Cinta Itu Buta Part 11

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20Part 21

Cinta Itu Buta Part 11

Start Cinta Itu Buta Part 11 |Cinta Itu Buta Part 11  Start

PART XI

LEMBARAN LALU​

Fara Dina Senjani adalah Mahasiswi Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri di kota Surabaya angkatan tahun 2008. Awal pertemuan ku dengannya adalah ketika dia mengikuti diklat Himpunan Mahasiswa dan kebetulan aku menjabat sebagai Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Jurusan Akuntansi.

5 Bulan lalu, Surabaya, 7 April 2009

“Kak…, Kak Alvin bangun, Kak!” Ucapnya sambil menggoyang-goyang badanku.

“Eh, kamu toh dek, ternyata.” Ucapku kaget.

“Kakak gak pulang ta, Kak? Basecamp udah sepi. Anak-anak udah pada pulang semua.”

“Emang, jam berapa sekarang?” Tanyaku kaget.

“Sekarang sudah jam 9 malam, Kak.” Sahutnya memberitahu.

“Ohh…!” Seruku singkat.

“Nih, aku bawain nasi bebek buat kak Alvin! Pasti kakak belum makan, kan.” Ucapnya sambil menunjukkan kantong kresek padaku.

“Makasih, Dek. Kamu sendiri, kok masih di kampus?” Sahut senang sekaligus bingung dengan kedatangannya ke basecamp. “Terus bawa nasi bebek lagi?”

“HPku ketinggalan di basecamp, Kak.” Sahutnya menjawab.

“Kok, bisa?” Ucapku menanggapi. ” Untung ketinggalannya di basecamp HIMA, Dek.”

“Iya kak, untungnya ketinggalan di basecamp, coba kalau di tempat lain,” sahutnya menanggapi. “Pasti sudah hilang.”

“Terus, kok kamu bisa tau. Kalau HPmu ketinggalan di sini?” Tanyaku kembali.

“Tadi waktu aku sadar HPku gak ada, aku pinjem HPnya Hilda, buat telpon ke nomorku. Alhamdulillah ternyata diangkat sama Mas Hadi terus dikasih tau kalau ada di basecamp HPnya.” Ujarnya menjelaskan.

“Oh…! Terus sekarang,” seruku ikut senang, dan bertanya lagi. “Sudah ketemu HPnya?”

“Ini, sudah kak! HPnya disimpen di laci sama Mas Hadi.” Jawabnya sambil menunjukkan HPnya.

“Kak Alvin, kok tidur di basecamp?” Tanyanya kebingungan.

“Ketiduran Dek, hehehe….!” Sahutku cengengesan. ” Tau tuh anak-anak jahat banget, aku gak dibangunin.”

“Tadi kata Mas Hadi, waktu ditelpon, kakak sudah dibangunin. Tapi gak bangun-bangun, terus Mas Hadi pesen, entar kalau ke basecamp HIMA ambil HP, sekalian minta tolong, bangunin Kak Alvin yang masih tidur di basecamp.” Ucapnya menjelaskan.

“Ohhh…!” Seruku singkat.

“Nih, Fara bawain nasi bebek sama teh hangat buat kakak!” Ucapnya memberitahu. ” Tadi mampir dulu beli nasi bebek, sebelum ke sini! Pasti Kak Alvin, belum makan malam.”

“Hehehe…! Tau aja kamu dek, kalau aku lagi laper!” Sahutku terkekeh. “Makasih banyak ya, Dek.”

“Sama-sama, Kak!”Jawabnya sambil tersenyum, ia bertanya. “Piring, gelas sama sendok HIMA ada di lemari kan, Kak?”

“Huum.”

“Tunggu bentar ya, Kak!” Serunya memberitahu. “Biar Fara siapin dulu makanannya, buat kakak.

“Makasih ya, Dek.”

●°●°●°●°●°●°●°●°●°●°●°●°●°●​

POV Fara

Surabaya, 9 Mei 2009

From : Kak Alvin

Dek….!

To : Kak Alvin

Ya kak, ada apa?

From : Kak Alvin

Hari ini, kamu sibuk gak?

