Complicated Part 11

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Tamat

Cerita Sex Dewasa Complicated Part 11 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya :  Complicated Part 10

Fajar mulai menampakkan diri.Waktu menunjukkan pukul 6 pagi.
Terdengar suara ketukan pintu di kamar Aji.

“Ayah….ayah…” Aji mendengar suara khas Vazco.

Aji yang hanya memakai celana training membuka pintu mendapati Vazco yang sudah terlihat segar.Dengan segera Aji menggendong yang sekarang menjadi anaknya dan mencium pipinya.

Tak lama Bunda datang, “Vazco…jangan ganggu ayah nak! ayah masih capek” sambil hendak mengambil Vazco dari gendongan Aji.

“Ga papa Bun!biar Vazco sama aku!” Aji meninggalkan Bunda, dia berjalan menuju ranjang dengan Vazco dilengannya.

“Ibu masih tidur…. kecapekan,jangan rame-rame ya!” bisik Aji ke telinga Vazco.

Bocah itu mengangguk.

“Aku lapar, aku mau makan sama ayah” bisik Vazco ke telinga Aji.Aji terasa geli dan mengangguk.

Mereka berjalan ke ruang makan, disana sudah ada orang tua Isti dan orang tua Aji.

“Isti kemana?” Tanya Bunda dan pertanyaan itu membuat Aji tersipu.

“Tidur” jawab Aji singkat sambil menyuapi Vazco.

“Apa kalian melakukannya?” Bunda semakin menggoda anaknya.

“Bunda!” Aji melihat Bunda tajam.

“Cuma tanya nak…” Sahut Bunda tanpa rasa beban.

“Kayaknya singa betina marah” ucap Mama Isti.

“Gimana ga marah, tidurnya uda diganggu” Bunda menimpali.

“Siapa Bun?” Tanya Aji.

Bunda dan Mama terkekeh mendengar pertanyaan Aji.

“Artis ini lho, luka-luka soalnya main-main sama kucingnya yang lagi tidur. Kucingnya jenis kucing garong kali ya?” Ucap Bunda sambil melihat majalah.

“Bukan kucing Jeng, seperti yang aku bilang tadi,singa itu …coba liat lukanya!” Sahut Mama.

“Mau kucing atau singa, kalo tidurnya diganggu pasti ngamuk lha” ucap Aji sambil menyuapi Vazco.Bunda dan Mama malah tertawa terbahak-bahak.

Usai menyuapi, Vazco meninggalkan meja makan dan kembali bermain bersama suster, sedangkan Aji menuju kamar menemui istrinya.

Isti masih tertidur pulas, Aji membaringkan tubuhnya di sisi Isti.Dia mulai menjahili istrinya, mencium lembut bibir Isti.Wanita itu tidak merespon.

Aji menyibak selimut yang menutupi tubuh mungil istrinya. Tangan dan mulutnya mulai bergerilya di payudara Isti yang terbungkus kaos tipis Aji.

“Hmmmmm” Isti melenguh merasakan sesuatu di dadanya.Terlihat jelas puting payudara Isti mulai membengkak.

“Apa kamu berniat menggodaku dengan membangunkan dirimu dengan cara ini?” Bisik Aji ke Isti yang masih mengerjapkan matanya.

Isti tersenyum melihat tingkah laku suaminya.”Morning kiss! deep and wild!” Perintah Aji mulai mengecup bibir Isti, melumat dan lidahnya bermain di mulut Isti.

Puas menikmati bibir Isti, Aji menarik wajahnya.

Tiba-tiba Isti teringat Vazco, biasanya dia yang menyuapi anaknya.Isti bangun dan hendak turun dari ranjang, tapi selangkangannya terasa aneh.Dia menahan rasa itu,saat hendak melangkah tangan prianya memeluk tubuhnya dari belakang.

“Kamu mau kemana sayang?” bisik Aji.

“Vazco …ini waktunya dia makan” dia menoleh ke arah suaminya.

Aji membalikkan badan Isti, Aji terduduk diranjang, dan menarik tubuh kecil itu ke pangkuannya.Isti merasakan milik Aji sudah mengeras di balik celana.

Aji memeluk pinggang Isti, mempertemukan keningnya hingga hidung mereka menempel.

“Anakku sudah mandi, ayahnya yang menyuapi…tadi dia masuk ke sini, ngeliat ibunya masih tidur kecapean karena ulah ayahnya…dan sekarang ayahnya mau mengulang lagi ulahnya semalam” Aji meremas pantat Isti yang belum menggunakan CD sejak usai persetubuhan mereka.

