Cinta Itu Buta Part 20

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20Part 21

Cinta Itu Buta Part 20

Start Cinta Itu Buta Part 20 | Cinta Itu Buta Part 20 Start

PART XX

Surabaya, 11 February 2010

Drrrrttttt…! Drrrrrttttt….! Drrrrrttttt…!

Drrrrttttt…! Drrrrrttttt….! Drrrrrttttt…!

“Yank, HP-nya geter, tuh!” seru Ocha memberitahu.

Masih tetap fokus kearah jalan, kuambil handphone yang kuletakkan di atas dasboard mobil. Ternyata Gondes yang telpon.

“Hallo…! Ya, Ndes.” sahutku menjawab panggilan telpon.

“Mas, lagi di mana?”

“Neng dalan!! Ngeterke Ocha moleh, kenopo emange?! (Di jalan!! Nganterin Ocha pulang, kenapa emangnya?!)”

“Sinio Mas, ke warkop (warung kopi) biasanya!! Ini ada Gambles di sini.”

“Tumben arek iku mentungul?? (Tumben anak itu nongol??).”

“Mas Vin, Sinio Mas. Aku kangen loh sama kamu.” sahut Gambles berteriak di ujung telpon sana.

“Hmmm…! Iya tungguen setengah jam lagi aku kesana, abis nganterin Ocha pulang.” Jawabku melalui smartphone-ku.

“Oke Mas, tak tunggu ya!! Mau di pesenin kopi nggak?” tanya Gondes di ujung telpon sana.

“Iya, Ndes. Pesenin aku kopi jahe kayak biasanya, ya!”

“Siap…”

“Ya wes nek gitu, Assalamualaikum.”

“Waalaikumsalam.” jawab Gondes di ujung telpon sana.

Sambil tetap fokus ke arah jalan, aku menutup sambungan telpon dengan Gondes dan meletakkan kembali handphone di atas dasboard mobil.

“Sayank, abis nganterin aku. Kamu mau keluar ngopi sama anak-anak?” tanya Ocha setelah tadi ia ikut mendengar pembicaraanku di telpon.

“Hooh..” jawabku singkat.

“Hmmmmm….!” gumam Ocha.

“Kenapa sayank? Nggak boleh?!” tanyaku ketika mendengar reaksinya yang sepertinya tidak suka.

“Awas loh, jangan aneh-aneh!” ancam Ocha serius.

“Emang ngopi yang aneh-aneh itu ya apa yank? Sayank lak ada-ada aja.” sahutku sambil nyengir kuda melihat ekspresi Ocha yang nampak cemberut.

“Ya kan bisa aja sayank bilangnya keluar ngopi tapi ujung-ujungnya malah keluar minum sama anak-anak.” Ocha memberikan alasannya kenapa sampai ia kurang suka aku nanti bertemu dengan teman-temanku.

“Lahhh?! Kopi kan di minum yank, masak kopi di makan? Hahahaha…” Aku menjawab dengan sedikit bercanda padanya disertai dengan tawa canda.

“Sayank loh, lak mbencekno.” ucap Ocha gemas bercampur kesal sambil mencubit lenganku.

“Aduuudduuhh.. !” seruku mengaduh kesakitan ketika lenganku terkena cubitan mautnya. “Sakit yank. Ampun, ampun. Iya-iyaaa… Janji nggak aneh-aneh.”

“Awas kalau sampek ketahuan! nggak akan tak maafin!” ancamnya serius sambil mengepalkan tinjunya.

Setelah mengantar Ocha pulang aku langsung bergegas menuju warkop.

“Akhirnya sampai juga.” gumamku sambil membayangkan secangkir kopi panas dan sebatang rokok.

Saat aku hendak menepi dan memarkirkan mobil, tiba-tiba saja Gambles datang menghampiri dan mengetuk kaca pintu mobil.

“Kenapa Mbles?” tanyaku setelah membuka kaca mobil.

“Mas Vin kopinya habis, bakule lali kulak. (penjualnya lupa belanja).”

“Lahhhh….! Yang bener, toh?!” tanyaku sedikit kaget seperti tak percaya.

“Beneran mas!! Ayo ngopi di tempat lain mas, itu Gondes lagi bayar. Aku semobil sama kamu ya Mas, entar kita ikutin Gondes dari belakang.”

