Ciuman Terakhir Part 13

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Tamat
Dengan Aku

“Mama sudah tidak mau lagi berharap pada abangmu. Bekerja keras, katanya. Tapi hasilnya, tidak pernah kita rasakan. Habis dimakan janda itu. Mama seolah hanya tinggal serumah berdua denganmu saja. Abangmu tidak berkontribusi.”

Kata-kata Mama kepada Brama yang tak sengaja didengarnya itu, terus terngiang di telinga Hara.

Tidak berkontribusi? batinnya bertanya-tanya. Dengan sebagian besar penghasilan yang aku berikan pada keluarga ini, setiap bulannya, aku tetap dianggap tidak berkontribusi?

Sungguh, hati Hara sakit mendengarnya.

Ia tahu persis, nominal yang biasa diberikan pada Mama, kalah besar dibandingkan jumlah uang yang biasa diserahkan Brama. Namun, secara persentase, jumlah uang yang disisihkan Hara masih lebih besar daripada Brama. Persentase yang membuat Hara harus rela hidup berhemat agar sisa gajinya cukup hingga tanggal gajian berikutnya.

“Cukup untuk sebulan, Pak?” tanya Mirna, rekan seruangannya, dengan nada sangsi.

Cukup, namun tidak cukup. Butuh manajemen yang hebat untuk membuat uang sekecil itu mumpuni hingga akhir bulan.

Lalu, tanpa sengaja, Hara mendengar ucapan Mama bahwa dirinya tidak berkontribusi. Wajar jika ia merasa sakit hati, bukan?

***

Beberapa bulan yang lalu, Hara selalu menjadikan Kania sebagai satu-satunya tempat untuk mencurahkan isi hatinya. Suka atau pun duka. Kini, hal tersebut mustahil. Semenjak pertengkaran yang berujung pada keputusan untuk berpisah tersebut, mungkin Kania sudah tidak sudi lagi berbicara dengannya. Kania mungkin membencinya. Sangat membencinya.

Maka, jadilah Yuri sebagai ‘sarana’ pelampiasan kekesalan di hati Hara.

Kebetulan, semalam, keduanya telah bertukar janji untuk berolahraga bersama. Pagi-pagi benar, sebelum pukul enam, Hara sudah berdiri di depan pintu gerbang kediaman keluarga Pak Andra yang masih digembok itu. Ia mencoba menghubungi Yuri dengan ponselnya.

Baru dua kali nada dering, gadis putri bungsu tetangganya itu telah menjawabnya,

“Iya, Bang?”

“Udah bangun?” tanya Hara.

“Udah,” jawab Yuri.

“Jadi berolahraga bareng?” tanya Hara lagi.

“Hayu,” sanggup Yuri. “Mau samperin aku jam berapa?”

“Mmm… sekarang, deh,” jawab Hara.

“Sekarang?” tanya Yuri.

“Iya,” jawab Hara. “Aku udah berdiri di depan pagar rumah kamu, Néng.”

“Waduh…” gumam Yuri, disusul derai tawa. “Sebentar ya, Bang. Aku keluar.”

Semenit kemudian, terdengar suara kunci yang diputar, disusul suara engsel pintu. Sosok Yuri pun terlihat, lengkap dengan senyum tengilnya.

“Rajin sekali, Bang!” serunya.

“Aku udah sangat nggak sabar bertemu kamu, Néng,” jawab Hara asal.

“Bohong,” cetus Yuri, sambil kemudian tergelak. “Kebohongan terbesar di abad ini.”

Hara ikut tertawa.

Yuri menghampiri Hara, dengan tangan kanannya memegangi sekumpulan anak kunci.

“Kamu pasti belum mandi,” komentar Hara, saat telah mampu menatap wajah Yuri dengan lebih jelas.

“Untuk apa aku mandi?” tanya Yuri, sambil membuka gembok pintu gerbang. “Nanti berkeringat, ‘kan?”

“Iya, sih,” ujar Hara. “Tapi, setidaknya, kamu bisa berolahraga dengan wajah yang sedikit lebih cantik dari biasanya.”

“Sedikit lebih cantik,” ulang Yuri. “Jadi bisa bikin aku jadi sedikit lebih laku di mata laki-laki, ya?”