“Mas …ini uda jam 7 lho!” Isti merengek, jari Isti bermain di dada Aji yang polos.

Tangan Aji menelusup ke punggung Isti, menyentuh langsung ke kulitnya yang halus.Jantung Isti berdetak kencang.

“Love….aku selalu menginginkanmu” Aji merengkuh erat tubuh istrinya hingga susah bernafas.

“Mas…aku ga bisa bernafas!” ujar Isti. Aji melonggarkan pelukannya.

Aji meremas kasar payudara istrinya, hingga wanitanya berteriak lirih ditelinga Aji.

Isti mengecup lembut leher Aji, “ooohhhh Love”.

Remasan kasar Aji tapi nikmat membuat cairan cinta mengalir begitu saja dari liang senggama Isti.Isti terus mengecup tiap inci leher suaminya, dan kadang dia mendesah menikmati sentuhan suaminya.

Aji membalas mengecup leher Isti, tangannya terus bergerilya di dada istrinya.Tanpa sadar Isti menggeliat, meliukkan tubuhnya akibat sentuhan suaminya.

“Love…kamu membuat penis ku makin jadi” Aji berkata vulgar.

Aji melepas kaos yang dikenakan Isti. Pria itu menggelengkan kepalanya dengan raut muka yang susah diartikan.

“Kenapa?” Tanya Isti yang sudah naked di pangkuannya.

“Liat!” Ajak Aji sambil bangkit dari ranjang mengajak Istrinya berdiri didepan kaca meja rias.

“Aku menyakitimu” ucap Aji dengan nada menyesal dan merasa bersalah. Isti melihat tubuhnya yang polos.

Bekas cengkeraman jari tangan yang berwarna merah tampak berada di payudara, pundak, pinggang, punggung, dan pahanya. Di payudaranya selain bekas cengkeraman, ada beberapa titik berwarna keunguan bekas gigitan, begitu juga di pundaknya.

Warna kulitnya yang kuning Langsat membuat bekas perbuatan Aji makin jelas.
“Tapi aku suka Mas, aku menikmati gigitanmu.” Ucap Isti dengan nada manja dan mengalungkan tangannya ke leher Aji.

Aji melumat bibir Isti yang sejak tadi mengganggu pikirannya. Menarik pinggang Isti supaya tubuh mereka makin dekat.
Tangan Aji turun kebawah, meremas pantat Isti, dan mengangkat tubuhnya.Kaki Isti melingkar di pinggang suaminya.Berjalan ke arah ranjang.

Tak menunggu lama, Aji merebahkan Isti.Dia menyentuh intim Isti yang sudah basah dan licin.

“Sudah saatnya Love..” Aji menghujamkan ‘miliknya’ ke liang surganya.

Menggerakkan pinggulnya pelan, pantat Isti ikut bergerak mengejar kenikmatannya.Saat akan menuju puncak klimaks, Aji mempercepat gerakannya.Mereka pun mencapai klimaks bersamaan.

Aji masih menindih tubuh mungil istrinya, dia mengecup leher Isti, lalu memisahkan dirinya.
“Rasanya aku ingin mengusir mereka, supaya aku ga malu kalo kita tetap dikamar seharian” Aji masih memainkan puting payudara Isti.

“Mas ..bukannya kita sudah selesai? tapi kenapa kamu masih memainkan putingku? ” Tanya Isti.

Aji tersenyum, “masih pengen mainin, gemes ”

“Mas mandi ya….ga enak ama mama dikamar terus” pinta Isti.

Aji beranjak dari ranjang, dan memasuki kamar mandi.

Tak lama Aji berteriak ” Love, tolong handuk!”

Isti mengulurkan handuk ke Aji yang masih didalam kamar mandi.Tak lama pria itu keluar.

“Love, kayaknya punggungku kena serangga. Kena air bentar perih, tolong liat!” Perintah Aji yang keluar dari kamar mandi hanya mengenakan handuk melingkar di pinggang.

Dia mengamati punggung Aji.Isti melongo melihat goresan luka di punggung suaminya.

“Mas…itu bukan serangga. Itu kena kuku ku semalam.maaf” ucap Isti lirih sambil senyum malu.

‘hm… pantesan ibu kompleks tadi nyinyir masalah kucing garong dan singa betina. Ternyata luka punggung ini.’ batin Aji.

Aji menundukkan badannya, dalam sekejap tubuh wanita itu sudah ada dipundaknya.

“Mas!” Pekik Isti yang kepalanya sudah terbalik.

