Cinta Yang Liar Part 5

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48Part 49Part 50
Part 51Part 52Part 53Part 54Part 55
Part 56Part 57Part 58Part 59Part 60
Part 61Part 62Part 63Part 64Part 65
Part 66Part 67Part 68Part 69Part 70
Part 71Part 72Part 73Part 74Part 75
Part 76Part 77Part 78Part 79Part 80
Part 81Part 82Part 83Part 84Part 85
Part 86Part 87Part 88Part 89Part 90
Part 91Part 92Part 93Part 94Part 95
Part 96Part 97Part 98

Sampailah di rumah, aku dipapah olehnya ke dalam rumah. Aku disambut dengan teriakan amarah Ayahku karena terlalu malam bermain. Tiba-tiba tubuh ini menjadi lemas dan tak berdaya, aku terjatuh ke arah Ayahku. Tas yang kubawapun terjatuh dan terjatuh pula celana dalam. Ayahku yang melihat isi tas yang keluar, tertegun dan terkejut apa lagi bau amis yang menyengat menusuk hidungnya.

Dengan sisa tenagaku, aku bersujud dihadapannya dan aku memohon ampun kepada Ayahku yang berdiri di hadapanku. Ku ceritakan semua hal yang terjadi, dan Mas Mahesa hanya terdiam dan tertunduk. Seketika itu pula, tangan ayah diangkat ….

“Teishi! Sore wa anata no seide wa arimasen, anata ga hirateuchi baai, watashi wa anata no menomaede jisatsu o shimasu! (Hentikan! itu bukan kesalahan anakmu dan jika kamu menamparnya aku akan bunuh diri di hadapanmu!)” teriak Ibuku dari belakang Ayahku sambil menahan tangan Ayahku.

Terkadang Ibu menggunakan bahasa jepang dalam percakapannya walaupun beliau sangat mahir dalam bahasa Indonesia ataupun jawa.

Ayahku yang mendengar teriakan Ibu kemudian terhenti, dan kemudian mengarahkan amarahnya ke Mas Mahesa. Dan menuntut Mahesa untuk mengawiniku secepatnya.

Mengawiniku? Itukan yang di inginkan lelaki ini? Kemudian Mas Mahesa menjelaskan semuanya, dia mengakui kesalahannya karena pengaruh minuman beralkohol yang diberikan oleh penjaga losmen.

Tiba-tiba dari belakang Ayah muncul sebuah tinju mengarah ke arah Mas Mahesa, cepat dan keras membuatnya tersungkur. Ya Mas Andi, langsung melompat dan menindih tubuh Mas Mahesa dan didaratkan puluhan pukulan ke arah wajahnya. Ayah kemudian menarik tubuh Mas Andi, Mas Mahesa diam saja kemudian berdiri dan menunduk disertai senyuman kemenangan tersungging di bibirnya.

Semua telah terjadi dan semuanya tidak dapat dikembalikan. Aku disini di dalam kamarku, di tenangkan oleh Ibu, Mas Andi dan Ratna. Ayah, Ayah juga berada disampingku meminta maaf kepadaku karena telah memaksaku untuk kencan dengan Mas Mahesa.

Mas Andi yang menyesal karena tidak berada di tempat kejadian itu pun meminta maaf kepadaku. Aku menagis, dan terus menangis hingga akhirnya aku terlelap dalam pelukan Ibuku. Ku rasakan Ratna memeluku dari belakang mencoba menenangkan aku.

Aku ingin mati, aku ingin mati, Aku ingin mati, itulah kata-kata yang terngiang di telingaku. Aku tidak berangkat sekolah selama 3 hari dan membuat semua teman-temanku khawatir, hingga akhirnya mereka tahu kejadian yang menimpaku.

Aku mengira mereka akan mencemoohku, mencaciku tapi yang kudapat dari mereka adalah kasih sayang dan permintaan maaf karena tidak bisa menjagaku. Aku dipaksa oleh Ibu untuk berangkat sekolah tapi aku tetap bersikeukeuh untuk tidak berangkat.

Hingga pada minggu berikutnya, pada senin pagi seharusnya pada kisaran tanggal ini aku mendapatkan menstruasi tapi tak kudapatkan. Aku takut jika aku hamil, aku meminta Ibuku untuk membelikan test pack.

