Cinta Itu Buta Part 10

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20Part 21

Cinta Itu Buta Part 10

Start Cinta Itu Buta Part 10 | Cinta Itu Buta Part 10 Start

PART X​

Malang, 20 September 2009

Ini jalan kok sepi amat? Mana gelap lagi. Perasaan di deket sini, ada warung deh! Nah, itu dia warungnya! Untung masih buka. Aku pun berjalan menghampiri warung lesehan yang berada di seberang jalan.

“Bu, rokok S Mild sebungkus, sama kopi.” Ucapku pada ibu pemilik warung.

“Ngge, mas sekedap (iya, mas sebentar).”

“Kulo lenggah teng lesehan mriku (saya duduk di lesehan sebelah situ).” Ucapku sambil menunjuk tempat duduk lesehan.

“Ngge mas.”

Selang tak berapa lama ibu pemilik warung datang membawakan secangkir kopi dan rokok S Mild satu bungkus.

“Maturnuwun, Bu.”

Saat sedang enak-enaknya menikmati kopi dan sebatang rokok tiba-tiba aku dikejutkan oleh sepasang kekasih yang tiba-tiba duduk di depanku.

“Permisi mas, boleh kami duduk di sini?” Ucap sang lelaki sopan.

“Silahkan mas!” Jawabku ramah mempersilahkan.

“Terimakasih mas.” Ucapnya.

“Adek mau pesen apa? Biar abang pesenin.” Ucap sang lelaki.

“Adek mau jagung bakar, sama jahe panas bang.” Jawab sang perempuan.

“Bentar ya dek! Abang pesenin dulu.” Ucap sang lelaki sambil berlalu.

Kuperhatikan wanita yang duduk di depanku, tubuhnya mungil dengan tinggi kisaran 150cm, rambut lurus sebahu. Wajahnya tidak terlalu cantik tetapi dia mempunyai sex appeal yang sangat luar biasa, tatapan matanya yang sangat menggoda mampu membuatku betah berlama-lama memandangnya.

Selang tak berapa lama sang lelaki datang dengan membawa jagung bakar dan segelas jahe panas.

“Abang kok cuman bawa satu, jagung bakar sama jahe panasnya?” Tanya sang wanita.

“Kan, biar romantis kayak di pilem-pilem dek.” Jawab sang lelaki.

Aku yang mendengar pecakapan mereka sebisa mungkin menahan tawa.

“Abang, kok makan jagung yang bagian gosong?” Tanya sang gadis.

“Abang gak mau gigi adek item, gara-gara makan jagung.” Jawab sang lelaki.

“Abang sweet banget, sih.” Ucap sang wanita.

Sang lelaki dengan manja menyenggol bahu sang wanita dengan bahunya.

“Ihhh… Abang! Jangan gitu ah, kan adek malu!” Ucapnya sambil melirik ke arahku.

“Eh.. Maaf mas.” Ucap sang lelaki kepadaku.

“Gakpapa kok mas, santai aja.” Jawabku.

“Kenalin mas, saya Ijo.” Ucapnya sambil mengulurkan tangan mengajak kenalan.

“Alvin.” Sahutku sambil menjabat tangan Ijo.

“Wimars.” Ucapnya malu-malu berkenalan sembari mengulurkan tangannya.

“Alvin.” Sahutku sambil menjabat tangan Wimars.

“Lagi liburan ya, mas di sini?!” Tanya Ijo.

“Iya, Mas.” Jawabku singkat.

“Sendiri aja, Mas?” Tanya Ijo lagi.

“Sama pacar mas, tapi dia lagi di hotel.” Jawabku jujur.

“Ohhhh…!” Seru Ijo.

“Ini mas sama mbaknya, sudah menikah?” Tanyaku penasaran melihat kemesraan mereka berdua.

“Belum, Mas. Tapi, kami sudah bertunangan di pantai, dengan disaksikan pepohonan dan lautan. Ini simbol cinta kita berdua mas!” Jawabnya sambil menunjukkan benang yang mengikat di jari manis kekasihnya.

“Hahahaha….” Tawaku terpingkal-pingkal sambil memegang perut.

“Kenapa mas, kok ketawa?” Tanya Ijo dengan tatapan matanya tajam menatapku.

“Eh maaf mas, itu tadi di depan ada ibu-ibu jewer telinga suaminya, sambil jalan!” Jawabku berkilah.

“Kok, gak ada, Mas.” Tanya Ijo polos sambil memperhatikan jalan.

