Ciuman Terakhir Part 17

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Tamat
Tha Gaol Agam Ort, Mo Ghràidh

Namanya Elspeth Finley. Beliau adalah wanita kelahiran Glasgow, 40 tahun lalu, guru Bahasa Inggris bagi 32 orang calon TKI yang akan bekerja di Skotlandia, termasuk Hara. Seorang dengan kecantikan khas bangsa Skot, berwajah mirip Julie Fowlis, penyanyi yang satu bangsa dengannya.

Semua muridnya berpendapat sama soal dialek English yang terlantun dari bibir Mrs. Finley: membingungkan. Jika kita saja sudah merasa bingung dengan aksen British ala Queen Elizabeth, logat Scottish malah lebih membingungkan lagi. Apalagi bagi Hara, yang masih terbilang belepotan dalam berbahasa asing.

Alhasil, modal yang didapat Hara dari menonton film-film dengan dialek British yang kental seperti Me Before You, Lock Stock and Two Smoking Barrels atau The Wind that Shakes the Barley pun seolah tidak lagi berguna.

“Banyak bergaul dengan orang Scot, melancarkan dialek kamu-kamu,” pesan Mrs. Finley, dengan bahasa Indonesia yang sudah terbilang lancar. “Lima tahun di Edinburgh, kamu-kamu akan mahir.”

Pesan lain yang disampaikan Mrs. Finley, adalah hindari bicara dengan dialek British yang dipaksakan. Beliau meminta Hara dan rekan-rekannya untuk berbicara wajar, dengan logat alamiah yang dimiliki lidah masing-masing. Tokh, lawan bicara di Skotlandia nanti akan memahami bahwa mereka adalah kaum ekspatriat. Memaksakan diri untuk berlagak bicara layaknya orang setempat, lalu akhirnya salah, malah akan memicu ejekan.

Soal dialek Scottish, juga Scottish Gaelic, memang menjadi perhatian khusus para staf dari badan penyelenggara keberangkatan tenaga kerja. Mereka menyadari bahwa meskipun mayoritas masyarakat Skotlandia berbahasa Inggris, bahasa internasional, namun aksen khasnya berbeda dengan dialog yang kerap didengar di film-film Hollywood.

Perhatian khusus soal dialek Scottish ini ‘mengalahkan’ atensi para staf tentang working skill ke-32 calon TKI. Bagi mereka, keahlian bekerja akan hadir seiring keterbiasaan mereka menjalani pekerjaan tersebut. Sementara, keterbiasaan berbicara dengan dialek Scottish diperkirakan akan sulit terwujud, mengingat selama bekerja di Edinburgh, mereka akan ditempatkan di sebuah asrama yang sama.

Sedikit ‘keberuntungan’, adalah lokasi bermukim delegasi TKI di Edinburgh. Wilayah tersebut tidak banyak terpengaruh oleh bahasa Gaelic, seperti wilayah barat Skotlandia. Masyarakat Edinburgh berbicara dengan bahasa yang tidak jauh berbeda dengan kebanyakan masyarakat Britania Raya pada umumnya. Logatnya saja yang berbeda.

Bayangkan jika kaum pribumi Edinburgh bicara dalam bahasa Gaelic. Mengungkapkan ‘I love you, Darling’ pun akan menjadi hal pelik, karena harus diucapkan dengan ‘Tha gaol agam ort, Mo ghràidh’.

Rumit, tho?

***

Saat-saat yang menegangkan telah terlalui. Dengan gemilang, ke-32 orang peserta pelatihan berhasil lulus. Mereka, termasuk Hara, resmi menjadi anggota delegasi keberangkatan TKI ke Edinburgh, ibukota Skotlandia tersebut.

Tanggal keberangkatan adalah tepat tiga pekan setelah hari pengumuman. Waktu luang tersebut harus dipergunakan untuk mengurusi paspor dan perlengkapan pribadi, sementara urusan visa langsung ditangani pihak Disnakertrans.

Namun, lepas dari ketegangan menunggu pengumuman kelulusan segera berganti dengan ketegangan menunggu hari keberangkatan. Yang ada di benak seluruh calon delegasi tentunya seragam: tegang sekaligus excited karena semakin dekat dengan apa yang mereka perjuangkan.

