Cinta Yang Liar Part 4

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48Part 49Part 50
Part 51Part 52Part 53Part 54Part 55
Part 56Part 57Part 58Part 59Part 60
Part 61Part 62Part 63Part 64Part 65
Part 66Part 67Part 68Part 69Part 70
Part 71Part 72Part 73Part 74Part 75
Part 76Part 77Part 78Part 79Part 80
Part 81Part 82Part 83Part 84Part 85
Part 86Part 87Part 88Part 89Part 90
Part 91Part 92Part 93Part 94Part 95
Part 96Part 97Part 98

Bumi berputar pada porosnya, membuat belahan bumi yang sebelumnya tanpa cahaya matahari kini mulai tersentuh oleh sinarnya. Seharusnya cahhaya itu masuk melalui lubang lubang ventilasi kamar ini, apa daya cahaya matahari. Rumah ini menghadap ke arah utara, sedangkan kamar dimana aku terlelap berada di bagian yang jauh dari terbitnya sang raja siang.

Rumah yang aku tinggali bernuansakan rumah moderen tapi tak meninggalkan suasana adat daerahku, menghadap ke arah utara karena memang sesuai dengan kebiasaan leluhur kami rumah di usahakan untuk tidak menghadap ke arah barat ataupun timur. Supaya tidak kepanasan kata orang tua jaman dahulu.

Rumah ini terdiri dari garasi yang sangat luas, jika membuka pintu gerbang rumah langsung berhadapan dengan halaman garasi dan kemudian garasi rumah. Bagian kanan halaman garasi ada sebuah taman yang lumayan luas dengan jalan setapak menuju pintu masuk rumah.

Ketika masuk kerumah akan didapatkan sebuah ruang tamu berbentuk persegi panjang yang luas membujur dari timur ke barat (kiri ke kanan) dengan meja kursi di bagian kanan kirinya beserta hiasan dinding khas peninggalan leluhur kami dan juga pernak-pernniknya.

Ditengah-tengahnya agak ke selatan sedikit ada sebuah jalan yang lumayan panjang berbentuk lorong. Dikiri lorong ada kamar Romo dan Ibuku yang tergolong luas dan memanjang dari utara ke selatan. Setelah kamar Romo dan Ibu adan sebuah pintu yang menghubungkan rumah ini dengan garasi disamping.

Tepat disebelah pintu ada ruang keluarga untuk menonton TV dibelakang ruang ini ada tangga menuju kamarku yang kemudian disamping tangga ada kamar mandi. Di kanan lorong ada dua bawah kamar tamu, setelahnya dapur moderen yang digabung dengan ruang makan.

Disamping ruang makan tepatnya di depan kamar mandi adalah tempat penyimpanan barang-barang berharga, sebuah ruang dengan banyak almari penyimpanan. Diantara ruang penyimpanan dan kamar mandi terdapat sebuah pintu keluar menuju pekarangan rumah dengan tembok setinggi 5 meter berhiaskan kolam ikan dan taman dengan pohon.

Jemuran? Hanya akan dilihat ketika Ibu mulai menjemur saja, jika tidak maka akan dilipat dan disandarkan di dekat kolam ikan. Kembali pada diriku yang terlelap tidur semalam karena penyatuan tubuh dengan Ibuku.

hmmmm…… hoaaaam…… uftttt…… aku mulai membuka mataku, aku merasa kelopak mata ini memiliki berat 1 ton. Terasa ada sesuatu nikmat yang menjalar dari dedek Arya, kubuka mata perlahan. Kulihat seoranng wanita cantik, berkulit putih dengan jarit yang dibalutkan ditubuhnya hanya menutupi sebagian susunya hingga sebagian pahanya.

Susunya itu lho seakan-akan ditekan dan bagian atasnya seakan-akan mau melompat keluar. Rambutnya digelung kebelakang dengan senyum tergambar di bibirnya. Duduk bersimpuh dekat dengan pinggangku sambil membasuh dedek Arya lembut dengan handuk kecil yang sudah dibasahi sebelumnya.

Beruntungnya dedek Arya ini, sudah mengalami MOREC (Morning Erection) di mandiin pula.

