Cinta Itu Buta Part 15

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20Part 21

Cinta Itu Buta Part 15

Start Cinta Itu Buta Part 15 | Cinta Itu Buta Part 15 Start

PART XV

POV Cintia

DEAR DEARY

Senja terlalu berani mengingatkanku untuk merindukanmu dan aku tidak bernyali untuk mengatakan, aku rindu.

Hai… Ini aku lagi.

Apa kabarmu? Setelah ratusan hari kau dan aku terpisah jarak tanpa jejak.

Senja petang tadi, rindu menyelusup di antara rongga hati yang kupikir telah terkunci rapat.

Di antara rinai hujan langkahku terhenti, ada bayangmu kutangkap di kejauhan. Tapi, aku beku. Segala pikirku sirna melihat sosokmu, jiwa yang ratusan hari kucoba matikan di dalam pusara hati. Bahkan, enggan kuziarahi.

Dan…. Kau datang lagi.

Kata-kata musnah, ketika kau dan aku berhadapan.

Tak adakah lara tertoreh di hatimu, ketika kita sama-sama terbungkam seperti saat ini?

●°●°●°●°●°●°●°●

1 tahun berlalu….

Rindu…

Kata yang tak mungkin kuingkari dalam hatiku untukmu, meski sudah ratusan hari kita tak saling bicara. Saling melupakan tepatnya.

Sungguh, dunia kita memang sudah berbeda.

Seolah jarak ratusan mil dan jutaan jam membuat jurang pemisah yang dalam. Meski dalam mimpiku, kau masih seperti dulu. Tapi, tak dapat kupungkiri jiwamu sudah berbaur dengan jiwa yang lain. Tak kukenali lagi. Dunia membuat kita semakin paham, mana arti bersama sesungguhnya. Dengan siapa dan kapan? Terlalu kebas buatku.

Masih ingat senja terakhir kita? Kau masih tertawa riang dan dengan lugas berkata, “Senja adalah milik Tuhan yang diberikan kepada aku dan kamu, kita! Hanya sekedip mata jaraknya.” Aku hanya tersenyum setelah ucapanmu. Ah..! Senja adalah rindu yang akan selalu terbungkus olehmu, oleh kita, oleh jarak yang akhirnya tak dapat disatukan. Senja buatku adalah sapuan kuas yang kau goreskan teratur, namun berduri. Ah, sudahlah! Aku tak ingin mengingatnya.

Hai… Sapaku yang tak perlu kau jawab juga.

Aku tak berani, meski rindu membumbung tinggi. Mengisi senja sore, tepat setahun lalu, kita saling tersenyum.

Dengan rindu, aku menyapamu…

Aku dan Senja milikmu.

●°●°●°●°●°●°●°●

“Mendekatlah, akan kuceritakan tentang musim hujan di mataku yang tak pernah berhenti sejak kepergian seseorang.”

Alvin…

Aku masih ingat betul panggilanku untukmu. Seumpama namamu, ternyata begitulah kamu di hatiku. Kau tetap hidup di hatiku, seberusaha apapun aku mematikanmu.

Mataku tak bisa lepas darimu. Kenapa kau sama terdiamnya denganku? Apa kau merasa hatimu bergetar sehebat yang kurasa, hingga untuk melangkah pun kakiku tak berdaya? Atau, apa kau tak ingin memastikan adanya lara di mataku lagi, tersebab karenamu?

Alvin, selamat datang kembali.

Tolong panggil namaku sekali lagi. Aku rindu suaramu.

Panggil aku lagi sebagai wanitamu.

●°●°●°●°●°●°●°●

Senja memang selalu menyunggingkan senyum di antara kita, sama seperti hujan rinai berjatuhan memupuk segala asa yang tidak pernah kita sangkal. Bahwa, aku dan kamu selalu punya rindu.

Berkatalah kita dengan bersamaan, “Hujan adalah rindu, senja adalah kita! Maka hidup adalah rasa kebersamaan!” Lalu bersama pula kita tersenyum dan memejamkan mata. “Kamu adalah cahayaku.” Lirihku dalam hati seraya menyatukan jemari kita seolah tak ingin terlepas.