“Sudah lewat mas tadi! Oh iya mas, kalau mau ke Amartahills Hotel and Resort jalan yang lebih dekat, lewat mana ya?”

“Kalau jalan terdekat lewat sebelah sana mas!” Sahut Ijo sambil menunjukkan jalan dan memberi arahan. “Gak jauh kok, cuman 500 meter dari sini! Tapi kalau saran saya mending mas lewat jalan yang arah mas tadi mau kesini.”

“Loh, emangnya kenapa, Mas? Bukannya tadi kata mas, lebih dekat lewat jalan yang sebelah sana?” Tanyaku.

“Saran saya jangan lewat jalan itu mas! Di sana angker mas kalau sudah lewat dari jam 8 malam gak ada yang berani lewat sana.” Jawab Ijo memberitahu alasannya.

“Angker kenapa, emang mas?”

“Di sana tempatnya GENG POCONG VS KELUARGA BODONG!” Jawab Ijo dengan wajah serius.

“Hahaha… Masak iya mas, ada pocong punya geng. Terus bodong ada keluarganya.”

“Beneran mas, saya gak bohong.” Ucap ijo dengan mimik wajah serius.

“Kalau gitu, saya permisi dulu! Mau balik ke hotel.” ucapku pamit kepada mereka seraya memberitahu. “Oh iya terimakasih banyak sudah ditunjukin jalan terdekat menuju hotel.”

“Sama-sama, Mas.” Jawab Ijo ramah.

“Mas, Mbak. Saya permisi dulu.” Ucapku berpamitan.

“Hati-hati di jalan, Mas!” Sahut mereka berdua serempak.

Lantas aku melangkah menuju Ibu pemilik warung, untuk membayar sebungkus rokok S Mild dan segelas kopi.

“Bu, kopi sama rokok S Mild berapa?” Tanyaku.

“Kopi, rokok S Mild. Kale doso sekawan ewu (24 ribu) mas.” Jawab ibu pemilik warung.

“Maturnuwun, Bu.” Ucapku sambil memberikan uang kepada Ibu penjual warung.

“Sami-sami, Mas.” Jawabnya ramah.

Setelah selesai membayar, aku pun bergegas untuk kembali menuju hotel, melalui jalan yang paling dekat seperti yang dikatakan oleh Ijo tadi.

“Masa sih, gak ada yang berani lewat jalan ini?” Gumamku dalam hati penasaran. “Perasaan, jalanannya biasa aja! Memang sih, agak gelap dan sepi.”

Pada saat aku sudah berada di jalan tersebut.

Tiba-tiba….

Angin berhembus dengan kencang, hingga udara berubah menjadi sangat dingin, hawa dinginnya terasa sampai menusuk ke tulang. Membuatku menggigil kedinginan.

Suasana jalanan di tempat ini menjadi seram dan angker, karena jalan yang kulalui tidak ada pencahayaan lampu sama sekali. Gelap dan sepi.

Perasaan tidak enak yang kurasakan sejak tadi, kini semakin terasa…

Dari kejahuan, terlihat banyak karung tergeletak di pinggir jalan. Karung tersebut terlihat penuh dan padat.

Aku jadi penasaran dengan karung-karung tersebut, lalu melangkah ke sana, melihat karung-karung itu dari dekat. Dan setelah dekat dan semakin dekat, jarakku dengan karung tersebut, maka terlihat keanehan pada karung-karung itu.

“Loh… Loh… Kok, karungnya bisa bergerak? Bergeser sendiri ke tengah-tengah jalan.” Ocehku kaget melihat kejadian itu.

Aku pun menghentikan langkah kakiku dan memfokuskan pandangan mataku untuk melihat karung tersebut. “Kok bentuknya jadi berubah?” Gumamku membatin. “Makin lama makin jelas, bentuknya lonjong sepanjang badan orang dewasa, dibalut kain putih ada ikatan ujung, tengah dan ujung lainnya.”

“Itu, apaan ya?! Kok, menggeliat-geliat gitu, ditengah jalan?” Gumamku bertanya-tanya.

Kuyakinkan lagi pandangan mataku, dan kini semakin terlihat jelas lekuk-lekuk yang menyerupai jasad manusia kalau sudah dikafanin. Kusisir pandanganku ke arah mukanya tapi tidak terlihat karena menghadap aspal jalan.

“Kok, kayak Pocong ya!” Gumamku kembali.

Degh!!

Seketika bulu kudukku perlahan-lahan berdiri dan membuatku merinding.

