Cinta Itu Buta Part 17

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20Part 21

Cinta Itu Buta Part 17

Start Cinta Itu Buta Part 17 | Cinta Itu Buta Part 17 Start

PART XVII

SERPIHAN HATI

POV Cintia

Surabaya, 3 Oktober 2009

Sesaat setelah Alvin pergi meninggalkanku. Penyesalan datang menghampiriku karena aku hanya bisa terdiam menatapnya pergi, bergeming bagaikan batu.

Aku hanya bisa diam menatap tubuhnya yang pergi secara perlahan meninggalkanku. Padahal aku ingin sekali menahan langkahnya.

“Menahannya lebih lama di dekatku.”

Tetapi mulutku tak bisa berbicara pada saat itu.

Masa yang lalu telah pergi meninggalkan seberkas kisah yang panjang dan melelahkan. Kisah yang tak ‘kan pernah usai dengan cerita-cerita unik dan menggairahkan.

Namun, aku di sini ‘kan tetap bermain dengan egonya logika kehidupanku, dengan diiringi nada-nada perang pemikiran dalam batin ini.

Aku tak tertidur dalam peraduanku, aku juga tak bersenandung dalam mimpi-mimpiku.

Namun, aku di sini mendendangkan nada-nada sendu dalam diamku. Dan aku ‘kan berdiri tegak terbalut canda dan tawa dalam kelumpuhanku. Aku tahu aku tak lagi seperti yang dulu, di mana bermain dalam istana hati maya dan kenyataan. Hingga aku tak mampu lagi melihat indahnya nyata kehidupanku.

Perlahan masa menepuk pundakku, membangunkanku pada peraduanku. Detik pun membisikkan ketidakmampuanku dalam sadarku. Gelombang kerapuhanku membelit keutuhan kepercayaanku, hingga aku pun lumpuh dalam diam.

Tapak-tapak kaki telanjang di atas serpihan hati yang telah remuk, menyadarkan bahwa kini aku telah memulai masa kehidupan yang baru. Sisa-sisa kisah yang lama terkantongi dalam keranjang kisah baru nan tak utuh.

Lengkap sudah kisah yang kau berikan padaku, hadirmu perlahan memudar dengan tenggelamnya senja dalam hempasan keringnya batin.

Hati ini tertatih-tatih ‘tuk berusaha menemukan madu di antara kehampaan sebuah komitmen.

Tak ada senyum, canda, dan tawa yang selama ini terlukiskan dalam kosongnya ruang hati. Hingga akhir dari sebuah kisah telah terlengkapi.

Kau yang pernah memberikan warna dalam hati, kau yang pernah mendendangkan melodi romansa dalam sanubari, Dan kau pula yang pernah singgah menerangi gelapnya sebuah kehampaan.

Namun kini, semua itu terhempas meninggalkan seiring hembusan nafas yang berhembus.

Kala merpati putih menyapa lembut menyesakkan jiwa, membenamkanku pada dalamnya kesedihan. Yang tersisa hanyalah seulas senyuman dari bibir kepalsuan. Dengan penantian secuil harapan yang tersisa ‘kan jadi sebuah barunya sebuah kebahagiaan.

Kisah telah terlengkapi, kini yang dapat kulakukan hanyalah mengemas dalam lukanya peti hati, dengan akhir cerita yang tergoreskan di naskah hidupku, yang kau berikan sampul perihnya sebuah senyuman pada sebuah merpati putihmu.

Lantunan melodi ayat hati tak tentu, membutakan asa siapa yang sedang dimainkan. Yang terkecap hanyalah ombang-ambing ketidakpastian abunya rasa.

Pertanyaan-pertanyaan liar memanjakanku dalam kisah kebisuan. Apakah aku harus meminta jawaban pada sang bisu? Ataukah mengemas semua itu dalam luka hati yang menganga perih? Aku tak tahu apa yang harus aku lakukan. Hingga pertanyaan liar itu mengabadikanku dengan jawaban yang tak terjawab.

Masa penantian kembali mendampingi kisah nyataku, walau mayanya kisah yang lain kembali menari menggoda. Memaksa asa ini bermain kembali dalam kemayaan.