“Hmmmm…! Ya wes dang masuk.” kataku meminta segera masuk ke mobil.

“Di lock Mas Vin.” Sahutnya ketika dia mencoba membuka pintu mobil depan sebelah kiri.

“Eh, Sory, Sory! Hehehe…” Kekehku lalu membuka Lock door.

Tiiiinnnn….!! Tiiiiinnnnnn…..!!

Suara klakson mobil Gondes.

“Itu Gondes sudah jalan Mas!” ujar Gambles sambil menunjuk mobil Gondes yang sudah mulai melaju di jalanan.

Aku pun bergegas melajukan mobil mengikuti mobil Gondes dari belakang.

“Emang kita mau ngopi kemana seh Mbles?” tanyaku saat mobil kami sudah berada di jalan raya.

“Enak pokoknya Mas, tempetnya. Ikutin aja mobil nya Gondes!” sahut Gambles. Nampak sekali ekspresi wajahnya yang terlihat bersemangat.

“Hmmmmm…..!” gumamku.

“Sip lah mas kamu udah pakai sepatu ternyata,” ujar Gambles sambil melihat kearah kakiku. “Tadinya kalau kamu gak pakai sepatu sudah disiapain sepatu di mobil sama Gondes Mas.”

“Lah, emang mau ngopi ke mana toh? Ngopi aja kok harus pakai sepatu?!” tanyaku kebingungan.

“Ngopi di Sutos Mas.” jawab Gambles.

“Sutos?!” sahutku kaget dengan jawaban temanku barusan.

“Huum, kita ngopi di F*r*play Mas.” ujar Gambles cengengesan.

“Haaadeeehhhh…”

“Sekali-sekali lah Mas kan kita lama nggak have fun bareng Mas.”

“Hmmmmm…..!”

“Aku yang traktir Mas, anti pulang sebelum mabuk.”

“Kelakuanmu pancet ae Mbles.” gerutuku.

“Hahahahaha…..” tawanya meledak mendengar gerutuanku barusan.

Sesampainya di Sutos, setelah memakirkan mobil kami pun bergegas masuk menuju F*r*play.

“LADIES NIGHT.” teriak Gondes dan Gambles bebarengan.

“Hadehhhh… Ternyata… Makanya mereka semangat banget.” batinku dalam hati.

Saat kami hendak masuk ke dalam. “Mas Alvin selamat datang, mari saya antar mas.” ujar seorang wanita berseragam hitam.

“Lahhh…?!” ujarku kebingungan.

“Hmmmm…! Berarti dua kunyuk ini sudah reservasi tempat sebelumnya.” Kataku dalam hati.

Dan benar saja di meja yang akan kami tempati sudah tersedia 3 botol Jackdaniels, 2 botol Champagne dan 2 tower heineken beserta snack.

“Mbles, gila kamu! Kita cuman bertiga loh Mbles.” ujarku sembari geleng-geleng kepala membayangkan kami hanya bertiga dan harus menghabiskan minuman yang begitu banyaknya.

“Hahahaha… Free Flow, Mas.” Ujar Gambles disertai tawanya yang kencang.

“Free Flow gundulmu Mbles.” omelku sedikit kesal.

“Aman-aman Mas, kita nggak bertiga doang kok, entar ada temenku datang.” sahut Gondes kemudian.

“Ini ladies night Mas, bukan lontong night!” teriak Gambles.

Aku hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan mereka berdua.

Waiters, mulai menuangkan Jack D, satu persatu, ke dalam gelas. Yang telah tersusun rapi, di atas meja.

“Tuangin polos aja mbak semuanya! Penuhin!” ucapku pada waiters tersebut.

Setelah waiters menuangkan minuman untuk kami, langsung kuberikan kepada Gondes dan Gambles.

“Mas Vin gila kamu ya?!” ujar Gambles heboh.

“Wew, full + polosan.” sahut Gondes.

“Free flow!! Cheeeerrrrss….” teriakku pada mereka berdua.

Kutenggak segelas penuh Jack D polos tanpa campuran apapun.

“Arrgghhhh..!” erangku setelah menenggak habis satu gelas penuh Jack D polos dalam satu tenggakan.

