Cinta Itu Buta Part 6

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20Part 21

Cinta Itu Buta Part 6

Start Cinta Itu Buta Part 6 | Cinta Itu Buta Part 6 Start

Hoaaam… Sambil menggerakkan badanku ke kiri dan ke kanan untuk merenggangkan otot-otot ku yang kaku.

Jam berapa sih sekarang? Kok rumah berasa sepi amat? Kuambil handphone ku disela-sela bantal. What the…

Last Love 1h ago

Missed Call (32)

19 New Massage

Aku langsung buru-buru menuju kamar mandi, ganti baju dan berangkat menuju rumah Ocha. Haduuhhh, kok bisa ya aku ketiduran lama banget? Ocha pasti marah nih.

Selama dalam perjalanan aku berpikir bagaimana caranya agar Ocha tidak marah. Apa aku beliin mie ayam aja ya!! Kan ada tuh mie ayam pinggir jalan deket rumah nya, itung-itung sogokan biar dia gak marah.

Kenapa harus mie ayam? Karena Ocha sangat suka sekali dengan Mie. Entah itu Mie Ayam, Mie Goreng, Mie Hotplate. Semua yang berbentuk Mie dia pasti suka.

Pucuk dicinta ulam tiba, ternyata penjual mie ayam nya masih buka. Langsung ku parkirkan mobilku di pinggir jalan dan turun untuk membeli mie ayam.

“Pak mie ayam bungkus satu.”

“Loh mas’e toh ternyata. Kok suwi ora rene mas? (Kok lama gak kesini?).” Ujar Bapak penjual mie ayam.

“Panjenengan apal toh pak kale kulo? (anda hapal sama saya pak?).”

“Loh yo apal toh mas, kan biasane mas’e iki rene karo mbak’e seng putih dukur ayu iku toh?! (Ya hapal lah mas kan biasanya mas nya kesini sama mbak nya yang putih tinggi cantik itu kan?!).”

Deg!

Aku hanya bisa tersenyum melihat ke arah Bapak penjual mie ayam tersebut. Kok bisa-bisa nya Bapak penjual mie ayam tersebut masih mengingat aku dan Cintia yang dulu sering kesini.

Kupandangi sekelilingku, tempat dimana aku dan dia dulu sering duduk dan makan mie ayam disini dan seakan semua kenangan tentang nya berputar di atas kepalaku. Aku masih sangat ingat dulu Cintia sering memintaku untuk mampir ke tempat ini.

“Yank entar mampir beli mie ayam di tempat biasanya ya.” Ucap Cintia.

“Tadi kan sudah makan yank. Sayank masih laper?”

“Kan tadi aku makan nya dikit yank. Mampir ya..ya..ya…” Ujarnya merayu

“Hihhh… Kamu kebanyakan makan mie entar keriting loh usus mu.”

“Loh kalau usus ku keriting terus ya apa? Entar belibet dong yank usus nya hihihihi…”

Sudah hampir setahun, tapi kenapa sampai sekarang setiap kali aku mengingat nya masih terasa sesak di hati?

“Bu’e ringkes-ringkes.” Suara Bapak penjual mie ayam menyadarkanku dari lamunan ku tentang nya.

“Mas’e iki mie ayam’me (Mas nya ini mie ayam nya).” Ucap Bapak penjual mie ayam sambil duduk di depan ku.

“Ngge pak pinten? (Ya Pak berapa?).”

“Mas nek jodoh ora nengdi kok, sampean ora usah kuwatir. Jodoh wes eneng seng ngatur (Mas kalau jodoh gak akan kemana kok. Gak usah khawatir semuanya sudah ada yang mengatur). Gratis mas mie ne.” Ucap nya sambil tersenyum.

“Loh Pak kok gratis?”

“Wes sampean gowo mas, penglaris terakhir ku sak durunge tutup (sudah mas nya bawak aja, penglaris terakhir sebelum tutup).” Ucap nya sambil tersenyum.

“Maturnuwun (terimakasih) loh pak.”

“Sami-sami mas. Ora usah dipikir mas.”

“Hahahaha… Opone (apanya) seng dipikir pak?’

“Aku yo tau enom mas (saya juga pernah muda mas).” Ujar nya sambil tersenyum.

“Ngge pun Pak monggo.” Aku pun berlalu meninggalkan Bapak penjual mie ayam.

