Cinta Itu Buta Part 19

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20Part 21

Cinta Itu Buta Part 19

Start Cinta Itu Buta Part 19 | Cinta Itu Buta Part 19 Start

PART XIX​

Surabaya, 1 Desember 2009

Anak jalanan kumbang metropolitan

Selalu ramai dalam kesepian

Anak jalanan korban kemunafikan

Selalu kesepian di keramaian

Sambil mendendangkan lagu Anak jalanan kupacu motorku kencang melewati panasnya terik matahari dan padatnya jalanan kota Surabaya.

Hari ini, aku sangat senang sekali karena sudah hampir 6 bulan lamanya aku tak bertemu dengan Kamen Rider kesayanganku. Dan hari ini aku menaikinya menuju kampus untuk menemani Ocha bimbingan skripsi.

“Akhirnya sampai juga di kampus tercinta.” gumamku.

Drrrrttttt…! Drrrrrttttt….! Drrrrrttttt…!

Terasa getaran handphone di saku celanaku, dan setelah kulihat ternyata Ocha yang menelpon.

“Hallo…! Ya sayank, kenapa?”

“Assalamualaikum, kebiasaan deh, gak pernah ucap salam.”

“Eh…! Wallaikum salam.”

“Sayank di mana?”

“Ini lagi di parkiran, baru aja sampai.”

“Ya wes, tak tunggu di kantin kalau gitu!”

“Loh, kok di kantin? Katanya kemaren, bimbingan hari ini.”

“Udah, cuma revisi dikit doang. Cepetan ke sini!”

“Iya, sayankku. Cintaku. Kasihku.”

“Assallamualaikum.”

“Waalaikum salam.”

Setelah memarkirkan Kamen Rider kesayanganku, aku pun segera bergegas menuju kantin. Terlihat Ocha sedang duduk menungguku sambil memainkan smartphone-nya.

“Hmmm…! Cowoknya dateng, disambut kek. Malah ditinggal main HP.” omelku dengan sedikit pasang muka kesal.

“Ihh! Ngambek nih, ceritanya! Bentar ya, sayank. Ini aku lagi BBM-an sama anak-anak tanya kapan jadwal SEMPRO (Seminar Proposal).” jawab Ocha dengan mata masih tetap menatap layar HP Black Berry-nya.

“Hmmmm…!” gumamku.

“Sayank mau pesen apa? Biar aku pesenin.” ujar Ocha setelah ia selesai dengan kegiatannya dengan HP-nya.

“Pesen kamu jadi pendamping hidupku.”

“Ihhhh! Siang-siang udah gombal. Sayank, kok wajahnya berminyak banget? Sini aku bersihin wajahnya!” ucap Ocha. Lalu ia mulai membersihkan wajahku dengan tisu basah yang dikeluarkan dari dalam tasnya.

“Sayank, kok tumben sih? Wajahnya berminyak banget?” tanyanya heran.

“Ya, wajarlah yank. Kan dari jalan. Mana panas banget lagi siang ini.” jawabku.

“Loh, ‘kan sayank naik mobil?” tanyanya keheranan. “Jangan bilang kamu ke sini naik motor butut jelekmu yang mahal dan ngabisin uang karena sering masuk bengkel itu!”

“100 buat Anda.” jawabku sambil mengancungkan jempol.

“Ya wes, aku pulang naik taksi aja.” jawabnya dengan muka cemberut.

“Loh, kok gitu sih?! Terus kalau aku gak punya mobil dan punyanya cuma motor yang kamu bilang butut itu kamu gak mau nih jadi pacarku?”

“Ya, nggak gitu juga. Aku tuh paling benci dan nggak suka sama motormu. Heran. Kenapa sih, motor butut kayak gitu masih juga di pelihara? Sudah jelek, mahal, ngabisin duit lagi karena sering masuk bengkel.” gerutunya dengan muka cemberut.

“Sekarang Kamen Riderku sudah jadi ganteng loh kayak yang punya.”

“Bodo amat.”

“Hmmmm…!”

“Aku tuh udah dandan cantik loh buat kamu, terus disuruh panas-panas naik motor. Mana motornya suka mogok lagi.”

“Enggak sayank, dijamin deh kali ini Kamen Rider nggak akan mogok lagi.”

“Aku nggak bawak jaket sama helm.”

“Pakai jaketku dan sengaja aku bawa helm dua kok, jadi aman.”

“Auk ah, gelap!” ujarnya masih dengan wajah cemberut.

“Sayankku, udah ah. Cemberut mulu ‘ntar cantiknya ilang loh.”

“Bodo amat. Tau gitu tadi aku bawa mobil aja, nggak minta dianter Adek.”

“Ya udah, kalau sayank nggak mau naik motorku. Aku tak ngajak adek-adek cantik yang duduk di sana aja deh! Siapa tau dia mau dibonceng naik motor bututku?”

“Sayank, loh kok gitu sih ngomongnya?”

“Abisnya sayank sih, dari tadi cemberut mulu. Pacarnya dateng jauh-jauh, panas-panasan disambut dengan muka bete.”

