Cinta Itu Buta Part 13

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20Part 21

Cinta Itu Buta Part 13

Start Cinta Itu Buta Part 13 | Cinta Itu Buta Part 13 Start

POV Nita

Kulihat Alvin akan melinting kembali satu batang. Dengan cekatan dan terampil tangannya, menggunting kertas papir dan membuat tube kecil, lalu menggerinda beberapa serpih tumbuhan kering dan melintingnya perlahan di atas kertas. Lalu ia mulai membakar dan menghisapnya dalam-dalam.

ANITA RAHMA YULIANTI

“Ini anak, kalau nggak di-stop, dia nggak akan berhenti.” gumamku membatin.

“Vin, sudah ya!” ucapku sembari mengambil tupperware yang berada di depannya dan menyimpannya kembali ke dalam lemari.

“Loh kok, dimasukin lagi, Nit?” tanyanya.

“Sudah ya, Vin. Stop! Ini yang terakhir, ya! Tuh liat matamu, udah merah banget, Vin!” ucapku memberitahu.

“Enggak, ah! Itu hanya perasaan, mbak Nita saja! Hahahaha..” ucapnya sambil tertawa.

“Noh, bicaramu aja! Sudah ngelantur.”

“Enggak, Nit. Karena perkataanmu, lucu banget. Kamu bilang mataku, merah banget lah. Dikira aku setan, matanya merah. Hahahahahha..” sahutnya sambil tertawa cekikikan.

“Hmmmmm..!” gumamku.

“Hmmmm… Juga! Hahahahaha…” tawanya.

“Hadehhh…! Kesalahan, nanggepin orang lagi, fly!”

“I’m gonna fly just like butterfly.” Sahutnya sembari merentangkan kedua tanganya seakan mau terbang.

[email protected]@%@%#^^$&$&$.”

“Cintia, Nit aku kangen sama dia.” ucapnya mendadak mellow.

“Tadi ketawa, cekikikan! Sekarang mendadak, mellow! Wah, udah parah. Nih anak!” batinku.

“Aku kangen, Cintia. Hiks.. hiks…” tangisnya.

Ya ampun, Vin! Dalam keadaan lagi, tinggi seperti ini! Kamu sampai menangis, karena teringat Cintia.

“Kamu masih sayang, sama dia?” tanyaku sembari mendekapnya dalam pelukanku.

“Hiks.. Hiks… Banget, Nit! Tapi sekarang, sudah ada, Ocha! Di kehidupanku!”

“Emang kalian dulu, putusnya! Gimana, sih? Kamu nggak pernah cerita loh, sama aku. Gimana detailnya?” tanyaku.

“Waktu itu…….”

●°●°●°●°●°●°●°●

Back To Alvin

LUKA LAMA​

Cintia Maharani adalah Mahasiswi Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Negeri di kota Surabaya angkatan tahun 2007.

Cintia adalah cinta pertamaku.

1 tahun lalu, Surabaya, 10 September 2008

“Kamu kenapa sih, Vin? Nggak pernah mau percaya, sama aku? Ocha itu, suka sama kamu!”

“Terus mintamu, aku harus kayak gimana?”

“Jauhin, Ocha! Aku nggak suka, lihat kamu deket sama dia!” Ucapnya tegas.

“Apa sih salah Ocha, sama kamu? Kenapa kamu begitu membenci dia? Kamu tau kan, kalau Ocha sudah aku anggap seperti kakakku sendiri.”

“Kamu pilih; dia atau aku?” bentaknya sambil menangis.

“Cin, dewasa. Please..!”

“Aku tanya, kamu. Pilih; aku atau dia?”

“Oke, iya! Aku akan jahuin Ocha, demi kamu. Puassss…?” ucapku.

“Kenapa kamu nggak rela jauhin dia? Kamu juga suka sama dia?” tanyanya.

“Apalagi sih, Cin. Kan, aku udah bilang. Aku akan jauhin, Ocha! Kurang jelas ta! Omonganku? Aku capek Cin. Berantem terus sama kamu. Mending, aku pulang! Daripada, kita berantem terus kayak gini!”

“Iya, sana pulang! Temuin, Ocha.”

“Terserah…! Kamu mau ngomong apa? Aku capek! Aku pulang dulu. Assalamualaikum.” pamitku sembari berjalan keluar rumah Cintia menuju mobil.

●°●°●°●°●°●°●°●

3 hari kemudian, Surabaya, 13 September 2008

Sudah 3 hari ini, Cintia tidak bisa kuhubungi. Ditelpon, nggak diangkat. Di sms, nggak dibales. Apa sih maunya? Nih anak! Padahal keinginannya agar aku menjahui Ocha. Sudah kupenuhi. Tapi, kenapa? Dia masih marah, sampai seperti ini! Sepertinya, aku besok harus ke rumahnya! Hal seperti ini, nggak bisa dibiarin berlarut-larut!

Kriiiiingggggg….. Kriiiiiiinggggg… Kriiiinggggg…..!!

Segera kuambil HPku, berharap Cintia yang menelpon.

Ternyata Bubu yang nelpon, tumben Bubu telpon?

“Hallo, apa Bu?”

“Nengdi (dimana) Vin?” tanyanya.