“Kerja keras kita akan segera terbayar, Kang,” ujar Nola, seorang wanita yang juga rekan seperjuangan Hara.

“Iya,” tanggap Hara, sambil tersenyum. “Sekarang, kita tinggal menanti keberangkatan.”

“Tiga pekan lagi, Kang,” lanjut Nola. “Nggak akan lama.”

“Penantian tiga pekan,” kembali, Hara tersenyum. “Nggak sebanding dengan masa kerja lima tahun di Edinburgh.”

Nola tiba-tiba tertawa.

“Kenapa?” tanya Hara heran.

“Kang Hara udah fasih menyebutkan kata ‘Edinburgh’ dengan logat ala Mrs. Finley,” kelakar Nola.

Hara pun ikut tertawa.

Ya, kebanyakan orang Indonesia melafalkan ‘Edinburgh’ dengan ‘Edinberg’, seperti orang Amerika mengucapkan ‘Hamburg’. Sementara Mrs. Finley, layaknya bangsa Skot, mengucapkannya dengan ‘ɛdɪnbərə’, yang sekilas terdengar seperti ‘Edinbera’. Huruf ‘G’ dan ‘H’ justru menjadi lebur, nyaris tidak terdengar.

Nah, tadi, Hara melafalkan ‘Edinburgh’ dengan gaya pengucapan mirip seperti yang dilakukan Mrs. Finley. Yaa… setidaknya, begitulah pendapat Nola.

“Besok kita kembali ke Bandung,” ucap Hara. “Sekaligus mengakhiri kebersamaan dan perjuangan selama sembilan hari di karantina.”

“Mengakhiri kebersamaan sesaat, untuk kemudian melanjutkan kebersamaan yang lebih lama, Kang,” timpal Nola.

Hara mengangguk. “Karena kebersamaan di negeri orang, akan terasa lebih berkesan.”

“Karena kita nggak punya siapa-siapa, nggak punya saudara, selain rekan sebangsa,” tambah Nola.

“Apa rencanamu dalam mengisi masa tiga pekan pascakeberangkatan?” tanya Hara.

“Mengurus paspor, menyiapkan modal materi dan moral, menghabiskan waktu sebanyak mungkin dengan keluarga,” tutur Nola. “Hmm… Bang Hara, apa rencananya?”

“Sama sepertimu,” jawab Hara. “Ditambah satu hal… menikahi seseorang, sebelum berangkat.”

“Pacar?” terka Nola.

“Entahlah,” Hara tertawa kecil. “Dia bukan pacarku, tapi aku punya proyeksi masa depan dengannya.”

“Kemungkinannya, dia bersedia?” tanya Nola lagi.

“Semoga,” jawab Hara, sambil tersenyum. “Yang pasti, dia mencintaiku.”

Selepas kata-kata Hara, terdapat jeda di dalam obrolan mereka. Sebelum kemudian ia bertanya,

“Kamu sendiri, nggak punya rencana melakukan hal yang sama?”

“Menikah sebelum berangkat, maksudnya?” tanya balik Nola.

Hara menjawab dengan anggukan kepala.

“Menikah dengan siapa, Kang?” Nola tertawa renyah. “Aku nggak punya kekasih. Hmm… andai punya kekasih, tentunya aku nggak akan diizinkan ikut seleksi ini.”

“Berapa usiamu sekarang?” tanya Hara.

“24 tahun,” jawab Nola.

“Sepulang dari Skotlandia, usiamu udah 29 tahun,” papar Hara. “Nggak takut jadi sulit mencari jodoh?”

“Siapa tahu, jodohku ada di Skotlandia, Kang,” seloroh Nola.

Hara tergelak. “Bisa jadi. Banyak rekan seperjuangan kita yang layak masuk proyeksi masa depan, lho.”

“Iya,” ujar Nola, sambil kemudian tertawa berderai.

***

Keesokan harinya, Hara dan ke-31 rekannya tiba di kantor badan penyelenggara keberangkatan TKI, di Jl. Soekarno-Hatta. Ia sempat bertukar nomor ponsel dengan delapan teman barunya, termasuk Nola.

