Cinta Itu Buta Part 21

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20Part 21

Cinta Itu Buta Part 21

Start Cinta Itu Buta Part 21 | Cinta Itu Buta Part 21 Start

PART XXI

Surabaya, 11 February 2010

Aku mengerjapkan mataku berulang kali, berusaha menyesuaikan penglihatanku dan hal pertama kali yang kurasakan saat terbangun adalah rasa kebas di lenganku.

“What happened that i did last night?!” gumamku saat aku menyadari bahwa aku tak berada di kamar tidurku.

Aku memicingkan mata akibat silau, sinar matahari dari sela-sela gorden sempat mengenai mataku.

Saat aku menoleh, aku baru menyadari ada seorang wanita tidur berbantalkan lengan kananku. “Pantas saja lenganku kebas.” Secara perlahan aku memindahkan bantal untuk menopang kepalanya.

“Ehmmmmm…!” gumamnya karena tidurnya terganggu.

Sedetik aku terpaku pada sosok wanita yang tidur di sampingku. Aku tersenyum melihat wajahnya yang begitu polos, terlelap dalam damai.

Aku menepuk pelan lengannya, “Nit… Nit….” ucapku mencoba membangunkannya.

“Ehmmmmmm….!”

“Nit….” seruku lagi.

“Eehmmmm….! Kamu udah bangun. Hoaamm…” ucapnya dengan suara masih mengantuk.

“Haus.” Kataku singkat. Saat ini aku merasa sangat kehausan dibarengi dengan rasa sakit yang kurasakan di kepalaku.

“Bentar, ya!” ujar Nita sembari bangun, beranjak dari tempat tidur meninggalkanku keluar dari kamarnya.

Selang tak berapa lama Nita kembali dengan membawa segelas air putih, “Nih!” Nita menyerahkan segelas air putih padaku.

Aku yang sedari tadi merasa sangat kehausan, langsung meneguknya sampai habis.

“Pelan-pelan, Vin! Minumnya.” Nita mengingatkan lalu menawariku kembali. “Mau diambilin lagi?”

“Enggak, makasih.” sahutku cepat.

“Haus banget, ya?” tanyanya.

“Iya.” jawabku singkat.

Nita mengambil gelas dari tanganku dan meletakkannya di atas meja rias samping tempat tidurnya.

“Aduh, sakit banget kepalaku.” keluhku sambil memegang kening.

“Pusing ya, kepalanya?” tanyanya saat melihatku mengernyitkan dahi sambil memegangi kening.

“Huum.”

“Sini, rebahan!” Nita menarik pelan tubuhku hingga kepalaku kini telah bersandar di pahanya.

Aku merasakan usapan dan pijatan lembut di sekitar dahi dan kepalaku, hingga membuat kepalaku terasa ringan. Rasa kantuk menyerangku hingga membuatku terlelap dan sudah tidak ingat apa-apa lagi.

●°●°●°●°●°●°●°●​

POV Ocha

OCHA PUTRI AYUNI

Pukul 08.30 wib

“Nomor yang anda tuju, sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan area.” suara operator layanan provider.

“Kok, masih gak aktif sih HP-nya?” gerutuku kesal bercampur dengan rasa khawatir dan mencoba kembali menelponya.

“Nomor yang anda tuju, sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan area.” Kembali terdengar suara operator layanan provider.

Entah kenapa aku merasa sangat gelisah dan khawatir? Aku takut terjadi sesuatu pada Alvin. Berkali-kali aku mencoba menelponnya, namun HP-nya masih tidak aktif.

Aku sudah mencoba untuk menghungi Gondes atau Gambles namum HP mereka juga tidak aktif. Bahkan saat aku menelpon Mamanya Alvin untuk menanyakan keberadaannya, Beliau juga khawatir karena dari semalam Alvin tidak pulang ke rumah.

“Hiks….Hiks….” Tak terasa air mataku sudah mengalir deras membanjiri pipiku.

“Yank, kamu di mana sih? Hiks… Hiks…” Isakku.

