Cinta Itu Buta Part 9

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20Part 21

Cinta Itu Buta Part 9

Start Cinta Itu Buta Part 9 | Cinta Itu Buta Part 9 Start

PART IX​

Setibanya di Kota Batu Malang kami langsung menuju hotel tempat kami menginap. Kami menginap di Amartahills Hotel and Resort yang teletak di kota Batu, 700 meter dari Kusuma Agrowisata dan 1,3 km dari Jatim Park 1. Setelah selesai chek in kami kami langsung menuju kamar hotel.

“Akhirnya sampai hotel juga.” Gumamku sambil membuka pintu kamar hotel.

“Sayank…..!” Ucap Ocha kaget sambil mendekap mulutnya dengan kedua telapak tangannya.

“Sayank, suka?” Tanyaku.

Ocha hanya diam tak menjawab dan memelukku sambil menangis. Kubalas pelukannya dengan sangat erat, kubelai rambutnya, kuusap punggungnya.

“Sayank, kok nangis?”

“Hiks… Hiks…” Isaknya mempererat pelukannya.

“Sayank, sudah ah! Sayank, jangan nangis terus!” Ucapku sambil mengusap air matanya.

“Hiks… Hiks… Makasih banyak, sayank.”

“Suka?”

“Banget, yank.”

“Tuh ada bebeknya, di atas kasur!”

“Kamu kok, dodol seh yank, itu angsa yank! Bukan bebek.”

“Bebek.”

“Sayank loh! Bentuknya aja sudah beda, itu angsa! Warnanya putih, cantik kayak aku.”

“Bebek.”

“Ihhh… Pacalku, lek dodol-dodol gini, lomantis banget.”Ucapnya manja.

“Nih bebek warna putih.” Ujarku sambil memperlihatkan foto bebek berwarna putih yang aku search di google lewat handphone.

“Aaauuww…. Sakit yank.” Teriakku kesakitan.

“Hihihi… Abis ngegemesin.”

“Sakit, yank.”

“Uuuuhhhh…. Tatian..”

Kali ini aku kesakitan bukan karena dicubit atau digigit tapi karena Ocha meremas penisku dibalik celana.

“Tauk ah.” Ucapku sembari merebahkan diri di atas kasur sambil mengelus kemaluanku dibalik celana.

Ocha menghampiriku yang sedang rebahan di tepian kasur dengan kaki yang menggantung di lantai. Ocha berlutut dan membuka ikat pinggang dan resleting celanaku, diturunkannya celana panjangku beserta celana dalamnya sekaligus.

“Tatian dedek, tatet ya.” Ucapnya manja sambil mengelus batang kemaluanku.

“Aaaahhh…. Yank!” Desahku.

Tangan Ocha bergerak membelai pahaku, menggenggam batang penisku dan mulai mengocok dengan pelan.

“Yank…! Hmmmpp…” Aku mendesah menikmati kocokan Ocha di batang penisku.

“Ooouucchhh… Yank, enak banget yank, aaaahhhh….” Otot pahaku mengejang, sensasi hangat menjalar di tubuhku ketika lidah Ocha menyentuh ujung penisku, menjilatnya dengan pelan, menyusuri seluruh batang penisku sampai ke testis dan pangkal pahaku. Bibirnya bergerak liar mengeksplor selangkanganku.

“Hssssssshhh…. Enak banget, yank.”

Aku menggelinjang merasakan penisku masuk kedalam mulutnya. Kepalanya naik turun dengan perlahan saat mengulum batang kejantananku dan sesekali memainkan buah zakarku.

“Terusin yank, Arrgghhhh…! Enak banget yank, hisap yank, Ouuuchhhh….!” Racauku.

Aku yang sudah tidak tahan langsung bangkit dan menarik tubuhnya untuk rebahan di atas kasur. Kudekap lembut tubuhnya, kukecup keningnya dan secara perlahan kecupanku turun dari kening, ke kedua matanya, turun ke hidung dan kucium lembut bibirnya, kuhisap dan kukulum bibirnya dengan perlahan, kunikmati setiap inci kelembutan bibirnya, kugigit pelan bibir bawahnya.

Kulepas ciumanku dari bibirnya terlihat matanya terpejam, kujilat daun telinganya dan secara perlahan jilatanku turun ke leher jenjangnya. Kujilat lehernya dengan ujung lidahku secara perlahan dan kembali kucium bibir tipisnya kami berpelukan semakin erat dan berciuman semakin intens, saling memagut dengan liar, tangannya bergerak dengan liar ketika merasakan dadanya kuremas dibalik bajunya. Ciuman kami semakin liar membuat kepala kami yang tadinya hanya bergerak lembut sekarang bergerak cepat dan tak beraturan.

Kutarik ujung bajunya keatas sehingga terlihat payudaranya yang masih tertutup bra berwarna cream. Kucium perutnya dan memainkan lidahku di pusarnya dan secara perlahan kecupan dan jilatanku naik menuju belahan dadanya.

“Ahhhhh… Yank! Buka.” Ucapnya sambil mengangkat bajuku ke atas perut.

Segera kubuka bajuku dan dengan cepat tubuh kami berdua sudah telanjang bulat tanpa ada sehelai benang pun yang menempel di tubuh kami.

“Sayank, kamu seksi banget.” Ucapku.