Setelah kudapatkan aku cek “2 strip”, aku jatuh pingsan. Ketika aku sadar yang bisa aku lakukan adalah menangis dan menangis. Seketika itu pula aku ambil pisau dan langsung di halangi oleh kakakku. Keluargaku mencoba menenangkan aku, aku pun hanya meringkuk dalam pelukan Ibuku.

Hampir satu minggu aku tidak masuk. Pada hari Senin, tepat pukul 15.00 semua teman-temanku datang menjengukku. Menanyakan kabar dan membujukku untuk sekolah kembali. Kemudian dengan penuh llinangan air mata, aku menceritakan bahwa aku hamil. Semua teman-temanku terkejut, dan …

“Berarti kita mau punya keponakan, Kamu harus menjaganya untuk kami, kami juga akan menjaganya” ucap seorang teman pria-ku mencoba menenangkan aku dan menyemangatiku dan dijawab dengan anggukan semua teman-teman yang lain.

“Diyah, kamu adalah wanita penyeimbang dalam persahabatan kita eh salah dalam kekeluargaan kelas kita, jadi anakmu adalah bintang untuk kita semua” ucap salah satu teman perempuanku, dibarengi dengan pelukan-pelukan kasih sayang dari teman-teman perempuanku

“Aku boleh ikut gak?” tanya seorang teman pria-ku

“Anata wa, onaji hahaoya o ukeireru kudasai (kamu pelukan sama Ibu saja)” celetuk Ibuku

“wah bu aku ki gak mudeng boso jepang je (wah bu aku itu tidak paham bahasa jepang)” jawab temaku membuat kegaduhan diruang kamarku. Dari semua teman-temanku tak kulihat Karima bersama mereka.

Ketika aku tanyakan tentang Karima kepada teman-temanku. Dia menghilang sejak aku mulai tidak berangkat sekolah, di rumahnya pun tidak ada. Kemana Kau Karima? Sahabatku?

Selama masa kehamilanku dengan perut yang belum begitu buncit aku berangkat sekolah. Di sekolah semua teman-temanku menjagaku layaknya seorang Ratu dan jika ada yang menggunjingku dari kelas lain langsung ditebas oleh teman-teman pria-ku. Ya teman-temanku khususnya yang pria adalah atlet beladiri dengan tingkat tertinggi jadi tidak ada yang berani dengan mereka.

Genap 2 bulan kehamilanku, akhirnya aku menikah dengan Mas Mahesa. Setelah menjadi suamiku, Mas Mahesa berperilaku layaknya seorang laki-laki yang bertanggung jawab. Teman-temanku? Mereka masih tetap merawatku.

Dengan kedudukan Ayahku pada masa kehamilan dengan perut yang membesar aku tetap bisa bersekolah tetapi dirumah, dimana guru-ku datang kerumahku untuk memberikan pelajaran-pelajaran di sekolah.

Tepat 9 bulan 10 hari, dan umurku 17 kurang sedikit sekali bayi laki-laki kecil dan manis dengan kulit yang putih bersih lahir. Aku bersyukur karena dia menuruni neneknya yang asli orang jepang. Dan Kuberi Nama Arya Ksatria, tetapi Suamiku menolaknya dan mengganti namanya menjadi ARYA MAHESA WICAKSANA.

Kadang kebencian terhadap anak ini muncul, ingin rasanya aku membuangnya tapi setiap kali aku melihatnya aku bertambah sayang kepada anakku ini. Setiap kali akan tidur selalu kudongengkan dongeng ksatria-ksatria yang selalu melindungi yang lemah. Agar kelak dia menjadi pelindungku dan yang selalu menyayangiku.

Aku lulus dari SMA ketika aku berumur 18 tahun, dengan nilai yang bagus pula. Dengan seijin Ayahku aku melanjutkan kuliah tapi dengan catatan aku tinggal dirumah sendiri karena aku sudah berkeluarga. Aku tinggal dirumah yang lumayan jauh dari Ayahku sekitar 90 menit perjalanan.

Ibuku setiap pagi kerumahku untuk mengasuh Arya. Selama itu pula Mas Mahesa tidak memperlihatkan perlakuan buruk kepadaku. Dengan Aku jadi Istrinya, sekarang Mas Mahesa menjadi kepala di sebuah Dinas pemerintahan yang ada di daerahku.