Hara beralasan, perlu bertukar kontak untuk referensi persiapan menjelang keberangkatan. Alasan yang sangat logis, mengingat Edinburgh adalah tempat asing pertama di luar Pulau Jawa yang akan disinggahinya, sepanjang hidupnya.

Mengagumkan, ya? Tempat asing tersebut adalah sebuah kota yang terletak 11.923 kilometer dari Bandung, kota kelahiran yang begitu dicintainya. Perantauan yang dipilihnya, tidak tanggung-tanggung, adalah benua Eropa. Bukan lagi Kalimantan atau Papua.

Hara juga sempat berjumpa dengan Kang Dinan. Teman lama sekaligus ‘pembuka jalan’ bagi kehidupan Hara yang diharapkan membaik itu, tanpa sengaja ditemuinya tengah merokok di pos sekuriti.

“Aku lulus, Kang,” ujarnya, penuh rasa syukur.

“Aku udah tahu,” Kang Dinan nyengir. “Lebih dulu tahu, daripada kamu.”

Hara tergelak.

“Selamat, Hara,” ucap Kang Dinan. “Semoga ini jadi momen transformasi menuju kehidupan yang jauh lebih baik.”

“Aamiin…” tanggap Hara.

“So, kamu akan segera menikahi wanita idamanmu?” canda Kang Dinan. “Keberhasilanmu ini bikin percaya dirimu melambung, tho?”

“Doakan aku, Kang,” jawab Hara diplomatis. “Sekarang juga, aku akan langsung mendatangi rumahnya.”

“Hmm… gerak cepat, nih,” seloroh Kang Dinan. “Takut ditikung?”

“Bukan,” Hara tertawa. “Aku ingin… dia menjadi orang pertama yang kukabari perihal keberhasilanku ini.”

“Yuri pantas gembira,” ujar Kang Dinan.

Hara menatap Kang Dinan. “Yuri?”

“Bukan Yuri?” tanya balik Kang Dinan.

Hara menggeleng. “Bukan Yuri.”

“Siapa pun yang kamu maksud,” tanggap Hara. “Tentu dia pantas gembira.”

“Iya, Kang,” gumam Hara.

“Oya,” cetus Kang Dinan. “Nanti, akulah yang akan memandu kontingen menuju Edinburgh.”

Hara menatap Kang Dinan antusias.

“Jadi, kalau selama masa persiapan, kamu butuh bantuan, jangan sungkan hubungi aku,” lanjut Kang Dinan. “Main-mainlah ke rumahku.”

“Siap, Kang,” jawab Hara, sambil tersenyum.

“Rumahku nggak terlalu jauh dari rumahmu, ‘kan?” terka Kang Dinan.

Hara mengangguk.

“Ajak juga calon istrimu,” sambung Kang Dinan.

Hara tergelak. “Semoga dia bersedia kuajak.”

“Kalau dia memang bersedia menjadi istrimu,” ujar Kang Dinan. “Dia juga pasti bersedia kamu ajak ke mana pun, Hara.”

Hara mengangguk, membenarkan asumsi Kang Dinan.

“Sekarang, sebaiknya kamu lekas pulang,” saran Kang Dinan. “Segera kabarkan berita gembira ini pada keluargamu.”

“Nggak, Kang,” Hara menggeleng. “Aku berniat merahasiakan semuanya hingga sesaat sebelum berangkat.”

“Lho, kenapa?” tanya Kang Dinan heran.

“Hara menggeleng lagi. “Hanya kepada dia yang akan kujadikan istri, aku berbagi kebahagiaan ini.”

“Yuri?” tanya Kang Dinan. “Kamu juga berniat merahasiakan ini kepadanya?”

Hara mengangguk. “Aku nggak tega, Kang. Aku belum siap melihat Yuri terkejut, saat tahu keberhasilanku ini. Aku nggak tega bikin dia bersedih.”

“Hmm… satu hal yang mendadak terpikir di kepalaku, Hara,” gumam Kang Dinan serius. “Sebaiknya kamu mempertimbangkan keberadaan Yuri di hatimu. Aku serius.”

Kening Hara berkerut.

“Andai nggak ada perasaan apapun terhadap Yuri,” tambah Kang Dinan. “Kamu nggak perlu sungkan mengabarinya, ‘kan? Nggak perlu khawatir membuatnya terkejut dan bersedih, ‘kan?”