“Inikah, cinta ?”

Sampai saat ini, aku belum dapat menjawabnya. Untuk apa dan mengapa? Namun, kata itu menuntunku untuk lebih memaknai arti rasa di dalamnya, meski tidak pernah tersampaikan. Keluh.

Satu hal yang membuatku mengerti. Bahwa, sebanyak apapun seseorang menerima, tak akan sebahagianya ketika dia memberi. Sebaliknya rasa di antara kita, mesti kita saling memberi. Tapi, entah mengapa? Satu diantaranya, belum ada yang menerima.

Aku tak mampu mengalihkan cerita dalam satu hujan dan senja secara bersamaan. Karena, aku tidak mau mereka menghilangkan keindahan mereka dalam sekejap.

Aku yang masih merindu…

●°●°●°●°●°●°●°●

“Kita begitu berbeda dalam semua, kecuali dalam cinta.”

Kembalilah, jika memang sudah saatnya. Aku dan kamu, kita akan kembali. Membangun rasa dan asa yang dulu ada. Aku tak pernah menganggapmu pergi, kau hanya singgah ke ranah yang lain saja, hanya untuk membuang rasa jenuhmu. Aku paham. Berbeda itu, tidak akan pernah menyelaraskan warna yang kita suka. Tapi, menyatukan dari perbedaan itu sendiri. Aku dengan warnaku dan kamu dengan warnamu.

Alvin… Lelakiku.

Tulisan ini, aku tulis dengan jiwa menggebu dan rasa yang merindu, hanya untuk melepas dahagaku. 380 hari telah menciptakan kabut yang menggelayut di senja penglihatanku. Selalu membuat genangan yang tak terhindarkan di ujung mata. Kita begitu berbeda dalam semua, kecuali cinta. Iya cinta! Yang diagungkan banyak orang.

Aku selalu belajar dari setiap perbedaan untuk memahamimu. Aku belajar dari senja setiap sore, belajar dari hujan yang turun dan aku belajar memahami rasa cinta hanya pada satu orang saja, tidak akan kubagi pada siapapun kecuali kamu, sampai aku kembali pada-Nya, tetap kamu.

Dan…

Aku masih dengan rasa yang sama.

●°●°●°●°●°●°●°●

Kau ingat dulu kau selalu bilang, “Kita selalu berbeda dalam semua hal, kecuali cinta?” Dan, aku menebak-nebak. Apakah kata-kata itu, masih kau genggam erat?

Alvin…

Dengan satu kesamaan itu, aku bertahan menunggumu 386 hari lamanya. Menunggumu kembali mengatakan, cinta itu. Tapi, kau tak jua hadir. Lalu, perlahan segala harapan musnah. Tanya menyelimutiku, melahirkan ragu, yang tak pernah kurasa sedikitpun padamu. Apakah kau tahu aku menunggumu? Atau, kita sama-sama saling menunggu?

Alvin…

Apa arti saling menunggu, bagimu dan aku? Apa itu artinya kemanapun langkahmu menjejak, muaramu kembali padaku dan begitu sebaliknya? Atau sebenarnya, kau dan aku hanya menunggu waktu, siapa yang akan lebih dulu merelakan? Semua menjadi ambigu.

Alvin…

Aku tak ingin meminta hatimu. Kudengar satu hati mencoba mengetuk hatimu. Tergetarkah engkau? Akankah kau membuka pintu hatimu untuknya?

386 hari memahami, mungkin suatu saat aku akan memandangmu berdiri di hadapanmu, bukan di sampingku karena kau telah menghadirkan ia di sampingku. Jika masa itu tiba, kuminta Tuhan membaik-baikkan hatiku. Tetap menatapmu dan mampu mengucap,

“Segala doa baikku untukmu bermuara pada satu; kebahagiaanmu.”

Dengan cinta yang masih menyeluruh padamu…

●°●°●°●°●°●°●°●

Alvin… Aku lelah.

Aku takut kau tak kembali. Takut kau tak sama seperti dulu. Takut engkau bukanlah lelaki yang kukenal.