To : Kak Alvin

Enggak kak, kenapa emangnya?

From : Kak Alvin

Ini lagi di mana sekarang?

From : Kak Alvin

Lagi di kost-an kak, gak ngapa-ngapain.

From : Kak Alvin

Keluar yok ke sanggradi makan es cream! Aku lagi suntuk nih, di rumah.

To : Kak Alvin

Kakak serius ngajak Fara keluar?

From : Kak Alvin

Lah terus dikira? Ya serius lah, Dek.

Kamu siap-siap gih, ini aku mau otw ke kost-an kamu.

To : Kak Alvin

Iya kak, Fara siap-siap dulu kalau gitu.

From : Kak Alvin

Oke, entar kalau aku dah sampai, aku telpon.

“Sumpah demi apapun, aku seneng banget. Aahhhkkk….! Kak Alvin ngajak aku keluar, rasanya seperti mimpi.” Teriakku kegirangan.

Orang gila!! Mungkin sebutan yang tepat, untuk menunjukkan kondisiku, setelah aku mendapatkan pesan darinya.

Berbagi itu indah, apalagi jika berbagi waktu untuk menghabiskan hari bersama orang yang kita sayang. Siapa yang akan menolak jika sang pangeran pujaan hati mengajak untuk menghabiskan hari bersama? Hari ini adalah hari yang paling bahagia dalam hidupku.

●°●°●°●°●°●°●°●°●°●°●°●°●°●

Back To Alvin

Surabaya, 29 Mei 2009

Happy birthday to you

Happy birthday to you

Happy birthday to you

Lantunan lagu selamat ulang tahun dari orang-orang yang aku sayangi.

“Selamat ulang tahun, sayang.” Ucap mama memberi selamat.

“Terima kasih, Ma.” Sahutku sambil memeluk mama.

“Selamat ulang tahun, arek elek.” Ucap Ocha memberiku selamat.

“Terimakasih banyak mbakyu ku, sayang.” Jawabku sambil memeluk Ocha.

“Selamat ulang tahun, Mas.” Ucap adekku memberi selamat.

“Makasih, Dek.” Jawabku sambil memeluk adekku.

“Vin, ini papa telpon, Nak!” Ucap mamaku sambil memberi handphone padaku.

“Hallo, Pa…!” Seru ku menyapa papa dari HPnya mama.

“Selamat ulang tahun, ya sayang. Semoga sehat selalu, dimudahkan rejekinya, cepet lulus kuliahnya.” Ucap papa dari ujung telepon sana.

“Makasih papa sayang, kadonya mana, Pa?”Sahutku senang.

“Kadonya sudah, papa transfer.”Sahutnya dari ujung telepon sana.

“Aseeekkk… Makasih papa” Jawabku kegirangan.

“Mama mana?” Seru papa menanyankan mama dari ujung telepon sana.

“Bentar, Pa.” Sahutku singkat.

“Ma, nih papa!” Ucapku sambil memberi handphone ke mama.

“Cha, endi kadoku.” Tanyaku pada Ocha.

“Nih, semoga kamu suka ya.” Sahut Ocha sembari memberi kado.

“Aseeekkk…! Makasih mbakyu.” Ucapku kegirangan.

Hari ini adalah hari yang paling bahagia untukku karena di hari spesialku. Aku dikelilingi oleh orang-orang yang kusayangi.

“Mas Alvin,” seru adekku memberitahu. Tadi ada cewek nganter kue, terus pulang.”

“Siapa, Dek?” Tanyaku penasaran.

“Gak tau mas, aku lupa nanya,” jawab adekku memberitahu. “Dia cuma ngasih kue sama surat doang.”

“Kenapa, gak kamu suruh masuk tadi anaknya kan kasian sudah datang malam-malam.” Tanyaku sambil menerima kue dan surat dari adekku.

“Sudah mas, tapi dia gak mau,” Sahut adekku menjelaskan. “Habis ngasih kue, titip salam, terus pulang.”

“Ya wes, nek gitu.” Ucapku menanggapi.