Sekarang umurku 20 tahun, anakku Arya sudah 3 tahun. Sebuah kejadian terjadi ketika Arya dibawa oleh Ibuku kerumahnya dan ketika itu aku pulang kuliah lebih awal karena Dosen tidak hadir ada Rapat Universitas.

Pulang dengan rasa lelah, aku masuk ke rumah. Ketika aku berada di dalam ruang tamu, kudengar desahan-desahan orang sedang bersetubuh. Di Ruang keluarga kudapati Mas Mahesa melakukan hubungan dengan teman kuliahku, Devi.

Seketika itu aku menangis, memarahi mereka berdua, membentak mereka. Devi tampak tertunduk tapi Mas Mahesa Bukannya merasa bersalah malah dia menyeretku kedalam kamar. Di maki-makinya aku, yang tidak bisa memuaskan suamilah, tidak patuh pada suamilah.

Dia mengancamku jika aku mengadu pada Ayahnya, Arya akan dibunuh dihadapan mataku. Aku kaget setengah mati mendengar perkataanya, begitu tega ia terhadap anak sendiri.

Semenjak kejadian itu aku menjadi pendiam, bukan wanita riang yang selalu mengibur teman-teman kuliah ataupun teman-teman SMA-ku yang sering menjenguk Arya. Akupun tak berani jika harus mengatakan kejadian ini kepada orang tuaku.

Aku terus meratapi nasibku, setiap tangisan yang keluar dari air mataku selalu hilang oleh senyuman anakku. Demi anakku aku terus berjuang dalam ketakutan yang diberikan Mas Mahesa.

Semenjak kejadian itu pula, Mas Mahesa lebih jarang pulang kerumah sekalipun pulang kerumah hanya tidur dan santai, minta dilayani. Tak pernah aku merasakan kasih sayang dari suamiku ini. Tiap kali pulang pun jarang sekali Mas Mahesa menyentuh tubuhku.

Mungkin tubuhku kurang bagus, berbagai macam cara aku lakukan untuk merawat tubuhku dari minum jamu, vitamin dan lain sebagainya. Ibuku yang tak pernah tahu semua permasalahanku turut mendukungku.

Sebenarnya Ibu menyarankan aku untuk memakai kebaya agar terlihat sepertinya dan katanya suami pasti akan menyukainya. Tapi aku menolaknya, karena pada saat itu umurku masih muda dan Ibu memakluminya. Akupun tetap bertahan dengan mode pakaian yang sopan pada saat itu dan lebih suka memakai rok pendek selutut.

Dengan segala usahaku tetap saja tak mempan untuk Mas Mahesa, untuk melihat tubuhku saja dia tidak mau sama sekali. Kurang apa aku ini sebenarnya, banyak dari teman laki-laki di kampus mendekatiku katanya aku yang cantik, kelihatan semok, kelihatan montok inilah itulah.

Padahal setiap kali aku berangkat kuliah aku selalu mengenakan pakaian yang sopan, dan longgar. Setiap kali pedih mendera ingin rasanya aku bercerita kepada sahaatku Karima, tapi sekarang entah dimana dia.

Semangatku hanya Arya, dia satu-satunya yang aku punya. Aku lulus kuliah, dan kemudian melanjutkan S2 dan lulus 2 tahun kemudian tepat ketika aku berumur 24 tahun. Berbagai macam godaan aku lewati dari digoda dosenku, teman mahasiswaku semua bisa aku acuhkan.

Arya kini berumur 7 tahun dia kusediakan kamar sendiri agar dia tidak pernah tahu kekerasan-kekerasan yang sering dilakukan Ayahnya kepadaku. Diaselalu senang ketika aku bacakan cerita tentang kepahlawanan. Selalu aku ceritakan tentang pahlawan-pahlawan dari nusantara ini yang selalu melindungi yang lemah terutama perempuan.

“Ibu kalau aku besar nanti, aku ingin sekali jadi seorang pahlawan terutama buat Ibu, aku akan selalu meindungi Ibu dan menyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaayangi Ibu” begitu katanya ketika selesai aku bacakan cerita.

