Cinta Itu Buta Part 14

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20Part 21

Cinta Itu Buta Part 14

Start Cinta Itu Buta Part 14 | Cinta Itu Buta Part 14 Start

PART XIV​

POV Ocha

Surabaya, 2 Oktober 2009

Pukul 07.00 wib.

Pagi ini, aku terbangun dengan mata sembab, hatiku masih terasa perih. Kemarin, aku menyaksikan sendiri. Alvin, kekasihku. Kembali bertemu dengan mantannya, yang sampai saat ini, masih mengisi hatinya.

“Lebih baik, aku pergi lebih awal. Biar tidak ketemu Alvin.” gumamku membatin.

Aku segera bangkit dari peraduan menuju ke kamar mandi.

30 menit kemudian….

Aku sudah tampil cantik, dengan make-up tipis. Dengan baju kaos putih dilapisi cardigan berwarna pink, sementara bawahannya aku menggunakan celana jeans ketat.

Aku berdiri di depan kaca, melihat kembali penampilanku sekarang.

“Apa aku kurang cantik, dibandingkan dia, Vin?” tanyaku dalam hati.

“Dah sebaiknya aku segera berangkat ke kampus.” gumamku membatin lagi.

“Kamu kenapa, sayang? Semalem mama mendengar kamu menangis.” tanya mamaku penasaran.

Mamaku berdiri di depan tangga.

Aku segera turun dan memeluknya.

“Nggak ap-apa, Ma. Ocha pergi dulu ke kampus, Ma!”

“Nggak sarapan dulu, Cha?”

“Nggak Ma. Di kampus aja, udah telat. Dadah mama!” jawabku.

Aku segera menjalankan mobilku, sambil menemani perjalananku, ke kampus aku menyetel lagu-lagu yang bisa membuatku melupakan sejenak masalahku.

Namun, tiba-tiba…

Nyittt!!

Ciitt!!

“Aduh…! Kenapa lagi, sih? Nih, mobil!”

Mobilku tiba-tiba berhenti mendadak.

Aku keluar dari dari mobil dan mencari bantuan. Tapi, tidak ada siapa pun, yang lewat.

“Huhff… Bisa telat nih, ke kampus!” gerutuku.

“Kenapa mobilnya, Cha?” ucap seseorang yang membuatku terkejut, lantas berbalik menatap seseorang yang tadi memanggilku.

“Bram!” seruku. “Kamu kok, bisa di sini?”

“Kebetulan aja lewat. Mobilmu kenapa, Cha?”

“Nggak tau tiba-tiba saja mesinnya mati.”

“Aku cek bentar, ya.” ucapnya lalu membuka kap mobilku. “Coba kamu starter mobilnya, Cha!”

“Oke.” jawabku sembari masuk ke dalam mobil.

Deeeerrrttt…!!

Deeeerrrttt…!!

Setelah kucoba starter berkali-kali, namun mobil tetap tak mau menyala.

“Masih nggak mau nyala, Bram.”

“Kenapa ya, Cha? Padahal tadi, udah aku cek busi dan akinya, nggak ada masalah.” tanyanya kebingungan.

“Yah mana aku tau Bram.” sahutku datar. “Kan, aku nggak ngerti tentang mesin mobil.”

“Emang kamu mau kemana, Cha?”

“Mau ke kampus, aku ada kuliah pagi. Tapi kayaknya percuma deh, aku ngampus. Udah telat juga kuliahnya.”

“Coba ada Alvin, dia ‘kan paham mesin mobil.” gumamku.

Entah kenapa? Tiba-tiba saja, aku sangat merindukannya.

“Ocha…! Hey kok, ngelamun.”

“Eh, kenapa tadi?”

“Kamu ngelamunin apaan sih, Cha?”

“Enggak, nggak apa-apa kok.”

“Tadi kamu nyebut nama Alvin. Hmmm… Siapa Alvin, pacar kamu, Cha?”

Aku seketika kaget karena gumamanku tadi ternyata sempat terdengar oleh Bram.

Aku menjawab pertanyaan Bram, hanya dengan menganggukkan kepala tanpa berbicara sedikit pun.

“Kayaknya mobil ini perlu diderek, Cha.” ucap Bram menyarankan. “Bentar aku hubungin dulu mobil dereknya.”

Aku hanya mengangguk, bingung dan sedikit panik dengan kejadian ini. Biasanya jika terjadi hal seperti ini, Alvinlah yang selalu membantuku. Tanpa pamrih ia dengan cepat bisa mengatasi masalah seperti ini.

Kulihat Bram masih berbicara dengan seseorang melalui telepon genggamnya. Dan sesaat kemudian ia sudah mengakhiri sambungan teleponnya.

