Complicated Part 10

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Tamat

Cerita Sex Dewasa Complicated Part 10 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya :  Complicated Part 9

Mereka duduk santai di depan TV.

“Love…bikin es teh donk!”

“Lha ini kan rumah mas.”

“Kan aku disini tamu, ntar jam 9 uda di suruh pulang.”

“Ih…Mas ini, kan lagi seru TV nya” ujar Isti berjalan sambil menghentakkan kakinya dengan keras pertanda protes.

Aji membuntutinya menuju dapur.Terdengar Isti masih mengomel.

“Itu acara bentar lagi buyar, jadi ga tau kan endingnya gimana”

“Apa sich?” Tanya Aji yang berdiri disampingnya.

“Abisnya_”Tiba-tiba Aji sudah memeluk tubuh Isti dari belakang dan mencium tengkuk leher wanitanya.

“Hmmmmmm” tanpa sadar Isti melenguh dan mendongak.

“Jangan berisik Love” Aji terus menjilati lehernya, ruang lehernya makin terbuka luas ketika Isti mendongak.

Kaki Isti tak bisa menahan lagi tubuhnya, dia menyandar ke tubuh Aji.Aji terus menyusuri tiap Inci leher wanitanya, tangannya menyusup masuk ke blouse, mengusap perutnya.Jemari Isti menyisir rambut Aji, sesekali meremas lembut.

“Mas …Uda donk! Harga diri janda nich!” Pinta Isti sambil berusaha menghentikan cumbuan.1

“Janda atau perawan, tetap aku perlakukan sama Love. Aku ga bisa liat tubuhmu nganggur!” Aji mengurai pelukannya, dia tahu kekasihnya ga nyaman terlalu sering skin ship.

***

Tiba hari yang dinanti oleh sepasang kekasih ini.

Usai Aji mengucapkan ikrar sehidup semati, Isti dan Vazco keluar dari kamar, menuju pria yang saat ini menjadi suaminya.

Hati mereka yang selama seminggu ini terlalu tegang, memikirkan pernikahan, menyimpan rindu karena adat pingitan, sekarang terbayar lunas sejak Aji dengan lancar mengucapkan ijab qobul.

Isti menggunakan kebaya putih dengan hiasan brukat dan Monte sederhana, menambah kesan anggun.Rambut disanggul dengan tampilan modern, terlihat untaian bunga melati yang telah dironce menggelantung indah didadanya.Make up yang natural memperlihatkan wajah Isti semakin segar dan cerah.

Vazco menggunakan beskap dan celana warna gading, warna yang senada dengan Aji.Dengan langkah kecil menggandeng ibunya.Bocah kecil yang masih polos itu senyumnya merekah saat melihat Aji.

Isti dan Vazco berhenti tepat didepan Aji.Pria itu menggendong Vazco dan mencium kening Isti dengan lembut, lalu Isti mencium punggung tangannya.
Usai acara yang sakral, mereka akan melanjutkan ke resepsi perkawinan di hotel terdekat.

“Ma…tolong baju Isti sama Vazco ya!” Ucap Isti ke mamanya.

“Beres!Uda mama siapkan di koper! Vazco langsung ikut ke rumah Aji juga?” Tanya ma Isti.

“Iya ma, Aji Uda siapkan kamar untuk Vazco”

“Dia sangat menyayangi kalian nak… semoga pernikahan ini yang terakhir” tutur mama yang ada di sofa sambil melihat putrinya di poles.

Setelah sempurna, Isti diperbolehkan melihat dirinya sendiri.Dia tidak percaya melihat dirinya sendiri.

‘aku menginginkan seperti ini beberapa tahun yang lalu…dan sekarang terwujud’ batin Isti sambil terus berkaca, rasanya dia tak bosan melihat wajahnya sendiri.

Setelah keluar kamar dan bertemu dengan Aji, pria itu tersenyum saat wanitanya berjalan ke arahnya.

“Kamu cantik sekali” ucap Aji.

“Jadi selama ini aku ga cantik?!” Tanya Isti dengan nada ketus.

