anak rambutnya menghiasi lehernya yang mulus.Make Up yang natural membuat dia tampak cantik alami.

Sembari menunggu Gayatri, dia melakukan VC dengan suaminya
Aji : Iya Love…

Isti : Mas dimana? kira-kira nyampek ke Mega jam berapa?

Aji : aku ga tau tepatnya dimana ini, katanya kita nyampek di Mega paling 45 menit lagi.

Isti : Mas uda mandi?

Aji : nanti mampir di rumah Ardi. Agak jauhin donk cameranya. Kamu pakai baju apa?

Isti meletakkan ponselnya di meja, di sanggah vas bunga.Dia berjalan menjauhi ponselnya.Tampak dia berputar kekanan dan kekiri.

Tampak dia berputar kekanan dan kekiri
Isti : Keliatan?

Aji :Kamu beneran pakai itu?

Isti : Iya…

Aji : Tapi kan_

Isti : I Know, It’s Ok. Mas, aku uda di jemput. Ntar lanjut lagi, Miss you Mas.(Terdengar nada dengar pada ponsel yang lain)

Isti memutuskan VC.

Tiba di Hotel tempat resepsi Mega.

“Wew…Johan bisa minta balik lagi kalo liat kamu seperti ini” ujar Gayatri sambil mengapit lengan suaminya.

Isti tersenyum sinis.

“Eh, itu lenganmu kenapa?” tanya Atri melihat lengan isti tampak merah bekas cengkeraman.

“Permainan suami semalam, ini juga” Isti membalikkan tubuhnya, tampak sebuah bekas kecupan berwarna keunguan.Isti hanya bercerita ke Mega dan Gayatri mengenai pernikahannya dengan Aji.

“Wow..kalian liar ya” Gayatri menggoda, Isti hanya mengangkat kedua bahunya.

“Kamu kalo mau naik duluan ga papa, aku nunggu suami disini” ucap Isti.

“Ok..kita naik dulu ya, kita semeja kan?” pamit Atri

“Iya donk, supaya makin enak nge gibah” ucap Isti santai.

Setelah beberapa menit, Isti menelepon suaminya.Ternyata suaminya prepare di rumah Ardiansyah.

Aji memintanya untuk masuk duluan, tapi Isti tak bersedia karena meja mereka akan terpisah.Setelah bujuk rayu Aji, wanita itu memenuhi permintaanya.

***

Isti masih duduk di sofa lobby, lalu dia melihat pasangan fenomenal itu, Tasya yang menggunakan minidress ketat mengapit lengan Johan.

Dengan segera dia berjalan mendahului, berdiri di depan pintu lift untuk mengantri.

Pasangan itu berdiri tepat di belakangnya.Walaupun tanpa tahu wajahnya, Johan sangat paham siapa wanita yang ada didepannya.Aroma parfum Isti yang khas menghantui pikirannya beberapa hari ini.Terlebih lagi saat Johan melihat dengan jelas bekas cecapan di punggung Isti yang berwaran merah keunguan, membuat pikirannya berkelana.

Pintu Lift terbuka, Isti masuk lebih dulu, dan menghadap ke arah pintu.Tanpa sengaja mata Johan dan mata Isti bertabrakan.

Kotak kecil itu hanya berisi 3 orang.

“Ketemu jandamu lagi kak” Tasya memecahkan keheningan dengan suara yang cukup menarik perhatian

“Sendirian ya? pasti cari mangsa kan? secara keluarga Mega orang kaya, pasti para konglo ngumpul semua” Tasya berdiri di antara Johan dan Isti.

Dia mengapit makin erat lengan Johan.Isti berusaha cuek, dia hanya tersenyum dan mendengarkan, sambil sesekali melihat Johan yang sering mencuri pandang ke arahnya.

“Emang jalang ya gitu, segala cara dipake untuk dapetin uang” Tasya masih menyerocos pedas.

“Benar, saya memang jalang! Kamu cukup awasi pasangan pria mu supaya matanya ga jelalatan! Dan pastikan dia dalam jangkauanmu!” ucap Isti sambil berjalan keluar lift.

Tasya menoleh ke Johan, dimana pria itu masih tertegun melihat keanggunan Isti.Wajah Isti tetap sama, namun dia semakin anggun dengan balutan busana yang membuat dia terlihat elegan.

“Kak?!” Pekik Tasya.Johan gelagapan mendengar sapaan Tasya.

“Apaan sich! Berisik!” Balas Johan.Terdengar keributan kecil antara Johan dan Tasya di belakangnya, Isti tersenyum puas menjadi biang keonaran.

