Cinta Itu Buta Part 8

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20Part 21

Cinta Itu Buta Part 8

Start Cinta Itu Buta Part 8 | Cinta Itu Buta Part 8 Start

POV Ocha

Surabaya, 19 September 2009

Duh nih anak sudah ditelpon puluhan kali juga, tetep aja gak bangun. Mana sudah jam 7 lagi.

”Dek, anterin mbak ke rumah Alvin.”

“Loh, katanya Mbak Cha. Dijemput Mas Alvin?” Tanya balik adekku bingung.

“Alvin masih tidur kayaknya! Dari tadi ditelpon gak diangkat.”

“Hihihi… Mas Alvin ditelpon ya gak mungkin bangun mbak! Orang mas Alvin kalau tidur kayak orang mati.” Gurau adekku meledek Alvin.

“Alvin belum dateng Cha? Katanya mau berangkat jam 8 kalian.” Tanya Mama.

“Masih tidur kayaknya Ma, makanya ini Ocha minta anterin adek kerumah Alvin.”

“Yuk mbak udah siap nih! Aku gak usah ganti baju ya mbak, orang cuman nganterin doang kan?” Tanya Adek.

“Iya, Dek.”

“Tak tunggu di mobil ya, Mbak! Sekalian manasin mobil.” Ucap Adekku berlalu meninggalkanku.

“Ma, Ocha berangkat dulu ya.” Sambil menyalim tangan mama.

“Iya mbak hati-hati ya, kalau sudah sampai malang kabarin mama. Bilangin si Alvin nyetirnya jangan ngebut!” Pesan mama.

“Iya Ma, Ocha berangkat ya. Assalamualikum.”

“Waalaikumsalam.”

Setelah pamit dengan mama, aku bersiap-siap menuju mobil dan berangkat diantar adek menuju rumah Alvin. Selama dalam perjalanan aku masih mencoba menghubunginya beberapa kali sampai akhirnya aku menyerah.

“Sudah ditelpon puluhan kali juga tetep aja gak bangun.” Omelku dongkol.

“Mas Alvin gak mungkin bangun lah mbak orang kalau tidur kayak orang mati hihihi…” Celetuk adekku.

“Tauk, nih anak kalau udah tidur ampun deh.”

“Mbak Cha, emang kapan sih jadiannya sama Mas Alvin kok tau-tau udah pacaran?”

“Waktu kamu sama mama ke Jombang.”

“Ohhhh… Kok mau ya mas Alvin sama Mbak Ocha? Pasti Mbak Ocha ancem ya?”

“Adeeeekkkkk….” Teriakku sambil mencubit lengannya.”

“Aduh sakit mbak.”

“Biarin, sapa suruh godain kakaknya!”

“Tapi aku seneng loh mbak, kamu jadian sama Mas Alvin.”

“Emang kenapa?”

“Gakpapa mbak, seneng aja! Kok gak dari dulu sih, kalian jadian?”

“Gak tau Dek. Mungkin baru sekarang ditakdirinnya.”

“Padahal Mbak Ocha sudah suka sama Mas Alvin sejak lama kan?”

“Ihhh sok tau!”

“Ya taulah mbak, aku ini adekmu, Mbak! Mbak, ini parkir dimana ya?”

“Berhenti di depan pagar aja, Dek! Kan kamu langsung pulang.”

“Iya, Mbak.”

“Dek, hati-hati ya pulangnya jangan ngebut! Kamu langsung pulang, kan?”

“Iya, kakakku tersayang.”

“Yo wes, nek gitu. Muuuaacchhh… Muuuaacchhh..” Cipika-cipiki.

“Mbak Ocha salam buat Mas Alvin.” Teriaknya sesaat aku turun dari mobil.

Ting… Tong… Ting… Tong…!!

Ting… Tong… Ting… Tong…!!

“Iya sebentar.” Teriak seseorang dari dalam rumah.

“Loh, Bik Ijah!”

“Eh, Neng Ocha. Bibik kangen banget sama Eneng.” Ucap Bik Ijah.

“Assalamualaikum, Bik.” Sambil menyalim tangan Bik Ijah.”

“Waalaikumsalam, Neng.” Ucapnya sambil tersenyum.

“Bibik kapan dateng?”

“Tadi subuh, masuk Neng.”

“Iya Bik! Alvin nya masih tidur ya, Bik?”

“Iya neng semenjak dateng. Bibik belum ketemu sama Mas Alvin.”

