Ciuman Terakhir Part 1

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Tamat
(SEBUAH PROLOG)​

“Kebutuhan hidup kita banyak, Hara,” protes Kania. “Bagaimana aku harus mengatur keuangan, dengan gaji kamu yang hanya sebegitu, mesti mencukupi biaya hidup?”

“Aku udah berusaha, Nia,” Hara membela diri. “Untuk saat ini, memang hanya itu yang bisa aku kasih untuk kamu.”

“Almarhum suami aku,” ujar Kania. “Bisa memberiku uang dua kali lipat dari jumlah yang kamu berikan.”

“Tapi, jumlah yang dia berikan, adalah sebagian dari penghasilannya,” balas Hara. “Sementara aku, memberikan semua gaji aku untuk kamu. Semua, Nia.”

“Iya, semua,” Kania tertawa kecil. “Makanya, aku pernah bilang, keluar dari pekerjaan kamu sekarang. Dan cari kerja lagi. Supaya kamu bisa memberikan semua gaji kamu, lebih besar daripada yang biasa diberikan almarhum suamiku.”

Hara menggelengkan kepala dengan putus asa.

“Atau, kamu udah siap jika aku menerima tawaran duda kaya itu?” tambah Kania, sukses membungkam Hara.

—000—

Perawan memang menawan,
tapi janda lebih menggoda.​

Cobalah untuk dekat dan menjalin hubungan dengan seorang janda dengan nama panggilan akrab Nia. Seorang wanita bertubuh proporsional, berwajah manis, dan berkulit kuning langsat, yang telah dua tahun menjanda setelah ditinggal mati suaminya. Terlepas dari kenyataan bahwa dirinya punya seorang anak, Kania tetap memiliki banyak hal yang menjadikannya sebagai sosok janda yang dicari pria.

Ya, sekali lagi, cobalah untuk dekat dengan Kania. Dua bulan saja, kalian akan berpikir ulang untuk tetap ‘berpegang teguh’ pada semboyan di atas. Tidak percaya? Makanya, kusuruh kalian untuk mencoba.

—000—

(Kania Indri)​

Kisah cinta Hara dengan Kania bermula dari kegemarannya bermain Facebook, hampir dua tahun lalu. Suatu malam, saat menumpang online di sebuah warnet milik temannya, akun Facebook Hara menerima sebuah permintaan pertemanan. Segera ia accept, karena seseorang bernama Kania Indri itu memiliki mutual friends sebanyak 14 orang dengannya.

Jujur, meski tidak mengenali wajah yang dipajang sebagai photo profile-nya, namun Hara cukup tertarik dengan manis senyumnya. Statusnya yang masih melajang saat menginjak usia 30 tahun, dan kenyataan bahwa Hara tak pernah berhubungan serius dengan wanita sejak kisah asmaranya bersama Nunik berantakan dua tahun sebelumnya, jadi alasan.

Yah… boleh ‘kan, aku mencari jodoh via media sosial? batinnya.

Malam itu, tak ada kisah yang berlanjut. Hara hanya meng-confirm permintaan pertemanan tersebut. And that’s all. Tak ada chat atau kiriman di kronologi laman Facebook milik Kania, yang sekadar menulis basa-basi seperti ini,

Hai lam kenal ya.. 🙂

Tak ada pula tindakan Hara me-like status atau kiriman foto Kania. Jangankan begitu, membuka profil Facebook-nya pun tidak ia lakukan saat itu.

Setelah meng-confirm permintaan pertemanan itu, Hara kembali asyik dengan bermain Candy Crush, sebuah Facebook game yang kala itu sedang lumayan happening.

Situasi mulai berubah saat beberapa hari kemudian Kania mulai rajin me-like hampir setiap posting baru Hara. Entah itu status, foto, notes, bahkan kiriman dari game. Penting atau tidaknya kiriman di laman Facebook Hara, hampir selalu disukainya.

Hara paham, me-like sebuah kiriman di laman Facebook dapat dengan mudah dilakukan, hanya dengan sekali klik saja. Tidak butuh tenaga ekstra, tidak perlu banyak berpikir. Tapi bukan itu esensinya. Esensi utamanya adalah, rutinitas Kania me-like setiap kiriman di laman Facebook-nya, membuat Hara ‘terpaksa’ melirik nama itu. Kania Indri.

Hanya melirik? Tentu tidak. Selanjutnya, Hara akan meng-klik nama itu, untuk membuka page profile. Selesai? Belum. Karena hal tersebut akan dilanjutkan dengan melihat-lihat halaman profil itu. Membaca statusnya, menengok album fotonya. Mencari tahu tentang dirinya.

