Cinta Itu Buta Part 12

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20Part 21

Cinta Itu Buta Part 12

Start Cinta Itu Buta Part 12 | Cinta Itu Buta Part 12 Start

Seminggu kemudian, Surabaya, 1 Oktober 2009

Pagi hari. Entah, kenapa? Dari dulu, aku sangat menyukai sebuah siklus yang disebut pagi hari. Saat-saat, aku bisa menghirup udara yang masih alami, sangat bersih dan aroma bau pagi yang menyenangkan. Kenapa pagi hari ini, begitu menyejukkan dan menenangkan hatiku? Karena tadi malam, kotaku habis diguyur hujan lebat. Maka pagi ini, udaranya bersih dari polusi, anginnya berasa menyejukkan dan aroma tanah yang tersiram tanah sangat menenangkan pikiranku.

Pagi ini, aku bisa menikmati indahnya siklus awal hari dalam hitungan 24 jam. Ocha menelpon dan membangunkanku. Dia mengingatkan, kalau aku ada jadwal kuliah pagi ini.

Pagi-pagi sekali, aku sudah berangkat ke kampus. Badanku berasa segar pagi ini, siap untuk memulai segala sesuatu.

Apabila, aku menggunakan mobil dari rumah ke kampus. Maka, 20 menit kemudian, aku akan tiba di kampusku. Itu pun. Jika, jalanan lancar, dan tidak macet.

Namun, akhir-akhir ini.

Jalanan di kota Surabaya, saat ini lumayan lancar. Sejak, Walikota yang sangat kami cintai mengadakan proyek pelebaran jalan di jalur penyebab kemacetan.

Bahkan, tak jarang. Bila turun hujan.

Walikota pun sampai ikut turun ke jalan. Beliau bersama-sama Polantas, mengatur kendaraan bermotor. Baik kendaraan roda dua maupun kendaraan roda empat.

Pertumbuhan kendaraan bermotor di Surabaya. Setiap tahunnya, bukannya makin menurun. Tetapi, malah semakin meningkat dengan pesat.

Dan parahnya lagi, aku malah ikut menambah peningkatan laju kendaraan pribadi tersebut di kota Surabaya ini.

Jumlah kendaraan semakin banyak, termasuk kendaraan pribadi membuat kemacetan akan parah. Apabila, ruas jalan tidak diperluas atau pengguna jalan tidak disiplin dalam berlalu lintas.

Kulirik sejenak, jam tangan, ditanganku. Masih menunjukkan pukul 08.00 wib. Dan, aku ada kelas jam 10.00 wib nanti. “Masih ada waktu, untukku santai sejenak. Sambil menikmati kopi dan rokok di kantin kampus.”gumamku dalam hati.

Lantas, aku pun bergegas, menuju kantin untuk memesan kopi.

Saat sedang enak-enaknya menikmati secangkir kopi, aku dikagetkan oleh seorang wanita, yang tiba-tiba duduk di depanku.

“Alvin…! Kamu sendirian, kan?” serunya senang memberitahu. “Aku nitip tas ya, mau pesen makanan sebentar.”

Dia berlalu meninggalkanku, yang tertegun di tempat.

“Tuh, cewek! Siapa, ya? Kok asal duduk, nitip tas, lalu pergi gitu aja. Tapi, wajahnya, seperti familiar. Siapa, ya?” gumamku bertanya-tanya dalam hati.

“Alvin, kok bengong aja. Lagi mikirin apaan, sih?” tegurnya lembut.

“Eh, enggak! Gak lagi mikir apa-apa.” jawabku berkilah.

“Dari tadi, di kantin?” tanya cewek itu lagi.

“Barusan, kok.” sahutku cepat.

“Ohh..” serunya.

Pura-pura kenal aja deh, daripada tengsin…

“Ada kuliah jam berapa, Vin?” tanyanya kembali.

“Jam 10! Kalau kamu?” sahutku dan balik bertanya.

“Hari ini, aku gak ada kuliah!” sahutnya memberitahu. “Ke kampus cuma, ngumpulin tugas, doang.”

“Ohhh..” seruku menyahuti perkataannya.

