Cinta Itu Buta Part 5

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20Part 21

Cinta Itu Buta Part 5

Start Cinta Itu Buta Part 5 | Cinta Itu Buta Part 5 Start

Surabaya, 11 September 2009

Siang itu sang surya begitu perkasa menancapkan sinarnya di kota Surabaya, sengatannya bisa membuat kulit manusia berubah menjadi gosong, atau kemerah-merahan seperti udang yang dipanggang di perapian, kondisi seperti ini umumnya membuat banyak orang khususnya para gadis, ibu-ibu, dan kaum lelaki klimis pecinta salon yang berhobi merawat diri untuk lebih memilih berteduh di pepohonan kampus dan sekolah, rumah tinggal, mall-mall atau bagi kaum pekerja kantoran berdiam di dalam ruang-ruang ber-AC dan gedung yang menjulang tinggi sampai tiba waktunya sang jingga menyingkapkan warnanya di ufuk barat;sore.

Meski terik sedemikian ganas dan banyak orang bersembunyi dari panas, ada sekerumunan mahasiswa yang lebih memilih keluar menantang sengatan sang surya untuk melakukan aksi demonstrasi di jalan raya, tak peduli dengan kulit-kulit mereka yang semakin menghitam dipanggang mentari; bagi mereka terik mentari adalah penyulut api semangat revolusi, sekaligus ajang untuk menunjukkan taring kepada para birokratis rakus bahwa mereka akan selalu ada pada barisan perlawanan ketika hak rakyat dirampas oleh maling-maling berdasi.

Meski berada pada medan yang sangat curam sekalipun suara perlawanan tetap dikobarkan. Kami ada dan berlipat ganda! Seru massa aksi mengutip lirik lagu Fajar Merah, anak Wiji Thukul.

Aku yang begitu semangat, namun juga sangat geram menyaksikan semakin banyaknya kasus korupsi yang kian hari kian marak dilakukan oleh para wakil-wakil rakyat dan beberapa pejabat menteri. Aku semakin geram lagi ketika isu-isu kenaikan bahan bakar minyak (BBM) menyeruak dengan gesit seperti mengejar rating berita menutupi kasus korupsi yang mengindikasikan keterlibatan pejabat-pejabat besar di negara ini.

Setibanya di depan Gedung Grahadi, terlihat barisan polisi dengan seragam dan tangan-tangan mereka yang kekar sambil memegang perisai. Polisi mengamati kalau-kalau kami akan melakukan aksi vandalis (Perusak). Selain polisi, ada juga beberapa awak media yang sudah antusias memegang kamera dan sekali-kali Men-jepret kerumunan massa mahasiswa yang sudah berada di Gedung Grahadi.

“Mas Vin…” Teriak Gondes selaku Wakorlap (wakil koordinator lapangan).

“Ya Ndes kenapa?”

“Massa Aksi dari kampus lain sudah datang mas dan mereka sudah bersiap untuk bergabung dengan massa aksi kita.”

“Kordinasikan massa aksi Ndes, rapatkan barisan. Jangan sampai ada penyusup masuk kedalam massa aksi kita.”

“Siap mas.”

Tepat di depan pagar Gedung Negara Grahadi Surabaya, massa aksi sudah berbaris rapi membuat border dan sebagian lain mengangkat bendera Merah Putih sebagai simbol perlawanan. Dimulai dengan aksi teatrikal yang merefleksikan bagaimana perjuangan hidup rakyat dan di lanjutkan dengan orasi dari kawan-kawan Orator.

Saat itu aku berada dalam barisan massa aksi dengan posisi bebas dan didampingi keamanan yang memang di siapkan khusus untuk menjagaku. Ibarat raja dalam permainan catur, Korlap harus dilindungi dan sebisa mungkin agar aparat keamanan tidak mengetahui keberadaan Korlap. Karena yang pertama kali akan diciduk oleh aparat keamanan adalah Korlap.

Aku yang bertugas sebagai Korlap (koordinator lapangan) mengambil keputusan untuk berorasi dan membubarkan massa aksi. Sambil memegang megaphone mengomandoi massa aksi agar tertib dan merapatkan barisan.

“Berapa jumlah kita, kawan-kawan?” Teriak ku membuka orasi.

“Satu!” Jawab massa aksi serempak.

