Cinta Yang Liar Part 1

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48Part 49Part 50
Part 51Part 52Part 53Part 54Part 55
Part 56Part 57Part 58Part 59Part 60
Part 61Part 62Part 63Part 64Part 65
Part 66Part 67Part 68Part 69Part 70
Part 71Part 72Part 73Part 74Part 75
Part 76Part 77Part 78Part 79Part 80
Part 81Part 82Part 83Part 84Part 85
Part 86Part 87Part 88Part 89Part 90
Part 91Part 92Part 93Part 94Part 95
Part 96Part 97Part 98Part 99Part 100
Part 101Part 102Part 103Tamat

Pagi yang cerah di kota yang masih kental dengan adat dan budaya daerahya. Sesosok wanita lemah gemulai nan lembut menaiki tangga rumah menuju lantai dua. Ya wanita dengan menggunakan kebaya biru dengan jarit berwarna coklat bermotif batik keris.

Tok tok tok tok….

“Nak, udah selesai apa belum?”, tanya ibu kepadaku.

“udah bu, sebentar sedang ganti pakaian, sebentar gih bu”, balas ku dari dalam kamar.

“ya udah cepat gih, sarapan sudah siap, segera sarapan sudah jam setengan tujuh dan ditunggu romo kamu di bawah”, balas ibuku.

“inggih bu”, balasku.

Segera ibuku kembali ke bawah menuju ruang makan yang tentunya sudah ada romo di bawah. Aku mempercepat ganti pakaianku , dan jebret jebret langsung turun ke bawah dengan sedikit tergesa-gesa.

Jujur romo merupakan termasuk orang terhormat di wilayah kota ini, dan hmmm aku takut juga jika ntar romo menasehatiku panjang kali lebar kali tinggi sama dengan volume.

“Pagi Romo”, sapaku kemudian mencium tangan romoku

“Pagi nang”, balas romoku, Romo ku mengenakan pakaian putih dengan bawahan hitam layaknya seorang sales tapi bisanya kalau sudah di kantor
beliau menggunakan Jas hitam kebanggaannya.

“kamu itu harusnya bangun lebih pagi lagi dan cepat beres-beresnya, jangan merepotkan Ibumu, tiap hari harus naik ke kamarmu Cuma untuk ingatkan kamu”, nasehat romo kepadaku.

“Inggih romo”, jawabku sambil tertunduk, takut? Jelas aku emang paling takut ama romoku, walaupun kalo di ajak berkelahi aku yang menang tapi ya begitulah seorang anak yang patuh pada orang tua.

“pagi bu”, sambil melangkah ke arah ibuku kemudian mencium tangan ibuku.

“iya pagi, dah cepet sana segera makan gih”, jawab ibuku, Ahhh Ibuku cantik, tampak seperti wanita berumur 27 Tahun, sangat cocok dengan kebaya birunya. Segera aku makan pagi bersama mereka tanpa sepatah kata keluar dari mulut kami. Tepat jam 7.00 aku pamitan kepada romo dan ibu untuk berangkat kuliah.

“romo saya berangkat dulu”, sambil mencium tangan romo yangkemudian aku ke arah ibuku

“saya berangkat dulu bu”, sambil mencium tangan ibuku dan sun pipi kanan dan kiriku dari ibuku.

Aku langsung melangkah menuju garasi rumah untuk menemui Revi motorku yang paling cantik dan aduhai. Tapi Ada yang aneh dengan pagi ini, motorku agak sedikit rewel aku starter bolak balik tapi tetap saja tidak mau menyala, mungkin harus utak atik sebentar.

Aku menuju pintu garasi dan kubuka pintu garasi suapaya ada cahaya yang masuk, masak ngutak-atik Reva di tempat yang gelap, apa kata orang nanti. Aku buka bagian busi dan coba aku bersihkan.

Selama utak atik di garasi aku mendengan percakapan Romo dan Ibuku. Jarak antara garasi dengan ruang makan memang agak sedikit jauh, hanya kedengaran suara mereka saja.

“Di-mas, nanti kang mas pulang agak larut malam ya mungkin pulang besok pagi mungkin juga pulang lusa”, ucap romoku membuka pembicaraan

“Ada acara apa to kang mas?kok sekarang banyak sekali acara, acara kantor apa acara buatan sendiri” jawab ibuku dengan nada agak sedikit marah

“ini acara kantor, ya mas berharap kamu mengerti, sekarang ini banyak audit dari pemerintah pusat, karena sekarang lagi marak-maraknya korupsi, ini kantor daerah kita mau di audit” jawab Romoku

“halah paling juga kang mas mau main saja, bilang saja sudah tidak betah dirumah” jawab Ibuku ketus

“aduh duh duh kok tambah cantik ini dimas-ku kalo lagi marah, begini lho untuk mempersiapkan dokumen-dokumen itu dibutuhkan waktu lama maka dari itu semua pegawai kantor dikumpulkan untuk mempersiapkan ditambah lagi juga ada penyamaan persepsi untuk semua jajaran pegawai biar nanti kalo ditanya auditor jawabannya serempak sama maka dari itu ada kemungkinan menginap bersama, kan kang mas kerja juga buat dimas dan anak lanang to” jawab Romoku dengan penjelasan yang sangat detail.

“Ya udah pulang seminggu lagi juga tidak apa-apa Mas, terserah mas saja, kalo memang itu alasan Mas, diajeng Cuma berharap semua itu benar yang diucapkan sama Mas, ndak maen kemana-mana” jawab ibuku sedikit ketus

“ha ha ha ha ya udah dimas, Kang Mas berangkat dulu”, jawab Romoku

Breeeeng breeeeng breeeeeeng….akhirnya si Revi udah bisa nyala, ah ternyata businya untung saja aku langsung bersihkan businya. Dengan sigap aku naiki tubuh Reva, dan siap untuk berangkat.