Hara tertegun.

“Dulu, hal sejenis pernah kurasakan saat mendengar kalimat bernada keberatan dari bibir Alifa, ketika aku akan pergi bertugas ke Finlandia, dalam durasi yang lebih lama daripada biasanya,” lanjut Kang Dinan. “Saat itulah aku menyadari, bahwa aku sangat mencintai Alifa. Saat itulah aku menyadari, bahwa aku udah berhasil berdamai dengan bayang-bayang ingatan tentang Tessa.”

***

Empat puluh menit kemudian, Hara tiba di depan pintu kediaman Kania. Diketuknya pintu kayu rumah mungil itu dengan tangan sedikit bergetar menahan beragam gejolak dalam dirinya.

Tak lama, pintu dibuka. Dan sesosok tubuh balita menyambutnya.

“Om!” pekik si Dédé, balita itu.

“Dédé,” ucap Hara, seraya merengkuh tubuh kecil itu, dan mengangkatnya. “Om kangen kamu, Sayang…”

“Dédé juga, kangen Om,” balas si Dédé.

“Mama ada?” tanya Hara.

Kemudian bocah cantik itu berteriak memanggil dua nama, ibu dan neneknya.

Sejurus kemudian,

“Hara…” gumam Kania. “Kamu masih ingat jalan menuju rumah ini?”

“Aku nggak akan pernah lupa, sampai kapan pun,” Hara tersenyum. “Bahkan setelah aku pergi meninggalkan negeri ini, tempat ini mungkin akan jadi tempat pertama yang kudatangi saat kembali.”

“Kamu mau pergi ke mana?” tanya Kania.

“Nanti kujelaskan,” jawab Hara. “Sekarang, izinkan aku masuk, Kania. Boleh?”

“Boleh atuh, Hara,” Kania tersenyum. “Duduk, ya. Aku buatkan minum dulu.”

Kania pun berlalu.

Entah karena lupa, atau memang begitulah kenyataannya. Di mata Hara, tubuh Kania terlihat lebih kurus daripada saat terakhir kali dilihatnya.

Apa yang terjadi denganmu, Kania? batinnya bertanya-tanya.

Sepuluh menit kemudian, Kania kembali sambil membawa segelas teh tawar panas. Di belakangnya, Amih dan si Dédé membuntuti. Praktis Hara berdiri dan menyongsong Amih. Disalami dan diciuminya punggung tangan kanan wanita yang pernah dianggapnya sebagai calon mertuanya itu. Lalu, Amih segera minta diri.

“Biar kalian bisa mengobrol tanpa rasa kagok,” alasannya.

Sepeninggal Amih,

“Kamu berkendara motor tanpa pakai jaket?” cetus Kania, menatap Hara tajam.

“Aku nggak mengendarai motor,” jawab Hara. “Aku menumpangi bus kota. Tinggal sekali naik rute bus.”

“Dari Kopo?” tanya Kania heran. “Cuma sekali naik rute bus? Sejak kapan?”

“Aku bukan berangkat dari kantor,” jelas Hara. “Tapi dari Kiaracondong.”

Kania menatap Hara, minta penjelasan lebih lanjut. Dan Hara menunjuk kursi di seberang meja, dengan gestur meminta Kania duduk.

“Kamu tahu kantor badan penyelenggara keberangkatan TKI?” tanya Hara, memulai ceritanya.

“Yang lokasinya di perempatan antara Jl. Soekarno-Hatta dan Jl. Ibrahim Ajie itu, ‘kan?” tebak Kania. “Ada apa dengan kantor itu?”

“Tadi aku berangkat dari sana,” jawab Hara. “Bukan dari kantorku.”

“Kamu berencana pergi bekerja di luar negeri?” duga Kania.

Hara mengangguk. “Ke Skotlandia. Aku mendaftar untuk ikut seleksi, lalu lolos. Hari ini, aku baru kembali dari masa karantina dan seleksi di Jakarta. Nah, tiga pekan mendatang, aku berangkat ke Edinburgh.”

“Serius?” seru Kania, setengah tidak percaya. “Kamu ikut seleksi, dan berhasil lolos?”