Alvin…

Bantu aku memadamkanmu dari segala sendi di tubuhku. Aku benci bahkan setiap namamu kudengar, hatiku masih berdegup untukmu. Aku benci berada pada rindu yang tak jua purna.

Rindu yang sesukanya hadir pada memoar tertentu. Aku benci itu semua. Yang muaranya hanya satu, yaitu: kamu.

Siapa perempuan itu? Siapa yang mereka sebut, si cantik memanja yang menemanimu saat ini?

Hatiku berkeping, usai membayangkan hal itu. Kau dan dia tersenyum. Sementara aku, tak berdaya. Hanya bisa bercerita, lewat airmata.

Alvin…

Bisakah kita bertemu sekali lagi, untuk tuntaskan apa yang seharusnya berakhir di antara kita?

●°●°●°●°●°●°●°●

“Waktu yang telah kita lalui buatmu jadi lebih berarti. Luluhkan kerasnya dinding hati engkaulah satu yang aku cari.”

Apa benar separuh aku adalah kamu? Kenapa kau tak jua beranjak mencariku? Barangkali kau tak sama kehilangannya denganku. Ratusan hari ini mungkin aku bodoh. Mungkin?

Pada akhirnya, cintaku mungkin akan kalah dengan keadaan. Cintaku takkan bermakna apa-apa karena yang menemaniku bukanlah kamu, tapi hampa. Cintaku mungkin hanya akan sampai pada doa seperti dalam doa petang ini.

Meski ia tak lagi terlihat dalam pandanganku, aku yakin Engkau selalu menjaganya, Tuhan. Engkau yang paling tahu seberapa besar aku merindukannya karena kutitipkan rinduku untuknya pada-Mu. Jikalau rindu itu takkan pernah ia rasa, maka baik-baikanlah aku. Bahagiakanlah ia selalu.?

Aku sungguh ingin memelukmu senja ini, Muhammad Alvin Fernanda.

●°●°●°●°●°●°●°●

“Yang kutahu rindu itu adalah kamu dan tak kenal waktu.”

Aku menyukai senja…

Dan kamu menyukai hujan…

Kita memang berbeda dalam semua hal, kecuali cinta…

Kala rindu menggebu. Maka, aku akan berdiam lalu menunggu hujan. Sedangkan, kamu duduk di tepi jendela dengan secangkir kopi menunggu pelangi.

Aku rindu kamu lelakiku…

Sangat rindu.

●°●°●°●°●°●°●°●

“Karena hati tak perlu memilih, ia selalu tahu kemana harus berlabuh?”

Alvin…

Kamu di mana? Aku takkan bertanya lagi, apa kau baik-baik saja di sana?! Karena banyak yang memberitahukanku, kau baik-baik saja.

Mereka yang bercerita bertanya padaku, “Tidakkah Alvin memberi kabar padamu?” Dan seringkali kujawab hanya dengan gelengan kepalaku. Aku tak punya jawaban, Alvin.

Semula aku tak peduli kata mereka, tapi kini 394 hari kau tak mengabariku. Aku jadi meragu. Apa aku masih ada di hidupmu, Vin?

●°●°●°●°●°●°●°●

Lelah sudah hati ini, bercerita tentang kamu. Namun, selelah apapun itu, tak kuasa aku melepasmu terutama rindu.

Alvin…

Sejauh aku berjalan. Sejauh itu pula, kau memberi jarak. Lalu, arahku hanya mendekati saja. Berjalan terus berjalan. Walau raga tak bertemu, namun emosi kita yang bicara. Sang Pencipta tau, apa yang aku rasakan? Maka, kutitipkan saja doaku untukmu pada-Nya. Seperti senja yang selalu menemani sore, meski sejatinya akan tenggelam.

Alvin…

Aku ingin menggenggam jemarimu, lalu berjalan menapaki hidup, penuh riang. Biarkan duka menyesap di antara kisi-kisi harapan, untuk kita urai menjadi kebahagiaan.