Selama dalam perjalan menuju rumah Ocha entah kenapa dadaku terasa sakit seakan luka lama kembali terbuka menganga. Dulu dengannya aku sering ketempat penjual mie ayam tersebut. Karena Cintia seperti Ocha dia juga sangat suka sekali dengan mie.

Mengingatnya membuat perasaanku menjadi bercampur aduk. Kutepikan mobilku di pinggir jalan.

Arrrrrgggggg… Aku berteriak sekencang-kencang nya. Kupukul-pukul setir mobil dan menangis…. Ya aku menangis karena seakan aku masih tak terima berpisah dengan nya.

Ting….!

Kuambil handphone di dasboard mobil.

Sayankku masih bubu ya? Aku takut loh sendirian dirumah Hikss…

Good nite Honey, nice dream.

Tak kubalas pesan tersebut, ku usap air mataku dan melanjutkan perjalananku kembali menuju ke rumah Ocha.

Sesampai nya dirumah Ocha terlihat dia sedang membuka pagar rumah. Loh nih anak kok tau aku mau kesini? Padahal aku gak kasih kabar kalau mau kesini. Akupun langsung memasukkan dan memarkirkan mobil ku.

“Sayank…” Berlari memelukku yang baru saja turun dari mobil.

“Sayank kok bisa tau aku sampai?” Ucapku heran.

“Tau dong muaacchh..” Ucap nya sambil mencium pipiku.

“Tau darimana cobak? Kan aku gak ngasih tau?” Ucapku masih dengan air muka bingung.

“Felling.” Ucap nya sambil tersenyum.

“Kamu kok kayak paranormal aja yank.”

“Pasti bawak mie ayam kesukaanku kan.” Ucap nya sambil kegirangan.

“Yank seriusan ah tau darimana cobak kalau aku bawa mie ayam?” Dengan wajah penuh keherenan.

“Kan aku sudah pernah bilang sama kamu, apa sih yang aku gak tau dari kamu.”

“Iya Mbah dukun.” Ledek ku.

“Sayank pagar nya tutupin ya.”

Kututup pagar rumah nya sembari berpikir. Kok dia bisa tau ya? Masih menjadi pertanyaan besar buatku, bagaimana caranya dia bisa tau kalau aku mau datang? Malahan sudah di depan pagar rumah dan dia juga bisa tau kalau aku bawak mie ayam? Masak iya dia punya ilmu batin. Hmmmm… tauk ah gelap.

“Sayank kok cuman satu belinya?” Ucap nya sambil membuka bungkus mie ayam.

“Aku masih kenyang yank. Tadi dirumah makan banyak banget.”

“Oh… ini beli mie ayam nya dimana yank?”

“Di hatimu.” Ucap ku sembari mengodanya.

“Ihhh… Ditanyain beneran kok.” Ucap nya merajuk.

“Biarin abis nya aku tadi tanyak serius juga gak dijawab.”

“Kan aku udah jawab tadi.”

“Apaan? Felling maksudmu?”

“Hiihihihihi… Peluk dulu hayo baru tak kasih tau.”

Aku pun memeluk nya dari belakang kucium tengkuk leher nya sambil tanganku masuk kedalam kaos nya mengusap lembut perutnya, perlahan-lahan naik ke payudara nya, kutelusupkan tangan ku kedalam bra nya, kuremas pelan payudara nya dan terkadang kupilin puting nya.

“Ahhh… Sayank ih nakal.”

“Loh tadi katanya mau dipeluk.”

“Iiihhh.. Kan mau makan mie ayam sayank.” Ucap nya manja.

“Gak mau dipeluk nih ceritanya?” Bisik ku ditelinganya.

“Mau yank. Tapi gak pakai nakal. Kan mau makan mie ayam, entar kalau aku pengen gimana?”

“Pengen apa hayo?” Ucap ku menggodanya.

“Ihhh…. Ayank ah godain terus, udah aku mau maem mie ayam dulu. Sayank mau dibuatin kopi?”

“Mau yank. Yank aku ke ruang tamu ya mau ngerokok.”

“Yank pintu depan sekalian di kunci ya.”

“Iya sayank.”

Aku duduk di ruang tamu sambil mengambil sebungkus rokok yang berada di saku celanaku, membukanya lalu mengambil sebatang dan menyalakannya dengan pemantik api tua kesayanganku. Lalu menghisapnya dengan mata terpejam. Kurasakan nikmatnya racun nikotin mencumbui seluruh sistem tubuhku, kepalaku melayang, meletupkan sebuah bayangan yang melenakanku untuk sejenak.