Memasuki ballroom Isti celingukan mencari orang yang dikenalnya.

Beberapa wanita berkumpul dan melambaikan tangan, Isti menghampiri”Kita di meja mana?” tanya seseorang.

“Kebetulan meja kita sebelahan” jawab seseorang lagi sambil melihat nomor meja di undangan.Dan ternyata meja itu sudah ada Johan dan Tasya.

“Boleh, aku di sini aja” Isti menunjuk meja yang ada pasangan itu.

Tak lama Gayatri dan suami yang dari balkon ikut bergabung.”Beneran kamu disini?” tanya Gayatri berbisik yang duduk di sebelah Isti.

“iya Atri cantik” sambil melihat Johan sekilas yang ada di seberangnya.Pria itu terlihat gugup saat terciduk memperhatikan dirinya.

“Isti?” panggil seseorang yang berdiri di belakang Johan.Isti melihat dan tersenyum, lalu dia berdiri dan mengahampiri wanita itu.

“Lina, apa kabar?” Isti menyalami dan cipika-cipiki.Lina adalah karyawati yang resign, lalu Isti yang menggantikannya.

“Baik, undangannya jauh banget ya, sampe Surabaya. Kamu makin cantik.”

Johan mendengarkan suara Isti yang terus berbincang dan menikmati aroma parfumnya.

Mereka bercanda hingga Lina mengeluarkan air di sudut matanya.”haduh..gini dech kalo kebanyakan tawa” ucap Lina

“Aku ambilin tisu. Tri tisu donk!” Ucap Isti ke arah Gayatri.Gayatri mengambil sebungkus tisu poket dan meletakkan tepat didepan Johan

“Permisi…”

Isti menyisipkan badannya di antara Johan dan Tasya, dia membungkuk dan mengambil tisu.Johan menegang saat mencium aroma itu sangat dekat, dia memperhatikan, leher, wajah dan segala hal dari Isti yang hanya terpisah beberapa inci.

Tasya terkejut melihat tindakan Isti, lalu dia memperhatikan Johan yang tertegun menatap Isti.
Usai memberikan tisu, Lina kembali duduk ditempatnya, begitu juga dengan Isti.

“Apa kamu sengaja menggodanya?” tanya Tasya ke arah Isti, yang bisa didengar oleh penghuni meja itu.

“Maaf?” tanya Isti

“Kamu ambil tisu dan sengaja menggoda Johan kan?”

“Saya hanya ambil tisu aja, kamu tanya pria mu, apakah dia tergoda?”

“Kamu?” tanya Tasya menatap Johan.

“Di-dia hanya mantan honey, dan aku yang membuangnya, ga mungkin aku tergoda lagi” ucap Johan dengan gugup.

‘MUNAFIQ’ batin beberapa penghuni meja, jelas-jelas mata Johan terlihat bergairah, memandang buas dan lapar saat Isti berada didekatnya tadi.

“Lihat kan! Dia tidak tergoda” Sahut Isti enteng dengan wajah mengejek, sedangkan Tasya masih mengomel pelan ke Johan.

Yang lain menunduk dan tersenyum melihat ulah Isti.Atri yang sibuk dengan ponselnya, ternyata membicarakan insiden ‘tisu’ di group ‘gemar gibah’ dimana ada beberapa orang yang ada dimejanya.

Mereka saling menimpali dan beberapa orang menyayangkan karena tidak bisa melihat secara langsung.

“Is…kamu dicari pak William. Itu..disana!” Gayatri menujukkan Pak William selaku mantan atasan Isti ada dimeja yang tak jauh dari mejanya.

Isti berdiri dan menghampiri mantan bosnya, dan menyapa beberapa orang yang dikenalnya.Mata Johan tak lepas dari gerak-gerik Isti.

Dia menikmati saat Isti tersenyum, tertawa, berbicara dan itu membuat miliknya menegang.’Sialan! Kenapa dia makin menggiurkan!’ batin Johan.

Tak berselang lama Isti kembali duduk dimejanya.

“Kata orang angka 13 itu angka sial. Sialnya laki-laki tampan ngumpul di meja 13!” celetuk seseorang.

“Exmud,….haisshhh jadi pengen dipangku, bersandar terserah deh yang mana, pokoknya salah satu di antara mereka.” seseorang menimpali dengan menatap meja itu.

Tak ayal, mereka yang mendengar omongan itu serempak mencari meja 13, dan melihat siapa saja yang duduk di meja itu.Beberapa penghuni yang semeja dengan Isti, memperhatikan cara Isti menatap seseorang yang ada di meja 13 dengan intens.

“Isti juga pengen duduk di pangkuan mereka?” tanya seseorang yang membuyarkan tatapannya.