“Ya ampun! galaknya ga bisa ilang ya…kamu selalu cantik sayang” Aji merayu.

Isti dan Aji memasuki hall hotel.Wanita itu terpukau saat melihat pelaminannya, semua sesuai yang di impikan.

“Kamu suka?” Tanya Aji yang berjalan di sampingnya.

“Terimakasih …kamu sudah membuatnya menjadi nyata” ucap Isti yang tangannya memegang lengan kokoh prianya.

Senyum sumringah selalu terlihat dari pasangan baru ini.
Selvia yang datang pada acara tersebut ikut senang, Isti menangis bahagia.

“Sudah saatnya kamu bahagia nak…sudah cukup penderitaanmu” ucap Selvia sambil mengusap punggung Isti.

“Aku titip Isti ya…jika kamu menyakitinya, tak segan aku akan membunuhmu” ucap Selvia melihat ke arah Aji.

“Iya Bu… terimakasih atas semuanya” Aji mengedipkan satu matanya ke Selvia.

Flashback On

Selvia : Iya Aji ada apa?

Aji : Tolong bujuk Isti mempercepat pernikahan kami, dia memutuskan tahun depan. Saya ga sabar menunggu lagi Bu.

Selvia : jadi maunya kapan?

Aji : kalo bisa tahun ini Bu

Selvia: ok aku bantu, tapi kamu janji bahagiakan dia ya, kalo ga…aku sendiri yang akan turun tangan membuatmu menderita.

Aji : janji! aku sangat mencintai dia, apakah penantianku masih kurang lama?

Selvia :Ok, tunggu

Mereka memutuskan komunikasi.
Selvia menghubungi jajaran leader, meminta mereka untuk datang ke rumahnya.

“Jangan ada yang setor penjualan …kalo ada setoran, dokumen pending dulu.Setelah Isti nikah, silahkan setor…aku kasih reward” ucap Selvia ke para manager.

“kenapa?” tanya seseorang.

“aku ingin melihat Isti bahagia, dan aku rasa pria yang bernama Aji bisa membahagiakan Isti.Isti kekurangan target penjualan, Aji kemarin sudah menawarkan untuk ikut asuransi untuk membantu target Isti dengan syarat Isti menikah dengan Aji, tapi ditolak.

Aku akan berpura-pura kalo kita tidak ada penjualan, dan kekurangan target juga.Jadi setelah mereka menikah, dan pengajuan Aji sudah beres, kita balik normal lagi. Paham?”

Mereka pun mengangguk tanda mengerti.

Kalo bukan cara ini, kamu ga bakal nikah.’maafkan aku ya Isti’ ucap Selvia.

Flashback off.

Usai acara resepsi, mereka pulang ke rumah Aji.Mama Aji dan mama Isti menginap dirumah itu juga, mereka menjaga Vazco bergantian.

Isti dan Aji memasuki kamar.Aji melepaskan seluruh busana yang dia kenakan sepanjang resepsi.
Hanya boxer yang tertinggal ditubuhnya.

Hati Isti berdetak kencang melihat tubuh Aji yang bertelanjang dada dari pantulan cermin.

Isti mengurai rambutnya dari jepitan, dia membersihkan wajahnya.Dia membuka koper yang dibawa mamanya.

‘kok baju tidur ga ada semuanya?’ batin Isti.

“MAMAAAAAAAAA!!!!” Isti berteriak kencang.

“Love ada apa?! “Tanya Aji terkejut mendengar teriakkan istrinya.

Bunda dan Mama Isti terkekeh mendengar teriakkan anaknya.

“Akhirnya rumah ini rame” ucap Bunda.

“Baju tidur ku ga ada! disini cuma ada baju formal,underwear,jeans, blouse” Ucap Isti lirih sambil duduk di sofa dengan busana kebaya lengkap dan jariknya.

“Aku rela melihat mu tanpa busana, kan kita sudah sah suami istri” goda Aji.

Isti melotot tajam ke arah suaminya.

“Walaupun aku janda, tapi aku belum pernah secara sadar bugil dihadapan pria!” Isti berkata ketus.