Terasa tenggorokan dan dadaku seperti terbakar.

“Ajoooorrrr…!” ucap Gondes berkomentar setelah melihat barusan aku menghabiskan minuman itu dengan cepat.

“Hahahahahaha….” tawa kami bersama.

“Waduh kalau Ocha sampai telpon dan tau aku lagi di tempat dugem bisa berabe nih, mending aku bilang kalau HP-ku lowbat terus tak matiin deh.” Batinku dalam hati.

Segera kuambil HP dalam saku celanaku.

Dan benar saja aku mendapati BBM dari Ocha yang menanyakan kabar tentangku.

From : Last Love

Sayank….

From : Last Love

Sayank di mana?? Kok gak dibales bbmku.

To : Last Love

Maaf yank aku baru buka HP, ini aku lagi ngopi sama Gondes sama Gambles.

Yank HP-ku batrey-nya abis, lupa bawak charger.

Sayankku istirahat gih, tidur pasti capek seharian keluar.

HP-ku tak matiin ya yank.

Good nite, Love you…

Setelah membalas BBM dari Ocha aku langsung mematikan HP-ku.

“Mas, kok di matiin HP-nya?” tanya Gondes keheranan saat melihatku sedang mematikan handphone-ku.

“Huum Ndes entar kalau Ocha telpon berabe Ndes.”

“Mas kamu tadi bilang sama Mbak Ocha kalau lagi keluar sama aku sama Gambles?”

“Huum, aku bilang keluar ngopi sama kalian.”

“Waduh…!” sahut Gambles mengeluh.

“Emang kenapa Mbles?!” tanyaku bingung.

“Kalau Mbak Ocha nggak bisa hubungin ke HP-mu pasti hubunginnya ke HP-ku atau kalau nggak ke HP-nya Gondes Mas.” ujar Gambles menjelaskan alasannya.

Gambles pun segera mengeluarkan HP dan mematikan HP-nya.

“Ndes HP-mu patenono, mengko nek Mbak Ocha telpon dadi gawe. (Ndes Hpmu matiin, entar kalau Mbak Ocha telpon jadi kerjaan).” ujar Gambles memberitahu.

“Terus entar kalau temenku nyariin gimana?” tanya Gondes bingung. “Kan aku janjian sama mereka ketemuan di sini!”

“Ya di kabarin sekarang, kasih tau ke mereka tempat duduk kita.” ujar Gambles memberikan solusinya.

“Uyeeeee…” sahut Gondes.

“Kalian emang the best.” ujarku pada mereka berdua sambil mengacungkan jempol.

“Alviiiinnnn……!” teriak seseorang memanggil namaku sembari berlari ke arah kami.

Orang tersebut berlari ke arahku, memelukku dan mencium pipi kiri dan kananku lalu bergantian memeluk dan mencium pipi kiri dan kanan Gondes dan Gambles.

“Roy…!” seruku memanggil namanya.

“Ihhhh….! Kangen deh, ama kalian semua.” serunya kegirangan.

“Ini ladies night loh bukan bencong night.” Sahut Gambles.

“Matamu..” maki Roy dengan suara agak ngebas.

“Hahahahahaha, lanange metu. (lakinya keluar.)” sahutku diiringi tawa kami bersama.

“Kalian kok jahat seh, nggak pernah ngabari aku kalau lagi kumpul.” ujar Roy kembali dengan suara perempuannya.

“Ini di kabarin gitu loh.” sahut Gondes.

“Nyoh di tenggak sek, ben nggak rame ae. (Nih di minum dulu, biar nggak berisik terus.)” ujar Gondes sembari memberi gelas minimun berisi Jack D polos segelas penuh.

“Ihhhhh…! Kok nggak sopan sih, kalau ngasih anak perawan itu yang lembut napa.” ucap Roy bertingkah layaknya seperti gadis ayu di depan kami.

“Hoeeeeekkkk…” ujar kami bertiga bebarengan.

“Eh, kalian gila ya, mesan minuman sebanyak ini!!” tanya Roy saat melihat meja kami penuh dengan botol minuman.

“Entar ada temennya Gondes ke sini Roy.” sahutku.

“Pasti cewek!! Kalian nggak asyik,” ujar Roy cemberut. “Sekali-sekali kek ajak cowok tampan ke sini buat nemenin akyu.”