“Kak Alviiin.” seru seorang wanita sedikit berteriak ketika menyapaku dan ia berjalan menghampiriku.

“Heyy… Dek.” sapaku ramah.

“Kak Alvin, dari tadi di kantin?” tanyanya penasaran.

“Lumayan, lah! Eh, nih. Kenalin, Dek.” ucapku mengenalkan wanita yang ada di depanku.

Kesempatan bagiku untuk mengetahui siapa namanya.

“Rani.” ucapnya memperkenalkan diri.

“Fara.” Ucap Fara sembari menjabat tangan Rani.

“Ohh…! Rani ternyata. Pantesan, mukanya kok, familiar.” gumamku membatin setelah mendengar nama gadis itu.

“Kak, aku boleh gabung?” tanya Fara sembari melirikku.

“Emang. Ada tulisan, dilarang bergabung?” sahutku bercanda.

“Makasih, Kak Alvin!” sahutnya memberitahu. “Aku pesen makan dulu ya, Kak.”

“Itu siapa, Vin?” tanya Rani sambil menunjuk Fara yang berlalu meninggalkan kami berdua.

“Fara, adek kelasku.” sahutku menjawab.

“Ganjen amat. Adek kelasmu.” omelnya menanggapi jawabanku.

Dan aku hanya bisa nyengir kuda, mendengar perkataan Rani barusan.

“Tiing…!” suara massage BBM.

Kuambil HPku yang tergeletak di atas meja.

From : Last Love

Sayank sudah di kampus?

To : Last Love

Ini lagi ngopi di kantin yank.

From : Last Love

Yank aku diajak keluar sama anak-anak siang nanti.

To : Last Love

Sama siapa?

From : Last Love

Ranya sama Lestari.

To : Last Love

Pulangnya jangan malem-malem.

From : Last Love

Iya sayank! Sayank Jangan lupa makan siang. “Love you”

To : Last Love

“Love you too”

“Kak Alvin, gak makan?” tanya Fara, setelah ia membawa sebuah nampan dan kembali duduk.

“Udah sarapan, tadi di rumah!” jawabku jujur.

“Kakak, lagi BBM-an sama Mbak Ocha, ya?” tanyanya penasaran.

“Huum.” jawabku singkat.

“Salam ya, Kak.Buat Mbak Ocha!” ucap Fara.

“Emang Ocha siapa, Vin?” celetuk Rani seketika.

“Pacarnya, Kak Alvin.” jawab Fara menyahuti.

“Oh, masih pacar, kan.” ujar Rani sambil melirikku.

Entah apa maksud perkataan Rani? Terlihat raut muka tidak suka, dari Fara yang ditujukan kepada Rani.

Drrrrttttt…! Drrrrrttttt….! Drrrrrttttt…!

“Kak, HPnya geter, tuh!” seru Fara memberitahu.

Kuambil kembali HPku di atas meja, ternyata Gondes yang telpon.

“Hallo…! Ya, Ndes.”

“Mas, ada orang Rektorat ke basecamp nyariin kamu, Mas”

“Emang kenapa, Ndes? Kok, nyariin aku?”

“Gak tau mas. Kalau masalah itu! Orangnya cuman bilang, kamu ditunggu Pak Rektor di ruangannya jam 10.”

“Oke Ndes! Makasih banyak, ya.”

“Sama-sama, Mas.” sahut Gondes dari ujung telepon sana.

“Aduh… Jam 10! Kan, aku ada kelas. Apa ke rektorat sekarang aja, ya? Mumpung, masih jam 9.30.” pikirku.

“Ran, Far aku duluan ya! Mau ke rektorat, ada perlu!” ujarku ke mereka berdua.

“Aku juga duluan ya, Vin. Mau ke Fakultas! See you, Alvin.” ujar Rani sambil berlalu meninggalkan kami tanpa memperhatikan Fara.

“Dek, kamu gakpapa, di kantin sendirian?” tanyaku kepada Fara.

“Gakpapa kok, Kak. Fara bentar lagi, ada kelas jam 10.” jawabnya cepat.

“Ya wes, aku duluan ya, Dek.” ujarku selanjutnya.

“Iya, Kak Alvin.” sahutnya singkat.

