Ciuman Terakhir Part 15

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Tamat
Berita dari Kawan Lama

Hara sudah benar-benar pulih dari gejala tifusnya. Ia butuh waktu sebelas hari membolos kerja untuk kembali siap beraktivitas normal, empat hari lebih lama daripada anjuran dokter. Dan selama sebelas hari tersebut, sosok Yuri adalah peri penyelamat baginya. Bukan Mama, apalagi Brama.

Selama sebelas hari tersebut, Yuri tidak pernah absen datang ke kamar Hara. Selalu membelikan bubur untuk sarapan dan makan malamnya. Yuri direpotkan, karena mesti membagi waktu antara kuliah dan merawat Hara.

Namun, dari gestur tubuhnya, tampaknya gadis itu tidak merasa direpotkan. Ya, rasa cintanya terhadap Hara, membuat Yuri tetap merasa bahagia dengan segala kerepotan itu.

Hara mesti mengucapkan terima kasih kepada Yuri. Karena sejak berpisah dengan Kania, tidak pernah ada lagi seseorang yang memerhatikannya sedalam perhatian Yuri terhadapnya.

Hara ingat, di hari pertama dirinya terbaring sakit, sempat terjadi ‘kekisruhan’, kala Kania yang tiba-tiba datang memergokinya tengah dikecup Yuri. Hara juga masih ingat bagaimana reaksi Kania. Wanita yang punya arti besar baginya itu, menyikapi pemandangan tidak mengenakkan di hadapannya.

Bagaimana dinginnya sorot mata indah itu. Juga bagaimana gesitnya gerakan tubuh sintal yang sontak berbalik lalu meninggalkan rumah yang belum sampai lima menit disambanginya itu.

Hara pun ingat, dengan gestur penuh rasa bersalah, Yuri bangkit untuk mengejar Kania. Meninggalkan dirinya yang tergolek tanpa daya di atas tempat tidur. Lalu, sepuluh menit kemudian, Yuri kembali. Gadis itu berucap,

“Téh Kania marah, Bang.”

Kekisruhan itu cukup mengganggu hati Hara. Ia merasa mulai bisa memaklumi perasaan Yuri, namun berantakan akibat kehadiran Kania yang di luar dugaan itu. Ia merasa bersalah. Terhadap Kania, juga Yuri.

Ia meminta maaf kepada Kania, lewat pesan singkat. Berkali-kali, namun tidak satu pun dibalas. Ia juga mencoba meminta maaf via sambungan telepon. Namun berkali-kali pula mencoba, Kania tidak pernah menjawabnya. Dan saat Hara berniat mendatangi kediaman keluarga Kania, Yuri merutuk,

“Ingat kondisi tubuh Bang Hara!”

Alhasil, hanya Yuri-lah yang bisa menerima permintaan maaf Hara atas kekisruhan tersebut.

“Aku juga yang bersalah, Bang,” tanggap Yuri. “Mestinya aku nggak asal mencium Bang Hara.”

“Semua udah terjadi,” imbuh Hara. “Semua ini takdir, Néng. Memang udah seharusnya Kania memergokimu mengecup keningku.”

“Aku kasihan pada Téh Kania,” sesal Yuri. “Dia pasti cemburu.”

“Aku bukan siapa-siapanya,” ujar Hara. “Dia nggak berhak cemburu.”

“Tapi kalian masih saling mencintai,” timpal Yuri. “Aku udah sukses jadi pengganggu. Jadi penghalang hubungan kalian yang mungkin sedang menuju ke arah yang membaik.”

Di dalam hati, Hara membenarkan asumsi Yuri.

Namun, kekisruhan itu pulalah yang membuat Hara menyadari betapa luasnya hati Yuri. Kerelaan gadis itu merawatnya, menjadi bukti.

***

Di dalam bahasa Sunda, terdapat istilah ‘mamayu’. Artinya berbeda jauh dengan seruan ‘mamayo’ yang kerap diteriakkan seorang presenter Liga Indonesia saat terjadi gol. ‘Mamayu’ berarti sebuah kondisi di mana seseorang yang baru saja pulih dari sakitnya, mengalami situasi nafsu makan yang besar. Seolah balas dendam, karena selama sakit, ia tidak bebas makan apa yang diinginkan.