Hara menutup mulut dengan telapak tangan kirinya, sebagai usaha menyembunyikan senyum.

“Tertawa aja yang keras, Bang,” rutuk Yuri dengan nada kesal. “Aku mah udah biasa ditertawakan, apalagi sama Bang Hara.”

“Jangan pernah memulai hari dengan kemarahan,” gumam Hara. “Nggak baik.”

“Siapa yang mulai?” balas Yuri.

Hara tersenyum.

“Kenapa cuma tersenyum?” hardik Yuri lagi.

Hara menggeleng, tanpa melenyapkan sungging senyum dari bibirnya. “Cepat bersiap. Nanti matahari telanjur tinggi.”

***

Lokasi yang dipilih Hara dan Yuri sebagai tempat berolahraga adalah area di sekitar gerbang perumahan saja. Tidak menyambangi Brigif atau Kota Baru Parahyangan yang terletak agak jauh dan membutuhkan sarana transportasi untuk mencapainya.

“Daripada di Brigif atau Kota Baru Parahyangan,” ujar Yuri, di sela-sela lari kecilnya. “Aku lebih merasa nyaman jogging di sini, Bang.”

Hara tersenyum. “Karena suasananya jauh lebih lengang, ya.”

“Iya,” Yuri mengangguk. “Kalau terlalu ramai, malah sulit berolahraga. Sekadar lari aja susah.”

Hara tersenyum lagi.

“Tapi, di sana lebih banyak lapak jualan, Bang,” ujar Yuri lagi. “Bisa cuci mata.”

“Tergantung tujuan kamu, Néng,” tanggap Hara. “Mau benar-benar berolahraga? Atau belanja?”

“Tujuan aku?” tanya Yuri ambigu. “Hanya kepingin berolahraga… bareng Bang Hara.”

“Hmm?” gumam Hara, mendadak menatap Yuri lekat-lekat.

Yuri menggeleng cepat.

Secara tiba-tiba, Yuri mempercepat laju larinya, hingga langkah Hara pun sedikit tertinggal. Ditatapnya gadis manis itu dengan heran.

Kenapa lagi, itu anak? batinnya.

“Kamu kebelet pipis?” canda Hara, saat berhasil membarengi langkah Yuri.

Yuri menoleh, tersenyum, lalu menggeleng. Tangan kanannya berayun, menunjuk ke suatu arah. “Kepingin cepat-cepat jajan batagor kuah di sana.”

“Kamu…” gumam Hara, sembari terkekeh. “Iya hayu, atuh.”

“Bang Hara yang mentraktir?” tanya Yuri.

Hara mengangguk.

“Ah… senangnya,” ujar Yuri jenaka.

Hara mengacak rambut Yuri dengan gemas.

Beruntung, lapak penjual batagor dengan kursi dan meja kayu sederhana itu tengah sepi. Hanya ada dua orang pembeli yang sedang menyantap sajian batagor. Praktis, si penjual langsung melayani dan menyiapkan pesanan Hara dan Yuri, yang kompak memilih menu batagor kuah. Mereka tidak perlu mengantre.

“Mau ditambah bakso urat?” tanya si penjual, sambil bergantian menatap Hara dan Yuri.

“Nggak usah,” jawab Hara. Lalu menatap Yuri. “Kamu mau?”

Yuri mengangguk.

“Yang satu, pakai bakso urat,” ujar Hara, kepada si penjual.

“Siap,” sanggup si penjual.

Tak sampai lima menit, pesanan mereka pun telah hadir di hadapan. Siap disantap.

“Ada alasan spesifik, kenapa kamu memilih batagor?” tanya Hara, sambil mulai mengaduk kuah batagor yang sebelumnya telah ia bubuhi kecap dan sambal sesuai seleranya.

“Kenapa bukan nasi kuning, kupat tahu atau bubur ayam?”

“Hmm… aku mau balik bertanya,” tanggap Yuri, yang juga sedang melakukan hal sama seperti Hara: mengaduk kuah batagor. “Apakah ada alasan spesifik, kenapa Bang Hara hampir selalu menanyakan ‘alasan spesifik’ dari semua hal yang kulakukan atau kupilih?”