Reaksi kimia pun mulai bekerja. Mereka mulai rajin bertukar like. Dan di kemudian hari, mereka mulai saling sapa melalui fitur chat. Tak lama, hanya empat atau lima kali berbalas sapa, setelah itu selesai. Namun, disadari atau tidak, pada momen tersebut Hara dan Kania telah sama-sama menancapkan eksistensinya terhadap pihak lain.

Pada momen tersebut pula, akhirnya Hara mengetahui status Kania yang merupakan seorang janda ditinggal mati, yang memiliki seorang anak perempuan cantik. Nama mendiang suaminya adalah Andriga Wijaya.

Mengetahui status janda Kania, membuat Hara sedikit kecewa. Ia tidak pernah membayangkan akan menjalin hubungan dengan seorang wanita yang pernah menikah, apalagi sudah memiliki anak. So, Hara cukup shock.

Lho, bukankah banyak pria di luar sana beranggapan bahwa janda lebih menggoda? Maaf, bukannya sok alim. Namun seumur hidup Hara belum pernah mencicipi tubuh wanita. Hingga usianya yang menginjak kepala tiga, Hara masih perjaka. Jadi, ia tidak tahu bedanya perawan dan janda.

Yang ia tahu, menjalin hubungan dengan seorang janda akan lebih rumit dibandingkan gadis perawan. Karena akan melibatkan keluarga dari mantan suami, sulitnya menyayangi putra atau putrinya, hingga tentangan dari keluarga sendiri.

Namun, Hara mengakui, betapa interaksi yang masih sebatas lewat dunia maya itu cukup menggelitik hatinya. Ada sesuatu yang sedang terjadi, melingkupi batinnya dan Kania. Hingga akhirnya Hara betah berlama-lama berbincang dengannya. Semakin ingin tahu tentang dirinya dan masa lalunya. Semakin jatuh hati padanya.

Puncaknya terjadi pada hari ketiga belas sejak permintaan pertemanan Kania Indri. Di larut malam itu, lewat fitur chat, Kania bertanya,

Kamu punya hati sama aku, ya?

Setelah sempat berpikir beberapa detik, Hara menjawab dengan lugas,

Iya

Dan apa yang selanjutnya terjadi? Tanpa pernyataan cinta, tanpa tanggal jadian, mereka pun saling meniatkan diri untuk menjalin hubungan dekat. Momen yang, tak pernah diduga sebelumnya, akan membawa Hara menuju terciptanya kenangan manis sekaligus pahit. Kenangan yang paling sulit untuk dilupakan sepanjang hidupnya.

—000—

Rasanya cukup untuk bercerita tentang awal mula perkenalan Hara dan Kania dulu. Kini saatnya kembali melangkah maju, mengikuti kisah ini.

—000—

Hara sudah tidak sabar untuk segera bertemu langsung dengan Kania. Jengah rasanya, tiga pekan menjalin hubungan dekat, saling rayu, saling umbar kata mesra, tanpa sekali pun berjumpa. Interaksi sehangat ini terlalu mubazir jika hanya terjalin lewat saling balas pesan pendek atau chat saja.

“Aku minta waktu buat berpikir, Hara,” alasannya. “Nggak mudah lho, ketemu sama laki-laki asing. Apalagi, sembilan tahun terakhir, keseharianku selalu dilewati bareng satu lelaki aja.”

Dan Hara pun menerima alasan itu. Alasan yang kerap diulangi Kania, dengan pilihan kata-kata yang beragam tentunya, selama tiga pekan itu.

Biarlah aku bersabar, meski lama, hingga tiba waktu yang tepat, begitu pikirnya.

Nyatanya, di pertengahan pekan keempat, penantian Hara berujung pada pertemuan.

“Kita ketemu jam empat sore di ITC,” ujar Kania, lewat sambungan telepon. “Kebetulan aku mau beli pelembab wajah. Gimana?”

Tanpa pikir panjang, Hara pun mengiyakan.

Siang menjelang sore itu, ia bersiap. Porsinya sedikit berlebih. Jika biasanya selepas mandi Hara hanya memakai deodoran, kali ini ditambah dengan beberapa kali percikan splash cologne. Dan rambut yang lama tak pernah berjumpa sisir, kali ini kembali rapi. Terakhir, ia kenakan pakaian terbaik yang dimilikinya.