Ku ambil handphone yang berada dalam kantong celanaku, kubuka foto kenangan bersamanya. Kulihat satu per-satu foto tersebut terasa sesuatu di dalam dada yang sangat menyesakkan. Rasanya ingin kurobek saja. Tapi aku tahu, merobek dan membuangnya akan sangat sia-sia. Perasaan yang sangat menyesakkan ini adalah sarang laba-laba yang akan datang lagi suatu saat nanti.

Satu-satunya cara untuk melenyapkannya adalah dengan membunuh laba-labanya. Kuhapus satu per-satu foto tersebut dan sampai pada foto terakhir, kupandang foto tersebut sambil mengambil napas panjang. Goodbye My Lover.

Setiap orang yang hadir, terkadang beberapa diantaranya hanya sekadar mengucapkan hello dan kemudian pada akhirnya pergi mengucapkan goodbye, beberapa diantaranya mungkin ada yang hanya sekadar lewat tanpa permisi, namun aku percaya pada akhirnya akan ada seseorang yang datang dan tinggal menetap di kediaman hati. Dia yang istimewa akan kalah dengan dia yang selalu ada.

“Sayank mana kopi nya tadi katanya dibuatin kopi?” Tanyaku sambil memeluknya dari belakang.

“Tuh di meja.” Tunjuknya.

“Makasih ya sayank.”

Kupererat pelukanku, kucium harum wangi rambut nya. Terasa tenang dan damai, tak terasa air mataku pun menetes. Maafkan aku yang selama ini tak pernah menganggapmu ada. Terimakasih kasih sudah hadir dalam hidupku.

“Sayank kok nangis.”Tanya nya sambil menoleh kearahku.

“Gakpapa sayank. Makasih banyak ya sayank.”

Ocha membalikan tubuhnya dan memelukku dengan sangat erat, pelukan penuh cinta dan tanpa tuntutan. Terasa air matanya menetes membasahi pundakku.

“Sayank.” Ku usap air matanya dan mencium kening nya. Kutatap wajah nya “Dasar cengeng.” Huahhh… tangisan nya semakin menjadi-jadi.

“Kamu kok jahat seh yank udah buat aku tiba-tiba sedih. Sekarang malah diledekin.”

“Hehehe…. iya iya maaf sayank. Udah ah jangan nangis lagi.” Ucapku sambil mengahapus air matanya.

“Sayank sini.” Ucap nya sambil mendekatkan wajah nya ke wajahku.

“Ochaaaaaaaaa…..” Teriak ku kesakitan karena hidungku digigit oleh nya.

“Hahahaha… Abis idung nya itu loh bikin iri hihihi…”

“Ya Allah yank sakit banget yank.” Sambil memegang hidungku yang memerah karena gigitan nya.

“Uhhhhh… Tatian atet ya hihihihi…” Ledek nya

“Sakit banget yank seriusan nih liat idungku sampek merah.”

“Hihihihi… Sini-sini sayank ku muuuachhh..” Mencium hidungku.

“Tauk… Sakit banget yank sumpah.” Ucapku sambil memegang hidungku.

“Kalau diginiin masih marah gak?” Ucapnya yang tiba-tiba jongkok mebuka ikat pinggang dan resleting celanaku.

“Sayank mau ngapain?” Tanyaku.

Diturunkan nya celana panjang ku sambil tersenyum melihat kearahku lalu dielus nya dengan lembut penisku yang masih tertutup celana dalam.

“Aaahhhh… Yank…” Racauku mendesah menikmati sentuhan lembut tangan Ocha.

Aku yang sudah tidak tahan dengan perlakuannya langsung melepas celana dalamku sendiri.

“Sayank kok dibuka?” Tanya nya.

“Abis digituin, kan aku gak tahan yank.”

“Aku lagi datang bulan loh sayank hihihi…”

“Lah sayank serius?” Tanyaku dengan wajah penuh kekecewaan.

“Iya sayank tadi sore waktu mandi kok ada darah di celana dalamku tak kira gara-gara kemarin itu ku masih berdarah eh ternyata lagi dapet hihihi…”

“Hihhh… sayank ah udah tau lagi dapet, gitu malah garain.”