“Nggak ada, sih,” jawab Hara. “Cuma bertanya.”

“Berarti, aku juga nggak punya alasan spesifik, kenapa memilih jajan batagor,” balas Yuri. “Cuma kepingin.”

Hara mengangguk.

“Dari dulu Bang Hara juga tahu, kalau aku nggak punya satu pun makanan atau jajanan favorit,” lanjut Yuri. “Aku gemar makan dan jajan apapun. Iya, ‘kan?”

“Apakah ada alasan spesifik?” tanya Hara. “Kenapa kamu nggak memfavoritkan salah satu jenis makanan aja?”

“Bang…” gumam Yuri, terdengar seperti merengek. “Berhenti membahas soal ‘alasan spesifik’. Please… biarkan aku makan batagor kuah ini dengan tenang.”

“Iya, Néng,” ucap Hara. “Tapi, memang harus selalu ada alasan spesifik dalam…”

“Bang!” jerit Yuri. “Udah, atuh.”

Hara tergelak.

“Kenapa, sih, Bang Hara senang bikin aku kesal?” rutuk Yuri. “Katanya mau jadi kakak yang baik. Kok bikin aku kesal terus?”

Tawa Hara terhenti seketika.

“Nggak bisa menjawab, ‘kan?” sambung Yuri. “Bingung, ‘kan?”

Hara tak kunjung menjawab, hanya menatap Yuri.

“Dulu Bang Hara nyenengin kalau lagi bingung,” tambah Yuri pelan. “Sekarang nyebelin banget.”

“Kamu…” Hara tergelak lagi. “Berlagak kita jadi Cinta dan Rangga di Yogya, hah? Nggak pantas.”

“Aku nggak secantik Dian Sastro,” imbuh Yuri, juga sambil tertawa. “Dan Bang Hara nggak segagah Nicholas Saputra. Ya?”

Hara mengangguk di tengah tawanya.

Lalu tawa mereka sama-sama terhenti. Dan acara santap batagor pun dimulai.

***

Kian hari, tingkah Yuri kian ganjil. Dan Hara merasakan hal itu. Okelah, sejak dulu ia tahu, bahwa gadis manis putri bungsu tetangga sebelah rumahnya itu memang manja dan kerap bersikap aneh, terlebih saat bersamanya. Namun, akhir-akhir ini, Hara merasakan betapa sikap aneh tersebut bergerak menjadi makin ganjil.

“Untung kamu bukan pacarku, Néng,” cetus Hara. “Kalau iya, udah aku putuskan dari dulu.”

“Lho, kenapa?” sanggah Yuri. “Aku berbuat salah, ya?”

“Tingkahmu yang aneh itu, membingungkan,” jawab Hara. “Mana ada lelaki yang tahan berpacaran dengan perempuan aneh?”

“Iya, aku tahu,” Yuri sontak menekuk wajahnya. “Makanya, aku nggak punya pacar. Makanya, pacar terakhir aku minta putus. Makanya, aku nggak laku.”

“Aku nggak bermaksud begitu,” bantah Hara.

“Iya, itu maksud Bang Hara,” Yuri ngotot. “Aku kira, Bang Hara beda. Ternyata sama aja, seperti lelaki yang lain.”

“Lho, kok malah berkata seperti itu, Néng?” protes Hara. “Aku nggak…”

“Aku menyesal, dekat dengan Bang Hara,” potong Yuri dingin. “Ternyata Bang Hara bukan pacar yang baik.”

“Lho?” kening Hara berkerut. “Aku memang bukan pacarmu, ‘kan?”

“Nggak usah menjawab, Bang,” tegas Yuri. “Aku nggak butuh jawaban apa-apa. Cukup dengarkan, kalau aku bicara. Jadilah pacar yang baik, Bang.”

“Lho?” kerutan di kening Hara makin kentara.

Nah, sikap Yuri sungguh membingungkan, tho?

Tepat sekali. Sikap gadis manis itu memang membingungkan. Cenderung aneh dan ganjil. Berpotensi mengaduk-aduk isi hati dan kepala lelaki di dekatnya.