Aku ingin menatapmu sekali lagi…

●°●°●°●°●°●°●°●

Satu masa, aku menyebutmu, cahaya. Karena kau datang pada masa gelapku. Tak pernah banyak bicara. Namun, lakumu mengajarkan banyak hal, termasuk tentang cinta.

Satu masa, aku menyebutmu, pagi. Karena kamu hadir, membawa harapan baru untuk memulai. Tak banyak kata. Kau tunjukan dunia, punya banyak celah untuk bahagia.

Dan di satu masa, kau kudefinisikan sebagai bahagia. Segala tawa akan tercipta bersamamu meski dalam sedih sekalipun.

Namun kini, aku bias mendefinisikanmu. Kau bukan lagi; cahaya, pagi ataupun bahagia.

Kau ambigu.

Dan aku tak suka itu, Muhammad Alvin Fernanda.

●°●°●°●°●°●°●°●

Ceritaku hari ini…

Matahari…

Dia membangunkanku dari tidurku..

Dia telah merusak mimpi indahku…

Mimpi indah saat aku bersamanya…

Saat aku di sisinya…

Saat aku berada dipelukannya…

Mimpi indah…

Yang di mana aku dan dia hanyut dalam kebersamaan cinta…

Berada di bawah rembulan malam…

Yang di mana dia menjadi saksi cinta kita berdua…

Mimpi indah yang saat itu aku tertawa bersama dengannya…

Yang saat itu dia sangat menyayangiku…

Mimpi indah yang tak ‘kan nyata….

●°●°●°●°●°●°●°●

“Everybody’s changing and i don’t feel the same.”

Everybody’s changing and I don’t know why??

Kenapa engkau berubah, Alvin?

Kenapa engkau berbeda, Alvin?

Kenapa engkau asing, Alvin?

Kenapa engkau tak kukenali, Alvin?

Kenapa engkau bukan Alvin yang dulu?

Kenapa?

Aku yang tertatih dalam kebingungan.

●°●°●°●°●°●°●°●

CINTIA MAHARANI

Surabaya, 2 Oktober 2009

Detik demi detik berlalu. Namun, tak sedikit pun. Bayanganmu berlalu dari otakku.

Hari demi hari kulalui. Aku berusaha membuka hati. Tapi, aku tak bisa. Hanya kamu yang mampu mengisi hatiku.

Diam-diam, aku tetap mencintaimu.

Diam-diam, aku tetap menjaga hatiku, entah sampai kapan?

Diam-diam, hanya kamu yang aku mau, tak ada orang lain. Diam-diam aku menunggu dalam ketidakpastian, apakah kamu sama sepertiku? Masih tetap menjaga hati? Atau kau akan coba pindah ke lain hati? Aku tak tau, yang aku tau, aku mencintaimu, walau hanya dalam diam. Aku tak ingin pindah ke lain hati.

Hingga suatu hari, aku mulai menyadari.

Sedikit demi sedikit hatimu telah bergeser.

Kau memilih untuk pergi dari bayang-bayangku, sedangkan aku tidak. Aku tetap bertahan.

Aku mencoba rela, asal kau bahagia. Karena aku bukan hanya sekedar ingin memilikimu, aku mencintaimu.

Walau sesungguhnya, aku kecewa.

Ke mana semua kata cintamu dulu? Lalu apa kau tak pernah sadar, bahwa sesungguhnya betapa aku tak ingin ada, perpisahan itu?

Kamu yang tak pernah sadar. Dalam diamku, aku terlalu mencintaimu.

Kamu yang tak pernah sadar saat perpisahan itu datang. Bahwa sesungguhnya, aku masih sangat mengharapkanmu.

Ingatkah, saat kamu berkata, “Mungkin memang kita tidak ditakdirkan untuk bersama.”

Tak ingatkah kau, apa yang kukatakan?

Aku berkata dari lubuk hatiku, “Aku akan selalu ada untukmu, Because I’ve realized that no matter where you are or what you’re doing, or who you’re with, I will always, honestly, truly, completely love you.

Apa kamu tak sadar, betapa aku masih ingin terus bersamamu? Betapa aku akan mempertahankan perasaanku ini, untukmu?

