Cinta Itu Buta Part 18

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20Part 21

Cinta Itu Buta Part 18

Start Cinta Itu Buta Part 18Cinta Itu Buta Part 18 Start

PART XVIII

Surabaya, 5 Oktober 2009

Drrrrttttt…! Drrrrrttttt….! Drrrrrttttt…!

Drrrrttttt…! Drrrrrttttt….! Drrrrrttttt…!

Aku terbangun karena getaran HP yang berada tepat di samping kepalaku. Kulihat jam dinding kamarku masih menunjukkan pukul 8 pagi.

“Ya ampun! Siapa sih, telpon pagi-pagi gini?” gumamku dalam hati sedikit dongkol. “Hmmm…! Pasti Ocha yang telpon.”

Segera kuambil HP-ku dan melihat siapa yang menelpon namun nomor tersebut tak kukenali.

“Angkat aja deh, siapa tahu penting?” Kembali aku menggumam dalam hati setelah mendengar HP-ku terus berdering.

“Hallo..” Aku segera menjawab panggilan telepon yang masuk.

“Hallo, Assalamualaikum.” sahut orang dari ujung telepon sana menyahut sapaanku dan memberi salam padaku.

“Waalaikum salam.. Maaf siapa ya?” Aku menjawab salamnya dan balik bertanya perihal siapa yang menghubungiku karena nomor teleponnya dan suaranya tidak kukenal.

“Ini Mas Fajar, Vin.” sahut orang itu mengenalkan dirinya dari ujung telepon sana.

“Iya, Mas. Ada apa, ya?” sahutku dan bertanya lagi keperluannya apa.

“Hari ini ke kampus jam sepuluh ya, Vin.” ujarnya memintaku datang ke kampus jam 10 pagi ini.

“Emang ada apa ya, Mas?” tanyaku sedikit bingung mendadak aku diminta datang ke kampus.

“Ditunggu Bu Endah, di ruang Kaprodi jam sepuluh!” sahutnya memberitahukan padaku kenapa aku diminta datang ke kampus.

“Aku hari ini, nggak ada kuliah Mas. Emang ada apa, ya? Kok, Bu Endah nyariin aku?” sahutku kaget dan sedikit bingung ada urusan apa Beliau memintaku datang menemuinya.

“Kurang tau, Vin. Tadi Bu Endah cuma minta tolong hubungin kamu agar ke kampus jam sepuluh pagi, karena ada yang mau di bicarain katanya.” Mas Fajar menjawab apa yang diketahuinya membuatku teringat kembali soal kejadian yang kemaren itu.

“Iya, Mas. Entar jam sepuluh aku ke kampus!” sahutku memberitahukan kesediaanku datang ke kampus sesuai dengan permintaannya.

“Ya udah kalau gitu, Vin! Assalamualaikum.” Mas Fajar mengakhiri pembicaraan kami di telepon diakhiri dengan salam.

“Waalaikum salam.” sahutku menjawab salamnya lalu menutup sambungan teleponnya.

Klik

Dengan bermalas-malasan, aku segera bangun dari tempat tidur dan melangkah menuju ke arah kamar mandi.

Setelah siap, aku bergegas mencari Ibuku untuk pamit berangkat kuliah.

“Ma, aku berangkat kuliah dulu, ya!” kataku pada Ibu saat aku sudah ketemu Beliau.

“Iya, sayang.” sahut Beliau dan kemudian keluarlah wejangannya. “Hati-hati ya, di jalan! Bawa mobilnya, jangan ngebut! Dan jangan lupa, baca doa sebelum berangkat!”

“Iya, Ma. Aku berangkat dulu, ya!” sahutku kemudian menyalim tangan Ibuku dan mengucapkan salam.

Setelah pamit dengan Ibuku, aku bersiap-siap menuju mobil dan berangkat menuju kampus.

.

.

.

Sesampainya di kampus, aku langsung menuju ruang Kaprodi untuk menemui Bu Endah.

Tok… Tok… Tok…!!

“Masuk!” sahut orang dalam ruangan.

“Permisi, Bu!” seruku memberi salam.

“Silahkan masuk, Mas Alvin!” ucap Bu Endah ramah.

“Terima kasih, Bu!” sahutku bersikap sopan.

“Maaf, kalau saya mengganggu waktu Mas Alvin!” ujarnya memulai pembicaraan kami dengan sedikit berbasa-basi.

“Ada apa ya, Bu?” tanyaku sopan.

“Ini mengenai mata kuliah ‘Audit’ yang saya ajar. Kemarin waktu Rapim (Rapat Pimpinan) hal ini di bahas oleh Bapak Rektor. ucapnya bernada ketus memberikan penjelasan mengenai maksudnya memintaku datang menemuinya.