‘aku menyukainya saat dia berkata bawel dan galak, liar!’ batin Aji sambil tersenyum.

“Jadi mau nya gimana ?” Tanya Aji yang ikut bingung duduk di sebelah Isti.

“Aku pinjam kaos mas aja ya”

“Kamu buka lemari itu! ambil sendiri! ini sudah menjadi rumahmu juga Love” Aji menunjukkan ke salah satu lemari.

Isti membuka lemari, dan mengambil sebuah kaos.

Dia berjalan ke kamar mandi dan mengganti busananya.Keluar dari kamar mandi, kaos yang tampak kebesaran dengan panjang sebatas pahanya itu malah membuat Isti terlihat sexi.Payudara terlihat samar tanpa bra membuat ujung putingnya menonjol sempurna.

Mereka berbaring miring, saling berhadapan.Terdiam, hanya terdengar deru nafas.

“Rasanya aku belum percaya kita bisa satu ranjang.” ucap Aji memecah keheningan di antara mereka.Aji menyelipkan rambut yang menutupi pipi Isti.

“aku tau kamu belum sepenuhnya percaya ke aku.aku tau masih ada ragu. aku tau masih ada bimbang. Tapi yang terpenting saat ini, ada cinta ada di antara kita”Aji mengambil tangan Isti, mengusap punggung tangannya dengan ibu jari.

“sekarang kita sudah menjadi satu. aku tempatmu menangis. aku tempatmu mencurahkan kesalmu. aku tempatmu mengeluh.”

Aji mengigit telunjuk Isti, Isti pun meringis tanda kesakitan.

“sakit?” tanya Aji, dan Isti pun mengangguk.

Lalu Aji mengecup dan mengulum lembut jari Isti didalam mulutnya.

“hanya aku yang bisa menghilangkan sakitmu. hanya aku yang meredakan tangismu. hanya aku yang menghilangkan sedihmu”

Aji pun mencium lembut bekas gigitannya tadi.Tubuh Isti meremang, jantungnya bertalu lebih kencang.

“Terimakasih mas sudah terima Isti dan Vazco. Mas tau dibalik kemandirian ku ada hati yang rapuh. Mas tau dibalik ketegasanku, aku ingin dimanja.. Seberapa besar kesalahan aku, tolong tegur aku.Apapun yang terjadi, jangan tinggalkan aku.”

Isti mencium lembut pipi suaminya.Aji masih menatap manik mata Isti.

“Love…aku bukan pria yang munafik.Saat ini aku sangat ingin kamu berada dibawah ku, menikmati setiap inchi tubuhmu, memporak porandakan tubuhmu, mendengar desah nikmatmu” Aji mengecup kening istrinya.Isti memejamkan matanya.

“Sudah kewajibanku melayanimu Mas, dan sudah hak mu.”

Aji menggelengkan kepalanya.

“Bercinta bukan sekedar hak dan kewajiban, bukan sekedar seks.Aku ingin kita melakukannya dengan rasa cinta.Setuju?” Tanya Aji.

Isti mengangguk malu, dia tahu kemana arah pembicaraan ini.

“Aku menunggu tanda persetujuanmu Love, jika kamu sudah memberikan tanda persetujuan itu, aku tidak akan berhenti hingga aku sendiri yang menghentikan.Aku tidak mau ada rasa terpaksa. Kita lakukan, kita nikmati.”

Isti menyadari ucapan Aji.

Wanita itu tahu suaminya sangat menginginkan dirinya, tapi pria itu berusaha menahan hasrat menunggu keikhlasannya.Isti tidak mau terjebak dalam masa lalunya, dia percaya Aji akan memberikan ketenangan dan kenyamanan.

Isti memberanikan diri mendekati wajah Aji, dia melumat lembut bibir suaminya.

Aji membalas melumat dan tak lama Isti menarik wajahnya.

“Itu tanda persetujuanku yang pertama” bisik Isti.

Isti menurunkan wajahnya ke ceruk leher Aji.