“Oh…! Mama ada Bik?” Tanyaku sambil berjalan masuk kedalam rumah.”

“Ada neng di belakang, mau bibik panggilin Ibu, Neng?”

“Gak usah, Bik! Makasih.”

“Itu Ibu, Neng!”

“Eh, Ocha.” Ucap Mama Alvin.

“Assalamualikum, Tante.” Ucapku sambil menyalim tangan Mama Alvin.

“Waalaikumsalam, Alvin masih tidur Ocha. Sudah tante bangunin berkali-kali loh, tetep aja gak bangun.” Ucap Mama Alvin sedikit agak kesal.

“Hihihi…! Tante kayak gak tau Alvin aja. Ocha ke kamar Alvin dulu ya Tante.”

“Iya Cha, kalau masih gak bangun juga, cipratin aja pakai air.”

“Jangan atuh, Bu! Kasian Mas Alvinnya, kalau dicipratin pakai air.” Saut Bik Ijah.

“Tuh anak kesayangan dibelain sama bibik.” Ucap Mama Alvin.

“Eneng mau minum apa, biar sekalian bibik bikinin.” Ucap Bik Ijah.

“Gak usah repot-repot Bik, makasih. Ocha ke kamar Alvin dulu ya.”

“Hiiiihhh…! Nih anak emang kok.” Gerutuku.

Lah nih anak tidur model apaan coba? Nungging sambil meluk guling.

“Sayank, ayo banguuunnn….!” Teriakku sambil loncat-loncat di atas kasur.

Karena aku terlalu bersemangat loncat-loncat di atas kasur aku kehilangan keseimbangan dan terjatuh mendorong tubuh Alvin yang lagi tidur nungging di tepi tempat tidur.

“Upss!”

Back To Alvin

Gedebuk!! Suaraku terjatuh dari kasur atau lebih tepatnya gelundung.

“Ya Allah…” Ucapku kesakitan karena terjatuh dari tempat tidur.

“Sayank, maaf gak sengaja.” Ucapnya dengan wajah merasa bersalah.

“Ya Allah yank, kamu kalau bangunin aku gak pakai cara ekstrim gak bisa ta yank?” Ucapku kesal.

“Maaf yank gak sengaja tadi aku loncat-loncat di atas kasur terus jatuh nibani kamu eh kamunya gelundung.” Ucapnya sambil membantuku berdiri dan naik keatas kasur.

“Kok gak sekalian yank, kamu bawa pisau terus tancepin ke perutku biar gak bangun sekalian.” Ucapku masih kesal karena memang benar-benar sakit jatuh dari tempat tidur.

“Maaf yank, aku gak sengaja! Sayank kok jadi marah? Kan aku gak sengaja yank.” Ucapnya dengan mata berkaca-kaca dan tak lama kemudian menangis.

“Loh, sayank. Kok nangis, kan aku yang jatuh?”

“Iya, aku salah, maaf! Hiks… Hiks…!” Isaknya sambil berjalan menjauhiku dan duduk di pojokan tembok sambil memeluk lutut dan menangis.

“Lah, malah nangis dipojokan.” Ucapku sambil berjalan menghampirinya.

“Sayank, maaf ya! Aku gak marah kok sayank, cuman sedikit kesel aja. Sakit soalnya yank, jatuh dari tempat tidur.”

“Hiks… Hiks… Sana aku mau disini aja diem dipojokan! Ngomong sama tembok.”

[email protected]#$#%$#^^$&%&*&*()”

Kubelai rambutnya dan mencium kepalanya. “Maaf ya sayank, sini peluk! Kalau nangis, ntar maskara sama bedaknya luntur, loh.”

“Gak mau, kamu jahat sukanya marah-marah.”

“Enggak yank, aku gak jahat! Kan aku sayang sama kamu.”

Haduuhh… Yang salah siapa? Yang minta maaf siapa? Yang jatuh kesakitan siapa? Yang nangis siapa?

PASAL 1

Ayat 1 : Cewek selalu benar.

PASAL 2

Ayat 2 : Kalau cewek salah, lihat kembali pasal 1 ayat 1.

“Sayank…!” Panggilku.

“Minta maaf dulu.” Rajuknya.

“Iya, maaf ya sayank, aku salah!”

“Gendong!” Rengeknya.

“Iya sayankku.” Dan aku pun menggendong nya naik ke atas tempat tidur.