Tidakkah kau sadar aku masih ingin bersamamu, sangat ingin bersamamu.

Aku renungi, apa kesalahanku? Kamu selalu bilang, aku ini kurang perhatian,

Apa kamu tidak pernah sadar, akan perhatian-perhatian kecilku?

Apa kamu tak pernah sadar dalam diamku, aku selalu mencoba menjadi yang terbaik untukmu?

Dalam perpisahan kita, aku tetap dan masih memperhatikanmu. Aku berusaha berubah, menjadi wanita yang lebih perhatian seperti yang kau mau, berharap suatu saat Tuhan pertemukan kita kembali.

Aku berusaha kembali masuk ke kehidupanmu, berusaha menghubungimu lagi, berusaha untuk dekat denganmu lagi.

Hingga akhirnya, aku ingin mengatakan padamu. Bahwa, aku akan mencoba sekali lagi menjadi lebih baik bagimu.

Apa kau tak pernah melihat, betapa aku mencoba jadi yang terbaik untuk dirimu?

Yang kamu tau, cintaku tak besar padamu. Kamu hanya tau cintamu lah yang jauh lebih besar padaku. Tanpa kau pernah peka, betapa aku mencintaimu, betapa seringnya aku memelukmu dalam doa-doaku.

Kau tak pernah peka terhadap perasaanku, kau lebih memilih mendengarkan perkataaan orang lain, daripada mendengar kata hatimu sendiri.

Yang kamu tau aku jahat, karena aku berhenti mencoba, untuk terus bertahan padamu. Tanpa kau pahami, betapa sakitnya hatiku, dengan segala pengabaianmu.

Terbuat dari batukah hatimu? Tak sadarkah kau, akan diamku, yang sebenarnya jadi tameng pilu?

Tak pernah kah kau sadar? Yang kau lakukan membuatku tak pernah cukup percaya diri pada diriku.

Dalam diam, aku berusaha memahamimu. Entah aku yang terlalu bodoh, atau memang kau sudah tak punya hati. Tindakan serupa yang mengiris hati, terulang tak cuma sekali.

Aku tak akan memintamu kembali, karena aku tulus mencintaimu, bukan hanya sekedar ingin memilikimu.

“Akulah lilin yang menerangi gelap hatimu, yang tak takut padam tertiup sikap dinginmu, dan aku akan menunggu dengan yakin, bahwa kita akan bercahaya bersama.”

Kekasihku, dalam diam, aku bersujud. Kuuraikan semua piluku dalam keheningan bersama-Nya.

Slama aku mencari, slama aku menanti

Bayang-bayang di batas senja

Matahari membakar rinduku

Ku melayang terbang tinggi

Bersama mega menembus dinding waktu

Ku terbaring dan pejamkan mata

Dalam hati ku panggil namamu

Smoga saja kau dengar dan merasakan

Getaran di hatiku yang lemah haus akan belaianmu

Seperti saat dulu, saat-saat pertama

Kau dekap dan kau kecup bibir ini

Dan kau bisikkan kata-kata, “Aku cinta kepadamu”

Peluhku berjatuhan menikmati sentuhan

Perasaan yang teramat dalam

Tlah kau bawa sgala yang ku punya

Sgala yang ku punya whoaa…

Getaran di hatiku yang lemah haus akan belaianmu

Seperti saat dulu, saat-saat pertama

Kau dekap dan kau kecup bibir ini

Dan kau bisikkan kata-kata,

“Aku cinta kepadamu”

Oo kepadamu…

●°●°●°●°●°●°●°●

Setelah Sholat dan berdoa. Aku hendak bangkit namun, tiba-tiba…

Semua berubah menjadi gelap gulita.

Hanya sayup-sayup kudengar, suara dan seruan mama memanggil-manggil namaku.

“Cintia…..”

Semakin lama semakin kecil suaranya hingga hening dalam kegelapan.

Bersambung

END – Cinta Itu Buta Part 15 | Cinta Itu Buta Part 15 – END

(Cinta Itu Buta Part 14)Sebelumnya |Bersambung(Cinta Itu Buta Part 16)