Mengecup kuat disertai gigitan kecil, hingga Aji menarik nafas dalam-dalam.Tubuh Aji mendidih, tapi dia berusaha mengontrol nafsu liarnya.Pria itu menelan ludahnya dengan berat.

“Dan itu tanda persetujuanku yang kedua” ucap Isti sambil melihat Aji dengan tatapan yang menggoda dan ada binar dimatanya.

Aji mengambil satu tangan Isti yang lain, dia letakkan di pinggangnya yang polos.
Isti tidak bersuara, dia hanya menatap wajah Aji, jantungnya berdebar-debar.

Jari telunjuknya perlahan menyusuri wajah Isti, lalu leher, dan lekuk kurva tubuhnya.

“Kita sudah sah menjadi suami istri, kamu bukan janda lagi.

Tubuhku seluruhnya milikmu, tubuhmu seluruhnya milikku.

Kita saling memanjakan, saling memberikan kenikmatan.” Ucap Aji yang jari telunjuknya sudah berada didada Isti.

Tepat di ujung putingnya yang masih terbungkus kaos tipis, Aji memainkan perlahan, jarinya mengitari areola, menarik putingnya.

Isti mencengkeram tangannya yang berada di pinggang Aji, tubuhnya mulai menegang.
Akibat cengkeraman itu, Aji merasakan bahwa tubuh Isti telah bereaksi karena sentuhannya.

Perlahan Aji mendaratkan bibirnya ke bibir Isti.

“Jangan malu lagi sayang!” ucap Aji lirih.Tangan Aji menelusup ke dalam kaos Isti, pria itu megusap perut rata wanitanya.

“berbaringlah santai Love! nikmati dan ingatlah sentuhanku!” Aji membisikkan kata cinta sambil mencium bibir Isti lembut.

Isti melepaskan cengkeramnya di pinggang Aji, perlahan dia berbaring terlentang dengan nafas yang berat.Tangan Aji terus merayap ke atas hingga bertemu 2 benda kenyal.

Tak sabar Aji mengangkat kaos itu hingga batas leher.Payudaranya terlihat jelas, Aji mengecup puting susu Isti dan meninggalkan tanda cinta.

Isti menahan desahannya, memejamkan matanya menikmati setiap perlakuan suaminya.
Tangannya meremas sprei, berusaha mengontrol nafas.

“Payudaramu masih seperti dulu Love… menggairahkan!” bisik Aji.

“Ehm….” Isti melenguh, dia merasakan tangan kasar itu meremas lembut payudaranya, bermain di sekitar putingnya.

Aji mengecup dan kadang menggigit lembut puting payudara Isti, mengakibatkan bagian kecil itu makin muncul membesar dan kaku.

Bibir Aji tak lepas dari payudara yang satu, sedangkan tangannya bermain dengan payudara yang lain.

Tangannya beralih menuju bagian bawah, menyusup masuk di balik celana dalam, memberikan sentuhan lembut.Lendir cinta mulai keluar dari intim Isti.

Pria itu bangkit dan dia sudah di atas Isti dengan lutut menahan tubuhnya.
Dengan mudah dia melepas celana dalam istrinya.

Lalu dia kembali ke posisi awal, berbaring miring sambil melihat wajah Isti yang merasakan sentuhannya dan gelisah menahan desahan.

Aji mengulum puting payudara Isti lagi, tangannya bermain di intim Isti.
Secara reflek Isti menekuk kakinya dan sedikit membuka.

Jari Aji berkelana memainkan klitoris dan sekitarnya, hingga cairan cinta mengalir semakin deras.

“Ooohhhh..” Isti tidak bisa menahan desahannya.

‘kamu apakan vaginaku Mas? Ini sangat nikmat! kecupanmu dipayudaraku menambah rasa nikmat yang luar biasa.’ batin Isti.

Isti meliukkan tubuhnya, mengangkat pantatnya mencari kenikmatan.
Mulut Aji tidak lepas dari payudara Isti, memberikan tanda cinta bertubi-tubi.