Wanita adalah mahkluk paling rumit yang diciptakan Tuhan, bahkan lebih rumit dari rumus Einstein E=MC². Hanya Tuhan dan dirinya sendiri lah yang mampu mengerti.

“Sayank, buruan mandi udah jam 8 loh, katanya mau berangkat jam 8.”

“Iya sayank, ini mau mandi.” Ucapku sambil memegang kepala yang pusing karena shock, campur aduk, entahlah kayak es campur rasanya.

“Katanya mau mandi, kok masih duduk! Hihihi… Lucu rambutnya kalau diginiin jadi Alvin kesetrom.” Ucapnya cekikikan sambil memainkan rambutku.

Belum ada 5 menit nangis eh sekarang sudah ketawa, aneh kan?!

“Iya sayank.”

Dan aku pun bergegas menuju kamar mandi. Sambil menyabuni badan di dalam kamar mandi sembari berpikir keras mencari logika yang tepat tapi tetap juga tak menemukan.”Lama-lama aku makan juga ini sabun.” Gerutuku.

Selesai mandi aku melihat di atas tempat tidur sudah tertata rapi. Baju, celana panjang dan celana dalam yang akan kukenakan, bahkan beserta jam tangan. Semuanya sudah disiapkan.

“Amazing.” Gumamku.

Waduh sudah jam 8.30 untung semalem sudah packing. Setelah selesai menyiapkan semuanya aku pun bergegas untuk turun ke bawah dan berpamitan untuk berangkat ke Malang.

“Bik Ijah!” Ucapku sambil memeluk Bik Ijah.

Bik Ijah adalah asisten rumah tangga yang bekerja di rumahku semenjak aku kecil. Sudah kuanggap seperti Ibu kedua bagiku.

“Bibik kangen banget sama Mas Alvin kepikirin terus.” Ucap Bik Ijah sambil memeluk dan mengelus rambutku.

“Bibik kapan dateng? Kok gak telpon dulu? Kan bisa Alvin jemput, Bik.”

“Subuh tadi! Mas Alvin pasti masih tidur. Bibik gak tega banguninnya.”

“Kangen sama Bibik.” Ucapku masih memeluk Bik Ijah.

Sudah lama aku tak bertemu dengannya ada mungkin hampir setahun aku tak bertemu dengan beliau. Bik Ijah meminta ijin untuk pulang kampung dikarenakan cucunya tidak ada yang mengurus.

“Mas Alvin sarapan dulu! Itu sudah dimasakin nasi goreng sama Neng Ocha!” Ucap bi Ijah.

“Iya, Bik.” Ucapku sambil melahap nasi goreng.

“Mas Alvin jaga Neng Ocha ya mas, jangan buat Neng Ocha sedih!”

“Huum.” Jawabku seadanya.

“Neng Ocha sayank banget loh, sama Mas Alvin. Jarang loh mas, ada wanita cantik yang perhatian kayak Neng Ocha.” Ucap bibik masih membahas Ocha.

“Iya, Bik.”

“Neng Ocha Atos Gaduh Kabogoh?” Tanya Bik Ijah.

“Bik ngomong opo toh Bik? gak paham Bik!”

“Bibik hilap mas hihihi…! Maksud bibik, Neng Ocha. Apa sudah punya pacar, Mas?”

“Sudah, Bik! Ini pacar nya, lagi bibik aja ngobrol.”

“Alhamdulillah, bibik seneng kalau si eneng pacaran sama Mas Alvin.”

“Bik, aku berangkat dulu ya.” Ucapku sambil menyalim tangan Bik Ijah.

“Hati-hati dijalan mas Alvin!”

“Iya, Bik. Mama sama Ocha kemana, Bik?”

“Ada di depan, Mas.”

“Aku berangkat dulu ya, Bik! Assalamualaikum.”

“Waalaikumsalam.”

Setelah melahap satu piring nasi goreng dan berpamitan dengan Bik Ijah aku bersiap untuk berangkat dan berpamitan dengan mama.

“Ma, Alvin berangkat!”

“Iya sayang, hati-hati dijalan! Nyetirnya jangan ngebut, sama jangan lupa baca shalawat Nabi!”

“Iya, Ma. Assalamuaikum.” Sambil menyalim tangan mama dan mencium pipi mama.

“Waalaikumsalam.” Ucap mama.

“Tante, Ocha berangkat ya.” Ucap Ocha berpamitan.

“Iya sayang, kalau Alvin nakal jewer aja telinganya!”