“Ciieeee… Ciieeeee…! Ada pengagum rahasia, ngasih kue sama surat.” Ledek Ocha menggodaku.

“Siapa ya, kira-kira? Jangan-jangan Cintia? Tapi kalau Cintia, adekku pasti mengenalinya.” Gumamku berpikir sejenak.

“Dari siapa, Vin?” Tanya Ocha ikut penasaran.

“Terus, kalau kamu tanya aku! Aku harus tanya, siapa?” Sahutku kebingungan.

“Lak dodol arek iki,” Sahutnya memberitahu. “Itu kan, ada suratnya, Vin!”

“Eh… Iya.” Jawabku sambil garuk-garuk kepala.

“Sini, mana liat!”

Ocha tiba-tiba merebut surat tersebut.

“Dari siapa, Cha?” Tanyaku penasaran.

“Fara..!” Jawab Ocha sambil mengerutkan dahinya.

“Mana liat?” Tanyaku sembari kembali mengambil surat tersebut.

Surabaya, 29 Mei 2009

Selamat ulang tahun Kak Alvin, semoga kakak sehat selalu, bahagia selalu dan panjang umur.

Hari ini adalah awalan baru untukmu. Lupakan kesalahan dan penyesalanmu di belakang, mulailah dengan perjuangan yang baru, semangat baru, dan harapan yang lebih besar. Hadapi rintanganmu dengan senyuman di wajah. Selamat Ulang Tahun Kakak.

From : FARA

●°●°●°●°●°●°●°●°●°●°●°●°●°●

POV Fara

Surabaya, 8 Juli 2009

Sekarang sudah jam 8 malam dan aku masih di kampus. Aku masih disibukkan dengan tugas yang diberikan Gondes. Aku harus merapikan goodie bag untuk seminar. Seharusnya tadi siang, tapi karena jadwal kuliahku padat, aku baru sempat mengerjakannya sehabis magrib.

Baru setengah jalan merapikan goodie bag,perutku sakit. Sepertinya maag-ku kambuh, aku lupa kalau semenjak siang, aku belum makan.

“Loh, kamu kok. Masih di basecamp, Dek?”

“Iya kak, lagi ngerapiin goodie bag buat acara seminar.” Jawabku memberitahu.

“Kamu kenapa? Kok megangin perut.”

“Gakpapa kok, Kak.” Jawabku lirih.

“Yakin gakpapa? Kok suaranya lemes gitu.”

“Maag-ku kambuh, Kak.” Jawabku jujur.

“Kamu tadi ke kampus, naik apa?”

“Tadi bareng Hilda kak,” jawabku memberitahu. “Tapi sekarang, Hildanya sudah pulang.”

“Lagian, ngapain sih! Ngerjain goodie bag malem-malem di basecamp, sendirian lagi.”

“Iya, tadi disuruh sama Gondes, Kak,” sahutku memberitahu. “Kan, ini memang tugasku, Kak!”

“Ayo, tak anter pulang ke kost! Besok aja dikerjain lagi, bareng anak-anak. Entar tak kasih taunya Gondes, kok ngawur gitu kalau ngasih tugas.”

“Jangan, kak Alvin!” Larangku mencegahnya. “Kan, ini memang tugasku, Kak.”

“Ini ngawur dek, itu 600 goodie bag loh! Sudah, ayo tak anter ke kost! Entar sekalian mampir, beli obat sama beli makan sekalian.”

“Makasih, Kak.” Sahutku senang.

Seharusnya aku sedih karena sakit, tapi kali ini aku sangat bahagia. Sakit Maag-ku kambuh, membuat Kak Alvin memperhatikanku.

POV Fara

Surabaya, 21 September 2009

Semenjak mengetahui fakta tentang Alvin yang sudah mempunyai kekasih. Aku menjalani hariku tanpa semangat, entah pergi kemana semangat hidupku.

Yang aku tahu, semenjak saat itu. Hari-hariku berubah menjadi kelam. Diliputi oleh perasaan kecewa, sedih dan marah.