“Wanita kalau lagi dapet libido nya meningkat yank.”

“Terus ini nasib nya gimana yank?” Ucapku sambil menunjuk kearah kemaluanku.

“Gimana hayo hihihihi…”

Digenggamnya batang penisku yang sedari tadi sudah tegang, dikocok nya perlahan dengan sangat lembut.

“Ahhhh… Yank katanya lagi dapet ahhh… terusin yank.” Ucapku meracau merasakan kenikmatan.

Dicium nya kepala penisku lalu dijilatinya lubang kencing ku memutar kesemua bagian kepala penis dan menurun pelan sampai ke bagian bawah buah zakar. Mata Ocha terus memperhatikan aku yang mulai keenakan.

Kepalanya naik turun dengan perlahan saat mengulum batang kejantanan ku dan sesekali memainkan buah zakar ku lalu lidahnya menjulur keluar dan dijilatnya mulai dari pangkal batang penis sampai ke ujung kepala penis dengan perlahan dan naik turun berkali-kali. Saat berada di kepala penis, lidahnya menari-nari di ujung lubang kencing sehingga memberikan sensasi yang sangat luar biasa. Sensasi geli dan nikmat menjadi satu.

“Oouuhhhhh… Enak banget yank hisap yank ahhhhh….” Racauku.

Ocha mulai memasukan kembali batang kejantananku kedalam mulutnya dan mulai menghisap sedalam mungkin. Lidahnya yang berada di dalam mulut bersentuhan langsung dengan batang bawah penisku sedangkan batang atas penisku bersentuhan langsung dengan rahang mulut atasnya. Lidahnya lalu menekan ke atas sehingga batang penisku seperti terjepit dimulutnya dan kemudiaan Ocha menggerakkan mulutnya naik dan turun.

“Arrrgghhhh… Yank aku gak tahan yank, mau keluar yank.” Namun Ocha tak menghiraukan dan tetap menggerakkan mulutnya naik dan turun, malah dengan tempo yang lebih cepat.

“Yank Arrrrggghhh…” Bersamaan dengan keluarnya sperma ku di dalam mulutnya.

Ocha yang kaget menerima semburan spermaku dimulutnya seperti tersedak namun tetap membiarkan aku mengeluarkan seluruh spermaku dan kemudian bangkit mengambil tisu yang berada di atas meja dan memuntahkannya.

“Sayank ihhhhh… Ketelen banyak loh.”

“Lah kan aku tadi udah bilang yank kalau mau keluar.”

“Gini ya yank rasanya sperma asin-asin gurih sama sedikit anyir gimana gitu.” Sambil mengelap mulutnya dengan tisu.

“Gak tau yank kan aku gak pernah nyobak hehehe…”

“Sayank puas?”

“Banget yank. Makasih banyak ya sayankku, sayank pinter banget sih bikin enak?”

“Kan biar jadi calon istri yang baik buat Muhammad Alvin Fernanda.”

“Sayankku rek Sweet banget sih, sini peluk.”

“Gak mau di peluk mau nya dinikahin.”

Aku langsung bangkit dari kursi dan dengan posisi berlutut memegang tangannya “ Ocha Putri Ayuni Will You Marry Me?”

“Sayank ada ya cowok ngelamar cewek nya sudah gak bawak apa-apa gak pakai celana lagi.”

“Eh iya hahaha…. Lupa makai celana yank. Hmmm… gak mau nih ceritanya?”

“Mau yank, mau banget tapi pakai dulu celananya.”

“Hahahah… Iya lupa yank.” Akupun bangkit dan memakai kembali celanaku.

“Yank… Yank… Kamu kok lucu banget sih hihihi…”

“Hehehe… Maaf ya sayank aku bukan cowok yang romantis ya?”

“Romantis banget malahan yank seumur-umur baru kali ini aku dilamar cowok gak pakai celana hihihi…”

“Hehehe…” Aku hanya bisa senyum nyengir sambil garuk-garuk kepala.

Tiba-tiba Ocha mengetuk-ketuk kepala ku.“Tuuukk…tuuukkkk…haloo..?? ada orang nya gak..??”

“Gak ada orang nya lagi keluar.” Jawabku.

“Loh kalau gak ada orang nya kok bisa jawab.”

“Hahahaha… Yang oon itu aku apa kamu seh yank?” Tanyaku

“Aku pinter wooo… Yang oon itu ayank.”