“Neng omah Bu kenopo? (Dirumah Bu kenapa?).”

“Jancok! Anak muda, macam apa kamu? Jam segini, di rumah!” ledeknya.

“Anak muda, macam apa kamu? Jam segini, telpon cowok! Jomblo ya, Mas?” balasku.

“Suuuteeeeekkk…! Hahaha… Ayo ngopi!” ajaknya.

“Ngopi, di mana?” tanyaku.

“Warkop (Warungkopi) biasane, Vin.”

“Lagi males, metu omah (keluar rumah) Bu.” ucapku.

“Ayo, talah tak jemput!”

“Hmmmm…!” gumamku.

“Makan dulu ya, Bu!”

“Sip beres, iki aku budal Vin setengah jam mane totok omahmu (ini aku, berangkat, Vin. Setengah jam lagi, sampai rumahmu).”

“Uyeeee..!” jawabku seadanya.

“Ya wes nek ngono aku budal saiki (Ya sudah kalau gitu aku berangkat sekarang).”

“Assa.”

Belum sempat, aku selesai mengucapkan salam. Tiba-tiba, telpon telah terputus.

Tuuutt.. Tuuuttt… Tuuttt…

“Bocah sableng nutup telpon ora salam (anak sableng nutup tepon gak pakai ucap salam).” gumamku.

Sesampainya, Bubu di rumahku. Kamipun langsung keluar, untuk mencari tempat makan.

“Tumben, ngajak makan, seafood?” tanyaku.

“Lagi pengen, Vin. Di sini enak, seafoodnya!” jawabnya.

Waktu di dalam rumah makan. Aku melihat sosok wanita yang kukenal, sedang berpelukan mesra dengan lelaki lain.

DEG!!

“Cintia…” gumamku.

Akupun langsung menghampiri mereka dan terlihat Cintia sangat kaget melihatku.

“Alvin..!” serunya syok melihatku.

“Oh, jadi ini! Alasan kamu, nggak jawab; telpon sama SMSku.”

“Sorry, mas Bro. Kalau aku ganggu kemesraan kalian. Bisa minta waktu 5 menit, untuk ngobrol sama Cintia?” tanyaku pada lelaki yang berpelukan mesra dengan Cintia.

Namun, lelaki tersebut. Malah mendorongku, sampai aku hampir terjatuh.

“Santai, mas Bro. Aku nggak cari ribut di sini! Aku cuma minta waktu 5 menit. Untuk ngobrol sama Cintia.” ucapku.

“Kakean omong (banyak omong).”

BUUK!!

Pukulan darinya, telak mengarah, mengenai wajahku.

“Jancok aku ngejak ngomong apik-apik malah diantem (aku ngajak ngobrol baik-baik malah dipukul).” ucapku.

Membuat emosiku, yang sedari tadi kubendung, langsung memuncak.

“BANGSAT….!” teriakku penuh emosi dan membalas pukulannya.

BUUK!!

Pukulanku, telak mengenai perutnya. Membuatnya, sedikit membungkuk. Menahan sakit, sambil memegang perutnya.

Langsung, kutendang mukanya.

DUAK!!

Membuatnya terhempas, jatuh ke lantai.

Kuambil kursi dan kupukulkan ke badannya, secara membabi buta sampai kursi yang terbuat dari kayu tersebut, patah.

BRAAK!! BRAAK!! BRAAK!!

Tak ada satupun orang yang berani melerai pertengkaran kami.

“Alvin, stop!” teriak Cintia. Namun, tak kupedulikan.

Kuinjak mukanya dan dia mencoba melindungi mukanya, dengan kedua tangannya.

“Aaaahhkkk..! Ampun, Mas…! Ampun..!” teriaknya tanpa bereaksi banyak, sepertinya dia kesakitan karena badanya kupukul dengan kursi berkali-kali.

Kutendang berkali-kali, pinggangnya.

DUAK!!DUAK!!DUAK!!

“Alvin, berhenti. Please!” teriak Cintia sambil menangis mencoba melindungi tubuh lelaki tersebut, dari tendanganku yang membabi buta.

Melihat Cintia melindungi lelaki tersebut, dengan merangkulnya. Membuatku menghentikan tendanganku. Karena, aku tak mau, kalau sampai Cintia, yang terluka karenaku.

Kulihat banyak ceceran darah di lantai.

“Vin, please stop! Sudah, jangan diterusin lagi.” mohonnya dalam isak tangis.

Aku terdiam, mematung. Melihat Cintia menangis.

“Maafin aku, Vin! Aku yang salah.” isaknya.

Aku tak menghiraukan perkataannya. Dan pergi meninggalkan mereka, ke luar rumah makan. Dari kejauhan terlihat Bubu hanya diam, mematung melihatku.

“Bu, terno aku balik! (Bu anterin aku balik).” ucapku.

“I.. Iya, Vin!” jawabnya.

Sesampainya di rumah….

Aku langsung masuk kamar dan mengunci pintu kamar.

“Arrrggghhhhhh….!” teriakku sembari memporak-porandakan seisi kamar.

“Apa kurangnya aku, Cin? Tega banget? kamu ninggalin aku, demi lelaki lain.” isakku.

