Cinta Yang Liar Part 9

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48Part 49Part 50
Part 51Part 52Part 53Part 54Part 55
Part 56Part 57Part 58Part 59Part 60

Seneng deh punya keponakan ganteng kaya kamu… bisik tante sambil mencubit pipiku

Gemesssss…. ucap bu dhe sambil mencubit pipiku juga

Aku hanya menggeleng-gelengkan kepala ketika mereka melakukan hal itu, wajar juga Tante dan Bu dhe masih terlihat muda jadi ya suka sok gaul kalau sama aku, gitu deh. Ku jalani hari ini dengan penuh kebahagiaan dan penuh kesenangan terutama adalah bermain dengan adik-adikku. Ya karena aku memang selalu membayangkan mempunyai seorang adik tapi dari penuturan Ibu, Ayah tidak ingin menambah momongan.

Waktu tak terasa sudah pukul 12.30, aku pamit izin ke pada kakek dan nenek tak lupa pula kepada Pak dhe, Ibu, dan tante untuk menginap di rumah teman sekaligus sahabatku, Rahman. Perjalanan cukup jauh aku tempuh, dan sudah hal biasa bagiku karena memang keseharian aku kuliah dengan jarak yang cukup jauh pula. Hingga akhirnya aku sampai di rumah Rahman.

Ku tekan bel pintu gerbang rumah Rahman. Keluarlah seorang wanita keturunan India yang cantik dan berkulit putih,Ibu Rahman yang selalu aku panggil Tante karena selama ini aku tidak pernah tahu nama Ibu Rahman walaupun aku sering bermain atau bahkan menginap di Rumah Rahman semenjak semester 3 lalu.

Oh nak Arya, masuk nak ucap Ibu Rahman sembari membukakan pintu gerbang. Ku papah REVI sibodi montok dengan perlahan, ya aku tahu dia kelelahan karena telah melayaniku selama perjalanan menuju Rumah Rahman. Setelah aku parkir di dalam garasi rumah Rahman, kemudian aku berjalan berdampingan dengan Ibu Rahman menuju ke dalam rumah.

Ada acara apa ini? tanya Ibu Rahman

Ini tante, mau mengerjakan tugas, kemarin Rahman memaksa aku untuk main kesini tante jelasku kepada Ibu Rahman

Pasti, Rahman mendapat kesulitan ya dengan tugas kuliahnya? Anak itu memang jarang mau belajar, padahal Ibunya dulu waktu kuliah selalu mendapat IP di atas 3,5. Mungkin nurun dari Ayahnya jelas tante sembari membukakan pintu dan kami masuk

Ah ya enggak tante, Rahman Rajin kok belajarnya ucapku sedikit membela Rahman

Rajin???? Rajin memerawani cewek-cewek kampus iya tante Bathinku

Tante itu lebih tahu daripada kamu, kalau dia sudah dirumah ngegame mulu, tante sampai menyerah kasih tahu dia, Huft! ucap tante dengan sedikit emosi sembar berjalan menuju ruang tengah.

Mami itu apaan sich, aku kan anak Rajin, tul gak Ar? ucap Rahman dari atas yang sedang menuruni tangga menyambutku

Yoi kang! jawabku sederhana

Ayo langsung masuk aja ente ke kamar kita belajar ucap Rahman dengan gaya sok pintarnya.

Ya biar istirahat dulu si Aryanya kan kasihan baru saja sampai ucap Ibu

Ya deh… Arya sahabatku, silahkan istirat dulu, bubu dulu di kamarku tidak apa-apa kok ucap Rahman sok manis

Naaaah ini tante, kelihatan sekarang batang hidungnya… ini Rahman kalau di kampus suka goda cewek dengan nada sok imut ini tante balasku meledek Rahman

oooo…. lebih mentingin cewek daripada kuliah ya? ucap tante dengan tangan berpinggang dan mata mendelik ke arah kami.