“30 menit lagi mobil dereknya akan tiba di sini, Cha.” ucap Bram memberitahu. “Nanti sekalian bawa mobilnya ke bengkel aja, Cha.”

“Iya, Bram. Makasih, ya.”

Selama menunggu kedatangan mobil derek, Bram mengajakku untuk menunggu saja di mobilnya. Namun, aku bingung untuk menolak tawarannya.

“Duh, gimana ya caranya menolak dengan halus tawarannya ini? Aku tidak mau gara-gara masalah ini akan timbul masalah baru.” pikirku sejenak.

Untung saja di hadapanku, ada sebuah mini market yang telah buka. Dengan alasan untuk membeli sesuatu di mini market tersebut, aku menitipkan mobilku sebentar pada Bram.

Lantas, aku melangkah menuju mini market tersebut, meninggalkan Bram yang hanya bisa menganggukkan kepala tanpa bisa mencegahku lagi.

“Lega juga bisa menghindarinya.” gumamku membatin.

30 menit kemudian…

Mobil derek sudah sampai di tempat mobilku mogok. Aku masuk ke dalam mobil Bram dan meminta supir mobil derek mengikuti kami ke bengkel tempat langganan Alvin.

Sesampainya di bengkel mobil, mobilku segera diturunkan oleh petugas mobil derek dan segera petugas mekanik bengkel menyambut mobilku dan memasukkannya ke dalam untuk segera diperbaiki.

Aku turun dari mobilnya diikuti oleh Bram dari belakang. Aku sengaja turun untuk menitipkan mobilku pada pihak bengkel, lalu memesan taksi tanpa sepengetahuan Bram.

“Cha, tadi kamu bilang udah telat kalo mau ke kampus.” ujarnya. Bram bersikap sopan dan ramah mau mengajakku jalan-jalan. “Gimana kalo kita jalan-jalan aja? Toh mobilmu dah aman, dah di bengkel.”

Jujur saja, saat ini hatiku masih sakit dan terluka oleh kejadian kemaren. Namun, aku tetap menjaga hati dan cintaku pada Alvin.

Entah kenapa? Dalam hati kecilku berkata bahwa Alvin adalah pilihan yang tepat untukku, dan aku hanya bisa bahagia bersamanya.

“Sorry, Bram aku nggak bisa. Maaf ya.” ucapku memberitahu.

“Hahahaha…” tawanya.

“Kenapa Bram? Kok ketawa, ada yang lucu, ya?”

“Aku menertawakan diriku sendiri, Cha. Betapa bodohnya aku. Sekarang aku baru menyesal Cha, karena dulu pernah menyia-nyiakan kamu. Maafin aku ya, Cha! Beruntung banget lelaki yang dapetin kamu.”

“Mau aku pesenin taksi Cha?” tawarnya.

“Nggak usah Bram makasih, tadi aku sudah pesen taksi kok.”

Dan selang tak berapa lama taksi yang kupesan pun tiba.

“Bram makasih banyak ya.”

“Sama-sama, Cha. Kapan-kapan kenalin ya sama cowokmu. Aku pengen kenal lelaki yang begitu beruntung dapetin kamu.”

“Pasti suatu saat kamu akan ketemu dengan dia.”

“Aku duluan ya, Bram.” ucapku berpamitan.

“Iya, Cha. Hati-hati ya, di jalan. See you.”

“See you…” pamitku sembari berlalu meninggalkan Bram, menuju taksi yang telah menunggu.

●°●°●°●°●°●°●°●

Back To Alvin

Kriiiiingggggg….. Kriiiiiiinggggg… Kriiiinggggg…..!!

Kriiiiingggggg….. Kriiiiiiinggggg… Kriiiinggggg…..!!

“Duh siapa sih, yang telpon?” keluhku agak kesal.

Segera kuambil HP-ku dan mengangkat telpon tanpa melihat siapa yang menelpon.

“Hallo…”

“Hallo, Mas Alvin.”

“Dini!! Ada apa, Din? Tumben nelpon.”

“Mbak Ocha, Mas.”

“Kenapa, Ocha?”

“Kemarin Mbak Ocha pulang ke rumah dengan keadaan menangis.”

“Loh, kok bisa? Emang kenapa?”

Perkataan Dini barusan membuatku langsung tersadar sepenuhnya dari rasa kantuk yang masih melandaku.

“Nggak tau mas, semalem mbak Ocha nangis dan mengurung diri di kamar dan pagi-pagi sekali sudah berangkat ke kampus.”

“Emang, Ocha. Kenapa sih, Din? Kok, sampai segitunya. Karena Ocha nggak kasih kabar sama sekali, Din.”