“Biarin deh oon-oon gini kamu ya cinta mati buktinya.”

“Iya ya yank. Kok bisa ya aku jatuh cinta sama cowok oon kayak kamu.”

“Ya ampun aku emang oon banget ya yank? Sampai segitunya banget.”

“Iya Muhammad Alvin Fernanda lelaki oon yang bisa membuatku jatuh hati berkali-kali.”

“Ihhh… Sayank sini peluk. Muaachh…” Memeluk dan mencium kening nya.

“Yank Bubuk yuk ngantuk.”

“Iya sayank yok ke kamar.”

“Gendong mau nya di gendong ayank sampai kamar.”

“Hihhhh… Manja.”

“Biarin weeekkk… Udah malam ikan bubu, Ocha juga bubu.” Ucapnya dengan nada yang sangat menggemaskan.

POV Ocha

Pagi ini aku terbangun dengan perasaan yang jauh lebih tenang. Jam di dinding kamar ini menunjukkan pukul 8 pagi, semalam aku bisa merasakan bagaimana hangat tubuhnya begitu sangat menempel di tubuhku. Aku ingin sekali bergerak untuk meregangkan otot-ototku yang kaku ketika aku tidur, tapi tangan yang sedang memeluk pinggangku ini begitu sangat posesif.

Lelaki yang tidur di sebelahku wajahnya sangat damai. Sepertinya aku tidak akan pernah bosan memandang wajahnya dalam kondisi apapun. Ku sentuh setiap bagian wajahnya dengan ujung jariku. Kedua alisnya yang lebat, bulu mata yang cukup tebal dan panjang, hidung yang sangat mancung, bibir menawan dan seksi, tulang pipi yang benar-benar maskulin. Bagaimana mungkin Tuhan begitu berbaik hati menciptakan lelaki ini dengan sangat sempurna dengan takaran pas sepertin ini.

“Sayankku bangun yuk sudah jam 8 loh.” Sambil mengusap lembut pipinya.

“Emmmm… kan hari ini aku gak ada kuliah yank.” Ucap nya masih dengan mata terpejam.

“Anterin ambil mobil di bengkel yank kan hari ini mobil ku sudah beres.”

“Emang udah di telpon orang asuransi yank?”

“Sudah yank kemarin dikabarin kalau hari ini mobil nya sudah bisa diambil.”

“Entar sayank pulang nya nyetir sendiri berarti?”

“Iya yank sekalian jemput mama sama adek di stasiun jam 11.”

“Oh iya mama pulang ya hari ini. Ya wes aku tak mandi dulu yank.”

“Handuk nya ambil yang baru yank dilemari.”

“Huum.” Ucapnya sambil berlalu menuju kamar mandi.

Kriiiiingggggg….. Kriiiiiiinggggg… Kriiiinggggg…..!!

Hmmm.. siapa sih yang telpon Alvin pagi-pagi gini? Ohh.. Gondes ternyata.

“Hallo, Assalamualikum.”

“Loh kok kayak suaranya mbak Ocha?” Jawab nya sedikit bingung.

“Ini emang Ocha Ndes Alvin nya lagi mandi.”

“Ohhh.. berarti semalem mas Alvin nginep dirumah nya mbak Ocha?”

“Iya… Ada apa Ndes entar tak sampein ke Alvin?”

“Enggak ada apa-apa sih mbak cuman entar agak siang mau ngajakin mas Alvin ngopi.”

“Ojok ngajak pacar ku aneh-aneh loh.”

“Wiiii pacar saiki, wah traktiran berarti ini nanti hehehe…”

“Minta Alvin Ndes hihihihi…”

“Gak aneh-aneh kok mbak Cha cuman ngajak ngopi doang sama mau ngasih barang pesenan nya mas Alvin.”

“Hmmm… barang apaan emang?”

“Ihhh kok kepo seh, tanyak mas Alvin dewe lah.”

“Oh… Wes wani saiki?”

“Hehehe… Guyon mbak Cha. Mas Alvin 2 minggu yang lalu pesen iphone mbak. Ini barang nya baru dateng kemarin.”

“Yawes entar tak sampein sama Alvin Ndes.”

“Makasih ya mbak Cha. Assalamualaikum.”

“Wallaikum Salam.”

Back To Alvin

Ayam, ayam, ayam, ayam….

Bebek, bebek, bebek, bebek…..