Lalu, kenapa Hara mampu bertahan?

Karena baginya, Yuri adalah sahabat sekaligus adik terbaik. Bahkan satu-satunya, mungkin. Baginya, Yuri adalah sahabat yang lebih setia daripada kekasih. Dan adik yang menghargainya, bahkan lebih daripada adik harfiahnya, Brama.

Itulah mengapa, Hara lebih memilih untuk bingung setengah mati menghadapi fluktuasi sikap Yuri. Karena, hal itu lebih membahagiakannya, daripada jika sang gadis tetangga tersebut membenci dan beranjak menjauhinya.

“Jangan cepat-cepat, Néng,” minta Hara. “Jalan santai aja.”

Yuri sontak memperlambat langkah kakinya. Ditatapnya Hara yang tertinggal dua meter di belakangnya itu.

“Kamu ada acara lain, ya?” tebak Hara, saat kembali berhasil menjajari langkah Yuri. “Makanya harus segera pulang?”

“Nggak,” jawab Yuri. “Mungkin Bang Hara, yang punya janji dengan seseorang?”

Hara menggeleng. “Janji dengan siapa?”

“Téh Kania?” gumam Yuri hati-hati. “Mmh… nggak mungkin lagi, ya?”

“Mungkin, suatu saat nanti,” ucap Hara pelan. “Tapi bukan sekarang.”

“Bang Hara temani aku, seharian ini,” tutur Yuri. “Gimana, mau?”

“Mesti, ya?” tanya Hara.

“Nggak mesti,” jawab Yuri. “Tapi, aku akan sangat senang, kalau Bang Hara mau menemani aku. Dan… nggak usah tanyakan, alasan spesifik kenapa aku menginginkan itu.”

“Kamu gembira saat kutemani, Néng?” terka Hara.

Yuri mengangguk yakin. “Aku nyaman di dekat Bang Hara.”

“Nyaman, ya,” Hara tersenyum. “Namanya juga kakak-adik, Néng.”

Yuri mengedipkan kelopak mata kanannya, sembari kembali mengangguk.

Mereka tiba di depan kediaman keluarga Yuri.

“Aku mandi dulu,” ucap Hara. “Kamu masuk, gih! Dan langsung mandi.”

“Setelah mandi, langsung ke rumahku, ‘kan?” tegas Yuri.

Hara menggeleng. “Makan dulu, Néng.”

“Nggak usah!” larang Yuri. “Tadi udah sarapan batagor kuah, ‘kan?”

“Nggak terasa, Néng,” ujar Hara. “Itu cuma batagor kuah, bukan nasi.”

“Haduh…” keluh Yuri. “Dasar orang Indonesia.”

“Memangnya kamu bukan orang Indonesia?” tukas Hara galak.

Yuri terkekeh jahil.

Hara pun beranjak meninggalkan Yuri, mengarah ke rumahnya.

“Setelah mandi, langsung ke rumahku,” ingat Yuri, memaksa Hara menghentikan langkahnya. “Nggak usah sarapan dulu. Nanti aku buatkan nasi goreng untuk sarapan Bang Hara.”

Hara hanya mengangguk.

***

Satu jam kemudian, Hara menyantap sarapannya di meja makan kediaman Pak Andra. Nasi goreng buatan Yuri, sesuai janji gadis itu.

“Enak?” tanya Yuri. “Bang Hara suka?”

Hara hanya mengangguk, tanpa berhenti mengunyah nasi goreng di mulutnya.

“Aku gembira kalau Bang Hara menyukai masakan aku,” ujar Yuri.

“Kenapa?” tanya Hara.

“Gembira aja,” jawab Yuri. “Nggak ada alasan spesifik.”

Hara menahan tawa, membuatnya terpaksa berhenti mengunyah. “Hari ini, berapa kali kita menyebutkan istilah ‘alasan spesifik’, Néng?”

“Nggak tahu,” Yuri tertawa kecil. “Bang Hara yang memulai, sih!”

Perhatian Hara sedikit terusik oleh kesibukan yang dilakukan Pak Andra dan Bu Niken, yang tanpa sengaja ditangkap pandangan matanya.