Hara pun berangkat menuju ITC yang terletak tidak terlalu jauh dari pusat kota itu, dengan perasaan campur aduk. Ada rasa senang karena sesaat lagi akan menemui seseorang yang punya tempat khusus di hatinya. Namun juga tersembul kekhawatiran, bahwa Kania yang berekspektasi tinggi akhirnya kecewa dengan sosok Hara yang sesungguhnya.

Tapi, show must go on. Hara harus siap dengan segala kemungkinan yang dapat terjadi.

—000—

Seringnya melihat foto-foto Kania di laman Facebook, membuat Hara bisa mengenalinya dengan mudah. Saat ia tiba, wanita yang usianya tiga tahun lebih muda darinya itu sedang asyik berbincang dengan SPG sebuah merek kosmetik. Kania tampak memesona dalam balutan celana jeans ketat yang dipadukan dengan kemeja biru muda lengan pendek yang juga ngepas di tubuhnya.

“Udah lama?” tegur Hara.

Kania menoleh, lalu sesaat keningnya berkerut. “Hara?”

“Yeah… ini aku,” ucap Hara, sambil tersenyum.

Kania mengulurkan tangan. “Kania.”

“Hara,” balas Hara. “Mau jalan ke mana?”

“Mmm… bebas,” jawab Kania.

“Kita cari tempat yang enak buat mengobrol,” cetus Hara. “Tapi, dengan resiko, mungkin makanannya kurang enak untuk disantap.”

“Di mana?” kening Kania berkerut.

“Di foodcourt lantai paling atas,” jawab Hara ringan.

Kania tertawa. “Terserah kamu.”

—000—

Obrolan berlangsung lancar. Mungkin karena mereka sudah terbiasa berkomunikasi lewat media chat dan pesan singkat. Hingga pertemuan ini seolah hanya menjadi ‘syarat’ untuk mengukuhkan hubungan mereka.

Secara pribadi, Kania meninggalkan kesan baik di hati Hara. Mulai dari pembawaannya, cara berpakaian, hingga keelokan wajahnya. Hmm… satu lagi, keindahan tubuhnya. Pakaian yang serba ngepas meski masih dalam taraf wajar itu, membuat kesintalan tubuh Kania dapat terlihat dengan mudah.

Tinggal bagaimana cara Hara untuk juga meninggalkan kesan baik di matanya. Berharap Kania berkenan dengan semua yang ada pada dirinya. Berkali-kali, Hara mencari tahu lewat sorotan matanya, namun belum berhasil. Entah Kania yang sangat pandai menyembunyikan perasaannya, atau ia yang terlalu bodoh dalam menangkap getaran yang wanita itu kirimkan.

“Kenapa kamu nggak mengajak anakmu?” tanya Hara.

“Harus, ya?” tanya balik Kania.

“Nggak harus,” jawab Hara. “Tapi, kalau kita punya niat serius dalam hubungan ini, sekarang atau nanti, aku harus kenal si Dédé.”

“Di pertemuan selanjutnya, aku pasti ajak dia,” Kania tersenyum.

Mengenal dan akrab dengan putrinya adalah suatu keharusan. Hara tahu, bagi seorang wanita janda yang sudah memiliki anak, perasaan dan isi hati dirinya tidak sepenting perasaan sang buah hati. Biarlah ia merana, asalkan sang anak bahagia. Begitu kira-kira.

Termasuk dalam hal mencari pengganti suaminya. Percuma ia mendapatkan seorang lelaki yang dicintai, namun sang putri tidak berkenan. So, Hara tahu, dekatilah putrinya lebih dulu. Sang bunda pasti akan mengikuti.

“Hara…” gumam Kania.

Hara menatap Kania, bertanya dengan sorot matanya.

“Kalau kita ternyata makin cocok,” sambung Kania. “Kamu benar-benar mau menikah dengan seorang janda?”

“Ada yang salah dengan status jandamu?” tanya Hara balik. “Aku nggak mempermasalahkan itu.”

“Tapi mungkin orang tuamu yang mempermasalahkannya,” ujar Kania. “Orang tuaku mungkin akan mudah menerima kamu, tapi belum tentu orang tuamu.”

Hara mengangguk paham. “Biarkan semua mengalir, Kania. Sekarang, kita yakinkan diri masing-masing, apakah kita memang benar-benar cocok satu sama lain? Kalau iya, baru kita pikirkan soal restu orang tua.”

—000—

Hara telah kembali ke kediaman orang tuanya. Tadi, ia mengantarkan Kania pulang. Namun, wanita itu tidak bersedia diantarkan sampai rumah. Ia meminta untuk diturunkan di depan gang menuju rumah orang tuanya.

“Aku belum siap kalau ibuku tahu tentang hubungan kita,” alasannya.