“Ih, gombal!” Ucapnya dan terlihat wajahnya memerah.

Kembali kucium dan kukulum bibir tipisnya kemudian menyasar ke arah dagu dan leher membuat tubuhnya menggelinjang dan bergerak semakin liar, desahannya semakin terdengar jelas.

Kusentuh payudaranya dengan sangat lembut, kuraba dengan gerakan memutar lalu menyekanya ke arah pinggang bawah ketiak. Kukecup memutar payudaranya, kukulum dan kuhisap puting susunya sambil tetap memainkan ujung lidahku pada puting susunya. Kuremas dan kuhisap kedua payudaranya secara bergantian dan terkadang kugigit pelan puting susunya.

“Hiisaaapp yang kuat, yank…! Ouuchhh… Enak banget yank, dinenenin.”

Ciumanku secara perlahan turun menuju perutnya dan lidahku bermain di pusarnya lalu secara perlahan turun ke arah vaginanya.

“Sayank, mau ngapain? Ouucchh… Yank.” Ucapnya meracau.

Tak kupedulikan ucapannya dan dengan cepat kujilati belahan vaginanya, kubuka belahan vaginanya kujilat dan kukulum klitorisnya, lidahku bermain-main dibelahan vaginanya membuat tubuhnya menggelinjang tidak beraturan sambil kedua tanganya menekan kepalaku.

“Aaaahhhh…. Aahhhhh…. Hmmmmmppp…..”

Desahannya berbaur menjadi satu dengan jilatanku di vaginanya. Ocha menggerakkan pinggul dan pantatnya mengimbangi gerakan kepalaku yang naik turun menjilat vaginanya.

“Auuuchhh… Yank! Aku gak tahan!” Ucapnya sambil tanganya menekan kepalaku sehingga semakin tenggelam ke selangkangannya, punggungnya melengkung, pantatnya bergerak naik menyongsong bibirku yang masih terus menjilati vaginanya.

“Ooucchhhhh… Yank! Aku pipis….! Arrrhhhggghhhh…” Tangannya menekan kepalaku dan meremas rambutku.

Terlihat Ocha sangat puas dan menikmati orgasme pertamanya.

“Enak banget, yank.” Ucapnya dengan napas yang terengah-engah.

Kutindih tubuhnya sambil menggesek kan penisku di vaginanya yang telah basah secara perlahan kakinya terbuka. Kugesek kan penisku dan secara perlahan penisku mencoba menerobos masuk ke lubang vaginanya.

“Aaakkhhhh…” Desah kami bebarengan ketika penisku mulai memasuki lubang vaginanya.

“Ooouuucchhhh… Yank…! Terusin yank…! Aaaarrhhhh…” Racaunya.

Suara desahan dan lenguhanya membuatku bersemangat untuk menancapkan kenikmatan di lubang vaginanya dan kini pinggulnya bergoyang kekanan dan ke kiri mengikuti arah sodokan penisku yang semakin lama semakin cepat menusuk vaginanya.

Kulumat bibir tipisnya, kugoyang pantatku lebih cepat. Kurangsang setiap saraf kewanitaanya.

“Ouuuchhhh… Yank! Aku pipis lagi….! Arrrggghhhh…” Matanya melotot ke atas, tanganya mencengkeram erat punggungku dan kakinya begitu kuat menekan pinggulku.

Kedutan di otot-otot vaginanya terasa mencengkram penisku membuatku tak tahan. Aku mendorong penisku lebih dalam ke vaginanya dan mempercepat sodokan penisku.

“Yaaankkk….! Aku gak tahan…! Arrrggghhh…” Ucapku sambil mencabut penisku dan mengocoknya.

Dengan cepat tangannya meraih batang penisku dan mengocoknya.

“Keluarin, yank!” Ucapnya sambil mempercepat kocokannya di batang penisku.

“Arrggghhhhh….” Erangku bersamaan dengan muncratnya cairan spermaku di atas perutnya.

“Oooohh… Yank! Enak banget!!” Ucapku sambil tersenyum puas padanya.

“Banyak banget yank, keluarnya.” Ucapnya menatap cairan spermaku yang tumpah di tangan dan perutnya.

“Kan, sudah lama gak keluar, yank.” Jawabku dengan napas yang masih ngos-ngosan.

“Sayank, ambilin tisu di tasku!” Ucapnya.

Aku segera bangkit mengambil tisu dan membersihkan sperma yang meleleh di tangan dan perutnya.

“Loh, bebeknya rusak.” Ucapku sambil membersihkan bekas sperma di kemaluanku dengan tisu.

“Itu angsa yank! Tauk ah…! Sini yank, peluk!?” Ucapnya manja.

Aku berbaring disebelahnya, memeluknya sambil membelai rambutnya.

“Cepet amat tidurnya.”Gumamku.

Kupandang wajahnya terlihat sangat damai, ku belai pipinya, kukecup keningnya. Aku suka senyuman manisnya, sikapnya yang apa adanya, gelayut manjanya, aku suka semua yang ada dirinya.”Aku ingin mencintaimu dengan sederhana.”

Bersambung

END – Cinta Itu Buta Part 9 | Cinta Itu Buta Part 9 – END

(Cinta Itu Buta Part 8)Sebelumnya |Bersambung(Cinta Itu Buta Part 10)