Aku pun berlalu meninggalkan Fara, menuju Ibu kantin untuk membayar dan bergegas menuju gedung rektorat.

Sesampainya, di gedung rektorat. Aku pun langsung menuju ruangan rektor.

“Mas Alvin, langsung ke ruangan Bapak aja mas!” ucap petugas yang berjaga di depan ruangan rektor. Memberitahukan. “Sudah ditunggu sama Bapak!”

“Iya, Pak. Makasih.”jawabku singkat.

Lantas, aku melangkah masuk ke dalam ruangan rektor.

“Permisi, Pak!” seruku memberi salam.

“Silahkan, masuk Alvin!” ucap Pak Rektor.

“Terima kasih, Pak.” sahutku menjawab.

“Maaf, kalau saya mengganggu waktu, Mas Alvin.”

“Enggak kok, Pak. Karena saya juga lagi nyantai, Pak. Cuma, nanti jam 10, saya ada kelas, Pak.”

“Nanti pas saat masuk, bilang saja tadi dipanggil rektor.”

“Baik, Pak. Ada yang bisa saya bantu, Pak?”

“Ini mengenai BEM Universitas. Saya minta tolong untuk pemilihan Presiden BEM Universitas nantinya, anak-anak Ormawa ikut mengawal prosesnya.”

Tak terasa sudah satu jam, kami membahas BEM Universitas dan Kemahasiswaan.

“Kalau gitu, saya permisi dulu, Pak! Ada kelas jam 10. Sekarang, sudah jam 10.30.”

“Silahkan, Alvin! Terima kasih banyak atas waktunya.” Seru Bapak Rektor mempersilahkanku balik ke kelas.

“Sama-sama, Pak. Mari, Pak!” sahutku berpamitan sembari meninggalkan ruangan rektor.

“Aduh.. sudah jam 10.30! Mesti buru-buru nih ke kelas.” gumamku membatin.

Sesampainya di depan kelas, aku pun langsung masuk untuk mengikuti perkuliahan.

“Permisi, Bu! Maaf, saya terlambat.” ujarku bersikap sopan.

“Kamu tau, kuliah saya jam berapa?” sahut Bu Dosen dengan tegas.

“Jam 10, Bu. Saya mohon maaf kalau terlambat! Saya terlambat dikarenakan ada pembahasan tentang Ormawa dengan Pak Rektor.” ucapku mencoba menjelaskan pada Beliau.

“Saya gak peduli, kamu terlambat karena apa? Aturan di kelas saya sudah jelas, kalau terlambat lebih dari 5 menit, tidak boleh mengikuti mata kuliah saya. Silahkan keluar, Mas!” ucapnya tegas tetap mengusirku.

“Maaf Bu, saya keberatan! Ibu gak berhak mengusir saya, karena saya membayar SPP dan hak saya untuk mengikuti perkuliahan.” sahutku membantah.

“Kamu gak bisa di kasih tau, dengan cara baik-baik ya, Mas.” bentaknya marah.

“Mohon maaf sebelumnya, Bu. Anda di sini sebagai pengajar dan juga menjabat sebagai Kaprodi jurusan Akuntansi. Tidak sepatutnya, anda berbicara seperti itu. Kalau anda tidak bisa sopan dan menghargai saya. Mohon maaf kalau saya pun tidak bisa menghargai anda.” sahutku berkata lantang melawan.

“Kamu pilih saya yang keluar, atau kamu yang keluar.” bentaknya marah.

“Kalau Ibu mau keluar, silahkan Bu! Dengan Anda keluar! Anda sudah menunjukan etika tidak profesional sebagai pengajar.” ucapku tak menghiraukan dan duduk di bangku paling depan.

“Terima kasih telah merusak mood saya, untuk mengajar.” ucapnya sembari berlalu meninggalkan ruang kelas.

“Huuuuuu….!” Sorak-sorai teman-temanku di dalam kelas.

“Alvin tok pokoe. Ayo ngopi yuk! Kantin.” Ucap teman-temanku.

“Ini anak-anak, kuliah berhenti malah seneng, hadehhh….!” Gumamku sambil menggeleng-gelengkan kepala.