●°●°●°●°●°●°●°●

Surabaya, 14 September 2008

Hari ini, aku harus ke rumah Cintia, untuk meminta penjelasannya darinya. Akupun langsung bergegas ke luar rumah, menuju mobil untuk berangkat ke rumah Cintia.

Sesampainya dirumah Cintia…..

Tok… Tok… Tok…!!

“Assalamualaikum.” ucapku.

“Waalaikum salam.” sahut orang dalam rumah.

“Masuk, Vin!” ucap Mama Cintia.

“Assalamualaikum, Tante!” ucapku sembari menyalim tangan mama Cintia.

“Waalikum salam. Masuk, Vin!”

“Iya, Tante. Permisi!”

“Cintianya ada, Tante?” tanyaku.

“Cintia dari semalem, nggak pulang, Vin. Tante juga, nggak tau. Dia ke mana? Dari semalam. HPnya, tante hubungi, nggak bisa. Malahan, tante kira. Cintia keluarnya, sama kamu.”

“Enggak, Tante! Cintia, nggak keluar sama saya.” jawabku.

“Alvin, wajahnya kenapa? Kok, lebam? Kamu, habis berantem?”

“Enggak kok, Tante. Ini kemarin, waktu fultsal! Muka saya, kena bola, Tante.” jawabku berbohong.

“Cintia, kira-kira. Kemana ya, Vin? Tante khawatir!” ucap Mama Cintia cemas.

“Ntar, saya coba hubungi dan cari ke teman-temannya, Tante. Mungkin aja Cintia, menginap di rumah temannya.”

“Tante. Minta tolong ya, Vin!”

“Iya, Tante. Kalau gitu, Alvin pamit pulang dulu, Tante! Assalamualaikum.” ucapku memberi salam sembari menyalim tangan mama Cintia.

“Waalaikum salam.” jawab mama Cintia.

Selama dalam perjalanan pulang, kucoba berkali-kali, menghubungi HP Cintia. Tetapi, tidak bisa.

“Percuma juga, aku khawatir sama dia. Mungkin sekarang! Cintia sedang berdua-duaan dengan kekasih barunya.” gumamku.

Kutepikan mobilku dan membuka kaca mobil, lalu melempar HPku ke luar.

Entah, ke mana? Aku tak peduli karena saat ini!

Aku hanya ingin pulang, segera sampai rumah dan tidur.

Ada sebaris cahaya, yang menembus celah, di antara kaca jendela mobilku.

Aku memicingkan mata dan mulai mengintip ke luar.

Sepi! Silau!

Sepertinya, matahari sudah tepat sejajar di arah Barat.

Matahari telah berancang-ancang mengembara ke belahan bumi lainnya.

Sebentar lagi, senja akan datang.

Aku tersenyum. Senyum yang sangat pedih, tepatnya!

Begitu banyak, orang-orang yang memuja senja.

Tapi, akulah satu-satunya. Orang yang ingin mengiris senja menjadi empat bagian.

Menggoreskan jingganya dengan namaku, lalu menjejalkannya ke dalam ruang-ruang di jantung seseorang.

Agar indahnya selalu terbawa melalui darah yang mengaliri tubuhnya.

Agar ia, selalu mengingatku.

●°●°●°●°●°●°●°●

POV Mama

5 hari kemudian, Surabaya, 19 September 2008

“Hallo, Pa. Assalamualaikum.”

“Waalaikum salam. Iya, Ma. Kenapa telpon, Papa?”

“Alvin, Pa!”

“Kenapa, Alvin. Ma?”

“Sudah 5 hari, Alvin mengurung diri dalam kamar. Nggak mau keluar dan jarang makan. Mama khawatir, kalau Alvin. Sampai sakit, Pa.”

“Emang kenapa, Alvin. Ma? Kok, sampai kayak gitu?”

“Alvin putus sama Cintia, Pa!”

“Hmmmm…! Ya udah, gini aja, deh! Mumpung Alvin juga lagi libur semester. Mama bilang, sama Alvin. Kalau Papa, kangen sama dia. Hari ini, papa cariin tiket pesawat, buat Alvin! Besok berangkat, ke Jakarta!”

“Iya, Pa! Ntar, mama bilang sama Alvin.”

“Assalamualaikum.”

“Waalaikum salam.”

Back To Alvin

Tok… Tok… Tok…!!

“Alvin, sayang! Mama masuk, ya!”

“Iya, Ma! Nggak dikunci pintunya!” seruku dari dalam memberitahu.

“Sayang, nggak laper?” tanya mama peduli. “Dari semalam, kamu belum makan, loh!”

“Kenyang, Ma.” beritahuku pada mama. “Tadi, habis minum susu! Dibuatin, Bik Ijah.”

“Tadi, Papa telpon Mama! Bilang, kalau kangen sama Alvin! Alvin besok berangkat, ke Jakarta, ya!”

“Kok, mendadak banget, Ma?” tanyaku.

“Iya, kan. Mumpung Alvin lagi libur semester! Kasian, loh! Papa kangen lama, nggak ketemu sama kamu.”

“Hmmm…! Adek ikut?”

“Adek, kan. Nggak libur, Vin. Sekolahnya!”

“Ya, wes! Terserah Mama sama Papa aja deh, Alvin nurut!”

“Habis ini! Mama minta tolong, Bik Ijah! Buat packing, barang kamu, ya!”