Dalam diam, aku menyapa mekarnya sekuntum pesona. Menebar wangi romansa untuk perubahan abadi. Tak ada kata yang terucap, kala alam pun tak merestui adanya sebuah perubahan. Selimut senyum kepalsuan terulas lembut di bibir yang mencibir. Nanar yang terpana akan ketidakpastian dalam sebuah perjuangan. Usaha yang selama ini telah terlantunkan halus berhembus, tak terestui dalam ketidak pantasan.

Mekarnya pesona dituntun kerasnya ego yang buta, lelah batin yang menguras daging menutup kembali pesona yang telah mekar. Kesedihan terlukiskan dalam wajah yang sayu. Pujian dalam bertahan perlahan kudendangkan. Mirisnya asa membutakan kenyataan, menanti kunci akhir mekar sekuntum pesona bersanding dengan bahagia kerasnya ego.

Kini dikala aku beranjak pergi membawa luka hati, aku harus menoleh kembali akan kisah yang lalu. Meragukanku akan arti sebuah penderitaan dan perjuangan.

Indah sebuah perdaraan yang dulu terlantunkan, kini perlahan meninggalkan sebuah kasih dalam kesendirian. Cinta yang dulu senantiasa menghiasi hari demi hari, tak mampu lagi menebarkan indah cintanya pada putihnya kasih. Hingga cinta pun tak lagi menyapa dalam kasihnya peraduan. Kata sayang yang dulu terlontar seperti sampah, kini kata itu menjelma menjadi sebuah kata berselimut emas, membatasi nada-nada kasih maupun cinta dalam satu ikatan yang telah pudar.

Cintaku telah pergi, kasihku kini diam dalam peraduan penyesalan, mengilhami arti sebuah kebodohan. Hingga mata pun tak mampu melihat cinta yang dulu menyapa dengan lembut dalam jiwa ketakutanku.

Aku ingin terbuai kembali dalam teduhnya romansa cinta dan kasih, Aku tak ingin beranjak meninggalkan cintaku pergi bersama yang lain. Aku di sini menunggu masa yang indah untuk menyatukan kasihku dan cintaku dalam sebuah mahligai keabadian. Tapi aku tak tahu kapan masa itu ‘kan datang? Aku juga ragu, apakah kasih akan bersanding dengan cinta dalam masa itu?

Penyesalan menepuk pundakku, membangunkanku dalam buaian sebuah keangkuhan. Suara-suara lembut memberiku cahaya dalam gelap. Menuntunku melihat dalamnya cinta pada masa yang telah usai.

Namun, di saat aku percaya akan cahaya itu, dan di saat aku kembali merajut indahnya mimpi. Aku harus terjatuh lagi pada pahitnya kenyataan. Bahwa aku telah dinistakan oleh cintaku. Aku tak tahu apakah aku harus kembali bangkit meraih setitik cahaya harapan yang telah redup? Agar aku dapat tetap bertahan dengan kenistaan yang cinta berikan. Hingga kasih pun enggan terbangun dalam kubangan sampah nada-nada sayang.

Cinta memaksaku menutup lembar terakhir kisah yang memang harus berakhir. Cinta memaksaku menerima bahwa kasihku tak ‘kan dapat mengecap indahnya sebuah romansa mahligai.

Mata ini buta akan kenyataan, Kenyataan bahwa cintaku telah beranjak pergi meninggalkan ku. Aku begitu bodoh untuk berteriak jangan tinggalkan aku pada cinta. Karena cinta telah lama pergi dalam peraduan kasih ini.

Oh, Tuhan…! Begitu poloskah aku, hingga aku tak mampu membaca tulusnya cinta pada diriku? Begitu egokah aku, bila aku tetap ingin memilikinya untuk bersanding dalam romansanya sebuah mahligai? Begitu angkuhkah aku, Tuhan?

Tak ada yang mampu kulakukan lagi selain sebuah senyuman.