” Romo, Ibuku sayang, anakmu paling ganteng berangkat dulu gih” teriakku dari garasi

“iyo, ati-ati le” jawab ibuku (“iya hati-hati nak”)

Aku berangkat menuju Universitasku, Universitas yang terkenal di daerahku, ya Universitas Saberbari yang kepanjanganya adalah Universitas Satu Februari Baru Berdiri.

Apa sebenarnya percakapan tadi pagi itu, ah aneh sekali, tidak biasanya Ibu menjawab ketus setiap perkataan romo. Adakah masalah? Hmmm…..masa bodoh lah, sekarang aku harus sampai kampus dulu. Perjalanan ke kampus paling tidak memakan waktu 60 menit, aku tidak mau terlambat karena hari ini ada mata kuliah yang dosennya mempunyai insting membunuh. Akhirnya sampai juga aku di fakultas sains tempat dimana aku kuliah, tepatnya ditempat parkir.

Ooops lupa….perkenalkan namaku Arya Mahesa Wicaksono seorang mahasiswa semester 5, umurku sekarang 20 tahun lebih sedikit, Jangan banyak-banyak ntar dikira mahasiswa semester dinosaurus.

Seorang mahasiswa biasa dengan tampang yang biasa gantenng dan motor yang biasa kinclong setiap harinya. Tambahan lagi akademikku juga biasa dapat IP 3,5 yang paling parah aku adalah laki-laki biasa yang biasa jomblo sejak lahir.

Mungkin biasa tidak punya daya tarik he he he he. Ibuku bernama Ayu Diah Pitaloka merupakan wanita keturunan karena Kakek dari Ibuku berasal dari Jerman dan Ibuku orang daerah asli. Romoku bernama Mahesa Wicaksono, ya itu memang nama belakangku tapi itu juga nama Romoku.

Terus siapa yang berhak dengan nama itu? Ya jelas romoku lah, karena beliau lebih dulu lahir sebelum aku. Dan Revi? Penasaran ya? Dia sibodi montok dan menggariahkan, Revo Ireng (hitam) yang kemudian aku singkat Revi.

Kulepas Helm dan kutaruh pada spion kanan Revi. Dan tiba-tiba…..

Buuuuuuuuuk buk buk buk……………….

“Aduh….” akupun menoleh ke belakang

“Gila kamu kang, bisa-bisa patah ini lengan aku” kataku.

“Ha ha ha ha….ente juga sich, tadi waktu ane panggil pas di gerbang masuk, main ngeloyor aja” jawab Rahman.

Ya Rahman Kapoor, anak keturunan Indonesia-Arab-India, susah juga jelasinnya. Yang jelas Kakeknya orang Arab menikah dengan neneknya orang daerah asli, Kemudian Ayahnya menikah dengan wanita keturunan India, jadi ya namanya ada India-Indianya gitu.

Rahman adalah sahabatku sejak pertama kali aku kuliah disini. Aku biasa memanggilnya Kang, karena dia 3 bulan lebih tua dari aku.

“ha ha ha…..biasa kang fokus sama jalan, biar tidak menabrak kang” jawabku.

“yaelah emangnya enten orang yang tertib ma lalu lintas? Helm aja ga SNI gitu ha ha ha ha” ejek rahman

“wah ini anak, apa tidak lihat tulisan segede ini di Helm aku?” sambil menunjukan stiker SNI berukuran hampir setengah helm yang ada di bagian belakang, helmku.

“Itu akal-akalan ente, ya udah ayo kuliah, udah hampir jam setengah sembilan, dosennya killer, ntar ditelan mentah-mentah kallo kita telat” sambil merangkul bahuku dan mengajakku ke gedung kuliah tercinta.

Awalnya aku tidak begitu mengenal rahman, tapi sejak dia mengalami kecelakaan dan aku menolongnya dia semakin akrab dengan aku. Aku juga sering menginap di rumahnya, tapi beberapa kali aku menginap aku merasa pekewuh (sungkan) dengan keluarganya karena ada sesuatu yang selalu jadi pertanyaan dalam hatiku. Apa itu? Suatu saat pasti akan aku ceritakan.

Tapi ada yang sedikit membuatku agak sedikit kaku ketika di depan Rahman, Dia penyerobot cewek yang sebenernya menjadi targetku. Jengkel iya, marah iya, tapi dia sahabatku suka dan duka. Tak apalah lagian setelah si cewek itu setelah jadian dengan Rahman aku jadi tahu siapa cewek itu sebenarnya.

Cewek Rahman matrenya minta ampun gan!, untung bukan aku yang nembak bisa berabe. Menghidupi si Revi aja ngos-ngosan. Perlu catatan aku memang dari keluarga yang lebih dari cukup tapi aku bukan orang yang suka menghambur-hamburkan uang, bahkan sebisa mungkin aku sedikit jajan agar uang sakuku bisa aku tabung, ya buat menghidupi si Revi kesayanganku itu.

Kembali ke masalah kuliah, permasalahan utama mahasiswa adalah kuliah dan berhadapan dengan dosen cantik tapi killer-nya minta ampun. Dosen itu bernama Ibu Dian, Dian Rahmwati. Dosen muda cantik dan hmmmm……..indah benar-benar Indah.

Selama perkuliahan dengan Bu Dian, suasana kelas selalu tegang dan tahu sendiri bagaimana rasanya kuliah jika suasana tegang. Sialnya aku terlambat masuk ke kelas dan harus duduk di bangku terdepan. Nasib oh nasib. Bu Dian masuk ke ruang kelas kami. Da perkuliahan pun dimulai.

“Selamat pagi…” sapa bu Dian dengan senyum manis bak kedondong. Kecut dong? Iya memang ini dosen satu-satunya dosen yang tidak pernah senyum lepas ke mahasiswanya.