“Tadi pagi setelah Mbak Ocha berangkat ke kampus. Aku masuk kamarnya Mbak Ocha, Mas. Mau minjam cardigan. Nggak sengaja, Dini melihat di tempat sampah kamar Mbak Ocha, ada bingkai foto dalam keadaan pecah. Bingkai foto Mbak Ocha dengan Mas Alvin, yang biasanya terpajang di meja kamarnya. Tapi kok, nggak ada fotonya, Mas.”

“Kok bisa, Din? Mungkin jatuh barangkali, Din. Terus pecah deh, bingkai fotonya.”

“Nggak mungkin mas, kalau jatuh. Soalnya semalem, Dini denger Mbak Ocha nangis-nangis. Dan terdengar suara, seperti suara benda dibanting.”

“Haaaahhh…!” sahutku kaget mendengar perkataan Dini barusan. “Berarti dibanting dong, sama Ocha fotonya?”

“Iya kayaknya, Mas.”

“Ocha kemarin bukannya keluar sama Ranya dan Lestari?”

“Aku nggak tau kalau soal itu, Mas. Karena aku kemarin ada kuliah pagi. Emang kalian lagi ada masalah apa sih, Mas? Kok Mbak Ocha, sampai segitu marahnya.” tanya Dini penasaran.

“Nggak ada masalah apa-apa, Din. Kemarin Ocha cuman bilang sama mas kalau dia mau keluar sama temen-temennya. Mas malah kaget denger hal ini dari kamu.”

“Makasih ya, Din. Sudah kasih tau.”

“Iya, Mas. Sama-sama.”

“Assalamualaikum.”

“Waalaikum salam.”

Ocha kenapa, ya? Perasaan kemarin dia baik-baik aja deh.

“Ranya…!! Ya, sepertinya aku harus telpon Ranya untuk mencari tahu apa yang terjadi. ‘Kan, kemarin Ocha keluar sama dia dan Lestari.” gumamku membatin.

Segera aku mencari nama Ranya di HP-ku dan menelponnya.

Tut… Tut… Tut…

“Hallo, Assalamualaikum.” ucap Ranya.

“Waalaikum salam.”

“Ada apa, Vin?”

“Sorry ganggu, Ran.” ucapku basa-basi memulai percakapan telepon kami.

“Nggak kok Vin, ada apa, ya?”

“Kemarin ‘kan, kamu keluar sama Ocha!!”

“Iya, terus?”

“Ocha kenapa, Ran? Kok, aku tadi ditelpon Dini. Kalau Ocha kemarin pulang ke rumahnya, dalam keadaan menangis.”

“Hmmmm… Gimana ya, Vin? Ngomongnya.”

“Memang ada apaan sih, Ran. Kok, kayaknya serius banget?” tanyaku penasaran.

“Kemarin aku, Lestari dan Ocha hangout ke cafe. Eh, Nggak taunya, kami nggak sengaja lihat kamu bersama Cintia, lagi bermesraan di cafe.”

“Ya, ampun. Ternyata gara-gara itu, toh.”

“Kamu kok santai banget sih, Vin. Kamu sadar nggak sih, kalau kamu sudah nyakitin hati Ocha. Ocha itu sayang banget Vin sama kamu, nggak nyangka aku, kamu bisa setega itu.”

“Aku sayang banget sama Ocha, Ran. Nggak mungkinlah, aku tega nyakitin dia. Apa yang kalian lihat kemarin, tidaklah seperti itu yang terjadi, Ran? Semuanya, hanya salah paham, Ran.” ucapku mencoba menjelaskan pada Ranya.

“Salah paham gimana, Vin? Kemarin kami bertiga jelas-jelas lihat kamu dan Cintia. Dengan mata kepala kami sendiri, kalian berdua lagi duduk berdua-duaan, bermesraan saling berpegangan tangan.”

“Hmmm…!” gumamku sejenak.

“Jadi kemarin itu, aku mau keluar ke rumah Nita, Ran. Nah waktu itu, aku mampir bentar ke mini market untuk beli rokok. Secara tidak sengaja, aku bertemu dengan Cintia. Lalu ia memaksaku ngobrolin masalah kami dulu di cafe dekat mini market tersebut.”

Belum sempat aku menyelesaikan penjelasanku hingga selesai.

Tiba-tiba…

Ranya langsung memotong perkataanku. “Sudahlah, Vin. Nggak usah berkilah lagi, aku, Lestari dan Ocha lihat sendiri dengan mata dan kepala kami. Kalau kalian kemarin sedang duduk berdua mesra-mesraan saling berpegangan tangan.”

“Ran, makanya kalau orang belum selesai ngomong. Jangan langsung dipotong, dengerin dulu sampai habis.”

“Kamu mau cari alasan apalagi, Vin?” cecar Ranya lewat ujung telepon sana.

“Ran, dengerin dulu. Please..!”