Saat ini, Hara tengah mengalaminya. Meski masih ada pantangan tidak tertulis soal jenis makanan tertentu yang belum bisa disantapnya, yaitu makanan dengan rasa pedas juga tekstur yang kasar.

Namun, secara umum, Hara sudah berani makan lontong kari di sebuah kedai legendaris yang berlokasi di Kebon Karet. Dengan catatan, ia tidak membubuhinya dengan sambal.

Dan tentunya, lontong kari tersebut akan terasa kurang nikmat bila disantap sendirian saja. Karenanya, pada hari Sabtu sore, ia mengajak Yuri ke sana.

“Smell’s good, Bang,” komentar Yuri, segera setelah menghirup aroma sajian lontong kari yang tiba puluhan detik sebelumnya itu.

“Cicipi, atuh,” ucap Hara, sembari tersenyum. “Rasanya juga seenak aromanya, Néng.”

Dan itulah yang dilakukan Yuri. Mencicipi sesendok kuah karinya. Sesaat ia mengecap rasa dengan lidahnya, sebelum kemudian berkata, “Enak.”

“Memang,” tanggap Hara. “Aku senang, kamu menyukainya.”

“Iya, aku suka,” Yuri mengangguk jenaka. “Hmm… kok Bang Hara bisa tahu tempat ini? Padahal, ‘kan lokasinya… bukan di tengah keramaian.”

“Nyempil di dalam gang sempit,” imbuh Hara. “Tapi pembelinya banyak, ya?”

Yuri mengangguk lagi.

“Ini adalah salah satu tempat makan favorit Papa,” jelas Hara. “Sejak kecil, aku sering diajak makan di sini, Néng.”

Yuri kembali mengangguk, pertanda mengerti.

Pandangan mata Hara tampak menerawang.

“Ketika Papa masih ada, hidupku menyenangkan,” tuturnya pelan. “Dan semuanya berubah, sangat drastis, semenjak beliau pergi.”

Yuri tak sanggup berkata-kata. Ini adalah cerita yang sudah berkali-kali didengarnya, dari mulut ayah dan ibunya, juga Hara sendiri. Dan reaksinya selalu serupa, yaitu diam. Kali ini pun sama, tak ada satu aksara pun yang meluncur dari bibirnya. Yuri hanya mampu meremas pelan telapak tangan kiri Hara.

“Aku nggak pernah bisa mengetahui, apa penyebab sikap buruk Mama dan Brama,” lanjut Hara. “Aku nggak berhenti menduga, tentang itu. Tapi aku nggak berhasil menemukan jawabannya.”

“Mungkin suatu hari nanti, Bu Sala akan menjelaskannya, Bang,” tanggap Yuri.

“Aku nggak yakin,” lirih Hara. “Mungkin mereka memang nggak butuh alasan spesifik untuk membenciku.”

Tiba-tiba Yuri terkikik.

“Kenapa?” tanya Hara.

“Setelah sekian lama,” jawab Yuri. “Akhirnya aku mendengar lagi Bang Hara menyebutkan istilah ‘alasan spesifik’.”

Hara tertawa.

Selanjutnya, mereka saling diam. Hara dan Yuri sama-sama fokus menyantap lontong karinya masing-masing. Hara memuaskan hasrat makan enak yang cukup lama terpendam. Sementara Yuri menikmati sensasi kelezatan penganan yang baru kali ini dirasakannya.

“Kamu kelihatan bahagia, Néng,” cetus Hara.

Yuri mengangguk. “Memang.”

“Ada alasan spesifik, kenapa kau bahagia?” tanya Hara.

“Si Abang…” Yuri terkikik lagi. “Istilah itu muncul lagi.”

Hara ikut tertawa geli.

“Alasan spesifiknya, adalah karena aku bisa merasakan lezatnya lontong kari ini,” papar Yuri. “Apalagi, aku sama sekali nggak tahu keberadaan kedai ini.”

Hara mengangguk.