“Ini dosen cari masalah sama aku, sudah dijelasin baik-baik juga, malah ngajak ribut. Gak profesional banget sebagai pengajar.” gumamku di hati.

Aku pun bergegas kembali menuju ruangan rektor untuk membahas masalah Bu Endah dosen audit-ku yang tidak profesional dalam hal mengajar.

“Permisi, Pak! Saya mau bertemu dengan Bapak Rektor, bisa.” ucapku pada petugas di depan ruang rektor.

“Tunggu sebentar, Mas Alvin! Saya beritahu Bapak dulu!” ucapnya sembari berlalu masuk ke ruangan rektor.

Tak lama kemudian petugas yang berjaga di depan ruang rektor keluar dan mempersilahkanku untuk masuk.

“Permisi Pak! Mohon maaf mengganggu.” ujarku sopan.

“Silahkan, Vin! Ada apa?” tanya Beliau kemudian setelah aku duduk.

“Tentang Bu Endah, dosen Audit di jurusan Akuntansi, yang juga menjabat sebagai Kaprodi di jurusan Akuntansi.”

(Kaprodi : Ketua Program Study)

“Kenapa dengan Beliau, Vin?”

“Tadi saya terlambat 30 menit, mengikuti perkuliahan Beliau. Saya sudah jelaskan, saya terlambat, karena ada pembahasan tentang Ormawa dengan Bapak. Tetapi, Beliau tidak mau mendengarkan alasan saya, malah mengusir saya keluar dari kelas.”

Aku mengambil napas dan mencoba menenangkan emosiku untuk melanjutkan cerita.

“Saya menolak untuk keluar dari kelas karena saya membayar SPP dan saya mempunyai hak untuk mengikuti perkulihan. Tetapi, malah Beliau membentak saya dan menghentikan kegiatan belajar mengajar begitu saja.”

“Untuk masalah Bu Endah, kebetulan saya besok mengadakan Rapim atau Rapat Pimpinan. Nanti masalah ini, akan saya bahas di Rapim. Terima kasih banyak, atas informasinya, Vin.”

“Sama-sama pak. Kalau begitu, saya permisi dulu, Pak!”

“Silahkan, Alvin!”

“Mari pak!” seruku berpamitan dan meninggalkan ruangan rektor.

Drrrrttttt…! Drrrrrttttt….! Drrrrrttttt…!

Terasa getaran handphone disaku celanaku, kulihat ternyata Nita yang menelpon.

“Tumben, nih anak telpon!” gumamku berpikir.

“Hallo…! Ya, Nit.” sahutku menjawab panggilan telepon.

“Alllviiiiinnnnnnn…..” terdengar teriakan sangat nyaring dari ponselku.

“Kamu mau buat aku tuli ta, Nit?” omelku kesal memberitahu lewat ponselku.

“Hihihi…! Kangen, loh! Kamu kok jahat sih, aku dilupain. Mentang-mentang udah punya cewek.” sahutnya dari ujung telepon sana.

“Ihhh…! Jomblo ya mbak, kasian.” ledekku bercanda sambil terkekeh.

“Anak ini loh, sudah gak pernah ngabarin. Kalau butuh doang, nongol. Sekarang, malah ngeledek. Tutuk batukmu, loh.” ancamnya dari ujung telepon sana.

“Lah, kamu galak gitu! Siapa coba, cowok yang berani deket?” sahutku menanggapi ancamannya dari ponselku.

“Berarti, memang mereka gak layak untuk dapetin aku.” sahutnya dari ujung telepon sana.

“Dih, songongnya..!” sindirku meledek lewat ponselku.

“Kamu hari ini ada acara, Vin?” tanyanya serius dari ujung telepon sana.

“Gak ada, ini aku lagi di kampus! Lontang-lantung gak jelas!” sahutku menjawab lewat ponselku.

“Sini, Vin. Kangen, loh!” ujarnya manja memintaku main ke rumahnya.

“Iya, abis ini, tak ke sana!” sahutku mengiyakan permintaannya.

“Ke sini beneran! Apa cuma, omong doang?” ulangnya lagi meminta kepastianku.

“Iya ke sana Nit! Ini, aku sudah jalan sampai parkiran mobil, mau ke rumahmu!” sahutku membenarkan bahwa aku akan ke rumahnya.