“Iya.” jawabku seadanya.

●°●°●°●°●°●°●°●

Jakarta, 20 September 2008

Lokasi : Bandara Soekarno-Hatta

“Alvin..!” teriak seseorang memanggil namaku.

“Loh, kok! Mbak Ratih yang jemput! Bukan Papa?” tanyaku.

“Iya…! Bokap loe, lagi sibuk di mabes. Tadi gue, di telpon! Suruh jemput loe, di sini!”

“Hmmmm….!”

“Eh, nih anak! Sudah dijemput, kakak tercantik juga! Dipeluk, kek. Malah, dianggurin.”

“Iya, Mbakyuku! Yang paling cantik se-Indonesia Raya. Sini peluk, adeknya!” ucapku sembari memeluk kakak sepupuku.

“Yuk, cari makan! Loe pasti laper, kan?” tanyanya.

“Huum!”

Karena merasa lapar, kami pun bergegas keluar bandara, untuk mencari makan.

“Mau makan, di mana?” tanyanya.

“Lah, mana aku tau mbak Tih? Yang orang Jakarta, siapa coba?”

“Hehehe.. Iya juga ya.”

Sesampainya ditempat makan….

Aku hanya diam, tanpa berbicara dan fokus menghabiskan makananku.

“Loe, napa sih? Dari tadi, diem mulu?” tanyanya.

“Gakpapa, mbak Tih.”

“Cerita dong, sama kakaknya!” pintanya.

“Cerita, apaan?” tanyaku.

“Kenapa, loe? Kok, bisa putus? Upss..” ucapnya sambil menutup mulutnya dengan kedua tangannya.

“Hmmmm…! Dari awal, aku sudah curiga. Kenapa Papa, tiba-tiba mendadak? Minta aku, ke Jakarta!”

“Ya, namanya orang tua! Wajar kali, dek! Kalau khawatir, sama keadaan anaknya.”

“Emang aku, kenapa? Kok, sampai harus dikhawatirin?”

“Noh, lihat! Wajah loe, kusut gitu! Siapa coba, yang nggak khawatir? Lihat kondisi loe, kayak gini!”

“Hmmmm..!” gumamku.

“Hammmm… Hemmmmm.. Hammmm… Hemmmm… Mulu dari tadi!”

Tak kuhiraukan omelnya dan tetap fokus menyantap makananku.

“Aaarrrgggghhhh…!” erangku kesakitan karena perutku dicubit.

“Hmmmm…!”gumamnya seakan membalasku.

“Sakit mbak Tih. Ya Allah!”

“Salah siapa? Orang ngomong, dicuekin!”

“Auk Ah, gelap.” jawabku.

“Ngomong apa, adekku sayang? Kakak nggak denger! Coba diulangi, sekali lagi!” ucapnya denga mata melotot.

“Enggak ngomong apa-apa, kok. Kakakku tersayang.”

“Good, buruan dihabisin gih, makanannya!” ucapnya.

“Tadi fokus makan disalahin sekarang disuruh cepet-cepet abisin makanan hadehhhh.”

“Kenapa dek?’

“Gakpapa mbak Tih iya ini mau diabisin makanannya.”

“Good…”

Ya Tuhan! Cobaan apalagi, yang kau berikan padaku…?

●°●°●°●°●°●°●°●

Malam harinya…

“Dek, buruan! Ganti baju, gih! Ikut kakak, keluar!” ajaknya.

“Mau kemana, emang mbak Tih? Aku lagi males keluar!”

“Sudah, ayo buruan ganti! Aku tunggu di luar! Cepet buru!”

“Hihhh…! Mesti maksa!” Ucapku.

Setelah selesai berganti baju. aku segera ke luar kamar, untuk menyusul mbak Ratih.

“Udah siap, nih!” ucapku.

“Eh, si ganteng! Udah selesai ganti baju. Nih kunci mobil, loe yang bawa, ya!” ucapnya sembari menyerahkan kunci mobil.

“Emang, mau ke mana sih?” tanyaku.

“Bawel, ah! Udah, ayo jalan!”

Kami pun bergegas menuju mobil.

Selama dalam perjalanan, aku hanya diam. Fokus memperhatikan jalan dan mendengar arahan dari mbak Ratih, ke mana tempat tujuan kita?

Sesampainya ditempat tujuan….

“Ini di mana sih, mbak Tih? Kok parkirnya, masuk basement?” tanyaku.

“Malam ini, kita have fun! Biar muka loe, nggak suntuk mulu!”

“Have fun, apaan? tanyaku.

“Kita Clubing, cuyyy malam ini!” jawabnya.

“Hadehhh….!”

“Sudah, nurut aja! Napa sih, Dek? Temen-teman gue, cantik-cantik loh!”

“Terus, hubungannya apa?” tanyaku.

“Gue nggak rela, masak adek gue yang ganteng, sedih karena cewek.”

“Hmmmm…” gumamku.

“Dah ah, yuk turun!” ajaknya.

Suara dentuman musik DJ terdengar sangat keras di dalam club.

“Dek! Ke sana, yuk! Itu temen-temen gue!” ucap mbak Ratih agak berteriak agar dapat terdengar di tengah dentuman musik DJ yang keras.