“Ayah dan ibumu mau pergi?” tanya Hara, menatap Yuri.

Yuri menjawab dengan anggukan kepala.

“Ke mana?” tanya Hara lagi.

“Nggak tahu,” Yuri mengedikkan bahu. “Pacaran, mungkin.”

“Hmm… kamu kalah oleh beliau-beliau,” ejek Hara, yang kemudian segera menyadari bahwa ucapannya mungkin akan menyinggung Yuri. “Eh… maaf, Néng.”

Yuri hanya mengangguk datar.

Tak lama berselang, Pak Andra dan Bu Niken menghampiri Hara dan Yuri.

“Bapak dan Ibu mau ke mana?” tanya Yuri.

“Arisan keluarga,” jawab Bu Niken. “Kamu tidak tahu?”

Yuri menggeleng. “Kenapa nggak ada yang memberitahu aku?”

“Karena kami tahu, kamu tidak akan ikut,” jawab Pak Andra.

Yuri merengut.

“Baik-baik di rumah, ya,” pesan Pak Andra.

Yuri hanya mengangguk.

“Nak Hara,” ucap Bu Niken. “Titip Yuri, ya?”

“Iya, Bu,” jawab Hara, sambil kemudian tersenyum.

***

Puluhan menit kemudian, Hara akhirnya tahu bahwa Yuri benar-benar memanfaatkan kalimat ‘Titip Yuri, ya?’ yang diucapkan ibundanya. Gadis itu melarang Hara untuk pulang.

“Ibu udah menitipkan aku pada Bang Hara,” ingatnya. “Masa’ Bang Hara malah pulang?”

Hara hanya bisa menghela napas.

“Jadi, Bang Hara harus tinggal di sini sampai Bapak dan Ibu pulang,” ujar Yuri. “Jagalah amanah.”

“Apa yang mesti kulakukan di sini, coba?” Hara menatap Yuri tajam. “Tidur? Pasti kamu melarang, ‘kan?”

Yuri nyengir.

“Coba kasih ide,” lanjut Hara lagi. “Biar keberadaanku di sini nggak terasa mubazir.”

“Apa, ya?” gumam Yuri, terlihat sambil berpikir. “Mmm… bagaimana kalau kita nonton film di notebook aku?”

“Ada?” tanya Hara.

“Banyak,” jawab Yuri. “Mau genre apa?”

“Apa aja,” timpal Hara. “Asalkan nggak dihiasi adegan seks. Aku malas kalau harus menonton sambil menahan nafsu birahi.”

Yuri tergelak. “Masa’ Bang Hara masih bernafsu dengan adik sendiri?”

“Kamu bukan adik kandungku, Néng,” tutur Hara. “Bahkan dengan adik kandung sendiri aja, birahi masih bisa terpancing. Apalagi dengan kamu, yang notabene adalah orang lain?”

“Bang Hara curang,” rutuk Yuri. “Kalau udah berurusan dengan soal seks, baru mengakui kalau aku adalah orang lain. Giliran urusan hati dan perasaan, keukeuh bilang kalau Bang Hara nggak mungkin mencintai aku, karena udah dianggap seperti adik kandung sendiri.”

Hara nyengir.

Yang dipilih Yuri adalah sebuah film berjudul “The Wind Rises”. Genrenya? Historical animation. Film animasi bertema sejarah dan biografi seorang tokoh yang berpengaruh dalam perjalanan bangsa Jepang. Begitulah garis besar tema cerita film, seperti yang diutarakan Yuri.

Dan setelah menonton dan mengikuti jalan cerita selama belasan menit, akhirnya Hara tahu bahwa film ini merupakan fictionalized biopic dari Jiro Horikoshi, perancang pesawat tempur Mitsubishi A5M dan suksesornya, Mitsubishi A6M Zero, yang digunakan Kekaisaran Jepang selama Perang Dunia II. Hara sudah pernah tahu kisah hidup Jiro, dari sebuah artikel di majalah yang pernah dibacanya.