Drrrrttttt…! Drrrrrttttt….! Drrrrrttttt…!

Drrrrttttt…! Drrrrrttttt….! Drrrrrttttt…!

Aku yang mendengar HP-ku bergetar karena ada panggilan telpon masuk, langsung bergegas menjawabnya tanpa melihat terlebih dahulu siapa yang menelpon. Karena aku berharap Alvin yang menelponku.

“Yank, kamu ke mana aja sih, dari semalem gak ada kabar? HP pakai dimatiin segala. Kamu itu hobby banget sih, bikin aku khawatir.” omelku panjang saat menerima panggilan telpon masuk barusan.

“Hallo, Cha.” seru suara dari ujung telpon sana.

“Eh, kok suara cewek?” Gumamku membatin. Dan saat aku melihat nama di layar HP baru aku tau ternyata Anggie temanku yang menelpon.

“Eh… ! Sorry Nggie, aku kira tadi Alvin yang nelpon.”

“Emang kenapa Alvin?” tanya Anggie di ujung telpon sana.

“Alvin dari semalem nggak ada kabar Nggie, HP-nya nggak bisa dihubungin.”

“Oh ya, sebenernya ada sesuatu yang mau aku sampaiin ke kamu tentang Alvin,” ujar Anggi di ujung telpon sana. “Semalem aku melihat Alvin di parkiran Sutos, sedang mabuk parah dan dibantu berjalan sama seorang wanita untuk masuk kedalam mobil.”

Deg!!!

Jantungku berdegup, seperti ada sesuatu yang menusuk hatiku. Secara refleks aku tidak sadar menjatuhkan HP-ku.

“Hallo, Cha… Ocha…” Samar-samar kudengar suara Anggie memanggil-manggil namaku dari HP yang kujatuhkan.

“Hiks.. Hiks.. Ya Tuhan, sakit banget rasanya.” gumamku sambil menyeka air mataku dengan kasar.

“Hiks… Hiks…”

Aku meringkuk di sudut ruangan. Menekuk kakiku, kedua tanganku memeluk lututku, kepalaku tertunduk lesu. Dan akhirnya, aku pun menangis sejadi-jadinya karena tak mampu menahan rasa sesak dan sakit di dadaku. Kutumpahkan semua kesedihan yang kurasakan saat ini.

●°●°●°●°●°●°●°●

Back to Alvin

“Vin… Alvin..” suara lembut membisiki telingaku, disertai dengan elusan lembut di pipiku.

Aku berusaha membuka mataku yang terasa sangat berat. Tubuhku sedikit bergeliat sejenak, merespon suara yang masuk ke telingaku.

“Vin… Bangun gih! Nih udah aku buatin susu coklat anget biar badanmu agak enakan!”

“Emmmm… Jam berapa sekarang Nit?” tanyaku masih dengan suara mengantuk.

“Jam 11.” jawabnya singkat.

“Syukur deh, kalau masih jam 11.” seruku bernapas lega.

“Emang kenapa?” tanyanya bingung. “Kamu ada kuliah hari ini?”

“Enggak ada.” Beritahuku. “Tapi entar jam 1 siang aku ada rapat Hima.”

“Ya udah kalau gitu buruan bangun, sarapan, terus mandi!” serunya. “Nih diminum dulu susu coklatnya entar dingin gak enak!” Sembari memberiku segelas susu coklat hangat.

“Huum… Makasih ya, Nit.” ujarku sambil meneguk susu coklat hangat buatannya.

“Kepalanya masih pusing?” tanyanya pelan.

“Udah agak mendingan.”

“Syukur deh kalau gitu,” serunya. “Oh ya, baju sama celanamu lagi disetrika sama si Mbak.”

“Baju sama celanaku?!” tanyaku kebingungan dan aku begitu terkejut saat mengetahui pakaian yang kukenakan.

“Lah? Baru nyadar, nih anak!”

“Ya ampun Nit, gak ada yang lebih bagusan dikit apa?” ujarku kesal.

“Hihihi… Kan lucu, Vin.”