“SE…LA…MAT….PA…GI….BU….” jawab mahasiswa dalam kelas tersebut, mirip banget seperti anak TK.

“oke, kita mulai perkuliahan kita” lanjut Bu Dian.

Aku baru saja di ajar oleh Bu Dian ini mulai semester 5. Pertama kali melihat wajahnya aku cukup terkesima tapi setelah tahu judesnya minta ampun sama temen-temen yang lain. Jadi Hiiiii takut.

Ada yang aneh? Pastinya ada, kalo enggak cerita ini cukup sampai disini dan tidak akan aku lanjutkan ha ha haha. Yang aneh, Selama perkuliahan dengan Bu Dian, kadang aku merasa ada yang memperhatikan, dan ketika aku melihat ke arah Bu Dian ya Bu Dian-lah yang selama ini memperhatikan aku.

Takut? Iyalah takut…takut dapat nilai E. Kapan lulusnya coba kalo dapat nilai E, ngulang tahun depan? Semoga saja tidak. ketika kuliah berlangsung, Pernah Tatapan mata kami beradu ketika anak-anak sedang sibuk mengerjakan soal dari Bu Dian.

Aku kira Bu Dian akan memandangku dengan sinis atau dengan tatapan ala Batosai yang membunuh hanya dengan tatapan matanya saja, tapi yang aku dapatkan adalah senyuman lepas, senyuma ikhlas dari bibirnya, Indah sekali. Akupun membalas senyumannya dan kemudian kembali mengerjakan soal.

Dua setengah jam mata kuliah Bu Dian telah terlewati.

“Akhirnya selesai juga, kuliah neraka ini, neraka?ah untuk hari ini mungkin tidak senyuman tadi senyuman dari surga, andai aku bisa menyentuhnya, hmmmm…….” batinku

“Selamat siang, kuliah sampai disini dulu, tugas yang saya berikan saya harap kalian kerjakan dan dikumpulkan, bagi yang tidak mengerjakan, tidak perlu lagi mengikuti perkuliahan saya lagi mulai minggu depan” Suara yang keras dari mulut Bu Dian.

“iya Bu….” jawab satu ruangan.

Kemudian Bu Dian berjalan menuju arah pintu, tapi dia menyempatkan untuk melirikku dan tersenyum. Oh….Apakah Dia tersenyum padaku? Aku hanya menunduk.

Setelah kepergian Bu Dian dari kelas, ku di ajak oleh Rahman makan siang. Coba bayangin, tegang banget tadi waktu di kelas hampir mirip ketika aku nonton film porno sama-sama tegang. Ha ha ha……

“Ar…makan yuk, laper” ajak Rahman kepadaku

“Oke Kang, tapi apa kamu tidak makan siang bareng pacar kamu kang?” jawabku

“Dia kuliah Jam Sebelas tadi, Selesai jam setengah Dua, sama-sama kuliah 3 sks” Jawab Kang Rahman.

“oooooo…….” selorohku

Kami makan siang di emperan jalan dekat dengan kampusku. Makan siang yang murah meriah euy keplok-keplok. Kami pun terlibat percakapan panjang mengenai tugas kuliah yang diberikan oleh Bu Dian.

“Gimana kalo malem sabtu ente tidur di rumah ane aja Ar, sekalian bikin tugas, ente kan pinter” Rahman memulai percakapan.

“Oke Kang , tapi…..” jawabku

“Ayolah ane kagak bisa ngerjain soal itu, kagak ada tapi-tapian ente harus menginap di rumah ane” paksa Rahman kepadaku.

“Iya….” jawabku, kemudian memandang ke arah tak jelas (melamun).

Dirumahnya?, jujur saja ada perasaan aneh, rikuh (sungkan) ketika di rumah Rahman. Bukan masalah hantu atau setan yang bergentayangan dirumah Rahman tapi lebih ke seseorang yang berada di rumahnya.

“Ente masih ada kuliah Ar?” tanya Rahman membuyarkan lamunanku.

“Enggak Kang, kamu tahu sendiri aku ambil kuliah sama dengan kamu” jawabku

“Oh Iya ya ha ha ha ha……Rokok Ar” menawariku rokok sambil menyulut rokok yang sudah ada di mulutnya

“Makasih Kang…..Hmmmm…..Dunhill Mild mantap kang” jawabku

“Mending yang ini Ar, dari pada rokok filter, sehari bisa satu bungkus, kalo Dunhill lumayan Ar bisa mpe 2 hari, biasa Ngirit Ar…..Ha ha ha ha” jawab Rahman dengan tawa keras.

Sudah hampir satu jam aku ngobrol panjang kali lebar sama dengan volume dengan rahman, berbatang-batang “batang putih” ini pun aku sulut berkali-kali. rasa lelah menghinggapi kami berdua hingga akhirnya kita memutuskan pulang.

Revi Oh Revi andaikata kau benar-benar perempuan dan aku bisa menaikimu setiap hari ha ha ha ha. Ngeeeeeeeeeng…….perjalanan pulang yang membuat aku merasa ngantuk. Udah panas, perut kenyang ah pengen tidur rasanya jika sudah sampai rumah. Akhirnya sampai juga dirumah.

Tok Tok Tok…..

Bu…..Ibu…… teriakku di depan pintu

Iya sebentar….. Jawab ibuku dari dalam rumah.

Klek……………….

Dah pulang nak? tanya Ibuku

Iya Bu hari senin Cuma satu mata kuliah jawabku sambil salim(cium tangan) Ibuku

Ya udah sana Istirahat dulu ya….Ibu mau melanjutkan nyuci piringnya suruh Ibuku

Inggih (iya) Bu jawabku sambil masuk rumah.

Masuk kerumah aku langsung duduk di ruang tamu, menikmati ademnya rumahku ini. Ibuku menutup pintu kemudian menuju ke dapur. Setelah cukup rileks, aku berjalan menuju kamarku di lantai dua. Antara dapur dan tangga menuju lantai dua memang berdekatan.