Yang menarik, film ini juga menceritakan kisah cinta Jiro bersama seorang wanita bernama Naoko Satomi, tidak melulu berkisah tentang rekayasa pesawat tempur saja. Di dalam film, Naoko akhirnya menjadi istrinya, namun meninggal akibat penyakit TBC yang diidapnya, di saat yang bersamaan dengan suksesnya peluncuran prototipe Mitsubishi A5M ciptaannya.

Meski begitu, cerita tentang Naoko adalah fiksi. Karena istri Jiro yang sesungguhnya bernama Sumako Sasaki, dan bukanlah penderita TBC. Bersama Sumako, Jiro memiliki enam orang anak.

Namun, bagi Yuri, justru kisah dramatis kematian Naoko-lah yang begitu menarik perhatiannya. Terlebih, dalam film tersebut digambarkan bahwa usia Jiro dan Naoko terpaut cukup jauh.

“Tuh, Bang,” cetusnya. “Nggak ada larangan untuk menikah, meskipun usianya berbeda jauh, lho!”

“Memangnya aku pernah bilang kalau itu dilarang?” bantah Hara. “Dan, adakah hubungannya dengan kita?”

Yuri sedikit tertegun, sebelum akhirnya mengangguk pelan.

“Apa hubungannya, coba?” tanya Hara.

“Mmh… aku sempat berpikir bahwa kita berjodoh,” tutur Yuri pelan. “Aku dan Bang Hara berjodoh, meskipun orang-orang bilang bahwa usia kita terpaut terlalu jauh. Dan… lihat aja. Jiro dan Naoko bisa jadi pasangan harmonis, meskipun usianya terpaut cukup jauh.”

Hara tertawa renyah.

“Kenapa Bang Hara malah tertawa?” omel Yuri lirih. “Aku sama sekali nggak sedang bercanda.”

Tawa Hara segera terhenti.

“Jujur, ya,” gumam Yuri. “Di mata aku, Bang Hara adalah sosok suami ideal.”

Hara langsung menggeleng.

“Lho, kenapa?” desak Yuri. “Ada yang salah?”

“Nggak salah, tapi juga nggak tepat,” jawab Hara. “Kalau aku adalah sosok suami ideal, Kania akan mati-matian mempertahankanku.”

Giliran Yuri yang tertegun.

“Kania nggak akan semudah itu memutuskan untuk berpisah denganku,” lanjut Hara. “Kania akan tetap jadi kekasihku, detik ini.”

“Téh Kania mungkin berpendapat bahwa Bang Hara bukanlah yang terbaik,” tanggap Yuri, setelah berhasil menguasai keadaan. “Tapi, aku bukan Téh Kania. Aku boleh berpendapat lain. Dan buat aku, Bang Hara tetaplah sosok suami ideal.”

“Aku tersanjung,” Hara tersenyum. “Kamu menjadikan aku sebagai sosok suami ideal.”

Yuri ikut tersenyum.

“Tapi, aku nggak sempurna, Néng,” sambung Hara. “Kamu nggak layak menyebutku sebagai sosok suami ideal.”

Yuri menggeleng. “Nggak ada manusia yang sempurna, termasuk Bang Hara.”

“Iya, sih,” tanggap Hara pelan.

“Lagipula, setiap perempuan punya kriteria sendiri dalam menentukan sosok suaminya,” lanjut Yuri. “Buat aku, Bang Hara punya kriteria yang aku inginkan. Dan itu bersifat subjektif.”

“Kamu mencintaiku, Néng?” tanya Hara lugas.

Yuri sontak tercekat. Tampak jelas bahwa ia cukup terkejut dengan lontaran pertanyaan Hara yang menohok tepat di titik sasaran.

“Kamu mencintaiku?” ulang Hara.

“Nggak tahu,” Yuri menggeleng lirih. “Mungkin, ini cuma sekadar efek dari rasa sepi. Dan kebetulan, ketika aku sedang merasakan itu, hanya Bang Hara yang selalu ada di dekat aku.”

“Semacam cinta lokasi?” tebak Hara. “Karena hanya akulah lelaki yang selalu ada di dekatmu?”

Yuri menggeleng lagi. “Bang Hara bukan satu-satunya lelaki.”

“Aku mengerti,” Hara tersenyum. “Ada banyak teman lelakimu di kampus. Dan aku yakin, ada banyak pula lelaki di kampus yang mendekatimu.”