“Lucu dari hongkong! Emang gak ada ya baju yang agak bagusan dikit.”

Saat ini aku mengenakan baju tidur bergambar hello kity besar di dada dan yang lebih parahnya lagi berwarna pink senada dengan warna celana kolor yang kukenakan.

“Bajumu semalem basah Vin, terus bau alkohol banget.” ujarnya menjelaskan.

“Celananya juga basah?” tanyaku.

“Emang kamu nyaman tidur pakai celana jeans?” tanyanya.

Aku menjawabnya dengan gelengan kepala. “Terus berarti kamu lihat ituku dong?”

“Itu apaan?” tanyanya polos.

“Hehehe… Bukan apa-apa kok, Nit.” Jawabku sembari menggaruk kepala yang tidak gatal.

“Alviiiinnnnn….!” teriakknya kesal saat mengetahui apa yang kumaksud.

“Hehehe…. Makasih banyak ya Nit kamu sampe rela, bela-belain jemput aku pagi buta, aku gak tau deh gimana jadinya kalau gak ada kamu semalem.”

“Kamu lagi ada masalah? Lagi berantem sama Ocha?”

“Enggak.”

“Terus, kok sampai mabuk-mabukkan.”

“Semalem itu, aku diajakin ngopi Gondes sama Gambles, nah pas aku sampai di warung kopi kata Gambles kopinya habis terus diajakin ngopi di tempat lain. Eh, ujung-ujungnya malah ke tempat clubbing.” Terangku menjelaskan pada Nita.

“Hmmmm…” gumamnya. “Terus kalau kemarin Gondes sama Gambles ngajakin kamu masuk jurang kamu juga mau?” tanyanya dengan nada ketus.

“Ya enggak lah, Nit. Kan aku minum juga jarang-jarang Nit. Lagian kemarin aku gak ada niatan untuk minum sampai mabuk. Mungkin aku mabuk karena sudah lama gak minum dan sedikit terbawa suasana.” kilahku.

“Ocha tau semalem kamu clubbing?” cecarnya.

“Ya enggak lah.” Jawabku polos.

“Ya udah, kalau gitu tak kasih tau, ya!” ujarnya sambil memegang HP-nya untuk menelpon Ocha.

“Jangan lah Nit, kamu tega banget.” ujarku panik.

“Biarin, abisnya kamu kalau aku yang ngasih tau gak pernah digubris.” sahutnya kesal.

“Iya-iya, maaf. Gak lagi-lagi deh, minum sampai mabuk!” kataku mencoba membujuknya.

“Serah.” serunya kesal.

“Nit, aku numpang mandi ya. Terus mau langsung ke kampus soalnya.” Kataku memberitahu.

“Gak mau sarapan dulu?” tanyanya menawariku sarapan. “Aku siapin sarapan, ya? Tadi si Mbak beli bubur ayam.”

“Gak usah, makasih.” Tolakku halus. “Aku sarapan di kampus aja entar agak siangan dikit, lagian aku masih kenyang abis minum susu.”

Selesai mandi aku segera bersiap-siap untuk berangkat ke kampus.

“Nit, aku berangkat ke kampus dulu ya!”

“Yakin enggak mau sarapan dulu?” tawarnya.

“Enggak, makasih.”Kembali kutolak tawarannya. “Entar makan di kampus aja.”

“Yo wes, ati-ati di jalan!” Imbau Nita.

“Makasih banyak ya, Nit.” ujarku sambil memeluknya.

“Iya, Vin.” Sahutnya.

“Assalamualaikum.”

“Waalaikumsalam.”

Setelah berpamitan dengan Nita, aku segera menuju mobil dan berangkat ke kampus.

Hari ini aku ada rapat LPJ HIMA, dikarenakan masa pengurusan kami sebagai pengurus HIMA akan segera berakhir. Dan kami,terutama aku sebagai Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Akuntansi wajib untuk membuat LPJ (LAPORAN PERTANGGUNG JAWABAN) selama periode masa pengurusan kami yang nantinya akan kami pertanggung jawabkan di dalam Sidang Umum Mahasiswa Akuntansi.