“Nah, gitu dong!” serunya senang dari ujung telepon sana.

“Ya wes. Aku berangkat sekarang! Assalamualaikum.” sahutku memberitahu dan diakhiri ucapan salam.

“Waalaikumsalam.” sahutnya menjawab salamku dari ujung telepon sana.

Baru nyadar kalau rokokku habis. “‘Ntar mampir dulu ke mini market sebelum ke rumah Nita.” pikirku sejenak.

Setelah mengabari Ocha, via pesan BBM. Kalau, aku akan ke rumah Nita. Lantas, aku pun bergegas menuju rumah Nita.

Kebetulan ada mini market di dekat rumah Nita. Aku pun behenti untuk membeli rokok, di mini market tersebut.

“Mbak rokok S Mild.” ucapku pada kasir mini market.

“Mungkin pulsanya juga mau diisi, Pak?” ucap kasir mini market itu menawarkan.

“Enggak mbak, terima kasih.” jawabku menolak dengan santun.

“S Mild, lima belas ribu rupiah, Pak.” ucap kasir mini market itu memberitahu.

Aku pun membayar uang sebesar Rp. 15.000,- kepada kasir minimarket itu.

“Terima kasih, Mbak.” ucapku cepat.

“Alvin!” seru seseorang memanggilku.

Terdengar suara wanita memanggilku dari arah belakang. Pada saat aku sedang membayar di kasir, membuatku menoleh ke belakang, untuk mencari asal panggilan tersebut.

DEGH!!

“Cintia…”

POV Cintia

Cintia Maharani

Karena kejadian yang tidak terduga. Aku bertemu dengan Alvin di mini market hari ini.

Dengan sedikit memaksa, aku memintanya untuk berbicara serius. Ngobrol berdua di cafe dekat daerah sini, untuk menyelesaikan kesalahpahaman di antara kami.

Aku memasuki cafe dengan hati berdebar.

Kulihat Alvin sudah duduk di sana, sambil merokok menungguku.

Kami berpandangan dengan ekspresi muka yang super canggung.

Bisa kurasakan keringat dingin mulai membasahi tanganku. Sedangkan Alvin, ekspresinya terlihat datar dan kaku.

Tatapan kami berdua sangat aneh, dan canggung.

Aku tak tahu dan tak mengerti, ekspresi seperti apa, yang sedang kulihat sekarang?

Sedangkan, di sisi lain.

Jantungku berdetak dengan kencang seperti mau copot.

“Bagaimana caranya? Aku bisa bicara dalam situasi seperti ini!” tanyaku dalam hati.

Tak lama kemudian waiters datang menanyakan pesanan kami.

Setelah memesan makanan dan minuman, aku berusaha mengajaknya bicara dengan wajar.

Tapi semua kata tampak susah untuk kuucapkan.

“Kamu, apa kabar?” tanyaku memulai obrolan yang terkesan kaku.

“Baik.” jawabnya datar dan dingin.

Jari-jariku seperti ingin rontok dari tanganku. Napasku tidak beraturan, ada sedikit rasa ingin meneteskan air mata melihat sikapnya yang dingin terhadapku.

“Pesanannya, silahkan!” Waiters datang dan meletakkan pesanan kami di atas meja.

“Terima kasih, Mas.” sahut Alvin dengan ramah.

“Vin, aku kemarin sempat melihat namamu di koran.” ucapku mengajaknya kembali ngobrol. “Kamu gak berubah ya, masih suka demo.”

“Oh…!” serunya datar.

“Vin, kamu gak suka bertemu denganku?” tanyaku setelah melihat sikapnya yang dingin.

“Tanpa aku harus menjawab kamu sudah tau jawabannya.”sahutnya memberitahu. “Sudahlah gak perlu bertele-tele, apa yang mau kamu obrolin?”

Mendengar kata-kata yang keluar dari mulutnya, membuatku terdiam.

Menahan rasa sesak di dadaku, lalu kupejamkan kedua mataku. Aku berusaha menahan air mata yang akan tumpah.

Mataku memanas, aku tak kuasa lagi menahan air mataku, aku merasakan sesak yang teramat sesak dihatiku.