Aku mengekornya dari belakang menuju ke arah teman-temannya.

“Hallo, guysss….!” seru mbak Ratih menyapa teman-temannya. “Nih, kenalin adek gue!” sambungnya memperkenalkanku.

“Niken!” ucap teman mbak ratih memperkenalkan diri.

“Alvin!” jawabku sembari menjabat tangannya

“Marsha!”

“Alvin!”

“Rara!”

“Alvin!”

“Sinta!”

“Alvin!”

“Tih! Adek loe, cakep juga. Buat gue, ya!” ucap teman mbak Ratih yang suaranya samar-samar terdengar olehku.

Tak kuhiraukan mereka, karena aku lebih memilih menjauh dan duduk di sofa sembari memesan 1 botol Jackdaniels dan 1 tower heineken.

Dan tak lama, kemudian.

Beberapa waiters, datang sambil membawa 6 gelas kaca, dan mangkuk. Berisi; es batu, coca cola, 1 botol Jackdanielsdan 1 tower heineken.

“Mumpung lagi buntu, mending mabuk aja, deh! Semabuk-mabuknya.” gumamku.

“Lah, udah pesen aja. Nih, bocah!” ucap mbak ratih tiba-tiba sudah duduk disebalahku.

Kulihat waiters, menuangkan Jack D, satu persatu, ke dalam gelas. Yang telah tersusun rapi, di atas meja.

“Aku polos aja, mbak! Penuhin!” ucapku pada waiters tersebut.

Setelah waiters menuangkan minuman untukku, langsung kutenggak segelas penuh Jack D polos tanpa campuran apapun.

“Arrgghhhh..!” erangku setelah menenggak habis satu gelas penuh Jack D polos dalam satu tenggakan.

Terasa tenggorokan dan dadaku seperti terbakar.

“Eh! gila loe, Dek! Loe, mau cepet mabuk?” tanya mbak Ratih.

“Loh, emang dateng ke sini! Buat mabuk, kan!” ucapku dengan santai.

Entah, sudah berapa gelas? Aku tenggak.

Tanpa menghiraukan, kakakku dan teman-temannya. Karena, aku hanya ingin mabuk, ingin melupakan semua yang telah terjadi dalam hidupku, ingin melupakan sakitnya dikhianati.

“Damn..! Kenapa aku tak kunjung mabuk ya?” gumamku bertanya pada diri sendiri.

Entah, kenapa? Lama-lama. Aku tak nyaman dengan keadaan disekelilingku.

Aku memilih untuk ke luar club, sembari merokok di luar mencari ketenangan.

Di luar club, kulihat banyak pasangan kekasih. Mereka bergandengan tangan dengan pasangannya. Senyum lebar terukir di wajah keduanya.

Lalu, sesaat kemudian.

Aku memandang bayangan diriku sendiri, dipantulan bodi mobil yang terpakir di depanku.

Terlihat bayangan yang sangat menyedihkan.

“Dek! Loe dari tadi gue cariin di mana-mana? Eh, ternyata di luar! Ngapain sih di luar?” tanyanya.

“Gakpapa, mbak Tih. Aku lagi nggak ingin, dikeramaian,” ucapku beralasan.

“Ya udah, loe tunggu di mobil, gih! Gue masuk bentar! Mau pamitan, sama temen-temen gue.”

“Huum..!” ucapku dan berlalu menuju mobil.

.

.

.

Lokasi : Pantai Anyer

Letaknya sekitar 30 km dari bagian barat Jakarta atau tepatnya ada di Serang, Provinsi Banten.

“Ini pantai apa, mbak Tih?” tanyaku.

“Pantai Anyer, Dek. Katanya, kamu pengen tenang. Makanya, gue ajak loe ke sini!”

“Makasih mbak Tih, kakakku satu ini. Emang paling ngerti, adeknya.” ucapku memujinya.

Setelah memakirkan mobil, kami berjalan menyusuri tepi pantai, untuk mencari tempat yang nyaman untuk duduk.

“Mbak Tih, ngapain bawa tas?” tanyaku.

“Nih!” Ucapnya mengeluar sebotol absolut vodka dalam tasnya.

“Makasih, kakak!” ucapku tersenyum.

“Dek, coba loe lihat! Air pantai. Kadang ia pasang, kadang juga ia surut. Itu sama seperti, pasang surutnya kehidupan.” ucapnya.

Aku mendengar perkataannya, sembari menenggak absolut vodka, langsung dari botolnya.

“Dek, gue mau kesedihan loe. Loe lepas di pantai ini! Biarkan kesedihan loe. Dihempas oleh derasnya ombak pantai dan di bawa oleh kencangnya angin laut.”

“Iya, mbak Tih. Makasih banyak ya, mbak. Udah mau, nemenin aku.” ucapku.

“Sini! Ikutin gue, Dek!” ucapnya sembari menggandeng tanganku mengajakku untuk berdiri.

“Aaaaaaaaaaaaaaaaaa….!” teriaknya sekencang-kencangnya.

“Sekarang, gantian! Coba deh, loe teriak! Apa yang membuat hati loh, sakit? Loe teriakin, sekencang-kencangnya.”

“PERSETAN DENGAN CINTA, BANGSAT! JANCOOOOOKKKKKKKK…..!” teriakku sekencang-kencangnya dan mendadak membuatku, meneteskan air mata.