Pagi nak…… sapa ibuku

Aku bangkit dan duduk kemudian aku peluk wanita ini. Kudaratkan ciumanku ke arah ke pipi kirinya dan merambat menuju ke bibirnya. Dan ….

Eits…. Bau…. Mandi dulu gih… Ibuku menghindar bibirnya dari bibirku. Aku yang gagal menciumnya, meletakkan kepalaku dipundak kirinya sambil tangan kiriku mengelus-elus bagian atas susu Ibuku yang ingin melompat.

Tidak apa-apa…paling nanti juga mau jawabku dengan santai. Ibu kemudian menghentikan elusan pada dedek arya.

Pokoknya mandi dulu hardik Ibuku, sambil membetet hidungku.

Tapi aku masih pengen pelukan bu…. jawabku manja dengan suara cempreng akibat hidungku dibetet Ibu.

Apa kamu ndak kuliah nak? tanya Ibu mengingatkan aku.

Pengantin baru kok kuliah to bu bu…. besok saja bu, pengen sama Ibu dulu hari ini jawabku melas agar tetap bisa bersama Ibu.

yo wes rak popo, kanggo dino iki wae lho (ya sudah tidak apa-apa buat hari ini saja lho) perintah ibuku. Ku jawab dengan senyum cengengesan. Aku kemudian bangkit, kulepaskan pelukanku dan kuminta Ibu duduk di ujung tempat tidur. Kini Ibu duduk bersimpuh dan bersandar di ujung ranjang. Aku kemudian merebahkan tubuhku dan kepalaku aku letakkan di susu Ibuku.

Bu besar banget sambil aku mengelus-elus susunya.

Kamu suka? tanya Ibuku

Iya bu… besar dan hmmmm……. jawabku memuji

Hi hi hi… dulu ibu itu pernah beli BH tapi tidak muat, karena Ibumu itu malas akhirnya ya Ibu tidak beli lagi tetap bertahan dengan kutang (BH tradisional) jelas Ibuku.

Oooo… pantes masih bulat dan tidak melorot jawabku

Lho kamu kok tahu kalau kutang bisa membuat payudara tidak melorot? tanya Ibuku heran

He he he cuma tahu saja bu he he he kilahku

Pasti gara si net-net (baca Internet) itu ya? tanya Ibuku melanjutkan

Ya iya bu… lha wong dulu itu ada tugas disuruh nyari pakaian adat daerah, setelah dapat eh ada penjelasannya juga jawabku cengengesan sambil menjilat-jilat permukaan susu Ibuku.

Kamu itu hmmm….. hi hi hi senyum Ibuku nakal
Tiba-tiba aku teringat semua kejadian dari awal, banyak pertanyaan yang muncul di kepalaku ini. Banyak pertanyaan-pertanyaan yang hadir dan harus aku tanyakan kepada Ibu. Mau tidak mau harus aku tanyakan.

Bu….

Ada yang mau Arya tanyakan ucapku

Apa? jawab Ibu

Sebenarnya ada apa to Ibu sama Romo? tanyaku tiba-tiba

Hening sesaat…. kuarahkan tatapanku ke wajah Ibuku. Ah betapa bodohnya aku ini, kenapa aku menanyakan hal ini kepada ibu, benar-benar merusak suasana. Tiba-tiba Ibu menghela nafas yang panjang dan memulai pembicaraan.

Ibu aka cerita kepadamu, tentang semua dari awal… jelas ibu dan aku balas dengan anggukan kecil.

Ibu kemudian memulai cerita dari awal bagaimana Ibu bisa menikah deng Romo. Ibu bercerita mengenai masa mudanya, sahabat-sahabatnya dan juga keluarga besar Ibu yang berdarah ningrat. Dan semua itu dimulai dari ….

(Pada cerita ini, Aku adalah Diyah Ayu Pitaloka, karena cerita dibawah ini adalah cerita masa lalu Diyah Ayu Pitaloka)

Sejuk alam di kaki gunung yang menjulang tinggi di daerahku. Namaku Diyah Ayu Pitaloka, aku anak ke dua dari tiga bersaudara. Aku mempunyai seorang kakak bernama Andi Pitawarno Sucipto, dan seorang adik bernama Ratna Ayu Pitaloka.