“Abisnya kamu sih, bikin bete.”

“Hmmmmmm…!” gumamku.

“Yayaya lelaki selalu salah dalam segala hal dan wanita selalu benar.” kataku membatin dalam hati.

“Alvin pesen apa?” tanyak Umik setelah menghampiri meja kami.

Umik adalah sapaan kami pada Ibu pemilik kantin di kampus kami.

“Kopi, Es teh sama Nasi pecel Umik.” jawabku.

“Sayank, mau apa?” tanyaku pada Ocha.

“Aku, ‘Es teh tawar sama Soto’ Umik.”

“Bentar, ya!” jawab Umik.

“Makasih Mik.” sahutku.

“Yank…!”

“Dalem (Apa)..?” jawabku.

“Napa sih motor butut kayak gitu masih dipelihara? Mending dijual deh, terus duitnya dibeliin motor matic. Aku mau deh dijemput dan di bonceng naik motor matic.”

“Emoooooh… Nggak mau! Apaan motor matic? Udah nggak keren dan nggak laki banget.”

“Iiihhh…!” seru Ocha kesal.

“Aman kok, sayank. Kamen Rider sekarang anti mogok.”

“Kalau ‘ntar mogok, langsung dijual ya Kamen Ridernya.” ancamnya.

“Ohhh, tidak bisa..” jawabku sambil cengengesan.

“Kan dia sendiri aja nggak yakin kalau motornya bakalan nggak mogok. Terus aku sudah dandan cantik-cantik gini disuruh naik motor panas-panasan dan kalau mogok disuruh dorong gitu.”

“Kan romantis yank, kayak di film-film.” jawabku.

“Bedain deh, yank. Mana yang romantis dan mana cowok kejam yang menyiksa wanitanya?”

“Hahahahahaha….” tawaku lebar mendengar keluhannya barusan.

Motor butut yang di maksud Ocha adalah motor Honda CB 200 kesayanganku yang kuberi nama Kamen Rider. Karena saat mengendarai aku membayangkan motor yang di kendarai oleh Satria Baja Hitam, film favoritku semasa kecil.

Tak lama kemudian, Umik datang membawakan pesanan kami.

“Makasih Mik.” ujarku saat pesananku telah Beliau sajikan di atas meja.

“Sayank, makan gih! Ntar sotonya, dingin loh.” ucapku.

“Iya, yank.” jawabnya.

Setelah selesai makan seperti biasa aku menyalakan rokok. Ada pribahasa yang mengatakan; selesai makan tanpa merokok, bagaikan wanita tanpa pensil alis.

“Yank..!” panggil Ocha saat aku sedang asyik menikmati secangkir kopi dan sebatang rokok.

“Dalem? (Apa?)”

“Itu Fara “kan yang duduk di meja nomor 4?” tanya Ocha dengan suara sedikit dipelankan.

Aku menoleh ke meja nomor 4 dan kudapati Fara tersenyum ke arahku. Aku pun membalas senyumannya dengan ikut tersenyum.

“Aaawwwww…..! Sakit, yank. Kok, di cubit sih perutku?” seruku kaget setelah jari lentik Ocha mendarat di perutku.

“Abis kamu ganjen amat jadi cowok.”

“Gajen gimana coba? Orang dia senyum masak tak bales cemberut!” keluhku.

“Yank, kamu merhatiin nggak sih? Dari tadi dia merhatiin kita. Lebih tepatnya merhatiin kamu.” ujar Ocha menjelaskan apa yang dirasakannya dari tatapan mata Fara.

“Enggak! Aku malah nggak tau ada Fara di situ!”

“Dia dari tadi loh, merhatiin kamu terus yank.”

“Terus kenapa emang?” tanyaku polos.

“Aku nggak suka melihat cara dia merhatiin kamu.”

“Emang kenapa yank?” tanyaku yang masih belum paham apa yang dimaksud dengan Ocha.

“Kelihatannya dia suka sama kamu deh yank.”

“Ah, sayank. Lak ada-ada aja!! Cemburu, ya??” ledekku.

“Sayank, loh. Ini serius!”

“Hmmm…! Terus aku harus gimana coba? Masak harus aku samperin dia terus bilang kamu jangan merhatiin aku, cewekku nggak suka.”

“Hehehe… Sayank loh, lak kumat onengnya. Ya, nggak gitu juga kali.”

“Lagian sayank ada-ada aja. Siapa tau dia merhatiin orang lain bukan aku? Mungkin temannya duduk di meja sebelah kita.” sahutku.

“Kalau dia nggak merhatiin kamu, kenapa dia tersenyum waktu kamu menoleh kearaahnya?” tanya Ocha.

“Meneketehe.” jawabku sambil menaikkan bahu.

“Dia itu suka sama kamu yank. Aku cewek. Aku tahu gimana cara cewek merhatiin lelaki yang dia suka.”

“Hmmmm….!” gumamku.

“Kamu inget waktu ulang tahunmu. Dia bela-belain nganterin kue tengah malam.”

“Emmmm..!” gumamku mencoba mengingat. “Oh…! Yang dititipin ke Adekku, ya?”