“Iya, Bang,” Yuri juga tersenyum. “Tapi, satu-satunya lelaki yang ada di dekat aku, dan bisa bikin aku merasa nyaman, adalah Bang Hara.”

“Memangnya apa yang aku lakukan?” tanya Hara. “Kenapa aku bisa bikin kamu merasa nyaman?”

“Sekali lagi, itu bersifat subjektif, Bang,” Yuri kembali tersenyum. “Penerimaannya bagi setiap orang, pasti berbeda.”

Bermenit-menit selanjutnya, tak ada perbincangan yang terjadi di antara Hara dan Yuri. Keduanya sama-sama memilih untuk diam. Terlebih Hara, yang tampaknya butuh waktu untuk mencerna setiap perkataan dan pengakuan jujur Yuri. Ya, sepanjang kedekatannya selama lebih dari lima belas tahun, baru kali inilah gadis tetangganya itu berkenan mengungkapkan perasaannya, meski secara implisit.

Hingga akhirnya Yuri memecah keheningan,

“Bang, kita bikin camilan, yuk!”

“Camilan apa?” tanya Hara.

“Apa aja,” jawab Yuri. “Sesuai bahan-bahan yang ada di lemari es.”

“Hmm… ayo,” sanggup Hara, sembari bangkit kemudian menarik lengan kanan Yuri, agar gadis itu juga berdiri.

Yuri pun berdiri dengan memanfaatkan tolakan tangan Hara.

Di dapur, Yuri sibuk melihat-lihat isi lemari es. Sementara Hara asyik mencari-cari sesuatu di dalam lemari kayu kecil berisi bahan pangan kering. Dan justru Hara-lah yang mencetuskan ide lebih dulu,

“Kita bikin popcorn aja, Néng.”

“Memangnya Bang Hara bisa?” tanya Yuri sangsi.

“Bisa,” jawab Hara. “Ada mentega, ‘kan? Tapi yang rasanya gurih. Bukan mentega yang biasa dioleskan untuk membuat roti gepok.”

“Hmm…” Yuri bergumam, sambil tampak mengingat-ingat. “Iya, ada, Bang.”

“Bagus,” Hara tersenyum puas. “Sekarang, perhatikan aksiku.”

Setengah jam kemudian, sebuah toples kerupuk berukuran cukup besar pun telah terisi oleh popcorn buatan Hara. Bola mata Yuri berbinar.

“Kalau udah ada popcorn,” ujarnya. “Berarti kita bisa menonton film selanjutnya.”

“Hayu,” tanggap Hara setuju.

Dan yang selanjutnya dipilih Yuri adalah film asal Kanada berjudul The Dirties. Tema utama film ini adalah tentang bullying yang terjadi di sebuah SMA. Namun, Hara dan Yuri tidak sepenuhnya fokus memerhatikan jalan cerita, akibat telanjur membahas tema bullying tersebut.

“Aku beruntung,” tutur Yuri. “Selama sekolah dan kuliah, nggak pernah di-bully. Bang Hara pernah?”

“Nggak pernah,” jawab Hara. “Aku di-bully di rumah.”

Sontak Yuri menatap Hara dengan penuh rasa iba.

“Dan aku yakin, rasanya jauh lebih menyakitkan daripada bullying di sekolah,” lanjut Hara. “Yah… kamu pasti tahu, seseorang yang di-bully di lingkungan sekolah, akan menjadikan rumah sebagai tempat teraman. Sementara aku, harus melarikan diri ke mana?”

“Ke sini, Bang,” gumam Yuri, sambil serta-merta merengkuh kedua pipi Hara. “Bang Hara selalu bisa menjadikan rumah ini sebagai tempat pelarian.”

Hara hanya mengangguk lirih.

Yuri berinisiatif untuk menarik kepala Hara agar terbenam di bahu kirinya. Dan Hara tidak berontak, karena ia membutuhkannya.

“Tadi malam,” bisik Hara. “Tanpa sengaja aku mendengar ucapan Mama kepada Brama.”

“Bu Sala bilang apa?” tanya Yuri lembut.