Tes

Tes

“Maaf kalau perkataanku menyakitimu,” ujarnya seraya memberikan tisu padaku. “Ini tisu untuk mengahapus air matamu.”

“Makasih.” ucapku lirih.

Kami terdiam saling menatap, dengan rasa canggung di diri kami masing-masing.

“Ada hal yang mesti kita obrolin.” ucapku memberitahu.

“Soal?” tanyanya singkat.

“Soal kita.” jawabku cepat.

“Gak ada yang perlu di obrolin, tentang kita Cin.” jawabnya datar dan dingin. “Aku dan kamu, sudah menjadi masa lalu.”

“Vin, please…! Dengerin dulu!” ucapku memohon pengertiannya. “Setelah itu, terserah kamu, mau nge-judge aku seperti apa?”

“Oke.” jawabnya singkat, sembari membakar rokok.

“Kamu masih ingat, sebelum putus.” ucapku mengingatkannya. “Kita berantem, karena apa?”

“Karena aku terlalu baik dengan wanita, dan kamu gak suka, aku terlalu dekat dengan Ocha, kan.” jawabnya sedikit bernada keras. “Ocha yang sudah kuanggap, seperti kakakku sendiri.”

“Aku wanita Vin, aku bisa liat dari cara dia menatap kamu.” sahutku menjelaskan. “Kalau dia, mempunyai perasaan sama kamu.”

“Yupss…. Benar!” jawabnya cepat, lalu ia memberitahu. “Dan, Ocha sekarang menjadi kekasihku.”

“Ternyata benar.” ucapku menanggapi perkataannya. “Apa yang kutakutkan selama ini, menjadi kenyataan?”

“Sama sekali, gak benar.” sanggah Alvin.

“Buktinya.” ucapku memberitahu. “Kamu sekarang, pacaran kan, sama dia.”

“Memang benar, aku sekarang berpacaran dengan Ocha.” ucap Alvin membenarkan. Lalu ia menjelaskan. “Namun, hal itu terjadi, belum lama! Baru satu bulan ini, aku dan Ocha berpacaran!”

Hatiku semakin sesak mengetahui fakta yang seperti ini.

Dadaku terasa seperti tertusuk oleh ujung belati yang tajam.

Tes

Tes

Tes

Kembali aku meneteskan air mata.

“Cin, semua ini!” ucapnya memberitahu. “Hanya akan membuka luka lama.”

“Vin, please…!” ucapku memohon dengan suara terisak. “Aku mohon dengerin aku dulu.”

Aku menarik napas panjang untuk menenangkan diriku.

“Vin, aku gak pernah berselingkuh dari kamu.” ucapku menjelaskan apa yang terjadi. “Apa yang kamu lihat semuanya, hanya salah paham!”

“Oh…!” serunya dengan senyum tipis bernada sinis. “Jadi melihatmu, pelukan mesra dengan lelaki lain, di rumah makan itu, cuma salah paham!”

“Vin, please…!” ucapku memohon. “Biarin aku selesaiin dulu omonganku.”

“Aku sadar, aku memang salah, waktu itu! Karena aku tidak memberitahumu kalau aku bertemu dengan Ryan. Tapi, aku bertemu dengannya, hanya untuk menjelaskan. Bahwa, aku gak bisa menerima Ryan, untuk menjadi kekasihku. Dan pelukan yang kamu lihat itu, adalah pelukan persahabatan, Vin. Karena kami sepakat, untuk tetap berteman baik.” ucapku menjelaskan kesalahpahaman yang terjadi.

“Lalu, kenapa? Kamu baru memberi penjelasannya, sekarang!”ucapnya menanggapi perjelasanku. “Ke mana kamu selama setahun ini?”

“Kamu masih ingat, Vin! Ryan kamu pukulin, sampai ia harus dirawat di rumah sakit, selama dua minggu. Tulang rusuknya, patah.” ucapku menjelaskan apa yang terjadi.

“Oh…!” serunya cuek dan dingin. “Patah toh, tulang rusuknya!”

“Beruntung kamu, Vin!” ucapku memberitahu. “Ryan tidak melaporkan kejadian tersebut, ke kantor polisi.”