Hara mengerti.

Pertemuan tadi hanya berlangsung satu jam saja. Singkat sekali. Namun, jujur, pertemuan sesingkat itu tetap meninggalkan kesan cukup mendalam di hati Hara. Ia menginginkan hubungan ini terus berlanjut. Ia tidak mau, semua berakhir hanya setelah sekali pertemuan saja.

Entah, bagaimana perasaan Kania. Sepenglihatan Hara, wanita itu menikmati kebersamaan ini. Namun, ia pun tahu, perasaan wanita sulit ditebak.

Dan jawabannya hadir tak lama kemudian, ketika ponsel Hara berdering. Kania meneleponnya.

“Iya?” sapa Hara.

“Hara?” sapa balik Kania. “Udah sampai rumah, ya?”

“Iya,” jawab Hara dengan nada riang. “Bagaimana kabar si Dédé? Baik-baik aja selama kamu pergi?”

“Dia baik-baik aja,” jawab Kania. “Maaf, aku memang selalu mengkhawatirkan dia, sampai-sampai pertemuan kita tadi cuma sebentar.”

“Aku mengerti, Kania,” Hara tersenyum, tentu saja tidak terlihat oleh Kania. “Makanya, di lain waktu, ajak dia, ya?”

“Di lain waktu?” tanya Kania.

“Mmh… ya, kalau kamu bersedia bertemu aku lagi,” ujar Hara, menyadari kekurangtepatan kata-katanya. “Semua terserah kamu.”

Terdengar Kania tertawa. “Kita harus bertemu lagi, Hara. Aku kepingin bertemu kamu lagi.”

Otak Hara melayang saking bahagianya.

“Segera, Kania,” gumam Hara. “Kita akan segera bertemu lagi.”

—000—

(‘Dikerjai’ Kania)​

Hari pertama di Tahun 2016,

Brama, adik lelaki semata wayang Hara, pulang. Ia baru saja melakoni perjalanan merayakan pergantian tahun di sebuah vila milik teman kerjanya di Ciwidey. Serupa dengan ibunda mereka, yang memilih merayakan tahun baru di Cianjur, bersama adik-adiknya, alias bibi-bibi mereka, dan baru tiba satu jam sebelumnya.

Hara? Sendirian, di rumah saja. Merayakan pergantian tahun dengan merenung, karena sudah empat bulan menganggur, setelah keluar secara baik-baik dari pekerjaan sebelumnya. Rasanya tidak pantas, seorang lelaki jobless malah hura-hura menghabiskan uang. Terlebih, Hara adalah putra sulung, yang harus memberi teladan pada adiknya.

Dan Hara gagal. Kuliahnya berantakan. Tanpa predikat sarjana, Hara lebih banyak mendapatkan pekerjaan serabutan. Sulit sekali mencari kerja tanpa ijazah yang mumpuni. Alhasil, ketika berhasil mendapatkan pekerjaan, meski sebagai tenaga kasar, ia selalu mensyukurinya.

Tapi tidak dengan Mama dan Brama. Apapun pekerjaan Hara, kedua orang terdekat itu hampir selalu memicingkan mata. Bagi mereka, juga almarhum Papa, bekerja adalah berpakaian rapi dan duduk di balik meja kantor sebuah perusahaan. Membanting tulang hingga tersaruk-saruk kelelahan sebagai seorang staf gudang, bukanlah pekerjaan.

Hara memang sudah sejak lama kehilangan respek dari Mama dan Brama. Hara memang manusia gagal.

“Mama kira, kamu tidak jadi keluar rumah, Bram,” komentar Mama.

“Harus jadi lah, Ma,” ujar Brama, sambil melangkah menuju dapur. “Daripada di rumah, harus menghidupi sendiri. Di sana, ada yang menanggung.”

Hara tahu, ucapan tersebut ditujukan untuk menyindir dirinya. Bercokol di rumah, terlebih tanpa Mama, membuatnya mesti keluar uang untuk membeli makan, misalnya. Brama tidak bisa mengandalkan Hara, karena sang abang seorang pengangguran, yang jelas tak punya penghasilan, namun dapat berpotensi menyedot penghasilannya.

Hara berpura-pura tak mendengar.

“Kamu tidak pergi ke mana-mana, Har?” tanya Mama.

“Nggak, Ma,” jawab Hara.

“Memang semestinya begitu,” komentar Brama. “Kalau nggak punya uang, nggak usah ke mana-mana.”