Selama dalam perjalanan menuju kampus aku merasa ada sesuatu yang mengganjal, berasa seperti ada yang terlewatkan atau terlupakan olehku.

●°●°●°●°●°●°●°●​

POV Nita

ANITA RAHMA YULIANTI

Entah kenapa hari ini adalah hari yang sangat bahagia untukku? Mungkin karena semalam aku bisa tidur nyenyak sambil mendekap hangat tubuhnya. Bahkan sampai sekarang aku masih bisa merasakan hangat tubuhnya.

Selembar kertas berwarna jingga yang terselip dalam sebuah agenda jatuh begitu saja. Aku memungutnya dan membaca sebaris nama yang membuatku tersenyum. Seakan memori akan indahnya tawamu berputar kembali lewat proyektor imaji di ruang otakku.

Cinta tidak harus memiliki. Ah, memang terlalu klise. Terkadang tidak ada yang perlu diberitahu tentang perasaanku, cukup hanya aku dan Dia Sang Pemilik Segala Rasa. Ini tentang keputusanku untuk mencukupkan rasa ini di sini, di dalam hati.

“Engkau adalah kedewasaan yang terbungkus dalam sosok bersahaja.”

Sore itu seakan mendung menggantung di langit-langit. Aku sangat gugup dan tidak yakin akan lulus tes masuk fakultas kedokteran. Aku sangat takut gagal dan menjadi pesimis.

“Nit, tes masuk kuliah kedokteran itu hanyalah sebuah fase. Seusai tes, kamu keterima dan menjadi mahasiswi kedokteran. Setiap hari kamu akan dituntut untuk belajar dan di temani buku-buku dengan ketebalan berbeda-beda dan hal itu pun nantinya akan kembali membuatmu tertekan, itu juga fase,” ucapnya enteng, seolah kegundahanku tidak berarti apapun untuknya. “Lalu setelah lulus jadi dokter pun perjuanganmu masih belum berhenti, kamu masih harus berhadapan dengan Ujian Kompetensi Dokter Indonesia (UKDI), yang nantinya hal tersebut akan kembali membuatmu tertekan, belum lagi pertanyaan kapan nikah yang nantinya akan selalu menghantui kita para lajang.”

“Sok tau.” Cibirku.

“Jangan khawatir, satu fase selesai, itu artinya kamu naik tingkat, kalau kamu kesulitan menyelesaikannya sendiri, masih ada teman-temanmu yang bersedia membantumu. Kamu gak sendirian loh,” ujarnya sambil menunjuk dirinya sendiri. “You can count on me.”

“Apaan orang kamu sekarang aja lupa, kalau hari ini aku ulang tahun?” gerutuku.

“Eh!” serunya sambil menggaruk-garuk kepala. “Inget lah, masak aku lupa ulang tahunmu! Selamat ulang tahun ya Nit, panjang umur, sehat selalu dan semoga besok kamu bisa lulus tes masuk kuliah kedokteran dengan nilai yang memuaskan. Amiin.” ucapnya sembari memelukku.

“Mana kadonya? Kalau kamu emang inget ulang tahunku,” Pintaku sambil menengadahkan tangan. “Kamu pasti inget karena aku barusan bilang ‘kan kalau hari ini aku ulang tahun!?”

“Sini minta kertas sama pinjam bolpoin!” Pintanya.

“Buat apaan?!” tanyaku kebingungan.

“Ih, Bawel!” serunya. “Sini mana kertas sama bolpoinnya!”

Aku pun mengambil sebuah buku agenda dari dalam tas dan merobek selembar kertas berwarna jingga dari buku agendaku.

“Nih!” ujarku memberinya selembar kertas berwarna jingga.

“Bolpoinnya?”

“Oh iya, Nih!” Aku menyodorkan bolpoin yang tadi dimintanya.

