Complicated Part 12

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Tamat

Cerita Sex Dewasa Complicated Part 12 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya :  Complicated Part 11

“Mas…suster lagi ijin libur, Vazco aku ajak ke pameran ya, kasian kalo sendirian” ucap Isti sambil mengoleskan roti untuk sarapan.

“Jangan! di RS tempatnya penyakit ..bawa ke Bunda aja!” Aji melarang.

“disana ada tempat bermain untuk anak-anak kok..deket ama booth” Isti memaksa.

“baiklah, jaga anakku baik-baik” ucap Aji.

***

“Vaz…main disana ya, ibu disini, jangan jauh-jauh” ucap Isti kepada bocah yang sudah berusia 4 tahun.

Isti melayani banyaknya orang yang bertanya tentang asuransi.Perawakan Isti yang bertubuh mungil memudahkan dia bergerak kesana kemari sambil mengawasi Vazco.

“Is…sudah jam 12, kamu pulang aja” Selvia memerintah.

“nanti aja Bu, jam 3 kita pulang, biasanya kalo jam 12 lebih banyak orang” Isti menolak.

Dan ternyata ucapan Isti benar, jam 12 banyak orang berdatangan untuk bertanya mengenai asuransi.Vazco dengan aktif bermain, lalu dia melihat seekor kucing dibalik kaca.

Bocah kecil itu berjalan keluar, menghampiri kucing kecil.Dia membelai kepala kucing yang tampaknya menikmati usapan dari tangan mungilnya.

Tak lama, kucing itu berjalan, Vazco mengikuti dari belakangnya.Kucing kecil itu berlari kecil menuju taman, Vazco pun pun ikut berlari.

“Aaaahhhh…Ibuuuuuuu!” bocah itu berteriak.

Isti yang sedang asyik melayani nasabah, tiba-tiba menoleh ke arah area bermain.Dia mencari sosok anaknya, tapi dia tidak menemukannya.

Wanita itu berjalan keluar, dan tak disangka Vazco sudah digendong oleh security.Tampak darah segar mengalir di kaki anaknya yang merintih kesakitan.

“Vazco!” teriak Isti.

Isti pun meraih anaknya lalu menggendong, berlari ke arah UGD. Vazco diterima oleh perawat, Isti diminta menunggu.

Disisi lain, seperti ikatan batin Aji merasa ingin sekali menghubungi istrinya, karena seharian tidak ada kabar.

Isti : Ha-hallo… I-Iya Mas…(terdengar isak tangis)

Aji : Ada Apa Love?

Isti : Vazco mas…

Aji : kamu dimana ?! (dengan nada agak tinggi)

Isti : RS xxxx

tut tut tut…

selang 30 menit.

Aji melangkahkan kakinya dengan tegas menuju UGD, ada emosi yang siap diledakkan yang terpancar dimatanya. Isti melihat kedatangan suaminya, namun dia takut menyapa, dia belum pernah melihat wajah Aji yang tegang memendam amarah.

Aji melewati Isti, tanpa melihatnya, wanita itu hanya memejamkan matanya.

“Dimana anak yang bernama Vazco?” tanya Aji berusaha tenang kepada seorang perawat.

“masih ada tindakan Pak, bisa ditunggu diluar” ucap perawat.

“SAYA ORANG TUANYA! dan saya harus tahu tindakan apa aja yang diberikan untuk anak saya! aku harus mendampingi anakku!” Aji agak berteriak dan melotot tajam ke perawat itu.

“I-Iya Pak..anaknya di balik tirai itu Pak..silahkan masuk aja” ucapnya ketakutan sambil menunjuk tirai.

Aji berjalan dan menghampiri, dan membuka tirainya yang terdengar suara bocah menangis sesenggukan.

“Ayah…!” jerit Vazco.

Aji menghampiri dan mengecup kening Vazco.

“Vaz kenapa nangis?” tanya Aji berusaha mengontrol emosi sambil melihat dokter yang membersihkan goresan luka.

“mereka merobek celanaku…aku malu Ayah..bagaimana aku bisa pulang? Aku sudah bilang, aku baik saja, ini hanya goresan” tutur Vazco.

Amarah Aji langsung mereda mendengar ucapan polos anaknya.Aji, dokter dan salah seorang perawat terkekeh mendengar alasan ucapan Vazco.

“Jadi itu alasanmu menangis? Apa bukan luka itu yang menyebabkan kamu menangis?” Tanya Aji .

“Ck! aku kuat menahan sakit ini Yah….. bagaimana aku bisa pulang kalo celanaku robek?”