“Dan yang lebih penting, Bang,” sambung Yuri. “Aku menikmati kelezatan ini bareng Bang Hara. Itulah yang bikin aku bahagia.”

“Sepertinya, segala hal yang kamu lakukan bareng aku, bisa bikin kamu bahagia, ya?” tandas Hara tepat sasaran.

Yuri mengangguk jujur. “Karena menghabiskan waktu dengan seseorang yang dicintai, selalu menyenangkan, Bang.”

Hara kembali mengangguk.

“Seperti juga Bang Hara yang selalu merasa bahagia, saat bersama Téh Kania,” tambah Yuri. “Iya, ‘kan?”

Hara hanya tersenyum.

Mereka kembali saling diam dan fokus pada lontong karinya masing-masing. Namun hanya sebentar, karena Yuri kembali bicara,

“Nggak usah pedulikan aku, Bang.”

Hara menatap Yuri. “Maksudmu?”

“Dengan segala ucapan tentang perasaan aku, jangan sampai mengubah sikap Bang Hara terhadap aku,” jawab Yuri. “Jujur, aku berharap balasan dari Bang Hara, layaknya setiap orang yang mencintai seseorang. Tapi, aku nggak mau memaksakan kehendak. Terserah Bang Hara aja.”

“Aku minta maaf, Néng,” tanggap Hara. “Untuk saat ini, aku nggak punya perasaan khusus layaknya kekasih. Entah nanti.”

“Aku mengerti,” Yuri tersenyum. “Tapi, aku berharap, Bang Hara nggak menjauhi aku. Sedih rasanya, kalau Bang Hara menolak perasaan sekaligus menjauhi aku.”

“Iya, Néng,” Hara mengangguk. “Aku nggak mau menjauhimu. Karena, aku nggak punya sahabat selain kamu.”

“Oya,” ujar Yuri. “Kapan Bang Hara akan datang ke rumah Téh Kania?”

“Harus, ya?” tanya balik Hara.

“Mungkin nggak mesti, sih,” jawab Yuri. “Hanya, ketika datang ke rumah Bang Hara tempo hari…”

“Yang memergoki kita berduaan di kamar itu?” potong Hara.

“Iya,” Yuri mengangguk. “Ketika itu, Téh Kania bilang, ‘Tolong bilang pada Hara, kapan pun, dia boleh mengunjungi rumahku. Denganmu, kalau perlu.’ Begitu, katanya.”

“Aku boleh datang ke rumahnya?” ulang Hara. “Denganmu?”

Yuri kembali mengangguk. “Peluang untuk kembali pada Téh Kania, tuh!”

“Nggak tahulah, Néng,” keluh Hara. “Aku nggak pernah memikirkan itu. Setidaknya untuk saat ini.”

“Kenapa?” selidik Yuri. “Bukankah Bang Hara masih mengharapkan Téh Kania?”

“Iya,” gumam Hara. “Tapi, aku nggak yakin bakalan bisa membahagiakan Kania, dengan kondisiku saat ini.”

“Berusahalah untuk menjadi lebih baik, Bang,” saran Yuri bijak.

“Aku kepingin begitu,” Hara tersenyum. “Tapi, sulit cari pekerjaan yang lebih layak, dengan keterbatasan ijazah yang kupunya, dan umurku saat ini.”

“Iya, sih,” Yuri mengangguk. “Tapi, kalau Bang Hara terus berusaha dan berdoa, Tuhan pasti akan menunjukkan jalan terbaik, ‘kan?”

***

Dan sepuluh menit kemudian, Hara dipaksa berucap di dalam hati,

Inikah jalan terbaik itu?

Dimulai dengan dirinya yang dikejutkan oleh tepukan seseorang di bahu kanannya. Hara menoleh ke belakang, dan mendapati seorang lelaki berwajah manis dan berambut cepak yang berdampingan dengan seorang wanita berwajah manis, berkulit terbilang putih dan berpostur tubuh cukup ideal, meski sedikit kelebihan berat badan.

“Akang?” seru Hara surprised.

“Hara,” jawab lelaki itu. “Lama kita nggak berjumpa, ya?”