“Kita bertiga masih normal Roy, kamu doang yang abnormal.” Sahut Gondes.

“Ih dasar lelaki munafik, dulu aja sering banget bilang aku cantik dan seksi. Habis manis sepah dibuang.” omel Roy dengan muka cemberut.

“Itu terpaksa Cok.” Sahut Gambles.

“Roy yang cantik dan seksi sudah dong jangan ngambek,” ujarku merayu Roy. “Entar kalau kamu cemberut terus, nggak di kasih dedek loh sama Gambles.”

“Matamu, Mas.” sahut Gambles.

“Hahahahaha…..” Seketika tawa kami meledak mendengar celotehan Gondes barusan.

Aku geleng-geleng kepala melihat tingkah laku Roy yang semakin lama semakin menjadi-jadi. Dulu kalau kita butuh sesuatu dari Roy atau harus minta tolong padanya kita harus menyebutkan kata sandi wajib yaitu bilang “Canti, seksi!! Tolong dong.” Hahahaha… Sekarang juga masih sih.

Meskipun begitu dia adalah salah satu sahabat terbaikku.

Selang tak berapa lama tiga orang wanita datang menghampiri meja kami.

“Mas Vin kenalin temanku.” ujar Gondes memperkenalkan temannya yang baru datang.

“Meta!” ucap teman Gondes memperkenalkan diri.

“Alvin!” aku membalas jabatan tangannya.

“Lina!”

“Alvin!”

“Amel!”

“Alvin!”

Hari semakin larut, semakin membuat club ramai dan panas.

Suara dentuman musik DJ terdengar sangat keras dan memekakan telinga.

Entah sudah berapa berapa banyak minuman yang kutenggak.

“Mas Vin, liaten Roy Mas hahahaha….” Seru Gondes.

Kulihat Roy sudah sangat mabuk dan dia sedang bergoyang sambil tangannya memegang tiang dan tubuhnya meliuk-lik seperti layaknya seorang sexy dancer. Dengan lihai dia menggerakkan seluruh badannya mulai dari kepala, pundak, hingga pinggul.

“Sikat Roy, hajar terus tiangnya.” teriak Gambles seolah-olah sedang memberikan semangat.

“Hahahaha….” tawaku melihat Roy sedang bergoyang-goyang tanpa ada rasa malu lagi.

“Angkat lagi Mas, Cherrrsssss…!” seru Gambles meberiku gelas minuman.

“Cherrrrrrsss…” ujarku sembari mengangkat gelas.

Aku hanya duduk diam dan menikmati alunan musik DJ tanpa menghiraukan 3 wanita yang diajak Gondes untuk bergabung bersama kami.

“Mas kok diem aja dari tadi?” seru Lina mengajakku ngobrol.

“Kenapa emangnya?” tanyaku balik dengan sikap cuek.

“Turun yuk!!” ajaknya untuk berjoged di dance floor.

“Enggak deh, aku nggak bisa dan nggak biasa nge-dance.” tolakku.

Setelah itu aku tak menghiraukannya lagi entah bagaimana reaksinya atas penolakanku yang jelas aku tak peduli, karena aku hanya ingin duduk, minum dan menikmati alunan musik.

Aku mempunyai alasan jelas untuk menolak dan tak menghiraukannya, karena aku mempunyai seorang kekasih yang sangat aku cintai.

“Hajar Ndes…!” teriak Gambles memberi semangat pada Gondes saat Gondes menenggak langsung minuman dari botolnya.

“Ayo Mas..!” Seru Gondes memberiku botol Jack D.

Aku mengambil botol tersebut dan langsung menenggaknya.

“Asseeeek…” seru Gambles girang.

Suara dentuman musik DJ yang keras ditambah rasa alkohol yang membakar kerongkongan membuat kepalaku berasa seperti berputar dan pandangan mataku semakin lama semakin kabur.

Aku mencoba fokus untuk memperhatikan se-kelilingku. Kulihat Gondes dan Gambles sedang asik bersama teman wanita yang diajak Gondes. Dan saat aku melihat ke arah Roy, kulihat Roy sudah terkapar tak berdaya di lantai sambil tangannya masih memegang tiang.