Lari Broo… Akan ada bom nuklir ucap rahman yang kemudian menarikku ke atas menuju kamarnya, kulihat Ibu Rahman hanya menggeleng-gelengkan kepala sambil mengelus dada. Ya walaupun sedikit marah Ibu Rahman ini tetap kelihatan guratan-guratan kecantikannya. Wanita keturunan India, dengan kulit putih tinggi hampir sama dengan Ibu dan ukuran susunya ah aku tidak tahu, megang saja belum he he he.

Rumah Arya termasuk luas dengan dua lantai di dalamnya. Ketika masuk akan langsung berada di ruang tamu yang kemudian hanya di batasi bifet saja sudah ada ruangkeluarga yang sangat luas. Di samping kananku ketika aku berbincang dengan Ibu Rahman terdapat pintu kamar tante kemudian di lanjutkan tangga menuju lantai dua tempat kamar Rahman berada. Ruang keluarga yang cukup luas yang bersatu dengan ruang makan, agak kebelakang ada dapur dan pekarangan rumah.

Kini aku berada dalam kamar, kulhat jam dinding menunjukan pukul 15.30. aku kemudian tiduran di kamar rahman yang sangat luas, ada area santainya dengan dua kursi meghadap ke jendela, area main game beralaskan kasur lantai ada juga tempat tidur ukuran 2 x 2 meter. Aku tertidur di kasur sedangkan Rahman? Terakhir kali mataku terbuka dia sedang main game online dengan komputernya.

Pada malam 06.30 aku diajak makan malam bersama dengan Rahman dan keluarganya, tampak tante dan suaminya (Ayah Rahman). Kami makan malam sambil berbincang-bincang mengenai kuliah, dimana Rahman selalu di jadikan sasaran kemarahan Ibunya karena jarang sekali belajar.

Walaupun begitu Rahman menanggapinya dengan santai karena sudah menjadi hal biasa ketika Rahman dibully ketika makan malam. Makan malam selesai dan kemudian kami beruda naik ke atas, kami mulai belajar. Kami? Oh tidak hanya aku saja, Rahman? Main game.

Ar, ane selalu dukung ente apapun yang terjadi…

Dan ku dukung belajarmu semoga kamu bisa selesai dalam mengerjakan tugas kuliah kita ucapnya dengan wajah penuh motivasi dan semangat tapi dia kembali main game dan aku yang sibuk mengerjakannya.

Satu setengah jam terlewati, tepatnya pukul 21.30 aku selesai mengerjakan tugas. Rahman kemudian mengabadikan tugasku dalam kameranya, biar bisa dicontek nantinya. Aku dan Rahman kemudian main game Winning The Pooh-PleSetan 4. Kuambil posisi duduk di sebelah Rahman yang dengan tidur tengkurap sambil main game.

Tok tok tok…. suara ketukan pintu dan masuklah bidadari di rumah ini melewati pintu kamar rahman yang jarang sekali di tutup, ya itu Ibu Rahman.

Sudah selesai tugasnya? tanya Ibu Rahman sembari meletakan minuman hangat di depan kami

Sudah tante… jawabku sambil tersenyum

Jelas sudah dong. Siapa dulu gitu mam, Rahman…. ucap rahman dengan nada kesombongannya

Iya sudah nyontek Arya… jawab Ibu Rahman Judes

Aku hanya bisa tertawa ketika Ibu dan anak ini saling meledek apalagi kalau sudah ada pertengkaran kecil. Ibu Rahman kemudian meninggalkan kamar kami, ku minum teguk demi teguk minuman dari Ibu Rahman, begitu pula dengan Rahman selama permainan.