Kehidupanku terus berlanjut dengan berbagai macam cacian dan hinaan dari suamiku. Sebenarnya apa masalah suamiku terhadap diriku sehingga dia begitu membenciku. Aku mencoba bertahan hanya demi Arya. Kulihat Arya semakin besar dan terus kusembunyikan semua kesedihan hatiku dihadapannya.

Hanya dia yang paling perhatian terhadap diriku, paling sayang terhadap diriku. Inilah yang membuat aku bertahan dan membuang semua pikiran untuk berpisah dengan suamiku. Kadang aku berpikir untuk selingkuh tapi ketika melihat Arya semua keinginanku sirna. Karena semakin dia bertambah besar semakin dia sangat perhatian dan bertambah rasa sayangnya kepadaku.

Tanpa terasa waktu berjalan begitu cepat, kini Arya sudah kelas 2 SMP. Kamarnya pun pindah ke lantai 2, karena dia ingin tempat yang lebih tinggi agar bisa melihat pemandangan diluar jendelanya. Dia sangat rajin mengikuti ekstra bela diri di sekolahnya. Ingin melindungi Ibu, katanya waktu pertama kali ikut ekstra beladiri ini.

Aku hanya tersenyum bangga dengan anakku. Dia tumbuh menjadi laki-laki yang gagah, tinggi bahkan ketika itu dia sudah memiliki tinggi diatasku. Mas Mahesa? Ah aku tidak pernah tahu apa yang dikerjakan olehnya, jarang sekali aku ngobrol dengannya. Dalam satu minggu dia hanya pulang sekali atau duakali. Bahkan pernah 2 minggu sekali baru pulang.

Ada sebuah kejadian dimana ketika Arya kelas 2 SMP, dia pulang sekolah dengan wajah babak belur tapi tetap tersenyum. Aku marahi dia, dia hanya tetunduk kulihat dia mulai menangis. Kupeluk dia dan kukecup keningnya.

“Maafkan Ibu ya nak” ucapku

“Arya yang minta maaf, karena Arya sok jagoan, Arya Cuma pengen melindungi perempuan seperti kata Ibu hiks ” ucapnya diselingi isak tangis

“Memangnya kamu tadi habis ngapain?” tanyaku sambil terus memeluknya

“Tadi ada mbak yang di goda sama mas-masnya jumlahnya 3 orang, terus Arya dateng dan Arya pukul mereka semua”

“Arya jatuh hampir kalah, karena jumlah mereka banyak, terus Arya lihat ada kayu panjang disebelah Arya, Arya gunakan untuk menghajar mereka”

“Kepala mereka ada yang bocor kemudian mereka kabur” jelasnya

“Anak Ibu hebat, maafin Ibu ya nak” jawabku sambil memeluknya.

Bangga memiliki anak yang tangguh dan hebat seperti Arya ditambah lagi dia sangat sayang kepadaku. Setiap kali aku merasa lelah dengan semua permasalahan hidupku, Arya selalu datang menghiburku.

Dia anak yang rajin, sering sekali pekerjaan rumah dia yang membereskan. Ketika aku merasa lelah, dia yang selalu memijitku kemudian membasuh kakiku dengan air hangat, senang sekali rasanya. Mas Mahesa? Sudah dibilang aku tidak mau tahu urusan dia!

Ketika Arya masuk SMA, kelas 1 SMA, dia sudah memiliki tinggi yang jauh dari aku. Arya menjadi anak yang lebih gagah entah berapa tingginya. Dia juga sudah menjadi ahli bela diri dan sampai sekarangpun masih melanjutkan. Pada hari itu, sabtu malam minggu, Mas Mahesa mengajak teman-temannya untuk pesta dirumah. Kusediakan semua yang dibutuhkan.

Mereka berpesta di pekarangan belakang rumah. Dari pukul 19.00 hingga tengah malam acara masih tetap berlangsung. Karena merasa lelah aku pun ijin kepada Mas Mahesa untuk tidur terlebih dahulu.

Para tetangga mungkin terganggu dengan aktivitas mereka tapi tetanggaku tak ada yang berani menegurnya. Aku mulai terlelap dalam tidurku. Masih dalam keadaan setengah sadar aku rasakan ada tangan yang mengelus-elus tubuhku.