“Oh, kalau Ibu mau mau memberi saya nilai E dikarenakan kemarin saya terlambat mengikuti perkuliahan Ibu dan juga karena hal tersebut sampai dibahas di Rapim oleh Bapak Rektor, yang akhirnya membuat Ibu marah. Saya tidak ada masalah kok Bu,” ujarku tegas menjawab perkataannya barusan. “Tapi saya akan tetap mengikuti perkuliahan Ibu seperti biasa. Nanti tinggal dilihat bagaimana hasil nilai UTS dan UAS saya? Entar juga kelihatan kok, Bu? Siapa yang tidak profesional?”

Bu Endah hanya diam mendengarkan ucapanku.

“Kalau memang sudah tidak ada yang mau dibahas lagi, saya permisi dulu, Bu!” ucapku sambil berdiri hendak meninggalkan ruangan.

“Kamu memang tidak ada sopan santunnya berbicara dengan dosen.” ujarnya lantang dengan nada suara yang meninggi.

Aku tak menghiraukan perkataan Bu Endah dan berjalan meninggalkan ruangan Kaprodi.

“Ya ampun, buang-buang waktu banget. Ke kampus cuma untuk membahas hal yang tidak penting. Lebih baik aku ke rumah Ocha aja, deh. Entah kenapa? Beberapa hari ini sikapnya berbeda, seperti ada yang ia sembunyikan.” gumamku membatin.

Aku pun segera bergegas menuju parkiran mobil untuk ke rumah Ocha.

●°●°●°●°●°●°●°●​

POV Ocha

OCHA PUTRI AYUNI

Dear Diary…

Setetes air mata mulai turun dari sudut mataku kala aku teringat tentang kebohonganmu.

Sayang…! Untuk apa kamu tega membohongiku?

Pertanyaan itu yang ingin kulontarkan padamu. Kalau kamu benar menyayangiku, tidakkah kamu sadar perasaan seperti apa yang kudapatkan saat dibohongi?

Aku lebih siap tersakiti karena kejujuranmu daripada bahagia sesaat karena kebohonganmu.

Apakah aku terlalu kecil untuk dikelabui?

Sayang…! Aku sudah berusaha untuk selalu mencintaimu. Namun, kalau ternyata cintaku tak seindah yang kau dapat darinya, mengapa tak jujur padaku?

Menyakitkan kalau kamu ingin tahu.

Aku yang menjadi pasanganmu, justru bukanlah hal yang kau inginkan. Dan akan lebih menyakitkan lagi, apabila kau mengambil kebahagiaan lain di luar sana lalu menutupinya dariku.

Jika memang kamu lebih bahagia dengannya, mengapa tak kamu sudahi saja semua ini?

Bukankah ini justru membuat sakit kita berdua?

Sayang…! Jika cerita cinta kita ini seperti dipenuhi kepalsuan.

Salahkah aku…! Jika akhirnya, aku merasa tak bahagia?

Tak enak rasanya berdampingan dengan orang yang pura-pura mencintaiku.

Aku tak pernah melarangmu untuk mengejarnya. Karena untuk apa kularang, jika pada kenyataannya bukan namaku yang mengisi relung hatimu.

Ketahuilah, sayang…! Cerita cinta kita bukanlah drama yang perlu dibungkus dengan banyak kebohongan. Jika memang cinta sejatimu tak kau temukan di diriku. Aku rela membiarkanmu pergi bersama kejujuran.

Andai kau tahu, semua rasa dan pikiranku hanya tertuju padamu. Ini sungguh menyiksaku, aku selalu membayangkan kalau kau lebih bahagia bersamanya daripada denganku.

Mungkinkah kau akan melupakanku karena dia telah kembali dalam kehidupanmu?

Sungguh, aku sangat takut!!!

Sayang…! Tahukah kamu, aku terlalu khawatir?

Aku khawatir tentang kita dan hubungan kita.

Rasa khawatirku begitu mendalam ketika kita sudah menjalin hubungan yang semakin lama. Aku makin khawatir dan takut kamu akan berpaling atau bermain di belakangku.

Aku takut kamu meninggalkanku. Meninggalkan segalanya tentang kita.

●°●°●°●°●°●°●°●

POV Cintia

Hari ini adalah hari di mana aku diperbolehkan pulang oleh dokter karena kondisiku sudah semakin membaik. Ya, memang kondisi tubuhku sudah mulai semakin membaik tapi tidak demikian dengan kondisi hatiku. Dan barusan Mama dipanggil suster untuk ke ruangan dr. Arman.

Setelah beberapa menit kemudian Mama sudah kembali ke ruang perawatan di mana aku berbaring.