Lama kami bermain, Hingga minuman habis, dan berbatang-batang rokok menumpuk di asbak. Kurasakan dalam tubuh ini terasa panas, kulihat Rahman sudah tengkurap dan tertidur pulas. Aku masih bingung dengan keadaanku, sama sekali tidak mengantuk tetapi kenapa Rahman dengan mudah tidur. Kulihat jam dinding menunjukan pukul 23.30

Nak Arya….. teriak Ibu Rahman dari lantai bawah

Tolong Tante sebentar, ini TV bawah kok tidak bisa menyala… teriaknya kembali, malam sekali tante tidur biasanya jam segini sudah tidur. (berdasarkan pengalaman menginap sebelumnya)

Iya tante…. Aku turun kebawah ucapku, kemudian melangkah ke bawah dengan menahan panas dalam tubuh ini. Ketika di bawah aku melihat tante dengan pandangan berbeda, padahal pakaian yang dikenakannya adalah pakaian yang sama ketika aku datang tadi. Pikiran ngeres sering muncul ketika aku berhadapan dengan tante malam ini. Ku dekati televisi kemudian aku cari penyebab kenapa Televisi ini tidak mau menyala, sepele kabel belum di colokan ke dalam stop kontak.

Tante… ini sudah…

Cuma kabelnya saja belum nyolok ke stop kontak, mungkin ke cabut tante jelasku kepada tante

Masa iya? Ucap tante sembari mendekatkan tubuhnya, kedua susu tante menempel pada lengan kananku, semakin berdesir darah ini dan Hoooooooooooammm… Aku bangun kakak, sial bagaimana bisa aku berpikir ngeres ke Ibu temanku sendiri.

Oya sudah terima kasih ya, ni Tante buatin minuman hangat diminum dulu ucap tante

Iya tante… ucapku tak kuasa aku menolak, kami berdua duduk bersebelahan di depan televisi.

Tampak tante membuka percakapan untuk mengobrol denganku tapi panasnya tubuh ini membuat aku tidak bisa berkonsentrasi dengan apa yang Ibu Rahman bicarakan. Aku menoleh kearah Ibu Rahman mencoba untuk mendengarkan yang tante bicarakan, Semakin lama semakin menjadi semakin lama aku hanya fokusku bukan pada wajah tante melainkan pada susu tante.

Arya…. Tante ingin kamu… tiba-tiba tante berbisik di telingaku, aku tidak mengira akan mendengar hal seperti itu dan…

Tante memelukku kemudian di daratkannya bibir indahnya ke bibirku, lidahnya mula memaksa masuk ke dalam mulutku. Aku yang sudah panas sejak tadi juga tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Kubuka mulutku dan kami berciuman layaknya sepasang kekasih yang hasu akan belaian.

Kupeluk tante dengan erat, dan kukulum bibir tante dengan penuh nafsu. Walaupun bayangan Rahman hinggap dalam pikiranku tapi tubuhku tak bisa berhenti untuk menolak semua ini.

Kang Rahman sahabtku, maafkan aku bathinku

Ciuman tante kemudian turun keleherku aku yang duduk di sofa depan di TV hanya bisa mendesah atas perlakuan tante. Kuarahkan kedua telapak tanganku menuju ke susu tante kuremas dan kuremas, ah tampak besar, posisi tante sekarang adalah berlutut dihadapanku dengan masih menciumi leherku.

Tiba-tiba tante melepaskan kaos yang aku kenakan, poloslah dadaku yang bidang ini. Tane menjilati ke dua pentil di dadaku dengan penuh nafsu secara bergantian. Jilatannya kemudian berpindah ditengah-tengah dada turun-turun dan kemudian tepat dipusarku tante mencoba melepaskan celanaku dengan kedua tangannya.

Dengan sedikit bantuanku akhirnya lepaslah celana dan celana dalamku. Toeeeeeeeeeng mangsa baru ya kakak, yaelah STW lagi, gak ada yang perawan kakak ucap dedek arya, diem lo! Tinggal nikmati saja mungkin itu pertengkaran yang akan terjadi antara aku dan dedek arya.

Kenapa tante? ucapku dengan nafas yang tidak beraturan karena panas tubu ini

Besar sekali sayang bahkan lebih besar dari punya om…mmmm….. ucap Ibu Rahman yang kemudian mengulum dedek arya. Menyedotnya dengan sangat kuat bahkan jika dibandingkan dengan Ibu, Ibu masih kalah jauh mungkin karena Ibu Rahman sudah sering melakukannya dengan om.