“Rapatkan barisan, kawan-kawan. Kita adalah massa aksi yang terdidik dan teroganisir. Kita tunjuk-kan bahwa kita mahasiswa tidak buta. Bahwa kita adalah benar-benar rakyat yang ingin Merdeka. MERDEKA!”

“Medeka!”

“Hidup Mahasiswa!”

“Hidup!”

“Hidup Rakyat!”

“Hidup!”

Bagaimana Kami akan diam, melihat, mendengar, menyimak, Negara ini di hancurkan oleh tingkah kalian oknum pemerintah yang mencederai kehormatan bangsa ini. Kami turun kejalan adalah sebagai anak bangsa yang peduli pada rakyat yang telah di sakiti oleh anda dengan teramat parah. Tahukah anda bahwa para pahlawan lah yang memerdekaan Negara ini dengan susah payah, pahlawan yang memiliki patirotisme yang tak ternilai dengan apapun. Untuk itu buka hati anda, mata anda, telinga anda, dengar dan simak baik-baik.

Kami dengan tegas menolak kenaikan harga BBM bersubsidi. Karena akan berdampak terhadap siklus perekomian. Harga-harga kebutuhan pokok akan mengalami kenaikan yang sangat drastis dan di pastikan akan banyak pekerja yang kehilangan pekerjaan nya (PHK) yang membuat semakin banyak nya pengangguran di negara indonesia.

Mohon dengarkan suara kami, sebagai rakyat, sebagai sosial kontrol, mohon tidak untuk menutup telinga karena telinga anda akan busuk. Lihatlah kami, pandanglah sebagai rakyat yang menuntut kebijakan, segala ketimpangan sosial yang selama ini terjadi, kami mohon untuk keadilan serta kebijakan anda yang pro rakyat dan kami akan menjadi pelopor rakyat yang senantiasa menemani mereka sampai pada ketika anda mengeluarkan kebijakan demi rakyat.

“Hidup mahasiswa!”

“Hidup! ”

“Hidup rakyat! ”

“Hidup! ”

Kawan-kawan marilah kita tutup aksi kita kali ini dengan menyanyikan lagu yang telah lama menjadi lagu wajib bagi mahasiswa. Kita nyanyikan lagu darah juang, kita jadikan ini konser terbesar di dunia.

Disini negri kami

Tempat padi terhampar

Samudranya kaya raya

Tanah kami subur tuan…

Dinegri permai ini

Berjuta Rakyat bersimbah rugah

Anak buruh tak sekolah

Pemuda desa tak kerja…

Mereka dirampas haknya Tergusur dan

lapar bunda relakan darah juang kami

tuk membebaskan rakyat…

Mereka dirampas haknya Tergusur dan

lapar bunda relakan darah juang kami

pada mu kami berjanji…

Massa aksi membubarkan diri dengan tertib dan damai namun sebelum membubarkan diri mereka kompak membersihkan sampah-sampah sisa aksi yang berserakan. Begitu juga dengan polisi yang mulai berkemas merapikan perlengkapan mereka masing-masing. Ratusan polisi telah menepi menunggu untuk dinaikkan ke truk masing-masing sedangkan kendaraan taktis juga sudah mulai meninggalkan lokasi.

Alhamdulillah, semuanya lancar sekarang waktunya ngopi. Aku melangkahkan kakiku menuju warung kopi terdekat tidak jauh dari lokasi kami mengadakan aksi.

“Mas Viiin…” Teriak gondes dari kejahuan sambil berlari menuju kearahku.

“Oeeeee…” Jawabku seadanya.

“Mas, ada wartawan dari media cetak mau wawancara.” Ucap nya dengan napas ngos-ngosan.

“Loh kok gak ke Humas Ndes?”

“Wartawan nya maunya langsung wawancara sama kamu mas. Kan kamu Korlap nya.”

“Hmmm… Palaku pusing Ndes pingin ngopi dari tadi pagi belum kemasukan kopi.”

“Terus ya apa mas?”

“Emmm… Gini aja Ndes, gimana kalau wawancara nya di warung kopi.”

“Ya udah kalau gitu mas tunggu di warung kopi ya! Warung kopi biasanya kan mas?”

“Huum Ndes.”

“Oke mas.” Ucap nya sambil berlari meninggalkanku.