Po… Po… Kucoba berteriak sekeras mungkin, tetapi tidak ada suara yang keluar, hanya gumaman dari bibirku yang gemetaran. Lidahku tiba-tiba kaku, mulutku seakan terkunci, begitu pula dengan tubuhku. Gemetaran, dan tak bisa bergerak. Diam terpaku dengan mata terbelalak.

Tuk…!!

“Aduh…!” Seruku kesakitan, karena tiba-tiba ada yang menimpuk kepalaku dengan batu.

Membuat perhatianku seketika pecah, mulai mencari siapa dan dari mana arah timpukan batu itu berasal. Kepalaku reflek mendongak ke atas melihat salah satu pohon, dan di salah satu dahannya ada kaki yang menjuntai-juntai lepas, membuatku semakin menaikkan pandangan dan mulai terlihat si empunya kaki yang dibalut kain mirip daster warna putih lusuh dengan wajah terlihat pucat dan rambut panjang yang acak-acakan.

“Seee…. Seee… Seeeeetttaaaaaannnnn…..” Teriakku kencang sambil berlari terbirit-birit.

Dan dari arah belakang terdengar suara cekikikan yang nyaring, menggema ke seantero arah. Cekikikan khas cewek dengan intonasi nyaring yang sangat menyeramkan, suaranya terdengar jauh dan kecil tetapi berasa dekat sekali di telinga dan semakin lama suaranya semakin nyaring.

“Seeeetaaaaaaan…. Toooolooooong….. Toooolooong…..”

POV Ocha

Segernya abis mandi…

Potong bebek angsa, masak dikuali

Nona minta dansa, dansa empat kali

Sorong ke kiri, sorong ke kanan

Lalalalalala lalalalalala….

“Seeeetaaaaaaan…. Toooolooooong….. Toooolooong…..” Teriak Alvin dalam tidurnya.

Nih anak ngimpi apaan sih kok sampai nginggau teriak-teriak minta tolong?

“Sayank bangun… Yank…” Seruku sembari menggoyang-goyang tubuhnya.

“Haaahhh…. Hahhh….”

“Nih air putih minum dulu sayank biar tenang.” Ucapku.

“Makasih yank.” Jawabnya.

“Sayank mimpi apaan sih? Kok sampai ngigau teriak-teriak gitu tidurnya?”

“Mimpi dikejar setan yank! Mimpi ketemu GENG POCONG VS KELUARGA BODONG!”

“Sayank mimpinya kok aneh-aneh aja mana ada yank pocong punya geng hihihi…”

“Beneran yank! Nyeremin banget mimpinya.”

“Sayank pasti gak baca doa semalem tidurnya! Emang gimana sih mimpinya?” Tanyaku penasaran.

“Emmm… Di mimpiku aku gak bisa tidur yank terus pengen keluar hotel nyarik rokok sama kopi, nah di warung kopi aku ketemu pasangan kekasih yang unik dan konyol yank terus abis gitu pas mau balik hotel di cegat pocongan sama dikejar kuntilanak. Nyeremin pokoknya yank.”

“Lain kali sayank sebelum tidur jangan lupa baca doa biar gak mimpi di datengin setan.”

“Lah ini setannya di depanku.” Ucapnya sambil menunjukku.

“Sayank loh….”

“Kan kamu selalu menghantui hati dan pikiranku yank.” Rayunya.

“Ihhh… pagi-pagi udah ngegombal. Sayank mandi gih terus breakfast.”

“Iya bentar yank, jam berapa sih sekarang?”

“Udah jam 8! Breakfast nya cuman sampai jam 10 loh, ayo sayank sekarang bangun terus mandi! Aku udah cantik loh.”

“Mandiin..” Ucapnya manja.

“Sayank… Uhhhh gantengku mandi yuk! Tuh udah aku buatin kopi loh.” Seruku sambil menarik tangannya.

“Iya sayankku makasih ya sudah dibuatin kopi! Sayank siap-siap gih sekalian, habis breakfast kita langsung jalan keluar.”

“Emang hari ini kita mau kemana?” Tanyaku.

“Rahasia…” Ucapnya sembari meninggalkan ku menuju ke kamar mandi.