“Oke.”

“Aku sampai lupa, tadi aku ngomong sampai mana? Kamu kebiasaan banget sih, memotong omongan orang.” ucapku sedikit marah.

“Iya, sorry-sorry. Soalnya aku tadi terbawa emosi, Vin.”

“Hmmm…! Sampai mana tadi?”

“Cintia maksa kamu ngajak ngobrol di cafe.” jawabnya memberitahu.

“Cintia lalu menjelaskan tentang putusnya hubunganku dengan dia dulu, kalau itu semua hanya salah paham, Ran. Dia tidak pernah selingkuh dariku. Dan tentang, kejadian yang kalian bertiga lihat, ketika aku memegang tangan Cintia. Pada saat itu, aku sedang memberi pengertian padanya. Bahwa, semuanya telah usai dan menjadi cerita masa lalu. Karena sekarang sudah ada Ocha di kehidupanku.” ucapku menjelaskan pada Ranya supaya ia mengerti kejadian yang sebenarnya.

“Terus kenapa kamu nggak bilang dan cerita sama Ocha kalau kamu ketemu sama Cintia.”

“Rencananya hari ini, aku mau ceritakan semuanya sama Ocha, Ran. Namun, Dini tadi telpon aku, ngasih tau kalau Ocha kemarin pulang dalam keadaan nangis! Makanya aku sekarang telpon kamu, Ran. Pengen nanya ada masalah apa? Dan kenapa dengan Ocha?”

“Sepertinya kamu harus secepatnya, jelasin semua kesalahfahaman ini pada Ocha, Vin. Jangan sampai terulang kembali, seperti kejadian putusnya kamu dengan Cintia.”

“Iya, Ran. Makasih banyak ya, Ran.”

“Maaf ya, Vin. Aku tadi sempat berburuk sangka pada kamu. Bahkan, aku sampai marah-marah.”

“No…”

“Jadi nggak dimaafin, nih ceritanya.”

“Traktir dulu, hayooo..”

“Iya entar ditraktir makan, tapi kamu yang bayar.”

“Hadeeeh…! Podo ae lak’an Ran ujung-ujunge aku seng bayar (Hadeeeh… Sama aja dong Ran, ujung-ujungnya aku yang bayar.”

“Nih anak lagi ruwet juga, masih aja sempet-sempet bercanda.” omelnya dari ujung telepon sana.

“Hehehe…” kekehku. “Kamu kayak baru kenal aku kemarin aja, Ran. Ya wes nek gitu aku telpon Ocha. Makasih banyak ya, Ran.”

“Iya Vin, sama-sama entar aku bantu ngejelasin ke Ocha deh, biar dia nggak marah lagi sama kamu.”

“Ya wes nek gitu. Assalamualaikum.”

“Waalaikum salam.”

Berkali-kali, aku mencoba menghubungi Ocha namun HP-nya tidak aktif.

To : Last Love

Sayank, lagi di mana?

To : Last Love

Sayank, kok HP-nya nggak aktif?

“Tadi ditelpon Dini memberitahu, kalau Ocha ke kampus. Sepertinya, aku harus buru-buru ke kampus.” gumamku membatin.

Kulihat Nita masih tertidur pulas di sebelahku.

“Nit bangun..!” ucapku membangunkan Nita dengan menggoyang-goyangkan badannya.

“Kenapa, Vin? Hoaamm…”

“Aku balik dulu ya, Nit.”

“Nggak mau sarapan dulu, atau mandi dulu?” tawarnya.

“Nggak usah, Nit. Aku buru-buru soalnya.”

“Ya udah, hati-hati ya! Aku nggak nganter ke depan ya, Vin. Aku masih ngantuk banget semalem, aku baru bisa tidur jam 3 pagi.”

“Lah, emang kamu ngapain aja semalem. Kok, pagi banget tidurnya?”

“Gimana bisa tidur? Orang kamu semalem tidurnya nginggau, sambil teriak-teriak kayak orang kesurupan.”

“Hahhh…! Seriusan, Nit?” tanyaku keheranan.

“Nggak inget, Nit! Mungkin efek fly kali.” jawabku asal.

“Makanya, kalau dikasih tau itu nurut. Hihhhhhh….!”

“Hehehehe..! Ya udah aku balik dulu ya, Nit.”

“Memang mau kemana, sih? Kok, buru-buru banget.”

“Ntar deh, aku ceritain. Aku balik dulu, Nit. Muaachh… Muaachhh..!” ucapku berpamitan sambil cipika-cipiki.

“Hati-hati di jalan!”

“Iya..”

Aku pun segera bergegas menuju mobil untuk berangkat ke kampus menemui Ocha.