Aku bangkit dan berusaha membopong tubuh Roy lalu meletakkanya terlentang di sofa.

“Roy ambruk Mas?” tanya Gondes.

“Huum.” jawabku singkat karena saat ini keadaanku pun sudah sangat mabuk.

“Ndes terno neng (anterin ke) toilet.”

“Yok Mas.” ujar Gondes sembari membantuku berjalan ke toilet.

●°●°●°●°●°●°●°●

POV Gondes

“Hooeek… Hooek… Hoeeekk…”

“Muntahin semua Mas.” ujarku sambil memijat belakang leher Mas Alvin.

“Hoeek… Hoeekk… Hoeekk…”

“Tisu Ndes.” pintanya.

“Nih Mas.” ucapku memberikan tisu kepada mas Alvin.

“Mas istirahat di rest room, ya,” ajakku.

“Hmmmmm!” gumamnya.

Aku pun membantu Mas Alvin berjalan menuju rest room.

“Mas kamu tunggu di sini bentar ya, aku tak manggil Gambles sama Roy terus kita pulang. Sudah pagi juga, sekarang sudah jam dua pagi.”

“Hmmmmm…! Hmmmm…!”

“Tunggu di sini ya Mas jangan ke mana-mana!”

“Hmmm…!”

Akupun bergegas menghampiri Gambles dan Roy untuk mengajak mereka pulang.

“Mbles, ayo balik!” ajakku.

“Yok Ndes.” seru Gambles. “Terus konco-koncomu piye? (Terus teman-temanmu gimana?)”

“Mereka bawak kendaraan sendiri kok Mbles.” seruku memberi tahu.

Lantas akupun berpamitan kepada teman-temanku dan membantu Gondes untuk membopong tubuh Roy.

“Mbles masih kuat nyetir kan?” tanyaku.

“Nggak kuat Ndes! Mendem (Mabok) aku, timbang malah onok opo-opo neng dalan. (Daripada ada apa-apa di jalan.)”

“Terus mobile Mas Alvin siapa yang nyetir Mbles?” tanyaku kebingungan.

“Telpon sopo ngono loh Ndes jalok tolong.” Sahutnya.

“Telpon Mbak Ocha nggak mungkin, jalok tolong sopo yo? (minta tolong siapa ya?)” gumamku sembari berpikir.

Dan saat ini yang ada di pikiranku adalah Mbak Nita.

“Semoga aja mbak Nita bangun dan ngangkat telponku.” Batinku sambil menelponnya.

“Halloo Mbak.”

“Ya Ndes, ada apa telpon malem-malem?” sahut Mbak Nita dari ujung telpon sana dengan suara masih mengantuk.

“Mas Alvin mabuk berat Mbak, nggak ada yang nyetirin mobilnya. Aku bawak mobil sendiri soalnya Mbak.”

“Ya ampun! Kalian di mana sekarang?!” serunya kaget dari ujung telpon sana.

“Di Sutos Mbak.”

“Ya wes aku tak ke sana naik taksi, tungguen!”

“Iya mbak Makasih.” ucapku sambil menutup telpon.

“Piye Ndes?” tanya Gambles setelah aku selesai nelpon mbak Nita.

“Mbak Nita rene Mbles.” jawabku.

“Roy, jancok.” maki Gambles.

“Kenopo Mbles?”

“Manukku di remes. (Burungku di remas.)”

“Hahahaha….”

●°●°●°●°●°●°●°●​

POV Nita

ANITA RAHMA YULIANTI

Setelah mendengar kabar dari Gondes kalau Alvin sedang mabuk parah, aku pun langsung bergegas memesan taksi dan berangkat menuju Sutos.

Drrrrttttt…! Drrrrrttttt….! Drrrrrttttt…!

Drrrrttttt…! Drrrrrttttt….! Drrrrrttttt…!

Terasa getaran handphone di dalam tasku. Akupun langsung mengambil HP-ku.

“Hallo, ya Ndes.”

“Sampai mana Mbak?” tanya Gondes di ujung telpon sana.

“Ini udah deket kok, 10 menit lagi sampai.”

“Tak tunggu di parkiran ya Mbak, tau kan Mbak Parkiran arah keluar F*r*play.”

“Iya tau.”