Kulihat Ibuku sedang asyik mencuci piring, tempat mencuci piring di desain agar ketika mencuci bisa sambil berdiri. Aku belokan arah jalanku dan menuju ke arah Ibuku. Aku peluk Ibuku dari belakang, ya itu sudah jadi kebiasaanku. Tanganku melingkar di perut Ibuku, aku letakan kepalaku di bahu kanan Ibuku. Posisi pandanganku menoleh ke arah Ibuku.

Ada apa nak? Tanya Ibuku

pengen peluk aja bu jawabku

Cukup lama aku memeluk ibuku, cukup lama Oksigen masuk ke dalam paru-paruku. Dan banyak pula karbon dioksida yang keluar dari hidungku. Keluar menyentuh leher Ibuku. Tiba-tiba saja tangan kanan Ibuku memgang kepalaku dan di tekan ke arah leher. Aku kaget, bahkan kini posisi bibirku tepat mencium leher Ibuku.

ehmmmmmmmmmm……sssssh…… kudengar ibuku mendesah pelan. Posisi itu berlangsung cukup lama sekitar 5 menit, dan membuat Jendral di dalam celanaku berdiri. Aku yang kemudian sadar menarik kepalaku dari leher ibuku.

aduh bu, Ibu kenapa to? tanyaku

Oh ti…tidak…kenapa-napa jawab Ibuku seperti linglung dan bingung atas apa yang terjadi barusan.

Yaelah Bu main dorong kepala saja Ibu itu, Kaget Bu, ada apa to Bu? tanyaku sambil melepaskan pelukkan tanganku yang di perut Ibu.

sudah sana istirahat….Ibu mau melanjutkan mencuci piringnya jawab Ibuku agak sedikit meninggi suaranya. Dari wajahnya terlihat wajah antara malu, bingung dan marah. Mungkin marah dengan dirinya sendiri.

Sambil menaiki tangga, pikiranku tetap pada kejadian yang barusan terjadi tadi. Aneh benar-benar aneh, biasanya Ibu tidak seperti ini. Ada apa sebenarnya? Apa Ibu ada masalah dengan Romo? Memang iya Romo hampir 1 bulan ini selalu keluar kota terus, Ah masa bodohlah tapi celanaku semakin sempit.

Aku memasuki kamar, kututup pintu dan kurebahkan jasad bernyawa ini. Ahh….enak sekali tidur siang-siang ini. Kupejamkan mataku, coba menerka apa yang sebenarnya terjadi tadi.Y

a Wanita itu dengan kebaya biru, berbalutkan jarit batik keris dibagian bawahnya. Cantik, indah dan memperlihatkan setiap lekukan tubuhnya. Bagaimana bagian dalamnya ya? Uhfff……Hmmm….tanganku mengelus-elus celananku dengan sendirinya tanpa sadar.

lho kenapa aku bisa membayangkan Ibuku? Ah gila aku ini? Ah baru kali ini aku punya pikiran seperti ini, ini semua karena kejadian tadi batinku
Mungkinkah Ibu kangen sama Romo? Tidak mendapatkan gaji dari Romo? Kenapa Ibuku melampiaskannya kepadaku tadi? Apakah dia menginginkan aku?

Bagaimana kalo itu benar? Dan apa yang harus aku lakukan pada Ibuku? Ah tidak mungkin, Ibu adalah wanita keturunan ningrat, tidak mungkin dia melakukan hal bodoh seperti itu.

Baru kali ini ada perasaan aneh karena perlakuan Ibuku, Biasanya ketika aku peluk dari belakang Ibuku juga bersikap biasa saja. Bahkan aku selalu merasakan hal yang biasa ketika aku memluk Ibuku. Kenapa selalu berputar-putar pemikiranku ini? Berat sekali mata ini ah…………………
Grooook grooook groooook……….zzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzz……………………

Tok tok tok…..

“Nak bangun sudah sore” teriak ibuku dari belakang pintu.

“ehmmmmmm…..aaaahhh…..Hoaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaam……” menguap sejenak ketika mendengar ibuku teriak

“iya bu….” teriaku

“mandi dulu sana” jawab Ibuku.

Kudengar langkah Ibuku menuruni tangga. Ibu…..Hmmmm kejadian tadi muncul kembali ke dalam pikiranku. Pikiran kotor yang terus berkecamuk yang selalu aku tepis. Masa bodohlah, mandi terus makan. Aku menuruni tangga, kamar mandi rumahku terletak persis disamping tangga bagian bawah.

Sesampainya di lantai bawah aku menuju keluar di pekarangan belakang rumahkku, pekarangan rumah bagian belakang rumahku seperti penjara dimana pagar bumi setinggi 5 meter mengelilingi pekarangan belakang rumah.

Tak ada yang bisa dilihat kecuali sebuah kolam ikan kecil dan taman dengan pohon rambutan yang tumbuh subur di belakanng. Di pekarangan rumahku ini ada sedikit tanah lapang yang biasa aku pakai tiduran dengan menggelar tikar dibawah pohon rambutan itu.

Aku melangkah menuju jemuran dibelakang rumahku, ambil handuk dan saatnya mandi. Ketika aku menuju berjalan dari pekarangan rumah menuju kamar mandi aku lihat Ibuku. Kami saling pandang, aku melempar senyum, tapi Ibuku langsung tertunduk seperti malu melihatku.

Masuk kamar mandi dan Byuuur byurr byurr……… tiba-tiba kejadian tadi siang masuk ke dalam pikiranku kembali. Aduh dedek Arya bangun. Toeeeeng eng eng eng….. hadeeeeeeh Ibu…. oh Ibu……hmmmm…….segera kuselesaikan mandiku daripada terjadi hal-hal yang aku inginkan ha ha ha.