Ayahku bernama Warno Sucipto, seorang ningrat dengan darah Jerman mengalir ditubuhnya sedangkan Ibuku adalah orang jepang asli, beliau bernama Asasi Kutone, yang kemudian beralih nama menjadi Ayu Pitaloka.

Semua anak dari Ayah dan Ibuku mempunyai nama Pita karena ini adalah permintaan Ibu yang sebenarnya ditolak oleh Kakekku tapi pada akhirnya kakekku menyetujuinya melihat begitu gigihnya Ayahku memaksa Kakek. Karena memang seharusnya yang tercantum di nama kami adalah nama dari Ayahku bukan Ibuku, sesuai dengan adat yang berlaku di daerah ini.

Aku dan kakakku mempunyai kesaamaan dengan ibu, mempunyai kemiripan seperti orang jepang sedangkan adikku Ratna lebih mirip Romo-ku yang terlihat ke-Jermanannya. Aku dan kakaku terpaut 4 tahun, dan dengan adikku hanya terpaut 2 tahun. Aku dibesarkan di keluarga yang sangat erat dengan kebudayaan didaerahku, dan harus selalu bisa menjaga tata krama di dalam maupun diluar rumah.

Ayahku merupakan orang yang sangat berpengaruh di daerahku tinggal. Beliau menjabat sebagai Kepala Daerah di Daerahku. Semua orang segan dan hormat terhadap Ayahku, ditambah lagi Ayah bukanlah orang yang sombong, beliau sesosok pemimpin yang rendah hati dan selalu bergaul dengan semua lapisan masyarakat. Ayah tidak pernah membeda-bedakan orang disekitarnya.

Kembali lagi ke aku, Sekarang umurku 15 tahun sebentar lagi masuk 16 tahun, lebih tepatnya sekarang kelas 1 SMA. Aku bersekolah di sekolah negeri yang dekat dengan rumahku, sekolah ini aku pilih karena selain dekat dengan rumah di sekolah ini dikenal sebagai sekolah untuk rakyat. Ya, karena SMA-ku ini semua lapisan masyarakat bisa sekolah di tempat ini, dibandingkan dengan SMA-SMA yang lain yang selalu ada cap Cuma buat orang kaya dan aku paling tidak suka dengan perbedaan.

Kakakku kuliah di perguruan tinggi negeri mengambil Jurusan Kedokteran sedangkan adikku masih kelas 3 SMP yang berdekatan dengan SMA-ku sama sepertiku Adikku memiliki alasan yang sama denganku ketika memilih SMP-nya. Di sekolah aku selalu menempatkan diriku sebagai wanita biasa, sekalipun aku berdarah ningrat ataupun dari keluarga kaya karena aku ingin berteman dengan semua anak di sekolah ini, entah itu kaya-miskin, hitam-putih, sama seperti Ayahku semua ingin aku jadikan teman begitupun Adikku di Sekolahnya.

Dengan cara bergaulku, aku memiliki banyak teman-teman yang sangat sayang kepadaku. Bahkan aku merasa aku memiliki keluarga yang sangat besar di Sekolah ini. Yang aku suka adalah mereka semua menganggapku sebagai orang biasa ketika berada di sekolah sehingga untuk bisa menyatu dengan mereka itu adalah hal yang sangat mudah.

Di SMA-ku, Aku memiliki seorang sahabat yang sejak SMP bersamaku, bernama Karima aku memanggilnya Ima, dia orang yang supel dan enak di ajak curhat. Disisi lain Aku sangat akrab dengan semua teman-temanku bahkan kami selalu berbagi dengan apa yang dimiliki. Tapi kalau masalah cowok gandengannya dia jarang cerita ke aku. Cowok? bagaimana denganku? Aku belum berpikir untuk pacaran.

Waktu itu adalah waktu ketika aku pulang sekolah, aku mendapati di depan rumahku berjajar-jajar mobil. Heran aku, ada acara apa? Masih berbaju sekolah aku masuk kerumah dengan merundukan badan, kulihat kanan-kiriku banyak sekali tamu dan mereka tersenyum kepadaku.

Ketika aku sampai di ruang tamu kulihat romo sedang bercengkrama dengan seorang laki-laki muda beserta perempuan dan laki-laki lain yang sebaya dengan orang tuaku, mungkin bapak Ibunya. Tampak Ayah dan Ibuku juga….