“Kang Mas?” panggilku lirih sembari mebuka mataku aku kaget, karena ternyata bukan Mas Mahesa melainkan temannya. Dia langsung membungkam mulutku dengan tangan kanannya.

“Ssssst…. aku bukan mahesa, tenang kita nikmati malam ini dik Diah, Mas mu itu sudah teler, dari dulu akupengen menikmati tubuhmu he he he” jawabnya dengan wajah menakutkan. Dengan cepat dia menindihku membuka bajuku dan terpampanglah payudara yang masih berbalut BH.

“Wah wah wah… BH kamu kekecilan Diah sayang, gak usah pakai BH saja” ucapnya dengan tangan kananku masih membungkam mulutku. Ketika dia mencoba menarik kebawah BH-ku, ku gigit tangan kanannya.

“TOLOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOONG!” teriakku

“AAAAAAAAAAA dasar wanita jalang!” teriaknya dan plak sebuah tamparan mendarat di pipiku. Aku kembali rebah di tempat tidurku, dan dijambaknya rambutku.

“MAU MAIN KASAR YA! OKE AKU BERIKAN! HA HA HA HA” bentaknya diiringi tawa kesetanan

BRAAAAAK….. pintu kamarku terbuka

BUGH BUGH BUGH…. DAGH …. BUGH BUGH BUGH BUGH BUGH

Beberapa pukulan didaratkan kewajah laki-laki itu, dan ditariknya laki-laki itu hingga rebah di lantai. Di tindihnya laki-laki itu dan dihujami puluhan pukulan. Ya Arya datang menolongku, segera kurapikan kembali bajuku.

“AMPUUUN TOLONG TOLONG AMPUN” teriak laki-laki itu, tampak darah mengalir dari dahi, hidung, pelipisnya, dan juga dari mulutnya.

“HENTIKAN ARYA” teriak Mas Mahesa, Arya kemudian bangkit ditariknya tangan kiriku, sehingga sekarang posisiku berada tepat dibelakangnya. Kulihat laki-laki itu bangkit sambil memegangi kepalanya.

“Dia mencoba memperkosa Ibu, Romo” jelas Arya, suaranya begitu datar, karena memang dia tidak pernah berbicara kasar kepada Mas Mahesa.

“Halah Cuma Ibumu saja kamu kok repot-repot sampai kebawah,paling Ibumu mengigau” Ucap Mas Mahesa

“Dia itu mencoba memperkosaku mas dan Arya datang menolongku hiks” jelasku disertai isak tangis

“Ya aku melihat sendiri Romo” jelas Arya

“Sudah-sudah, dasar anak kurang ajar, malam begini bukannya tidur malah bikin masalah” ucap Mas Mahesa yang bukannya menyalahkan temannya tapi malah memaki anaknya sendiri.

Mereka pun berjalan keluar menuju ke pekarangan belakang rumah. Aku dibimbing Arya menuju kamarnya.

“Ibu tidur kamar Arya saja, biar Arya tidur di belakang pintu kamar Arya” ucapnya, aku hanya mengangguk.

Tak ada pertanyaan dari Arya mengenai semua hal yang terjadi, tentang Ayahnya dan juga tentang permasalahan keluarga ini. Arya kemudian duduk membelakangiku, menghadap pintu kamarnya dengan sebilah belati, Kunci Inggris, disampingnya besi panjang.

“Nak, tidurlah bersama Ibu” pintaku

“Ibu tidur saja, jika ada yang masuk kemari, aku pasti akan membunuh mereka semua, Aku akan melindungi Ibu sekalipun nyawa taruhannya” katanya tegas, tak ada pembicaraan lebih lanjut antara Arya dan Aku. Akupun mulai terlelap dalam lelahku, sambil memandangi punggung Arya.

Pagi hari setelah kejadian itu, Arya tidak pernah mengungkit-ungkitnya lagi. Dia menjadi lebih sering di rumah ketimbang keluar bersama teman-temannya. Menjagaku katanya. Mas Mahesa? Dia menghilang lebih dari 2 minggu setelah kejadian itu hingga akhirnya pulang dengan wajah datar tanpa rasa bersalah.