Hingga tubuhnya merasa panas yang membuatnya bergerak makin cepat, dan dia mengejang.
Akhirnya dia menemukan kenikmatan dari jari-jari suaminya.Isti merasakan intimnya berkedut, Aji pun ikut merasakan.

“Itu yang namanya orgasme sayangku…” Aji mengecup lembut bibir Isti, wanita itu tersenyum merona, dia masih malu ada pria menyentuh wilayah pribadinya.

Isti berusaha mengembalikan jantung dan nafasnya kembali normal.

Tubuhnya masih lemas, dia meluruskan kakinya.
Aji pun bangun dan dia sudah memposisikan tubuhnya di atas Isti.

Dia membuka kaos yang digunakan istrinya, dan kini tubuh Isti benar-benar tak tertutup oleh sehelai benang.

Aji mencium lembut perut Isti dan mengusap pahanya.Pria itu memisahkan kedua paha mulus istrinya, dan menekuknya.

Tampak intim Isti masih basah dengan cairan yang dia keluarkan tadi.Aji menenggelamkan kepalanya di kedua paha yang terpisah.

Pria itu menjilati cairan cinta yang tersisa di sekitar intim Isti.

Isti mendesah menikmati permainan lidah Aji, dia meremas rambut prianya.

‘ini apalagi Mas? Kamu menyiksaku dengan kenikmatan ini..Sensasi ini berbeda dengan yang tadi, lebih lembut, membuat ku geli dan …. aaaahhhh…ada sesuatu yang membuatnya makin nikmat…kamu mengecup dan menggigit klitorisku??’ otak Isti melayang menikmati yang dilakukan suaminya.

Aji sedang dalam tingkat nafsu yang tinggi, dia melepaskan boxernya.

“Love…aku ga tahan! Maafkan aku jika ini menyakitimu” bisik Aji yang sudah tidak bisa mengontrol nafsu liarnya.

Dia berusaha menyatukan miliknya ke intim Isti.

” Susah Love” ucap Aji yang belum berhasil menerobos lubang kenikmatan.

Tubuh Aji menindih tubuh mungil istrinya, tangannya meremas payudara, bibirnya mengecup lembut bibir, bergantian ke leher memberikan kenikmatan, di sisi bawah dia berusaha keras menghujam.

“Aaaahhhh…Mas Ajih” Isti sedikit berteriak saat milik Aji masuk ke intimnya.

Tangan Isti mencengkeram erat lengan suaminya.Isti merasakan seluruhnya, ada sakit dibagian intimnya, tapi ada nikmat di payudara dan di bibirnya atau lehernya.

Akhirnya milik Aji sepenuhnya bisa tenggelam di intim Isti.

Perlahan Aji menggoyangkan pinggulnya, kadang dia menghentakkan dengan keras.

Mata mereka saling menatap dalam gairah.

Secara natural Isti juga ikut menggoyangkan pinggulnya, mengikuti ritme.Gairah Isti makin membara ketika dalam hentakan Aji, pria itu juga mengecup kuat puting payudaranya.

Tak ayal desahan yang diinginkan Aji terdengar ditelinga suaminya, dan hal itu membuat Aji semakin liar.

Suara desahan saling menyebutkan nama dan kecipak dari gesekan 2 tubuh meramaikan kamar Aji.

Pria itu bergerak makin cepat dengan nafas yang memburu, akhirnya Aji dan Isti mencapai klimaksnya.

Aji menarik selimut, dan menutup tubuh mereka.Isti berbaring di setengah dada bidang suaminya.

“Capek?” Tanya Isti yang mencuri ciuman di pipi Aji.

“Aku capek menahan hasratku.

” Aji menggoda Isti sambil mencium puncak kepalanya.

“Jadi mesti gimana?” Tanya Isti polos.

“Aku ingin melakukannya lagi, tapi nanti saja” ucap Aji.

“Kenapa nanti?” sahut Isti mengecup dada bidang suaminya.

“Kalo aku melakukannya sekarang, aku akan melakukan dengan liar, tidak perlahan, tidak lembut. Mungkin aku menyakitimu.”Isti menggelengkan kepalanya.