“Mandi bareng!” Perintah Aji, sambil membopong tubuh Isti di pundaknya.Aji mengusap pantat Isti, sesekali memukul dan meremas-remas.

Mereka pun mengulang kembali persetubuhan di kamar mandi.

Aji dan Isti keluar dari kamarnya.
Menuju ruang makan yang sudah sepi.

“Mereka pada kemana? Ga sarapan?” Tanya Isti ke Aji.

“Love…kita yang kesiangan, ini sudah jam 9, gara-gara kamu kita telat sarapan bareng” Aji menggoda Isti, membuat wanita itu tersenyum merona.

Usai sarapan, mereka menuju ruang keluarga, ternyata yang Isti cari berkumpul bersama.

“Ibuuuu….!” Vazco berlari memeluk kaki Isti. Isti berjongkok sejajar dengan Vazco.

Para orangtuanya menoleh ke pengantin baru yang jalan bergandengan menuju sofa.

“Vaz sama ayah ya?!Ibu capek nak” Aji menggendong Vazco.

“Ayo kita main di luar yah! main bola” ajak Vazco.

“Ok… kamu cari bolanya!tunggu ayah diluar ya” Aji menurunkan Vazco.

Aji masih menggenggam tangan Isti, lalu duduk bersama di sofa.

“Kok sudah keluar kamar? Kamu kan cuti Ji… gunakan waktu sebaik mungkin” ujar Bunda yang selalu menggodanya.

“Bunda apaan sich!” ucap Aji sewot.

“Kita mau keluar cari baju tidur, babydoll atau daster” ucap Isti sambil melirik mamanya.

Mama Isti menoleh ke arah jendela, menahan senyum seolah tanpa ada rasa salah.

Usai bercengkrama sebentar, Aji dan Isti menuju taman.Sudah ada Vazco yang menunggu Aji untuk main bersama.

Selang 30 menit berlalu, Isti menghentikan permainan mereka, karena melihat Vazco yang sudah mulai lelah.Lalu bocah itu di tangani oleh suster untuk istirahat.

***

Mereka mengunjungi mall terdekat.

Sejak turun dari mobil, tangan Isti tak lepas dari genggaman Aji.Kadang tangan Aji melingkar di pinggang Isti yang ramping.

Tanpa sengaja mereka bertemu dengan Sammy dan Rio serta pasangannya.Mereka mengajak ngobrol di cafe.

“Kalian sudah jalan-jalan? Pasti dirumah Aji banyak orang ya? Apa butuh kamar hotel?” Sammy menggoda.

“Apa kamu pikir kita pasangan one night stand?” Balas Isti dengan nada ketus.Aji hanya tersenyum mendengar pembelaan istrinya.

“Ya ampun Ji… kenapa dia masih seperti singa betina? Kamu belum menjinakkan dia?” Rio mengompori.

“aku lebih suka dia tetap liar” sambil menatap sayang wajah Isti di sebelahnya.Isti tersipu merona saat pria itu memperlihatkan dirinya.

“Cinta memang membuatnya buta” ucap Sammy sarkas.

“Apa kalian ga berencana bulan madu?” Tanya Nisa istri Rio.

“Emang kenapa?” Tanya Isti balik.

“Kali aja kita juga di ajak” sahut Rio.

Setelah bercengkerama panjang lebar mereka meninggalkan cafe.

“Love…kita beli mainan untuk Vaz” ajak Aji.

“Ga usah mas…mainan Vaz uda banyak” Isti keberatan Aji terlalu memanjakan anaknya.

“Ga papa…beli yang murah meriah aja” Aji memaksa dan memasuki toko mainan.

Mereka berjalan lagi mencari tujuan utama, tangan Aji selalu menggenggam jemari Isti.

“apa kamu ga mau membeli pakaian itu?” Tanya Aji sambil menunjuk salah satu manekin yang memakai lingerie.

“Mas…itu sama aja seperti telanjang.. transparan” ucap Isti.

Aji terkekeh mendengar ucapan polos istrinya.

“Baiklah Love ..aku lebih suka kamu telanjang” Goda Aji.

“Bukan gitu Mas….. ” Isti memutar bola matanya dan menggelengkan kepalanya.

“Iya sayang….ga usah berdebat ok?” Aji mencium pipi istrinya.

Setelah mendapatkan kebutuhan Isti, mereka meninggalkan mall.
Malam hari sebelum tidur.

“Mas….lusa aku ke kantor boleh?” Tanya Isti yang membersihkan wajahnya di meja rias.