Sindiran Brama makin terasa telak di telinga Hara. Tapi, lagi-lagi, Hara mendiamkan saja. Ia bisa saja melawan. Namun, jika efeknya berbalik melawan, ia pasti dipersalahkan. Tokh, Hara memang tidak ada apa-apanya dibandingkan Brama.

Beruntung, bunyi dering ponsel Hara yang sedang di-charge di kamar, menyelamatkan situasi agar tetap terkendali. Ia pun bergegas melangkah memasuki kamar.

Kania meneleponnya.

“Iya, Nia?” sapa Hara.

“Hai, lagi apa?” balas sapaan Kania.

“Lagi diam aja,” jawab Hara. “Menunggu kamu menelepon.”

“Bohong,” Kania tertawa. “Jalan, yuk?”

“Ke mana?” tanya Hara.

“Terserah kamu,” jawab Kania. “Ke warnet temanmu juga boleh. Aku kepingin kenal sama teman-temanmu, Hara.”

“Hmm… oke,” sanggup Hara. “Si Dédé diajak, ‘kan?”

“Sayangnya, nggak,” jawab Kania.

“Kenapa?”

“Dia lagi diajak main neneknya.”

“Oh, ya udah. Satu jam lagi, aku jemput kamu. Di depan gang, ya.”

“Aku tunggu.”

Hara bergegas bersiap. Tak butuh banyak persiapan, sebenarnya. Sekadar mengulaskan deodoran di ketiak, menyemprotkan sedikit minyak wangi, dan mengenakan jaket. Maka ia pun sudah siap berangkat. Tak ada acara mandi, berdandan, apalagi memilih busana yang pantas hingga setengah jam.

Hara pun keluar kamar.

Mama dan Brama masih ada di ruang tengah.

“Aku pergi dulu,” pamit Hara. “Ke warnet.”

Mama dan Brama berkomentar sesuatu. Nyinyir. Hara berlagak tidak mendengar, dan memilih untuk segera keluar rumah dan menutup pintu. Terlalu lama telinga ini mendengarkan kata-kata yang ‘miring’, malah semakin sakit hati.

—000—

“Wajahmu kelihatan kusut,” komentar Kania, saat Hara dan dirinya duduk berdua di dalam salah satu dari 15 bilik komputer, di lantai dua. Sesiang ini, warnet agak sepi. Entah kenapa. “Ada masalah?”

“Wajahku biasa seperti ini, Nia,” jawab Hara. “Ada atau nggak ada masalah, sama aja. Coba tanya Arman.”

“Arman?”

“Iya, temanku yang lagi jadi operator di bawah.”

“Oh,” bibir Kania membulat. “Tapi, seingatku, waktu pertama kali kita ketemu, wajahmu nggak sekeruh ini, deh!”

Hara tertawa kecil. “Kamu nggak benar-benar memerhatikan, Nia. Kamu lebih sering menunduk, nggak berani menatapku langsung.”

Kania tersipu.

“Sekarang aku berani menatapmu secara langsung,” ujar Kania, sambil lalu menatap lekat-lekat kedua mata Hara.

Hara membalas tatapan itu, tak kalah dalamnya. “Aku ladeni, Nia.”

Dan hangatnya sorot mata Kania, membuat Hara terhanyut, dan tergoda untuk mencoba mengecup bibir wanita itu. Sebaliknya, Kania terpaku dengan dalamnya tatapan Hara, hingga ia pun mengerti arti dari gestur tubuh sang lelaki. Keduanya pun berciuman hangat. Ciuman pertama dalam hubungan asmara mereka.

Namun tak lama, Kania mendorong wajah Hara, hingga bibir keduanya berpisah.

“Nanti dilihat orang,” bisik Kania.

Hara mengangguk pelan.

Demi menghindari gairah yang mungkin akan kembali terpancing, mereka pun memutuskan untuk pergi ke lantai dasar. Bergabung dengan Arman di meja operator. Seperti keinginan Kania, yang ingin mengenal teman-teman Hara.

“Tumben warnet sepi,” komentar Hara.

“Mungkin para langganan masih mengantuk,” jawab Arman. “Nggak tidur semalaman, pesta kembang api.”

Hara tertawa. “Kamu stay di sini, tadi malam?”

Arman menjawab dengan anggukan kepala. “Sendirian, Har.”

“Tahu begitu, tadi malam aku ke sini,” ujar Hara. “Aku juga sendirian di rumah. Kukira, tadi malam giliran Rado yang jaga.”

“Memang kenapa kalau dia yang jaga?” tanya Kania.

“Aku malas ketemu dia,” jawab Hara.

“Aku juga,” tambah Arman, lalu tertawa.