“Boleh dicoba” ucap Isti enteng dengan senyum menggoda.

Sorakan lirih dan godaan terdengar dimeja itu.

‘wow’

‘yakin bisa’

‘lancarkan’

“Incaran Isti yang mana?” Tanya seseorang, tapi Isti tak menjawab, matanya etrtuju pada suaminya.

“Disitu milyader muda semua kayaknya. Bisa bawa pulang 1 ga ya? Tapi kok di sana laki semua? Istrinya ga di bawa? Atau masih lajang?” Sahut seorang lagi.

Aji yang ada di meja 13, merasa ada yang memperhatikan, dia menoleh, dan terlihat wajah istrinya dengan senyum yang menggoda.Dia menggelengkan kepalanya.

“Bitch” ucapan lirih Johan masih terdengar diantara mereka.

Aji mengirimkan pesan berkali-kali, mencoba misscall. Namun Isti mengabaikan.Saat ini dia hanya fokus menggoda pria yang ada diseberangnya dengan gerakan sensual dan kalimat absurd.

Acara dimulai, serangkaian acara resepsi berjalan dengan sempurna.Beberapa hidangan datang silih berganti.Dan hidangan penutup sebagai tanda acara bebas akan segera dimulai.

Aji bangkit dari tempat duduknya, dia berjalan menuju meja Isti.

“Boleh saya minta waktu sebentar?” Tanya Aji kepada Isti dengan mengulurkan sebelah tangan.

“Tentu” Isti menyambut tangan prianya dan menggenggam dengan hangat.

Wanita itu berdiri, berjalan dalam genggaman prianya.

“She did it!” Ucap seseorang.

“Pria mana yang ga terkiwir-kiwir sama Isti?” Seseorang menimpali.

“Alah, biasa aja! Lebih cantik dan lebih seksi aku!” Ujar Tasya menyahut.

“Emang cantik dan seksi situ, tapi Isti lebih berkelas dan lebih elegan. Sebagai pria normal pasti lebih penasaran sama Isti daripada sama situ.” Bela Gayatri yang sedari tadi diam.

Aji mengajak Isti keluar ruangan, mereka menuju balkon.Berdiri berdampingan sambil menikmati indahnya malam.

“Love, kamu tadi ngapain?” Tanya Aji membuka percakapan.

“Maksud Mas?”

“Kamu ngapain nyisipin badanmu, pakai bungkuk-bungkuk segala?”

“O…itu..,ambil tisu” jawab Isti enteng.

“Emang ga bisa minta tolong? Emang harus nyempil-nyempil gitu?”

‘ya bisa, tapi kan pengen godain’ batin Isti menjawab.

“Pria yang ada diseberang mu itu, apa kamu ga tau cara dia ngeliat kamu? Rasanya pengen aku colok matanya.” Ucap Aji sambil mencengkram pagar balkon.

“Emang dia kenapa?”

“Kenapa? Kamu tanya kenapa?” Aji menatap heran ke Isti.

“Love…. beberapa kali aku memergoki dia menatap kamu dengan ga wajar. Dia seperti ingin menerkam, menelan, atau apalah.” lanjut Aji

“Emang iya?” Tanya Isti dengan wajah berseri.

“Aku pria, aku tau pikirannya.” Aji meremas lengan Isti dengan gemas, Isti hanya meringis.

“Tapi dia bilang ga tergoda” bela Isti polos.

“Tergoda? Maksud kamu apa? Kamu sengaja menggodanya?” Cecar Aji dengan wajah yang susah diartikan.

“Y-ya…ng-nggak …maksud ku-“Isti menjawab gugup.

“Love….it’s too cruel! kamu menyiksa dia!” Aji mengusap wajahnya dengan kasar sambil menggelengkan kepalanya.

Isti merasa ada sesuatu yang membuat Aji tidak nyaman karena peristiwa tadi.

“Apa tujuanmu Love? Kamu bukan seperti yang aku kenal.” Aji menjauhi Isti, berjalan beberapa langkah memunggungi wanita itu.

“Mas…..” Isti merengek, menghampiri dan menarik-narik bagian bawah jas Aji.

Sambil memejamkan mata, Aji menahan seluruh amarahnya.”Apa ada hal yang aku ga tahu? Ceritakan sekarang!”

Isti memeluk tubuh Aji dari belakang, pipinya menempel dipunggung besarnya.Dia bisa mendengar detak jantung Aji yang sangat cepat karena menahan luapan emosi.

Akhirnya Isti bercerita tentang pertemuan tak sengaja mereka, hingga sebutan jalang yang diterimanya.Tak terasa tetesan air mata keluar dari sudut matanya.