Ya, Tuhan…! Senyum kekalahan dalam sebuah perjuangan yang panjang dan melelahkan. Meski aku harus menapaki pecahan-pecahan kaca dari sebuah hati yang terluka dengan kaki-kaki telanjang ku. Dan meskipun daging ini telah luluh lantah pada sebuah penantian. Aku ‘kan tetap memberikan cintaku, sebuah senyuman putihnya kasih untuk melengkapi kisah ini.

POV Nita

Alvin berjongkok, di atas rumput jepang yang ditanam di atas tanah mengelilingi tempat ini.

Matanya memancarkan kesedihan yang mendalam. Tangannya terkepal kuat di atas paha, berusaha untuk menahan emosi yang berkecamuk di dalam dadanya.

Tangannya mengusap batu nisan yang ada di hadapannya, mengeja perlahan-lahan nama yang terukir di sana.

Seseorang yang begitu singkat hadir dalam hidupnya, namun mampu memberikan warna yang berbeda.

Seseorang yang sangat dicintainya pergi untuk selama-lamanya karena sakit kanker darah.

“Selamat ulang tahun.” ucapnya sambil meletakkan sebuah bucket bunga di atas pusaranya.

“Kamu, apa kabar di sana? Nggak terasa ya, sudah 5 tahun berlalu. Terima kasih, telah banyak mengajarkanku tentang kehidupan. Terima kasih, pernah ada dalam hidupku dan membuatku tersenyum. Terima kasih, untuk cinta yang begitu tulus dan sederhana. Terima kasih, untuk genggaman tangan di saat yang sulit, senyuman manis di saat yang getir dan waktu yang selalu sempat kau luangkan untukku.”

Tanpa kusadari air mataku menetes, mendengar setiap ucapannya.

Terkadang kita harus melintasi masa lalu. Bukan untuk mengenang-ngenang, tapi untuk menyelesaikan apa yang belum terselesaikan, agar kita bisa melangkah lagi tanpa terbebani bayang-bayang.

Merelakan segala yang hilang dan pergi; berarti membuka pintu bagi yang lebih baik dan baru. Dunia adalah aliran ujian; jangan henti memaknainya.

“Vin, pulang yuk…!” ajakku. “Sebentar lagi mau hujan.”

“Baik-baik di sana! Aku pulang…” bisiknya sambil mengecup batu nisan itu.

Orang bilang hubungan paling rumit dalam cinta adalah saat dua pasangan berbeda tempat ibadah.

Ya, dulu aku percaya karena aku pernah mengalami sendiri, sakitnya berpisah saat masih sama-sama saling mencintai dan menyayangi.

Namun, aku sekarang sadar kalau ada yang lebih rumit dari hal tersebut, yaitu saat kita terpisah dalam dua dimensi. Yang artinya kita tidak akan bisa melihatnya lagi untuk selamanya.

Selama dalam perjalanan, kami berdua hanya diam tak bersuara. Masih terlihat dengan jelas raut wajah kesedihan Alvin.

“Vin…!” seruku.

“Hmmm…!” sahutnya singkat.

“Kamu rindu dia?” tanyaku.

“Dulu dia pernah menanyakan sesuatu hal padaku.”

●°●°●°●°●°●°●°●​

Back to Alvin

5 tahun lalu

“Adakah yang abadi di dunia ini sayang?” tanyanya. “Kalau aku bilang, apa yang kamu ucapkan kemarin malam itu berlebihan?”

“Yang mana?” tanyaku.

“Percayalah, aku akan mencintaimu sampai kapan pun.” jawabnya.

“Emang kamu nggak percaya dengan apa yang kukatakan?”

“Pasti, siapa pun akan senang mendengar orang yang dicintai berkata seperti itu? Tak terkecuali aku. Dan itulah, mengapa aku menganggapmu sebagai makhluk Tuhan yang paling kuharapkan, untuk mencintai dan membahagiakanku?”