Kania menatap Hara dan Arman bergantian. “Aku mencium nada konfrontasi. Mmm… Rado itu musuh kalian berdua?”

Hara dan Arman hanya tersenyum, tanpa menjawab pertanyaan tersebut.

“Kamu mengantuk?” tanya Hara, menatap Kania. “Matamu sayu.”

Kania tersenyum. “Si Dédé masih anteng main sampai jam dua dinihari. Nggak mungkin aku tinggal tidur.”

“Haduh…” keluh Hara. “Jadinya kamu kurang tidur.”

“Kalau mau istirahat atau tiduran,” ujar Arman. “Pakai kamar atas aja.”

“Memangnya di atas ada kamar?” tanya Kania. “Bukannya satu lantai isinya cuma deretan bilik komputer dan toilet?”

“Kamar di lantai tiga, Nia,” beritahu Hara. “Tadi, kamu lihat ada anak tangga yang lumayan terjal di dekat toilet? Itulah jalan menuju kamar.”

Bibir Kania membulat.

“Kamu rebahan dulu, gih!” sambung Hara. “Biar lebih fresh.”

Kania menatap Arman. “Boleh?”

“Boleh, lah!” Arman tertawa. Sok aja pakai.”

“Kamu nggak akan ikut?” canda Kania.

Arman tergelak.

“Arman nggak berselera sama janda,” ujar Hara, menahan senyum.

Kania cemberut.

“Ya udah, aku menumpang rebahan, ya,” ucap Kania.

“Silakan,” Arman tersenyum.

Kania menatap Hara. “Antar.”

“Hayu,” sanggup Hara.

Mereka pun beranjak naik ke lantai atas, di mana berderet bilik komputer untuk klien warnet. Di sudut ruangan yang berdekatan dengan toilet, terdapat anak tangga. Hara menyuruh Kania naik lebih dulu. Agak terengah, karena cukup terjal.

Setibanya di kamar,

“Kamu capek?” tanya Hara. “Masa’, sih?”

Kania tersenyum. “Mungkin pengaruh kurang tidur.

“Oh,” gumam Hara. “Makanya, cepat tidur.”

Kania membaringkan tubuhnya di atas kasur tanpa ranjang. Lalu menatap Hara. “Kamu nggak tidur?”

“Nanti aja,” Hara tersenyum. “Aku mau temani Arman dulu.”

Hara pun kembali ke bawah. Duduk di sebuah bangku plastik, tepat di sebelah kiri Arman yang menekuri layar komputer.

“Kenapa nggak menemani Nia?” tanya Arman.

Hara tersenyum. “Aku mau online dulu.”

“Oh,” tanggap Arman, lalu tertawa. “Bro… kalau jandanya seperti Nia, aku juga berselera.”

Hara pun tertawa.

—000—

“She’s so hot,” begitu penilaian Arman tentang Nia. Pendek, namun punya banyak arti. “Aku yakin, banyak laki-laki yang rela sakit tifus demi mengejar dia.”

Hara tertawa.

“Kamu beruntung,” sambung Arman. “Nggak perlu sakit tifus, nggak perlu capek mengejar, malah berhasil menggaet Nia.”

“Yeah… aku memang beruntung,” ujar Hara. “Dan Nia sangat sial, dapat laki-laki seperti aku.”

Arman menggeleng. “Kalau Nia memilih kamu, berarti dia melihat sesuatu yang istimewa. Kita nggak menyadarinya, karena orang lain yang menilai.”

“Iya, sih…” gumam Hara.

“Jadi, kapan kalian menikah?” tanya Arman enteng.

Hara tertawa. “Masih jauh, Bro. Aku bahkan belum sempat ketemu putrinya.”

“Benar,” Arman mengangguk. “Biar putrinya yang menentukan, apakah kamu pantas jadi ayah barunya.”

Hara mengeluarkan sebungkus rokok dari saku kiri jaketnya, lalu meletakkannya di atas meja operator. Tepat di sebelah tangan kiri Arman. Sahabatnya itu melirik kotak rokok, kemudian menatap Hara.

“Tumben rokok mild!” komentarnya.

Hara terkekeh. “Nia membelikanku rokok itu. Dia nggak hapal rokokku. Masa’ kutolak?”

“Dan aku juga nggak mungkin menolak, kalau kamu tawari,” seloroh Arman, sambil mengambil kotak rokok dan mengeluarkan sebatang. Lalu menyalakannya. “Ditampi, Juragan.”

Hara terkekeh lagi. “Mangga, Kasép.”