“Hmmm…! Siapa tadi namanya?” gumamnya, lalu ia bertanya. “Cowok yang kupukulin, sampai tulang rusuknya patah?”

“Ryan.” jawabku cepat.

“Ah iya, Ryan! Kenapa aku harus takut, berurusan dengan polisi? Toh, aku gak salah, dia duluan yang memukulku. Dan, aku hanya membela diri, dengan membalas pukulannya.” ucapnya santai seolah meremehkan masalah itu.

“Aku yang mengantar Ryan ke rumah sakit, Vin. Waktu itu! Dan, aku menjaga Ryan selama dia di rumah sakit, sampai orang tuanya datang ke surabaya. Berkali-kali, aku mencoba menghubungimu. Tapi, gak pernah bisa, nomormu gak pernah aktif. Aku ke rumahmu, dan kata mama, kamu sudah berangkat ke jakarta, untuk menenangkan diri. Dan, Beliau berpesan, agar aku memberimu ruang sejenak, karena mama bilang, kamu hancur banget saat itu.” ucapku menjelaskan keadaanku saat itu.

“Semuanya, sudah terlambat, Cin.” ujarnya lirih memberitahu. “Semuanya, sudah gak sama, seperti dulu.”

“Paling tidak, aku sudah berusaha untuk meluruskan kesalahpahaman di antara kita.” ucapku puas karena telah menjelaskan semua ini.

Alvin menatapku dalam, digenggamnya tanganku.

“Cin, mungkin memang kita gak ditakdirin untuk bersama.” katanya menjelaskan statusnya saat ini. “Sekarang, sudah ada Ocha, di kehidupanku.”

Aku tersenyum dan menatapnya.

“Aku akan selalu ada untukmu Vin,” ujarku lirih berusaha berjiwa besar. “Because I’ve realized that no matter where you are or what you’re doing, or who you’re with, I will always, honestly, truly, completely love you.”

Broken bottles in the hotel lobby

Seems to me like I’m just scared of never feeling it again

I know it’s crazy to believe in silly things

But it’s not that easy

I remember it now, it takes me back to when it all first started

But I’ve only got myself to blame for it, and I accept that now

It’s time to let it go, go out and start again

But it’s not that easy (that easy that easy)

High hopes, when you let it go, go out and start again

High hopes, ooh when it all comes to an end

But the world keeps spinning around

But I’ve got high hopes, it takes me back to when we started

High hopes, when you let it go, go out and start again

High hopes, ooh when it all comes to an end

But the world keeps spinning around

Broken bottles in the hotel lobby

Seems to me like I’m just scared of never feeling it again

I know it’s crazy to believe in silly things

But it’s not that easy

I remember it now, it takes me back to when it all first started

But I’ve only got myself to blame for it, and I accept that now

It’s time to let it go, go out and start again

But it’s not that easy

But I’ve got high hopes, it takes me back to when we started

High hopes, when you let it go, go out and start again

High hopes, ooh when it all comes to an end

But the world keeps spinning spinning

But I’ve got high hopes, it takes me back to when we started

High hopes, when you let it go, go out and start again

High hopes, ooh when it all comes to an end

But the world keeps spinning

Sementara itu di tempat yang sama…

Ada dua orang gadis cantik, terus memperhatikan Alvin dan Cintia ketika keduanya asyik mengobrol.

Salah seorang dari dua gadis itu, tampak matanya berkaca-kaca, mau menangis namun ia mencoba menahannya, setelah menyaksikan Alvin dan Cintia di sana.

Apalagi ketika Alvin memegang tangan Cintia, gadis itu hanya membuang muka. Tak sanggup ia melihat kejadian tersebut nyata di hadapannya.

“Kita pulang saja, beib!” ucap temannya ketika dilihatnya gadis itu semakin syok dan sedih.

Gadis itu mengangguk dan bangkit. Ia segera mengikuti temannya yang telah lebih dulu berjalan keluar meninggalkan cafe tersebut.

Back to Alvin

Akhirnya, sampai juga di rumah Nita, pasti dia ngomel-ngomel.

Ting… Tong… Ting… Tong…!!

Ting… Tong… Ting… Tong…!!

“Iya, sebentar!” teriak seseorang dari dalam rumah.