Hara tertawa. “Dua tahun, mungkin?”

“Sekitar dua tahun,” lelaki itu membenarkan. “Terakhir kali kita bertemu, adalah ketika…”

“Ayah Akang meninggal,” sambung Hara.

Lelaki itu mengangguk.

“Dan ini?” Hara menunjuk wanita manis di sisi sang lelaki, dengan pandangan matanya. “Yang ketika itu setia menemani Kang Dinan, ‘kan?”

“Alifa, bidadari penyelamatku,” lelaki itu mengangguk lagi. “Kami udah menikah, sejak setahun lalu.”

“Selamat, Kang,” ucap Hara antusias. “Kalian memang berjodoh.”

“Meski harus melewati rintangan besar terlebih dahulu,” timpal Kang Dinan, disambut sikutan sang istri.

Sepasang suami istri itu kemudian duduk di seberang meja, tepat di hadapan Hara dan Yuri.

“Nah, kalau ini?” tanya Kang Dinan, sambil menunjuk Yuri. “Istrimu, Hara?”

Hara tersedak menahan tawa. “Bukan, Kang.”

“Calon istri?” desak Kang Dinan.

“Bukan,” jawab Hara. “Ini Yuri, putri tetanggaku.”

Yuri melemparkan senyum dan anggukan kepala takzim kepada Kang Dinan.

Bibir Kang Dinan membulat. “Jadi, kapan kamu menikah, atuh?”

“Nggak tahu,” Hara mengedikkan bahu. “Aku belum mapan, Kang.”

“Kamu udah bekerja, ‘kan?” tanya Kang Dinan lagi.

Hara mengangguk. “Tapi gajinya kecil. Hmm… aku butuh pekerjaan yang lebih layak, Kang. Supaya aku bisa lebih percaya diri.”

“Hmm… ada,” tanggap Kang Dinan. “Tapi jauh. Kamu harus jadi perantau.”

“Nggak masalah,” ujar Hara mantap. “Di mana? Kalimantan, Sumatera, atau Papua?”

“Skotlandia,” jawab Kang Dinan. “Di ibukota negara itu, Hara.”

“Glasgow,” gumam Hara. “Hmm… bisa sambil menonton derby antara…”

“Edinburgh, Kawan,” Kang Dinan tertawa geli. “Ibukota Skotlandia bukan Glasgow. Ah… berapa nilai pelajaran Geografi-mu?”

Hara tergelak.

“Anyway, kamu berminat?” lanjut Kang Dinan. “Dua bulan dari sekarang, ada pemberangkatan TKI ke sana, lho!”

“Berapa kisaran gajinya, Kang?” selidik Hara.

“Antara £32,000 dan £38,000 per tahun, dengan rata-rata biaya hidup £1,500 sampai £1,800 per bulan,” jelas Kang Dinan. “Kamu bisa mengantongi £800 hingga £1,300 per bulan. Coba kamu konversikan ke dalam kurs rupiah. Dan keberangkatanmu adalah melalui prosedur resmi, bukan lewat calo. Tanpa biaya. Kamu hanya harus berusaha melewati setiap ujian, yang tentunya sangat ketat.”

“Menarik,” ucap Hara. “Sangat menarik. Lulusan SMA, nggak masalah, Kang?”

Pertanyaan Hara tidak sempat terjawab, karena seorang pelayan telanjur mengantarkan bungkusan plastik hitam pada Kang Dinan. Ternyata sepasang suami-istri tersebut memilih untuk take away lontong karinya. Obrolan praktis terhenti.

“Kita harus bertemu lagi, Kang,” ujar Hara. “Bisa?”

“Boleh, Hara,” Kang Dinan tersenyum. “Main aja ke rumahku.”

“Di Kopo Bihbul?” tanya Hara. “Akang masih tinggal di sana?”

“Sekarang kami tinggal di Margaasih,” jawab Kang Dinan. “Kalau nggak salah, dekat dengan rumahmu, ‘kan?”

Hara mengangguk, begitu pula Yuri.