Sesampainya di kampus aku menemui teman-teman Ocha dan menanyakan tentang keberadaan Ocha. Namun, tak ada satupun temannya yang mengetahui keberadaan Ocha.

Kucoba menelpon teman-teman Ocha yang kukenal, namun hasilnya nihil. Mereka tidak ada yang tau di mana Ocha berada.

“Kamu ke mana sih, yank?” gumamku.

Entah kenapa? Tiba-tiba perasaanku menjadi sangat khawatir. Aku takut terjadi apa-apa dengannya.

Tak hanya sampai di situ, aku mencoba mencari Ocha di cafe dan rumah makan deket daerah kampus dan tempat yang biasa kami datangi. Namun, tetap aku tak menemukannya. Dan tak terasa hari sudah mulai sore.

“Mending aku pulang dulu aja deh, mandi terus makan biar bisa berpikir lebih jernih.” gumamku membatin.

●°●°●°●°●°●°●°●​

POV Ocha

Sesampainya di rumah setelah membayar ongkos taksi, aku langsung masuk ke dalam kamar dan mengunci diri. Aku langkahkan kaki menuju kamar mandi, cuci muka lalu mengambil air wudhu. Setelah Sholat Magrib, perasaanku menjadi sedikit lebih tenang.

Aku hanya berdiam diri di dalam kamar sambil memeluk boneka sapi kesayanganku. Boneka sapi pemberian Alvin.

Aku tak memperdulikan HP yang sedari tadi aku matikan, agar Alvin tidak bisa menghubungiku.

Setelah agak lama aku mengambil HP di tas dan menyalakannya. Muncul banyak notifikasi, namun aku tak memperdulikannya.

Kubuka semua akun sosmed dan menulis.

‘I think this is the best i did. I’ll never be disappointed with my choice. I’ll do my options with sincerity.’

Kusimpan kembali HP ke dalam tas dan tak memperdulikan notifikasi yang mulai bermunculan semakin banyak. Kupererat pelukanku dengan boneka kesayanganku.

“Jadi selama ini, kamu masih sayang sama dia.”

“Jadi selama ini, aku tiada artinya bagimu.”

“Jadi harapanku selama ini, semu.”

“Jadi..”

Aku tak bisa menahan air mataku lagi. Mereka mengalir begitu deras tanpa izin dariku. Sesekali aku menyeka air mata yang jatuh di pipiku.

“Ya Tuhan, sakit banget rasanya.” gumamku sambil menyeka air mataku dengan kasar. Dan akhirnya, aku menangis sejadi-jadinya karena aku merasakan rasa sakit yang teramat sakit di dadaku.

“Ocha kamu kuat.. Kamu bisa melewati semua ini.” ucapku pada diri sendiri

“Vin, aku rela kamu dengan Cintia, yang terpenting bagiku adalah bisa melihatmu tersenyum bahagia. Aku rela melakukan apapun untukmu asal kau bahagia.”

●°●°●°●°●°●°●°●​

Back To Alvin

Setelah selesai mandi dan makan kucoba menghubungi HP Ocha kembali.

Tut… Tut… Tut…

Tut… Tut… Tut…

“Maaf nomor yang anda tuju tidak dapat menerima panggilan anda.” Suara operator layanan provider.

“Mending aku langsung ke rumah, Ocha.”

Akupun segera bergegas berangkat menuju ke rumah Ocha.

Selama dalam perjalanan masih kucoba untuk menghubungi HP. Namun, tetap saja telponku tak diangkat olehnya.

“Arrrgghhhh…” erangku.

Kenapa sih, semuanya jadi serumit ini.

Sesampainya di rumah Ocha, aku langsung memakirkan mobil di tempat seperti biasa dan langsung turun dari mobil.

Tek… Tek.. Tek…!!

Tek… Tek.. Tek…!!

“Iya, sebentar.” Teriak seseorang dari dalam rumah.

“Mas, Alvin!”

“Ocha ada di rumah, Din?” tanyaku.

“Mbak Ocha ada di kamar mas lagi nangis. Mas masuk gih, langsung ke kamar Mbak Ocha aja.”

“Mama di mana, Din?”

“Mama nggak ada mas, tadi siang mama berangkat ke Jakarta ada seminar katanya.”

“Kalau gitu mas langsung ke kamar Ocha, ya.”

“Iya, Mas.”

Lantas aku pun langsung menuju ke kamar Ocha.

Tok… Tok… Tok…!!

“Sayank, aku masuk ya?” ucapku.

Ceklek..!! Suara pintu terbuka.

Ocha keluar kamar menatapku dengan tatapan mata yang sulit kugambarkan.

“Ikut aku..!” ajaknya.

Aku hanya diam dan mengekor mengikuti Ocha.