Sambil berjalan menuju warung kopi aku menyempatkan untuk bbm Ocha memberi kabar agar dia tidak khawatir. Karena terlalu asik chat dengan Ocha aku tak menyadari kalau warung yang kutuju ternyata tutup.

Lah kok tutup. Haduh mana sudah janjian sama Gondes disini. Dengan berat hati aku menunggu didepan warung.

“Mas Vin lah kok tutup mas warung nya.” Ucap Gondes yang baru saja tiba.

“Iya tumben ya? Padahal biasanya warung ini gak pernah tutup!”

“Eh mas kenalin ini wartawan nya.” Ucap Gondes mengenalkan ku pada wartawan.

“Nadya Gita Mentari.” Ucapnya dengan tersenyum.

“Alvin.” Ucapku sambil menjabat tangannya.

“Mas Vin terus gimana ini? Warung nya tutup gitu!” Ucap Gondes.

“Iya Ndes, terserah mbak Mentari aja deh mau wawancara dimana? Disini juga boleh.”

“Disini terlalu ramai mas. Gimana kalau kita ke Caffee temen ku aja mas, tempatnya gak jauh kok dari sini.” Ucap Mentari.

“Oh boleh mbak, kebetulan saya dari pagi belum ngopi sama sarapan.” Ucapku.

“Mas Vin kalau aku gak ikut gakpapa kan? Aku mau ke kantor Pos mas, ambil barang pesenanmu.” Ucap Gondes

“Berarti barang pesenanku sudah datang ya Ndes? Mantab.” Ucapku

“Iya mas, makanya ini mau tak ambil. Mbak Mentari gakpapa kan kalau saya tinggal?” Ucap Gondes.

“Iya gakpapa mas, makasih banyak ya mas saya sudah diantar kesini buat ketemu sama mas Alvin.” Ucap Mentari sambil tersenyum.

“Iya mbak sama-sama, santai aja mbak. Mas Vin tak tinggal dulu ya mas.” Ujar Gondes.

“Huum Ndes atis-ati. Entar malem kalau sempet aku tak kerumah.”

“Besok aja mas barang nya tak bawak ke kampus. Ya wes aku duluan mas.” Ucap Gondes sambil berlalu meninggalkan kami.

“Mas Alvin mau bareng saya ke caffee nya kebetulan mobil saya parkir gak jauh dari sini.”

“Saya juga bawa mobil mbak. Saya ikutin mbak Mentari dari belakang aja ya?”

“Atau gini aja deh mas gimana kalau kita ketemu disana? boleh saya minta nomor telepon-nya? Nanti saya sms alamat nya.”

“Boleh mbak 0812XXXXXXXX atau invite pin bbm saya aja mbak, biar bisa share location?”

“Boleh mas.”

Setelah kita saling bertukar kontak. Aku pun berlalu menuju parkiran mobil untuk bertemu ditempat yang sudah dijanjikan.

Damn kok gak ketemu ya caffee nya? Padahal di gps tempatnya di daerah sini deh! Apa kelewatan ya? Kayak nya ini deh tempat nya. Aku pun langsung memakirkan mobilku dan bergegas untuk masuk.

“Mas Alvin disini.” Ucap Mentari menyapaku.

“Sorry lama ya nunggunya?”

“Enggak kok mas aku baru aja nyampai kok belum ada 10 menit.”

“Aku ke toilet sebentar ya.”

“Mas Alvin mau minum apa? Biar sekalian aku pesenin mas.”

“Emmm… Cofee latte aja deh.” Ucap ku sambil berlalu meninggalkan nya.

Drrrrttttt…! Drrrrrttttt….! Drrrrrttttt…!

Terasa getaran handphone disaku celanaku dan ternyata Ocha yang telpon.

“Hallo… Ya sayank kenapa?”

“Assalamualaikum, kebiasaan deh gak pernah ucap salam.”

“Eh, wallaikum salam.”

“Sayank dimana?”

“Di toilet yank lagi pipis.”

“Ihhhh… Jorok ihhhh… Masak pipis sambil megang Handphone.”

“Gak dipegang sayank kan handphone nya aku tempelin di telinga sama pundak.”

Zrrrrtttttt…! terdengar suara siraman air dari closed.

“Sayank ah jorok. Emang lagi dimana sih yank?”

“Lagi di caffee deket Taman Apsari yank.”