Aku sedang duduk diam di sebuah cafe tanpa menyentuh sama sekali makanan yang aku pesan. Seperti biasa, aku hangout ditemani Nova dan Marta. Dari sekian banyak teman-temanku, hanya Nova dan Marta yang paling dekat denganku, keduanya adalah sahabatku.

“Kamu kenapa, sih?” Tanya Nova padaku. Sementara Marta menatapku sama herannya dengan Nova.

Aku tersentak kaget, namun aku cepat sadar lalu menggelengkan kepalaku.

“Jujur, Far!” Sahut Marta menambahi.

Aku tetap diam membisu, entahlah aku sedikit ragu untuk bercerita.

Aku pura-pura sibuk dengan makanan yang sedari tadi aku abaikan, kulirik kedua orang yang ada di hadapanku dan mereka masih memandangku dengan cara yang sama.

“Kamu, gak bakat akting, Beib!!” Marta mendesis sinis.

“Cerita, Far. Gak susah kan?” Sambung Nova dan sedikit mengertak. “Kalau kamu gak cerita, berarti kamu gak anggap kita sebagai sahabat!”

“Apa iya, aku harus cerita pada kedua sahabatku, sekarang? Tapi, aku ragu untuk menceritakannya.” Batinku berkata.

“Em…! Aku lagi galau.” Ucapku gugup.

“Hah…! Serius??” Teriak mereka berdua serempak.

Kusempatkan melirik orang-orang yang berada di kanan dan kiriku, dan mereka ternyata, sedang memperhatikan kami. Akibat kegaduhan yang tadi diciptakan kedua sahabatku di hadapanku.

“Gak pakai teriak-teriak kan bisa,” omelku kesal. “Noh, coba kalian lihat! Orang-orang jadi merhatiin kita! Hash!”

Kulihat Nova dan Marta nyengir kuda ke arahku. Aku menghembuskan napas jengah dengan kelakuan kedua sahabatku ini.

“Jadiii?” Ucap Nova, memintaku untuk melanjutkan pembicaraanku tadi.

Aku menarik nafas panjang. “Ya, gitu! Pokoknya, aku lagi galau.”

Kulihat Nova dan Marta menghembuskan nafasnya juga dalam waktu hampir bersamaan.

“Bukan itu maksudnya, Fara sayang!” Mereka berdua menggeram kesal padaku.

Aku terkekeh pelan.

“Oke, bakal aku ceritain detail-nya. Tapi please, jangan dipotong sampai aku selesai, oke?” Pintaku kepada kedua temanku.

Nova dan Marta mengangguk cepat.

Aku menghirup udara sebanyak-banyaknya sebelum memulai bercerita.

“Jadi, beberapa bulan ini aku lagi deket dan suka sama seseorang. Dia seniorku di kampus. Entah dia sadar atau tidak tentang perasaanku padanya. Aku sadar kalau dia susah untuk kugapai karena terlalu banyak wanita di sekelilingnya.”

Aku kembali menarik napas panjang sebelum melanjutkan ceritaku.

“Dan hari sabtu kemarin, aku keluar sama Hilda. Nah, waktu Hilda nganterin aku pulang ke kost. Dia cerita, kalau cowok yang kusuka, barusan jadian. Aku jadi penasaran, dan membuka foto profil bbmnya, tapii…”

Aku terdiam sejenak, kupejamkan kedua mataku, menahan air mata yang akan tumpah.

Lagi-lagi rasa sesak ini menghimpit dadaku.

“Tapi… Aku malah melihat fakta yang gak mau kulihat.”

Aku menatap sendu ke arah mereka berdua.

Aku meremas dadaku sekencang mumgkin. Sesak dan sakit ini kembali kurasakan.

Mataku berkaca-kaca, dengan cepat kupejamkan lagi mataku.

“Aku tak boleh menagis lagi! Tidak!” Gumamku membatin.

“Sebelumnya, aku merasa kalau aku masih punya kesempatan.” Ucapku melanjutkan omongan. “Tapi pas kemarin, aku baru tau, kalau cowok yang kusuka sudah punya cewek.”

Aku diam kembali, terasa seperti disambar petir, kesempatan yang aku punya rasanya runtuh begitu saja.