Kuluman dan jilatan tante sangat terasa di kemaluanku, membuat aku belingsatan. Tante kemudian memaju mundurkan kepalanya, darahku yang semakin panas membuat aku tidak tahan dengan kondisi ini. kupegang kepala Ibu Rahman ini dengan kedua tanganku dan ku maju mundurkan dengan sedikit kasar. Tak ada perlawanan sama sekali dari Ibu Rahman, dia terus mengikuti gerakan tanganku.

Terus dan terus membuatku semakin belingsatan dan tak karuan. Ku tarik kepala Ibu Rahman dan kemudian aku ciumi dan aku lumat dengan penuh nafsu. Dengan sepenuhnya memaksa aku berdirikan Ibu Rahman, aku buka pakaian Ibu Rahman yang berupa dress terusan hingga lutunya ini.

Ku singkap ke atas hingga kepalanya dan terlepaslah, terliha tubuh indah tante dengan balutan BH dan CD tipis G-String.

Langsung aku tubruk tubuh tante hingga tante rebah dilantai yang beralaskan karpet ini. Didepan TV sebagai saksi bisu persetubuhanku dengan Ibu sahabatku sendiri. Ku cuka BH Ibu Rahman tersembulah sebuah Susu indah kencang tapi sedikit kendur, jika dibandingkan dengan Ibu lebih indah Susu Ibu dan lebih besar susu Ibu sedikit.

Kukulum dan kujilati setiap nano meter susu Ibu Rahman ini. Ku jilati memutar pada salah satu susu dan satu tanganku mengelus memutar pada susu yang lain secara bergantian. Dan cruuup kukulum pentil tante yang hitam dan sedikit lebar ini,ku jilati dan kumainkan secara bergantian dari satu susu ke susu lain.

Entah kenapa tak ada perlawanan sama sekali dari tante, tante hanya mampu mendesah dan mendesah. Kujilati semakin ke bawah, kutarik G-string milik tante dan terlepaslah G-Stringnya. Kumasukan jariku kedalam vagina tante.

Ah Ah Ah ya sayang begitu… enakk nikmaaaat aaaaah rintih kenikmatan tante, aku semakin buas dalam keadaan ini hanya sebentar mengocok dengan jari kemudian aku posisikan tubuhku di tengah-tengah selangkanagn Ibu Rahman. Sekejap bayangan Rahman muncul, khentikan aksiku.

Kenapa sayang, tante sudah siap…. ucap Tante kepadaku

Tidak tante ini salah, Tante adalah Ibu Rahman, sahabatku…

Aku takut jika dia bangun…. ucapku penuh ketakutan dan memundurkan tubuhku hingga duduk bersandar pada kaki sofa. Tante kemudian berdiri dan mengakangi tubuhku dan diarahkannya dedek arya ke dalam vaginanya. Dan blesss perlahan… ketika baru masuk setengah ku tahan tubuh tante untuk tidak melanjutkannya.

Kenapa….? mereka tidak akan bangun Arya, mereka tante kasih obat tidur dosisi tinggi, sekalipun kita berteriak mereka tidak akan bangun ucap tante sembari melepaskan tanganku yang menahannya, aku hanya bisa diam dan melihat vagian Ibu Rahman menelan dedek arya hingga tak terlihat.

Kurasakan sedikit longgar vagina Ibu Rahman, dan becek tak seperti vagina Ibuku yang sempit dan kesat. Aku jadi kangen dengan Ibu.

Aaaaaaaaaaahhh…. besar sekali…. penuh memek tanteeeeeeee

Kontolmu menyentuh rahiiiim…. tannn…. teh…. uhhhh teriak kenikmatan tante, aku masih diam dan tidak percaya dengan apa yang baru aku lihat. Tante mulai menggoyang perlahan dan perlahan kulihat susu tante yang sedikit kendor itu mulai berayun ke atas dan ke bawah.