Ayam ketemu bebek hadap-hadap-pan salam-salam-man….

“Sayank ihhhh… pagi-pagi udah koplak hihihihi… Mana ada ayam ketemu bebek bisa salaman?” Saut Ocha.

“Loh dibilangin kok gak percaya ckckckck….”

“Auk… Ah gelap ayo berangkat yank aku udah cantik nih.”

“Ayo yank mobil nya juga udah aku panasin. Tuh mesin nya masih nyala.”

Selama dalam perjalanan aku masih memikirkan kejadian semalam. Bagaimana bisa Ocha tau aku mau datang? Malahan sudah berada di depan pagar rumah bersiap untuk membukakan ku dan juga dia bisa tau kalau beli mie ayam buat dia.

“Yank.” Panggilku.

“Iya sayank kenapa?”

“Sayank kemarin kok bisa tau sih aku mau dateng? Malahan sudah di depan pagar?”

“Hayooo… Masih penasaran ya?”

“Huum kok bisa yank? Jangan-jangan ayank punya ilmu kebatinan ya.”

“Punyalah makanya kamu jangan macem-macem karena aku pasti tau loh.”

“Sayank seriusan ah… Sejak kapan kamu punya ilmu kebatinan yank?”

“Sejak kapan ya emmmm hahaha…” Seakan tertawa puas.

“Lah di tanyain serius kok malah dibercandain sih.”

“Hihihi… Ya gak punya lah yank kamu kok aneh-aneh sih.”

“Terus kok bisa tau hayo?”

“Semalem itu kan aku mau keluar yank ngunci pagar rumah, nah pas aku di depan pagar aku kedengeran suara mobil mu. Kan aku hapal yank suara mobil mu.”

“Ohhh.. Terus kok bisa tau kalau aku bawak mie ayam?”

“Lah ayank lak dodol ya tau lah orang bungkus nya kamu pegang ditangan mu. Hihihi… Yank… Yank… Oneng mu itu loh.”

“Eh iya ya hahahaha… kok jadi oon gitu ya aku yank hehehe…”

“Emang semalem kamu mikirin apa sih yank kok pas dateng mukanya kusut gitu?”

Deg!!!

Aduh masak iya aku bilang mikirin Cintia kan gak mungkin. Maaf ya sayank kali ini aku harus berbohong sama kamu.

“Gak mikirin apa-apa yank cuman masih kaget aja kan kemarin aku bangun liat handphone banyak Missed Call dari kamu. Aku langsung mandi terus siap-siap langsung berangkat deh.”

“Sayank ih di telpon puluhan kali jugak, tetep aja gak bangun kalau sudah tidur.”

“Hehehe… Maaf ya sayank, masih marah nih ceritanya kan udah dibawain mie ayam.”

“Enggak yank. Malahan aku gak nyangka yank kamu belain dateng tengah malem pakai bawain mie ayam lagi, so sweet banget sih kamu yank.”

“Kan aku sayang yank sama kamu.”

“Makasih ya sayank sudah perhatian sama aku. Muuuachhh…” Mencium pipiku.

“Sama-sama sayank ku.”

“Oh iya yank tadi pagi Gondes telpon entar siang ngajak ngopi katanya sama mau ngasih barang pesenanmu.”

“Ohhhh….” Jawabku seadanya.

“Hiiihhh… Sayank loh handphone baru dipakai 4 bulan udah ganti baru lagi boros amat sih.”

“Hehehe… Aku butuh buat kerjaan yank.”

“Buat kerjaan apa buat maen game? Emang berapa harganya?”

“Lumayan yank, harganya 699 dollar US atau setara Rp 9,4 juta.”

“Kan mahal, sayank ah mesti konsumtif, selalu buang-buang uang.” Omel nya.

“Butuh buat kerjaan sayank buat editing sama rendering.”

“Gitu kemarin ngajak nikah! Emang mau di kasih makan Iphone anak nya.”

“Hahaha sayank ah seriusan yank buat kerjaan. Kan kalau sudah nikah ayank yang ngatur keuangan lagian tabungan ku juga masih banyak yank. Sayank mau dinikahin bulan depan?”

“Gombal sana nikah sama iphone.” Rajuknya.

“Aku serius yank. Entar malem aku kerumah ya ngelamar kamu di depan mama mu.”

“Sayank seriusan mau ngelamar aku?” Tanya nya dengan wajah memerah.