Back To Alvin

Batu secret zoo merupakan tempat wisata dan kebun binatang modern yang terletak di kota Batu, Jawa timur. Batu Secret Zoo yang berada di tanah seluas 14 hektare tersebut merupakan bagian dari Jatim Park 2, selain Pohon Inn dan Museum Satwa. Beberapa koleksi hewan dari berbagai habitat yang sebagian besar berasal dari Asia dan Afrika dapat ditemukan di kebun binatang ini, antara lain singa putih, kijang afrika, burung macau dan bermacam-macam reptil.

“Sayank, Jangan cepet-cepet jalannnya!” Seruku dengan napas yang ngos-ngossan.

“Sayank, ayo sini cepetan! Ada mbek, lucu di situ!” Ujarnya kegirangan.

“Iya, sayank bentar!” Sahutku.

Terlihat wajahnya sangat ceria dengan senyuman yang sangat manis.

“Mbeknya lucu, Yank. Mbek, makan yang banyak ya, biar gemuk.” Ujarnya sembari memberi makan domba.

“Huum, mbek makan yang banyak ya, entar kalau udah gemuk disate.”

“Sayank, loh..! Kok, jahat gitu sih, kan mbek nya lucu!” Rajuknya.

“Iya-iya, gak jadi disate dibikin gule kambing aja ya, mbek.” Ucapku.

“Ayank, loh. Mesti mbencekno.”

“Yank, makan yuk! Laper udah sore.” Ajakku.

“Makan apa?” Tanyanya.

“Sayank, mau makan sate?”

“Mau.” Jawabnya.

“Di deket sini! Ada sate kelinci yang enak.”

“Tauk, ah.” Rajuknya sambil melangkah menjauhiku.

“Sayank, tungguin Yank!”

“Ini tempat gede amat, sih!” Gerutuku karena kelelahan berjalan.

“Napa, manggil-manggil?” Rajuknya.

“Ya ampun sayank, cuma gara-gara sate kelinci aja marah.”

“Minta maaf dulu!”

“Iya, maaf!”

“Janji dulu, gak makan sate kelinci!”

“Sate kelinci kan, enak Yank.”

“Ya udah, aku gak mau makan.” Rajuknya.

“Iya-iya, janji gak makan sate kelinci.”

“Kelinci kan lucu, Yank. Sayank, kok tega sih, makan kelinci.”

“Enak soalnya, Yank.” Jawabku polos.

“Sayank, loh….!”

“Kan sudah janji yank, gak makan sate kelinci.”

“Awas kalau sampai makan sate kelinci, aku ngambek seumur hidup!”

“Hahaha… Sayank, loh. Masak gara-gara sate kelinci, mau ngambek seumur hidup.”

“Biarin!” Rajuknya.

“Iya… Iya…. Sekarang keluar yok cari makan!” Ajakku.

POV Ocha

“Sayank, ini di mana? Tidurku lama ya, Yank?”

“Rahasia.” Jawabnya.

“Sayank, tadi katanya mau balik hotel?”

“Aku mau ajak kamu kesuatu tempat.”

“Kemana emang?”

“Nih, dah mau sampai.”

Tiiiinnnnn…. Tiiiinnn….!! Suara klakson mobil.

Grreeeeeeeekkkkk…!! Suara pagar terbuka.

“Ini di mana, Yank?” Tanyaku.

“Yuk turun!” Ajaknya.

“Mas Alvin, gimana kabarnya?” Ucap bapak penjaga villa.

“Alhamdulillah, baik pak! Pak Min, gimana kabarnya?” Tanya Alvin.

“Alhamdulillah, sae (baik) mas.” Jawabnya.

“Pak Min kenalin!” Ucap Alvin memperkenalkanku.

“Ocha.” Ucapku memperkenalkan diri.

“Pak min, sudah disiapin?” Tanya Alvin.

“Sampun (sudah) Mas.”

“Maturnuwun pak Min, ngapunten (maaf) ngerepoti.” Ucap Alvin.

“Kulo malah seneng mas sampean sambangi (aku malah senang mas dijenguk/sampaerin).”

“Pak Min, saya tinggal ke sana dulu!” Ucap Alvin.

“Monggo Mas Alvin, Atos-atos mas dalane lunyu (hati-hati mas jalanya licin).”

“Ngge pak Min.”

Villa yang kami kunjungi terletak di ketinggian 1100 meter, penginapan ini dikelilingi perkebunan apel yang menjadi ciri khas Malang. Tempatnya masih sangat asri karena terdapat taman yang luas dengan bunga-bunga tropis dan pohon-pohon yang tinggi. Dari sini terlihat lanskap Kota Batu malang, letaknya yang tinggi membuat kita seolah-olah sedang berada di negeri awan karena saking tingginya.