“Nanti bagian bawahmu aku lilit pakai selimut, aku gendong”

“Gendong?! Ayah…aku sudah mau 4 tahun!”

Aji terkekeh mendengar ocehan anaknya.

“Sudah bersih…2 hari boleh dibuka plesternya” ucap dokter, lalu meninggalkan ranjang Vazco.

Dengan takut Isti memasuki tempat Vazco.

“Vazco … maafkan ibu nak” Isti memeluk Vazco dengan menangis sesenggukan.Aji hanya melihat moment Ibu dan anak itu.

“Aku sudah boleh pulang Bu…Ibu jangan nangis, Vazco sedih” ucap Vazco sambil membelai pipi Isti.

“Mas..a-aku_” ucap Isti ketakutan.

“Love..kita bicarakan dirumah” potong Aji yang tak tega melihat istrinya ketakutan terhadap dirinya karena merasa bersalah, lalu mencium kening Isti. Hati Isti terasa lega mendapat kecupan dari suaminya.

“Vaz ..kita pulang ya…bagian bawahnya ditutup pakai jas ayah aja, ayah gendong, wajah Vaz sembunyi di leher ayah ya” Aji merayu vazco.

“Begitu? mereka pasti tidak mengenal aku kan?”

“tutup pake tangan juga boleh..atau tas kresek hitam?” goda Aji.

“Ck…ayaaah” Vazco merengek manja.

Akhirnya mereka meninggalkan RS dan pulang ke rumah.
Vazco sudah ada dikamar, ditemani oleh Aji karena suster baru akan kembali esok pagi.Lalu Isti membuka sedikit pintu kamar Vazco.

Tampak Aji duduk di samping Vazco yang sudah tertidur sambil membelai kepala anaknya.”uda tidur?” tanya Isti ke Aji.

“sssssstttt…baru aja” jawab Aji.

Tak lama Isti dan Aji keluar dari kamar Vazco dan beralih ke kamar mereka.
Aji duduk di sofa sambil menikmati buah yang sudah dikupas, Isti duduk dengan kaku di dekat Aji, terpisah beberapa Centimeter.

Aji tak tega melihat istrinya tersiksa karena kesalahannya, dia merindukan kebawelannya.

“Love…mau buah?” Aji membuka pembicaraan.Isti menggelengkan kepalanya, seharian dia ga nafsu makan karena merasa bersalah.

“Sini!” perintah Aji sambil menepuk pahanya.

Isti yang masih berwajah tegang mendekat ke arah yang diminta Aji.Kini wanita itu ada dipangkuan suaminya, saling berhadapan.

“kenapa?” tanya Aji yang menahan senyum melihat wajah Isti yang kaku.

“aku minta maaf, gara-gara aku Vazco jadi luka” ucap Isti lirih wajahnya menunduk.

“lain kali…Vazco anter ke kantor aja, ngerti?!” Aji menatap Isti

“aku takut Vazco bikin ulah dan ngerepoti mas Aji” Isti sudah mulai berani menatap Aji.

“Love..selama kamu di RS, Vazco ikut aku di kantor, dia ga merepotkan” tutur Aji sambil menyelipkan beberapa helai rambut yang terlepas dari ikatan ke telinga Isti.

“mas marah?” tanya Isti lirih.

Aji mengangguk. Isti menunduk dan menitikkan air mata yang sudah ditahannya sejak tadi.

“Aku mohon jangan ceraikan aku!” Isti bersuara dengan isak tangisnya.

“Love..!” Aji merengkuh erat tubuh kecil istrinya, hatinya teriris mendengar tangisan Isti.

Aji tak menyangka segitu besarnya trauma yang dialami Isti, hingga dia sangat ketakutan saat berbuat sedikit kesalahan.

Aji juga merasa bersalah sudah membuat istrinya ketakutan dan menangis “Love…jangan pernah kamu punya pikiran seperti itu” Aji berbisik.

“aku takut ….”

“Love…aku selalu memaafkan kesalahanmu, justru aku yang takut. Apa nanti jika aku berbuat salah, kamu bisa memaafkan aku? aku akan selalu mengingatkan kamu Love..aku pemimpin di keluarga ini, jangan ada pikiran seperti itu lagi, aku tidak mau mendengar kata-kata itu lagi..paham?” ucap Aji di telinga Isti.

Isti menganggukkan kepalanya di pundak Aji, walau tak melihat Aji merasakan anggukan istrinya.

“Maafkan aku sudah membuatmu tersiksa” bisik Aji lagi.