Sambil menundukkan kepala, aku melanjutkan perkataanku.

“Aku baru sadar, ternyata mencintainya sesakit ini.”

Pertahananku runtuh, air mataku tak bisa lagi kutahan.

Semakin kutahan semakin menyesakkan.

Aku terisak pelan, kututup wajahku dengan kedua tanganku agar isak tangisku tak terdengar jelas.

Aku merasakan ada tangan yang mengelus pundakku pelan, kutarik napas dalam-dalam, kuturunkan kedua tangan dari wajahku, lalu menatap Nova dan Marta bergantian.

“Sekarang apa yang harus kulakuin?” Tanyaku parau kepada mereka berdua.

Kulihat sejenak, Nova dan Marta saling memandang.

Nova menatap mataku dalam.

“Aku rasa kamu harus mundur dan merelakan, Far.”

Aku menggeleng kecil.

Marta lantas memegang tanganku pelan.

“Mungkin dia bukan yang terbaik buat kamu, Far.”

Aku terdiam dan menatap Nova dan Marta bergantian.

“Apakah aku harus merelakan?” Tanyaku parau pada mereka berdua.

Kulihat kedua sahabatku menatapku iba, lalu tak lama, mereka menganggukkan kepala serempak.

“Ketika semua yang dia lakukan sangat manis, dan akhirnya membuatku jatuh cinta, lalu semudah itu kah untuk melepasnya pergi?” Gumamku membatin.

Dilema antara menyakiti perasaan sendiri atau menghancurkan hubungan orang lain itulah yang aku rasakan saat ini.

Terjadi perdebatan antara logika dan batinku.

Menyerah atau maju?

Aku terdiam cukup lama, menatap kosong ke arah mereka berdua.

“Aku gak akan sanggup merelakannya dengan wanita lain, aku gak akan sanggup jauh darinya, aku terlalu mencintainya, dia begitu berharga untukku.” Ucapku dalam hati.

Kutatap Nova dan Marta bergantian, lalu aku berucap dengan suara lirih. “Aku gak akan mundur dan merelakannya.”

Kulihat mereka berdua menatapku tak percaya.

“Far, dengerin!” Perintah Nova kepadaku dengan suara tegas.

Nova menghembuskan nafasnya.

“Kamu sadar kan, kalau dia sudah punya cewek.”

Aku diam membisu.

“Far, coba posisikan dirimu sebagai pasangan dari orang yang kamu suka. Bagaimana rasanya, jika ada orang lain yang ingin dekat dengan pacarmu? Bagaimana kamu akan bersikap, saat mengetahui ada wanita lain, ingin pasanganmu menjadi pacarnya? Coba bayangkan semua itu, dan munculkan perasaan tersebut dalam hatimu. Ketika sudah bisa membayangkan semuanya. Bagaimana perasaanmu? Apakah kamu merasakan sakit hati melihat orang lain dekat dengan pasanganmu? Apakah kamu cemburu ketika orang lain ingin merebut pasanganmu?”

Nova menatapku dalam sambil menggenggam tanganku.

“Maaf kalau ucapanku nyakitin hatimu, aku gak mau kamu dianggap sebagai perusak hubungan orang, Far. Saranku lebih baik kamu mundur dan merelakannya.”

Aku menggigit bibirku ragu.

Kali ini Marta yang menggenggam tanganku.

“Pikirin baik-baik, ucapan Nova, Far! Kita berharap yang terbaik buat kamu, Far. Di luar sana! Masih banyak lelaki lain yang akan tulus menyayangimu.”

Hatiku terenyuh dengan semua ucapan kedua sahabatku.

Dapat kurasakan mataku mulai berkaca-kaca kembali. Aku mendongakkan kepala ke atas, menahan air mataku supaya tidak jatuh, tapi…

Tes

Lagi-lagi air mataku keluar.

Mudah sekali aku menangis, tapi aku bersyukur memiliki sahabat yang selalu mendukungku, yang selalu memberiku saran disetiap masalahku.

Aku tersenyum dengan uraian air mata.