“Jarak kampusmu, ke rumahku. Berapa kilo, Vin? Jauh banget, ya?” omel Nita menyambutku ketika datang. “Sampai butuh waktu berjam-jam.”

“Hehehe…!” kekehku menyahuti, lalu berucap. “Entar, aku ceritain Nit.”

“Terus, kenapa wajahmu. Kok, masam gitu?” tanya Nita penasaran. “Ayo masuk!”

Dengan gontai, aku melangkah masuk, ke dalam rumah Nita.

“Mas Alvin, mau dibuatin minum apa?” tanya ART Nita.

“Kopi aja mbak.” sahutku menjawab. “Makasih ya, Mbak.”

“Mbak, entar kopinya Alvin.” ujar Nita memberitahu. “Antar ke kamarku, ya!”

.

.

.

Di dalam kamar Nita….

Aku hanya duduk dan memandang kosong ke arah langit-langit kamarnya.

“Kamu, kenapa Vin?” tanya Nita.

“Bentar ya Nit. Ngopi dulu, entar baru aku ceritain semuanya.” jawabku memberitahu. “Boleh aku ngerokok?”

“Dilarang juga! Kamu bakalan tetep merokok.” ocehnya. “Bentar, aku ambilin asbak, di kamar kakakku.” Ucapnya.

Tok…! Tok…! Tok…!

“Mbak, kopinya Mas Alvin.” seru ART Nita memberitahu.

“Masuk, Mbak!” sahutku memberitahu. “Gak dikunci kok, pintunya.”

“Mas, kopi sama camilannya.” ucap ART Nita.

“Makasih ya, Mbak.” ujarku ramah.

“Nih, asbaknya!” ujar Nita. “Sekarang cerita.”

Nita tiba-tiba muncul dan membawa asbak.

“Kopinya aku minum aja belum, Nit.”

“Hmmmm….” Gumamnya.

Setelah menyesap kopi, dan membakar sebatang rokok. Aku mulai bercerita semuanya. Mulai dari secara tidak sengaja, aku bertemu dengan Cintia di mini market. Waktu dalam perjalanan menuju rumah ini.

Lalu, dia memaksaku ngajak ngobrol di cafe dekat mini market tersebut.

Dan tentang putusnya hubunganku dengan Cintia, hanya salah paham, karena Cintia, tak pernah berselingkuh dariku.

“Kamu sekarang kan sudah ada Ocha, Vin di kehidupanmu.”

“Iya, Nit. Aku sadar, kok. Hal itu dan juga aku mencintai Ocha.”

“Sabar ya, Vin.” ucap Nita.

Kulihat Nita beranjak dari tempat tidurnya, dan membuka lemari bajunya. Lalu mengambil kotak tupperware kecil dan menyerahkannya padaku.

“Ini apaan, Nit?” tanyaku kebingungan.

“Buka aja, Vin! Biar kamu agak tenang.” ujarnya.

Lantas akupun membuka kota tersebut. “Lah, kamu masih ngegele Nit?” tanyaku.

“Sudah enggak, Vin. Itu barang lama, mau aku buang kok sayang. Kan, kamu tau sendiri, aku sekarang, ngerokok aja enggak.” ujarnya.

“Iya, sih. Hehehe….”

“Mau gak. Kalau enggak aku buang.” tanya Nita.

“Mau. Kan, jarang-jarang Nit. Hehehe..”

Aku mengeluarkan kertas papir, dari dalam kotak tersebut. Menggunting kertas, dan membuat tube kecil, menggerinda beberapa serpih tumbuhan kering. Lalu melintingnya perlahan di kertas.

Lalu kubakar.

Ku hisap dalam-dalam, dan kuhembuskan pelan-pelan asapnya.

Rasa berputar pelan, melanda kepalaku. Pelan, perlahan, merayap, tinggi, jauh ke awan.

Oh kedamaian.

Kurasakan ketenangan dan kedamaian dalam diriku.

Bersambung

END – Cinta Itu Buta Part 12 | Cinta Itu Buta Part 12 – END

(Cinta Itu Buta Part 11)Sebelumnya |Bersambung(Cinta Itu Buta Part 13)