“Nah, mainlah ke rumahku,” Kang Dinan tersenyum. “Simpan nomor ponselku, Hara. Hubungi aku, nanti kuberitahukan alamat rumahku.”

***

“Kang Dinan teman sekolah Bang Hara?” tanya Yuri, tak lama setelah Kang Dinan dan Téh Alifa pergi.

Hara menggeleng. “Relasi sesama musisi.”

“Maksudnya?” tanya Yuri tak mengerti.

“Aku sering menyanyi di acara pernikahan, atau jadi vokalis cabutan ketika vokalis utama sebuah band berhalangan tampil,” jelas Hara. “Nah, Kang Dinan adalah seorang drummer. Aku bertemu dan berkenalan dengan dia di sebuah acara musik Tujuhbelasan.”

Yuri mengangguk paham.

“Kang Dinan bekerja di instansi penyelenggara pemberangkatan TKI,” lanjut Hara. “Dia sering memandu keberangkatan dan kepulangan TKI atau mahasiswa Indonesia dari dan ke luar negeri.”

“Pegawai Negeri Sipil, dong?” tebak Yuri.

Hara menjawab dengan anggukan.

“Terlihat bahwa kehidupan Kang Dinan udah mapan,” sambung Yuri. “Tapi, dia dan istrinya tetap senang jajan di tempat makan sederhana seperti kedai lontong kari ini.”

“Iya,” Hara tersenyum. “Kang Dinan tetap bersahaja, meski hidup berkecukupan.”

“Contoh yang baik bagi kita,” Yuri ikut tersenyum.

Tatapan mata Hara menerawang, dan hal itu disadari Yuri.

“Kenapa, Bang?” cetusnya.

“Dulu, ketika aku berkenalan dengannya, Kang Dinan sedang mengalami kisruh di kehidupan asmara,” kenang Hara. “Dia mencintai seseorang begitu dalam, hingga sulit bangkit ketika seseorang tersebut menghilang dari kehidupannya. Sampai akhirnya dia terlambat menikah.”

Yuri menatap Hara lekat-lekat, seolah menanti kelanjutan cerita lelaki itu.

“Kalau nggak salah, umurnya saat ini adalah 36 tahun,” lanjut Hara. “Lima tahun lebih tua dariku. Dan baru tahun lalu dia menikah.”

“Nah, Téh Alifa itu, adalah seseorang yang sangat dicintai Kang Dinan?” tanya Yuri.

“Bukan,” Hara tersenyum. “Menurut cerita Kang Dinan, justru Téh Alifa adalah orang yang berhasil membuatnya bangkit dari sosok yang belasan tahun dicintainya itu.”

“Belasan tahun?” Yuri tampak tidak percaya. “Kang Dinan menunggu seseorang hingga belasan tahun?”

Hara mengangguk. “Kamu akan terharu, andai tahu kisah lengkap kehidupan asmara Kang Dinan. Kisah cinta yang sebenarnya sederhana, hanya tentang seseorang yang menunggu seseorang. Tapi, dalamnya perasaan Kang Dinan terhadap wanita itu, membuat kisah sederhana tersebut jadi mengharukan.”

***

Hara dan Yuri telah berada di kediaman keluarga Pak Andra. Mereka duduk-duduk di ruang tamu, ditemani belasan potong martabak mie dan dua gelas teh manis hangat yang dibuatkan Bu Niken.

“Bang Hara tertarik dengan tawaran Kang Dinan?” tanya Yuri dengan nada cemas. “Bang Hara tertarik bekerja di Skotlandia?”

“Tertarik, Néng,” jawab Hara. “Siapa yang nggak tergiur dengan penghasilan sebesar itu?”

“Jadi, Bang Hara mau mendaftarkan diri untuk ikut seleksi?” tanya Yuri lagi.

Hara mengangkat bahu. “Nggak tahu, Néng. Aku ragu.”

“Lho, kenapa?” sesal Yuri. “Ini bisa jadi peluang bagus bagi Bang Hara, untuk memperbaiki kehidupan, lho!”

“Dengan cara meninggalkan Indonesia dalam waktu lama?” tandas Hara. “Aku ragu.”