“Makasih.” Ucapku tulus pada mereka berdua. Mereka berdua mengangguk sebagai pertanda iya.

“Aku gak tau, gimana jadinya aku tanpa kalian berdua? Sekali lagi, makasih.”

Nova dan Marta tersenyum padaku.

“Ini sudah menjadi kewajiban kita sebagai sahabat, Far.” Ucap Marta menyahuti.

“Apapun pilihanmu, kita selalu mendukungmu.” Timpal Nova sambil mengusap lembut pipiku dan menghapus air mata yang mengalir di pipiku.

Hatiku terenyuh melihat ketulusan mereka berdua padaku.

Terima kasih Tuhan, Engkau sudah mengirim mereka berdua pada kehidupanku. Kuhirup udara sebanyak-banyaknya untuk menjernihkan pikiranku.

Jadi langkah apa yang akan kuambil nanti?

Mundur dan merelakan? Seperti kata Nova dan Marta.

Atau bertahan dan maju? Menuruti kemauan egoku sendiri?

Entahlah lebih baik aku memikirkannya nanti. Aku yakin apapun pilihanku nanti adalah yang terbaik. Yah semoga benar-benar yang terbaik.

Sepulang dari cafe, aku langsung masuk ke dalam kamar kost.

Aku memikirkan pilihan yang terbaik untuk hatiku. Pilihan yang sebenarnya sangat sulit untuk kutentukan.

Mungkin ini salah. Aku yang jatuh cinta padamu yang telah berpunya, aku yang jatuh hati padamu yang telah memiliki.

Tetapi ego melarangku untuk mundur dan menyuruhku untuk bertahan.

“Yang ku mau hanya bersamamu, terserah apa statusnya. Peduli setan dengan kepastian.” Batinku.

Kadang, cinta datang tiba-tiba tanpa kita bisa menahannya, datang sendiri walau mungkin rasanya tak wajar.

Seperti yang kurasakan sekarang. Entah kenapa, tiba-tiba hatiku memilihmu? Entah kenapa, tiba-tiba kamu menjadi bayangan yang selalu mengusik benakku, setiap pagi, sepanjang malam bahkan setiap waktu?

Padahal aku tau, kamu telah dimiliki dia.

Dia sangat beruntung bertemu denganmu lebih dulu. Dia sangat beruntung karena sekarang kamu dekat dengannya. Dan dia beruntung karena sekarang kamu menjadi kekasihnya.

Dan aku…,

Aku adalah manusia yang harus menerima kenyataan, jatuh cinta pada kekasih orang. Manusia yang harus mengakui bahwa aku benar-benar cinta kekasih orang. Dan kekasih orang itu, kamu. Aku jatuh cinta kepada kamu.

Kini dunia menyalahkanku, seakan aku manusia paling jahat, seakan aku manusia berhati iblis yang ingin merebut kekasih orang. Seakan akulah manusia yang harus disalahkan, hanya karena aku mengakui aku jatuh cinta padamu. Dan aku ingin memilikimu.

Hanya karena aku mengakui Aku jatuh cinta, dan aku ingin memilikimu, meski aku tau bahwa kau kekasih orang. Haruskah aku yang dibenci?

Persetan dengan semua itu, karena pada dasarnya Cinta itu anugerah dari Tuhan. Jika ia datang kepadaku, orang lain atau dunia sekalipun, tidak punya hak untuk menyalahkanku. Karena, semua orang punya hak untuk merasakan cinta, termasuk aku.

Alvin, aku tidak akan begitu saja melepaskanmu dan merelakanmu bersama Mbak Ocha, akan kurebut kamu dari tangannya. Aku tidak peduli lagi dengan omongan orang-orang. Semua orang membenciku, mencaci makiku atau bahkan menghakimiku nanti. Yang terpenting kamu menjadi milikku, apapun akan kulakukan demi memilikimu..

Bersambung

END – Cinta Itu Buta Part 11 | Cinta Itu Buta Part 11 – END

(Cinta Itu Buta Part 10)Sebelumnya |Bersambung(Cinta Itu Buta Part 12)