“Kalau gitu aku tak jalan ke parkiran sekarang Mbak.”

“Huum, ini aku sudah mau sampai.”

“Pak agak cepet sedikit ya Pak!” seruku meminta sopir taksi untuk lebih cepat bawa kendaraannya.

“Iya Mbak ini udah deket banget kok.” ujar pak sopir memberi tahu.

Lokasi : Parkiran Sutos

Kulihat Gondes sedang berjalan sempoyongan membantu Alvin berjalan menuju mobil. Aku langsung berlari ke arah mereka untuk membantu Gondes membopong Alvin.

“Ya ampun! Kok bisa sampai kayak gini, seh?” seruku bertanya pada mereka.

“Iya, Maaf mbak.” ujar Gondes meminta maaf padaku.

“Kalian cuman berdua doang?”

“Berempat sama Gambles dan Roy Mbak.”

“Terus mana mereka?”

“Gambles sama Roy sudah tepar mbak di dalem mobilku.”

“Kamu masih kuat nyetir mobil sendiri?” tanyaku memastikan keadaan Gondes.

“Kuat kok Mbak. Oh ya, minta tolong dong Mbak ambilin kunci mobil Mas Alvin di dalam saku celananya.”

Setelah aku mengambil kunci mobil dari kantong celana Alvin, aku segera membuka pintu mobil dan membantu Gondes untuk merebahkan tubuh Alvin di kursi sebelah pengemudi.

“Eh Ndes, 2 cewek itu temenmu? Kok dia dari tadi ngeliatin kita terus!!” tanyaku pada Gondes karena aku melihat ada dua orang wanita sejak tadi selalu memperhatikanku.

“Yang mana Mbak?”

“Itu yang lagi berdiri di deket mobil sedan warna putih.” Aku menunjuk ke arah ke dua wanita tersebut.

“Bukan Mbak, aku nggak kenal sama mereka, kan kita lagi gotong orang mabuk Mbak, jadi wajarlah kalau kita di liatin sama mereka.”

“Mungkin…!”

“Makasih banyak ya Mbak!! Tak tinggal dulu ya Mbak, kasian Gambles sama Roy di mobil. Mereka juga mabuk parah.”

“Iya Ndes, aku juga terima kasih kamu sudah ngabarin aku.”

“Aku jalan dulu Mbak.” ujar Gondes berpamitan.

“Hati-hati di jalan Ndes!”

“Iya Mbak, kamu juga.”

Setelah berpamitan dengan Gondes aku segera bergegas masuk ke dalam mobil.

Jarak antara rumahku dengan Sutos tidak terlalu jauh, jadi tidak butuh waktu lama hanya butuh waktu sekitar 30 menit untuk sampai di rumah. Apalagi sekarang jalanan lagi lenggang dan sangat sepi.

Sesampainya di rumah setelah memarkirkan mobil, aku segera masuk ke dalam rumah untuk meminta tolong kepada si Mbak ART-ku untuk membantuku memapah tubuh Alvin.

Setelah bersusah payah akhirnya aku dan si Mbak berhasil untuk memapah tubuh Alvin menuju kamarku dan merebahkannya di atas kasur.

“Terima kasih banyak ya Mbak.”

“Sama-sama Mbak, kalau gitu saya kembali ke kamar Mbak.” ujar ARTku berpamitan untuk kembali ke kamarnya.

Di rumah ini aku hanya tinggal berdua dengan si Mbak, keluargaku mereka tinggal di Jakarta.

Dengan telaten aku melepas sepatu Alvin dan menganti kemejanya yang basah dan berbau alkohol yang sangat menyengat dengan jubah tidurku.

Aku membenarkan posisi tidurnya dan menyelimuti tubuhnya.

“Nih anak wajahnya polos banget kalau lagi tidur.” gumamku sambil tersenyum memandang wajahnya.

Aku menjadi teringat kembali tentang masa lalu di mana dulu dia selalu ada untukku disaat aku membutuhkannya.

“Terima kasih untuk semuanya.” ucapku sembari mencium keningnya.

Bersambung

END – Cinta Itu Buta Part 20 | Cinta Itu Buta Part 20 – END

(Cinta Itu Buta Part 19)Sebelumnya |Bersambung(Cinta Itu Buta Part 21)