Lalu Mama berpesan padaku setelah mengutip perkataan dr. Arman tadi di ruangan kerjanya. “Bu, Cintya anak Ibu sudah membaik dari penyakit types-nya. Saya kasih rekomendasi untuk pulang hari ini. Namun, perlu diinget! Tolong dijaga dan diperhatikan pola makan dan kebersihan! Karena penyakit types itu menyerang kita karena kondisi fisik kita melemah akibat pola makan yang tidak teratur dan lingkungan kita yang kurang bersih. Dan beberapa resep obat yang harus di minum secara teratur hingga benar-benar kondisinya pulih 100 persen.”

Aku hanya menganggukkan kepala sambil tersenyum.

“Mama mau urus ADM-nya dulu.” bisik Mama memberitahukan. “Biar kita bisa segera pulang ke rumah. Tunggu sebentar ya, Nak!”

Mama kemudian mencium keningku. Lalu pergi meninggalkanku sejenak untuk mengurus administrasi dan biaya selama aku dirawat di rumah sakit ini.

Sepeninggal Mama, aku merenung kembali. Perkataan Alvin yang selalu tengiang-ngiang di kepalaku saat kemarin dia menjengukku. “Aku tak sanggup kehilangan dirinya untuk kedua kalinya.” kataku membatin. “Aku terlalu pintar untuk mengingat dan terlalu bodoh untuk melupakan, soal kamu.”

Sampai detik ini, aku tidak tahu bagimana caranya untuk melupakanmu? Tapi sepertinya, tidak untukmu. Kamu sudah melangkah jauh di depanku dan meninggalkan semua kenangan kita.

Aku tidak pernah menyesali apapun itu. Karena aku yakin dan percaya, bahwa Tuhan selalu punya rencana lain untukku.

Aku juga yakin kita punya luka yang sama. Karena aku masih ingat betul, bagaimana kita susun mimpi indah itu bersama?

Mungkin saat ini, Tuhan telah menghapuskan sebagian luka di hatimu dengan hadirnya dia yang akan selalu berusaha untuk membuatmu bahagia. Begitu pun aku, Tuhan memberikan berjuta-juta kasih sayang-Nya padaku dan selalu membuatku tersenyum. Walaupun di dalam hatiku aku masih sangat terluka.

Sejujurnya aku paham bahwa satu-satunya cara untuk melupakanmu adalah dengan mengikhlaskanmu. Tapi tahukah kamu? Entah mengapa? Sampai saat ini, apapun yang terjadi dalam hidupku; Baik suka maupun duka. Kamu adalah satu-satunya orang yang ingin kutemui untuk sekedar berbagi kisah. Bahkan di setiap mimpi malamku, kamu selalu hadir di dalamnya. Lalu bagaimana caraku untuk melupakanmu? Tuhan pun seolah enggan memberikan jawaban.

Mungkin untuk saat ini kita masih belum pantas untuk bersama. Tapi tidak ada yang tahu tentang masa depan.

Aku sadar, bahwa selama aku berada di sampingmu aku jauh dari kata sempurna. Aku jauh dari ciri pasangan yang baik. Tanpa kau sadari dan kusadari mungkin aku sering menyakitimu. Maafkan aku, karena aku juga pernah mematahkan hatimu.

Semuanya aku pasrahkan pada Tuhan. Biar Tuhan yang urus masa depan dan semua mimpi-mimpi kita. Mimpi yang dulu kita rangkai dengan derai air mata, mimpi yang dulu dengan susah payah kita usahakan.

Aku selalu mendoakanmu semoga kamu selalu berbahagia, seperti dulu kamu selalu berusaha untuk membahagiakan aku. Dan aku akan selalu menunggumu.

●°●°●°●°●°●°●°●

Back to Alvin

Sesampainya di rumah Ocha….

Aku langsung memakirkan mobil di tempat seperti biasa dan langsung turun dari mobil.

Tek… Tek.. Tek…!!

Tek… Tek.. Tek…!!

“Iya, sebentar!” Teriak seseorang dari dalam rumah.

“Mas, Alvin!” ucap Dini sembari membuka pagar rumah.

“Ocha ada di rumah, Din?” tanyaku memastikan apakah Ocha ada di rumah.

“Mbak Ocha ada di kamar, Mas. Mas masuk gih, langsung ke kamar Mbak Ocha aja!” jawab Dini memberitahukan Ocha ada di kamarnya.

“Mama di mana, Din?” tanyaku setelah tidak melihat Mamanya Ocha.

“Mama hari ini ngajar pagi, Mas.” jawab Dini gamblang.

“Kalau gitu! Mas langsung ke kamar Ocha, ya!” ujarku tanpa basa-basi lagi.

“Iya, Mas.” sahut Dini singkat.