“Sama siapa?”

“Sama wartawan. Mau wawancara tentang aksi barusan.”

“Kok wawancaranya di caffee?”

“Iya aku sekalian ngopi yank. Disana masih rame banget soalnya.”

“Wartawan nya cewek?”

“Iya. Kok sayank tau?”

“Hmmmm… Awas jangan genit-genit sama mbak-mbak wartawan nya tak gigit titit mu loh kalau macem-macem.”

“Ya gak lah yank. Kamu kok sadis gitu sih. Kalau titit ku digigit mau masa depanmu suram?”

“Biarin, biar gak bisa genit-genit lagi.”

“Ya udah aku wawancara dulu ya sayank, entar aku kabarin lagi. Assalamualaikum.”

“Walaikum salam sayank.”

Nadya Gita Mentari

Terlihat mentari sedang duduk menungguku sambil asyik memainkan laptop nya. Njirrrr… Manis juga ternyata.

“Maaf ya jadi lama nunggu.”

“Eh… Enggak kok mas santai aja.”

“Bisa kita mulai wawancaranya mas?”

“Silahkan mbak.” Ucapku dengan sopan.

Dan akhirnya sesi wawancara pun sampai pada sesi akhir pertanyaan.

“Apa pesan anda untuk para mahasiswa?”

Jika idealisme ialah kemewahan yang hanya dimiliki pemuda, akan di isi dengan apa periode kalian sebagai mahasiswa.

Belajar tentu keharusan yang tak boleh di abaikan, namun merugilah jika belajar di sempitkan semata perkuliahan.

Nikmati kehidupan kampus dengan terus mengasah jangan habiskan waktu dengan berkeluh kesah karena kalian adalah anak-anak muda pilihan yang berkesempatan mereguk dalamnya sumur ilmu pengetahuan.

Jangan jadikan kampus sebagai penjara yang membelenggu, tapi jadikan kampus sebagai sarana untuk meningkatkan kualitas. Kita saat ini tidak terjajah dalam bentuk fisik, tapi kita terjajah dalam bentuk pemikiran. Buku yang seharusnya menjadi teman kita tetapi perlahan di jauhi dengan Gadget yang lebih kita utamakan.

Beranilah mengambil pendirian dalam banyak persoalan. Anak muda kok sudah hobby cari aman dengan bersikap netral-netralan. Tinjulah kemapanan dengan kepalan tangan, lawanlah kejumudan dengan kenekatan membuat terobosan.

Jangan takut jatuh dan terantuk dengan terbentur kau akan terbentuk, sebab Indonesia memang ditemukan dan di usahakan oleh anak-anak muda. Kalian pula lah yang mestinya memperbaharui Tanah Air kita.

“Baik mas Alvin terimakasih banyak atas waktunya.”

“Oh iya mbak Mentari sama-sama.”

“Panggil Tari aja mas gak usah pakai mbak. Umur kita gak beda jauh kok.” Ucap nya sambil tersenyum manis melihatku.

“Eh iya Tar.” Ucapku sedikit ragu

“Alvin kalau gitu aku duluan ya, mau balik ke kantor biar besok beritanya bisa segera dimuat.”

“Iya mbak eh tari hehehe…”

“Permisi mas boleh minta bill nya.” Ucap tari meminta bill pada waiters.

“Permisi… Bill nya, mau pakai cash atau kartu?” Ucap waiters sambil menyerahkan bill.

“Eh tar aku aja yang bayar, masak cowok dibayarin sama cewek.”

“Cash aja mas.” Ucap tari sambil memberikan uang ke waiters.

“Eh Tar aduh makasih banyak loh. Jadi malu aku dibayarin sama cewek.”

Tari tersenyum manis dan menatapku “Lain kali kamu ya Vin yang traktir.”

Njiirrrr… Senyuman nya..

“Eh iya Tar.” Ucapku sedikit grogi.

“Ya udah aku duluan ya Alvin see you.” Ucapnya sambil berlalu meninggalkan ku.

“See you.”

Karena merasa lelah dan lapar akupun memutuskan untuk pulang.

Bersambung

END – Cinta Itu Buta Part 5 | Cinta Itu Buta Part 5 – END

(Cinta Itu Buta Part 4)Sebelumnya |Bersambung(Cinta Itu Buta Part 6)