“Buat apaan sih, Vin? Bolpoin sama kertasnya.” tanyaku penasaran. “Kan aku mintanya kado. Jangan bilang kamu mau ngasih aku kado tanda tanganmu yang kayak cakar ayam itu!” Aku menggelembungkan pipiku sedikit merajuk dibuatnya.

“Hahaha…” tawanya lucu ketika dia melihatku.

Kuperhatikan Alvin sedang menulis sesuatu di kertas tersebut dan tak lama kemudian dia mengambil sebuah materei 6 ribu dari dalam dompetnya.

“Ih, jorok banget sih nih anak!” gerutuku kesal karena Alvin merekatkan materei tersebut dengan cara menjilatnya.

“Nih, kado dari aku buat kamu!” Alvin menyerahkan kertas tersebut padaku.

“Tuh kan, jahat banget sih…!” Seketika aku merajuk. Aku mengira Alvin beneran memberiku sebuah kado tanda tangannya.

Namun dia hanya diam dan tersenyum menatapku.

VOUCHER

Bebas meminta apa saja yang ada di seluruh dunia ini.

Dari : Alvin buat Nita.

“Ini seriusan?” tanyaku sumringah.

“Huum Nit, serius. Ini aku gak bercanda, aku seriusan. Di situ ada tanda tanganku ‘kan di atas materei 6 ribu.”

“Beneran aku boleh minta apa aja?” tanyaku antusias disertai senyum bahagia.

“Boleh. Meskipun aku misalnya gak punya atau aku gak sanggup, pasti akan aku perjuangin supaya aku bisa menyanggupin keinginan kamu.”

“Oke.” seruku senang sembari melipat kertas tersebut dan menyelipkannya ke dalam buku agenda.

“Lah, kok dilipet?!” tanyanya bingung.

“Nanti akan ada saatnya, di mana aku akan menggunakan voucher pemberian dari kamu. Kan gak ada tanggal kadaluarsanya.”

“Hmmmmm…! Jangan minta aku berhenti merokok ya, Nit!” mohonnya.

“Ya terserah aku dong, ‘kan di situ ditulis aku boleh minta apa aja dari kamu?”

Entah karena aroma senja dengan daya magisnya yang membungkus siluet dirimu dengan warna keemasaan, atau memang karena ucapanmu barusan.

Petang itu, ketika matahari terbenam, aku melihatmu dalam sosok yang tidak lagi sama. Hari itu adalah hari yang paling bahagia dalam hidupku karena aku mendapatkan kado terindah dalam hidupku.

Tidak ada yang salah dengan perasaan ini, namun saat itu kita hanyalah dua manusia yang belum mengerti betul dengan diri sendiri. Aku tidak ingin salah mengutarakan dan mempertaruhkan persahabatan yang telah kita bangun. Sejak saat itu kusimpan diam-diam benih perasaan ini di dalam hati.

Kamu bukanlah seseorang yang selalu terlihat bersamaku setiap hari. Namun satu hal yang lebih penting dari menjalani apapun berdua adalah; sosokmu yang selalu sedia ketika aku membutuhkan seseorang untuk sekedar berbagi cerita.

“Dia, perempuan beruntung yang berhasil menambatkan hatinya padamu.”

Dia tidak datang tiba-tiba dan merebutmu dariku. Toh, kamu memang bukan milikku. Dia, aku juga mengenalnya sama baiknya dengan aku mengenalmu. Dia, sosok yang pantas mendampingimu untuk meraih semua cita-citamu yang luar biasa. Dia, sama sepertimu, sosok mengagumkan yang bersahaja.

“Terkadang aku berharap perasaanku ini seperti jejak kaki di pasir pantai, yang perlahan akan memudar karena hempasan ombak.”

●°●°●°●°●°●°●°●

Back to Alvin

“Akhirnya sampai juga di kampus.” Gumamku.

Jarak dari rumah Nita menuju kampus lumayan jauh, memakan waktu sekitar 40 menit perjalanan melewati hiruk-pikuk kota Surabaya.

Setelah memarkirkan mobil, aku langsung bergegas menuju HIMA untuk mengikuti rapat.