Arya masih menghormatinya sebagai seorang Ayah, setiap kali berangkat sekolah selalu mencium tangan Ayahnya, tak terlihat kebencian di raut wajah Arya ketika memandang Ayahnya. Kehidupan Ranjangku? Hambar… bahkan setelah kejadian itu Mas Mahesa lebih jarang lagi menyentuhku. Kasih sayang seorang laki-laki tak pernah aku dapatkan darinya.

Tepat ketika Arya mulai kuliah, Aku mencoba memakai pakaian berbeda, aku mengikuti Ibuku untu kmemakai kebaya. Mencoba untu klebih bisa menggoda suamiku, ya walau hasilnya nihil. Semenjak Arya kuliah, sikap Mas Mahesa sedikit melunak.

Walaupun pernah aku memergokinya sedang bersetubuh dengan seorang wanita yang tak tahu siapa dia. Ketika itu aku meminta Arya untuk mengantarkan aku ke rumah Ayahku, karena lama aku tak pernah berjumpa dengannya.

Ditengah perjalanan kurang lebih satu jam perjalanan, aku sadar kalau dompetku tertinggal dirumah, sehingga aku harus kembali kerumah. Dengan santai aku masuk kerumah, ketika sampai pada ruang tamu aku mendengar ocehan-ocehan orang bersetubuh di kamar tamu depan bekas kamar Arya.

Aku mengintipnya dan memang benar Mas Mahesa sedang melakukannya dengan wanita lain. Aku hanya diam dan mulai menangis, kuusap air mataku dan keluar meminta Arya agar secepatnya mengantarku ke rumah Ayahku. Tak kuceritakan apapun kepada Arya sekalipun dia menanyakan mataku yang seperti orang habis menangis.

Tak pernah ada yang tahu bahwa aku adalah wanita yang jarang dibelai oleh suamiku. Perjalanan hidupku terus berlanjut, Arya yang semakin dewasa semakin bertambah perhatiannya kepadaku. Semakin lama aku melihat Arya semakin aku melihat seorang laki-laki yang selama ini aku harapkan.

Aku hanyut dalam kasih sayangnya, hanyut dalam rasa sayangnya kepadaku. Hingga akhirnya aku jatuh dalam pelukannya, hal yang seharusnya tidak boleh terjadi. Aku jatuh dan terjebak dalam cinta anakku sendiri.
(Cerita Diyah Ayu pitaloka Selesai)

Setelah aku mendengar semua cerita tentang Ibuku, kukecup pipinya. Dengan senyumannya Ibu memelukku. Dibalasnya kecupanku di keningku. Tampak butir-butir air mata jatuh kepipinya.

“Bu…..”

“Apakah Ibu menyesal melakukan ini semua dengan Arya?” tanyaku kepada Ibu

“Tidak nak, kalau Arya?”ucap Ibuku sedikit parau

“Arya tidak menyesal bu, Arya senang akhirnya Ibu menemukan kebahagiaan, bersama Arya” jelasku yang kemudian mengecup bibir Ibu.

“Terima kasih nak, mulai tadi malam, Ibu akan turuti semua permintaan Arya” jawab Ibu yang kemudian membalas kecupanku. Dan Akhirnya kami berciuman. Tangan kiriku meraba bagian susunya dan turun hingga kebawah. Aku singkapkan jarit yang dipakai Ibu, kemudian tanganku mulaimengelus-elus vagina Ibuku.

Ciuman aku turunkan dari bibir Ibu turun keleher, dan kemudian kebelahan susu Ibu bagian atas, aku jilat dan kecupi. Kuposisikan simpuhku tepat ditengah-tengah Ibu kemudian aku renggangkan kaki ibu dan ku angkat sedikit pinggangnya. Indah sekali vagina Ibu, langsung aku merundukan kepalaku dan mulai menjilatinya.

“Aaaahhh…. nak jangan, itu jorok nak…. aaahhh….” kata Ibuku kepadaku

“Slrup slrup slrup….. Ibu tidak suka?” akupun menghentikannya

“Itu jorok Ibu tidak ingin kamu kotor nak” terang Ibuku

“Dinikmati saja bu, Arya pengen ibu seneng, Pokoknya Ibu harus senang dan nyaman ketika sama Arya”

“Semalam Arya ingin mainin tempik Ibu kaya difilm tapi kelupaan he he he” akupun melanjutkan jilatanku

“Terse….rah…..ka….mu uhhhffftttt…… en….nak…..terus itu buat kamu…..” rintih nikamt Ibuku sesaat setelah aku melanjutkan jilatanku

Aku menjilati vagina Ibuku seperti halnya menjilati es krim, kusapu vagina Ibu dari bagian bawah ke atas dengan lidahku. Terus aku lakukan seperti itu. Jilat jilat dan jilat. Kemudian jilatanku aku hentikan tepat pada bagian atas vagina Ibuku, tepat di klitoris Ibuku.