Kembali ke kamar, membuka tugas kuliahku, dan belajar. Tak terasa waktu berjalan begitu cepat kulihat jam dinding menunjukan waktu hampir jam 7 malam.

“sudah saatnya makan malam” bathinku

Aku turun ke lantai satu dimana Ibuku sudah menungguku di bawah. Cantik sekali, walau sudah malam Ibuku tetap mengenakan kebaya. Balutan jarit batik keris warna coklat sangat cocok dengan kebaya warna hitam. Aku tersenyum kepada Ibuku, tapi Ibuku membuang muka ketika itu.

“Masak apa bu?” tanyaku dengan riangnya sambil menuju ke arah meja makan.

“…… tinggal makan saja nak , tidak usah tanya-tanya, cepet makan, lanjutkan belajar kamu dan istirahat” jawab ibuku dengan nada sedikit ketus.

“Aduh ada apa sebenarnya ini?apakah ibuku malu dengan kejadian tadi siang?ayolah bu….”bathinku. sambil menngambil nasi dan lauk segera aku lahap. Suasana makan malam yang tidak mengenakan, tidak seperti biasanya walaupun tidak ada Romo kita selalu bercengkrama dan bercanda. Oh Ibu ada denganmu?

“Bu, Ibu kenapa?” tanyaku membuka pembicaraan

“tidak apa-apa nak?” jawabnya sambil mengangkat piring kotor untuk di letakan di tempat cucian.

“Arya punya salah sama Ibu?” lanjutku

“….” Ibu hanya diam saja tidak menjawab

“Ya udah Bu, kalo Ibu marah sama Arya, mending Arya Ngekos aja, daripada buat Ibu setiap hari seperti ini. Kemarin-kemarin juga tidak seperti ini bu suasananya. Besok Arya mau cari tempat kos, Terima kasih makan malamnya Bu, Arya mau kekamar terus tidur” penjelasanku panjang lebar sama dengan Luas.

Aku sendiri bingung, kenapa bisa berbicara seperti itu kepada Ibuku?tega banget meninggalkan Ibu ketika Romo jarang pulang.

“….” Ibu masih diam saja

Aku tak tahu apa yang dirasakan oleh Ibuku, apakah dia menangis? Atau tersenyum dengan perginya aku? tapi dengan diamnya Ibu berarti Ibu setuju. Balik ke kamar belajar, dan sedikit mengerjakan tugas dari Bu Dian. Ah senyuman Ibu Dian….Bu Dian andai kau jadi pacarku kan kubingkai selalu indahmu.

Tiba-tiba pikiran itu kembali masuk ke otakku, pikiran kotor tentang Ibu. Desisan layaknya ular yang sedang membutuhkan mangsa terngiang-ngiang di telingaku. Belajarku menjadi tidak konsen setiap akan menuliskan jawaban dan membuka buku yang teringat adalah tubuh Ibu.

Sekalipun terlilit oleh kebaya dan jaritnya sangat terlihat bagaimana langsingnya tubuh Ibu dan susunya.

“Hei-hei kenapa jadi membayangkan bentuk tubuh telanjang Ibu seperti apa?what the fuck??”bathinku

Tit tit Tit…..

Alarm Hp berbunyi menunda lamunanku ternyata, sudah jam 10 malam saatnya untuk tidur. Sudah jadi kebiasaanku menyetel alarm jam 10 malam agar aku bisa langsung tidur. Jika tidak aku pasangkan alarm mungkin aku akan begadang semalam suntuk untuk mengerjakan tugas, apalagi dengan bayangan-bayangan Ibu yang sering muncul bisa-bisa tidak tidur. Aku merebahkan tubuhku di tempat tidur menarik selimut merah tebal pemberian Ibu. Hangat sekali dan Hup…..ah tidur tidur tidur……

Tok Tok Tok……

“Nak….” suara pelan dari balik pintu kamarku mengagetkan aku.

“Ibu?ada apa?”bathinku

“Iya bu buka saja….” jawabku pelan

Beliau masuk masih dengan pakaian yang sama dengan yang beliau pakai sewaktu malam tadi. Terlihat anggun dan seksi….ah kenapa setelah kejadian tadi siang pikiranku kepada Ibuku menjadi mesum terus. Ibu melangkah menuju tempat tidurku, aku pun mangangkat badanku dan memposisikan duduk ditepi ranjang. Ibu kemudian duduk di samping kananku.

“maafin ibu ya nak, kamu ndak usah ngekos, nanti Ibu sama siapa kalau kamu ngekos” suara Ibu mulai membuka percakapan dengan senyum Ibu terlukis di bibirnya. Tampak matanya yang sedikit berkaca-kaca.

“Inggih Bu, lha pripun (bagaiman)Ibu saja dari tadi cemberut terus wajahnya kok, daripada nanti Ibu malah musem terus ya mending Arya di tempat kos saja” jawabku sekenanya dengan senyum dibibirku sambil garuk-garuk kepala.

“Yo wes (ya sudah) …Yo wes (Ya sudah)… kalau mau Arya seperti itu, kita jual rumah ini sekalian” jawab Ibuku marah.

Menyesal mungkin mendengar jawabanku itu. Ketika beliau mulai beranjak berdiri aku langsung memeluk Ibuku dari belakang sehingga Ibuku duduk kembali. Kini posisiku berada tepat dibelakang Ibu.

“Ibu jangan marah gih…Arya tidak akan kemana-mana kok Bu, asal Ibu tersenyum ke Arya” rayuku

Ibu menoleh ke kiri melihat wajahku yang sudah aku letakan di bahu kirinya. Kulihat senyuman Ibu dan Aku pun ikut tersenyum.

“Nah Ibu sudah senyum kamu jangan pergi ya…..” tiba-tiba air mata menetes dari kedua mata indah yang ada di depanku.

“kalo kamu pergi Ibu sama siapa, Romomu juga sudah jarang pulang, kalau pulang juga cuma sebentar” air mata menetes dari matanya.