Nduk, kemari ucap Romoku, aku pun duduk diantara Ibu dan Ayahku.

Perkenalkan ini namanya Mas Mahesa Wicaksono, dia melamarmu dan dia yang akan jadi suamimu lanjut romoku. Aku kaget setengah mati, kulihat wajah Ayahku masih santai ketika mengucapkan kata-kata itu.

Tapi Romo, Diyah-kan masih sekolah, masa harus nikah muda balasku

Ya ndak secepat itu nduk, maksudnyaaaa….nanti setelah kamu lulus baru kamu menikah jelas Romoku

Tapi aku masih ingin kuliah Romo lanjutku

Itu bisa di atur… jawab Romoku tenang.

Aku masih tertegun, kaget dengan semua hal ini. Kulihat laki-laki itu tampak mencoba tersenyum manis kepadaku. Aku pun hanya tertunduk tak mau aku membalas senyumannya.

Laki-laki itu, yang akhirnya aku tahu memiliki tinggi lebih pendek dari aku, sedangkan tinggiku di saat ini sudah 160 cm (ingat pada sambungan-sambungan sebelumnya, Arya hanya mengira-ira tinggi Ibunya).

Umurnya 25 tahun, lebih tua 5 tahun dari kakakku. Kulitnya gelap menuju kehitam (NO SARA-just for imagination), wajahnya tidak terlalu ganteng, dibandingkan dengan Ayah, Kakakku dan teman-teman sekelas, JAUH!

Aku sebenarnya tidak tahu alasan Romo, menerima lamaran itu walaupun pada akhirnya aku tahu. Aku berada diantara mereka untuk bisa mendapatkan alasan utama kenapa Ayah menerima laki-laki itu.

Dan akhirnya pembicaran antara kedua orang tua-ku dan kedua orang tua Mas Mahesa menjelaskan yang ternyata selama ini kakekku sudah membuat perjanjian dengan kakek Mas Mahesa untuk menikahkan cucunya.

Aku tidak bisa mengelak dan aku harus menurutinya. Walaupun sebenarnya Ibuku tidak pernah setuju tapi apa mau dikata Ibu adalah wanita yang sangat patuh kepada Ayah. Dan akhirnya pada hari itu juga aku ditunangkan dengan Mas Mahesa.

Keesokan harinya aku bercerita kepada Retno, dia hanya menggeleng-gelengkan kepala. Dia terus menyemangatiku, sudah menjadi kebiasaan retno membuat sebuah kata-kata semangat yang selalu membuatku tersenyum.

Berita ini pun sampai ke teman-teman sekelasku, mereka bukannya meledekku tapi malah menyemangatiku. Aku bangga mempunyai mereka semua, semua teman-temanku selalu menjagaku. Bahkan ketika aku ditemui oleh Mas Mahesa di sekolah teman-temanku selalu berada di sampingku layaknya body guard.

Kini umurku sudah genap 16 tahun lebih satu bulan. Dua bulan setelah acara lamaran itu berlangsung dan selama itu pula aku selalu dan selalu mencoba untuk mencintai tunanganku ini. Hingga pada hari sabtu Mas Mahesa mengajakku kencan, aku sebenarnya bingung menerima atau tidak.

Karena biasanya setiap kali aku ditemui Mas Mahesa aku selalu ditemani banyak temanku. Akhirnya aku menelepon teman-temanku untuk di temani tapi karena mendadak mereka tidak bisa, mau ndak mau ya aku akhirnya harus mau karena tahu sendirilah Ayahku, selalu memaksaku.

Dengan Kaos dan Rok sepanjang lututku sembari membawa tas kecil yang biasa aku isi dengan dompet dan botol air mineral, Aku diajak Mas Mahesa dengan menggunakan mobil kepantai katanya ya untuk mencari udara segar. Dipantai layaknya orang pacaran kami bergandengan tangan, berjalan menyusuri pantai hingga matahari mulai terbenam. Kami pun pulang.

Baru saja berjalan kurang lebih 1 km tiba-tiba duarrrrrrrrrrrrrr….. ban mobil layaknya suara letusan tembakan.

Ada apa mas? tanyaku kaget

Oh ini bannya bocor dek, sudah tenang saja katanya, yang kemudian dia keluar melihat ban yang bocor tersebut.