“Aduh! Itu Itil ibu……. itil Ibu huffffftttt…. mbok apake nang? (kamu apakan nak?) Aiiiiiihh uft uft…..”

“Aduh… enak nak…. itil krasa (terasa) enak….ah ah ah itile (klitoris) kamu apakan aaaaa…..”
“Ussssttttt ah ah ah ah jilati terus itil Ibumu enak…..” racaunya

Dengan sedikit variasi seperti yang aku tonton dari film porno, aku masukan jari tengahku. Kini aku masukan jari tengahku ke liang senggamanya dan aku kocok.

“Aaaaaaaaahhhh….. enak nak….. enaaaaaaaaak terus terus…..” racau Ibuku

Sebenarnya aku kurang begitu tahu mengenai permainan ini, ku kocok terus jariku di liang senggamanya. Kadang aku menekuk jariku ketika di dalam vagianku dan menyentuh bagian dalam atas vagina Ibuku dan Ibuku mengerang nikmat.

“Ah…. ya nak seperti itu enak…. arya enaaaaaaak….” racaunya

“Beneran enak bu kalo dimasuki jari Arya?ini belum kontol Arya lho bu” jawabku sambil melepas permainan lidahku di itilnya yang kemudian aku lanjutkan lagi permainan itu dengan sedikit kocokan jariku.

“Enaaaak enaaak, jari Arya enak , kontol arya juga enak, semuanya ssssshhhhh…. punya arya enak” racaunya. Kembali aku mempercepat kocokan jariku, tak lupa aku menjilati klitoris Ibuku.

“Terus nak terus, Ibu mau keluar….” racaunya kembali

Aku percepat kocokanku di liang vagina Ibuku. semakin cepat dan semakin cepat. Sambil mengocok kadang aku menyedot-nyedot itil Ibuku.

“Ibu keluaaaaaaaaaaaar….. ah ah ah ah ah” Ibu berteriak nikmat, tubuhnya sedikit melengking ke atas dan seketika itu pula akupun menhentikan kocokannku. Terlihat nafas Ibu tampak tersengal-sengal.

“Nuakal banget kamu le, ora driji ora kontol gawe kelojotan ibu (enggak jari enggak kontol buat kelojotan)” kata Ibuku sambil ngos-ngosan. Kuarahkan jariku kemulutnya dan hap dikulumnya jariku.

“Hah hah hah…huft…….haaaaaaaaaaaaasssssssssssssh” suara ibu ngos-ngosan.

“Mmmmmmmm……kalau Arya pengen masuk, dimasuki saja nak, Ibu juga pengen” lanjut Ibuku sambil melepas kulumannya

“Nanti aja bu setelah Arya mandi he he he” jawabku sambil tersenyum nakal

“Kamu nakal ya, sekarang pokoknya” paksa Ibuku

“Ibuku, kekasihku, harus nurut sama Arya nanti Arya kasih lebih” janjiku

“Beneran lho” kata Ibuku sambil menaruh kepalanya di dadaku dibarengi dengan kecupan mesra di leherku. Tampak Ibu sedang mencoba mengumpulkan tenaganya untuk bisa beraktifitas kembali.

“Kita makan pagi dulu yuk sayang” pintaku

“Iya sayangku cintaku” jawab ibuku.

Ibu kemudian melepaskan pelukannya, kemudian beranjak dari tempat tidur untuk mempersiapkan makan pagi. Disusul aku dari belakang. Ketika berjalan aku peluk Ibuku dan aku tarik dan lepas jaritnya.

“Ih…. nakal banget anak Ibu sekarang” ucap Ibuku manja sambil membalikan tubuh indahnya dan meremas dedek arya

“Arya pengen lihat Ibu telanjang terus hari ini” jawabku nakal. Ibu kemudian berbalik dan mengecup bibirku.