Setelah beberapa menit, Isti menarik tubuhnya, hingga kini kening mereka saling bertemu.

“Terimakasih mas” Isti mengecup hidung mancung suaminya.

“sebagai permintaan maaf…kamu harus melayani aku” Aji menggoda.

“ih…ambil kesempatan” wajah Isti cemberut merasa dipermainkan.

Tanpa permisi, tanpa aba-aba, Aji melumat bibir istrinya yang tadi mengerucut.Tangan Isti reflek meremas lengan Aji karena terkejut mendapat serangan mendadak.

Aji melepaskan bibirnya, dia tersenyum melihat wajah Isti yang sudah memerah.

“kamu masih pake kontrasepsi ?” tanya Aji.

“iya”

“kamu ga mau hamil? tanya Aji

‘aku takut kalo aku hamil, kamu ninggalin aku, seperti pria itu’ jawab Ist dalam hati.

“taon depan aja ya Mas?”

“Baiklah, tahun depan aja..sekarang aku masih mau memuaskan penisku dulu” ucap Aji berkata vulgar.

“ih..vulgar!”

“kenapa? kan cuma kita berdua…” ucap Aji yang tangannya memainkan puting istrinya, mencubit gemas dan menariknya dibalik kaos tipis Aji yang dipakai Isti. (Sejak malam pertama mereka, Aji meminta Isti saat dikamar dia memakai kaos tipis putih miliknya, menurut Aji terlihat sexi).

Puting Isti semakin menonjol dan terlihat jelas dari balik kaosnya.

Dengan kasar Aji meremas payudara Isti, dan menggigit lembut puting payudara yang sebelah.

Wajah Isti bersembunyi di leher Aji, melenguh, menahan suara desahannya.Isti pun mengecup lembut leher suaminya.

Aji mengerang seakan mendapat tambahan kekuatan untuk berbuat lebih liar lagi.Isti merasakan bagian Aji yang berada tepat dibawah intimnya sudah sangat keras.
Pria itu dengan mudahnya berdiri sambi menggendong istrinya, kaki Isti melingkar di pinggangnya.

Dia merebahkan istrinya.Tangan Aji membuka paksa seluruh busana Isti dan dirinya.

Dia membuka dan memisahkan dua paha istrinya, satu tangannya bermain leluasa di pusat tubuh istrinya, dan yang satu meremas payudara, lidah dan mulutnya menjelajahi payudara yang lain.

Isti meremas lembut rambut suaminya, mendesah nikmat.Cairan cinta keluar deras tanpa ijinnya.
Tak lama Aji dengan kasar menyatukan kelaminnya dengan istrinya.Isti merasakan perlakuan liar suaminya, namun dia menyukainya.

Setelah mencapai puncak kenikmatan bersama, Isti merebahkan kepalanya di setelah dada Aji.

“Bulan depan aku ke Banjarmasin, aku mau kamu ikut” pinta Aji sambil membelai lengan Isti yang melingkar di perutnya.

“Banjarmasin?! Ga mau mas…aku ga mau kembali ke kota itu” Isti merengek.

“Kenapa?”

“Aku ga mau kembali ke kota yang memberiku kenangan buruk, penyesalan, airmata”

“Bagaimana dengan Vazco? Apa kamu anggap dia sebagai salah satunya?”

“Bukan itu maksudku…..Vazco adalah bagian terindah dihidupku”

“Jadi ga ada salahnya kita ke Banjarmasin kan? Aku memaksa mu Love ..kita buat kenangan yang lebih indah, yang tidak akan pernah kamu lupakan” Aji meyakinkan Isti.

Isti menarik nafas panjang, “OK! Baik!…aku ikut”

***

“Bun….Aji minta tolong saat kami di Banjarmasin, Bunda di rumah ya… temani Vazco” ucap Aji.

“Kamu kapan bulan madunya…jangan ngurusin kerjaan terus” sahut Bunda.

“Mungkin setelah dari Banjarmasin .. lagian bulan madu juga ngapain Bun? Kan sama aja ngelakuinnya.”

“Dasar pelit! katanya mau camping, ke Bromo…Sampek sekarang nihil!”

“Bukan pelit Bun….kita belum ada waktu, Isti juga masih sibuk” Aji membela diri.

“Iya…iya…atau ke Banjarmasin itu bulan madu kalian?” Tanya Bunda penuh selidik.

“Kita sudah bulan madu di rumah..semalam beberapa kali…Bunda puas dengan jawabanku?” Aji tahu arah pembicaraan Bundanya.