“Hah!” Betapa terkejutnya aku melihat Ocha sedang duduk di bangku depan Basecamp HIMA. “Sayank, kok ada di sini? Sudah dari tadi di kampus? Sayank ‘kan hari ini gak ada kuliah?”

“HP-nya kenapa kok, di matiin?” Bukannya dia menjawab pertanyaanku malah bertanya balik dengan suara ketus.

“Ya ampun! Maaf sayank, aku lupa nyalain HP.” seruku beralasan. “Semalem sepulang dari ngopi aku langsung tidur soalnya ngantuk banget. Terus tadi bangunku kesiangan dan baru inget kalau hari ini ada rapat jadi tadi aku buru-buru ke kampusnya.”

“Oh, Ngopi di mana?!” tanyanya dingin.

“Di warkop biasanya, Yank.” jawabku berkilah. “Warkop deket kampus tempet biasa aku ngopi sama anak-anak.”

“Oh, ngopi deket kampus!” serunya ketus dan mencibirku.

“Sayank marah?” tanyaku setelah melihat ekspresinya yang nampak tegang. “Maaf ya sayank, aku lupa nyalain HP karena tadi aku telat bangun dan buru-buru ke kampus!”

“Pikir aja sendiri!” ketusnya. “Ya udah, kalau gitu aku mau pulang. Capek mau istirahat.”

“Yank…!” seruku dengan suara lembut. “Iya maaf, aku salah! Aku lupa nyalain HP dan gak ngasih kabar ke Ayank, maaf ya sayank! Sayank jangan marah!” Aku mencoba membujuknya.

“Aku marah bukan karena kamu lupa nyalain HP dan gak ngabarin aku. Aku marah karena kamu gak jujur sama aku.” ucapnya dengan suara terdengar bergetar dan mata berkaca-kaca seperti hendak menangis.

“Ini apa?!” Ocha menunjukkan sebuah foto dari layar HP-nya. “Masih gak mau jujur dan masih mau bilang kalau semalem ngopi deket kampus?”

Deg!

Betapa kagetnya aku melihat sebuah foto yang ditunjukkan Ocha padaku barusan.

“A… Aku bisa jelasin Yank, ini semua gak seperti yang kamu kira.” kataku terlihat panik.

“Nggak ada yang perlu dijelasin, Vin. Aku capek aku mau pulang istirahat.” Ocha berlalu meninggalkanku.

“Yank, dengerin dulu!” Aku berlari mengejar Ocha dan memegang lengannya.

“Lepasin!” Bentaknya. Ocha nampak sesenggukan sambil menghentak-hentakkan lengannya.

“Yank, aku bisa jelasin semuanya,” Aku mencoba membujuk Ocha supaya mau mendengarkan penjelasanku. “Iya, maaf! Aku salah aku sudah bohong dan gak jujur sama kamu. Wanita yang ada di foto itu Nita, Yank! Semalem aku mabuk parah dan gak kuat untuk nyetir mobil sendiri terus Gondes telpon Nita minta tolong buat nganterin aku pulang karena Gondes semalem bawa mobil sendiri. Itu fotonya burem dan gak jelas. Aku sayang banget Yank sama kamu, gak mungkin aku tega khianatin kamu. Aku gak selingkuh dengan wanita lain! Kalau kamu gak percaya kamu bisa tanya sama Gondes atau Nita.”

“Aku mau pulang, aku capek!” Ocha menepis tanganku dan pergi berlalu meninggalkanku.

Aku hanya terdiam melihat Ocha pergi berlalu meninggalkanku. Dari kejauhan aku melihat Debby berlari ke arahku.

“Vin,ojok meneng ae uberen Mbak Ocha! (Vin, Jangan diam aja kejar Mbak Ocha!).” Debby memintaku untuk mengejar Ocha.

“Ayo ke basecamp, rapat Deb!” seruku sambil berlalu meninggalkan Debby berjalan menuju basecamp.

“Emboh Vin, karepmu.” sahutnya kesal.

Bersambung