Aku yang kebingungan karena melihat Ibu menangis dan tiba-tiba ibu memegang kepala bagian belakangku dan mendorong kedepan sehingga keningku bersentuhan langsung dengan kening Ibuku.

“iya Bu…. jangan menangis Ibu, Arya akan selalu ada buat Ibu, akan menjadi apapun yang Ibu inginkan” jawabku menenangkan Ibu.

Hampir aku menangis dan tapi air mata yang ingin menetes dari mataku seakan-akan kembali masuk kedalam mataku lagi karena kecupan dari mulut Ibuku yang langsung ke mulutku. Seakan-akan tak percaya tapi kenapa kecupan Ibu lama sekali? Aku tidak pernah merasakan ini sebelumnya.

“emmmmmmmmmmmmmmm………..crup……emmmmm…….” Ibuku mulai mendesah

Aku menarik kepalaku dan menatap Ibuku.

“Bu….” ucapku sederhana memanggilnya, dan aku kemudian kembali mencium bibir Ibuku, Ibuku membalasnya dengan ciuman.

Belum pernah aku berciuman bibir dengan seorang wanita yang aku tahu hanya ciuman seperti yang ada di Video milik Rahman? Video porno yang pernah aku lihat pertama kali dalam seumur hidupku. Tidak aku bukan orang yang berpengalaman dalam hal bercinta. Kami hanya menempelkan bibir dan Ibu yang paling aktif menyedot bibirku.

Aku tidak bisa mengimbanginya karena aku perjaka tulen. Tiba-tiba Ibuku menjatuhkan tubuhnya di kasurku tempat tidurku, dengan cepat aku menggeser tubuhku dan langsung menempelkan kembali bibirku ke bibir Ibuku.

Sekarang posisi Ibuku tepat di bawahku dan aku di atasnya tapi tidak mengangkanginya. Kaki Ibu ku masih berada dipinggir tempat tidur sehingga telapak kakinya tetap berada dilantai. Ya setengah di kasur setengahnya tidak. Kami masih terus berciuman, aku mulai melakukan sedotan-sedotan ke bibir Ibu.

“emmmmmm oh emmmmmm…. bu emmmm…..” suaraku lirih

Aku merasakan birahi yang meledak-ledak, tak pernah aku rasaakan sebelumnya dengan seorang perempuan. Perasaan ini baru aku rasakan baru pertama kali ini.

” Bu…ohmmmmm…..” aku merasakan sesuatu mengelus lembut bagian selangkanganku tempat dimana adikku “dedek Arya” bersemayam.

Dedek Arya bangun, mulai mengeras, mungkin jika bisa berbicara dedek Arya akan berbicara. “Keluarkan aku kakak aku pengin keluar”. Kejadian itu berlangsung cukup lama.

Entah apa yang aku pikirkan hanya terbesit ingatan tentang pemuda kekar dalam video yang pernah aku lihat itu, menyingkap rok wanita hingga bagian atas dan menurunkan CD-nya kemudian di masukan burung itu ke dalam alat kelamin wanita.

Apakah aku harus melakukannya? Dedek Arya sudah keluar, siapa yang mengeluarkannya? Siapa yang melorotkan celana kolorku? Ibu mengeluarkan dedek Arya? Celanaku dipaksa diturunkan sehingga aku mengangkat bokongku ke atas, dan Toeeeeng eeeeng eeeeng “Aku bebas, aku bebas aku butuh sangkar”. Sangkar? sangkar yang mana? Aku masih terhanyut dalam terus berciuman dengan Ibuku. Kulihat Ibuku menutup kedua matanya.

Satu tanganku membantu tangan Ibuku untuk melepaskan celanaku. Akhirnya aku telanjang setenga bawah. Akhirnya aku melepaskan ciuman Ibuku, kulihat mata Ibu terpejam.

Aku mencoba meniru setiap adegan dalam film, tapi yang ini lebih sulit karena yang harus aku naikan ke atas adalah Jarit yang dipakai ibuku benar-benar ketat. Lebih ketat daripada legging, legging dari karet sedangkan jarit dari kain yang kaku.

Dengan sedikit membungkuk aku meraih ujung jarit bagian bawah aku coba singkap ke atas memang ternyata sulit. Tanpa ada komando ibuku mempermudah aku untuk menyingkapnya hingga bagian atas.

Terpesona aku melihatnya, alat kelamin wanita yang dikenal dengan sebutan vagina masih berbalut CD warna putih yang warnanya hampir sama putih dengan warna kulit paha Ibuku.

Aku kemudian mengelus-elus, kupalingkan wajahku ke arah ibu, matanya masih terpejam menikmati perlakuanku. Kuarahkan bibirku ke bibir Ibuku. Ibu masih menutup matanya dan aku tidak tahu apa yang sebenarnya sedang Ibu pikirkan. Tangannya masih mengelus batang tegang dedek Arya.

Baru kali ini, oh…..rasanya enak, seandainya aku bisa berteriak aku akan berteriak. Enak sekali ya enak. Kulorotkan celana dalam ibuku, dan entah atas inisiatif sendiri atau dorongan dariku, Ibu mengangkat kedua kakinya agar aku lebih mudah melepas celana dalamnya.

Tegang maksimal, Pertama kali melihat, pertama kali merasakan, dan atas ingatan film porno itu aku turun dari ranjang tidurku. Aku kangkangkan kedua kaki Ibuku dan mencoba masukan. Masih dalam posisi berciuman.

Mana? Mana yang harus aku masuki? “kakak ayo cepetan udah didepan mata kakak, ****** banget kakak itu” mungkin itu yang akan dikatakan oleh dedek Arya. Seperti film My Name is Dick, dedek Arya minta jatahnya terus berteriak hingga aku tidak konsen dengan apa yang aku lakukan. Aku berdiri dan beralih ke tengah-tengah tubuh Ibu, kulebarkan kedua kakinya. Tampak vagina ibu yang bersih ditumbuhi rambut yang halus. Kembali aku mencium bibir Ibuku.