“Syukurlah…” Ucap Bunda dengan senyuman.

***

“Uda siap semua?” Tanya Aji disebelah Isti yang sedang packing.

“Semua yang kamu perlukan sudah siap”

“Ada yang ketinggalan”

“Apa?” Tanya Isti heran, karena menurutnya dia sudah memasukkan semua kebutuhan suaminya.

“Kamu Love” ucap Aji mengecup kening istrinya.

“Kita cuma beda jam penerbangan aja, toh barang-barangku juga ikut mas Aji. Abis acara aku langsung berangkat ke bandara.”

” beberapa jam jauh darimu sungguh menyiksaku”

Isti mencebikkan bibirnya, “gombal!”.

Aji mengacak rambut Isti.

“Bobok ya…besok harus bangun pagi” imbuh Isti hendak merebahkan tubuhnya di ranjang.

“wait! Kiss and…deep” pinta Aji

Isti pun mencium bibir suaminya seperti yang biasa mereka lakukan.Dan mereka berbaring, Aji memeluk Isti dari belakang, mengusap lembut perut istrinya yang rata.

Hari ini Aji berangkat ke Banjarmasin dengan jadwal penerbangan paling awal.

Setelah tiba di kota itu, Aji langsung menuju ke kantor notaris untuk mengurus surat perjanjian kontrak.Di kota ini Aji memiliki beberapa property yang disewakan, jadi kunjungannya untuk berkenalan dengan penyewa propertynya.

Tiba saatnya Isti sudah memberi kabar bahwa dia sudah menginjakkan kakinya di kota yang penuh kenangan.

“Mas..aku uda landing, mas dimana?” tanya Isti melalui ponselnya.

“kira-kira dimana?”

“Ih..kok jadi tebak-tebakan sich, aku naik taksi aja!” ucap Isti dengan nada ketus.

“Love..kamu tahu kalo aku lagi nunggu, biasanya dimana?”

“ooo..Ok..i’ll find you ”

“can’t wait to see you my Love”

Aji duduk di cafe sambil menikmati kopi, terlihat melalui kaca dari kejauhan seorang wanita yang menurutnya masih tetap ‘gadis’, menggunakan kaos maroon dengan pleated mini skirt berwarna denim.

Tas selempang yang selalu ada ditubuhnya, terlihat membelah kedua benda kenyal didadanya.
Berjalan lincah dengan kaki yang hanya dibalut sneaker.Kacamata coklat yang bertengger dihidung kecilnya membuat dia terlihat makin imut.

Rambut yang hanya dikuncir macam ekor kuda seadanya, beberapa helai rambut terlepas dari ikatan.

Aji makin gemas melihat style istrinya yang menurutnya terlihat segar dan seperti ABG.Pria itu keluar dari cafe, menyambut pujaan hatinya.
Beberapa meter dari tempat Aji berdiri, Isti tersenyum melihat Aji yang menatap ke arahnya.

Wanita itu mempercepat langkahnya, hingga dia tepat berdiri di depan prianya dan memeluk erat.

“Miss you so bad” ucap Isti dipelukan Aji.

“aku juga kangen” Aji membalas pelukan Isti.

Mereka melepaskan pelukan, dan mereka berjalan beriringan.Aji menggandeng Isti ke arah parkir mobil, pria itu menyewa mobil untuk operasionalnya selama disini.

“kamu mau makan dimana?” tanya Aji.

“apa aja..laper!” rengek Isti.

“tau gini aku ga mau jemput”

“kenapa?”

“stylenya kayak cabe-cabe an” ucap Aji dingin

“awet muda donk, emang bener kata orang….Janda semakin didepan!”

“Love…kamu bukan janda lagi, kamu uda nikah. Kita kalo jalan gini bukan seperti suami-istri.Kayak om ama ponakan.” ucap Aji membuka pintu mobil.

“o…aku pikir kayak supir ama majikan” goda Isti memasuki mobil lalu duduk dan melirik menggoda Aji.

Tanpa aba-aba, Aji mencium Isti yang duduk disebelahnya dengan kasar dan makin intens.Isti pun terkejut mendapat serangan mendadak dari suaminya, tapi perlahan dia menikmati sentuhan bibir Aji dan menikmatinya.

“aku kangen” ucap Aji enteng.

“Mas kalo cium kasih aba-aba, sering mendadak. Untung sayang…”

Aji terkekeh mendapatkan protes dari istrinya.
Setelah makan malam, mereka meluncur ke sebuah apartemen.