Dipeluknya tubuhku, dan dibelainya rambutku.

“Mulai detik ini! Loe harus kembali bangkit. menata masa depan loe kembali. Banyak orang-orang di sekeliling loe, yang sayang dan peduli dengan diri loe. Jangan pernah, kecewakan mereka!” ucapnya.

Aku hanya terdiam dan menangis sejadi-jadinya dipelukannya.

POV Ocha

Seminggu kemudian, Surabaya, 1 Oktober 2009

Satu bulan sudah, aku dan Alvin berpacaran. Dan selama itu pula, aku merasakan kebahagiaan bersamanya. Kami menjalin kisah kasih ini dengan apa adanya, kejujuran dan keterbukaan satu dengan lainnya. Menjadi kekasihnya, adalah sebuah impianku yang menjadi kenyataan. Karena, ia adalah lelaki yang selama ini; aku sukai, aku sayangi dan aku harapkan.

“Ocha… Ocha bangun, Nak! Udah Subuh!” suara lembut membisiki telingaku, disertai dengan kecupan di keningku.

Tubuhku bergeliat sejenak, merespon suara bisikan tersebut.

Perlahan-lahan, kesadaranku mulai pulih. Mataku mulai terbuka dan bisa mengenali siapa yang tadi membisiki telingaku.

“Hoam…” suara yang keluar dari mulutku, khas orang yang baru bangun tidur.

“Eh, mama!” seruku pada mama, sambil memeluk mama dan bermanja-manja dengannya sejenak.

“Buruan bangun, Cha! Udah jam 5 pagi!” seru mamaku mengingatkan. “Ntar, Subuhnya lewat!”

“Iya-iya, Ma.” sahutku cepat.

Lantas, melepaskan pelukanku, berganti dengan mencium pipi kiri dan kanan mama.

“Makasih ya, Ma.” ucapku tulus. “Mama selalu membangunkan dan mengingatkan Ocha untuk selalu ibadah. I love you, Mom.”

Mamaku tersenyum lebar. “Love you too,Ocha.” sahut mama memberitahu. “Dah sayang, Mama ke bawah dulu! Bikinsarapan!”

Aku lantas bangkit menuju kamar mandi. Membersihkan diri dengan mandi dan ambil wudhu.

30 menit kemudian…

“Ya Allah. Semoga saja Alvinlah, kelak yang akan menjadi imamku nanti, Amiien!” ucapku berdoa setelah menyelesaikan ibadah sholat Subuh.

Setelah selesai, beribadah Subuh.

Kuambil HP Black Berry, yang tergeletak di atas pembaringanku. Aku menuliskan pesan BBM untuknya, supaya segera bangun dan mengerjakan ibadah sholat Subuh.

Sambil membawa HP Black Berry, aku lantas turun ke bawah, menuju dapur. Untuk membantu mama, menyiapkan sarapan pagi.

“Akhirnya beres juga, bantuin mama.” ucapku lega dalam hati.

Kulihat jam dinding sudah menunjukkan angka 6.30 wib.

“Duh, mesti gue telepon nih, Alvin! Takutnya, dia masih molor. Bisa telat kuliahnya.” pikirku sesaat setelah melihat jam di dinding.

Segera kupencet tulisan “My Love” di HP Black Berry-ku.

Tut… Tut… Tut…3x

“Telepon yang anda tuju, sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan area.” suara operator layanan provider malah menjawab panggilanku.

“Ihh… Kesel, deh! Sama manusia satu ini! Tidurnya kayak kebo.” gerutuku dalam hati.

Aku terus mencoba menelepon Alvin, untuk membangunkannya.

“Semoga aja, kali ini! Dia terbangun dengar suara dering telepon masuk berkali-kali. Dasar kebo!” umpatku kesal sambil menghubunginya lagi.

Tut… Tut… Tut…

“Ya, hallo….!” seru suara Alvin yang berat khas orang yang baru bangun tidur, dari ujung telepon sana menyahuti panggilan teleponku.

“Alvin…. Buruan bangun! Udah jam 6.30 pagi, nih! Katanya jam 10, ada jadwal kuliah.” ocehku panjang lebar mengomelinya melalui HPku.

“Iya-iya, yank. Ini udah bangun, Ocha sayank!” sahutnya menjawab dengan sebuah rayuan yang membikin leleh amarahku.

“Awas kalo sampe telat masuk! Aku bakalan ngambek beneran!” ancamku serius lewat HPku.

“Iya-iya, nggak bakalan telat, Ocha sayang. JANJI!” sahut Alvin menegaskan lewat ujung telepon sana.

“Yaudah, sayang buruan mandi, terus sarapan dulu sebelum berangkat! Dan jangan ngebut-ngebut bawa mobilnya!” sahutku dengan suara lembut setelah tadi sempat ngomelin dia.

“Siap, Nyonya Alvin! Semua titahmu, akan hamba laksanakeun! I love you, Ocha. My sweet angel.” seru Alvin merayuku dengan kata-kata gombalnya lewat ujung telepon sana.

“Love you too, Alvin jelek. hehehe…Assalamualaikum w.w!” sahutku menjawab dan mengucapkan salam sebelum menutup teleponku.