“Boleh, kita berangkat bareng” ucap Aji yang duduk di sofa sambil melihat laporan lewat laptopnya.

Isti melihat suaminya yang masih sibuk dengan pekerjaannya.Wanita itu menghampiri dan duduk disebelahnya.

Aji yang saat ini memakai kacamata terlihat berbeda dimata Isti.

‘ini suami sapa sich tampan banget’ Isti membatin sambil melihat garis wajah suaminya.

“Mas bukannya cuti?” Tanya Isti.

“Iya, cuma cek laporan.” Aji menajwab tanpa melihat istrinya.

“Ga bisa dikerjakan besok pas masuk kerja?”

“Gak bisa”

“Kenapa?”

“Uda mau akhir tahun”

“Ya sama aja ga cuti donk?!”

“Ga juga, kan tadi siang kita jalan.”

Aji terus menjawab pertanyaan Isti tanpa menatap wajah istrinya.
Hening beberapa saat.Isti merasa bosan dan terabaikan.

“Aku ke kamar Vazco!” Pamit Isti.

“Hm” jawab Aji dingin.

‘astaga, ini baru sehari nikah. Kenapa dia berubah gini sich?’ Isti masih membatin.

Wanita itu meninggalkan suaminya seorang diri dengan laptopnya.

Selang 1 jam, Isti kembali ke kamar mereka.
Terlihat Aji masih berkutat dengan kesibukannya.

“Belum selesai?” Tanya Isti mengganti bajunya dengan kaos tipis milik Aji.

“Belum” jawab Aji singkat yang matanya tak lepas dari laptopnya.

Isti mendengus kesal, dia mengambil ponsel yang tergeletak tak jauh dari laptop suaminya.

“Mas, ini bagus ga?” Tanya Isti menunjukkan ponselnya ke arah suaminya.

“Bagus.” Jawab Aji melihat sekilas.

“Bagus mana sama yang ini?”

“Bagus ini” Aji melihat sekilas.

“Kalo model gini bagus ga aku pake?”

“Bagus juga” tanpa melihat yang ditunjuk Isti.

Isti geregetan mendengar respon suaminya.

“Mas aku mau beli baju ini ya?”

“Iya”

“Sama tas ini juga ya? mahal lho tasnya.”

“Hm”

“Sekalian sepatu ya Mas, supaya hemat ongkir”

“Iya”

“Mas yang bayar”

“Iya”

“Totalnya banyak lho”

“Hm”

“Pakai kartu kredit? Atau transfer?”

“Transfer”

Isti makin kesal seolah Aji tak peduli kehadirannya.

Dia bangkit dari sofa, saat hendak berjalan, “Mau kemana?” Tanya Aji sambil mendongakkan kepalanya.

“Tidur!” ucap Isti dengan nada sewot.

“Temani aku dulu.”

“Emoh.. ngantuk” jawabnya ketus dan melanjutkan langkahnya.

‘eh, tanganku kok ga ditarik seperti cerita novel itu?Iiiih dasaaaar suami kampret!’ Isti bermonolog berjalan menuju ranjang sambil menghentakkan kakinya.

‘kamu puasa selama seminggu, ga usah sentuh-sentuh’ ancaman dari hati Isti.

Isti berbaring dengan hati yang dongkol, memunggungi tempat Aji berbaring.

15 menit berlalu.

Isti masih belum memejamkan matanya karena kesal.Terasa ranjangnya bergoyang, pertanda ada seseorang selain dirinya yang terdiam.

Ternyata suaminya menaiki ranjang.

‘cuekin! pura-pura tidur’

“Love, kamu uda tidur?”

‘jangan jawab! inget, dia harus puasa.SE-MING-GU!’

“Ini masih malam pengantin kita” Aji memeluk dari belakang dan mencium rambutnya.

‘tadi sok cool, sekarang mepet-mepet’

“Sayangku…..” Aji mengusap perut Isti yang tak rata.

‘abaikan panggilan laknat itu’

“Ratuku…..” Aji mendaratkan ciuman di leher.

‘Gombal! Kampret!’

“My Love…..” Aji meremas payudara Isti, dan menekan miliknya di bagian belakang Isti.

‘emang enak di cuekin?! kalo gini kamu butuh aku kan? Main solo aja sono! Punyamu uda keras kan?!

“Pengantinku…..” bisik Aji sambil tangannya terus mengexplore tubuh Isti sambil menekan miliknya yang sudah menegang.