“Apa dia menyebutkan itu?” Aji mendadak berbalik saat mendengar, ‘mereka memanggilku jalang’.

Pria itu melihat pipi yang basah, dan mata yang berkaca-kaca.

“Aku kesel Mas, dan aku akan berlaku seperti yang mereka bilang, seperti jalang. Aku memang menggodanya. Aku ingin dia menginginkan aku. Aku ingin dia selalu memikirkan aku.Aku ingin menyiksanya dengan membuatnya menegang.Aku_”

“Ssstttt” potong Aji memeluk Isti yang menangis dan meluapkan isi hatinya.

“Kamu sudah berhasil menggodanya.Aku takut dia terobsesi ingin menyentuh kamu secara langsung karena dia pernah berbuat itu.” Bisik Aji.

“Aku bisa jaga diri Mas”

“Iya, aku percaya, kamu bisa jaga diri.”

“Mas marah?” Isti merengek lagi.

“Love, aku ga tau mesti gimana.Aku ga suka kamu menggoda pria lain.Aku ga suka ada orang lain menyebut kamu jalang, hanya aku yang berhak mengatakan itu.”

“Mas percaya aku kan?” Tanya Isti sambil melihat wajah suaminya.

“Asal kamu ga ninggalin aku lagi” ucap Aji sambil mengusap air mata Isti.

“Eeehmmmm” Aji mengeram, karena tiba-tiba Isti meraup bibir Aji, pria itu terkejut karena kelakuan istrinya.

Namun tak berselang lama justru dia yang lebih mendominasi ciuman yang menggairahkan itu.Lumatan yang semula terlihat perlahan, makin lama makin cepat penuh hasrat dan menuntut.Lidah mereka saling membelit.

Satu tangan Aji menekan tengkuk Isti untuk memperdalam kecupan mereka, memerintah untuk tak beralihSebelah tangannya merengkuh pinggang istrinya seolah meminta tubuhnya lebih dekat lagi.

Satu tangan Isti meremas sebelah bahu Aji.Tangan yang satu melingkar di pinggang suaminya.

Mereka saling melumat dan memanggut, suara erangan dan desahan terdengar dari mulut mereka yang terbungkam.

Aji melepas kecupan yang ada di bibir Isti, dan turun ke lehernya.Tangan yang bertengger di tengkuk, saat ini turun ke pantat sekal Isti.

“Massshh” Isti mendongak saat bibir Aji menjelajahi lehernya.

“Apapun yang kamu lakukan, asal jangan tinggalkan aku”.

Isti tersenyum mendengar penuturan sang suami yang emosinya sudah mereda.”Milikmu utuh” bisik Isti.

Seorang pria mengamati mereka dibalik tirai dengan mengeratkan rahangnya.

‘Liar!’ detak jantung Johan berdetak kencang melihat Aji dengan bebas mengecup dan menikmati bibir Isti. Sang wanita memejamkan mata meremas lembut rambut lelakinya.

Celana Johan makin sesak saat melihat reaksi Isti kala Aji mencumbu dan menjilat leher istrinya.Gerakan sensual nan erotis yang Isti lakukan membuat Johan makin penasaran.’I want her right now!’ batin Johan.

Tak lama dia meninggalkan tempat itu dan kembali ke mejanya.Aji menghentikan cumbuan, lalu memeluk erat tubuh Isti.

“Always love you my Love” bisik Aji.

“I’m yours Mas, I’m yours.” Balas Isti.

Aji melepas pelukannya, dia mengajak Isti kembali ke ballroom.Saat di ambang pintu, Isti melihat bibir Aji, disitu ada bekas lipsticknya.Tak segan wanita itu mengusap bibir suaminya dengan jarinya, Johan menamati apa yang dilakukannya.

Aji mengajak Isti untuk ke mejanya.Berkenalan dengan relasi kerjanya.

“Ini sebagai tanda perkenalan dari Pria tertampan” ucap seorang pria berwajah Indo-Eropa yang bernama Steve memberi sebuah kotak ke Isti.

“Apa itu?!” Tanya Aji penuh selidik.

“Dia dapat door prize, isinya lingerie, sapa yang mau pake? Bini aja ga ada!” Ucap Ardiansyah yang berwajah oriental.Para pria yang ada dimeja itu pun terkekeh.

Setelah menjalin obrolan dan candaan kecil dengan meja 13 yang berisi lelaki tampan, Isti berpamitan untuk kembali ke mejanya.

“Boleh aku anter?” Tanya pria Indo-Eropa.