“Waalaikum salam w.w!” sahutnya menjawab salamku mengakhiri pembicaraan telepon kami.

“Lega rasanya, setelah mengetahui, yayangku. Udah bangun. Walaupun, mesti ngomel-ngomel terlebih dahulu. Dasar kebo!” gumamku membatin.

Ya, tadi. Aku sengaja menelpon Alvin. Itu, karena janjiku padanya, untuk membangunkannya

pagi-pagi. Kemaren, dia sempat bilang, bahwa jam 10 pagi ini, dia ada jadwal mata kuliah Audit.

Dan, setahuku. Dosen yang mengajar mata kuliah Audit itu adalah Bu Endah. Beliau adalah dosen yang terkenal killer, tegas dengan semua aturan yang telah ia buat. Selain itu, Beliau adalah “KAPRODI” atau Kepala Program Study.

Setelah selesai, menelpon Alvin.

Mamaku dan adikku datang ke meja makan. Mereka tersenyum melihatku tersenyum-senyum sendiri.

“Ocha, anak mama yang cantik, senyum-senyum sendiri! Sedang happy, ya!” tegur mama ketika melihatku senyum-senyum sendiri.

“Ah, palingan Kak Alvin, Ma.” celetuk adikku memberitahu. “Siapa lagi, Ma? Kalo bukan dia, yang bisa bikin Kak Ocha kayak gini!”

“Ih… Apaan, Dek? Sok tahu..hehehe..” sahutku berusaha kembali sadar dari lamunanku barusan.

“Tapi, benerkan..?” tanyanya lagi. “Tadi adek denger, kok.”

“Udah-udah, Din!” mama menengahi. “Mending kita sarapan dulu! Kamu kan, mau sekolah. Nanti bareng mama, ya. Cha, kamu nggak ngampus hari ini!”

“Nggak, Ma.” sahutku cepat. “Emang ada apa, Ma?”

“Mama pakai mobilnya, ya.” jawab mama.

“Iya, Ma. Pake aja mobilnya.” ucapku mengijinkan mama.

“Makasih ya, Cha.” ucap mama.

Aku menganggukkan kepala.

Namun, tiba-tiba…

Drrtt… Drrtt…

HP BBku bergetar, segera saja kuambil HPku yang barusan kuletakkan di atas meja.

Sebuah pesan BBM masuk, segera kubaca isinya.

From : Ranya

Bebeb, hari ini hangout, yuk! Bosen di rumah aja.

To : Ranya

Sama siapa aja Ran?

From : Ranya

Kita bertiga aja, Beb. Gue, elo dan Lestari. Mau, ya!”

To : Ranya

Bentar, gue nanya nyokap dulu nih! Kan mobil mau dipake mama!

From : Ranya

Kalo mobil gampang, gue bawa mobil ntar. Dah lo minta ijin dulu sama nyokap lo, Cha.

To : Ranya

Ok, Ran. Ntar gue BBM lo, kalo dah dikasih ijin nyokap gue.

From : Ranya

Siip… Ditunggu ya, Beb!

Aku lalu cerita ke mama kalo nanti mau diajakin jalan sama kedua sahabatku, Ranya dan Lestari. Dan mama memberi ijin asalkan jangan pulang malam-malam.

Setelah mama dan Dini pergi, aku lantas mengirimkan BBM pada Ranya. Darinya aku tahu, bahwa kami akan pergi siang nanti.Sambil menunggu kedatangan Ranya, aku bersantai sejenak sambil nonton film kartun “Tom & Jerry”.

Tertawa terbahak-bahak, aku ketika melihat keusilan Jerry mengerjai Tom. Saat itu, Tom sedang tidur pulas. Tiba-tiba, Jerry menjahilinya dengan mengikat buntut dan kakinya dengan tali. Lalu dengan sengaja Jerry membangunkan Tom dengan menggunakan ketapel.

“Plukk..”

Tom terbangun dengan rasa sakit di kepalanya.

Setelah melihat siapa yang mengusilinya? Adalah Jerry. Tom marah, dan bermaksud mengejarnya. Namun, saat berdiri dan mau mengejar tiba-tiba ia kembali terduduk dan tergeletak pasrah karena tali itu ternyata menjerat kedua kaki dan buntutnya.

Entah, berapa lama aku menyaksikan film kartun Tom & Jerry? Aku sempat kaget, setelah melihat jam di dinding. Ternyata, sudah menunjukkan jam 8.00 pagi.

“Ah, coba deh aku BBM Alvin. Kok aneh ya, tuh anak! Nggak peka banget dia, gue di sini, gelisah nungguin kabarnya! Dah sampe belum di kampus!” omelku dalam hati.

Segera aku menulis pesan lewat HP Black Berry.

To : My Love

Sayank sudah di kampus?

From : My Love

Ini lagi ngopi di kantin yank.

To : My Love

Yank aku diajak keluar sama anak-anak siang nanti.

From : My Love

Sama siapa?

To : My Love

Ranya sama Lestari.

From : My Love

Pulangnya jangan malem-malem.

To : My Love

Iya sayank! Sayank Jangan lupa makan siang. “Love you”

From : My Love

“Love you too”

.

.

.