‘ tetap fokus Isti! Jangan terbuai! Eh…tapi itu yang dibawah kok meleleh sich aaaarrrrggghhh’

“Love, jangan tidur dulu donk, main 1 ronde aja dech” tangan Aji menyusup memainkan putingnya.

‘kenapa sich dia selalu kasih kenikmatan gini? waduh…itu puting pasti bentuknya pasti ga karuan’ nafas Isti mulai berat, putingnya mulai mengeras dan membesar.

“Tadi malam pasti capek banget ya….aku janji sekarang cuma sekali aja” Aji melepaskan CD Isti yang berenda.

‘tuh kan….ini suami sapa sich? Pinter banget ngerayunya’

“Love…ga kuat …” Aji makin menekan miliknya di bagian belakang Isti, jarinya memaksa masuk ke liang senggama Isti.

“Mas uda selesai?” Isti berucap lirih dan berpura-pura mengerjapkan matanya.

ambyar pertahanan Isti, bye bye puasa seminggu….

‘aku ga mau ya disebut istri durhaka karena meninggikan ego. Ini kan tugas istri melayani suami’

“Belum ini masih ngerjain kamu” Aji tersenyum sumringah melihat istrinya merespon.

Isti jelas merespon, lha wong jari-jari Aji sudah ngobrak-ngabrik intimnya.Aji yang sudah siap tempur membuka atasan Isti.

Pria itu tak sabar, dia menindih tubuh istrinya, mencumbu setiap inchi.Dan jarinya tak lepas dari lubang kenikmatan.

Isti menggeliat menikmati seluruh sentuhan dan cumbuan suaminya.Wanita itu tak bisa menahan desahannya saat Aji menyusuri lehernya.

Bibirnya yang menempel di telinga Aji mengeluarkan suara erangan akibat jari-jari menyiksa nikmat di pusat tubuhnya.Suara itu membuat Aji makin bergairah.

Pantat Isti bergerak makin cepat, matanya terpejam.

“Mas…”

Aji mengecup kuat puting susunya menambah rasa kenikmatan.Isti mengejang, hawa panasnya menjalar ke seluruh tubuh.

Suaminya tersenyum melihat wajah Isti yang sudah mencapai orgasme lebih dulu, jarinya merasakan kedutan.Isti mengatur nafasnya, tubuhnya lemas.Namun tak lama Aji membuat nafasnya tercekat.

“Mas!” Isti menjerit kecil.Dengan tiba-tiba Aji mengecup intim Isti.

Aji tak bisa menahan hasratnya, dia menyatukan miliknya, dan dia ingin menuntaskan malam ini dengan permainan kasarnya, hingga dia mencapai pelepasannya.

Aji membaringkan tubuh disamping istrinya yang masih merasakan lendir hangat dari suami.
Tak lama mereka tertidur karena besok harus beraktifitas seperti biasa.

***

Hari ini hari pertama kali mereka beraktifitas normal.

Sesuai perjanjian, Aji membeli polis asuransi.

“Dimana yang harus aku tanda tangani?” Tanya Aji yang saat ini sedang duduk di kantor Isti.

“Yang uda di centang” sahut Isti.

“Pakai kartu kredit ini aja untuk bayar preminya” Aji mengeluarkan sebuah kartu kredit.

Usai proses pengisian formulir, Aji dan Isti melanjutkan perjalanan ke kantor Aji.
“Ntar aku disana ngapain? Harusnya aku pulang aja.”

“Aku cuma cek laporan dan tanda tangan biaya perjalanan untuk marketing.”

Aji menggenggam tangan Isti sejak keluar dari mobil hingga tiba di ruangannya.

“Mas ga malu gandeng tangan aku?”

“Ngapain? Kan kamu istriku”

Saat mereka melewati ruangan yang penuh dengan kubikel, beberapa pasang mata sempat mencuri pandang sosok Isti, bahkan ada yang memandang dari ujung rambut hingga ujung kaki.

“Mas, kamu datang telat gini ga ada yang ngomel?” Tanya Isti melihat jam dinding yang ada di ruang Aji menunjukkan pukul 09.45.

“Kalo ada morning meeting, datang pagi. Kalo hari biasa ya terserah, yang penting performa penjualan sesuai standart company, lagian setelah work hour aku masih kerja. Jangan ragukan loyalitas Aji Laksono dalam pekerjaan! ”

“Kenapa aku mencium aroma kesombongan ya?”

Aji terkekeh lalu ia melihat beberapa berkas yang sudah terletak di mejanya.
Pria itu menekan tombol interkom.