“Kalau dia nggak ada rasa sama kamu mana mungkin bela-belain sampai segitunya.”

“Yes, yes! Ada adek-adek gemes yang suka sama aku.” ujarku menggodanya.

“Terus, emang kenapa kalau disukai adek-adek gemes?” tanya Ocha dengan mata melotot.

“Enggak kenapa-kenapa sayankku!! Kan harusnya kamu bangga cowoknya berarti cakep ada yang suka.”

“Kenapa??? Nggak dijawab tak remet loh, dedeknya.” ancam Ocha.

“Ampun, yank! Ampun! Sayank loh, tega banget sih sampai mau ngeremet itu-ku! Kan itu masa depanmu yank, mau masa depanmu suram?”

“Biarin. Biar kamu nggak bisa ganjen lagi.”

“Kapan sih, aku ganjen?” tanyaku.

“Itu tadi barusan, pakai liat-liatan sambil senyum-senyum.”

“Udah, ah! Nggak penting juga bahas Fara,” ujarku mencoba menyudahi pembahasan tentang Fara. “Katanya mau ngajak nonton? Apa mau di sini aja bahas Fara?”

“Eh, iya. aku lupa. Asiiikkk… Nonton!” ucap Ocha kegirangan.

“Hmmm…! Tadi aja cemberut, bete, dan marah-marah. Begitu diajakin nonton girang amat.”

“Tetep bete sih, karena naik motor bututmu.”

“Hmmmm… Ya wes, aku tak bayar dulu.”

●°●°●°●°●°●°●°●​

POV Fara

Setiap orang mempunyai caranya sendiri untuk mencintai dan aku memilih untuk diam, memperhatikannya dari jauh dan mendoakannya secara diam-diam.

Setiap orang punya caranya sendiri untuk jatuh cinta tanpa membaginya dengan orang yang dia cinta.

Setiap orang juga punya cara sendiri untuk berbagi tawa dan menyembunyikan tangisnya sendiri.

Andai mata bisa berbicara, mungkin semua yang tak dapat kuucapkan dapat tersampaikan.

Andai mata dapat berbicara, dia akan menyampaikan semua suara hati ini. Karena sejak pertama kali aku bertemu denganmu mata ini mengisyaratkan sesuatu dan menjatuhkannya ke hati.

Andai aku bunga yang kau tanam dan kau siram aku setiap hari. Ketika aku mekar menjadi bunga yang cantik, aku rela jika tak kau petik. Setidaknya keindahanku ini dapat membuatmu hanyut dan kagum.

Seperti rasa ini. Rasa yang aku rawat dengan baik. Rasa yang tak kutahu dapatkah ia menyatu dengan rasamu atau tidak? Tapi aku terima jika rasa ini hanya singgah pada hatiku saja, meskipun engkau penyebabnya. Karena ini ulahku juga membiarkan rasa ini tumbuh seiring dengan berjalannya waktu.

Ohh Tuhan! Aku punya permintaan.

“Tidak mudah bagiku untuk jatuh hati kepada hamba-Mu yang sudah membuatku terpikat. Maaf, aku tidak bermaksud membuatmu cemburu. Tapi bolehkah aku menciptakan bahagia dengannya? Jika ini terlalu cepat, aku mohon Tuhan. Beri aku jalan supaya aku tidak salah arah. Sungguh Engkau Maha Kuasa atas segalanya. Bersembunyi dalam perasaan sungguh membuatku tersiksa. Sebab begitu kuatnya rasaku padanya. Tuhan…! Aku terlalu lemah untuk membawa rasa ini seorang diri. Jika pada akhirnya kami tidak dapat bersatu, berilah aku kelapangan hati untuk menerima takdir dari-Mu. Berilah aku kekuatan bahwa ternyata dia adalah kebahagiaan yang belum bisa kuraih dan kumiliki. Ya Tuhan, aku berserah diri kepada-Mu.”

Menyakitkan memang, bila aku hanya dapat melihat tanpa mendekat.

Menyakitkan memang, bila aku hanya dapat berfikir tanpa berbicara.

Menyakitkan memang, bila aku hanya dapat mencintai tanpa memiliki.

Dinginnya angin malam yang menyapa tubuhku tak dapat mendinginkan hatiku yang pernah kau hangatkan.

Malam ini, aku ingin tidur melepaskan semua penatku. Aku ingin tidur melapaskan semua yang kurasakan. Namun apalah dayaku. Aku tak mampu melawan perasaanku. Aku seperti terjebak dalam sebuah labirin raksasa yang sangat besar. Aku tak tahu kemana arah yang akan mengantarkanku kembali ke tempatku. Aku hanya terus berjalan tanpa kutahu arah. Aku tersesat. Dan sialnya aku semakin masuk ke dalam hatimu, Muhammad Alvin Fernanda.

Bersambung

END – Cinta Itu Buta Part 19 | Cinta Itu Buta Part 19 – END

(Cinta Itu Buta Part 18)Sebelumnya |Bersambung(Cinta Itu Buta Part 20)