Aku, Ranya dan Lestari akhirnya pergi hangout. Entahlah, mau ke mana? Kedua sahabatku ini, ingin mengajakku pergi. Yang jelas, aku ingin menyenangkan hati kedua sahabatku, yang terlihat bete di rumah mereka masing-masing.

Saat sedang berada di dalam mobil, HP BBku kembali bergetar, dan sebuah pesan BBM masuk.

From : My love

Sayang, aku ke rumah Nita, ya! Tadi di kampus, Bu Endah marah-marah padaku yang. Nanti deh, aku ceritakan semua pada kamu, yang kejadian sebenarnya.

To : My Love

Yaudah! Sayang, hati-hati di jalan! Titip salam sama, Nita!

From : My Love

Siap, Tuan Putri!

Entah, kenapa? Perasaanku menjadi tidak enak. Ada sesuatu yang membuatku tiba-tiba sedih. Tapi, aku tidak tahu apa yang membuatku merasa was-was.

“Ya Allah. Semoga saja keluargaku baik-baik saja, juga Alvin kekasihku.” ucapku berdoa dalam hati.

.

.

.

Lokasi : Rumahku

“Cha, kamu yakin gakpapa? Mau aku temenin di rumah?” Ucap Ranya.

“Gakpapa kok, Ran. Makasih banyak ya, sudah mau nganterin aku balik.”

“Sama-sama Bebeb, yang sabar ya, Cha.”

“Aku masuk dulu ya, Ran! See you. Muuacchh… Muuaccchhh.” Ucapku berpamitan dengan Ranya sambil cipika-cipiki.”

“Kalau butuh apa-apa, bilang ya, Cha! Aku balik dulu, bye.”

Aku pun langsung bergegas masuk rumah dan masuk ke dalam kamar, mengunci pintu kamar.

Kupandang fotonya yang terpajang di dalam kamarku.

“Vin, kenapa kamu tega banget sama aku? Apa salahku, sama kamu?”

Masih teringat jelas olehku siang tadi, saat aku menuju cafe bersama teman-temanku. Tak sengaja, aku melihat Alvin sedang duduk berdua dengan Cintia.

Aku berlari sambil menangis keluar cafe.

“Vin, kenapa kamu tega membohongiku? Kenapa kamu tega, nyakitin aku?”

Aku lemas dan syok berat.

Aku hanya bisa menatap kosong foto kemesraan kami, dan dengan gontai aku melangkah menuju foto tersebut, mengambilnya dari atas meja.

“Aarrrggghhhhh….”

Aku menghempaskannya ke lantai.

Braaaak!!

“Hancur sudah berkeping-keping foto kemesraan kami, seperti hatiku yang hancur.” Kataku dalam hati dengan pilu.

Aku menatap nanar kepingan figura yang aku hempaskan ke lantai.

Kudengar pintu kamarku di gedor-gedor oleh mama, tapi aku tak peduli dan hanya bisa menangis pilu.

“Kamu jahat, Vin. Kamu jahat banget sama aku..” Isakku.

●°●°●°●°●°●°●°●°●°●°●°●°●°●

Keesokan harinya….

Pukul 07.00 wib…

Pagi ini, aku terbangun dengan mata sembab, hatiku masih terasa perih. Kemarin, aku menyaksikan sendiri. Alvin, kekasihku. Kembali bertemu dengan mantannya, yang sampai saat ini, masih mengisi hatinya.

“Lebih baik, aku pergi lebih awal. Biar tidak ketemu Alvin.” gumamku membatin.

Aku segera bangkit dari peraduan menuju ke kamar mandi.

30 menit kemudian….

Aku sudah tampil cantik, dengan make-up tipis. Dengan baju kaos putih dilapisi cardigan berwarna pink, sementara bawahannya aku menggunakan celana jeans ketat.

Aku berdiri di depan kaca, melihat kembali penampilanku sekarang.

“Apa aku kurang cantik, dibandingkan dia, Vin?” tanyaku dalam hati.

“Dah sebaiknya aku segera berangkat ke kampus.” gumamku membatin lagi.

“Kamu kenapa, sayang? Semalem mama mendengar kamu menangis.” tanya mamaku penasaran.

Mamaku berdiri di depan tangga.

Aku segera turun dan memeluknya.

“Gakpapa, Ma. Ocha pergi dulu ke kampus, Ma!”

“Gak sarapan dulu, Cha?”

“Gak Ma. Di kampus aja, udah telat. Dadah mama!” jawabku.

Aku segera menjalankan mobilku, sambil menemani perjalananku, ke kampus aku menyetel lagu-lagu yang bisa membuatku melupakan sejenak masalahku.

Namun, tiba-tiba…

Nyittt!!

Ciitt!!

“Aduh…! Kenapa lagi, sih? Nih, mobil!”

Mobilku tiba-tiba berhenti mendadak.

Aku keluar dari mobil dan mencari bantuan. Tapi, tidak ada siapa pun, yang lewat.

“Huhff… Bisa telat nih, ke kampus!”

“Kenapa, Cha? Mobilnya?”

Bersambung

END – Cinta Itu Buta Part 13 | Cinta Itu Buta Part 13 – END

(Cinta Itu Buta Part 12)Sebelumnya |Bersambung(Cinta Itu Buta Part 14)