“Kok, keluar rumah? Emang kita mau ke mana, Cha?” tanyaku kebingungan.

“Tunggu di sini!” perintahnya dengan nada judes.

Aku hanya diam menunggu Ocha di luar pagar rumahnya.

Kulihat Ocha masuk ke dalam rumah seperti hendak mengambil sesuatu.

Namun tiba-tiba..

Klek!!

Suara gembok pagar dikunci.

“Kok aku dikunciin di luar, Cha?”

“Pulang gih!”

“Cha, aku bisa jelasin semuanya.”

“Nggak ada yang perlu dijelasin, Vin. Aku capek aku mau tidur.” ucapnya berlalu meninggalkanku dan masuk ke dalam rumah.

“Aku nggak akan pergi Cha, sebelum kamu dengerin penjelasanku.” teriakku lantang dari luar pagar.

Tak terasa sudah 3 jam aku munggu ocha berdiri di luar pagar rumahnya.

Tiba-tiba….

Hujan turun sangat derasnya dan lebat, disertai dengan angin kencang yang memaksaku menarik kedua tangan ke dada untuk menghangatkan badan.

“Aku tak peduli meskipun hujan badai sekalipun aku tak akan beranjak dari sini, sampai kau memaafkanku, Cha.” teriakku kencang berharap suaraku terdengar di tengah derasnya hujan dan angin kencang.

●°●°●°●°●°●°●°●

POV Ocha

Tok… Tok… Tok…!!

“Masuk aja, nggak dikunci!” seruku sedikit berteriak.

“Mbak..!” seru Dini adikku.

“Ada apa, Dek?” tanyaku.

“Di luar hujan deres banget, Mbak.”

“Kenapa emangnya, kalau hujan?”

“Dari tadi selama berjam-jam, Mas Alvin masih nunggu Mbak Ocha keluar. Mas Alvin berdiri di luar pagar hujan-hujanan.”

“Serius?” tanyaku seakan tak percaya.

“Iya, Mbak. Kasian Mas Alvin, Mbak.”

“Ya ampun anak itu, bodoh banget sih.”

Tanpa terasa air mataku kembali menetes.

Tes

Tes

Aku segera bergegas berlari keluar rumah.

Kulihat Alvin dengan wajah sangat pucat berdiri menungguku di luar pagar.

“Yank, maafin aku! Aku bisa jelasin semuanya.” ucapnya.

“Bodoh.. Hiks.. Hiks.. Hiks.. Kamu bodoh banget sih, Vin. Hiks.. Hiks.. Hiks..” isakku sambil memeluk tubuhnya.

“Maafin aku, Yank. Semua ini cuma salah paham yank, aku nggak ada hubungan apa-apa dengan Cintia. Aku sayang banget sama kamu yank, aku nggak mau kehilangan kamu.” ucapnya mempererat pelukannya.

Pelukannya membuat amarahku hilang begitu saja. Aku merasakan ketenangan dan kedamaian di dalam pelukannya.

“Sayank, masuk yuk! Baju kamu basah semua, ‘ntar sayank sakit.” bujukku mengajaknya masuk ke dalam rumah.

“Iya.” jawabnya lirih.

Di ruang tamu, kulihat adekku sedang menangis.

“Adek, kok nangis?” tanyaku penasaran. “Kenapa sayang?”

“Hiks.. Hiks.. Hiks.. Kalian romantis banget sih.”

“Hehehe….” aku tertawa kecil setelah mendengar jawaban adekku barusan.

“Kirain ada apa? Oiya, Dek. Tolong dong, tutupin sekalian kunciin pagarnya!” ucapku meminta tolong pada adekku.

“Hiks.. Hiks.. Hiks.. Iya, Mbak Ocha.” sahut Dini adekku masih dengan suara sesegukkan. “Kapan ya, Mbak? Aku punya cowok, kayak Mas Alvin.”

“Kuliah yang bener, malah mikirin pacaran.” sahutku menasehati. “Ya udah, Dek. Mbak masuk kamar dulu, kasian Alvin kedinginan.”

“Iya, Mbak.” jawab Dini singkat.

.

.

.

Lokasi : Di dalam kamarku

“Sayank, badannya panas.” ucapku sambil memegang keningnya.

“Nggak yank. Aku nggak apa-apa, cuma agak kedinginan doang.”

“Kamu keras kepala banget sih. Maafin aku ya, sayank.” ucapku.

“Aku yang salah yank, seharusnya aku cerita semua ini dari awal. Agar tidak terjadi kesalahpahaman di antara kita.”

“Sudah yank, kamu nggak perlu jelasin lagi. Aku percaya sama kamu.” ucapku sembari memeluknya.

“Kemarin waktu aku ke rumah Nita, aku nggak sengaja ketemu Cintia di Mini market, lalu dia maksa ngajak ngobrol di cafe dekat mini market.”