“Sejak kapan aku bercanda sama kamu yank.” Ucapku dengan wajah serius.

“Sayank lulus kuliah dulu baru lamar aku. Aku tahun depan lulus loh yank.”

“Lah hubungan nya apa yank sama lulus kuliah? Toh aku sudah kerja juga kan.”

“Sayank… Melihat anak lulus kuliah adalah suatu kebanggaan buat orang tua. Emang sayank gak mau buat mereka bahagia?”

“Mau lah sayank. Emang kalau nikah dulu ada masalah? kan aku tetep nerusin kuliah.”

“Aku terserah kamu yank, kan aku tinggal nunggu.”

“Oke.”

“Ihhhh… Oke doang tauk ah gelap.”

“Loh kok ngambek sih hahahaha… Sayank bbm Gondes dong tanyain mau ngajak ngopi dimana?”

Sesampainya di bengkel Asuransi, aku langsung memeriksa mobil Ocha dan ternyata pengerjaan nya bagus rapi.

“Sayank kata Gondes ketemu di Coffee Shop daerah Darmo sudah di share location sama dia di bbm mu.”

“Iya sayank, sayank jemput nya hati-hati ya. Kalau nyetir yang fokus.”

“Siap bos.”

“Siap-siap apaan buktinya kemarin tong sampah diem dipinggir jalan ditabrak.”

“Hehehe… Tong sampah nya sih udah tau aku mau parkir eh gak mau minggir hihihi…”

“Hadeehhh…. sejak kapan tong sampah bisa jalan yank.”

“Sayank ini mama sudah sms katanya sudah mau sampai stasiun Gubeng aku berangkat ya sayank.”

“Iya hati-hati dijalan, Gak usah ngebut nyetir nya.” Ucapku mengingatkan.

“Iya… Sayank jangan lupa sarapan loh. Dada sayank muuuaachhh.” Memeluk dan mencium pipiku.

Akupun langsung bergegas menuju Coffee Shop yang di maksud oleh Gondes. Kupacu mobil ku melewati hiruk-pikuk kota Surabaya. Kebetulan tempat nya tidak begitu jauh dari bengkel asuransi mobil Ocha, hanya butuh waktu sekitar setengah jam untuk sampai disana.

Setelah memarkirkan mobil akupun langsung masuk kedalam Coffee Shop tersebut. Terlihat Gondes sedang duduk menungguku dan asyik memainkan Smartphone nya.

“Kaet mau (dari tadi) Ndes?” Sapaku.

“Barusan mas belum ada 10 menit aku sampek. Kopi ku aja belum dateng.”

“Kamu kok cok banget sih Ndes ikut-ikut tan beli Iphone 4.”

“Kan order nya kemarin sekalian mas.”

“Jadi kembaran aku sama kamu Hmmm…”

“Kan kamu panutanku mas hehehe…”

“Panutan gundulmu Ndes.”

“Mana Iphone ku?”

“Loh di mobil mas aku lupa ambil.” Jawabnya

“Ambilen Ndes malah ditinggal di mobil.”

“Kamu kok manja seh mas, nih kuncinya ambil sendiri.”

“Kamu tambah lama kok sifat jancok mu meningkat 1000% Ndes.”

“Hahahaha… abis gini tak ambilin mas ada syarat nya tapi.”

“Hmmm saiki Antem Kromo mu yang meningkat 1000%.”

“Hahahaha… Kan kamu panutanku mas ya aku belajarnya dari kamu mas.”

“Sejak kapan aku ngajarin kamu jadi cok gitu?”

“Ayo ta mas sekali ini aja mas turutono opo’o mas permintaan adek mu.”

“Apaan emang?”

“Mintain nomor telpon cewek yang jadi Barista itu mas.”

“Lah minta sendiri napa Ndes.”

“Gak berani mas hehehe…”

“Ya elah Ndes tinggal samperin mbak boleh minta nomer telpon nya?”

“Ayo ta mas please entar sepulang dari sini tak traktir makan di Hanamasa.”

“Serius.”

“Serius mas. Kan kamu belum order di kasir mas, jadi sekalian mintain hehehe….”

“Oke demi Hanamasa.”

Akupun melangkahkan kakiku menuju kasir untuk order kopi dan snack, Setelah menyelesaikan pesanan dan pembayaran. Aku memberanikan diriku untuk meminta nomor telpon wanita yang menjadi barista tersebut.