Hara sendiri melakukan hal yang sama. Mengambil sebatang rokok, lalu menyalakannya. Setelah itu, keduanya saling diam. Arman kembali asyik dengan game Poker-nya, sementara Hara lebih tertarik dengan lalu lintas padat yang terjadi di depan warnet. Seru saja, memerhatikan para pengguna jalan yang tak bisa sabar, ingin cepat pulang.

Keasyikan itu terusik ketika ponsel Corby kuning di saku kiri celana jeans-nya berbunyi. Ringtone singkat itu menandakan sebuah SMS masuk. Hara pun merogoh saku kirinya. Diliriknya layar ponsel qwerty itu. SMS dari Kania.

Naik dong
Sepi di sini
Ngeri, tahu!

Hara tertawa kecil. Mengundang Arman untuk menoleh dan menatapnya.

“Ada apa, Har?” tanyanya.

“Nia bilang, di atas sepi,” jawab Hara. “Ngeri, katanya!”

“Iyalah!” Arman tertawa. “Siapa pun bakalan merasa nggak nyaman sama lingkungan yang baru pertama kali didatangi. Temani, gih!”

“Nggak apa-apa, kamu kutinggal sendiri?” tanya Hara.

“Gusti…” Arman menepuk pelan keningnya. “Seolah-olah aku yang baru pertama kali jaga warnet.”

Hara terkekeh. “Yo wis, aku ke atas dulu.”

Arman menunjukkan gestur mengusir, sambil tersenyum.

—000—

“Pacarku kesepian?” goda Hara, segera setelah kepalanya menyembul dari lubang persegi yang menghubungkan lantai dua dan kamar di lantai teratas itu. “Mmh… kasihan sekali…”

Kania merengut. “Tega, ih! Aku sendirian di sini, sementara kamu malah berduaan sama… aku lupa nama temanmu itu.”

“Arman,” ujar Hara.

“Iya, Arman,” imbuh Kania. “Ganteng, sih. Tapi bukan berarti bisa kamu pacari, ‘kan?”

Hara tertawa. Ia kini telah benar-benar berada di kamar, duduk menghadapi Kania yang berbaring menyamping.

“Arman lebih cocok jadi pacarku,” sambung Kania.

“Kamu mau pacaran dengan Arman?” tanya Hara, menahan senyum.

“Mmm… mau,” jawab Kania. “Kalau dia mau.”

“Aku nggak mau,” tanggap Hara.

“Ya jangan mau, lah!” Kania tertawa. “Masa’ kamu mau pacaran sesama jenis?”

“Maksudku,” Hara menatap Kania dalam-dalam. “Aku nggak mau, kamu pacaran dengan Arman. Kamu pacaran denganku, bukan yang lain.”

Kania tersipu.

Hara mendekatkan wajahnya dengan wajah Kania. Perlahan, kelopak mata sang wanita mengatup. Hara mengecup bibir ranum Kania, dan janda cantik itu membalasnya. Ketika Hara memutuskan berhenti, Kania malah menahan kepala belakang sang lelaki dengan kedua telapak tangannya.

Mau tidak mau, Hara pun melanjutkan cumbuannya. Dan Kania terus membalas dengan penuh gairah. Lalu, dengan sedikit paksaan, wanita itu menarik tangan kanan Hara agar juga jatuh di atas kasur tanpa ranjang. Kini, tubuh Hara menindih tubuh indah Kania.

Hara masih cukup ‘hijau’ dalam urusan seks. Hingga ia pun dapat dengan mudah terangsang ketika tubuhnya bersentuhan begitu erat dengan tubuh wanita. Apalagi, tubuh yang kini ditindihnya begitu atraktif dan menggoda.

Kania tahu persis, lelaki yang menindihnya mulai terangsang. Ia dapat merasakan area selangkangan Hara membesar, seiring batang penisnya yang ereksi. Atas dasar itulah ia mengajak Hara berguling, hingga kini dirinya yang berada di atas.

Dan tampaklah perbedaan antara seorang lelaki pemula dan wanita janda. Saat Hara di atas, lelaki itu hanya menciumi bibir Kania. Namun ketika giliran Kania di atas, sang wanita membarenginya dengan gerayangan tangan kanan di dada Hara. Bahkan, tangan kirinya mulai menyibakkan ujung bawah t-shirt abu-abu Hara.

Sampai di sini, Hara masih bisa memaklumi. Hingga ketika kedua tangan Kania berganti mengangkat pakaian atasnya hingga bra hitam di baliknya terlihat, Hara mulai blingsatan. Dan ujungnya, wanita itu juga mengangkat cup bra tersebut, memperlihatkan bukit payudara montok yang tadi dilindunginya.