“Tere, tolong ke ruangan!”

Tak berselang lama, terdengar ketukan pintu,dan masuklah seorang gadis.Dia tersenyum dan mengangguk kepada Isti.

“Ini” ucap Aji sambil tangannya mengulurkan berkas.

Gadis yang bernama Tere mendekat hingga di depan meja Aji menerima berkas.

“Sudah di tandatangani semua Pak?”

“Sudah” jawab Aji tanpa melihat Tere yang mundur beberapa langkah.

“Nanti jam 10.30 bapak diminta ke ruangan pak Raka”

“Hm” mata Aji fokus melihat berkas yang ada di mejanya.

“Oh iya, berkas pengajuan kerja sama produk baru dari PT. JJJ sudah saya email ke tempat pak Aji”

“Ok”

“Ada memo baru dari HRD tentang kepegawaian, tadi pagi saya taruh dimeja.”

“Hm”

“Baik pak, saya kembali ke ruangan”

“Iya”

Gadis itu pun kembali ke ruangan setelah menutup pintu ruangan Aji.

“Kamu nyebelin lho Mas kalo kayak gitu” ucap Isti.

“Yang gimana?”

“Jawabnya pendek-pendek, ga ada eye contacts. Kan kayak di abaikan.”

“Tapi aku paham dia ngomong apa aja, aku juga cek dokumen.”

“Iya, tapi kan kesel kalo di gitukan.”

“Untungnya aku ngomong gitu sama Tere, bukan sama kamu”

“Apaan? Semalam mas ngomongnya seperti itu.”

“Emang iya? Kok ga ngerasa ya?” Aji menatap Isti yang cemberut.

“Beneran, aku tanya segala macem jawabannya pendek, kayak ga peduli gitu.”

“Jadi semalem kamu sebel sama aku?”

“Iya, makanya aku tinggal tidur. Harusnya ga usah dikasih jatah sekalian.”

Aji berdiri dari kursinya dan membawa berkas, dia mendekati Isti yang duduk di sofa.

“Oh…jadi semalam uda niat ga kasih jatah, gitu?” tanya Aji menagngkat kedua alisnya.

“Y-ya tapi kan ga jadi” melirik suami yang ada di sampingnya.

“Lalu?”

“La-lalu ..kan…buktinya semalam dikasih jatah kan?”

“Kalo sebel lagi?” Tanya Aji.

“Y-Ya…anu…” Isti kehabisan kata-kata wajahnya menunduk. Aji tersenyum melihat Isti yang kikuk.

“Duduk sini, mumpung belum sebel” Aji menarik paksa Isti dan memangkunya. Wanita itu pun terduduk mengangkangi Aji, secara otomatis roknya terangkat hingga paha mulusnya terekspose.

“Malu” ucap Isti lirih menunduk malu.

“Ngapain malu? Dulu juga pangku-pangkuan. Ga ingat?” Imbuh Aji.

“Tapi ini dikantor”

“Uda aku kunci”

Isti tak berucap, wajahnya merona, dia merebahkan kepalanya di pundak Aji, pria itu mendaratkan dagunya dipundak istrinya.

“Masih banyak dokumen yang di cek?” Tanya Isti, dia bisa mencium aroma suaminya dari ceruk lehernya yang hanya berjarak beberapa milimeter.

“Dikit lagi, aku harus fokus kerja supaya cepat kelar.” Aji melirik berkas yang ada ditangannya.Sebelah tangan yang lain mengusap paha mulus istrinya.

“Fokus kerja?? Tapi itu_”

“Sssst ga usah di omongin, aku tahu kalo yang bawah uda keras”

Isti terdiam, merasakan milik Aji yang sudah mengeras, tepat bersentuhan dengan miliknya.Walaupun tak bersentuhan langsung, tapi bisa membuat milik Isti basah.

Dia tak kuat melihat leher suaminya.Isti memajukan ujung hidungnya, hembusan nafasnya bisa dirasakan suaminya.

“Love…” Aji memperingatkan dengan suara beratnya.

“Hm” balas Isti.

“Bantu aku supaya tetap fokus, biar cepet selesai.” Nafas Aji mulai berat.

“Aku ga ngapa-ngapain”

“Terlalu dekat”

“Apanya?”

“Yang dileher”

Isti semakin menggoda dengan menarik nafas dalam-dalam, dan menghembuskan.Leher Aji semakin menegang merasakan hembusan nafas Isti

“Damn it Love! kamu bernafas saja membuatku gila” ucap Aji, dia membalas mengecup leher Isti dengan tiba-tiba.