“Tuntaskan malam ini Mas!.”

“Jangan Love!”

“tapi aku mau nya sekarang” rengek Isti.

“Then … touch me Love, make me on fire!” Perintah Aji dan menarik tubuh Isti ke atasnya.

“MAS!” Pekik Isti kaget atas perlakuan suaminya. Isti menduduki tubuh Aji, wajahnya merona malu.

“Make it On Love!” Aji mulai menyentuh puting Isti yang berwarna coklat muda.

***

Isti merapatkan tubuh ke suaminya, bibirnya sangat dekat dengan bibir Aji hingga mereka bisa merasakan nafas yang satu dengan yang lain.

“Aku akan membuatmu sangat liar” bisik Isti dengan suara yang lembut tapi mampu membuat darah Aji berdesir. Bibir Aji hendak mengecup bibir Isti, namun Isti menjauh dengan seringai menggoda.

Tangan Isti meraih tangan Aji yang meremas pantatnya yang sekal beralih ke pahanya.

“Disini dulu!” Perintah wanitanya dan mengedipkan sebelah matanya. Isti memulai dengan mencium kening Aji.

Aji melihat buah dada istrinya menggantung tepat di atas mulutnya.Pria itu berusaha sedikit bangkit akan meraup putingnya, namun dengan cepat Isti menjauhkannya.

“Belum saatnya suamiku!” Isti bersuara dengan lembut yang membuat suaminya makin menggila.

Wanita itu mengecup ujung hidung Aji, sang suami tidak membuang kesempatan menggigit kecil dagu istrinya yang sangat dekat dengan bibirnya.Tubuh Isti bergerak perlahan menuruni tubuh suaminya.

Dua benda kenyal itu menempel sempurna didada bidang Aji, tubuh Aji sekejap panas dan menjalar ke seluruh bagian.

Isti memiringkan kepalanya, menuju ceruk leher Aji.Aji mendongak seolah memberi ruang di lehernya, pria itu membasahi bibirnya sendiri.Isti berhenti sejenak menghirup aroma khas suaminya.

Hembusan nafas yang dikeluarkan Isti membuat nafas Aji makin berat, dan lehernya menjadi kaku.

“Love…” Ucap Aji. Isti menempelkan bibirnya ke kulit leher Aji dengan samar-samar.

Aji mengeram, tangannya meremas paha Isti, wanita itu pun merasakannya.

“Jangan….aaarrrggghh” Isti mengecup tepat pada titik rangsangnya cukup lama membuat Aji mengerang.

Isti merasakan remasan tangan Aji makin kuat.

Isti bergerak turun menuju dada Aji, mencium tepat di tengahnya.Nafas prianya makin berat, pangkal paha Isti merasakan pusat tubuh suaminya sudah tegak dan keras.

“Jangan lanjutkan Love! Aku takut ga bisa kontrol.” Aji bersuara.

“Jangan dikontrol.” Balas Isti.

Paha Isti lepas dari cengkeraman Aji, karena tubuhnya terus merosot menyusuri tubuh suaminya.

Setelah mencium pusar, Isti menggoreskan 2 ujung telunjuknya dari tulang pinggul Aji menuju pusat tubuhnya.

1 ujung telunjuknya menari mengitari ujung intim Aji, dan 1 telunjuknya bergerak lincah di sekitar bawah batangnya.

Aji menggoyangkan kedua kakinya, menahan serangan yang menggelitik dan nikmat.

“Geli Love!” Ucap Aji dengan suara yang agak serak.

Isti menghentikan tarian ujung telunjuknya.Kini tangannya mencengkram intim Aji.

“Stop! Jangan!” Perintah Aji dengan nafas beratnya.

Isti tak peduli, dia mengecup kuat ujungnya dan membuat Aji bangkit dari rebahannya. Aji mencengkeram rahang istrinya, dan mengecup bibirnya dengan kasar.

Mereka berciuman dengan penuh nafsu liarnya, membuat bibir Isti kelu. Aji bangun, dan memerintah Isti menungging.