Aku coba masukan, hanya mendorong-dorongnya, mencoba untuk memasukan. Terus aku coba hingga aku hampir putus asa. Ibuku tetap menikmati sensasi ciuman dengan aku,

apakah Ibu merasa dia sedang bersama Romo? Ah masa bodohlah…. yang penting ini bagaimana caranya masuk? Mana lubangnya? Ada yang tahu tidak?Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa bagaimana ini…………..??????? Aku terus mencoba dengan semangat seperti lagu

“jangan menyerah jangan menyerah jangan menyerah ho ho ho” ala D’Masiv. Setiap percobaan pasti akan membuahkan hasil hingga akhirnya ujung kepala dedek arya menemukan sebuah lubang yang sedikit becek. Aku mencoba mendorongnya terasa sangat sempit tapi perasaan nikmat menjalar ketubuhku.

“Ahhh……” rintih sakitku sedikit keras yang sedang dalam posisi mencium Ibuku.

Ibu kemudian membuka matanya, dan seakan-akan terkejut atas apa yang aku lakukan. Sadar atas apa yang terjadi Ibu mendorongku hingga aku dalam posisi tegap. Dengan memegang pundaku Ibu mencoba bangun, dan posisi tubuh kami malah semakin menyatu dan “aku masuk kakak, aku masuk, hangat kakak hangat sekali” mungkin itu yang dikatakan oleh dedek Arya.

PLAK….. satu kali tamparan

PLAK…. dua kali tamparan

PLAK…. tiga kali tamparan

Karena menamparku posisi Ibu kembali terjatuh lagi, aku tertegun menyesal atas apa yang aku lakukan. Posisi tegang menjadi hening…..hening…… hanya tangisan Ibu yang semakin keras dan menjadi-jadi. Air matanya menetes deras dari matanya. Tapi apa daya dedek Arya sudah masuk ke dalam sangkar, sangkar milik Romoku, ya Ibuku.

“KAMU TEGA AR….KAMU TEGA SAMA IBU….KAMU TEGA!” bentak Ibuku sambil sesengukan.

Aku terdiam tak tahu apa yang harus aku lakukan. Bodoh kamu Ar. Benar-benar bodoh kamu Ar. Perkataan itu muncul dari pikiranku tapi dedek Arya masih menancap meninginkan penuntasan, penuntasan?

Perasaan akan sesuatu yang harus aku tuntaskan mendorongku untuk menggoyang pinggulku. Tanpa memperdulikan Ibu yang terbaring dengan air mata yang mngalir. Aku mulai menggoyang. Dan….

“BERHENTI AR BERHENTI……!” bentak Ibuku.

PLAK….. satu kali tamparan

PLAK…. dua kali tamparan

PLAK…. tiga kali tamparan

Ibuku menamparku, dan mendorongku hingga terjatuh di lantai. Ibu kemudian berdiri merapikan jaritnya mengambil celana dalamnya. Tangan kirinya menutupi mulutnya dan Ibu melihatku jatuh duduk di lantai. Ibu melihat Aku dan dedek Arya. Ibu menangis.

“Kamu benar-benar tega sama Ibu….hiks….” ucap Ibu sambil berjalan cepat melewatiku dan meninggalkan aku dengan tangan kiri menutupi mulutnya sanggulnya hampir lepas.

Ibu menangis. Aku terdiam melihat kepergian Ibu dan kemudian sadar atas apa yang aku lakukan. Bodoh kam Ar bodoh, kenapa kamu lakukan hal itu?! Bodoh kamu Ar! Terasa batinku membentakku dengan suara keras.

Langsung Aku berdiri memakai celanaku tanpa celana dalam walau dedek Arya masih tegang . Aku mengejar Ibuku, menuruni tangga, menuju kamar Ibu. Tapi terlambat pintu kamar sudah terkunci dan aku mendengar tangisan Ibuku.

Tok Tok Tok…..

“Ibu Arya minta maaf bu, maafin Arya…. buka pintunya Bu, Arya Mohon Bu” mohonku kepada ibuku

“PERGI PERGI! Hiks hiks hiks hiks” teriak Ibuku dari dalam kamarnya dibarengi dengan tangisannya.

Aku melangkah pergi menuju kamarku, menutup pintu menguncinnya dan menyesali apa yang telah terjadi. Hanya bisa duduk dipinggir tempat tidurku, menyesal dan menyesal, hingga mata ini terasa berat untuk terbuka, hilang pula tenaga dedek Arya.

Jatuh tubuhku ke tempat tidur dan terlelap dengan penuh penyesalan. Entah….Entah….apa yang akan terjadi esok hari. Mungkin aku harus pergi.

Dan seperti biasa aku diam tak bicara
hanya mampu pandangi
bibir tipis merahmu itu

Dan seperti biasa aku tak sanggup berjanji
hanya mampu katakan
Aku cinta kau saat ini
entah esok hari entah​

lagu iwan fals seakan-akan terngiang di telingaku mengantarkan tidurku.

Aku bangun lebih pagi dari biasanya entah karena apa aku pun tak tahu. Kulihat jam dinding yang berdetak mengikuti kegundahan hatiku menunjukan jam 4 pagi. Ku langkahkan kakiku menuju kamar mandi, ketika kakiku mendarat di pijakan terakhir kuarah kepalaku menoleh ke arah kamar orang tuaku.

Sunyi senyap, membuat darahku membeku ketakutan. Secepatnya aku masuk kamar mandi, mencoba menghapus semua kejadian dimalam kemarin dengan guyuran air, Segaaaaaaar!.