“Iya, Tante. Nanti kalau Alvin nakal Ocha jewer telinganya biar panjang, hihihi…! Assalamuaikum, Tante.”

“Waalaikumsalam.”

Selama diperjalanan sambil tetap memperhatikan jalan, kulirik Ocha terlihat wajahnya sangat ceria.

“Sayank, ceria amat mukanya.”

“Seneng diajak jalan-jalan sama ayank.”

“Ih, siapa juga yang ngajak jalan-jalan? Orang aku ke Malang, mau kerja.”

“Loh, gak jalan-jalan ya?” Ucapnya dengan wajah yang sangat polos dan lucu.

“Enggak, kan aku ngajak sayank, biar ada temennya aja.”

“Sayank, kamu kok jahat sih? Padahal aku sudah seneng loh, diajak jalan-jalan ke Malang.”

“Lagian siapa juga yang mau ke Malang? Orang kantor kliennya di Lawang bukan di Malang.”

“Ya udah, aku mau nangis aja kalau gitu, kamu jahat.”

“Hahaha… Bercanda sayank, iya jalan-jalan ke Malang, kok! Tapi ke Lawang dulu.”

“Hore! Jalan-jalan ke Malang.” Ucapnya kegirangan.

“Aku kemarin booking hotel di daerah Batu Malang, yank.”

“Iya.” Ucapnya sambil menguap.

“Sayank istirahat gih, ngantuk ya? Daritadi nguap terus gitu.”

“Huum yank, kissnya mana? Biar nyenyak tidurnya.” Ucapnya manja.

“Muaachhh…” Mencium tangannya.

Setelah menempuh 2 jam perjalanan akhirnya kami tiba di Lawang.

Lawang adalah sebuah kecamatan di kabupaten Malang, Jawa Timur.

“Sayank, sampai mana? Maaf ya sayank, tidurku lama ya?”

“Ini dah mau sampai kantornya, yank.”

“Emang kantornya, di mana?”

“Di Lawang, yank.”

“Emang sayank tau alamat kantornya?”

“Ini udah sampai.” Jawabku sambil menepi dan memarkirkan mobil.

“Kantornya, kok. Kayak rumah, yank?”

“Ini memang rumah, yank.”

“Loh, katanya tadi. Mau ke kantornya?”

“Ya, ini sudah sampai kantornya.”

“Ya, apa sih yank? Tadi katanya ini rumah?” Tanyanya kebingungan.

“Iya, ini memang rumah.”

“Terus kantonya di mana?” Ucapnya kebingungan sambil melihat daerah sekitar mencari lokasi kantor.

“Sayank, tolah-toleh cari apaan?”

“Cari kantornya, yank.” Jawabnya dengan muka polos.

“Hahaha… Ini tuh rumah yang dibuat kantor yank. Kamu kok oneng seh yank.”

“Tauk ah gelap, bencekno.”

“Hahaha… Tok… Tok… Tok… Ada orang nya gak?” Ucapku sambil mengetuk kepalanya.

“Gak ada, orangnya lagi tidur.”

“Hahaha… Yuk turun!” Ajakku.

“Eh iya yank, ini ada plang namanya.”

“Hmmmm.”

“Tadi di mobil gak keliatan plang namanya makanya aku bingung.”

“Oneng.” Ejekku.

“Biarin oneng-oneng gini kamu juga cinta weekk…!”

“Ih, siapa bilang aku cinta sama kamu?”

“Loh, enggak ya?”

“Enggak cinta yank, tapi cinta mati.”

“Gombal.”

Setelah selesai meeting dengan klien, kami pun melanjutkan kembali perjalanan.

“Sayank, mau ke kebun teh? Mumpung deket loh dari sini.” Ajakku.

“Mau, aku gak pernah ke kebun teh.”

“Makan siang di kebun teh aja ya kalau gitu?”

“Huum, di kebun teh ada apaan, yank?”

“Ada ulat yang naik daun teh sama bilang pucuk, pucuk, pucuk.”

“Ayank loh, lak mesti bencekno.”

“Dibilangin kok gak percaya.” Jawabku dengan wajah sok serius.

“Auk ah gelap.”

Kebun Teh Wonosari Lawang Jawa timur merupakan agrowisata perkebunan teh seluas 1.144 hektar dan memiliki panorama keindahan alam yang luar biasa. Kebun ini berada di dataran tinggi, dengan rentangan 950 mdpl hingga 1.250 mdpl. Kebun agrowisata ini merupakan satu-satunya kebun teh di Jawa Timur yang dikelola sebagai destini wisata.