“iya Iya sayaaaaang….” senyum Ibu sambil meninggalkan aku yang masih berdiri di kamar.

Gila?mungkin. aneh? Mungkin. Memang begitulah, dari dulu yang memanggilku sayang tidak pernah ada kecuali Ibuku, pacar saja belum punya. Tapi panggilan sayang kali ini berbeda sangat berbeda, bukan panggilan manja dari Ibu ke anak tapi dari seorang wanita kepada laki-laki.

Kulihat sekeliling kamar tamu ini, teringat akan semua kenangan yang dulu dan baru saja terjadi. Dengan berpinggang tangan kulihat atap kamar ini. Kupejamkan mata ini, mencoba meresapi semua yang telah terjadi dan mengingat cerita Ibu. Tiba-tiba terbesit sebuah pertanyaan dari dalam pikiranku.

“Tali? Ya darimana Ayah dapat tali ketika terjadi pemerkosaan itu. Jika tidak direncanakan seharusnya tidak ada tali ditempat itu. ”

Pikiranku kembali melayang menlusuri kejanggalan-kejanggalan dalam cerita Ibu.

“Jika ayah mabuk, kenapa dia masih bisa menyetir mobil? Kenapa pula dia sangat menginginkan Ibu secepatnya? Kenapa Ayah tidak pernah pulang memberi jatah kepada Ibu?, tapi malah lebih suka dengan wanita lain, benar kata Ibu kurang apa Ibu?”

“terus laki-laki itu, laki-laki yang aku hajar ketika akan memperkosa Ibu, kenapa Ayah menanggapinya dengan datar begitu saja?kenapa pada waktu itu aku tidak mempunyai pemikiran seperti ini? Ayah …. Ya Ayah …. Aku harus lebih tahu lebih banyak, dan akan aku cari tahu tentangnya”

Kulangkahkan kakiku keluar kamar tempat dimana aku akan menemukan kesegaran dari air. Kamar mandi …

Dengan tubuh telanjangku aku melangkah ke kamar mandi, melintasi ruang makan kulihat ibuku sedang menata makan pagi. Aku tersenyum pada ibuku dan dibalasnya dengan senyumanya. Jika dilihat dari atas kebawah, tidak ada yang salah dengan tubuh Ibu, putih bersih apalagi susunya itu lho susunya.

Sekilas aku melihat guratan kebahagiaan dari wajah Ibu, Tak pernah aku lihat Ibuku begitu senang seperti hari ini. Hari-hari sebelumnya selalu dengan wajah tertekan dan tidak bisa lepas dalam berbicara semuanya harus teratur ketika berhadapan dengan Romo. Kulihat jam dinding menunjukan jam 8 pagi. Gila kecapekan mungkin aku.

Di kamar mandi aku berdiri tertegun membayangkan semua kejadian dengan Ibu, dedek Arya mulai bangun. Segera kuambil gayung dan Byur byur byur, tahu tujuanku apa? Untuk menjernihkan kepalaku. Isinya kotoran semua, dan kotoran-kotoran itu yang membuat dedek Arya cepat bangun.

Setelah selesai mandi aku keluar kamar mandi dan ah segarnya sambil menyapu tubuhku dengan handuk. Kulemparkan handukku di kursi ruang keluarga dan menuju meja makan. Aku duduk dan kulihat Ibuku dengan tubuh telanjangnya mengambilkan aku makan. Kami berdua makan dan jelas saja aku tidak bisa berkonsentrasi dengan makanku.

Bu, aku ingin makan disuapi Ibu kataku

hmmm….. manjanyaaaa…. jawab Ibuku dengan senyuman manja

Tidak bisa konsentrasi bu kalau makan lihat Ibu, mending disuapi celotehku manja

Ya sudah, Ibu pakai baju saja ya jawab Ibuku

Jangaaaaaaaaaaaaaaaaaaan …. pokoknya disuapi ya bu pintaku manja

Pagi itu aku berlaku manja kepada Ibuku, ya mungkin ada rasa kangen juga dimanje seperti anak kecil. Hari senin aku lewati dengan baik, hari selasa lelah, dan Hari ini hari rabu aku bolos kuliah karena aku tidak ingin melewatkan momen indah ini.

Bersambung…