Dengan hanya mengenakan handuk yang aku lilitkan pada pinggangku, aku keluar dari kamar mandi. Tak lupa aku mengarahkan kedua mata ini ke arah kamar orang tuaku lagi tapi tetap sunyi yang membuat aku semakin takut untuk mengingat apa yang terjadi semalam.

Segera aku naik untuk berganti pakaian, menata semua pakaianku, kumasukan dalam koper, ya aku harus pergi dari rumah ini, aku telah bertindak bodoh semalam, dan jujur saja aku malu bagaimana cara menatap Ibu.

Jam berdetak menunjukan 05.30, tak biasanya sesepi ini. Dihari-hari sebelumnya selalu terdengar kesibukan dibawah sana, kadang suara air mengalir ditempat cucian piring, kadang suara sesuatu yang digoreng tetapi hari ini hilang semua karena logikaku yang tertutup birahi.

Bagaimana kalau Romo tahu apa yang aku lakukan? Mungkin sekarang aku sudah menjadi seonggok tulang berbalut daging. Kumerenung dan merenungi semua kesalahanku.

Tik tik tik tik tik kulihat jam dinding dikamarku, tepat jam setengah tujuh, aku langkahkan kakiku turun ke lantai bawah. Tak kulihat lagi wanita paruh baya nan cantik dan rupawan yang biasa menyapaku dengan senyuman dan parahnya tidak ada makanan yang tersedia di meja makan.

Ibu dimana?Ibu….maafkan aku. Kulihat pintu kamar Ibuku masih tertutup kuangkat kakiku satu per satu menuju kamar Ibu.

Tok Tok Tok…..ku ketuk pintu kamar Ibuku.

Bu……

Ibu…… suaraku lirih

Bu, Arya berangkat kuliah dulu, sekalian Arya mau pamit mencari tempat kos. Maafin Arya bu….sekali lagi maafin Arya bu, Arya minta maaf hiks kataku dengan mata yang menggenang dan kemudian melncur deras.

Kleeeeek…..pintu kamar Ibu terbuka. Dan…..

Cantik sekali, sangat cantik seorang wanita dengan kebaya wanta putih dan jarit berwarna putih serasi dengan kulitnya. Riasan yang sederhana tapi tidak menor, dengan rambut yang digelung kebagian belakang tanpa sanggul.

Kulit yang putih sangat serasi. Ku usap air mataku yang mengalir, dan ku perlihatkan senyum kepada ibu. Tapi tak kulihat senyuman itu. Hufttt……

Kamu boleh ngekos, dan mulai besok kamu bisa temui Ibu kamu di Pemakaman terdekat sini jawab Ibuku dengan mata sembab , mungkin karena menangis semalaman. Ibu kemudian membuang pandangannya. Jawaban yang menakutkan, mengerikan, membekukan darahku, membuatku tertegun dan kebingungan.

Bu, jangan bilang kaya gitu to….

Arya menyesal sudah melakukan hal bodoh terhadap Ibu dan….. kataku terhenti

kono mangkato ora usah balik maneh, tinggal sesuke nyekar ning kuburan, gampang to? (sana berangkat saja tidak perlu pulang lagi, tinggal besuk ziarah kekuburan, gampangkan?) jawab ibu sambil tetap tidak memandangku. Aku hanya tertunduk dihadapan Ibu.

apa yang bisa Arya lakukanagar Ibu benar-benar memaafkan Arya? tanyaku lirih dengan tetap sambil menundukan kepala

Ibu akan maafkan Arya asal Arya mau tetap dirumah tidak ngekos dan menemani Ibu, Ibu tahu itu adalah sebuah kesalahan tapi itu semua karena rasa sayang Arya ke Ibu lanjut Ibu

Dan Jika memang Arya sayang Ibu, dan Arya ingin Ibu memaafkan Arya….. jawab Ibu berhenti suasana kembali hening. Ibu kemudian masuk kamar, terlihat ibu mengambil secarik kertas dan menuliskan sesuatu. Ibu kembali dihadapanku tapi tetap saja tidak memandangku padahal biasanya aku selalu mendapatkan senyuman darinya.

disitu sudah Ibu tulis ukuran jari Ibu. Ibu ingin kamu belikan cincin itu saja tapi dengan uangmu sendiri, ukurannya harus pas ibu memotong perkataanku dengan penjang lebar sama dengan Luas. Sambil menyerahkan gambar cincin emas kepadaku.

Bu….ta ta tapi untuk Apa? jawabku heran

Ibu kepengen saja, katanya pengen dimaafkan jawab Ibu ketus sekali, aku hanya mengangguk.

sudah lama Ibu tidak mendapatkan hadiah dari orang yang sayang sama Ibu bahkan anak sendiri juga tidak pernah memberikannya ke Ibu jawab Ibuku ketus yang membuat aku tertegun dan malu.

Baik bu…. jawabku sambil menunduk.

Ibu harap kamu benar-benar membelikannya ucap Ibuku yang kujawab hanya dengan anggukan yang penuh dengan rasa takut. Aku bergegas pergi meninggalkan Ibu, tanpa kusadari koper yang aku pegang masih ditangan kananku.

kamu mau letakan koper itu? Atau nanti malam meletakan Ibu didalam liang kubur ucap Ibuku, kulihat tanganku memegang koper bodohnya aku ini dan kemudian menoleh ke arah Ibu. Tetap dan masih saja Ibuku membuang mukanya. Huh andai saja aku bisa menangkap mukannya.

Kuletakan koper dan aku bergegas menuju garasi, mempersiapkan Revi dan melesat tanpa batas menuju kampus. Dasar ibu, oke aku tahu aku salah, tapi kalau disuruh beli cincin, uang darimana coba? Belum lagi harga cincin ini berapa? Ya sudahlah, aku tidak mau Ibuku kenapa-napa. Cuma ibu yang sering mendengar keluh kesahku selama ini. Romo? SIBUK!

Bersambung…..