Dek ini lama, mungkin baru besok kita bisa pulang, bagaimana kalau kita menginap di losmen itu saja? katanya dari kaca jendela mobil sambil menunjuk losmen yang berada tepat di sampingku. Kenapa juga ada losmen disini?

Aduh mas, bagaimana bisa, aku tidak bisa mengabari kedua orang tuaku, aku naik angkot atau taksi kalau ada mas balasku, hand phone pada saat itu langka yang punya.

Mana ada angkot malam-malam begini apalagi taksi, tenang saja nanti aku yang bicara kepada orang tuamu, kita nginap dulu di losmen katanya.

Mau tidak mau akhirnya aku menuruti perkataan Mas Mahesa, dia mengajakku ke losmen tersebut. Mas Mahesa masuk menanyakan ke penjaga losmen itu. Losmen itu tampak bersih, layaknya hotel. Kulihat nama losmen tersebut, losmen MELATI. Dari losmen masih bisa aku melihat pantai dimana aku berada tadi.

Dek…. panggil Mas Mahesa, akupun melangkah ke arahnya.

Kamarnya tinggal satu, kita satu kamar berdua ya ucapnya

Ya ndak bisa to mas, kita itu belum menikah, ndak boleh satu kamar jawabku sedikit kesal

Lha mau bagaimana lagi, lha wong kamarnya tinggal satu balasnya

Mase, memangnya sudah ndak ada kamar kosong lagi to? tanyaku kepada penjaga losmen

Su su sudah tidak ada lagi mbak jawabnya gugup.

Itu kunci masih pada nggantung, aku lihat juga pengunjungnya sedikit! bentakku

I…i….i…itu sudah a…a…ada yang pesan mbak jawabnya tebata-bata, gugup.

Sudahlah dek, ndak papa lha wong kita juga nggak ngapa-ngapain potong Mas Mahesa, menenangkan aku. Bagaimana bisa seorang wanita dan laki-laki satu kamar?Apa kata orang? Tapi aku percaya kepada Mas Mahesa akan menjagaku.

Ya akhirnya mau ndak mau, aku harus satu kamar dengannya. Tapi dengan syarat dia tidur di bawah sedangkan aku tidur di kasur dan dia menyanggupinya. Kulihat jam dinding di atas kepala penjaga menunjukan pukul 18.00. Karena penat dan lelah aku menuju kamar losmen, kunci kamar kudapatkan dari Mas Mahesa.

Kulihat kunci kamar bertuliskan nomor 20. Aku memasuki kamarku, lumayan juga kamarnya bersih dan wangi, aku pun duduk di pinggiran kasur. Tak ku lihat Mas Mahesa masuk kamar kemana dia? sambil menunggunya aku beranjak dan kubuka jendela kamarku.

Melihat pantai nan indah di malam hari, menghirup hembusan angin segar pantai. Lama aku menunggu mas Mahesa tak kunjung tiba, jam dinding menunjukan pukul 18.45, perasaan takut ditinggal sendirian pun muncul.

Kleeeeek…… pintu kamar terbuka, kulihat Mas Mahesa masuk dengan sempoyongan kemudian menutup pintu.

Mas, Mas kenapa? ucapku sembari melangkah menangkap badannya yang hampir jatuh. Kupapah Mas Mahesa menuju kasur, tercium bau alkohol dari mulutnya. Kududukan Mas Mahesa dipinggir kasur, tubuhnya yang sempoyongan bersandar ke tubuhku.

Halooooo cantiiiiiik muah muah muuuuuuuuuuuuuuuuuuah ucap Mas Mahesa seperti orang mengigau sambil memajukan bibirnya ke arahku

Mas Mabuk? Mas sadar mas ucapku menyadarkan, kurebahkan tubuh mas mahessa ke tempat tidur, aku beranjak mengambil botol air mineral dari dalam tasku coba untuk aku berikan ke Mas Mahessa.

Tiba-tiba tangan kanan yang kekar menggenggam tangan kiriku, ditariknya tubuhku hingga rebah di tempat tidur.

Kemudian …. ketakutan itu ketakutan yang sebenarnya telah datang yang tak pernah aku pikirkan sebelumnya. Ketakutan yang aku rasakan ketika aku sendiri sebenarnya adalah ketakutan awal yang menuntunku menuju ke ketakutan yang sebenarnya.