“Mama bilang, udah nggak mau lagi berharap padaku,” cerita Hara. “Mama menganggapku nggak berkontribusi.”

“Ya Tuhan…” ucap Yuri, sebelum kemudian terdiam. Tak lama, terdengar isak tangis pelan. Lalu, dengan terbata, ia melanjutkan kata-katanya, “Dengan apa yang udah disisihkan, sebagian besar dari gaji Bang Hara, masih dibilang nggak berkontribusi?”

Hara mengangguk.

“Kok tega, ya?” komentar Yuri, masih sambil terisak.

“Aku nggak tahu,” jawab Hara. “Mungkin aku harus memberikan semua gajiku, lalu puasa jajan dan berangkat ke kantor dengan berjalan kaki. Barulah Mama puas.”

“Nggak, Bang,” bantah Yuri. “Aku yakin, itu belum cukup.”

Hara tertawa getir.

Keduanya saling diam. Hara meredakan gejolak yang berkecamuk di hatinya. Gejolak yang sejak lama ia rasakan namum dipendamnya, karena tak tahu kepada siapa harus mencurahkannya. Hingga akhirnya Yuri menawarkan bahu kirinya untuk menjadi sarana berbagi.

Sementara, sang gadis terus menangis pelan. Membuat situasi menjadi ambigu. Siapa yang menghibur siapa?

“Mungkin aku memang harus pergi ke Inggris,” cetus Hara. “Bekerja dan cari uang di sana, biar bisa berkontribusi terhadap keluarga.”

Yuri tiba-tiba mendorong kepala Hara agar menjauhi bahu kirinya, kemudian ditatapnya lelaki itu lekat-lekat. “Jangan, Bang. Jangan ke Inggris.”

“Ke Jepang?” ujar Hara, sambil balas menatap Yuri. “Atau… Selandia Baru, mungkin?”

“Nggak,” tegas Yuri. “Bang Hara nggak boleh pergi kerja ke luar negeri.”

“Lho?” kening Hara berkerut. “Demi penghasilan yang lebih baik, Néng. Supaya aku bisa dianggap berkontribusi untuk keluarga.”

“Nggak!” nada suara Yuri meninggi secara drastis. “Kalau Bang Hara pergi… aku dengan siapa? Aku bagaimana?”

Hara menundukkan kepala, meski sejurus kemudian diangkatnya lagi.

“Suatu hari nanti,” ucapnya. “Akan ada seorang lelaki yang menjadi jodohmu. Mencintai dan menjadi suamimu. Ketika itu terjadi, kamu nggak akan membutuhkanku lagi.”

“Bagaimana kalau ternyata jodoh aku adalah Bang Hara?” tanya Yuri. “Bagaimana kalau ternyata Bang Hara yang jadi suami aku? Apakah Bang Hara tega meninggalkan aku sampai sebegitu jauh?”

Hara tidak kuasa menjawab.

“Motif Bang Hara pergi ke luar negeri adalah demi mendapatkan penghasilan yang lebih layak,” lanjut Yuri. “Agar bisa menghapus asumsi bahwa Bang Hara nggak berkontribusi. Demi Tuhan… buat aku, Bang Hara bisa berarti segalanya. Bang Hara sangat berkontribusi.”

“Tapi ini tentang aku dan keluargaku, Néng,” sangkal Hara. “Bukan tentang kontribusiku kepada pasangan hidupku, yang sampai saat…”

“Bang!” jerit Yuri, memaksa Hara berhenti berkata. “Nggak akan selamanya Bang Hara tinggal bersama mereka. Bang Hara akan berkeluarga, suatu hari nanti.”

“Iya, Néng,” tanggap Hara. “Aku mengerti. Tapi, kelak keluargaku…”

“Akan menganggap bahwa penghasilan Bang Hara kurang mencukupi?” potong Yuri. “Iya?”

Hara terdiam sesaat, sebelum kemudian mengangguk.

“Dengan aku, Bang Hara nggak akan pernah mendengar keluhan soal kurangnya penghasilan,” lirih Yuri. “Dengan aku, Bang Hara akan selalu merasa telah berkontribusi. Dengan aku… hidup Bang Hara akan bahagia.”

***
Bersambung