“Kenapa mesti ragu, Bang?” desak Yuri.

“Kalau aku pergi,” jawab Hara. “Bagaimana dengan kamu? Tempo hari, kamu merengek saat mendengar keinginanku bekerja di luar negeri. Lalu, sekarang aku malah mencoba ikut seleksi?”

“Iya, sih…” gumam Yuri pelan. “Jujur, aku berharap Bang Hara nggak pernah pergi jauh. Bang Hara bertahan di sini aja, jangan jauh-jauh dari aku.”

“Néng…” ucap Hara lirih. “Semua ini harus kupertimbangkan matang-matang. Dan aku berani jujur, bahwa kini, kamu jadi salah satu bahan pertimbanganku.”

Yuri tersipu.

“Sekarang, beri aku kesempatan untuk berpikir, Néng,” sambung Hara. “Dalam satu atau dua hari, kamu akan jadi orang pertama yang mendengar keputusanku.”

Esoknya, di malam hari, lewat sambungan video call, Hara memaparkan keputusannya,

“Aku akan bertahan di Indonesia.”

Roman wajah Yuri seketika ceria, diiringi senyum lebar di wajah manisnya itu. “Serius, Bang?”

“Iya, Néng,” jawab Hara.

“Karena aku?” selidik Yuri.

Hara hanya mengangguk.

Selanjutnya, mereka saling diam. Tak ada perbincangan. Keduanya hanya saling tatap, meski hanya via imaji di layar ponsel. Pada akhirnya, Yuri yang memulai kembali obrolan, meski itu hanyalah sebatas pengantar menuju kata pamitan.

“Bang Hara nggak mengantuk?”

“Kamu mengantuk?” tanya balik Hara.

“Nggak, sih,” jawab Yuri. “Aku cuma…”

“Terlalu bahagia setelah mendengar keputusanku?” tebak Hara. “Dan kamu nggak mau kupergoki?”

Yuri tampak sedikit tertegun, sebelum akhirnya menganggukkan kepala. “Aku malu, Bang.”

“Malu?” Hara menahan senyum. “Kenapa harus malu?”

Yuri menggeleng. “Mmm… nanti kita lanjutkan video call-nya, ya.”

“Iya,” Hara mengangguk, mencoba mengerti dengan apa yang ada di benak Yuri. “Masih ada hari esok, ‘kan?”

Yuri mengangguk.

“Ya udah,” putus Hara. “Sampai jumpa besok, lusa dan seterusnya.”

Kembali Yuri mengangguk. Anggukan yang membuat Hara memutuskan untuk menggerakkan ujung ibu jari tangan kanannya menyentuh icon bergambar gagang telepon berwarna merah pada layar ponsel.

“Aku sayang Bang Ha…”

Hara telanjur menekan icon berwarna merah tersebut.

Sambungan video call terputus, dan otak Hara pun segera berkecamuk. Beragam pemikiran bercampur-aduk, membuatnya penat. Ungkapan rasa sayang Yuri kepada dirinya yang tak terlontar secara tuntas beberapa detik lalu.

Ekspresi cemas gadis manis itu saat mengetahui niat Hara mengikuti seleksi kontingen ke Edinburgh. Hingga mimik bahagia Yuri kala mendengar keputusan Hara untuk bertahan di Indonesia.

Namun, Hara tidak bisa mungkir bahwa kelebatan tentang hal-hal autentik mengenai Edinburgh dan Skotlandia santer hadir di benaknya. Bayangan tentang motif kain tartan, pisau sgian-dubh, Scottish Highland, hingga penyulingan wiski, Hibernian F.C., serta The Proclaimers sampai bagpipe, membuat tekadnya makin kuat, untuk mendaftar dan berhasil lolos seleksi. Membuatnya tega membohongi Yuri.

Maafkan aku, Néng, ucap Hara di dalam hati. Aku terpaksa berbohong. Aku harus mengikuti seleksi itu, demi kehidupan yang lebih baik. Dan andai kita berjodoh, kamu akan mengetahui bahwa kamu pulalah yang menjadi alasan bagiku mencari nafkah hingga ke negeri orang.

***
Bersambung