“Sayank..” ucapku memotong ceritanya. “Sayank nggak perlu jelasin apa-apa lagi, aku percaya sama kamu yank. Tadi Ranya barusan telpon aku, ngejelasin semuanya. Maafin aku ya, sayank. Harusnya dari awal, aku dengerin penjelasan dari kamu.”

“Terus tadi. Kok, sayang marah-marah sama aku?” tanyanya.

“Ranya barusan nelpon yank, sekitar setengah jam yang lalu. Maafin aku ya, sayank.”

“Iya, sayank. Aku juga minta maaf, ya. Kalau aku sudah buat sayank, sedih.”

“Sayank, buka gih baju sama celananya! Basah semua.”

“Bukain.” ucapnya manja.

Kubuka baju dan celananya, sehingga tubuh Alvin sekarang polos tanpa sehelai benang pun menempel di tubuhnya.

“Sayank, pakai baju sama celanaku, ya.” ucapku sembari beranjak menuju lemari pakaian dan mengambil kaos tsirt berwarna putih beserta celana pendek.

“Sayank, nih baju sama celananya. Aku buatin teh panas ya, biar sayank badannya hangat.”

“Nggak mau.” ucapnya menarik tanganku menuju ke pangkuannya di tepi ranjang.

Dia mendekatkan bibirnya ke telinga kananku dan membisikan kata. “Aku kangen banget sama kamu, yank.”

“Sayank, ih! Nggak boleh nakal, sayank. Badannya panas loh, istirahat gih.”

“Badanku panas karena aku kedinginan makanya angetin. Tuh dasternya, ayank juga basah. buka gih, ‘ntar sakit loh!”

“Heheheh..” kekehku. “Sayank emang pinter banget deh, cari alasan.”

Dibukanya dasterku, sehingga tubuhku sekarang hanya tersisa bra dan celana dalam.

“Sayank, cantik banget sih.” rayunya.

“Ih gombal! Sayank, mau mimik cucu?”

“Mau..”

“Segera kubuka kaitan Braku, dan mendekatkan payudaraku ke wajahnya.

Dikecupnya payudaraku dengan sangat lembut, terasa hembusan napas tepat di puting susuku. Digelitiknya puting susuku dengan ujung lidahnya.

“Ahhhh….! Enak banget, yank. Hmmmpp… Hisap yang kuat, yank.” racauku.

Aku duduk di pangkuannya dan menggesekkan selangkanganku yang masih tertutup celana dalam dan kutekan ke penisnya.

“Yank, masukin ya. Udah basah banget.” pintaku.

“Apanya yang basah, yank?” tanyanya.

“Memekku,” ucapku lirih berbisik di telinganya.

Dengan cepat aku berdiri dan melepas celana dalamku. Lalu aku kembali duduk di pangkuannya serta melingkarkan tanganku ke lehernya.

Kugesekkan celah vaginaku yang sudah sangat licin ke penisnya.

“Hayoo… Sekarang siapa yang nakal?” ledeknya.

Aku yang gemas mendengar ledekannya, langsung mencium dan melumat bibirnya.

Lidah kami saling bersentuhan dan sesekali digigitnya pelan bibir bawahku.

Ia mengangkat sedikit pantatku dan perlahan-lahan, namun pasti kedua kelamin kami mulai bertemu.

Penisnya secara perlahan-lahan mulai menerobos masuk ke dalam vaginaku.

“Ssssss….. Aaaaahhhh…..”

Kunikmati setiap inci demi inci perjalanan penisnya menerobos masuk ke dalam liang senggamaku.

“Aaaahhhh…! Yank, enak banget yank… Ssssshhh… Punyamu gede banget sih, yank. Sesak banget rasanya memekku.”

“Sayank, suka?” tanyanya.

“Suka banget, yank. Enak banget yank, rasanya mentok banget sampai ke perut.”

“Yank, terusin… Ahhhh…! Enak banget, yank..” lenguhnya menikmati goyangan pinggulku.

Kugoyang dengan gerakan memutar teratur, namun lama-lama ritme goyanganku menjadi kacau karena aku merasakan kenikmatan yang tiada tara.

“Yank..! Enak banget memekmu, yank. Sempit banget, sayank..” bisiknya di telingaku.

“Ssssshhhh…. Oouucchhhh… Yank… Aku mau dapet, yank.. Arrrrgghhh..!” erangku sedikit kencang.

“Aku juga nggak tahan, yank.. Arrrgghhhh….!” racau Alvin.

“Keluarin, sayank. Arrrggghhhh…!”

Kupercepat goyangan pinggulku. “Aaaahhh…. Sssss…. Yank, aku pipis… Arrrrggghhh…!” racauku dengan suara nyaring.