Setelah membayar tiket masuk sebesar 12.000/Orang aku langsung memarkirkan mobil ke tempat parkir yang sudah disediakan oleh pihak pengelola. Kami memutuskan untuk makan siang terlebih dahulu sebelum menikmati keindahan kebun teh.

“Sayank, mau makan apa?” Tanya Ocha.

“Soto daging, minumnya es teh manis.” Jawabku.

“Permisi, silahkan pesanannya!” Ucap waiters yang menghampiri meja kami dan menyodorkan menu makanan dan minuman sambil bersiap untuk mencatat pesanan kami.

“Mbak, makannya bakso sama nasi soto daging terus minum nya es teh manis sama teh tawar panas. Ucap Ocha.

“Baik mbak, ditunggu pesanannya.” Ucap waiters.

“Terimakasih, Mbak.” Ucap ocha.

“Sayank loh kok ngerokok terus sih.”

“Baru nyalain satu batang yank. Daritadi kan aku gak ngerokok sama sekali.” Jawabku.

“Hih, susah banget sih dikasih tau.”

“Sayank, gak suka lihat cowok ngerokok?”

“Enggak.”

“Ya udah, jangan dilihat, kan beres.”

“Iya, aku gak mau lihat kamu.” Rajuknya.

“Ya, ampun! Itu cewek cantik banget sih!” Ucapku.

“Sayank loh, di depanku masih berani liatin cewek lain.”

“Yang ngeliatin cewek lain itu, siapa? Kan aku bilang itu cewek cantik banget. Lah ini cewek nya ada di depanku.”

“Iiihh, makasih sayank.”

“Tadi katanya gak mau lihat aku! Ngapain sekarang lihat-lihat?”

“Sayank, pernah dilempar sepatu sama cewek cantik?”

“Hahaha….”

“Permisi, pesanan nya!” Waiters datang dan meletak kan pesanan kami diatas meja.

“Terimakasih, Mbak.” Ucapku.

Setelah selesai makan kami berkeliling untuk menikmati keindahan alam wisata kebun teh.

“Hore! Kebun teh.” Ucap Ocha kegirangan.

“Sayank, tungguin!” Ucapku sambil berlari mengejar Ocha.

“Sayank, sini! Ini ada ulat yang naik daun teh! pucuk pucuk pucuk.”

POV Ocha

“Sayank kok berhenti disini?”

“Yok turun.” Ajaknya.

“Sayank lagi ngapain?” Tanyaku saat melihatnya sedang bersandar di kap mobil sambil memandang ke arah kebun teh.

“Gak lagi ngapa-ngapain yank.” Jawabnya.

“Terus ngapain disini?” Tanyaku kebingungan.

“Ngajak kamu liat sunset di kebun teh. Antimainstream kan!”

“Sayank loh ada-ada aja hihihi…”

“Yank tuh lihat mataharinya sudah mulai tenggelam.”

“Baru kali ini aku liat sunset di kebun teh, it’s cool.”

“Love you.” Bisiknya di telingaku.”

Kurasakan tanganku digenggamnya dengan sangat erat, menatapku dengan tatapan lembut sambil mendekatkan wajahnya mencium keningku.

“Just stay on my side, and hold my hand if i fall. Don’t leave me alone because i can’t live without your love. Ocha Putri Ayuni will you marry me?”

Aku yang mendapat kejutan seperti itu, membuatku tak mampu untuk berkata-kata. Aku hanya mendekap mulutku dengan kedua telapak tangan dan menjawabnya dengan anggukan.

Ini adalah suasana paling romantis yang pernah aku rasakan dalam hidupku.

“Sayank kok aku dikasih kartu ATM?” Tanyaku keheranan.

“Kemarin kan aku niatnya mau beliin kamu cincin yank tapi takutnya kekecilan atau kebesaran makanya aku kasih kartu ATM entar beli cincinnya sama aku, jadi sayank bisa milih yang sayank suka.”

“Sayank loh…” Ucapku dengan mata berkaca-kaca.

“Hehehe.. Aku gak romantis ya yank? Maaf ya.”

“Hiks… Hiks…..” Aku menangis sambil memeluknya. Dia adalah lelaki paling romantis di dunia.

Bersambung

END – Cinta Itu Buta Part 8 | Cinta Itu Buta Part 8 – END

(Cinta Itu Buta Part 7)Sebelumnya |Bersambung(Cinta Itu Buta Part 9)