Aji melemparkan berkas yang digengamnya ke meja.

“Eeehmmmm” Isti melenguh mendapat serangan di lehernya.

Dengan terburu-buru Aji membuka anak kancing blouse yang dikenakan istrinya, dan melepaskan, hanya bra hitam yang tersisa di bagian atas tubuhnya.

“Mas, kita di kantor lho”

Aji menyambar bibirnya.

“Makanya buruan, ntar jam 10.30 aku harus keluar ruangan. Masih ada 1 jam!”

“MAS!” Isti memekik saat Aji membaringkan tubuhnya di sofa dengan tiba-tiba.

“kamu selalu menggoda Love…dan itu menyiksaku” Aji menatap Isti tajam.

Tangan pria itu menyusup ke dalam rok istrinya, dengan sempurna Aji melepaskan CD berenda istrinya.

“Astaga, Mas beneran mau ngelakuin disini?” Isti seakan tak percaya apa yang dilakukan suaminya.

“Mumpung kamu belum sebel.” Aji mengangkat sebelah kaki Isti yang masih menggunkaan stiletto di sandaran sofa.

“Mas malu, ntar kalo ada CCTV gimana?” Isti berusaha menutupi organ pribadinya yang sudah merekah dengan tangannya.

“Ya ga papa, kan sama suami sendiri.” Aji menggoda istrinya, menarik tangan Isti yang menutupi area intimnya.

“Ih Mas ini..malu lah kalo keliatan”

“ga ada CCTV Sayangku…” tangan Aji menyusup ke bagian belakang Isti dan membuka kaitan bra nya.

“Astaga Mas…rasanya aku seperti jalang”

“Emang bener, kamu jalangku” Aji berucap tenang, mengusap perut Isti dan menaikkan bra nya, hingga payudaranya terlihat jelas.

“Ya Ampun…. penampilan aku pasti berantakan.”Aji tersenyum mendengar ucapan istrinya.

Aji merogoh kantong jas nya dan mengambil ponsel.Dia mengarahkan ke arah Isti.

“Mas ngapain?” Tangan Isti menutup dadanya.

“Katanya mau liat, makanya aku foto” Sekejap Isti menutup wajahnya, sedangkan Aji tersenyum nakal.

Aji memberikan ponselnya ke Isti.

“Ya ampun Mas ….” Isti speechless melihat dirinya, lalu dia menghapus gambar yang tak seharusnya.

Dilihatnya tubuhnya hanya ada rok yang terangkat melingkar pinggulnya dan Stiletto di kaki. Aset pribadinya jelas terlihat dengan sempurna.

“Mas curang! Pakaian ku uda ga karuan, tapi mas masih lengkap.”

Aji terkekeh, badannya mengungkung istrinya dengan satu tangan, tangan yang lain bermain di intim Isti, mata pria itu menikmati wajah istrinya yang menahan hasrat.

Sentuhan Aji semakin membanjiri liang senggamanya.Pantat Isti naik turun mengikuti ritme jari Aji yang rajin keluar-masuk dan mencari kenikmatan.

“Love…basah banget. Awas kena celanaku!” Aji menggoda Isti yang sedang fokus dengan kenikmatan.

“jari Mas itu yang nakal” ucap Isti dengan nada galak.Pria itu tersenyum mendengan sahutan istrinya, dia sangat senang sekali menggoda Isti.

Isti memejamkan matanya.Pinggul Isti bergerak cepat mengejar kenikmatan, namun tiba-tiba Aji mengeluarkan jari dari lubang nikmat itu.

‘lho..kok dilepas sich? kan tinggal dikit lagi’ batin Isti kecewa.

Seketika raut wajah Isti terlihat berbeda, Aji yang mengetahui kekecewaan istrinya mengulum puting payudaa Isti.

“Hmmmmmmm” desah Isti.

“Mas, buruan!” Isti tidak bisa lagi mengikuti Aji yang mempermainkan hasratnya.

“mau kemana?” Aji semakin menggoda, melepaskan puting yang satu, berganti ke yang lain.

“katanya mau ke ruangan Pak sapa itu….”

“sabar sayangku, kan nanti jam 10.30…”

“Mas…”

“Sayangku mau apa ?” tanya Aji yang tangannya hanya bermain di sekitar dadanya.

‘MAS…..KAMU TAK KEPRUK ASBAK LHO, SOK SOK AN GA TAU!’ batin Isti yang sudah menginginkan lebih.2

“Kakiku capek ..” rengek Isti beralasan.