Panasnya tubuh ini menghilangka rasa bersalahku terhadap rahman. Ku remas susu tante dengan sedikit kasar dan kemudian kukulumi satu persatu selama tante menggoyang tubuhnya.

Seperti itu sayang…. uftttt… remas yang ku…. hat…

Kon… tol kamyuh…. bes…sarhhh dan nikmathhhh… uftttt….. rintih tante

Slurp slurp… mmm…. mmmm ucapku sembari mengulumi susu Ibu Rahman

Semakin cepat Ibu Rahman menggoyang semakin aku bernafsu, sedikit aku goyangkan pinggulku keatas walau aku kesulitan. Dan ekspresi tante semakin menggila.

Aiiiiih auuuuuuuhh… kontol kontol… kontol kamu nikmaaaaaatttttt racaunya

Tante sampai… tante mau sampai… aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa teriaknya, diikuti ambruk tubuhnya ke arahku yang kemudian memelukku kepalaku erat tepat di susunya.

Kamu hebat hah hah hah sayangku ucapnya

Tante… maaf…. ucapku

Apa? Kenapa minta maaf ucapnya kepadaku

aaaaaa….. dilanjutkan teriakan kecil karena kaget tubuhnya aku angkat dan aku baringkan di karpet lantai lagi.

Rahman, aku minta maaf tapi tampaknya Ibumu butuh kepuasan kawan ucapku sambil mengarahkan pandanganku ke kamar Rahman

Nakal hash hash hash hash kamu ya, Ibu teman kamu, kamu setubuhi ucapnya kepadaku

Mau lanjut atau tidak tante? ucapku tanpa menghiraukan ledekkannya, dijawab dengan anggukan oleh Ibu Rahman.

Perlahan aku mulai menggoyang pinggulku, pelan-pelan dan semakin cepat cepat dan cepat. Membuat Ibu Rahman tampak belingsatan dan tak karuan.

Aiiish aissssshssshshshs… ouwhhh…. pelan… pelan….

Kontolmu ter…. la…. lu bes…sarhhh rintih Ibu Rahman

Tapi suka kan….? ucapku

eeeh eeeh eeeh iya ahhh… lebih kerassssh sayang…. ucap tante, Ku goyang semakin keras tampak bergoyang susu Ibu Rahman seakan-akan terkena gempa. Kupegang erat susu Ibu Rahman dan kuremas, kadang aku bungkukukan tubuhku untu kmenjilati susunya.

Semakin keras aku menggoyang semakin kurasakan sensitifitas pada dedek arya. Kupindahkan kedua tanganku ke pinggang Ibu Rahman dan kugoyang semakin keras.

Ah terlalu longgar vagina Ibu Rahman, aku kangen dengan vagina Ibu… Ibu… bathinku yang teringat akan Ibu

Tante mau sampai sayangh… lebih kerashhh… uftth…. racau Ibu Rahman

aku juga tantehhhh… ahhhhh racauku

Tante keluaaaaaaaaaaaaarrrrrr…… teriak tante

Croot Croot Croot Croot Croot Croot Croot Croot

Keluarlah spermaku ke dalam vagina Ibu Rahman, kurebahkan tubuhku ke tubuh Ibu Rahman ini. kuciumi dan ku jilati setiap bagian wajahnya.

mmmm…. terima kasih arya…. tante merasa sangat puas…. ucapnya

iya tante… arya juga…. ucapku, kemudian kami saling berciuman dan saling mengulum bibir. Kemudian aku bangkit dan bersandar pada kaki sofa diikuti tante yang kemudian bangkit dan merebahkan kepalanya di dadaku. Terlepaslah dedek arya yang masih sangat tegang.