“ini apartemen sapa?” tanya Isti.

“punya kita”

“selain itu apa yang kamu punya di kota ini?” tanya Isti sambil membersihkan wajah di meja rias.

“jika aku mengatakan semua, apa kau akan membunuhku?” Aji berjalan ke meja rias dan melepaskan ikatan rambut Isti, hingga rambutnya sudah tergerai.

“bukan begitu masku sayang….maksudku kenapa beli property disini? kenapa ga di Surabaya aja..kan mudah urusannya” Isti berbalik dan mengalungkan tangannya di leher prianya.

“karena pada saat itu aku sering ke Banjarmasin mencari kekasihku yang pergi tanpa kabar, cuma ada info kalo dia pergi ke kota ini aja. Sebulan sekali aku mengunjungi kota ini. Awalnya aku tertarik untuk beli apartemen aja, supaya kalo ke sini ga ribet cari hotel. Tapi rejeki ada aja, ada yang nawarin ruko, rumah, lahan untuk gudang ya begitulah….” ucap Aji sambil membelai pipi Isti yang mulus.

“ternyata suamiku kayah rayah ya… aku ga salah pilih” Isti senyum menggoda suaminya.

Aji mengangkat pinggang Isti,dengan reflek kaki Isti melingkar di pinggang Aji.

Dan berjalan menuju ranjang, lalu merebahkan tubuh istrinya.Wanita itu hanya terlentang pasrah.

“Aku harus membuat istriku bahagia lahir dan batin….aku yakin setiap detik dia akan merindukanku” Aji melucuti kaos tipis miliknya yang biasa dipakai Isti dan CD nya.

Isti tersenyum dan merona, membuat Aji makin gemas.Kini Isti sudah dibawah kungkungan 2 lengan Aji yang kokoh.

“sekarang aku penuhi kebutuhan batinnya dulu” Aji mengecup kening Isti.Mereka saling menatap memuja.

“seluruh tubuhnya menjadi candu untukku” Aji mengecup hidung Isti.Badan Aji menyenggol mengenai puting Isti, dalam sekejap tubuh Isti berdesir, ujung putingnya kaku.

“ini selalu menggoda” Aji mengecup ringan bibir Isti. wanita itu menatap memohon, tubuhnya seakan ingin segera disentuh.

“aroma tubuhnya membuatku gila” Aji mengecup puting Isti bergantian.Isti mendesah.

“dia sudah kembali” Aji mengecup pusar. Isti meliukkan tubuhnya.

“dan aku tak akan melepaskan dia lagi” Aji mengecup lembut intim Isti.Wanita itu meremas lembut rambut suaminya, dengan mendesah.

“ooohhhh…mas”

“aku pengen dengar teriakanmu sayang, cuma ada kita berdua”

Aji mengecup kuat intim Isti dan wanita itu pun berteriak “mas Ajiiiiiiiiiiiiiih..aaahh”

“lagi sayang” Aji menggigit lembut klitorisnya.

“ooohhhhh…maasshhhh” Isti menjerit lagi.

Aji melanjutkan menjilati aliran cinta dari intim istrinya.Isti makin gelisah, dia ingin lebih.

Aji mengalihkan wajahnya dari paha Isti dan melihat wajah istrinya, “kamu suka?” Isti mengangguk.

“besok lagi…sekarang aku ga tahan” dengan cepat Aji menyatukan miliknya ke intim tubuh dengan mengeram.

Tangan Aji bermain leluasa di dada Isti, sambil menatap wajah tambatan hatinya yang menikmati perlakuannya.

Isti sangat menikmati sentuhan lembut Aji, namun di saat tertentu permainan kasar Aji juga membuat Isti berlaku lebih liar.

Hingga mereka mencapai klimaks bersamaan.
Mereka berbaring sambil mengembalikan suhu tubuh yang sempat memanas.

“Love..kenapa Vazco ga di ajak bareng kita?” tanya Aji sambil memeluk Isti dari belakang.

“belum saatnya Mas..”

“berdamailah dengan masa lalu, aku ga mau ada dendam dihatimu…hidup kita ga bakal tenang”

“Ga janji ya Mas, besok rencana mas mau kemana?”

“aku mau ke notaris lagi, kamu mau kemana?”

“mau ke kantor yang lama..boleh?”

“boleh..tapi jangan tinggalkan aku lagi ya?” Aji mempererat pelukannya.

“i’m yours Aji Laksono” Isti mengambil tangan Aji yang melingkar diperutnya dan menciumnya.

Bersambung