“o…ya uda.” jawab pria itu enteng menghentikan permainan di dada istrinya. Aji menurunkan sebelah kaki Isti yang bersandar di sofa. Dia menarik rok Isti sehingga bagian intim istrinya tertutup.

Lalu duduk santai di sofa sambil melihat ponsel.

Isti melongo atas perlakuan suaminya, karena dia berharap Aji akan menggaulinya.

“uda? gini aja?” tanya Isti yang hasratnya sudah menggebu.

“mau kamu gimana sayang?” tanya Aji dengan lembut dan menggoda.

Sontak Isti duduk di pangkuan Aji, dia meraup bibir suaminya secara kasar.

“Hmmmm” Aji melenguh menikmati kecupan Isti yang brutal, tangannya merengkuh pinggang Isti.

Tangan Aji mengusap punggung istrinya yang polos sambil membalas pagutan dan lumatan istrinya.Tak berselang lama dia tersadar, menarik bibirnya.

“Love,celanaku basah!”

“Lalu?” Isti bertanya dengan tatapan penuh hasrat, nafasnya tersenggal.

Dalam sekejap pria itu membaringkan tubuh Isti lagi.

Aji membalas mencium bibir Isti yang terbaring pasrah di sofa, tangannya bergerak bebas meremas dan menarik gemas puting istrinya. Jemari Isti bermain di dada Aji yang masih terbungkus rapi membuat pria itu makin brutal.

Dengan perlahan, tangan Isti turun, dia membuka gesper ikat pinggang, lalu membuka kaitan celana serta resliting, tangannya menyusup dan mengeluarkan milik suaminya yang sudah mengeras.Lalu meremas dengan lembut.

“Milikmu sayang” ucap Aji berbisik di depan bibir Isti dengan senyum tersungging, tatapan mata penuh hasrat.Aji melanjutkan kecupannya di leher Isti.

Tangan Isti menuntun milik Aji menuju lubangnya. Hingga secara alami Aji menyatukan tubuhnya.

“Aku selalu menginginkan ini Love” Aji mencium leher Isti dengan menggoyangkan pinggulnya.Bibir Aji turun ke dada Isti hingga berhenti di puting.

Lidahnya memainkan puting yang sudah mengeras, tangannya memainkan yang sebelah.

Hingga pria itu tak sabar ingin mengakhiri permainan ini.Aji menggoyang pantatnya dengan cepat, mengulum puting Isti seperti anak bayi, dan meremas sebelahnya.

“Masshhh” Isti mendesah dan memejamkan matanya merasakan kenikmatan, jari-jarinya menyisir rambut dengan remasan.Isti ikut bergoyang dengan cepat, mengejar puncak nikmat.

Hingga suhu tubuhnya meningkat, badannya bergetar,mengejang, tangannya meremas rambut Aji lebih keras.Bersamaan dengan Aji menyemburkan cairan hangat di liang senggamanya.

Aji membaringkan tubuhnya di dada Isti sambil mengatur nafasnya. Isti mengusap kepala Aji dengan lembut dan manja.

“Mas ga ke ruangan Pak itu?”

“Sebentar lagi” jawab Aji yang masih menikmati aroma keringat istrinya.

“Selangkanan aku capek”

Aji terkekeh, lalu memisahkan penyatuannya.Isti menurunkan kakinya, dan mengenakan busananya.

“Jangan capek-capek, nanti malam lagi”

“LAGI?” Isti menoleh ke suaminya.

“aku takut kalo kamu sebel, ga dapat jatah.” Aji merayu.

“Love, basah!” Aji menunjuk bagian celananya tepat di resliting yang terkena cairan Isti.

“Makanya, ga usah main-main. Sini aku bersihkan!”

Aji berdiri didepan Isti, wanita itu mengusap bagian yang basah dengan tisu kering.

“Love…itu bukan ngebersihin, malah buat keras lagi” ucap Aji yang mulai merasakan miliknya mulai mengeras.

“Terus gimana? Tutupin jas aja ya, ga keliatan kok” Isti berucap merasa bersalah, dan menghentikan usapannya.

“ya uda, betulin baju kamu, berantakan”

“Mas yang bikin gini” sahut Isti sambil menyisir rambutnya. Aji tertawa kecil mendengar sahutan dari istrinya

“Aku keluar dulu ya, kalo bosan kamu di meja Tere aja.” Aji mencium kening Isti.

“Ntar aku ke meja Tere” balas Isti.

Aji meninggalkan istrinya yang masih sibuk berdandan.

Bersambung