Dan selang tak beberapa lama kurasakan kedutan di otot penisnya.

“Aku nggak tahan lagi, yank…. Arrrrggghhh…! Aku keluar, yank…” racaunya.

Kurasakan cairan hangat menyembur di dalam liang rahimku.

Tubuh kami ambruk di atas kasur dengan posisi aku berada di atas tubuhnya.

“Sayank, puas.” tanyaku.

“Puas banget, yank. Makasih banyak ya, sayank.” jawabnya.

“Sama-sama sayangku.” ucapku sambil mengecup bibirnya.

“Sayank loh.. Tadi ‘kan aku udah bilang, nggak tahan mau keluar. Malah tambah digoyang. Keluar di dalam ‘kan akhirnya! Kalau sayank hamil, gimana?” tanyanya.

“Hayooo..! Ada dedeknya loh, di dalem perut.”

“Sayank, Ih..! Ditanyain serius juga, malah dibercandain.”

“Kalau aku hamil, gimana hayoo..?” godaku.

“Ya nikah, yank. Hiiihh… Ya udah, besok kita nikah daripada sayank hamil duluan.”

“Hihihi…” Aku tertawa kecil. “Aku lagi nggak subur, yank.”

“Hmmm…” gumam Alvin sesaat.

“Tapi sayank. Coba deh, pegang perutku! Ada dedek bayinya loh, kayaknya ada Alvin junior.”

Dielusnya dengan lembut perutku. “Dedek kalau gede jadi jagoan ya, kayak papa.” ucapnya berbicara dengan perutku.

“Nggak mau, dedeknya loh cewek. Ntar rambutnya, aku kasih jepitan lucu sama nanti aku pakein baju princess.”

“Cowok..”

“Cewek…”

“Cowok..”

“Cewek…”

“Yang buat loh aku.” ucapnya.

“Ya udah, sana ngelahirin sendiri!”

“Lah ya, apa caranya, yank. Aku bisa ngelahirin? Hahaha…”

“Berarti dedeknya cewek, kalau gitu cantik, lucu, ngegemesin kayak mamanya.”

“Yank, bubuk yuk! Kepalaku pusing.”

“Kan sayank sih, sudah tau badannya panas masih aja nakal.” ucapku.

Aku berbaring di sebelahnya dan meletakkan kepalaku di atas dadanya. Kupeluk tubuhnya dengan sangat erat.

“Love you..” ucapku.

“Love you too.”

●°●°●°●°●°●°●°●

Back to Alvin

Surabaya, 3 Oktober 2009

Pukul 03.00 wib.

Kriiiiingggggg….. Kriiiiiiinggggg… Kriiiinggggg…..!!

Aku terbangun karena kaget mendengar suara HP berbunyi.

Kutengok jam dinding di kamar Ocha masih menunjukkan pukul 3 pagi.

“Ya ampun, siapa coba telpon pagi-pagi buta gini?” gumamku.

Segera kuambil HP-ku dan melihat siapa yang menelpon? Namun, nomer tersebut tak kukenali.

“Angkat aja deh, siapa tahu penting?”

“Hallo..”

“Hallo, Assalamualaikum.”

“Waalaikum salam.. Maaf siapa, ya?” tanyaku.

“Ini tante, Vin. Mamanya Cintia.”

“Iya, Tante. Ada apa?”

“Cintia masuk rumah sakit, Vin. Demamnya tinggi banget. Dari tadi dia nginggau manggil-manggil nama kamu. Tante minta tolong, Nak Alvin nanti ke sini, ya.”

“Iya Tante. Di rumah sakit mana, Tan?”

“Ntar tante SMS-in rumah sakitnya berserta nomor kamar Cintia dirawat.”

“Iya, Tan.”

“Makasih banyak ya, Vin. Maaf kalau tante ganggu, tante bingung banget nggak tau harus ngapain.”

“Nggak apa-apa tante, ‘ntar Alvin ke sana.”

“Makasih banyak ya, Vin. Assalamualaikum.”

“Waalaikum salam.”

“Sayank, siapa yang telpon?” tanya Ocha secara tiba-tiba.

“Bukan siapa-siapa, sayank. Orang salah sambung.” jawabku berbohong. “Bobok lagi yuk! Masih jam 3 pagi loh.”

“Sini, peluk!” rengek Ocha manja.

“Iya, sayank.” jawabku sambil memeluknya.

“Ya Tuhan. Apa yang harus aku lakukan?” tanyaku dalam hati.

Bersambung

END – Cinta Itu Buta Part 14 | Cinta Itu Buta Part 14 – END

(Cinta Itu Buta Part 13)Sebelumnya |Bersambung(Cinta Itu Buta Part 15)