Kedua bola mata Hara melotot. Terkesima akan keindahan buah dada Kania, juga terkejut dengan keberanian sang wanita memperlihatkan salah satu bagian tubuh vitalnya di hadapan Hara, seorang lelaki yang baru dikenalnya belum lama. Seorang lelaki yang baru dua kali saja ia temui.

Namun, keterkejutan tidak mampu menghalangi kepenasaran Hara untuk menyentuh payudara kenyal itu. Secara sadar, kedua tangannya terulur dan meremas buah dada Kania, hingga pemiliknya sedikit mendongakkan kepala sambil mendesah pelan. Lalu, wanita itu menatapnya, dan tampaklah betapa sayu mata itu. Birahi Kania telah memuncak.

Kania mencondongkan tubuhnya ke arah Hara, hingga bibir lelaki itu dapat mencapai payudaranya. Hara langsung memeluk erat punggung Kania, sambil mulutnya hinggap dan mengulum puting dada kiri sang wanita. Desahan pelan kembali terlantun di bibir Kania, dan ditangkap telinga Hara sebagai suatu stimulasi yang makin membangkitkan libidonya.

Wanita itu kemudian sedikit beringsut ke samping, hingga tubuh bawahnya turun ke permukaan kasur. Dan sejurus kemudian, Hara tahu maksud Kania. Tak ada lagi kata yang paling tepat untuk menggambarkan perasaan Hara, selain terkejut, ketika tangan kiri Kania tiba-tiba menyusup ke dalam celananya, dan menggenggam batang penisnya.

“Kania…!” seru Hara tertahan.

Kania hanya tersenyum. Tak terlihat niat untuk menghentikan aksi nakalnya itu. Genggaman itu malah berganti menjadi kocokan pelan.

“Jangan, Nia…” tolak Hara.

Dan Kania kemudian mempercepat kocokan tangannya. Hara makin panik, meski hatinya tak bisa mungkir bahwa ia menikmati perlakuan sang wanita. Ya, baru kali ini, ada seorang wanita yang berani menggenggam dan mengocok penisnya. Sensasinya, sungguh sulit untuk digambarkan.

Hingga tak sampai lima menit, sel sperma kental pun memancar dari lubang kecil di ujung batang kemaluannya. Diiringi geraman tertahan dan tubuh yang sedikit bergetar, juga napas yang berat dan tersengal-sengal.

“Ahhh… Nia…!” seru Hara.

“Keluar?” gumam Kania, dengan sorot mata jahil. “Baru sebentar, lho!”

Hara hanya bisa terdiam. Ia malu, mendapati betapa amatirannya dirinya di hadapan wanita yang penuh pengalaman seperti Kania.

“Kamu bawa celana dalam ganti?” tanya Kania, kentara benar nada iseng pada suaranya.

Hara menunjuk sebuah tas ransel hitam di sudut kamar. “Tas itu berisi pakaianku. Persiapan kalau mendadak memutuskan menginap di sini.”

“Persiapan kalau mendadak nge-crot juga, ya?” goda Kania lagi.

Hara menekuk wajah. Kania tertawa.

—000—

Sepeda motor yang dikendarai Hara sambil membonceng Kania telah tiba di depan gang menuju kediaman orang tua sang wanita.

“Kamu masih belum siap mengenalkan aku dengan ibumu?” tanya Hara.

Kania mengangguk. “Dengan sangat menyesal, iya. Aku berharap kamu bisa mengerti.”

“Aku mengerti,” tanggap Hara. “Daripada dipaksakan, dan hasilnya malah berantakan. Nggak baik untuk kelanjutan hubungan kita, ‘kan?”

“Iya,” Kania tersenyum. “Terima kasih atas pengertiannya.”

“Ya udah, aku pulang dulu,” pamit Hara. “Sampai ketemu lagi, secepatnya.”

“Hati-hati, Hara,” jawab Kania. “Kabari aku, kalau kamu udah sampai di rumah, ya?”

“Siap,” Hara mengangguk. “Aku pulang.”

“Eh, sebentar, Hara,” cegah Kania.

“Ada apa lagi?” tanya Hara.

Kania menoleh ke kanan dan kiri, menatap berkeliling. Lalu, secara tiba-tiba, ia mendekatkan wajahnya pada wajah Hara. Dan… bibirnya hinggap di bibir sang lelaki! Sekilas, tak sampai dua detik, namun meninggalkan semburat merah di wajah keduanya.

“Hati-hati,” ulang Kania.

Hara mengangguk kaku.

—000—

Bersambung