“Serius,” jawab Hara mantap. “Aku akan bekerja di Eropa, Kania.”

“Aku ikut bahagia, Hara,” ujar Kania, seraya tiba-tiba bangkit dari duduknya. Lalu melangkah dan menghampiri Hara, dan mendekap tubuh lelaki itu. “Aku ikut bahagia.”

Mau tidak mau, Hara membalas dekapan Kania. Meski tidak lama, karena ia merasakan gelagat Kania yang berusaha melepaskan diri.

Kania kembali duduk di posisinya semula. Hara dapat melihat dengan jelas, betapa raut wajah wanita cantik itu cerah. Siratan kebahagiaan atas kabar baik yang dipaparkan Hara, tak kuasa disembunyikannya.

“Adakah alasan khusus, kenapa kamu memutuskan untuk mencoba peruntungan dengan berangkat kerja ke luar negeri?” selidik Kania. “Karena… Yuri?”

Hara tergelak, sambil menggeleng. “Nggak terjadi apapun di antara aku dan Yuri. Hubungan kami nggak berubah, masih seperti dulu. Masih wajar, layaknya sesama tetangga sebelah rumah.”

“Dan adegan kecupan Yuri di keningmu, yang tanpa sengaja aku lihat, nggak berarti apa-apa?” tanya Kania.

Hara mengangguk. “Yuri mungkin mencintaiku. Tapi tidak denganku. Aku… aku tetap mengharapkanmu, Kania.”

Semburat malu sontak hadir di wajah Kania.

“Alasan terbesarku mencoba ikut seleksi kerja ke luar negeri adalah sikap skeptis keluargaku,” tutur Hara. “Mereka… ah… kamu juga udah tahu, ‘kan, bagaimana sikap mereka terhadapku, selama ini?”

Kania mengangguk.

“Aku lelah dianggap nggak berkontribusi terhadap keluarga, dengan sebagian besar penghasilan yang secara rutin kusetorkan tiap bulannya,” lanjut Hara. “Aku merasa terintimidasi, Kania. Aku lelah dianggap nggak berguna. Lalu, tanpa sengaja aku berjumpa seorang teman lama.”

“Dia bekerja di kantor badan penyelenggara TKI?” tebak Kania dengan tepat.

Hara mengangguk. “Dia menginformasikan tentang lowongan pekerjaan di Edinburgh. Jelas, aku tertarik.”

“Bagaimana sikap ibumu?” tanya Kania.

“Skeptis, seperti biasa,” jawab Hara, sambil tertawa getir. “Mama nggak tahu rencanaku ini. Aku baru akan memberitahukannya, sehari menjelang keberangkatan. Aku nggak peduli dengan tanggapannya, kelak. Tokh, apapun tanggapan Mama, nggak akan mengubah keputusanku untuk pergi.”

“Kalau aku yang melarang kamu pergi?” tanya Kania lagi.

Hara menggeleng. “Nggak mungkin. Kamu pasti mendukungku. Dulu, kamu pernah memintaku untuk mencari pekerjaan dengan gaji yang lebih layak. Masa’ sekarang kamu malah melarang, di saat aku berhasil mendapatkan pekerjaan yang jauh lebih besar?”

“Kamu…” Kania tersenyum. “Selalu bisa menebak jalan pikiran aku.”

Obrolan terhenti, karena Amih muncul dari ruang tengah.

“Nak Hara sudah makan?” tanyanya.

“Udah, Mih,” jawab Hara.

“Kapan?” tanya Amih sangsi. “Pasti belum makan, ‘kan?”

“Belum, Mih,” timpal Kania. “Kapan dia makan? ‘Kan baru pulang dari Jakarta.”

Hara memelototi Kania, namun yang dipelototi malah menjulurkan lidahnya jahil.

“Kalau begitu, Amih akan membeli lotek,” putus Amih. “Kita makan bersama, ya. Tidak ada alasan.”

Melihat kesungguhan Amih, praktis Hara tak kuasa menolak. Amih pun berlalu.

“Kamu ini,” gumam Kania. “Masih aja merasa sungkan tiap kali diajak makan bersama.”

“Aku malu, Kania,” tanggap Hara

“Kenapa harus malu?” ujar Kania. “Kamu masih menganggap kami ini sebagai orang lain, ya?”