Masih mau nambah lagi? ucap tante, sambil mengelus-elus dedek arya yang masih lengket dengan cairan kenikmatan kami berdua yang bercampur menjadi satu, kujawab dengan senyuman dan anggukan

Kamu hebat, selama ini tante belum pernah merasakan puncak

Hanya dengan kamu dan untuk kedua kalinya hash hash hash ucap tante dengan nafas tersengal-sengal

Tante… kenapa tante memilihku? tanyaku tiba-tiba

Karena kamu mirip dengan pacar tante, pacar pertama tante yang pertama kali mengambil perawan tante dan memberikan puncak kenikmatan kepada tante

Bahkan selama ini tante selalu merindukannya ucapnya kepadaku

Tante minta maaf jika tante melampiaskannya kepadamu, sahabat anakku sendiri

Bagaimana bisa tante melakukan ini semua? tanyaku

Tante memberi obat tidur pada Rahman dan om, sedangkan pada minumanmu tante beri obat perangsang

Jujur sayang, sejak pertama kali kamu main kerumah ini, tante seakan-akan kembali ke masa muda tante dimana tante melihat jatidiri pacar tante di dalam dirimu, yang selalu mengayomi, melindungi dan menyayangi

Maafkan tante…. hiks hiks hiks…. ucap Ibu Rahman yang kemudian terisak-isak menangis di dadaku yang kemdudian memeluku erat.

Jangan menangis tante ucapku sembari mengakat kepalanya dan kudaratkan ciuman mesra ke bibirnya.

Arya tahu tante rindu sama kekasih tante, tapi apa tidak kasihan om dan Rahman? tanyaku

Tante sudah tidak peduli dengan Om kamu itu, benar-benar tidak peduli, dia hanya memntingkan dirinya sendiri, memerangkap tante di dalam rumah ini melarang tante keluar rumah hiks hiks hiks hiks ucapnya disertai isak tangis

Sudah tante tidak usah menangis, selama obat tidurnya masih bekerja Arya siap jadi kekasih tante jawabku menenangkan Ibu Rahman, jujur saja aku tak tega melihat wanita menangis dihadapanku walau hatiku berteriak untu kmenghentikan semua ini. Ku peluk kepala tante didadaku, ku elus dan kuciumi ubun-ubunya. Ibu Rahman membalasnya denga pelukan erat pada tubuhku.

Kontol kamu belum tidur sayang, mau nambah lagi? ucapya disertai linangan air mata, kujawab dengan senyuman dan anggukan

Tante bersihin dulu ya, biar kamu makin nikmat ucapnya sembari tangaku menghapus air matanya

Tante kemudian berdiri dan mengabil tisu yang dibasahi oleh air dan dilapkannya ke vaginanya. Kulihat tubuh seksi tante membuat dedek arya selalu ON. Inginku segera menghentikan ini tapi tubuh ini selalu menjawab ajakan Ibu Rahman dengan jawaban iya.

Setelah membersihkan vagiananya Ibu Rahman mengambil dua gelas air putih. Aku kemudian bangkit dan duduk di sofa, diberikannya kepadaku satu gelas. Kuminum, aaaaaaaaaahhh segarnya…..Terasa elusan hangat dari tangan tante mengelus-elus pipiku.

Kamu benar-benar hampir mirip dengan pacar tante hanya saja, kamu lebih tinggi darinya ucapnya sembari menyambut gelas yang aku berikan kepadanya, kemudian Ibu Rahman beranjak ke dapur untuk mengambil air putih kembali

Nambah? ucapnya, ku jawab dengan anggukan

Dulu tante pernah sekolah di daerah ini sewaktu masih muda hanya saja, ada sebuah kejadian yang membuat tante malu dan merasa bersalah, hingga akhirnya tante dinikahkan dengan om kamu diawaktu masih sangat muda itu, dan dibawa pergi dari daerah ini bersama om-kamu itu

Kejadian apa tante? tanyaku ketika tante masih berjalan menuju dapur, di dapur tante bersandar pada meja dapur modern yang disampingnya terdapat tempat air minum (jujur saja penulis agak sedikit bingung dengan nama meja dapur modern ini).

Bersambung