Lantas aku pun naik ke lantai dua menuju ke kamar Ocha.

Tok… Tok… Tok…!!

“Sayank…!” seruku memanggilnya dengan sapaan kami berdua.

Ceklek..!! Suara pintu terbuka.

“Tumben ke sini, tanpa diminta!” ujarnya dengan nada ketus.

“Kok gitu, sih! Ngomongnya?” sahutku sedikit kaget dan bingung dengan reaksi dan perkataan Ocha barusan.

“Tutup pintunya!” pintanya tegas sembari meninggalkanku dan duduk di tepi kasur.

Setelah menutup pintu kamar, aku menghampirinya dan memeluk tubuhnya.

“Sayank, kenapa sih? Kok, di tekuk gitu mukanya?” tanyaku lembut mencoba mencairkan amarahnya kala itu.

“Nggak apa-apa.” jawabnya masih dengan nada jutek.

“Hmmm…! Ini nih, kalau cewek bilang nggak apa-apa! Pasti ada apa-apa.” ujarku membatin.

“Sayank, maaf ya! Kalau aku punya salah sama kamu.” ucapku lembut sambil mengusap rambutnya. “Sayank, cerita dong! Kenapa? Aku punya salah apa, sama kamu? Aku bukan paranormal yang bisa tau apa isi pikiranmu.”

“Kamu jahat…!” jawab Ocha dengan mata yang mulai berkaca-kaca. “Kamu sudah nggak sayank sama aku.”

“Loh! Kok gitu, sih! ngomongnya? Aku itu sayank banget sama kamu, Yank,” ujarku mencoba menenangkannya. “Kalau aku enggak sayang, ‘kan nggak mungkin toh, aku sekarang ada di sini!”

“Kenapa kemarin bohong sama aku?” tanyanya dengan nada meninggi. “Kamu kemarin ketemu dia ‘kan? Kenapa kamu nggak bilang jujur waktu aku tanya? Aku denger semua percakapan di telpon.” Suara Ocha terdengar bergetar dan matanya mulai berkaca-kaca seperti hendak menangis.

“Maafin aku ya, sayank!” ujarku dengan suara pelan. “Maaf kalau aku sudah berbohong sama kamu! Maaf kalau aku membuatmu sakit hati! Aku nggak bilang, ‘karena aku nggak mau membuatmu sakit’.”

“Kamu jahat! Hiks… hiks… jahat….” ujar Ocha lalu keluarlah tangisannya.

“Sayank. Maafin aku, ya…! Please…!” ucapku sembari mendekap tubuhnya lebih erat.

“Kamu jahat! Kamu sudah nggak sayang lagi sama aku. Lepasin.” Ocha berualang kali mengatakan aku jahat sambil meronta-ronta hendak melepaskan pelukanku.

Ocha semakin menangis dan memukul dadaku memintaku melepaskan pelukanku. Namun tak kuhiraukan dan semakin mendekapnya lebih erat.

“Sayank, maafin aku ya!”

“Hiks… Hiks.. Kamu jahat!”

“Yank, kemarin aku ke rumah sakit menjenguk Cintya. Karena aku di telpon sama Mamanya dan diminta datang ke rumah sakit.”

Aku pun menceritakan semuanya. Mulai dari mendapat telpon dari Mamanya Cintya dan diminta ke rumah sakit karena Cintya selalu mengigau memanggil namaku.

Kuceritakan semuanya kepada Ocha tanpa ada yang kututupin sedikit pun.

“Sayang, maafin aku ya! Kalau aku kemarin sudah nggak jujur sama kamu. Aku cuma nggak ingin membuatmu terluka.”

“Hiks… Hiks… Aku takut kehilangan kamu.”

“Sayankku.. Cintaku… Kasihku… Honey, bunny, sweety-ku. Percaya deh sama aku. Di dalam hatiku cuma ada kamu seorang.”

“Gombal…”

“Mau aku ambilin pisau ta? Untuk membela dadaku biar kamu percaya?”

Cup…

Ocha mengecup bibirku sambil tersenyum melihatku.

“Nah gitu, dong! Senyum.”

“Karena kamu sudah jahat, bikin aku nangis. Sebagai gantinya, beliin es cream conello terus temenin ke mall beli make-up.” pintanya simpel.

“Iya, sayankku. Yuk beli es cream terus ke mall!”

“Maafin aku, Cha. Kalau aku kembali berbohong sama kamu. Karena di dalam hati kecilku aku masih mencitainya.” batinku berkata.

Bersambung

END – Cinta Itu Buta Part 18 | Cinta Itu Buta Part 18 – END

(Cinta Itu Buta Part 17)Sebelumnya |Bersambung(Cinta Itu Buta Part 19)