Hembusan angin pantai yang kencang mengalun dari jendela dan dinginnya suhu udara di pantai membuat semuanya tampak serasi dengan apa yang aku rasakan. Sekuat-kuatnya seorang wanita di dunia ini walaupun dia seorang Atlet hebat tetap akan kalah dengan seorang laki-laki dengan profesi yang sama.

Sekuat-kuatnya aku terus meronta meminta untuk dilepaskan tetap saja aku tidak sanggup untuk lepas dari cengkraman lelaki yang telah di kuasai oleh nafsu dan birahinya ditambah dengan dukungan alkohol yang masuk ke dalam tubuhnya.

Seharusnya aku bisa untuk melepaskan diri, tapi rasa lelahku tak mampu berbohong kepada diriku, aku tak mampu. Tangannya begitu kekar dan kuat menahan tubuhku hingga tak berkutik, kemudian kedua tangan itu mengikat kedua tanganku dengan tali, bibirnya terus memburu bibirku.

Tangan kanannya memegang kasar daguku, kemudian bibirnya mengarah ke bibirku. Melumatnya hingga aku kesulitan berteriak, air mataku mengalir deras, memohon ampun kepadanya. Tapi harapan telah sirna semua usahaku untuk mendapatkan ampunan ditolak mentah-mentah olehnya.

Tangan kirinya menyingkap rokku dengan kasar, ditariknya celana dalamku. Aku yang sudah merasakan lelah dan tak ada tenaga hanya menangis dan menangis. Tangan kanannya kini meremas-remas payudaraku sekaligus menekan tubuhku agar tidak bisa bangkit.

“TOLONG MAS HENTIKAN, SADAR MAS SADAR!” Teriakku

“DASAR KAMU BAJINGAN MAS” makiku kepada Mas Mahesa.

“DASAR … WANITA BODOH, DIBERI KENIKMATAN MALAH TIDAK MAU” Bentak Mas Mahesa

Plak…. Plak….. Plak…. tiga tamparan pun mendarat di pipiku, aku hanya menangis , aku sudah tidak berdaya lagi menghadapinya, aku tak mampu. Tangisku semakin menjadi-jadi, meratapi kebodohanku menerima paksaan Ayah agar menerima ajakan Mas Mahesa.

“DIAM!” bentaknya kembali.

Tiba-tiba saja kain putih disumpalkan dimulutku, itu celana dalamku. Kini suara tangisku sudah tidak terdengar lagi, hanya erangan kesakitan atas perlakuannya. Cengkraman tangan kanan pada payudara kananku kurasakan semakin keras, rasa sakit yang kurasakan bukan kenikmatan.

Kulihat dia sedang melepaskan celananya. Tiba-tiba benda tumpul terasa pada vaginaku, memaksa masuk ke dalamnya. Aku pun mencoba untuk meronta kembali agar benda itu tidak masuk.
Plak… tamparan aku dapatkan kembali

“AKU HARUS MENDAPATKANMU SECEPATNYA” bentaknya dengan penuh makna, Aku tidak mengerti apa yang dia maksudkan, perkataannya hanya berlalu begitu saja.

“Ayah Ibu, maafkan anakmu tidak bisa menjaganya” bathinku dalam hati memohon ampun
Dan blesssss….. masuk sudah semua batang kemaluan Mas Mahesa, terasa sakit dan perih. Membuatku menangis sejadi-jadinya, membuatku menyesali usahaku untuk mencintainya.

“emmmmmmmmmmmmmmmm………………” suaraku yang terhalang oleh celana dalamku, disertai air mata yang mengucur deras

“Sempit sekali, memang perawan selalu sempit dan seret ha ha ha” ucapnya dengan tawa kemenangan.

“hiks hiks hiks hiks hiks” aku hanya menangis dan menagis.

Digoyangnya pinggulnya ke arah pinggulku, terjadilah sebuah persetubuhan yang membuat aku semakin menangis. Sedikit aku rasakan nikmat tapi tak bisa aku nikmati malam ini. Tubuhku digoncang dan terus berguncang, membuat aku meronta, menggeleng-gelengkan kepalaku.