“Apa yang kamu ucapkan padaku itu membuatku kagum, sekaligus takut? Aku benar-benar kagum dengan tekad besar yang kamu miliki. Namun, sudahkah kamu memikirkan hal terburuk sebelum menjanjikan hal tersebut padaku? Bagaimana jika orang yang kamu cintai ini, mendadak tak bisa apa-apa? Bagaimana jika aku mati sekarang, sayang? Apa yang akan kamu lakukan? Dan janji manismu itu, mau kamu apakan?”’

Aku terdiam memikirkan pertanyaan-pertanyaan yang baru saja menghampiriku.

“Memilih sendiri selamanya, seperti yang aku rasakan?” tanyanya kembali.

“………….”

“Sampai sekarang pun aku masih belum yakin kamu akan berbagi teh hangat denganku sambil menikmati masa tua kita. Aku hanya yakin, impian seperti itu sudah ada di antara hatiku, dan hatimu.”

“Kalau dipikir-pikir, kita ini siapa hingga bisa yakin akan saling bersama selamanya? Aku manusia, kamu manusia. Dan takdir semua manusia, hanyalah mensyukuri kebersamaan. Kemudian saling beradu tangis perpisahan. Jika aku mati sekarang, mungkinkah kamu akan memilih sendiri selamanya? Melewati sisa hidupmu tanpa perlu menanyakan cinta pada orang-orang. Berusaha melewati kehampaan yang selalu menjadi teman, sama seperti yang aku rasakan.

“Kamu punya cukup kesempurnaan untuk melupakan kesedihan dan aku yang masih kamu cintai sekarang. Meskipun bukan saat ini, kamu bisa melakukannya kapan saja setelah aku mati nanti. Saat itu terjadi, kamu akan menangisiku, kemudian berpaling dan menghubungi semua orang. Mencari setiap kemungkinan-kemungkinan dan memastikan hati mana yang layak menjadi penggantiku.”

“Aku….” ucapku terpotong.

“Tak perlu membantah, aku pun (mungkin) akan melakukan hal yang sama jika di posisimu. Setidaknya, itu masih jauh lebih baik ketimbang melihatmu di saat aku masih bernapas dan cemburu. Ketika aku mati dan tak mempedulikan kamu lagi, mungkin aku akan benar-benar ikhlas menerimanya.”

“Menangisi kematianku lalu berpaling dan mencari cinta yang sepadan atau, kamu akan menjadi yang terjujur dengan menemaniku ke alam sana?” tanyanya.

“…………”

“Sepertinya tak mungkin, tapi Tuhan selalu punya rencana. Ketika aku mati dan kamu memilih untuk menemaniku berjalan ke alam sana, apakah aku haru bahagia atau bahagia? Yakinlah sayang, aku akan menjadi orang yang paling bahagia di dunia ini. Orang yang paling percaya bahwa cinta sehidup semati itu ada.”

“Orang yang… Percaya bahwa kematian itu bukanlah apa-apa. Entah apa yang akan terjadi setelah kita mati nanti, paling tidak aku bisa melewatinya denganmu, dengan cinta kita. Dan jika setelah mati semua manusia tidak bisa ingat siapa orang yang pernah dicintai, biarkan aku menjadi yang paling beruntung untuk bisa melepas nyawa dalam pelukanmu.”

“Jadi sayang, apa yang akan kamu lakukan?”

“Kenapa kamu menanyakan hal itu?” tanyaku.

“Siapa pun, akan sangat sulit menjawab pertanyaan bodoh seperti ini. Tapi, pertanyaan bodoh apa kalau itu bisa membuat semua orang terdiam? Pertanyaan bodoh apa kalau itu tentang kemungkinan-kemungkinan yang tinggal menunggu kapan datang? Apapun jawabanmu sayang, itu tidak akan membuatku berhenti mencintaimu. Aku bertanya seperti ini, hanya karena kamu berjanji selamanya padaku, kemarin malam itu.”

“Jadi sayang, kalau aku mati sekarang. Apa yang akan kamu lakukan?”

Sebuah pertanyaan yang tak mampu kujawab.

Bersambung

END – Cinta Itu Buta Part 17Cinta Itu Buta Part 17 – END

(Cinta Itu Buta Part 16)Sebelumnya |Bersambung(Cinta Itu Buta Part 18)