Pria itu berusaha mengontrol birahi liarnya, dia tidak ingin menyakiti istrinya.Dia menggesek-gesekkan ujung batang kemaluannya di intim Isti.

Setelah agak basah, dia menghujamkan ‘miliknya’. Dia merasa doggy style sedikit meredam getaran gairahnya, karena jika dia melihat wajah istrinya, dia takut tidak mampu menahannya.

Si suami mengecup lembut punggung Isti dan tangannya meremas payudara Isti.

“Hanya segini sisi liarmu?” Isti bertanya dan sedikit menoleh ke arah suaminya.

“Aku ga mau menyakitimu” ucap Aji sambil terus menggoyangkan pinggulnya.

“Tunjukkan kekuatanmu! kejantananmu!” sahut Isti.

Seolah tertantang, dalam sekejap Aji melepaskan miliknya dan membalikkan tubuh istrinya.

Dia memasukkan 2 jari ke intim istrinya.Wajah Isti meringis namun dia sangat menikmati.
Cairan cinta membanjiri liang senggama Isti.

Aji mengeluarkan jarinya, mengganti dengan miliknya, menyatukannya dengan liar. Sambil menggoyangkan pinggulnya, dia meremas payudara Isti dengan kasar. Dia juga menggigit puting payudara istrinya. Lenguhan Isti membuat Aji lebih bersemangat.

Isti menikmati setiap perlakuan suaminya, keliarannya memberikan sensasi yang berbeda.Kaki wanitanya melingkar melilit tubuh Aji, seperti tidak boleh menjauh.Aji menatap wajah Isti, melihat bibir istrinya membuat dia gemas.

Dia pun mengecup bibir Isti dengan kasar, melumat, bersilat lidah sambil mencengkram pundak istrinya.Pinggul Isti juga bergoyang mencari kenikmatan untuk dirinya, dan hal ini menjadi Aji makin menggila, membuat hentakan kasar di persetubuhannya.

Seolah mereka saling beradu kekuatan nafsu yang liar. Hingga tiba mereka merasakan hampir berada di puncak kenikmatan, Aji merengkuh tubuh istrinya makin erat.Suara erangan, desahan dan nafas yang memburu mewarnai suasana dikamar Aji.

“Maaassh!” Ucap Isti lirih, pinggul Isti bergerak makin cepat.Reflek tubuh Aji juga mengimbangi irama gerakan suaminya.

Mereka bergerak makin cepat menggapai puncak kenikmatan bersama.Dan secara bersamaan tubuh mereka bergetar, menggelinjang merasakan desiran aliran gairah yang sudah terpenuhi.

Tubuh mereka mendadak lemas, Aji meletakkan kepalanya di dada istrinya.Saling mengontrol nafas yang sempat tidak beraturan, sambil merasakan detak jantung yang sudah mulai normal.

Aji melepaskan pelukannya, lalu berbaring di sebelah Isti dan mencium pundak Isti, “maaf.” Ucap Aji.

“Untuk?” Tanya Isti.

“Yang barusan” jawab Aji secara gamblang.

“Tapi aku suka” sahut Isti merebahkan kepalanya di dada Aji.

Aji tersenyum seolah meragukan ucapan istrinya.

“Jangan bohong hanya sekedar membahagiakan aku” balas Aji mengusap lembut pipi Isti.

“Aku ga bohong! you look so hot! And i really want it, really like it!”

“Ya uda, ntar kalo mau bertarung lagi, aku tanya dulu ke Ibu Ratu, mau yang hot and wild atau slow but sure.” Aji mencium puncak kepala istrinya.

“Apapun aku pasrah aja, pokoknya berikan aku kenikmatan.” Isti memeluk perut suaminya.

“Love…pengen lagi” ucap Aji mengambil tangan Isti dan mengarahkan ke miliknya yang sudah tegang dan mengeras.

“Anytime” Isti tersenyum menggoda yang tangannya sudah menggenggam intim Aji.

Mereka melakukannya lagi hingga Aji merasa istrinya sudah tak mampu lagi.

Bersambung