“Pada kenyataannya, aku memang bukan siapa-siapa bagi kalian, ‘kan?” balas Hara.

Kania menggeleng. “Kamu pernah menjadi seseorang yang berarti bagi kami, Hara.”

“Bolehkah aku kembali menjadi seseorang yang berarti, seperti dulu?” tanya Hara.

Kania tidak sempat menjawab, karena si Dédé tiba-tiba muncul di tengah-tengah mereka. Bocah itu langsung menyandarkan tubuhnya di kedua kaki Hara.

“Si Om ke mana aja?” tanyanya.

Hara hanya tersenyum, tak tahu harus menjawab apa. Justru Kania yang membantu memberikan jawaban, “Om Hara sibuk bekerja, Dé.”

“Biar dapat uang yang banyak, ya?” tanya si Dédé lagi.

Hara mengangguk.

“Nanti, Om Hara mau pergi jauh,” sambung Kania. “Lama nggak akan bertemu Dédé lagi.”

“Ke mana?” si Dédé meremasi telapak tangan kiri Hara.

“Ke Eropa,” kali ini, Hara menjawab sendiri.

“Jauh?” kejar si Dédé. “Naik pesawat?”

“Iya,” jawab Hara, sambil menganggukkan kepala.

“Nanti Dédé kangen Om,” rengek si Dédé.

“Nanti Om pulang lagi,” ucap Hara, seraya tersenyum lembut. “Om pulang ke rumah ini.”

Giliran Kania yang menatap Hara, seolah meminta penjelasan. “Pulang ke rumah ini?”

“Nanti kujelaskan,” gumam Hara. “Kujelaskan padamu dan Amih.”

***

Hati Hara sungguh meleleh, merasakan kehangatan suasana yang terjadi saat ia, Kania, si Dédé dan Amih menyantap nasi dan lotek, sambil duduk bersila di atas tikar di ruang tengah. Telah begitu lama, Hara tidak merasakan kehangatan serupa, di mana pun. Terakhir kali ia merasakannya berbulan-bulan lalu. Di mana? Ya, di kediaman kecil keluarga Kania. Di sini.

Nyatanya, di sini pulalah Hara berkesempatan mencicipi kebahagiaan santap makan di tengah keluarga. Mirisnya, hal tersebut bukan ia dapatkan dari keluarga kandungnya, sebagaimana mestinya.

“Amih tidak mengira,” cetus Amih di sela-sela suapan nasi plus loteknya. “Nak Hara akan kembali ke rumah ini.”

Hara menanggapinya dengan sekilas senyuman.

“Padahal, rumah ini juga rumahmu, Nak,” sambung Amih. “Amih sudah menganggapmu seperti anak sendiri. Bukan orang lain.”

“Sebelum berangkat ke Edinburgh,” tanggap Hara. “Aku akan…”

“Edinburgh…” gumam Amih memotong kalimat yang diucapkan Hara, sambil terlihat mengingat-ingat. “Hmm… ibukota Irlandia?”

“Skotlandia, Mih,” ralat Hara, sambil tersenyum.

“Ah, ya,” Amih ikut tersenyum. “Kamu akan merantau ke Skotlandia?”

“Iya,” jawab Hara. “Dan sebelum berangkat, aku ingin menikahi Kania.”

Sontak Kania dan Amih tercekat.

“Izinkan aku menafkahi Kania dan si Dédé,” lanjut Hara. “Aku siap, meski untuk itu, aku harus rela hidup jauh dari Indonesia.”

Kania dan Amih tak kunjung memberikan tanggapan.

“Dengan begitu, aku akan benar-benar resmi menjadi bagian dari keluarga ini,” tambah Hara. “Rumah ini akan pula menjadi rumahku. Tempatku kembali dari perantauan, selain rumahku di Cimahi, tentunya.”

Amih menatap Kania. “Bagaimana, Nia?”

“Hara…” Kania menatap Hara. “Kamu bersungguh-sungguh?”

“Aku bersungguh-sungguh,” jawab Hara yakin.

“Lebih baik, kita habiskan makanan masing-masing,” ujar Kania, tidak menanggapi ajakan dari bibir Hara tentang pernikahan.