Dengan tatapanku aku masih memohon belas kasihan darinya. Tapi semakin aku memohon dengan tangisanku semakin keras dia menggoyangnya semakin kencang pula dia menghentakkan pinggulnya.

“Ahhh Ahhh Ahhh Ahhh aku mau keluar aku mau keluar ya enaaaaaak” teriaknya, sambil diikuti irama goyangan yang sangt cepat dan keras.

Crooot crooot crooot ….

Kurasakan cairan hangat masuk di rahimku, kulihat wajahnya terlukis senyum kemenangan. Tubuhnya rebah dan jatuh ke tubuhku, menindihku. Aku masih menangis dibawah tubuhnya, menangis sejadi-jadinya.

Menangis karena masa depanku akan hancur, tak mampu lagi bersekolah dan memberikan malu terhadap keluargaku. Beberapa menit aku berada dibawahnya, tiba-tiba dia bangkit dengan benda tumpulnya masih menancap di vaginaku. Tersenyum manis kepadaku.

“Sudahlah jangan menangis lagi, aku khilaf maaf ya” ucapnya, sembari melepaskan ikatan di tanganku dan mengambil sumpal dimulutku.

Diapun berdiri dan telepaslah benda tumpulnya. Kemudian aku meringkuk di tempat tidur menangis sejadi-jadinya, kulorotkan kembali rok yang kupakai untuk menutupi bongkahan pantatku. Khilaf? Santai sekali dia berbicara seperti itu. Ingin rasanya aku membunuhnya tapi aku sudah tidak mempunyai daya sama sekali.

Lelaki itu kemudian berdiri memakai celananya sambil tersenyum manis kepadaku, aku membuang muka. Dia bergerak ke arahku dan mengelus-elus rambutku.

“Sudah tenang aku tanggung jawab kok, aku kan tunangan kamu jadi seharusnya kau tidak usah khawatir” ucapnya menenangkan aku.

“Ya benar hiks hiks hiks kamu memang tunaganku, tapi bukan begini caranya hiks hiks hiks kamu kasar hiks hiks hiks” ucapku disertai isak tangis.

Aku pun mencoba beristirahat mengumpulkan kembali kekuatanku. Setelah beberapa menit aku beristirahat mencoba mengemebalikan kesadaranku.

“Sudahlah, rapikan bajumu aku antar pulang, kalau kamu tidak mau ya sudah aku akan bilang ke penjaga agar bisa menikmatimu juga ha ha ha” dengan tiba-tiba laki-laki itu berbicara yang seakan-akan aku bukan wanita yang berharga dimatanya kemudian meninggalkan aku dikamar sendirian.

Aku terkejut dan takut atas ucapannya dan tak mau kejadian ini terulang kembali, segera aku beranjak dari tempat tidurku dan duduk. Kulihat bercak merah disprei kasur itu, Aku sudah kehilangan keperawananku. Air mataku kembali menetes segera aku berdiri, seketika aku rasakan cairan menetes dari vaginaku.

Kemudian ku lap dengan celana dalamku sekenanya, kumasukan celana dalamku ke dalam tas kecilku dan segera melangkah keluar. Kulirik jam dinding menunjukan pukul 20.00 dan ku banting pintu kamar ketika aku menutupnya.

Dengan masih menangis aku berlari ke arah pintu keluar losmen, ku kuatkan untuk segera berlari keluar dan menuju ke mobil Mas Mahesa. Aku duduk di tempat duduk belakang, aku melihat Mas Mahesa sudah masuk dan tersenyum manis kepadaku. Bau amis masih tercium dari vaginaku.

“Jangan menangis lagi, nanti aku belikan permen ha ha ha” ucapnya lantang dengan tawa, aku yang mendengarnya kembali menangis tapi tak ku hiraukan dia. Aku membuang muka ke arah Losmen, Losmen dimana aku dihancurkan.

Dalam perjalanan pulang kulirik dia merasa bahagia atas apa yang telah dia lakukan kepadaku, dia menyanyikan lagu yang dia putar. Ingin aku memukulnya tapi bagaimana kalau dia menyeretku dan membuangku di tempat ini, kemudian memanggil preman-preman dan menyuruh mereka memperkosaku.

Aku terdiam di bangku belakang mobilnya, nafasku masih tidak teratur, terisak-isak.