“Ga nikung kan?” Balas Aji.

“Kalo ada kesempatan, kenapa tidak?” Sambil mengedipkan sebelah matanya ke arah Isti.

“You know me so well Steve” ucap Aji mengangkat alisnya.Isti mengusap lengan Aji.

“Just kidding! No offence!” Sahut Steve.

“Suamimu sangat cemburuan.” Imbuh Steve setengah berbisik di telinga Isti namun bisa didengar oleh Aji.Isti menatap Aji, lalu tersenyum melihat prianya dengan raut muka yang masam.

Steve mengantar Isti kembali ke mejanya.Beberapa pasang mata yang ada dimeja itu tak bersuara, para wanita itu mengagumi ketampanan Steve.

“Pastikan kamu memakai ini, aku yakin dia tidak akan melepaskan dirimu 2 hari atau mungkin bisa 3 hari, kamu hanya terlentang di ranjang.” Candaan Steve bisa didengar penghuni di meja itu.

“Steve!” Isti berkata dengan mata melotot.

“He will do it, dear. Trust Me!”

“Whatever! by the way thank’s.” Ucap Isti dan mendaratkan pantatnya di kursi.

Steve mencium punggung tangan,”nice to meet you sweety”

“So do i Steve, nice to meet you” sahut Isti.Steve meninggalkan Isti yang masih tersenyum.

“Wow…tadi dijemput sapa, balik di anter sapa” ucap Tasya sarkas.

“Tasya ngiri?” Balas seseorang.

“Tak bosan berbicara dengan mereka.” Balas Isti dengan nada mengejek.

“Bitch!” Balas Tasya.

Isti tidak membalas, dia beralih melihat pria yang sedari tadi menatapnya (Johan).Pria itu memutuskan kontak saat objek melihat dirinya, namun dia kembali melihatnya.Isti malah memberikan senyum yang menggoda, tak ayal Johan pun membalas dengan senyuman.

“Kak?!” Pekik Tasya saat melihat interaksi saling tatap mata tadi.

“Apa sich?! Hari ini kamu berisik banget!” Balas Johan dengan nada yang tak enak didengar.

Sekejap Tasya tak bergeming, namun wajahnya terlihat menyimpan amarah.Penghuni wanita di meja itu menginterogasi Isti.

‘gimana rasanya di kelilingi pria tampan’

‘yang kosong sapa? Boleh donk dikenalin’

‘aku rela mereka menabur benihnya dirahimku, ga nikah ga papa’

‘bibit unggul’

Masih banyak ocehan lainnya yang memuja meja no 13.Isti menjawab dengan kalimat yang absurd yang berkesan liar dan menggoda.

Acara telah usai, mereka meninggalkan mejanya masing-masing.Aji menghampiri meja Isti, wanita itu menyambut uluran tangan suaminya, dan menggenggam erat.

Mereka berjalan meninggalkan ballroom.Tampak antrian saat menunggu lift.Aji meminta Isti duduk lebih dulu di sofa yang tak jauh dari lift, sedangkan dia masih melanjutkan mengobrol.

“2-3 hari aku off” ucap Aji.

“kenapa? Urusan kita belum kelar!” Sahut Steve.

“Pokoknya aku mau off. Setelah itu aku bereskan semuanya.” Balas Aji.

“Tumben amat, biasanya kamu yang ngotot minta semua urusan diselesaikan dulu.” Sahut Ardiansyah.

“Karena ada wanita itu.” Kata Syamsuddin yang di sambut gelak tawa.

“Ga perlu aku jelasin kan?” Tanya Aji yang wajahnya tersenyum dengan nada mengejek.

“Mumpung disini, kalo di Surabaya banyak gangguan kayaknya.” Balas seseorang yang masih rekan kerjanya.

Obrolan ambigu itu terdengar hingga ditelinga Johan yang berdiri tak jauh dari gerombolan eksmud, membuat pikirannya makin menggila tentang sosok Isti.

Pintu lift terbuka.

“Love!” Panggil Aji, Isti pun bangkit dari duduknya dan berjalan cepat menuju prianya yang akan memasuki lift.

“Jangan lari cantik!” Sahut Steve.

“Stop it Steve!” Balas Aji dengan tatapan tajamnya, dai sangat kesal jika ada yang berlaku manis kepada istrinya.

Steve terkekeh mendapat respon dari Aji.

Manusia yang ada di lift sudah keluar, giliran mereka yang masuk.Aji mempersilakan temannya masuk dulu selagi dia menunggu Isti.Hingga Isti dan Aji masuk kedalam kotak kecil itu, dimana ada Johan dan pasangannya.

Bersambung