Namun, setitik air mata yang tiba-tiba menetes di pipi kanan Kania, membuat Hara sedikit mengetahui jawaban wanita itu.

***

Acara makan telah usai. Tikar di ruang tengah sudah kembali rapi, tanpa sedikit pun sisa dan bekas makanan. Hara dan Kania telah kembali duduk di ruang tamu. Kali ini hanya berdua, karena si Dédé diajak sang nenek untuk bermain-main di kamar.

“Kamu serius, Hara?” tanya Kania. “Kamu mau menikahi aku?”

“Aku serius, Kania,” jawab Hara sungguh-sungguh. “Mmh… aku berharap, kamu bisa melihat dan merasakan keseriusanku.”

“Aku yang ragu,” ucap Kania lirih.

“Kenapa?” tanya Hara.

Kania malah menggelengkan kepala.

Hara bangkit, dan duduk di sisi kanan Kania. Ditatapnya wanita itu lekat-lekat.

“Ada sesuatu yang kamu sembunyikan?” tanyanya. “Adakah sesuatu yang aku nggak tahu?”

Kania menggeleng.

“Yakin?” desak Hara. “Feeling-ku mengatakan, ada sesuatu yang masih kamu sembunyikan dariku.”

Kania menggeleng lagi.

“Oke,” Hara mengangkat bahu. “Aku nggak akan mendesakmu untuk bercerita. Aku akan menanti, sampai kami siap untuk bercerita. Apapun itu.”

Kania tersenyum. “Terima kasih atas pengertiannya, Hara. Kamu… kamu baik. Selalu baik padaku.”

“Tapi, aku tetap menanti jawaban atas rencanaku menikahimu,” lanjut Hara.

“Harus sekarang?” tanya Kania.

“Kamu tega bikin aku penasaran dengan jawabanmu?” tanya balik Hara. “Andai jawabannya memuaskan, nggak apa-apa. Kalau ternyata menyakitkan?”

Kania mendadak memegangi kedua lengan Hara, begitu erat. Dan berucap pelan, nyaris tak terdengar,

“Iya, aku akan menjawabnya sekarang.”

Hara menatap Kania dengan gestur penuh harap.

“Aku siap kamu tinggalkan ke Skotlandia,” tutur Kania. “Aku siap jadi istrimu, Hara.”

Senyum lebar sontak mengembang di wajah Hara. “Aku akan menikahimu, dua hari sebelum tanggal keberangkatan.”

“Apa jaminannya?” tanya Kania, seiring semburat merah di pipinya.

“Aku nggak bisa memberikan jaminan, kecuali janji yang sungguh-sungguh,” jawab Hara. “Janji bahwa aku akan berusaha mati-matian untuk membahagiakanmu dan si Dédé.”

“Kalau itu,” tanggap Kania, sambil tersenyum. “Memang udah sepantasnya dijanjikan suami dan ayah terhadap istri dan anaknya, Hara.”

“Lalu?” tanya Hara. “Jaminan apa lagi yang kamu harapkan?”

“Jaminan bahwa kamu pasti menikahiku, dua hari sebelum berangkat ke Skotlandia,” ujar Kania. “Jaminan yang bikin aku yakin, bahwa mulai detik ini, aku resmi menjadi calon istrimu.”

“Jaminannya, adalah kebahagiaanku,” tegas Hara. “Aku akan kehilangan kebahagiaan, andai batal menikahimu.”

***

Menjelang tengah malam.

Hara belum juga berhasil memejamkan mata, meski selama hampir dua jam terakhir mencobanya. Rasa bahagia yang membuncah, menjadi penyebabnya.

Apa yang terjadi dalam dua hari terakhir, menjadi titik balik kehidupanku, batinnya. Lolos seleksi kerja ke Skotlandia, dan kejelasan hubunganku dengan Kania.

Lengkap sudah kebahagiaan Hara.

Kini aku punya ‘alasan’ kuat dalam melakukan semua hal di Skotlandia nanti, ucap hati Hara. Bekerja keras demi keluargaku di Indonesia. Demi Kania dan si Dédé, sebagai istri dan anakku.

Ah… sungguh, hal tersebut adalah alasan yang begitu mulia.

***
Bersambung