“Sayank, yuk ikut!” Ajaknya.

“Ini villa nya siapa, Yank? Terus sayank, ngajak ke mana?” Tanyaku.

“Villa keluarga, Yank.” Jawabnya.

“Ohh…! Terus kok, kemarin nginep di hotel?”

“Karena kemarin Villanya ada yang nyewa. Emang sayank, mau tinggal cuman berdua di villa segede ini?”

“Gak mau yank, serem. Hehehe….”

“Hmmmm…”

“Sayank, ini mau ke mana, sih! Kok jalannya, batu-batu gini?” Tanyaku.

“Entar sayank, juga tau.” Jawabnya.

“Sayank, bagus banget!” Ucapku takjub terkesima.

“Tadi camilan sama minumnya dibawa kan, Yank?” Tanyanya.

“Ada di tas, Yank.” Jawabku.

“Baru kali ini yank, aku melihat bintang seindah ini.” Ucapku masih terkesima.

“Sini duduk!” Ajaknya.

“Makasih banyak, sayank.”

“Sama-sama, Yank.”

“Ayank, romantis banget, sih.”

“Yank, ada bintang jatuh!” Serunya.

“Mana?”

“Ini, di sebelahku!” Jawabnya.

“Ayank, loh…!”

POV Fara

FARA DINA SENJANI

“Makasih ya beeeiiib sudah nganterin sampai kost.” Ucapku.

“Sama-sama Far.” Ucap Hilda.

“Kamu gak mau mampir dulu ta Beiiibbb…?” Tawarku.

“Enggak deh aku langsung balik aja! Far kamu sudah tau kalau Mas Alvin sudah jadian sama Mbak Ocha?”

“Enggak.”

“Aku masuk dulu ya Beeiiibbbb! Muaaachhh… Muaaachhh…” Berpamitan sembari cipika-cipiki.

“Bye Beiiibbb…”

Jadi Mas Alvin sudah jadian sama Mbak Ocha.

Di dalam kamar kost kulihat Foto Profil BBM mas Alvin sedang memajang foto mesra bersama mbak Ocha.

Cantik.

Sangat-sangat cantik.

Bahkan dia jauh lebih sempurna di banding aku dan juga mereka tampak sangat serasi.

Mataku memanas, semakin lama aku melihat foto itu. Hatiku makin seperti diremas kuat oleh tangan tak kasat mata.

TES

Setetes air mataku keluar, aku merasakan sesak yang teramat sesak dihatiku. Ini pertama kalinya aku merasakan sesak luar biasa hanya karena sebuah foto.

Aku menghapus dengan kasar air mata ini tapi sialnya air mata ini terus saja turun dengan derasnya.

“Jangan menangis bodoh!” Aku memaki diriku sendiri.

Hatiku semakin sesak mengetahui fakta yang seperti ini.

Aku meremas kuat dadaku yang seperti terhimpit batu besar.

Sakit.

Sangat sakit.

Aku menyesal membuka foto profil bbm nya. Jika tau begini lebih baik aku tak melihatnya.

Demi Tuhan ini sakit, sangat sakit.

Tes

Tes

Tes

Air mata sialan ini masih saja terus mengalir.

“Jangan nangis sweet.” Ucapku sambil memejamkan mata rapat-rapat.

.

Menahan air mata yang terus saja memberontak ingin keluar. Dadaku masih saja merasa seperti dihimpit ribuan beton.

Aku memukul berulang kali dadaku , agar rasa sesak dan nyeri di hatiku menghilang.

“Sial!! Kenapa aku selemah ini!!” Aku berteriak frustasi saat sesak dan nyeri tak kunjung pergi.

Sial!!

Bagimana mungkin hanya melihat fotonya saja aku bisa sesakit ini!!

“Jangan nangis bodoh!!” Lagi-lagi aku berteriak frustasi, kupukul dadaku berulang kali.

Aku tak peduli jika nanti dadaku merah atau apalah itu, aku tak peduli!

Aku hanya ingin rasa sesak dan rasa sakit di hatiku segera hilang.

Ya Tuhan apa aku sudah terlalu dalam mencintai Alvin? Hingga aku harus sesakit ini hanya karena melihat fotonya dengan wanita lain.

Bersambung

Baca :

END – Cinta Itu Buta Part 10 | Cinta Itu Buta Part 10 – END

(Cinta Itu Buta Part 9)Sebelumnya |Bersambung(Cinta Itu Buta Part 11)