“Emm maaf mbak mengganggu.”

“Iya mas kenapa.” Ucap Barista.

“Emmm sorry banget sebelum nya, itu temenku yang duduk di meja sebelah sana pingin kenalan sama mbak tapi gak berani.” Sambil aku menunjuk kearah Gondes.

“Ohh…” Jawabnya singkat.

“Boleh minta nomor telpon nya buat temenku yang duduk disana?”

“Kamu Alvin kan?” Tanya nya.

“Kok mbak nya tau namaku? Emang tau namaku dari mana?”

“Kita kan satu kampus Vin.”

“Oh ya hehehehe… Kok aku gak pernah liat kamu di kampus?”

“Kan kita beda jurusin Vin.”

“Terus kok bisa tau aku?”

“Di kampus siapa yang gak tau kamu Vin?”

“Oh ya seterkenal itukah aku?” tanyaku sedikit heran.

“Siapa yang gak tau Alvin si tukang demo dan pembuat onar.” Jawabnya sambil tersenyum.

Aku hanya bisa nyengir sambil garuk-garuk kepala yang tidak gatal.

“Hehehe… Ternyata terkenal nya terkenal jelek.”

“Ya gak lah Vin hari gini jarang orang yang peduli sama orang lain seperti kamu.”

“Hehehe… Jadi malu dipuji. Oh ya sorry nama kamu siapa kalau boleh tau?”

“Rani Puspita Sari panggil aja Rani.” Ucapnya sambil tersenyum.

“Ran boleh minta nomor telpon mu buat temenku.”

“Buat temenmu apa kamu?”

“Temen ku Ran hehehe…” Pertanyaan nya membuatku salah tingkah.

“Nih catetin nomor kamu.” Ucapnya sambil menyerahkan Handphone nya.

“Nih udah Ran.”

“Tuh udah aku Missed Call. Udah masuk kan?”

“Iya udah masuk. Makasih ya Ran sorry ganggu kerjaan kamu.”

Dan Rani hanya tersenyum. Akupun berlalu meninggalkan nya menuju kembali kemejaku.

“Gimana mas dapet?” Tanya Gondes dengan semangat.

“Kamu kok excited banget sih Ndes? Tanyaku dengan heran

“Cobak liaten talah mas, cantik banget mas. Senyum nya itu loh.” Ujar Gondes dengan menggebu-gebu.

Dan setelah kuperhatikan kembali hmmmm… Memang cantik sih, pantesan Gondes excited banget. Jarang, ada cewek cantik yang mau jadi Barista.

“Hanamasa loh ya.” Ucapku.

“Iya-iya mas kamu kok gak percaya seh sama aku.”

“Nih catet 0812XXXXXXXX, Rani namanya.”

“Makasih mas Alvin kamu emang kalau masalah cewek number one mas.”

“Hmmm…”

“Bener-bener panutanku kamu mas.”

“Besok bawak gula 1kg sama kopi, tak ajarin ilmu jadi lelaki. Masak kenalan aja gak berani.”

“Hehehe….”

“Alvin.” Ucap waiters.

“Iya.” Ucapku.

“Permisi Orderan nya mas, Coffee Late dan Chicken Samosa.”

“Oh iya mas makasih.”

“Loh mas kok uang pembayaran saya di kembalikan?” Tanyaku sedikit bingung karena ada uang pembayaranku di meja.

“Iya mas free order dari mbak Rani.”

“Rani nya mana mas? jangan deh mas saya bayar aja mas. Uang nya mas nya bawak aja lagi.”

“Jangan mas saya gak berani mas nanti mbak Rani nya marah.”

“Emang Rani nya kemana?”

“Mbak Rani nya barusan pulang mas.”

“Gakpapa bawak aja mas uang nya” Ucapku sambil menyerahkan uang ke waiters.

“Jangan mas. Maaf saya beneran gak berani mas?” Tolak waiters

“Loh emangnya kenapa mas kok gak berani? Gakpapa mas entar aku yang bilang ke Rani.”

“Mbak Rani pemilik Coffee Shop ini mas.”

“Whatttt……..

Bersambung

END – Cinta Itu Buta Part 6 | Cinta Itu Buta Part 6 – END

(Cinta Itu Buta Part 5)Sebelumnya |Bersambung(Cinta Itu Buta Part 7)